Pendidikan adalah cara pindah dari akhlak individu menuja akhlak masyarakat. Filsafat pendidikan berhubungan dengan filsafat alam dan berangsur turun dari tumbuh- tumbuhan menjadi binatang kemudian menjadi manusia. Disini Afghani terlihat lebih dekat dengan teori evolusi daripada mengkritiknya. Jika akal berjalan menuju benda hidup, ia tahu bahwa kelangsungan hidupnya adalah jika unsure-unsur dalamnya saling berinteraksi tanpa yang satu mengalahkan yang lainnya agar terjadi kesimbangan diantaranya, sebagaimana pendapat orang-orang lama. Filsafat pendidikan menempatkan ilmu tumbuh-tumbuhan, hewan dan kedokteran untuk mengembalikan keseimbangan antara makhluk yang paling sederhana yang darinya jism terbentuk agar mencapai pada keadaan tengah-tengah hingga tercapailah hikmah Allah dalam kelangsungan hidup berbagai jenis (Nau’). Ilmu-ilmu tentang kehidupan saling berkaitan satu sama lainnya, seorang dokter harus mengetahui ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu hewan. Roh manusia membuat antibiosis untuk membuat temperamennya seimbang dan roh kesempurnaan manusia. Dengan berkumpulnya moral yang kontradiktif maka moral-moral tersebut menjadi seimbang diantaranya. Keberanian adalah tengah-tengah antara ketidaksabaran dengan pengecut. Kemuliaan tengah-tengah antara sifat berlebihan dengan sifat kikir, seperti yang dikatan oleh orang-orang lama. Kerusakan terjadi karena salah satu yang kontradiktif mengalahkan yang lainnya. Maka ilmu pendidikan meletakkannya dan mengarahkannya untuk tujuan ini.
Menjaga keutamaan jiwa dari kegelinciran dan sikap berlebihan (tatharruf) seperti ilmu kedokteran, mengobati roh disamping mengobati badan. Seorang dokter sebagaimana ia tahu akan kegunaan-kegunaan organ tubuh, ia tahu juga dunia roh, kegunaan-kegunaan akhlak dan bahayanya. Dokter disamping harus mempunyai akhlak belas kasihan dan penyayang juga ia seorang pendidik yang utama karena harus seimbang antara pemikiran dan tindakan. Dokter juga tidak menjadikan kedokteran untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi juga ia menjadi seorang pendidik penasehat penunjuk yang mengarahkan individu untuk berkhidmat pada negara dan masyarakat. Disini Afghani seperti orang lama dalam menyamakan antara kedokteran badan dengan kedokteran rohani, seperti Al-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ikhwan Ash-Shafa. Kedokteran ini mempunyai reason finality (sebab utama). Dalam tubuh manusia tidak ada organ tubuh yang berkerak tanpa tujuan dan arah. Semua gerakan yang dilakukan manusia yang tidak diketahui tujuannya berarti ia dikuasai kebodohan. Tujuan adalah dasar suatu system. System adalah yang mengatur ikatan dunia yang terpisah-pisah dan memalingkannya untuk arah tertentu. Batu lebih baik dari manusia, yang duduk tanpa alasan, yang membutuhkan manusia sepertinya.102
Ilmu adalah jalan untuk mendidik dan perubahan dalam keutamaan individu kepada keutamaan kelompok. Seorang ilmuan, jika ia tanpa pertahanan (‘Azal-defenseless) maka ia dengan ilmu ia sosialis, orang bodoh jika ia social dengan kebodohannya ia tanpa pertahanan (defenseless). Ini terjadi pada Mesir dan pada zaman ini, zaman pembebasan budak belia dan penahanan orang-orang bebas. Umat bangkit dengan memperkuat kemampuannya dan meningkatkannya dengan ilmu dan mengambil factor-faktor 102 Falsafah al-Tarbiah, Al-‘Amal, hal: 272-276, khathirat, hal: 388-389.
kebangkitan itu dan ini bukan perkara yang mudah. Ilmu adalah senjata kebebasan sebagaimana kekuatan (power) sebagai alat penjajahan. Jika negara-negara kolonial menjaga tanah jajahannya, melarang masuknya senjata hingga tidak digunakan untuk melawan penjajahan, berarti ia mengekang dunia dan ini tidak lebih berbahaya dari memasukkan senjata ke dalam tanah jajahannya. Hidupnya orang-orang Timur dengan ilmu yang benar dan matinya dengan kekuasaan Barat pada mereka dan melepaskan kekangan mereka. Kebalikannya juga benar untuk dapat membangunkan orang-orang Timur dan mendapatkan kemerdekaan dengan kebiasaan yang terus menerus, kemauan yang tidak melemah.103
Ilmu adalah ilmu untuk negara. Orang-orang Barat melarang orang-orang Timur dengan jalan terselubung untuk meningkatkan mereka dengan melalui kesadaran kebangsaan mereka. Barat menghalangi usaha-usaha mereka, tidak memudahkan media-media untuk mendidik moral komunitasnya, tetapi mereka melakukan sebaliknya. Dengan begitu Timur tidak mampu untuk mencapai pemerintahan tersendiri dengan cara-cara makar, kesesatan dan meminta bantuan kepada penduduk setempat yang sudah tidak mempunyai kemauan. Sekolah-sekolah negeri telah diberi racun untuk negara, yang mungkin untuk ditutup dan diganti dengan sekolah swasata. Sekolah-sekolah negeri tidak terbebas dari kerusakan, padanya terdapat ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat yang tidak dibutuhkan oleh murid, terdapat seni yang tidak ada manfaatnya, membuat murid sakit 103 Fi al-Tarbiah wa al-Ta’lim, Al-‘Amal, hal: 278-280, pendapatnya tentang bagaimana cara untuk menghilangkan yang terjadi dan yang akan terjadi pada Timur dan masyarakatnya dari kekangan dan bahaya, yang mengharuskan mengambil dari hikmah, mensiasati dan menjelaskan kekurangan-kekurangan, Khathirat, hal: 131-132
jasmani dan akalnya, tidak melihat buku sebagai sesuatu yang imajinatif dan yang penting. Murid menjadi jauh dari himbauan untuk berbuat, menjadi kaku dan tumpul untuk bekerja. Sekolah-sekolah negeri takut dari sekalah- sekolah swasta dan dari kecintaan pada negara karena ia dibawah pengawasan orang asing hingga murid-murid tersebut dibawah pengawasan. Keduanya ada hal yang pahit. Sedangkan sekolah swasta yang menggabungkan antara ilmu dan negara, berperan dalam ilmu dan perbuatan, bukan saja didalam gedung sekolah tetapi juga diluar gedung untuk selalu bekerja. Setiap ilmu dengan akal, yang diikuti perbuatan dengan anggota tubuh. Murid dapat bekerja menjadi tukang besi, tukang kayu, tukang bangunan, mendidik binatang, memeras sapi, membuat keju, menyaring mentega yang dapat bermanfaat bagi badan juga bermanfaat secar materi setelah keluar. Ia menjadi orang berilmu dan bekerja, bukan orang yang arogan dan malas, menjadi beban bagi keluarga, yang tidak bermanfaat bagi siapa pun. Jika seseorang telah tertinggal dari umur belajar, mereka dapat pergi ke sanggar-sanggar swasta dan ke pengajian- pengajian umum yang berperan sama dengan sekolah, juga dapat bergaul dengan berbagai golongan. Dapat mengetahui jalan untuk membangkitkan negara dengan retorika, peribahasa, atau dengan kegiatan kebudayaan yang umum. Agama adalah ibadah dan mu’amalat. Ibadah untuk Tuhan, terpisah dari manusia, tidak mengganggu orang lain dan tidak diganggu yang lain, kemanapun mereka mengarah, Nasrani, Muslimin dan Yahudi adalah dari satu jiwa. Sedangkan mu’amalat adalah untuk umum, persamaan dalam negara, saling membantu, belajar disekolah sama-sama dan keluar darinya sebagai saudara untuk negara, tulus padanya tanpa ada pemutusan ikatan negara atau melupakan masa kecil. Mereka ada pada badan negara seperti organ tubuh untuk satu badan, jika salah satu organ merasa
sakit, organ yang lain merasakannya juga, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi terkenal. Langitnya satu, buminya satu, negara satu, bahasa satu, tujuan juga satu. Jelas bahwa konsepsi Afghani untuk berbuat adalah pertanian bukan industri yang tidak berkembang pada masanya. Sebagaiman zaman juga sudah berubah dari mempertahankan pengajaran swasta negeri ke pengajaran swasta khusus asing karena zaman swastanisasi. Afghani juga tidak lupa untuk memperhatikan pendidikan perempuan dengan tujuan agar mereka baik dalam mendidik anak-anak. Umat berusaha untuk anak-anak yang menyusui kesempurnaan, kesehatan dan akal. Menyusui mereka dengan kecintaan pada negara secara bertahap dalam ilmu, melapangkan cahaya fitrah dan menjauhkannya dari kebohongan, menyebarkan benih ilmu dan melatihnya.104
Afghani memberikan perhatian khusus tentang perempuan. Perempuan adalah pendamping kehidupan lelaki. Jika perempuan dijadikan pendamping karena kebaikannya, bahagialah hidupnya. Jika ia dijadikan pendamping karena nafus syahwat maka itu adalah kematian. Perempuan membantu lelaki, dari ibu, bagaimana ia meninggalkan derajatnya? Jika kebutuhan lelaki pada alam hanya sekali maka kebutuhannya pada perempuan adalah sesaat. Karena itu Afghani hidup tidak menikah. Jika seseorang mengadu kepadanya karena banyak anak dan sedikit harta bendanya, ia berkata: “Kamu memberati punggungku dengan yang dibelakang punggunku”, sambil berdalih dengan ucapan Abu ‘Ala Al-Mua’arri:
Ini adalah dosa orang tua padaku- dan aku tidak akan berbuat dosa pada siapapun
104 Bagaimana mendidik anak yang akan menjadi manusia masa depan, umat ini terbentuk darinya, yang akan menguasai dirinya sendiri, terlepas dari kekangan Barat. Khathirat, hal: 11
Afghani tidak menikah karena pernikahan menuntut keadilan dan ia tidak mampu. Alam ini mampu untuk beradabtasi. Barangsiap yang meninggalkan sesuatu maka ia akan hidup tanpanya. Afghani melakukan kewajibannya terhadap penguasa. Menikah dengan hamba sahaya perempuan yang baik maka bagi perempuan itu mendapatkan kecukupannya. Jika penguasa bersikeras terhadap itu maka sebaiknya bagi Afghani untuk mengebiri dan memotong organ seksualnya, seakan ia memusuhi perempuan seperti yang dikatakan oleh sebagian pemikir modern. Sedikit sekali lelaki yang mendapatkan kebahagiaan tanpa wanita, dan jarang dari mereka yang tidak menganggap ketidak bahagiannya adalah kelemahan. Yang paling dekat dengan kebenar jika dikatakan tentang wanita seperti yang dikatakan tentang anak-anak: Keberadaannya adalah penderitaan dan tanpa mereka juga penderitaan.105
Tema sentral yang dituju Afghani adalah tema tentang persamaan antara lelaki dan perempuan yang selama ini menjadi hujatan para orientalis pada Islam, dimulai dengan masalah tabarruj. Tentang masalah hijab, banyak yang pro dan kontra. Hijab adalah kain penutup kepala yang jika diangkat secara tiba-tiba terlihatlah keburukan, kejangatan, tabarruj dan ketuna susilaan. Sedangkan sufur (tabarruj) yang logis yang bertahap tidaklah mengapa. Disini Afghani terlihat revolusioner dalam politik, bertahap dalam perubahan social. Untuk itu haruslah mendefinisikan makna-makna persamaan perempuan 105 Al-‘Amal, hal: 265, hal: 350-531, Khathirat, hal: 39, Sultan Abdul Hamid hendak menikahkan dia dengan salah seorang pelayan istananya tetapi ia menolak. Ucapannya mengandung hikmah pernikahan dan persamaan perempuan dengan lelaki. Kegaduhan para orientalis dalam mengembalikan hak perempuan yang tertindas, Khathirat, hal.10/112-121.
dengan lelaki, hijab dan mengangkat hak-hak perempuan, tujuan yang diharapkan dari itu, hingga tidak berubah dalam melepas hijab menurut Afghani seperti menodai kehormatan.
Tema ini semuanya adalah hasil dari bertaklid kepada Barat dari orang-orang Timur yang baru tumbuh dari orang yang ke-Barat-baratan. Merekalah yang menuntut persamaan antara perempuan dan laki-laki dalam struktur, ini adalah mustahil. Pembawaan fitrah tidak bisa untuk diusahakan. Ilmu Pengetahuan dapat dicari pada tingkatan yang berbeda, apakah wanita mampu untuk itu? Afghani berargumentasi dengan syair Mutanabi dalam kritiknya terhadapa orang-orang Timur yang bertaklid pada wanita- wanita Barat dan memuji moral orang-orang desa serta mengkritik moral orang kota:
Kebaikan peradaban diambil dengan pesimisme-dalam kesederhaan ada kebaikan tanpa harus mengambil dari yang lain.
Afghani berakhir pada bahwa persamaan antara perempuan dan laki-laki dalam tabiat. Bahwa masyarakat tediri dari dua penopang, yaitu perempuan dana laki-laki. Masing-masing mempunyai struktur khusus sesuai dengan ilmu anatomi. Ini adalah hikmah alam yang sangat cermat dalam pembentukannya, Allah yang Pencipta Yang Maha Sempurna. Laki-laki untuk kerja di luar dan perempuan untuk kerja di dalam. Ini bukan berarti pengangkatan derajat lelaki dan penurunan derajat perempuan. Jika tabiat keduanya tidak sama antara laki-laki dan perempuan dalam strukturnya, buat apa berusaha untuk menyamakan keduanya dengan pernyataan. Suatu pekerjaan khusus perempuan tidak dapat dilakukan oleh seorang laki-laki. Kekuatan perempuan adalah kelembutannya, dengan kelembutannya perempuan dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh laki-laki denga kekuatannya. Tema ini
hanyalah sophistisme (safsathah) yang menuntut persamaan perempuan dan laki-laki walaupun dari perbedaan-perbedaan tabiat. Afghani menggunakan teori evolusi yang ia kritik dalam essainya “Jawaban terhadap orang-orang Atheis” dengan menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki keduanya pada tingkatan yang sama dalam berevolusi, kemudian laki- laki mendahului perempuan. Kekuatannya datang dari perbuatannya di luar, bertarung dengan berbagai binatang, kerjanya dalam bertani dan peperangan secara bertahap sepanjang sejarah. Para pendukung persamaan menyebutkan sejarah, sejarah persamaan perempuan dan laki-laki di masa Romawi, terinspirasi dari masa kekuasaan perempuan, seorang anak tidak pernah mengenal bapaknya dan ia dinisbatkan ke ibunya. Ini tidaklah mungkin untuk diserukan saat ini. Evolusi telah menjadikan mana yang lebih cocok, lebih bermanfaat, lebih benar dalam berbuat, moral dan untuk komunitasnya. Manusia berpindah dari zaman batu ke zaman besi karena ada manfaat, sejarah tidak akanlah kembali ke belakang. Telah terlahir berkuasanya perempuan, tidak ada kesucian perkawinan, protitusi dan yang lainnya, yang menyebabkan muncul berbagai penyakit. Jenisnya satu, laki-laki atau perempuan, seorang ibu tidak ada lagi, ia seorang pendidik lelaki, tugas perempuan di rumah. Tugas perempuan adalah memciptakan laki-laki, perempuan yang menyediakan lelaki untuk masyarakat, itu adalah tugas paling tinggi perempuan. Kekuatan perempuan ada dalam kelembutannya, kelebihan lelaki ada pada kekuatannya dan kelemahannya di depan perempuan. Persamaan sama dengan keluar dari fitrah dan alam. Tujuan dari evolusi adalah berlangsungnya berbagai species (nau’). Dengan itu Afghani menjelaskan bahwa struktur social memiliki dua penopang; laki-laki dan perempuan. Tetapi laki-laki berkembang dan perempuan kaku dan berhenti. Menjadikan
lelaki bertanggung jawab untuk itu, mematikannya sesekali atas nama agama dan atas nama kelemahan jasmaninya, padahal keduanya pada awalnya sama dalam struktur performing. Pengecualian satu-satunya yang diakui Afghani, keluar dari kaidah adalah Aisyah ketika mengendarai unta. Ia menganggapnya sebagai kebanggan untuk wanita, ini juga sudah diramalkan oleh Rasul dan mengutuknya. Sedangkan kepergiaan wanita ke medan perang untuk melayani tentara adalah dianggap baik, jika tidak suami yang harus diurus juga tidak ada ibu atau bapaknya atau anaknya. Jihad diwajibakan kepda setipa muslim dan muslimah, terkecuali pemberi nafkah harus seizing dari kedua orang tuanya. Melayani orang tua adalah jihad, jika dalam jihad tidak ada penghalang dari suami atau anak atau kerabat maka melayani tentara dalam perang adalah baik.
Telah diwajibkan berperang pada kami-dan pada wanita- wanita cantik hendaknya menarik ekor (tanggungannya).
Afghani tidak menjelaskan tentang poligami tetapi ia berpendapat kemustahilan wanita hidup di satu rumah karena menyelesaikan pertengkaran wanita rumah menyakitkan hidupnya. Bahwa keputusan yang paling adil di dunia tidak mampu membuat rela dua orang perempuan yang bertengkar untuk seorang laki-laki atau untuk sesuatu hal. Sebagaimana menentang hubungan mertua dan menantu perempuan. Jika seorang ibu berusaha dan menentukan dibelakang suami anaknya yang lembut, maka istrinya melihat dirinya dalam neraka. Afghani mewasiatkan untuk tidak menempatkan anak-anak dengan orang tua. Bapak yang paling logis untuk tidak menempatkan anak-anaknya setelah menikah, menggantikan dengan saling mengunjungi. Ini semua adalah pendapat-pendapat yang menyerupai pendapat
pada abad lalu dari orang-orang Barat, khususnya Pashth.106
Afghani juga menjelaskan berbagai masalah pendidikan social seperti masalah pemuda dan para hakim. Pemuda adalah jembatan dari kegilian yang tidak diperlukan oleh orang berakal untuk menyebranginya. Dan biasanya, para revolusioner menggunakan para pemuda di barisan paling depan. Revolusi adalah rohnya para pemuda. Afghani memfokuskan pentingnya keadilan para hakim. Jika pemerintah tidak menunjuk para hakim yang adil maka lebih baik baginya untuk menjadikan serigal sebagai para pemimpin. Karena keadilan hakim adalah wajib sebelum keadilan orang yang menuntut keadilan. Jika hakim berbuat dhalim bagaimana orang yang didhalami merasakan sakitnya?. Melihat pentingnya hakim yang adil, Afghani berpendapat bahwa hanya satu orang hakim dalam surga dan dua orang hakim di nereka.107