2.8 Financial Plan
Dalam perencanaan keuangan ditentukan perkiraan biaya yang diperlukan untuk membuka sebuah bisnis. Setelah mendapat perkiraan biaya yang diperlukan, dibuat aliran kas selama 5 tahun untuk melihat siklus dari operasi keuangan perusahaan sehingga memudahkan dalam mengontrol pengeluaran dan pemasukan.
2.8.1 Tujuan dan sasaran keuangan
Tujuan yang ingin dicapai oleh ESL melalui kebijakan strategi keuangannya adalah untuk meningkatkan shareholder value. Untuk mencapai tujuan tersebut, ditetapkan beberapa sasaran yang harus dicapai dalam waktu 5 tahun. Adapun sasaran yang harus dicapai adalah : (Palesangi,2006:51)
1. Mendapatkan nilai Net Present Value yang positif dari investasi yang ditanamkan para pemegang saham pada bisnis ini. 2. Mencapai Payback period (jangka waktu pengembalian dari investasi) dalam waktu dibawah 5 tahun. 3. Memiliki Internal Rate of Return melebihi presentase bunga bank. 2.8.2 Asumsi Dasar
Digunakan asumsi‐asumsi yang berkaitan dengan perhitungan kriteria performansi financial sebagai berikut : • Suku bunga BI 8,25% • Suku bunga pinjaman Bank 17% • Kenaikan jumlah siswa sebesar 30% per tahun • Depresiasi menggunakan metode straight line selama 5 tahun • Pembagian deviden 20% setiap tahun • Tidak terjadi kenaikan tarif listrik • Non operating revenue berasal dari penjualan makanan dan buku • Pajak menggunakan ketentuan UU perpajakan no.21 tahun 2007 • Turnover sebesar 20% • Nilai MARR sebesar 21,5% 2.8.3 Investasi Awal
Alokasi dana yang diinvestasikan meliputi dua hal yakni biaya start up (perijinan, papan nama dan pembuatan plang), dan biaya untuk kebutuhan asset (aset lancar dan aset tetap). Sehingga total kebutuhan dana awal adalah sebesar Rp 341.000.000,‐ Lihat pada Lampiran B.
2.8.4 Analisis Titik Impas
Untuk memudahkan mengontrol biaya operasional maka perlu dilakukan analisis titik impas sehingga dapat diketahui titik impas berdasarkan unit (dalam hal ini jumlah siswa). Untuk titik impas jumlah siswa adalah 50 siswa. Tabel 2.6 Perhitungan BEP CoS 215,000 KMS 485,000 BEP 50 2.8.5 Proyeksi Neraca Saldo
Pembahasan proyeksi neraca saldo meliputi kebijakan arus kas, persediaan dan pendanaan.
2.8.5.1 Kebijakan Arus Kas
Dalam menentukan nilai minimum kas, perusahaan akan menganggarkan uang kas perusahaan dengan buffer kas Rp 24,000,000,‐ yang digunakan untuk menutupi biaya operasional selama 3 bulan pertama. Dari hasil perhitungan proyeksi selama 5 tahun, perusahaan akan menempatkan kelebihan uang kasnya per tahun dalam bentuk deposito. Adapun salah satu alasan perusahaan untuk menginvestasikan sebagian keuntungannya dalam bentuk deposito adalah untuk rencana pengembangan usaha dimasa depan. Sedangkan alasan lainnya adalah return yang diperoleh dari penempatan deposito lebih tinggi jika dibandingkan dengan hanya disimpan dalam bentuk tabungan atau giro bank.
2.8.5.2 Kebijakan Persediaan Untuk kebijakan persediaan berupa persediaan yang habis dibagikan kepada siswa yaitu buku, CD, dan spidol. Pengalokasian persediaan cadangan adalah sebesar kebutuhan untuk 30 siswa. 2.8.5.3 Kebijakan pendanaan • Kebijakan sumber modal
Pendanaan investasi awal ESL berupa modal gabungan antara dua orang perempuan dimana memiliki hubungan pertemanan, dan sebagian modal tambahan berasal dari pihak ke‐3 (investor).
Modal awal ESL akan disetorkan sepenuhnya pada awal pendirian usaha, dan akan digunakan untuk melakukan pembiayaan terhadap biaya pra operasional, biaya pembelian supplies, biaya pembelian asset tetap, dan biaya operasional.
• Kebijakan struktur modal
Dengan sumber pendanaan yang berasal dari modal gabungan ditambah dengan modal investor, maka kebijakan komposisi struktur modal adalah berupa equitas dan long‐term debt.
• Kebijakan deviden
Seiring berjalannya usaha ESL ini, diharapkan ESL dapat membagikan deviden kas kepada para pemegang saham apabila net income menghasilkan nilai yang positif. Pada tahun tersebut arus kas bersih yang diperoleh perusahaan memungkinkan untuk pembagian deviden. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan bagi
yang stabil. Besarnya deviden yang akan dibagikan adalah 20% dari net income sejak tahun ke 1. ketika keuangan sudah mengalami keadaan yang stabil. 2.8.6 Proyeksi Laba Rugi Dalam proyeksi laba rugi dapat dilihat laporan mengenai penghasilan, biaya serta laba rugi perusahaan selama periode tertentu. 2.8.6.1 Kebijakan Operasional
Kebijakan ini digunakan untuk pengelolaan biaya opersional perusahaan, yaitu penentuan harga pokok, biaya administrasi dan umum, serta biaya pemasaran.
• Kebijakan Harga Pokok
Penentuan harga pokok pembelian (direct of sales) berdasarkan simulasi biaya langsung dalam penyelenggaraan jasa kursus, seperti gaji guru, buku, CD yang dibagikan dan biaya training guru. • Kebijakan Biaya Administrasi dan Umum, meliputi : 1. Gaji manajer 2. Biaya kompensasi karyawan 3. Biaya listrik dan telepon 4. Biaya pemeliharaan 5. Biaya depresiasi 6. Biaya lain‐lain
• Kebijakan Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran disini adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk dapat mendukung pencapaian strategi pemasaran dari perusahaan.
Kenaikan atau penurunan biaya per tahun akan sangat dipengaruhi oleh tingkat kenaikan harga dan aktifitas pemasaran perusahaan. Lampiran B akan memberikan penjelasan mengenai proyeksi laba‐rugi.
2.8.7 Proyeksi Arus Kas
Tujuan utama dari menejemen arus kas adalah menginvestasikan kelebihan dana kas untuk memperoleh return yang menguntungkan, akan tetapi disisi lain perusahaan juga harus menjaga kebutuhan likuiditasnya. Dengan memelihara saldo kas dalam jumlah minimum maka perusahaan akan memiliki kesempatan untuk berinvestai sehingga dapat memaksimalkan keuntungan perusahaan (Palesangi,2006:55). Penjelasan lebih rinci dijelaskan pada Lampiran B. 2.8.8 Penilaian Investasi Metode penilaian investasi yang digunakan adalah metode NPV,IRR, Payback period 1. Payback Period
Merupakan ekspetasi jumlah tahun yang diperlukan untuk menutup investasi awal. Ekspetasi jumlah tahun yang diperlukan oleh ESL untuk menutup investasi awalnya selama 3 tahun.
2. Net Present Value
mencukupi untuk membayar kembali modal yang diinvestasikan dan memberikan tingkat pengembalian yang diperlukan atas modal tersebut. Apabila proyek NPV bernilai positif, maka proyek tersebut menghasilkan lebih banyak kas dari yang dibutuhkan untuk menutup utang dan memberikan pengembalian yang diperlukan kepada pemegang saham. Perhitungan NPV ESL tahun ke 4 adalah sebesar Rp 162,049,051. Sedangkan pada tahun ke 5 mencapai Rp 337,294,204.
3. Internal Rate of Return
IRR adalah ukuran untuk menilai suatu proyek menurut nilai mata uang berdasarkan waktu. IRR menggambarkan kemampuan proyek untuk mendapat keuntungan rata‐rata selama proyek beroperasi ditinjau dari segi tingkat suku bunga simpanan.Apabila nilai IRR lebih besar daripada tungkat suku bunga simpanan, maka proyek layak untuk didirikan.
Nilai IRR ESL adalah sebesar 28%, dimana nilai IRR tersebut lebih besar dibandingkan dengan suku bunga bank di Indonesia sebesar 8,25%. Hal ini berarti investor akan menerima keuntungan yang lebih besar apabila uang ditanamkan pada proyek ini, dibandingkan dengan menyimpan uangnya di bank.
2.8.9 Analisa Sensitivitas
Pada analisa sensitivitas ini, disimulasikan beberapa situasi yang mungkin terjadi. Adapun situsi yang akan disimulasikan adalah variasi jumlah anak yang akan menjadi siswa ESL.
Kondisi I : Jumlah anak = 15,4 % dari target market share Kondisi II : Jumlah anak = 13,8 % dari target market share
Kedua kondisi tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 2.7 Analisa Sensitivitas IRR NPV (5 tahun) PP Kondisi I 28% Rp 337,294,204 36 bulan Kondisi II 19% Rp 245,390,272 42 bulan Dari hasil analisa sensitivitas, dapat dilihat bahwa pendirian lembaga kursus ESL ini cukup senstitif terhadap variasi jumlah anak. Jika terjadi penurunan market share sebesar 1,6 %, maka jumlah siswa berkurang sebesar 11% yang menyebabkan kriteria finansial menjadi tidak layak karena IRR yang semula 28% menjadi 19%. Jumlah 19% ini lebih kecil dari MARR sebesar 21,5% (IRR=19%< MARR=21,5%).
Dengan demikian, pihak pengelola harus berusaha memenuhi target market share yang ditetapkan. (Rostiany,2000:V‐38)
2.8.10 Rasio Keuangan
Untuk mengukur kinerja perusahaan maka akan digunakan beberapa rasio‐ rasio keuntungan. Adapun yang menjadi data utama dalam menghitung rasio‐ rasio ini adalah neraca dan laba rugi perusahaan. Rasio‐rasio yang digunakan untuk menganalisa kinerja ESL antara lain :
1. Return on Investment (ROI)
Return on investment (ROI) adalah perbandingan antara pemasukan per tahun terhadap dana investasi sehingga dapat juga disebut pengembalian atas asset per tahun.
ROI = investment income Net (Brigham,2002:84) ROI yang diperoleh setelah pajak adalah Tabel 2.8 Pertumbuhan ROI 1 2 3 4 5 20.3% 38.6% 60.4% 87.6% 90.6% ROI
Angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah pendapatan terhadap investasi bertambah dari tahun ke tahun, dan pada tahun ke‐5 dengan ROI yang sudah mencapai 90% menunjukkan saatnya melakukan investasi baru.
2. Return on Asset (ROA)
Dalam rasio ini akan diukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan seluruh asset yang dimilki perusahaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin tinggi rasio ini maka dapat diartikan bahwa perusahaan telah memanfaatkan semua harta yang dimikilinya secara maksimal. ROA = Asset income Net (Brigham,2002:93) Return on Asset (ROA) ESL selama 5 tahun adalah
Tabel 2.9 PertumbuhanROA 1 2 3 4 5 20.3% 35.9% 47.8% 56.8% 46.2% ROA
Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan mampu memberdayakan asetnya sehingga menghasilkan pertumbuhan tingkat laba perusahaan setiap tahun. ROA pada tahun ke‐5 menglami penurunan menunjukkan bahwa perusahaan pada tahap mature.