• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fisiologi Yang Terjadi Pada Masa Intrapartum

Dalam dokumen makan dan minum pada saat intrapatum (Halaman 32-37)

Makan dan minum sangat dibutuhkan oleh setiap manusia pada setiap aktivitasnya, begitu juga dengan ibu hamil, ibu bersalin serta ibu pasca melahirkan. Mereka memerlukan energi yang lebih banyak dibandingkan wanita carir biasa.

Menurut Ludka dan Robert (dalam www.birth.co.uk,2007) Pada masa intrapartum, seorang wanita memerlukan energi sebesar 700-1000 kkal/jam. Energi ini setara dengan energi yang dibutuhkan oleh seorang pelari marathon dalam menempuh traknya. Sumber lain pun mengatakan bahwa energi minimum yang dibutuhkan ibu selama masa intrapartum sekitar 121 kkal/jam. Wanita pada saat ini diibaratkan seperti seorang pelari yang membutuhkan sumber energi langsung, maksudnya wanita bersalin memerlukan asupan makanan serta minuman yang tidak hanya dapat memberikan energi yang adekuat saat proses bersalin berlangsung, namun makanan serta minuman tersebut haruslah mudah dicerna serta diserap oleh tubuh, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses pencernaan.(www.birth.co.uk, 2007)

Pada saat ibu memasuki masa persalinan, terjadi perubahan-perubahan serta aktivitas sel dan jaringan yang berbeda dari biasanya. Dimana pada saat itu otot-otot rahim akan dipaksa bekerja ekstra untuk mendorong janin keluar dari rahim dan akan menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu. Perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu diantaranya :

a. Sistem gastrointestinal

Pada saat ibu memasuki masa intrapartum, sistem pencernaan ibu dalam hal ini lambung dan usus akan mengalami penurunan aktivitas, dimana kerja lambung dan usus dalam mencerna makanan akan melambat, sehingga pengosongan lambung dapat terjadi dalam waktu lebih dari 12 jam. Walaupun pengosongan lambung terjadi sangat lambat, namun asam lambung tetap dihasilkan sehingga ibu dalam masa intrapartum tetap memerlukan asupan nutrisi dan hidrasi selain untuk mengimbangi asam lambung yang dihasilkan juga untuk mengurangi rasa mual dan muntah yang mungkin timbul. Selain itu makanan dan minuman dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga mencegah dehidrasi. Pada masa intrapartum ada beberapa faktor yang menyebabkan lambatnya pengosongan lambung, yaitu:

a) Perubahan sistem hormonal dalam hal ini peningkatan hormone tiroid yang menyebabkan metabolisma basal meningkat serta pengaruh dari hormone progesterone yang mempengaruhi kerja otot-otot polos termasuk otot pencernaan

b) Jenis makanan yang dikonsumsi mengandung kadar lemak dan serat yang tinggi sehingga memperberat kerja sistem pencernaan

c) Peningkatan dari asam lambung yang menyebabkan meningkatnya produksi dari gas sehingga mortilitas lambung bertambah lambat

d) Pengaruh anastesi serta obat analgetik yang bersifat opium (morfine) sehingga membuat otot-otot polos pencernaan menjadi lebih relaksasi dan mortilitas kembali menurun. (Stabels,Rankin,2006)

b. Aktivitas otot-otot uterus

Proses persalinan merupakan rangkaian proses yang memerlukan waktu yang cukup panjang yaitu sekitar 17 jam, dan selama itu juga otot-otot rahim akan bekerja keras untuk melakukan gerakkan yang berarti hingga janin dapat dilahirkan.(synopsis obstetric,EGC.1998: 232)

Dapat dibayangkan jika selama rentang waktu tersebut ibu tidak mendapatkan asupan zat makanan serta minuman sebagai sumber energi, maka otot-otot rahim pun tidak akan mendapatkan suplai tenaga untuk melakukan fungsinya sehingga rentang waktu persalinan akan bertambah panjang dan timbul masalah bagi kesejahteraan janin dan ibu.

c. Termoregulasi tubuh ibu

Saat proses persalinan berlangsung, ibu mengeluarkan banyak energi serta sisa metabolisma sedangkan input zat penghasil energi akan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kebutuhan. Jika kebutuhan energi ibu tidak terpenuhi, selain kerja otot-otot rahim akan terganggu, keseimbangan cairan serta elektrolit ibu pun akan terganggu dan dapat menyebabkan dehidrasi yang dalam hal ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan temperature tubuh serta metabolisme asam basa. Jika hal ini terjadi maka ibu dapat mengalami penurunan kesadaran. (www.birth.co.uk.2007)

d. Sistem pernafasan

Saat his terjadi, tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih banyak untuk mencegah terjadinya hipoksia jaringan serta iskemik karena peningkatan tekanan karbondioksida. Untuk mengimbangi hal tersebut, saat terjadinya his ibu akan mengambil nafas pendek dan cepat, hal tersebut menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan PH dalam darah akibat dari pemenuhan oksigen yang tidak adekuat untuk tubuh melakukan metabolisme. Untuk mengimbanginya, tubuh mensiasati hal tersebut dengan menggunakan oksigen terikat yang tersedia dalam tubuh untuk metabolisme (metabolisme anaerob).

Dengan menggunakan oksigen terikat tersebut, menyebabkan PH darah turun menjadi asam sehingga ibu akan mengalami asidosis metabolik fisiologi jika keadaan tersebut diimbangi dengan tarikan nafas

ibu yang panjang dan dalam diantara his, serta kebutuhan karbohidrat ibu sebagai sumber energi terpenuhi (karbohidrat merupakan salah satu sumber makanan yang mengandung unsur oksigen terikat dan lebih mudah menghasilkan energi). Jika hiperventilasi terjadi terus menerus serta tubuh lebih banyak melakukan metabolisma anaerob maka PH darah ibu akan menurun menjadi asam atau asidosis dan keadaan ini sama membahayakannya dengan keadaan ketosis pada ibu untuk janin (menyebabkan distress pada janin).( Stabels & Rankin, 2006)

Jika selama persalinan asupan makan serta minum ibu tidak tercukupi, maka tubuh ibu pun akan mencari cara untuk dapat memenuhi kebutuhan energinya yaitu dengan cara melakukan metabolisme besar-besaran terhadap cadangan energi dalam tubuh ibu diantaranya glukosa yang dalam hal ini tersimpan dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen, protein (glikoprotein, nukloprotein, lipoprotein, mukoprotein) serta lemak. Jika metabolisma karbohidrat terjadi terus menerus tanpa adanya asupan bahan energi dari luar maka akan terbentuk sisa metabolisme yang tidak menguntungkan tubuh yaitu CO2 yang lambat-laun akan menumpuk dalam darah ibu dan menyebabkan ketidakseimbangan PH darah, dalam hal ini PH darah akan menurun dan memiliki kadar asam yang lebih tinggi atau disebut asidosis.

Jika ini terjadi maka akan sangat tidak menguntungkan untuk ibu dan janin karena akan menghambat proses pengikatan O2 akibatnya akan terjadi hipoksia pada ibu serta janin. Selain itu jika protein dan lemak dipecah secara besar-besaran, maka akan terbentuk sisa metabolisma yang lain yaitu senyawa keton,

dan jika kadar keton ditemukan dalam urine maka keadaan ini sangat tidak menguntungkan ibu serta janin karena tingkat keasaman pada darah pun telah meningkat (ketoasidosis).( Mc Cormick-Champion,2002).

E. Protap/ Standar Pemberian Makan Dan Minum Pada Masa Intrapartum

Dalam dokumen makan dan minum pada saat intrapatum (Halaman 32-37)

Dokumen terkait