• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian

4.2.1. Fitur konservas

Fitur konservasi merupakan data biofisik yang akan dilindungi sehingga fitur ini merupakan suatu acuan ekologi untuk tujuan fitur konservasi. Fitur konservasi dalam penelitian ini antara lain adalah sumberdaya larva dan habiat larva, sumberdaya larva antara lain adalah Anguilla, Congridae, Trichiuridae, dan Gobiidae, sedangkan fitur konservasi yang berupa habitat larva antara lain adalah feeding ground dan nursery ground. Berdasarkan tingkat kepentingan dan kualitas data, Nilai SPF pada setiap Fitur konservasi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai faktor denda pada tiap fitur konservasi

No. Fitur konservasi Tingkat

kepentingan Kualitas Data

Faktor Denda (SPF) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Anguilla sp. Congridae Trichiuridae Gobiidae Nursery Ground Feeding Groundtepi Feeding Groundtengah

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah 23 17 11 9 3 2.5 2

Pemilihan fitur konservasi diatas, dipertimbangkan dari beberapa kegiatan di daerah pesisir Teluk Palabuhanratu yang dinilai mengancam keanekaragaman hayati perairan, salah satu kegiatan yaitu penangkapan sumberdaya larva pada tradisi nyalawehan di Teluk Palabuhanratu. Sumberdaya larva ikan yang dipilih sebagai fitur konservasi meliputi Anguilla, Congridae, Trichiuridae, dan Gobiidae. Fitur konservasi ini terpilih berdasarkan pertimbangan nilai ekonomis penting spesies tersebut dan semakin sedikit kondisinya di alam sehingga apabila dibiarkan, kondisi tersebut dapat menjadi ancaman terhadap kelestarian sumberdaya tersebut. Selain dari sumberdaya larva, fitur konservasi lain adalah parameter berupa ekologi yang berupa ekosistem, habitat, maupun biofisik lainnya yang ada kaitan erat dengan

sumbedaya larva, diantaranya adalah feeding ground (tempat mencari makan) dan nursery ground(tempat asuhan).

a. Anguilla

Anguillamerupakan jenis ikan sidat yang sudah terancam keberadaan di alam, ikan ini merupakan ikan ekonomis penting karena tingkat selera terhadap ikan ini sangat tinggi terutama negara Jepang yang sering menjadi tujuan eskpor ikan ini untuk makanan olahan unagi. Ikan ini telah dibudidayakan, namun budidaya hanya bersifat pembesaran saja. Ikan sidat merupakan hewankatadromus yaitu ikan yang membesar (tumbuh) di perairan tawar dan akan beruaya menuju ke laut dalam (kedalaman 400 m) ketika akan memijah dan kemudian telurnya menetas di laut kemudian larvanya terbawa arus menuju pantai dan selanjutnya beruaya menuju pantai kemudian benih ikan sidat masuk ke sungai-sungai dan membesar hingga dewasa. Setelah ikan sidat mendekati dewasa akan beruaya kembali menuju laut untuk memijah (Sasono 2001). Hal ini yang menjadikan ikan sidat sulit untuk dibudidaya secara keseluruhan, sehingga untuk memenuhi permintaan konsumen akan ikan ini, perlu adanya penangkapan benih yang ada di alam, karena tingginya permintaan akan ikan sidat, penangkapan ikan ini di alam menjadi tidak terkendali, sehingga kondisi ini mengancam kelestarian yang berujung terhadap punahnya ikan sidat di alam, oleh karena itu ikan sidat menjadi dasar pertimbangan untuk konservasi yang bertujuan agar dapat menjaga kelestarian dari ikan sidat ini. Berdasarkan obyektivitas Penulis, ikan ini mempunyai nilai denda (SPF) sebesar 23 yang merupakan nilai denda terbesar diantara fitur konservasi yang lain. Berikut merupakan peta sebaran letak ikan Anguilla berdasarkan hasil penelitian dari (Said 2011) dan (Anwar 2008) (Gambar 10).

b. Congridae

Congridae merupakan family ikan sidat yang statusnya juga terancam kelestariannya, seperti halnya ikan sidat jenisAnguilla, ikan sidat family Congridae juga merupakan hewan katadromus yang menjadikan ikan ini masih belum bisa

5 Gambar 10. Sebaran fitur konservasiAnguilladi Teluk Palabuhanratu

dibudidayakan secara keseluruhan Untuk memenuhi permintaan konsumen, ikan ini masih dieksploitasi dari alam.

Tingginya permintaan akan ikan sidat, penangkapan ikan ini di alam menjadi tidak terkendali, sehingga kondisi ini mengancam kelestarian yang berujung terhadap punahnya ikan sidat di alam. Hal ini yang menjadi pertimbangan ikan sidat family Congridae masuk dalam fitur konservasi yang dinilai perlu untuk dilindungi dengan nilai denda (SPF) sebesar 17. Dibandingkan dengan ikan sidat jenis Anguilla, ikan sidat family Congridae mempunyai minat konsumen yang lebih sedikit daripada ikan sidat jenisAnguilla. Berikut merupakan peta sebaran letak ikan family Congridae berdasarkan hasil penelitian dari (Said 2011) dan (Anwar 2008) (gambar 11).

c. Trichiuridae

Trichiuridae merupakan family dari ikan layur. Berdasrkan data sekunder penelitian dari Furry (2011) dan Rifai (2011), biologi reproduksi ikan layur mencakup dua famili yaitu Trichiuridae dan Gempylidae, dan jenis yang ditemukan di lokasi penelitian adalah Lepturacanthus dan Gempylus. Populasi ikan layur banyak tertangkap pada perairan pantai yang dangkal di sekitar muara sungai (Badrudin dan Wudianto 2004 in Sharif 2009). Berdasarkan data statistik PPN Palabuhanratu, ikan layur mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, terbukti dari ikan layur yang tertangkap di Teluk Palabuhanratu biasa diekspor ke luar negri untuk memenuhi kebutuhan dari konsumen. Salah satu jenis yang diekspor adalah dari jenisLepturacanthus savala. Karena tingginya akan permintraan ikan layur, ikan ini ditangkap dengan berbagai macam upaya, yaitu dengan menggunakan payang, gillnet, bagan, pancing (pancing ulur dan rawai), dan pure seine. Alat tangkap dominan yang digunakan dalam menangkap ikan layur di Teluk Palabuhanratu adalah pancing ulur (Anita 2003 in Sharif 2009). Usaha penangkapan yang berlebihan akan berdampak buruk terhadap kelestarian dari ikan layur ini, oleh karena itu, ikan layur ini menjadi ikan yang masuk sebagai kategori fitur konservasi dengan nilai denda (SPF) sebesar 11. Berikut merupakan peta sebaran letak

7 Gambar 11. Sebaran fitur konservasi Congridae di Teluk Palabuhanratu

ikan family Trichiuridae berdasarkan hasil penelitian dari (Said 2011) dan (Anwar 2008) (Gambar 12).

d. Gobiidae

Ikan family Gobiidae merupakan ikan yang sering disebut ikan impun/menga. Secara umum family Gobiidae ditemukan pada daerah muara sungai sebagai habitatnya. Hal ini menunjukkan bahwa anggota family tersebut mempunyai karakteristik untuk beradaptasi dengan kondisi habitat yang ada, diantaranya adalah karena tubuhnya dilengkapi dengan cakram pelekat yang termodifikasi dari sirip perut yang menyatu. Organ ini sangat berperan dalam adaptasinya terhadap arus yang kuat dengan cara menempelkan tubuhnya ke dasar perairan yang berbatu (Furry 2011). Sebagian besar ikan dari family Gobiidae terdiri dari jenis Sicyopterus sp yang merupakan jenis ikan divisi peripheral, yaitu suku-suku yang anggotanya mempunyai toleransi yang tinggi terhadap salinitas.

Ikan family Gobiidae memiliki sifat migrasi yang berbeda-beda. Ikan Gobiidae yang tertangkap kemungkinan bersifat amphidromusataumarine migrant. Pada kelompok amphidromus, ikan melakukan pemijahan di sungai dan melakukan penetasan di laut, setelah itu, saat juvenil akan kembali lagi ke sungai dan saat dewasa akan kembali lagi ke sungai. Ketika ikan family Gobiidae yang berfase juvenil ditemukan, maka diduga bahwa ikan tersebut tersebut sedang melakukan migrasi ke sungai untuk pembesaran dan pencarian makan. Dugaan kedua adalah marine migrant. Pada kelompok ini, spesies tersebut memiliki kisaran salinitas yang luas (euryhaline) yang melakukan pemijahan di laut dan menggunakan daerah estuari untuk pembesaran juvenil dan dewasa. Saat tertangkap spesies diduga sedang mencarian makan di muara sebagai feeding ground dan nursery ground. Menurut Sanches-Velasco et al. (1996) in Nursid (2002) kelompok larva tersebut dalam hidupnya sangat tergantung pada estuaria. Jenkins dan Boseto (2007) menjelaskan larvaSicyopterus sp.termasuk jenis ruayaamphidromus yaitu melakukan pemijahan di sungai dan saat penetasan akan menuju ke laut. Saat ikan pada fase postlarva dan juvenil, spesies tersebut kembali lagi ke muara sungai untuk mencari makan dan pembesaran, dan pada saat dewasa spesies tersebut kembali lagi ke laut. Berdarkan

3

9

penelitan Furry (2011) jenis ikan ini memiliki nilai kepadatan terbesar dibandingkan dengan nilai kepadatan populasi dari jenis larva dan juvenile lain yang ditemukan di Teluk Palabuhanratu, walaupun demkian, ikan ini dinilai penting untuk dikonservasi agar ikan ini tetap lestari keberadaannya, mengingat karakteristik ikan ini yang masih sangat tergantung terhadap alam, sehingga dinilai sangat rentan punah apabila tidak ada pembatasan aktivitas penangkapan. Oleh karena itu, ikan family Gobiidae ini masuk sebagai kategori fitur konservasi dengan nilai denda (SPF) sebesar 9. Berikut merupakan peta sebaran letak ikan family Gobiidae berdasarkan hasil penelitian dari (Said 2011) dan (Anwar 2008) (Gambar 13).

e. Nursery Ground

Nursery Groundmerupakan daerah asuhan ikan. Daerah ini merupakan daerah yang penting terhadap kelangsungan hidup ikan, mengingat beberapa jenis sumberdaya larva memiliki karakteristik sebagai katadromus, maupun amphidromus/marine migrant. Katadromus yaitu ikan yang membesar (tumbuh) di perairan tawar dan akan beruaya menuju ke laut dalam (kedalaman 400 m) ketika akan memijah dan kemudian telurnya menetas di laut kemudian larvanya terbawa arus menuju pantai dan selanjutnya beruaya menuju pantai kemudian benih masuk ke sungai-sungai dan membesar hingga dewasa, setelah mendekati dewasa, akan beruaya kembali menuju laut untuk memijah, salah satu contoh jenis ikan ini adalah ikan sidat (Sasono 2001). Sedangkan amphidromus, ikan melakukan pemijahan di sungai dan melakukan penetasan di laut, setelah itu, saat juvenil akan kembali lagi ke sungai dan saat dewasa akan kembali lagi ke laut. Muara sungai sendiri merupakan tempat pertemuan antara air tawar dan air laut atau transisi antara habitat perairan tawar dan habitat laut, kondisi ini sering disebut sebagai estuari. Habitat estuari relatif lebih subur (produktif) sehingga habitat ini menjadi daerah asuhan (nursery ground) yang baik bagi larva udang, ikan dan kerang, bahkan ada jenis- jenis ikan yang menjadikan estuari sebagai habitat sepanjang hidupnya. Salah satu estuari adalah muara sungai yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut. Adanya pasang surut ini akan mempengaruhi bentuk kehidupan biota di daerah tersebut. Biota yang hidup di daerah ini adalah biota yang mempunyai toleransi yang tinggi

1 Gambar 13. Sebaran fitur konservasi Gobiidae di Teluk Palabuhanratu

terhadap perubahan lingkungan, yang ditandai dengan jumlah jenis sedikit dan potensi yang tinggi.

Muara sungai adalah daerah yang sangat subur karena mengandung sejumlah besar zat-zat hara yang berasal dari darat. Kehidupan ini dapat mendukung biota- biota seperti ikan, udang dan beberapa jenis karang. Kesuburan muara sungai dapat mengalami penurunan karena daerah ini mudah dicemari aktivitas daratan, sperti limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Penurunan kesuburan ini dapat mengakibatkan berkurangnya produksi perikanan. Oleh karena itu, nursery ground dinilai sangat penting untuk mempengaruhi pertimbangan konservasi, yaitu dengan melibatkan nursery gorund sebagai kategori fitur konservasi dengan nilai denda (SPF) sebesar 3. Nursery ground yang ditetapkan terletak di tiap muara sungai dari muara Sungai Cimandiri hingga muara Sungai Citiis. Berikut merupakan petanursery ground(gambar 14).

f. Feeding Ground

Feeding ground merupakan tempat larva mencari makan, secara naluri, ikan mempunyai insting untuk berpindah tempat ke lokasi yang produktifitas primernya lebih tinggi untuk proses keberlanjutan hidup ikan tersebut, salah satu indikasi tingginya produktivitas perairan adalah keberadaan fitoplankton yang bisa ditentukan dengan klorofil. Mesikipun tidak ada batasan pasti dalam penentuan feeding groundini, batas penentuan wilayah ini menggunakan hubungan parameter fisik perairan di Teluk Palabuhanratu yang ada kaitannya dengan klorofil sebagai penentu keseburan. Beberapa parameter fisika-kimia yang mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a adalah suhu, cahaya, arus dan nutrient (terutama nitrat, fosfat, dan silikat) (Nybakken 1992). Pigmen-pigmen lainnya pada tumbuhan laut digunakan oleh klorofil untuk membantu mengabsorbsi cahaya yang tidak tertangkap secara maksimal oleh klorofil Pada tingkat intensitas cahaya yang sedang, laju fotosintesis fitoplankton merupakan fungsi linier dari intensitas cahaya, namun di dalam kolom air dekat permukaan air di mana intensitas cahaya tinggi,

3 Gambar 14. Sebaran fitur konservasiNursery Grounddi Teluk Palabuhanratu

kebanyakan spesies fitoplankton menunjukkan bahwa fotosintesis dipertahankan pada suatu tingkat tertentu atau bahkan fotosintesis malah akan menurun (Gambar 15).

Gambar 15. Gambar hubungan klorofil pada permukaan dan kedalam yang berbeda (Sumber : Nybakken 1992)

Dari referensi diatas, menunjukkan bahwa ada hubungan antara parameter fisika kedalaman dengan kelimpahan produktivitas primer berupa fitoplankton, dimana kedalaman tertentu menghasilkan intensitas cahaya yang berbeda, dan intensitas cahaya berkaitan erat dengan laju fotosintesis dari fitoplankton yang berimplikasi terhadap kesuburan perairan.

Pentingnya feeding ground terhadap keberadaan dan kelangsungan hidup sumberdaya larva, menjadikanfeeding groundpenting untuk dilibatkan sebagai fitur konservasi yang bertujuan untuk mempengaruhi pertimbangan konservasi, yaitu dengan nilai denda (SPF) sebesar 2.5 sebagai feeding ground tepi, dan nilai denda (SPF) sebesar 2 sebagai feeding ground tengah. Hal ini dibedakan atas dasar kedalaman, yaitu pada feeding ground tepi antara kedalama 0 m hingga 20 m dan feeding ground tengah antara 20 m hingga 200 m dengan asumsi kedalaman yang rendah mempunyai produktifitas yang tinggi karena intensitas cahaya yang masuk lebih banyak sehingga produktivitas primer lebih tinggi, disamping itu pengaruh

5 Gambar 16. Sebaran fitur konservasiFeeding Grounddi Teluk Palabuhanratu

nutrient dari muara sungai dan pesisir menjadikan produktivitas primer di tepi lebih tinggi daripada di tengah. Berikut merupakan peta sebaran feeding grounddi Teluk Palabuhanratu (Gambar 16).

Dokumen terkait