Teruntuk para wanita yang kadang terjebak dalam kenangan masa lalunya …
Siang hari ini matahari lumayan terik. Aku menyeka keringatku.
Padahal di foodcourt yang kutempati sekarang ada dua kipas angin yang cukup untuk mendinginkan ruangan.
“Hahaha…ya ampun guys, ini gue banget nggak sih?” tanya gadis berbaju biru dengan rambut lurus dan wajah imut seperti artis korea pada kedua temannya yang dengan berapi api mengaggukkan kepala sambil fokus ke layar android di depannya. Mereka duduk tepat di sebelah mejaku.
“Loudspeaker donk, asik ih…apa judulnya tadi? flashback ya?”, kata si gadis berbaju tosca dengan jilbab warna senada. Aku pernah seperti mereka, asyik ngobrol dan berhaha hihi dengan sahabat-sahabatku sambil memperbincangkan hal hal yang sedang nge-trend saat itu, entah itu lagu, model pakaian, cowok, banyak deh pokoknya.
Waktu berlalu begitu cepat. Ya, waktu tidak pernah mau menunggu.
Waktu juga takkan pernah terulang. Tidak ada lorong waktu di dunia nyata.
Aku sedang berada di pusat perbelanjaan, menikmati secangkir teh hangat sambil memangku bayiku yang berumur 7 bulan, sementara si kakak sedang sibuk bermain dengan ayahnya di area permainan. What a perfect life bukan?
“Bener banget!!! kangen gak harus balikan.. hihihi”, celetuk gadis berbaju biru tadi. Iseng-iseng kubuka youtube. Si kecil sedang tertidur pulas di pangkuanku. Kuketik flashback di kolom pecarian. Kudengarkan lagunya,
yah.. lumayan menurutku. Lagu baru dari duet penyanyi terkenal dan rapper kontroversial.
‘Lagu yang kau suka buatku flashback, film yang kita tonton buatku flashback…liburan yang kita idamkan, tapi tangan lain yang kau genggam….’
Aku tersenyum simpul. Flashback identik dengan kenangan. Kata orang, kenangan itu seperti hujan, dia datang tiba-tiba dan tak terduga, pergi pun tiba-tiba. Seperti yang tiba-tiba muncul di messengerku sehari yang lalu. Ada gambar kopi yang dikirim oleh kenangan.
‘Maniak kopi nggak pernah berubah ya?’, pikirku ketika menerima gambar itu. Iseng-iseng aku klik tombol send. Aku kirim gambar teh yang sedang kunikmati di depanku. Si kakak dan ayah sepertinya masih lama, senang sekali melihat mereka terseyum seperti itu.
Tring! Bunyi messenger masuk mengagetkanku. Balasan darinya datang secepat kilat rupanya. Hanya sebuah emoticon berpikir. Aku balas dengan emot senyum. Kami saling berkirim emot hingga …
“Apa disitu hujan?”, akhirnya ada kalimat yang Ia tulis.
“Mboten”, jawabku.
Kemudian emot menangis dia kirim sebanyak dua kali. Ada yang janggal rasanya.
“Maaf, kalau pertemuan tidak sengaja dan tiba-tiba di media sosial ini mengagetkan dan menggalaukan njenengan, afwan.”
Kembali dia kirim emot menangis. kututup aplikasi messenger itu tanpa membalasnya. Aku meragu dengan apa yang akan kutulis. Bukankah lebih baik kita meninggalkan sesuatu yang masih menjadi keragu-raguan?
Ingatanku terlontar jauh ke masa delapan tahun silam, di mana waktu itu aku masih duduk di semester dua. Aku sedang asyik-asyiknya kuliah, berorganisasi, dan banyak sekali aktifitas padat yang menyenangkan.
Sampai suatu malam ada tamu datang ke rumah. Teman kakakku yang kebetulan kuliah di kampus dan jurusan yang sama denganku, empat semester di atasku.
“Adekku, semester dua”, ucap kakakku ketika aku baru masuk rumah.
Aku hanya tersenyum menunjukkan kesopananku. Esoknya, kami sering berpapasan, hanya senyum yang kami bagi tanpa saling sapa. Namanya saja aku tak tahu.
“Asslamualaikum, ngopi neng?”, tiba-tiba ada sms masuk ke ponselku.
“Waalaikumsalam, sinten?”, balasku.
“Fandi”
Usut punya usut, Fandi ini yang pernah datang ke rumah, mahasiswa nyentrik tapi cerdas dengan rambut gondrong dan motor antiknya. Sejak saat itu kami sering berbalas pesan singkat, simple, bahkan absurd. Bukan jenis pesan bernada perhatian atau romantis, bukan. Layaknya penyair dan filsuf, kami lebih sering berbagi kalimat bijak daripada berbagi kabar.
Hanya dengan melihat motornya terparkir rapi saja sudah cukup bagiku mengabarkan bahwa dia baik baik saja. Kami tetap hanya berbagi senyum jika berpapasan, tidak pernah ngobrol bahkan keluar bersama.
Se-simple itu, seindah itu perasaan kami waktu itu.
“Terlalu banyak kopi menyebabkan sakit maag”, pesanku suatu kali.
“Terlalu banyak teh juga menyebabkan sakit maag”, balasnya.
“Segala yang berlebihan memang nggak baik”, aku membalas.
“Jadi jangan berlebihan, nikmati saja. Kita bisa memilih untuk menikmati atau nggak menikmati karena takut sakit. Aku lebih memilih menikmati walau tau aku bisa sakit, daripada aku tidak pernah tau rasanya sama sekali”, dia mulai beretorika.
Pernah suatu kali tiba tiba dia mengirim pesan, “Cinta itu seperti iman, dia tidak pernah stabil. Naik turun. Aku ingin imanku terjaga ketetapannya dengan dukungan dia yang kucintai.” Atau seperti ini, “Aku pulang kampong ,kangen emak bapak. Sekalian kasih kabar soal calon yang sedang menunggu balasan pesanku”.
Hati perawan mana yang tidak berbunga bunga. Segalanya yang pernah kita perbincangkan seolah-olah membenarkan bahwa memang aku yang dia semogakan dalam tiap doa-doanya. Sampai suatu hari di penghujung semester, aku mendengar kabar dari kakak tingkat yang sedang asyik bergosip di Musholla.
“Ehh.. si Fandi itu seorang gus loh. Rumahnya di sana. Dia seorang hafidz juga. Nggak nyangka ya kalau liat penampilannya. Dia kan tinggal di pesantren depan minimarket itu, jadi ustadz di sana. Mau lah aku jadi calonnya”, kata mbak Kania, si cantik bermata sipit.
“Sadar… dia itu gus. Nggak selevel sama kita. Bisa aja dianya mau, lah abah umiknya?”, jawab mbak Rahma, si kalem yang selalu pakai jilbab panjang anggunnya.
Kulihat setelanku hari itu, jeans yang dipadukan dengan tunik selutut dan jilbab segi empat. Bukan santri banget. Kok nyesek ya aku. Sejak dua minggu yang lalu setelah kepulangan Fandi yang terakhir, intensitas komunikasi kami berkurang drastis. Akhirnya kuberanikan diri mengirim pesan.
“Apakah ada gambaran bahwa di masa depan kita masih saling berinteraksi?”
“Kalau melihat betapa kuasanya Allah, iya… tapi dengan kapasitasku sebagai manusia yang hanya tau keadaanku saat ini aku menjawab tidak ada titik terang untuk itu… Tapi jangan pernah berputus asa terhadap kasih sayang Allah.”
Dia tau maksudku, dan dia telah menjawab dengan jelas tidak ada harapan bagi kami setidaknya untuk saat ini. Air mataku dengan lancangnya meluncur deras, hanya untuk malam itu, kubiarkan diriku rapuh serapuh-rapuhnya, hancur sehancur-hancurnya. Aku meratapi takdirku menjadi perempuan dari keluarga biasa saja yang tidak mungkin masuk ke dalam keluarga terhormat. Mana mungkin aku yang banyak hidup di jalanan dengan organisasiku layak mendapat status setinggi itu? Mimpi!
Di penghujung ratapan dan doaku malam itu, telah aku putuskan saat itu bahwa aku dan dia telah selesai… We’ve done.
“Bosen ya bunda? Sebentar lagi kita pulang ya sayang.”
Kubalas ucapan suamiku dengan senyum manis. Suamiku, imamku, sayangku. Maafkan ketidaksempurnaanku ini. Maaf jika pikiran ini tiba-tiba flashback ke masa lalu dengan tiba tiba tanpa kuminta. Tapi bukannya itu manusiawi? Aku bukannya beralibi, hanya saja, aku bukan robot yang bisa seenaknya dengan mudah mendelete memori yang tidak kuinginkan. Sudah kuputuskan, ku blokir semua akun media sosial yang bersinggungan dengannya yang memungkinkan untuk berinteraksi dengannya lagi. Aku menutup celah sekecil apapun itu. Aku tidak ingin ketika iman dan cintaku berada di titik terendah, setan masuk dari celah yang kuciptakan sendiri. Ya Allah, aku berlindung padamu…