KATA PENGANTAR 뚨ಟ흐ϼᨐ ϴಟ흐ϼᨐ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan buku kumpulan cerpen yang disusun untuk berpartisipasi dalam gerakan literasi mencetak rekor MURI 1001 buku yang diselenggarakan oleh Kemenag Kabupaten Pasuruan.
Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada dewan guru yang telah memberikan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menulis naskah ini.
Terimakasih pula kepada dewan guru maupun siswi yang ikut berpartisipasi dalam membuat karyanya. Dengan demikian, kami berharap buku ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Teringat suatu kata mutiara bahwa lidah lebih tajam daripada pedang, tak ubahnya dengan pena yang digunakan dalam karya tulis itu lebih tajam pula daripada pedang. Maka dengan demikian, kami menyadari bahwa pembuatan karya ini masih ada kekurangan dan kesalahan yang harus diperbaiki. Saran sangat kami harapkan dari pembaca untuk perbaikan tulisan selanjutnya. Semoga apa yang didapat dalam buku ini bermanfaat.
Pasuruan, 29 September 2019 Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...i
Daftar Isi... ii
Antara Aku dan Sang Waktu ...1
Cinta dalam Doa... 12
Fajar yang Menjadi Saksi ... 18
Flashback ...24
Kali Kedua ...29
Keberhasilan yang Tertunda ... 32
Meja Nomer 6 ... 37
Rahasia Rasa ... 41
Senja ...54
Sepertiga Malamku...63
Setetes Rindu...69
Waktu Itu...74
ANTARA AKU DAN SANG WAKTU
By: Fatimatus Zuhro
Braakk… Tanganku menghantam meja kantin yang telah dikerumuni Bima dan teman-temannya.
“Siapa yang tak tahu jika kau diam-diam menyimpan rahasia dariku?”
aku menatap tajam pada Bima, ada sedikit rasa heran bercampur takut di raut wajahnya, mungkin.
“Apa maksudmu, Sayla?”.
“Huh… kau sangat pandai berakting rupanya.”
Lalu seorang wanita tiba-tiba datang, mukanya yang pas-pasan itu.. ah..
aku sama sekali tak ingin melihatnya, hanya saja dia tiba-tiba muncul.
Namanya Zia, adik kelasku, dia menatapku heran.
“Nah… ini dia.” Aku mulai bersuara.
Nampak disitu Bima seakan membisu, matanya kemudian beradu dengan wanita itu, seakan mengisyaratkan agar dia segera berlalu, karena datang di waktu yang sama sekali tidak tepat. Sedangkan teman-teman Bima hanya diam, menjadi penonton pasif atas awal percekcokan dengan Bima.
Mata mereka memandangku yang sedang murka.
“Apa maksud ucapanmu?”
“Kau masih saja tak mau akui? kalau kau telah bercumbu mesra dengan dia dibelakangku, kan!”
Bima diam, lalu mulai membuka mulut
“Itu tidak seperti yang kau kira, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu, Sayla…”, katanya sambil memegangi kedua tanganku, langsung kulepas genggamannya.
“Sudahlah … apa yang mesti dijelaskan, sudah beberapa hari ini aku membuntutimu, aku curiga, dan setelah apa yang kau lakukan, ternyata semua kecurigaanku benar.”
“Darimana kau tahu hal itu? Dari sahabatmu itu? Siapa Namanya… ? oh ya.. Beni kan? terkena pelet apa kau ini, sampai-sampai kau percaya saja padanya, waaah…. Waaah… atau mungkin kau yang ternyata bermain-main dengannya di belakangku?”, Amarahku kian memuncak, tanganku spontan mengambil minuman di depanku dan menyiramkannya pada muka merah padamnya.
“Jaga ucapanmu!”, Aku diam beberapa detik, dan… “ Kita PUTUS!!!’
sambungku. Aku tahu bahwa dia pasti akan mengumpat padaku, sambil berlari sekencang mungkin, meninggalkan kantin dan menuju ruang kelas dengan mata yang basah.
“Sayla”, Ada yang memanggilku, aku menoleh, ternyata Beni.
Ketenggelamkan kembali wajahku pada tas ranselku dan kembali menangis, ku katakan padanya, “Pergilah Ben… aku ingin sendiri”
***
Sepulang sekolah, aku mengurung diri di kamar, mengingat kejadian tadi. Sebenarnya aku masih tak ingin melepaskannnya, mengingat semua kenangan bersamanya selama setahun ini. Aku masih belum siap kehilangan.
Padahal besok adalah hari di mana aku dengan Bima merayakan satu tahun jadian kita. Namun semua harapan itu pupus, angan itu berlalu dengan semilir angin yang melewati jendela kamarku sore itu.
Kepalaku yang sedari tadi sembunyi di balik bantal, mulai mendongak kala mendengar suara langkah kaki seseorang yang menuju kamarku,
beberapa detik kemudian ada yang memegang pundakku lembut, aku tahu sentuhan itu, mama.
“Nak… ada yang mau menemuimu.”
“Siapa, Ma? Sayla lagi males.”
“Beni. Katanya mau tanya soal tugas sekolah.”
Haah ? sejak kapan anak itu peduli dengan tugas sekolahnya, mustahil!
pasti ada hal yang ingin dia katakan, pikirku.
“Oh…” Jawabku singkat.
“Mama suruh dia masuk, mama pergi dulu. Nanti kamu temuin dia ya….”
“Iya, Ma…”
***
“Ada apa, Ben?”
“Ayo ikut aku”
“Kemana? Katanya mau tanya tugas sekolah”
“Sudah, ayo ikut saja denganku”
Lalu dia menarik tanganku, akhirnya aku hanya bisa menurut. Beni mengajakku dan memboncengku, aku sedari tadi hanya bisa diam dan menatapnya dengan heran dari belakang.
Tak lama kami tiba di sebuah taman. ‘Indah’, gumamku. Beni sedari tadi bicara padaku, hanya kujawab dengan kata-kata singkat. Dia mencoba menghiburku, tapi aku hanya diam membisu, hingga akhirnya Beni mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari ranselnya, dia menyodorkan kotak.
“Untukmu”, Ujar Beni.
“Untukku?”, Dia mengangguk.
“Bukalah saat hatimu tenang”
“Baiklah”
Setelah cukup lama ada di taman, aku mulai bangkit dari bangku taman Bersama Beni, namun kakiku tercekat untuk melangkah maju kala kurasakan setetes air jatuh tepat mengenai telingaku, basah. Kucoba menengadah satu telapak tanganku, memastikan apa itu rintik hujan? dan benar saja, gerimis datang. Kerumunan orang di taman berlalu pergi mencari tempat berteduh, tak ketinggalan Beni juga menyuruhku lari, menarik tanganku, tapi aku mencegahnya. Sedetik kemudian ku pejamkan mataku. Merenggangkan tangan serta mengarahkan wajahku ke langit mendung.
“Aku suka hujan senja ini”, kataku.
“Kalau begitu nikmatilah”, sahut Beni, aku tersenyum dan menatapnya, Beni pun membalas senyumanku.
“Terimaksih, Ben”, kataku lirih.
Aku terhibur saat itu, aku berlari bersama tarian rintik-rintik hujan senja itu, bersama Beni. Meski ada sayatan luka yang masih membekas di hati, namun sedikit demi sedikit ku coba untuk tutupi.
***
Sang surya rupanya sudah tak sabar untuk segera muncul di belahan bumi timur. Sebelum berangkat ke sekolah, mataku tertuju pada sebuah kotak yang kuletakkan di depan cermin, ya kotak itu dari Beni.
Kusempatkan untuk membukanya, dan isinya adalah kotak musik, aku suka, ku angkat kotak musik itu dan kutemukan secarik kertas di dalamnya, aku tak membaca apa yang tertulis di dalamnya, sedang malas saja. Semenit
kemudian ku taruh kotak musik itu ketempat semula lalu ku melangkah pergi.
***
“Sayla!”, ada yang memanggilku. Aku hafal suaranya, namun tak ingin mendengarnya lagi. Ahhh…. Bima. Aku terus melangkah pergi namun dia mencegahku, memegang lenganku dengan erat.
“Apa maumu?!” aku menoleh padanya, melepas erat genggamannya.
“Maafin aku”
“Sudah dimaafkan”
“Tapi… aku mau kita balikan”
“Apa… balikan ?” dengan rasa kecewa dan kaget aku mengatakannya.
“Aku gak mau”, sambungku.
“Pliss Sayla… coba ngertiin aku, aku masih sayang kamu, seharusnya hari ini jadi hari bahagia buat kita, sudah genap satu tahun aku dan kau bersama”, lagi-lagi dia lontarkan kata-kata yang manis.
“Tapi kamu yang hancurkan semuanya, aku sudah nggak mau lagi dengan mu.”
Setelah beberapa menit berlalu, perdebatan Panjang itu berakhir, ia mengalah.
“Kalau begitu seenggaknya kamu mau ikut partyku nanti malam, anggap saja aku sebagai temanmu”. Aku diam, mataku berpaling darinya.
“Ayolah, kau pasti ikut kan?”
“Ayolah Sayla…” Dia terus mendesakku.
“Baiklah”
‘Ahh sial!’, gumamku sambil mengambil langkah menjauh darinya
***
Malam itu tiba, aku datang ke klub malam sesuai dengan alamat yang Bima kirim lewa WA, aku tidak datang sendiri, aku datang bersama Beni.
Tiba di sana, Bima menyambutku, di belakangnya ada teman-temannya, dia menyuruhku duduk di bar, Beni masih di sampingku.
Tak lama kemudian Bima berbisik pada salah seorang temannya, temannya yang lain menepuk bahu Beni, mengajak Beni untuk ikut besama mereka.
Aku langsung bertanya “Mau diajak kemana dia ?”
“Tenanglah, mereka hanya akan bersenang-senang.” Sahut Bima. Aku menatapnya sinis, namun dia hanya memebalas dengan senyuman kecil.
Sedari tadi aku hanya duduk diam di pojok bar, melihat riuhnya orang-orang yang sedang menikmati pesta.
“Mau minum?” Tawar Bima.
“Tidak, terimakasih.”
“Kau pasti haus”
“Tidak”, saut ku dengan tegas
“Jangan berbohong padaku, aku lebih tau kau dari pada dirimu sendiri.”
“Ahh… sok tau” jawabku dengan sinis.
Bima hanya tersenyum, aku tak suka senyum itu. Kemudian dia mengangkat lengannya dan menepuk kedua tangannya seolah memberikan isyarat, benar saja. Wanita cantik datang dengan membawa nampan berisi minuman. Bima mengambilnya lalu menyodorkannya padaku.
“Minumlah”, katanya dengan menyodorkan gelas.
“Aku sedang tak ingin minum.”
“Minum saja.”
“Tidak”, jawabku.
“Meski sedikit?”
“Ya…” dengan nada ketus.
“Tidak, kau pasti haus, atau kalau memang tidak, anggap itu sebagai bentuk terimakasihku atas kata maafmu, Sayla”
“Tapi....”
“Sudahlah.. minum saja”, Bima yang masih bersikeras memaksaku.
Aku mengambil gelas berisi minuman itu dan aku meminumnya.
Jarum jam berputar lebih cepat dari yang kukira. Kulihat jam tangan berwarna putih tulang yang senada dengan warna dressku kali ini, ternyata sudah pukul 23:30. Sedari tadi Bima ada di sampingku hanya tersenyum kala menatapku. Dan entah kenapa saat ini aku merasa sagat pusing, mengantuk, dan tak karuan. Kucoba membuka mata sekuat tenaga, namun sulit. Kulihat samar-samar wajah Bima yang senyumnya semakin mengembang, lalu ada dua orang wanita datang menghampiriku, setelah itu semuany gelap, aku tak sadarkan diri.
***
Pagi ini tak seperti biasanya, entah kenapa aku sangat malas untuk bangun dan pergi ke sekolah. Disamping itu, ku dengar sayup-sayup suara ramai dari luar kamar. Sebelum keluar menemui suara itu, kulangkahkan kakiku menuju cermin, memastikan penampilanku.
Saat kupandangi lekat-lekat cermin di depanku, kudpati bayangan gambar wajahku yang kabur, aku takut, heran, sekaligus penasaran.
Tanganku mencoba menyentuh cermin itu, semakin dekat, dan dekat, hingga “Aaaah” Aku berteriak sekencang mungkin. Ada sebuah energi yang menarikku masuk ke alamnya, mencoba melawan untuk keluar tapi tak bisa.
Pada akhirnya aku sudah berada di sebuah bangunan tua, nampakya aku
kenal. Itu Gedung belakang sekolah. Namun mataku menyoroti pada sebuah ruang yang di dalamnya. Kemudian aku masuk, ada beberapa remaja SMA, dengan mengendap-ngendap ku dekati mereka, mencoba mendengarkan pmbicaraan mereka.
“Kita harus beri dia pelajaran, aku tidak terima diperlakukan seperti itu.”
“Kita bunuh saja dia.”
“Tidak, itu terlalu berbahaya.”
“Halahh… kau kan yang ingin dia mati.”
“Tidak aku ingin dia menderita sebelum mati”
Kemudian mereka seperti menyusun rencana, entah apa itu, karena aku hanya mendengarnya dengan samar, tak lama kemudian mereka keluar dari gedung tua itu, ku coba bersembunyi dari mereka, tak ingin mereka tau, aku ikuti mereka. Kulihat wajah mereka satu persatu, namun tak bisa, wajah itu tertutup bayang-bayang putih, samar, aku tidak bisa melihatnya.
Tiba-tiba saja hari menjadi gelap, malam datang, waktu berlalu dengan cepat yang seakan mengajakku meyimak drama kehidupan darinya dan sekarang, secara tiba-tiba aku sudah ada di tempat yang ramai. Kulihat dua orang wanita berparas cantik tengah membopong seorang wanita, yang menurutku tak sadarkan diri. Mereka melewati anak tangga. Beberapa laki-laki kemudian menyusul mereka, sedangkan aku terus mengikuti mereka.
“ Bagaimana … sudah?”, salah seorang membuka percakapan.
“Sudah siap bos”, jawab salah satu wanita itu.
“Hahaha”, terdengar gelak tawa mereka yang suaranya tak begitu asing bagiku, kudekati dengan menyusul mereka hingga sampai pada sebuah
kamar, pintunya tertutup, aku tak bisa masuk, namun aku baru sadar, ada sebuah lubang kecil di bagian tengah pintu. Penasaran, aku mencoba melihat apa yang terjadi dari lubang kecil itu, perlahan kudekatkan wajahku sembari memicingkan mata. Aku melihat ke dalamnya, “Astaga!” Apa yang mereka lakukan pada wanita yang tak sadarkan diri itu, kulihat mereka perlakukan sadis dia, mulai dari menampar, memukuli, hingga akhirnya mereka salurkan nafsu bejat mereak pada wanita itu, sekali lagi aku tak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas, namun aku yakin wajhnya pasti telah bersimbah darah, tubuhnya yang lemah tak bisa meberontak.
Setelah dirasa puas dengan apa yang mereka lakukan, dengan mengendap-ngendap mereka membawa tubuh wanita itu keluar melalui pintu belakang, melewati jalan-jalan sepi di tengah malam. Langkah mereka begitu cepat sehingga aku harus berlari mengejar mereka lalu harus melewati gundukan tanah yang telah di tancapi rel kereta diatasnya.
Kini rel kereta api sudah ada didepanku, aku melangkahkan kakiku maju, namun tiba-tiba “Tuuuttuttutt”
“Aaaaaa” aku berteriak. Namun terdiam kembali. Aku tak merasakan apapun, tubuhku seakan transparan, gerbong-gerbong kereta menebus tubuhku, ada apa denganku? namun aku kembali fokus mengejar para pria itu, setelah itu semuanya jelas. Mereka yang membawa tubuh tak sadarkan diri itu adalah Bima dengan teman-temannya. Aku masih terheran-heran semakin penasaran. Lalu, siapa wanita itu???
Hingga sampai di semak belukar, mereka tinggalkan tubuh wanita itu dan seketika aku tahu, wajah itu, wajah yang bersimbah darh itu adalah aku.
Astaga… apa yang sebenarnya terjadi, aku melangkah mundur, masih tak percaya dengan yang kulihat. Namun saat itu, aku tak merasakan derap
langkah kakiku lagi, aku menunduk, melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan kakiku…. Ya Tuhan,,, kakiku sudah tak menyentuh tanah lagi.
Seberkas cahaya dari portal waktu tiba-tiba berada tepat diatas kepalaku. Energi dari dalamnya kembali menarikku, tiba-tiba saja aku sudah berada di depan cermin kamarku, dan… suara itu, suara dari luar kamarku itu masih ada, langsung aku menuju asal suara itu, ternyata suara itu adalah suara lantunan ayat suci Al-Qur’an. Di tengah keramaian sudah ada tubuh yang terbujur kaku, seseorang kemudian membuka tutup wajah dari tubuh yang tak bernyawa itu, dan itu aku. Apa aku sudah mati? aku masih tak percaya, jadi apakah aku sudah mati Tuhan ???
Di tengah ketidak percayaanku akan kenyataan bahwa aku telah mati, seorang laki-laki datang, masuk ke dalam rumah, mama menghampirinya.
“Maafkan saya bu, andaikan malam itu saya cegah Sayla datang ke party pasti…”
“Sudahlah…, ini sudah kehendak yang kuasa, ibu juga telah ikhlas.”
“Ibu ingin bertanya padamu, kamu tahu ini dari siapa?”, Mama menyodoran box berukuran sedang pada lelaki itu.
“Ini kan…” lelaki itu terdiam.
“Darimu? Ibu temukan dikamar Sayla, kamu simpan baik-baik!”
“oh terimakasih bu”, Wajahnya sedari tadi layu, lelaki itu Beni. Dia kemudian mengangkat isi box itu, secarik kertas kemudian jatuh, langsung kuambil kertas tersebut dan aku baca. Aku baru ingat, kertas itu dari Beni, sahabatku, kertas yang belum sempat aku baca.
Setelah ku tahu apa isi kertas tersebut, pipiku serasa basah, mataku tiba-tiba saja mengeluarkan air mata. Dia Beni, kenapa dia tak katakan sejak dulu bahwa dia selama ini mencintaiku, sedangkan aku tak pernah peka
dengan perasaannya, hanya menganggapnya tak lebih dari seorang teman dekat saja. Maafkan aku, Beni karena tak bisa mencintaimu sedari dulu, mungkin karena Tuhan sudah tahu bahwa kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku.
Seberkas cahaya itu datang kembali. Namun saat ini, sesosok bayangan hitam besar muncul dari dalamnya, dia membawaku pergi, pergi untuk pulang, dan mungkin tak akan pernah kembali.
CINTA DALAM DOA By: Ani Najibah
Namaku Amelia Carla. Saat ini aku berusia 26 tahun. Keluargaku termasuk keluarga yang cukup dihormati di daerahku. Ayahku adalah seorang guru di pesantren milik teman dekatnya, dan ayahku juga memiliki sebuah TPQ. Sedangkan ibuku, adalah seorang ibu rumah tangga tapi juga membantu mengajar di TPQ ayahku.
Aku sangat mencintai seorang pria. Namanya Robi, orang yang selalu membuat aku bahagia. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku ingin selalu ada di sisinya. Aku bertemu Robi ketika mengikuti MOS di SMA. Dia yang membantuku membuat perlengkapan-perlengkapan MOS. Sejak saat itu aku mengenalnya dan sedikit demi sedikit benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku. Sayangnya, saat itu Robi sudah punya pacar. Karena itulah aku nggak bisa ngungkapin perasaanku padanya. Jadi, aku hanya bisa memendam cintaku padanya.
Tiga tahun berselang, tepatnya ketika perpisahan kelas XII, Robi menembakku di depan teman-temannya. Mungkin dia sudah tahu kalau aku sudah lama menyukai dan memperhatikannya. Atau mungkin karena beberapa minggu yang lalu dia putus dengan pacarnya. Tapi aku nggak peduli karena saat ini hatiku sangat berbunga-bunga. Hal yang selama ini aku inginkan telah terjadi. Memang sih, Robi anaknya agak bandel. Dia suka balap motor sama teman-temannya. Kata teman-temannya, dia juga suka mainin cewek. Tapi aku nggak percaya itu semua. Aku hanya percaya sama Robi, orang yang sangat aku cintai.
Sudah setahun aku berpacaran sama Robi. Hidupku sangat bahagia meskipun orang tuaku terus melarangku untuk bersama Robi. Ayah dan ibuku merasa bahwa Robi tidak bisa menuntunku pada jalan yang benar.
Mereka bilang, Robi akan membuatku bertambah jauh dari agama, dan Robi akan meninggalkanku demi perempuan lain.
Suatu hari, aku melihat keluarga besar dan tetanggaku berkumpul di rumah. Aku nggak tahu apa yang terjadi. Aku nggak peduli dan nggak mau tahu, karena hari ini aku akan keluar bersama Robi. Sekitar pukul 9 malam aku baru pulang. Ternyata ayah dan ibuku menungguku di ruang tamu dengan wajah kesal dan marah. Mereka ingin bicara denganku tapi aku abaikan mereka. Karena aku yakin pasti mereka akan menceramahiku tentang Robi. Aku terlalu lelah untuk mendengarkan mereka. Akupun berjalan ke kamar tanpa menghiraukan ayah dan ibu yang terus memanggilku.
Keesokan harinya, seperti biasa saat aku bangun tidur aku langsung mengecek handphoneku, melihat apakah ada chat dari Robi. Tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku untuk ke ruang tamu. Di sana sudah ada ayah yang menungguku. Aku duduk di depan ayah. Ibu duduk di sebelah ayah, kemudian ibu berbisik kepada ayah. Ayah mengangguk dan menoleh kepadaku.
“Lia, ayah akan menikahkanmu dengan anaknya teman ayah. Namanya Rizky. Dia baik, sopan dan pintar. Ayah yakin dia akan menjadi imam yang baik untukmu kelak, daripada si anak jalanan itu.”, jelas ayah.
“Apa?”, aku terdiam mencoba mencerna kata-kata ayah. Aku mengerti, aku akan dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal.
“Aku nggak perlu dijodohkan, yah. Aku sudah punya Robi”, aku berkata dengan anada kesal. Aku berlari ke luar rumah, tapi ibu menarik tanganku.
“Ini sudah keputusan ibu, ayah dan keluarga besar kita”
“Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai, bu.”
Ayah datang menghampiriku lalu menamparnya. Aku terkejut. Aku nggak percaya ayah akan menamparku. Ayah menarikku dan mengunciku di dalam kamar. Aku ingin memberi tahu Robi, tapi handphoneku diambil oleh ibu. Aku menangis. Berhari-hari aku dikurung di kamar, sedangkan ayah dan ibu menyiapkan pernikahanku dengan rizky.
Hari pernikahan harusnya menjadi hari yang paling membahagiakan, tetapi malah menjadi hari yang paling menyedihkan untukku. Aku harus menikah dengan orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Selama acara pernikahan aku terus menangis hingga mataku sembab. Aku teringat semua kenangan-kenanganku dengan Robi.
Seusai upacara pernikahan, aku dibawa ke rumah Rizky. Kulihat rumahnya lumayan besar, ada dua lantai. Ada banyak sekali lafadz Al-Qur’an yang dipajang di sana. Aku disuruh istirahat di kamar olehnya.
Aku berbaring di tempat tidur dan menenangkan diri.
Rizky rupanya telah selesai mandi. Dia mengambil sajadah yang berada di atas tempat tidur. Sepertinya dia akan salat. Kulihat jam di dinding, sudah jam 23.00 WIB. Mungkin dia belum salat isya. Dia salat lama sekali, tapi aku nggak peduli. Akupun tertidur.
Keesokan harinya, aku tidak melihatnya di sampingku. Aku melihat ada makanan di meja. Apakah Rizky yang membuatkannya untukku?
Hari-hari berjalan begitu saja. Rizky selalu tidur di atas sajadahnya. Ia selalu memasakkan makanan untukku. Dia juga selalu memasakkan makanan untukku. Aku merasa tidak enak terus-terusan merepotkannya.
Aku mencoba menghubungi nomor Robi, tapi tidak pernah tersambung. Apakah robi sudah punya pacar lagi? Kukunjungi semua akun social media miliknya, facebook, whatsapp, instagram, e-mail, semua kulihat satu persatu. Tapi tidak ada tanda-tanda Robi mencariku. Apakah Robi sudah melupakanku?
***
Hari ini Rizky sedang pergi. Aku bangun dari tempat tidurku. Aku melihat sebuah jubah berwarna hitam. Kubuka jubah itu, ternyata ada kerudung panjangnya juga di dalamnya. Aku menaruh jubah di dalam lemari.
Esoknya, aku mencoba memakai jubah itu selama setengah hari. Mulai dari bangun tidur sampai waktu salat dzuhur. Sejak saat itu aku sering memakainya. Lama-lama aku merasa nyaman dengan jubah itu.
Perasaanku kepada Robi semakin lama semakin hilang. Yang ada di pikiranku sekarang adalah Rizky. Mengapa Rizky tidak pernah berbicara ataupun menyentuhku? Kenapa Rizky tidur di atas sajadahnya bukannya tidur di sampingku? Kenapa dia begitu dingin dan tertutup?
Aku mulai sering memperhatikannya. Ternyata Rizky tidak begitu buruk. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tinggi dan pintar ilmu agama. Entah kenapa hatiku mulai sedih. Aku merasa bersalah karena tidak menjadi istri yang baik. Aku mulai dari hal-hal yang kecil, mulai dari menyapu lantai, membersihkan tempat tidur dan lain-lain.
***
Pada suatu malam, seperti biasa Rizky bersiap-siap untuk salat. Selesai salat, aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Dengan suara terbata-bata, aku mulai bertanya.
“Kenapa selama ini kau tidak menyentuh atau berbicara padaku?”
Rizky terdiam, dia tidak berkata apa-apa selain melanjutkan membaca doanya.
“Kenapa kau seperti menjauhiku?”. Rizky menoleh ke arahku sambil tersenyum.
“Aku menunggumu”
“Maksudnya?”, aku bingung.
“Aku menunggu kesiapanmu untuk menjadi istriku”, jawab Rizky. Aku masih bingung dengan perkataannya. Apa yang dia maksud sebenarnya?
“Aku mencintaimu. Aku hanya menunggumu benar-benar siap menjadi istriku, dan menunggumu melupakan pacarmu. Aku pernah melihatmu bertengkar dengan ibumu saat aku ingin mengantarkan kue buatan ibuku. Kau mengatakan bahwa kau masih mencintai pacarmu dan kau terpaksa menikah denganku. Sebenarnya aku juga berniat membatalkan pernikahan kita pada saat itu. Tapi aku nggak bisa melawan kedua orang tuaku. Aku juga nggak mau orang tuaku bersedih karena aku. Jadi, aku nggak bisa berbuat apapun pada saat itu. Maafkan aku. Aku juga nggak mau jadi penghalang cintamu dan pacarmu”, jelas Rizky.
“Tapi itukan dulu. Sekarang aku sudah melupakan Robi. Tapi mengapa kau masih mengabaikanku?”
“Karena aku ingin kau benar-benar siap menjadi istriku. Aku selalu memperhatikanmu. Aku meletakkan jubah panjang itu agar kau
mengenakannya. Aku merasa sangat bahagia ketika kau mengenakannya, itu tandanya kau mulai menerimaku.”
Tak terasa air mataku mulai menetes. Ternyata apa yang selama ini aku pikirkan tentang Rizky itu tidak benar. Rupanya dia sangat mengerti cara mengahadapiku. Tidak seperti Robi, yang mungkin sekarang sudah memiliki pacar yang lain.
Air mataku keluar semakin deras. Rizky mengusap air mataku dengan tangannya. Aku bersandar di pundaknya. Dia mengelus kepalaku dengan sangat lembut. Sejak saat itu kami hidup bahagia. Saling melengkapi satu sama lain. Selalu memaafkan jika terjadi sedikit kesalahan.
Mungkin orang yang namanya selalu kau sebut dalam doamu bisa jadi bukanlah jodohmu, tapi percayalah bahwa kau akan dijodohkan dengan orang yang selalu menyebutkan namamu dalam doanya.
FAJAR YANG MENJADI SAKSI By: Lihyatul Chasanah
Kini aku duduk di depan meja riasku. Memandangi diriku yang penuh dengan riasan-riasan pengantin. Sekilas air mataku terjatuh mengingat kepergian kakakku, kak Najwa, dan ummi. Rindu ini tak tertahankan. Hari ini aku merasakan apa yang pernah kak Najwa rasakan dulu.
Remang-remang aku mendengar suara ijab dari abah, dan …
“Qobiltu nikahaha watazwijaha bil mahril madzkur, haalan”, Qabul pun terucap. Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku telah sah menjadi miliknya.
Aku keluar menuju ruang tamu, tempat di mana terjadinya ijab qabul antara abah dengan suamiku.
“Assalamualaikum”, ucapku padanya. Dia menoleh padaku dengan memberikan senyuman khasnya. Aku mencium tangannya, dia membalas mencium keningku. Acara ini tidak begitu ramai. Kami hanya mengundang sanak saudara terdekat saja. Aku tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.
Tiba-tiba aku teringat kak Najwa. Kak, maafkan Sa’idah, Sa’idah tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu, sekali lagi maaf.
***
Satu tahun sebelum hari ini terjadi …
“Alhamdulillah, dek. Abah menerima dia”, ucap kak Najwa bahagia.
“Selamat ya, kak. Akhirnya kakak akan menikah”, timpalku juga ikut bahagia.
Hari itu keluargaku dihujani oleh kebahagiaan. Aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik di kampusku, dan kakakku bisa menikah dengan pemuda yang dia impikan dan pemuda itu sebenarnya juga termasuk kriteriaku.
Sebulan setelah itu, kakakku menikah dengan kak Fachri, calon kakak iparku. Dia dan keluarganya merupakan orang yang disegani di lingkungan masyarakat. Dia tampan, berkulit putih, pintar dan mempunyai lesung pipi.
Dia juga ramah dan merupakan lulusan dari pesantren.
Di hari pernikahan itu, kakakku terlihat cantik dan elok. Aku meriasnya dengan begitu telaten. Begitu juga dengan kak Fachri, dia nampak sempurna dengan setelan kemeja putih dipadu dengan jas hitam serta sarung yang dia pakai.
Beberapa bulan setelah pernikahan itu, kak Najwa dipanggil oleh Allah menyusul ummi yang sudah pergi terlebih dahulu. Aku, abah dan kak Fachri sangat terpukul dengan kepergian kak Najwa.
“Yang tabah ya, Fachri. Maafkan Najwa kalau dia belum bisa menjadi istri yang salehah buat kamu”, ucap abah.
“Iya, Abah”
“Fachri, abah mau bicara sama kamu”
“Iya, abah. Ada apa?”
Abah mengambil nafas dalam-dalam. Sepertinya beliau bingung harus memulai dari mana.
“Abah tahu kau sangat terpukul dengan kepergian Najwa, begitupun abah dan Sa’idah. Abah tidak mau berpikir panjang lagi, abah juga tidak ingin kehilangan kamu”
“Abah mau menjodohkan kamu dengan Sa’idah”, ucap abah.
Deg. Aku terkejut. Kami semua diam. Aku tak berani melihat wajah kak Fachri.
“Abah tidak memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang. Kamu punya waktu yang cukup banyak untuk menjawabnya”, lanjut abah.
“Bismillah, Fachri menerima perjodohan abah”, jawab kak Fachri seketika.
***
Usai salat isya’, aku menunggu kak Fachri di kamar. Dia bilang akan keluar sebentar. Sampai jam 03:30, aku masih menunggu kak Fachri pulang.
Hingga adzan subuh berkumandang pun kak Fachri belum pulang.
“Assalamualaikum”, terdengar seseorang masuk ke dalam rumah.
Sepertinya kak Fahri sudah pulang, pikirku. Ternyata aku benar. Aku mengulurkan tanganku berniat ingin menjabat tangannya. Namun dia menepis tanganku.
“Saya capek. Saya mau istirahat dulu. Kamu tidak perlu mengganggu saya”, ucap kak Fachri seketika. Sontak aku kaget. Ada apa dengan kak Fachri? Usai salat subuh, aku langsung menuju dapur. Aku tidak berani mengganggu dia, bahkan sekedar menanyakan dia salat subuh atau belum saja aku tidak berani.
Kini aku tengah menyiapkan sarapan untukku dan kak Fachri. Aku memasakkan nasi goring untuknya. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.
“Masak apa sih, sayang? Kok wangi banget?”
Aku tidak percaya dengan sikap kak Fachri barusan. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya subuh tadi.
“Kak Fachri sudah bangun? Ini sarapan dulu, Kak.”
“Astaghfirullah”, ujarnya.
“Ada apa, kak?”
“Tidak-tidak”, dia mundur menjauhiku.
“Kamu tetap di sana! Jangan mendekat!”, lanjutnya.
Hatiku sangat sakit mendengar perkataan kak Fachri. Ada apa dengan diriku? Sehingga dia tidak mau mendekatiku?
“Saya pikir kamu …”
“Kak Najwa?”, potongku.
Dia terdiam. Tidak menjawab pertanyaanku, bahkan sekedar memandang wajahku saja tidak. Aku menaruh piring di atas meja, lalu pergi meninggalkan kak Fachri di dapur.
Aku pergi ke kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Ingin berteriak, namun tak bisa. “Abah, ummi, kak Najwa, aku rindu kalian”, lirihku.
***
“Sa’idah!”, panggil kak Fachri.
“Ada apa, Kak?”
“Maafkan saya soal kejadian tadi pagi. Ini ada handphone untuk kamu.
Supaya kamu lebih mudah untuk menghubungi abah.”
Aku kaget, tapi juga senang.
“Saya mau menjenguk teman saya di rumah sakit sebentar”, ujarnya.
Aku mendengus kesal. Aku mengulurkan tanganku berisyarat untuk mencium tangannya. Awalnya dia bingung, kemudian dengan ragu dia mengulurkan tangannya juga.
“Assalamualaikum”, ucapnya.
“Waalaikumsalam”
Aku masuk ke dalam kamar. Memikirkan nama apa yang pantas aku beri pada nomor kak Fachri di handphone ku. ‘Sayang’ terlalu norak. ‘Zauji’
terlalu jujur. ‘Kak Fachri’ nggak ah biasa aja. ‘My Life’ alay deh. Aku bingung. Akhirnya aku beri nama kontaknya dengan ‘Imamku’.
***
Lima bulan sudah berlalu, tetapi rumah tanggaku tidak ada perkembangan sedikitpun. Pernah suatu hari kak Fachri mengirim pesan padaku.
“Sa’idah, mulai hari ini kalau kamu ingin berbicara sama saya, kamu tinggal kirim pesan aja.”
“Lhoh, kenapa kak?”, balasku.
Dia tidak menjawab. ‘baik, aku akan menurut’, pikirku. Hingga 5 bulan lamanya, kak Fachri juga tidak pernah sedikitpun menyentuhku.
Hatiku sangat teriris.
Suatu hari handphone kak Fachri terus berbunyi. Akupun mengangkatnya, khawatir ada hal-hal yang penting. Belum sempat aku mengucapkan salam, tiba-tiba seseorang berteriak di ujung telepon.
“Mas Fachri!” ucapnya. Sontak aku terkejut. Suara seorang perempuan?
Siapa dia? Kenapa dia bisa kenal dengan kak Fachri? Kenapa dia memanggil kak Fachri dengan sebutan ‘mas’? tiba-tiba kepalaku pusing dihujani berbagai macam pertanyaan.
“Mas Facri kok diam saja?”, lanjutnya.
“Maryam tahu, pasti baru bangun tidur, ya?”
“Kok diam aja sih, mas?”, perempuan itu terus berbicara. Aku sengaja memilih untuk diam, aku ingin tahu, sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan?
“Ya sudah, Maryam kasih tahu lewat telepon saja.”
“Selamat ya, mas. Maryam hamil. Mas Fachri akan menjadi ayah.”
Deg. Aku terkejut. Apa maksudnya ini, ya Allah?
“Sa’idah!!!”, terdengar suara kak Fachri berteriak memanggil namaku.
Posisinya sudah di belakangku. Dia langsung mencabut handphonenya yang kupegang.
“Siapa yang menyuruhmu memegang telepon saya?”, aku hanya diam.
Aku tidak berani menjawab.
“Saya sudah bilang, jangan menyentuh telepon saya tanpa sepengetahuan saya”, dia Nampak begitu murka.
“Tapi Sa’idah pikir itu penting. Jadi Sa’idah angkat teleponnya”, jawabku ketakutan.
“Sebenarnya kak Fachri menganggap Sa’idah siapa, kak? Dan siapa wanita itu?”
“Maryam itu istri saya. Saya hanya menganggap kamu sebagai adik ipar saya. Tidak lebih.”
Aku terkejut. Hatiku semakin sakit. Rasanya aku tak kuat lagi berdiri di dunia ini.
“Lantas, untuk apa kakak menikahi Sa’idah?”
“Aku sudah menganggap abah sebagai orang tuaku sendiri, aku tidak bisa menolak permintaan abah”
“Tidak seperti ini caranya, kak. Kalau memang begitu, ceraikan saja Sa’idah, kak!”
Aku mengusap air mata yang terus membasahi pipiku. Fajarpun tiba, menyaksikan kisah yang tak sesuai dengan yang aku harapkan.
FLASHBACK By: Dewi Amaliyah
Teruntuk para wanita yang kadang terjebak dalam kenangan masa lalunya …
Siang hari ini matahari lumayan terik. Aku menyeka keringatku.
Padahal di foodcourt yang kutempati sekarang ada dua kipas angin yang cukup untuk mendinginkan ruangan.
“Hahaha…ya ampun guys, ini gue banget nggak sih?” tanya gadis berbaju biru dengan rambut lurus dan wajah imut seperti artis korea pada kedua temannya yang dengan berapi api mengaggukkan kepala sambil fokus ke layar android di depannya. Mereka duduk tepat di sebelah mejaku.
“Loudspeaker donk, asik ih…apa judulnya tadi? flashback ya?”, kata si gadis berbaju tosca dengan jilbab warna senada. Aku pernah seperti mereka, asyik ngobrol dan berhaha hihi dengan sahabat-sahabatku sambil memperbincangkan hal hal yang sedang nge-trend saat itu, entah itu lagu, model pakaian, cowok, banyak deh pokoknya.
Waktu berlalu begitu cepat. Ya, waktu tidak pernah mau menunggu.
Waktu juga takkan pernah terulang. Tidak ada lorong waktu di dunia nyata.
Aku sedang berada di pusat perbelanjaan, menikmati secangkir teh hangat sambil memangku bayiku yang berumur 7 bulan, sementara si kakak sedang sibuk bermain dengan ayahnya di area permainan. What a perfect life bukan?
“Bener banget!!! kangen gak harus balikan.. hihihi”, celetuk gadis berbaju biru tadi. Iseng-iseng kubuka youtube. Si kecil sedang tertidur pulas di pangkuanku. Kuketik flashback di kolom pecarian. Kudengarkan lagunya,
yah.. lumayan menurutku. Lagu baru dari duet penyanyi terkenal dan rapper kontroversial.
‘Lagu yang kau suka buatku flashback, film yang kita tonton buatku flashback…liburan yang kita idamkan, tapi tangan lain yang kau genggam….’
Aku tersenyum simpul. Flashback identik dengan kenangan. Kata orang, kenangan itu seperti hujan, dia datang tiba-tiba dan tak terduga, pergi pun tiba-tiba. Seperti yang tiba-tiba muncul di messengerku sehari yang lalu. Ada gambar kopi yang dikirim oleh kenangan.
‘Maniak kopi nggak pernah berubah ya?’, pikirku ketika menerima gambar itu. Iseng-iseng aku klik tombol send. Aku kirim gambar teh yang sedang kunikmati di depanku. Si kakak dan ayah sepertinya masih lama, senang sekali melihat mereka terseyum seperti itu.
Tring! Bunyi messenger masuk mengagetkanku. Balasan darinya datang secepat kilat rupanya. Hanya sebuah emoticon berpikir. Aku balas dengan emot senyum. Kami saling berkirim emot hingga …
“Apa disitu hujan?”, akhirnya ada kalimat yang Ia tulis.
“Mboten”, jawabku.
Kemudian emot menangis dia kirim sebanyak dua kali. Ada yang janggal rasanya.
“Maaf, kalau pertemuan tidak sengaja dan tiba-tiba di media sosial ini mengagetkan dan menggalaukan njenengan, afwan.”
Kembali dia kirim emot menangis. kututup aplikasi messenger itu tanpa membalasnya. Aku meragu dengan apa yang akan kutulis. Bukankah lebih baik kita meninggalkan sesuatu yang masih menjadi keragu-raguan?
Ingatanku terlontar jauh ke masa delapan tahun silam, di mana waktu itu aku masih duduk di semester dua. Aku sedang asyik-asyiknya kuliah, berorganisasi, dan banyak sekali aktifitas padat yang menyenangkan.
Sampai suatu malam ada tamu datang ke rumah. Teman kakakku yang kebetulan kuliah di kampus dan jurusan yang sama denganku, empat semester di atasku.
“Adekku, semester dua”, ucap kakakku ketika aku baru masuk rumah.
Aku hanya tersenyum menunjukkan kesopananku. Esoknya, kami sering berpapasan, hanya senyum yang kami bagi tanpa saling sapa. Namanya saja aku tak tahu.
“Asslamualaikum, ngopi neng?”, tiba-tiba ada sms masuk ke ponselku.
“Waalaikumsalam, sinten?”, balasku.
“Fandi”
Usut punya usut, Fandi ini yang pernah datang ke rumah, mahasiswa nyentrik tapi cerdas dengan rambut gondrong dan motor antiknya. Sejak saat itu kami sering berbalas pesan singkat, simple, bahkan absurd. Bukan jenis pesan bernada perhatian atau romantis, bukan. Layaknya penyair dan filsuf, kami lebih sering berbagi kalimat bijak daripada berbagi kabar.
Hanya dengan melihat motornya terparkir rapi saja sudah cukup bagiku mengabarkan bahwa dia baik baik saja. Kami tetap hanya berbagi senyum jika berpapasan, tidak pernah ngobrol bahkan keluar bersama.
Se-simple itu, seindah itu perasaan kami waktu itu.
“Terlalu banyak kopi menyebabkan sakit maag”, pesanku suatu kali.
“Terlalu banyak teh juga menyebabkan sakit maag”, balasnya.
“Segala yang berlebihan memang nggak baik”, aku membalas.
“Jadi jangan berlebihan, nikmati saja. Kita bisa memilih untuk menikmati atau nggak menikmati karena takut sakit. Aku lebih memilih menikmati walau tau aku bisa sakit, daripada aku tidak pernah tau rasanya sama sekali”, dia mulai beretorika.
Pernah suatu kali tiba tiba dia mengirim pesan, “Cinta itu seperti iman, dia tidak pernah stabil. Naik turun. Aku ingin imanku terjaga ketetapannya dengan dukungan dia yang kucintai.” Atau seperti ini, “Aku pulang kampong ,kangen emak bapak. Sekalian kasih kabar soal calon yang sedang menunggu balasan pesanku”.
Hati perawan mana yang tidak berbunga bunga. Segalanya yang pernah kita perbincangkan seolah-olah membenarkan bahwa memang aku yang dia semogakan dalam tiap doa-doanya. Sampai suatu hari di penghujung semester, aku mendengar kabar dari kakak tingkat yang sedang asyik bergosip di Musholla.
“Ehh.. si Fandi itu seorang gus loh. Rumahnya di sana. Dia seorang hafidz juga. Nggak nyangka ya kalau liat penampilannya. Dia kan tinggal di pesantren depan minimarket itu, jadi ustadz di sana. Mau lah aku jadi calonnya”, kata mbak Kania, si cantik bermata sipit.
“Sadar… dia itu gus. Nggak selevel sama kita. Bisa aja dianya mau, lah abah umiknya?”, jawab mbak Rahma, si kalem yang selalu pakai jilbab panjang anggunnya.
Kulihat setelanku hari itu, jeans yang dipadukan dengan tunik selutut dan jilbab segi empat. Bukan santri banget. Kok nyesek ya aku. Sejak dua minggu yang lalu setelah kepulangan Fandi yang terakhir, intensitas komunikasi kami berkurang drastis. Akhirnya kuberanikan diri mengirim pesan.
“Apakah ada gambaran bahwa di masa depan kita masih saling berinteraksi?”
“Kalau melihat betapa kuasanya Allah, iya… tapi dengan kapasitasku sebagai manusia yang hanya tau keadaanku saat ini aku menjawab tidak ada titik terang untuk itu… Tapi jangan pernah berputus asa terhadap kasih sayang Allah.”
Dia tau maksudku, dan dia telah menjawab dengan jelas tidak ada harapan bagi kami setidaknya untuk saat ini. Air mataku dengan lancangnya meluncur deras, hanya untuk malam itu, kubiarkan diriku rapuh serapuh-rapuhnya, hancur sehancur-hancurnya. Aku meratapi takdirku menjadi perempuan dari keluarga biasa saja yang tidak mungkin masuk ke dalam keluarga terhormat. Mana mungkin aku yang banyak hidup di jalanan dengan organisasiku layak mendapat status setinggi itu? Mimpi!
Di penghujung ratapan dan doaku malam itu, telah aku putuskan saat itu bahwa aku dan dia telah selesai… We’ve done.
“Bosen ya bunda? Sebentar lagi kita pulang ya sayang.”
Kubalas ucapan suamiku dengan senyum manis. Suamiku, imamku, sayangku. Maafkan ketidaksempurnaanku ini. Maaf jika pikiran ini tiba-tiba flashback ke masa lalu dengan tiba tiba tanpa kuminta. Tapi bukannya itu manusiawi? Aku bukannya beralibi, hanya saja, aku bukan robot yang bisa seenaknya dengan mudah mendelete memori yang tidak kuinginkan. Sudah kuputuskan, ku blokir semua akun media sosial yang bersinggungan dengannya yang memungkinkan untuk berinteraksi dengannya lagi. Aku menutup celah sekecil apapun itu. Aku tidak ingin ketika iman dan cintaku berada di titik terendah, setan masuk dari celah yang kuciptakan sendiri. Ya Allah, aku berlindung padamu…
KALI KEDUA By: Mufarrikhatul Isma
Kehidupan ini begitu singkat. Berfikirlah secara cepat jika tidak kau akan tergerus oleh zaman yang padat. Ini adalah kisahku. Kisah kali kedua dalam mencintai seorang wanita. Aku sempat tak punya daya tarik terhadap wanita karena kali pertama aku mencintai seorang wanita, aku mengalami kisah yang benar-benar pahit. Beberapa waktu yang lalu, rasa ketertarikan itu tumbuh lagi. Yups, semua berawal dari dompetku yang tak sengaja terjatuh di sebuah minimarket dan seorang gadis cantik mengembalikannya padaku. Itulah awal perjumpaanku dengannya. Azril Nadana, gadis yang begitu manis ketika tersenyum karena lesung yang berada di kedua pipinya.
Matanya begitu indah dengan bulu mata yang lentik. Dia nyaris sempurna, hanya saja sikapnya agak tomboy.
Selang beberapa hari, aku baru menyadari jika aku dan Azril berkuliah di perguruan tinggi yang sama. Memang tidak satu angkatan dan tidak juga satu jurusan, tapi setidaknya aku masih bisa bertemu dengannya di kampus.
Namaku sendiri adalah Arya Gama. Aku berkuliah di jurusan jurnalistik karena menurutku kemampuanku berada di dunia tulis menulis. Bahkan aku lebih menyukai dunia khayal dibanding dunia nyata. Karena aku bisa mendapatkan apa saja dalam dunia khayalku.
Hari demi hari telah berlalu. Hubunganku dengan Azril pun kian dekat, bahkan bisa dibilang benar-benar akrab. Kok bisa? Karena di mana ada aku pasti di situ ada Azril. Jantungku selalu berdegup kencang ketika berada di dekatnya. Aku tidak tahu kenapa aku se-aneh ini. Saat aku berbicara dengannya, aku menjadi sangat gugup. Dasar aku!
“Eh, Ril”, Ia menatapku. “Pulang kuliah kita makan yuk?”, sambungku.
“Hmm, nggak ah”, jawabnya singkat.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-napa”
“Aku traktir deh”
“Kak Arya Gama, aku bener-bener nggak bisa”, jelasnya dengan memasang raut wajah yang meyakinkanku bahwa Ia benar-benar tidak bisa.
“Baiklah”, tak kulanjutkan pertanyaanku meski sebenarnya aku benar-benar ingin tahu mengapa Ia menolak ajakanku. Aku berniat mengikuti Azril sepulang kuliah, tapi semuanya aku urungkan karena jika ketahuan, bisa mati aku diejeknya. Senjapun akhirnya datang, malam ini berlalu tanpa kabar dari Azril sama sekali.
***
Sungguh aku seperti pria yang tak waras karena terlalu mengharapkannya. Padahal Azril menganggap biasa saja seperti pada pria lainnya mungkin? Aku terlalu bodoh berharap jika Ia bisa bersamaku sampai nanti. Semakin lama rasa ini terus bertambah. Apakah aku harus mengatakannya? Ah, yang benar saja? Jika aku berkata juju raku takut Azril akan menjauh dariku. Namun, jika aku memendamnya … entahlah. Aku benar-benar dalam fase bingung.
Sudah kuputuskan tepat di hari ulang tahun Azril tanggal 3 September, aku akan mengungkapkan semua rasa yang selama ini kupendam untuknya.
Aku juga siap menerima resiko apa saja yang mungkin terjadi setelah aku mengatakan yang sejujurnya pada Azril nanti.
Hari ini aku mengajaknya untuk bertemu di taman kampus seperti biasa. Aku sedikit merasa gugup. Sepertinya Azril dalam masalah. Tidak
biasanya dia telat ketika kita sudah berjanji bertemu. Hampir 2 jam aku menunggunya.
“Kak Arya”, tiba-tiba ada suara yang sepertinya berasal dari belakangku dan bagiku itu bukanlah suara yang asing.
“Azril”, rasa gugupku semakin bertambah. Ketika aku melihat ke asal suara itu memang benar Azril yang ada di sana. Namun Ia tidak sendirian.
Ada pria bertubuh tinggi dan tampan di sampingnya. Pria itu juga menggandeng tangan Azril. Satu per satu pertanyaan tentang pria itu mulai tumbuh di benakku.
“Siapa dia?”, suaraku terdengar parau.
“Aku akan ceritain dia ke kamu hari ini”, jelasnya dengan senyum yang luar biasa.
“Emang dia siapamu?”, tanyaku semakin tidak sabar.
“Baiklah, dia kekasihku, namanya Ryhan”, ujarnya.
Aku hanya terperangah mendengar penjelasan dari Azril. Saat itu pula aku putuskan untuk memendam rasa ini sendiri. Cukuplah aku dan Tuhan yang mengetahui ini.
KEBERHASILAN YANG TERTUNDA By: Wardatul Khoiriyah
Matahari mulai bangun dari tidurnya. Seperti biasa, aku mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku mulai mengambil sepeda kesayanganku. Setelah kunaiki, ternyata ban dari salah satunya ada yang bocor. Aku kebingungan, karena orang tuaku sudah berangkat kerja. Aku minta tolong pada pakdheku untuk memompanya. Setelah dipompa, aku langsung menaikinya dan melaju dengan kencang. Sesampainya di sekolah, jam sudah pukul 06.59 WIB. Untunglah aku tidak telat.
Hari ini waktunya pelajaran matematika. Aku sangat suka dengan pelajaran matematika. Bu Nurani, S.Pd., itulah guru favoritku. Beliau mengajar mata pelajaran matematika. Beliau mengawali pelajaran dengan mengulas materi pelajaran minggu lalu. Aku sangat mengharapkan dipanggil beliau untuk mengerjakan soal di papan tulis. Keinginanku terkabul dan akhirnya namaku dipanggil.
“Husna, ayo kerjakan soal ini”, ucapnya. Lalu aku mengiyakan perintah itu. Ya, namaku Aulia Husna. Biasa dipanggil Husna. Aku tinggal di Pasuruan. Aku merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Di rumah, hanya aku yang dimanjakan oleh orang tauaku, karena kakakku sudah menikah dan memilih pisah tempat tinggal dari orang tuaku. Aku duduk di kelas 5 SD. Aku termasuk anak yang pemalu dan kadang-kadang menjadi bahan bully-an teman-temanku. Aku minder dengan diriku sendiri. Ketika aku mendengar bully-an dari teman-temanku, aku hanya berdoa, ‘semoga aku bisa sukses dengan bully-an ini’. Dan aku menganggap perkataan mereka itu seperti radio rusak.
Mendengar namaku dipanggil, aku langsung beranjak maju ke papan tulis dan mengerjakannya. Ternyata jawabanku benar. Aku bertambah suka dengan mata pelajaran matematika.
Saat jam istirahat, bu Nurani memanggilku dan beberapa temanku.
Aku bingung, kenapa beliau memanggilku? Apakah aku terkena kasus?
Entahlah, itu akan terjawab setelah aku menemuinya. Aku sangat gemetaran ketika aku menginjak teras kantor. Aku sangat penasaran, aku bertanya peda temanku Naila, “Emang ada apa, sih? Kasus ya?”, bisikku kepada Naila.
“Entah, aku juga takut, nih.”, ujarnya.
Bu Nurani mulai membuka pembicaraan, “Maaf sebelumnya ibu mengganggu kalian. Jadi gini, bulan depan ada kegiatan lomba mata pelajaran matematika, Ibu akan menyeleksi kalian untuk persiapan mengikuti lomba itu.”
“Apa bu?”, ucapku kaget.
“Ya, kenapa? Husna tidak minat ya?”, sahutnya. Aku sangat gembira, dan spontan menjawab, “Aku sangat minat sekali bu.”
Kami keluar dari kantor, kami masih tidak percaya dengan ujaran bu Nurani tadi. Tapi, bu Nurani tidak mungkin berbohong. Mungkin ini kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bisa dan menghapus bully-an teman-teman dengan perlahan.
Hari demi hari berlalu. Aku sangat berharap untuk mengikuti lomba itu. Tapi aku tidak ada yang mengajari untuk menguasai materi-materi itu.
Karena orang tuaku hanya sedikit mengenyam pendidikan. Aku berusaha sendiri. Aku selalu diberi semangat oleh ibuku dan beliau selalu menemaniku, meski tidak bisa mengajariku.
Hari seleksi tiba. Waktunya pasrah dengan semua takdir, karena aku sudah ikhtiar dan berdoa. Takdir rupanya tidak berpihak padaku. Aku tidak lolos seleksi tersebut. Aku menerima dengan lapang dada, meskipun terselip rasa kecewa. Aku berpikir, mungkin ada kesempatan di lain waktu.
***
Setiap hari aku tetap bersemangat. Bahkan kecintaanku kepada matematika terus menggebu-gebu. Tak terasa aku sekarang duduk di kelas 6 SD. Latihan, try out, dan ujian nasional mulai menyambut kami. Aku sangat bersemangat jika yang diujikan itu adalah mata pelajaran matematika.
Aku merasa sangat kecewa jika nilai matematikaku di bawah 9,00. Entah kenapa perasaan kecewa itu muncul, mungkin karena aku sangat mencintai mata pelajaran matematika.
Setelah pulang sekolah, aku langsung belajar dengan sangat tekun. Aku teringat ucapan bu Nurani. ‘Saya dulu belajar di mana saja, nak.
Sampai-sampai saya menyapu pun membawa buku’. Waktu itu kupikir bu Nurani terlalu berlebihan, tapi, pada akhirnya perilaku bu Nurani terjadi padaku pula. Aku belajar dimanapun dan kapanpun.
***
Malam hari aku sibuk belajar untuk ujian nasional. Esok paginya aku bangun pagi-pagi sekali. Usai melaksanakan salat, aku mendengar perintah ibu untuk melanjutkan belajarku, karena waktu subuh adalah waktu yang tepat bagi prnuntut ilmu untuk mempelajaraninya.
Pukul 06.50 WIB, bel pun berbunyi. Seperti biasa, sebelum masuk ruangan, semua peserta ujian nasional diperintah untuk baris di depan ruangannya masing-masing. Setelah itu, ujian nasional pun dimulai.
Aku sudah menyelesaikan dan mulai mengeceknya kembali. Aku membersihkan noda-noda di kertas yang diakibatkan karena tanganku yang selalu basah dengan keringat. Ketika aku menghapus noda tersebut, tiba-tiba kertas itu sobek. Aku sangat kaget dan khawatir. Aku langsung beranjak ke pengawas ujian nasional dan bertanya, “Pak, bagaimana ini? LJK saya sobek?”
“Kok bisa, sih, nak”, ujarnya.
“Saya tadi menghapus noda yang ada di sini, mungkin tadi saya terlalu menekan sampai jadi seperti ini.”, jelasku.
“Ini waktunya sudah hampir habis, kamu tidak bisa mengerjakan waktu sesingkat ini, tapi ada kemungkinan kertas ini masih bisa diterima komputer untuk memunculkan nilai kamu”, ucapnya sambil memegang LJK ku dan menerawangnya.
“Benar, kan, pak? Saya khawatir jika nilai ujian nasional saya tidak muncul”, sahutku.
“Insyaallah ini tidak apa-apa, karena masih belum tembus”, tegasnya.
Setelah itu, aku kembali ke tempat dudukku dan merenungkannya. Sampai hari ke tiga pelaksanaan ujian nasional, aku tetap memikirkan kejadian itu.
Semua kekhawatiran terlintas dibenakku.
***
Tiba pada waktu pelaksanaan wisuda. Aku berhias dengan tampilan yang sangat sederhana. Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku. Tiba saatnya pembawa acara mulai mengumumkan satu-persatu juara pada setiap mata pelajarannya.
“Nilai mata pelajaran matematika terbaik dengan nilai sangat sempurna yaitu 10,00 diraih oleh Aulia Husna”, aku sangat terkejut dan tidak
menyangka kalau aku bisa mendapatkan sesuatu yang sangat kuharapkan.
Selain mendapatkan nilai matematika terbaik, aku juga mendapatkan juara dari mata pelajaran lain pula. Aku juga mendapat peringkat kedua. Ibuku menangis haru melihatku, beliau bangga dan tidak menyangka dengan prestasi yang telah kudapatkan. Aku masih belum menyangka dengan apa yang telah aku dapat. Tapi itulah takdir yang Allah beri.
Pesanku, pegang erat impian-impianmu dan janganlah kamu memupuskan harapanmu hanya karena adanya lubang kecil yang menghalangi jalanmu.
MEJA NOMER 6 By: Dewi Amaliyah
‘Ku masih disini tanpamu Menunggu dengan gelisah Berharap engkau kan datang..’
Alunan musik bersenandung perlahan di rumah makan kecil tempatku beristirahat sejenak. Lagi-lagi turun hujan, padahal tadi siang matahari dengan angkuhnya memanggang siapapun yang nekat keluar dari rumah.
Huffftt! Dunia sudah tua. Lupa terang, lupa gelap, lupa siang, lupa malam, lupa dingin, lupa panas. Mungkin seperti itu kalau aku sudah tua nanti, keriput, pelupa, ringkih, dan hanya bisa duduk di kursi goyang dengan terbatuk-batuk sambil memandangi anak cucu. Anak? Cucu? Angan-angan kosong tentang masa depan itu membuat dadaku terasa sesak. Nyeri, seperti ada jarum yang tertelan, tertinggal di sana dan berkarat.
Sayup-sayup terdengar alunan lagu itu lagi. Sial! Menyebalkan! Membuatku semakin ingat saja. Setengah mati aku sudah berlari sampai terengah-engah kesakitan.
“Lebih baik kamu pergi”, ucapnya waktu itu di tempat ini, di meja ini, 36 bulan 2 minggu 4 hari yang lalu.
“Pergi? Semudah itu kamu menyuruhku pergi? Hanya karena aku menyukaimu? Kamu picik!”. Ada air keluar dari mataku. Tak sempat terjatuh, hanya menggantung di bulu mata.
“Banyak yang lebih baik di luar sana, kamu tahu itu”, jawabnya.
“Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?”, tantangku.
“Biar aku yang pergi, maaf aku tidak bisa pura-pura semua biasa saja, aku laki-laki, harus tegas.”
“Maksudmu?”, aku seperti orang bodoh yang tak mampu mencerna kata-katanya.
“Jangan temui aku lagi, jangan berusaha keras lagi, semua sudah selesai”, putusnya sambil beranjak pergi dari meja nomer 6 yang selalu menjadi tempat favoritku. Ya, meja nomer 6. Di rumah makan kecil ini aku biasa merehatkan diri dari segala keruwetan aktifitasku. Melepas penat, tapi kadang malah menambah penat. Seolah-olah meja itu sudah ditakdirkan jadi bagian penting dalam hidupku. Bertemu pertama kalinya dengan dia di sini dan berakhir juga di sini. Ironis bukan?
Terlalu banyak kebetulan yang terjadi pada kami, seperti dalam novel saja. Kebetulan bertemu, kebetulan cocok, kebetulan membawa kami bersahabat, kebetulan membuat kami semakin dekat, kebetulan aku jatuh cinta dan kebetulan juga dia tak membalas cintaku. Lihat, betapa banyak kebetulan yang mebuatku dan dia akhirnya berpisah.
Cinta, segampang itu aku bilang mencintainya. Padahal, hidup dengannya pun aku tau belum sanggup. Bagaimana mungkin aku sanggup hidup dengan seseorang berpendidikan rendah dan pemilik bengkel kecil di pinggir jalan. Ya, aku terlalu cepat menyimpulkan ini cinta. Hmm.. Lalu apa ini jika bukan cinta? Dia sudah berhasil membuatku mabuk kepayang.
Tanpa kontak fisik sekalipun, dia sudah berhasil mebuatku abai dengan apa namanya kufu. Tapi, aku pun sadar hidup ini harus realistis. Mana mungkin tiap hari aku harus makan cinta, mana kenyang? Apalagi dengan orang yang bahkan tak mempertahanku, ralat, tak mengharapkanku.
“Apa sih cinta itu menurutmu?”, tanyanya suatu kali entah ke berapa kalinya kita bertemu untuk makan siang, masih di meja nomer 6.
“Apa ya? Saat kita bersama dengan orang yang kita cintai, bahagia hanya dengan melihatnya bahagia, begitu mungkin?”
Aku menebak nebak ekspresi wajahnya,dia hanya tersenyum tipis dan berkata, “Itu hanya teori, mana bisa kamu tersenyum di saat perut lapar sampai melilit, heh?”. Saat itu aku hanya bisa bungkam. Benar, kini aku tahu.
Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama, terlalu banyak hal yang harus dikompromikan jika aku terus memaksa. Mana mungkin aku putri manja yang segalanya tercukupi dipaksa bersanding dengan pangeran baut dan las serta teman temannya.
“Mbak, maaf sebentar lagi café kami mau tutup”, seorang pramusaji menyentakkan lamunanku.
“Oh, iya sebentar lagi”, jawabku.
Masih di meja nomer 6, aku terus-terusan mengulang lagi lembaran ingatan tentang kami. Seperti slide yang diputar berulang-ulang.
Membiarkan masa depanku tebengkalai. Berulang menapaktilasi perpisahan tak menyenangkan kami, di sini. Setitik kesadaran kecil muncul menamparku. Apa dia juga masih ingat denganku seperti aku mengingatnya?. ‘Bodoh’, gumamku pelan. Siapa yang tau kalau dia sudah sukses dikelilingi gadis-gadis yang mengharapkannya atau mungkin masih bergelut dengan mur dan bautnya di bengkel kecil pinggir jalan, entahlah.
‘Ku masih disini tanpamu Menunggu dengan gelisah Berharap engkau kan datang..’
Masih di meja nomor 6, aku tersadar harus segera kembali.
Mengumpulkan cita-citaku yang berceceran dan menemukan masa depanku yang kosong untuk segera kuisi dengan kebahagiaan. Karena kemarin adalah kenangan, sekarang adalah kenyataan, dan esok adalah masa depan, selamat tinggal meja nomer 6.
RAHASIA RASA By: Lana ‘Aisyu El Su’ada’
Pagi-pagi sekali aku bangun dari tidurku. Mencari udara segar dengan berlari kecil di sepanjang jalan perumahan. Aku menghentikan langkahku sebentar, kemudian duduk di bangku samping taman. Kuteguk air minum di botolku. Kulihat sekeliling, banyak orang tua, remaja dan anak kecil yang berkumpul di taman perumahan ini. Ada yang duduk-duduk sambil menyantap makan pagi, ada yang berlari kecil seperti aku, ada yang bersepeda dan ada pula para penjual keliling di sekitar taman. Ya, hari ini memang hari minggu. Jadi wajar saja jika banyak warga perumahan Sekar Asri yang menghabiskan aktivitas paginya di sini.
Andai saja aku melakukan hal yang sama dengan mereka, berkumpul dengan keluarga, menikmati aktivitas minggu pagi bersama, ah, senang sekali rasanya. Tapi khayalan itu aku tepis segera. Aku harus rela jauh dari ayah, ibu dan adikku, karena harus merantau ke luar kota untuk berkuliah.
Belum lama aku memandangi beberapa keluarga bahagia itu, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku.
“Permisi, boleh duduk di sini?”
“Boleh”
Kulihat sosok yang duduk di sampingku. Seorang lelaki yang tinggi, kulitnya putih dengan ukuran badan yang proporsional. ‘Hem, ganteng juga’, pikirku.
Keringat yang mengalir di badannya menambah pesona tersendiri.
“Udah lama tinggal di sini?”, ujar lelaki itu tiba-tiba.
“Eh.. Oh.. Ng.. Nggak, baru satu bulan.”, jawabku gugup.
Lelaki itu manggut-manggut.
“Yanuar”, ujarnya sambil menyodorkan tangan.
Aku diam sejenak. Kemudian menyambut tangannya.
“Kayla”
“Kamu tinggal di mana?”, ujarnya.
“Aku tinggal di blok O nomor 15.”
“Oh, berarti kita tetanggaan ya? Aku juga tinggal di blok O, nomor 12.”
“Tapi kok aku nggak pernah lihat kakak di sini ya selama satu bulan ini?”, tanyaku heran.
“Iya, selama satu bulan ini aku ada program magang ke luar kota. Biasa, tugas dari kampus.”
“Ooo..”, giliran aku yang manggut-manggut.
Entah mendapat angin darimana, obrolan kami mengalir begitu saja.
Aku sama sekali tidak menyangka bisa mendapat teman seperti dia di sini.
***
Hari-hari berlalu terasa begitu cepat. Aku mulai betah tinggal di sini.
Apalagi ada kak Yanuar dan keluarganya yang begitu baik padaku. Kak Yanuar dan aku ternyata berada di universitas yang sama, tetapi dia dua tingkat di atasku. Kalau ada jadwal yang sama, kami tak jarang berangkat dan pulang bersama. Senang sekali rasanya.
“Kay, lo jadian ya sama kak Yanuar?”, tanya Sheila teman kampusku.
“Nggak, Shel.”
Banyak yang menyangka aku dan kak Yanuar berpacaran. Padahal sebenarnya tidak. Mungkin lebih tepatnya belum berpacaran. Jujur saja aku mulai nyaman berada di dekatnya, dan aku ingin sekali menjadi kekasihnya.
Tapi aku tidak berani mengutarakan isi hatiku pada kak Yanuar. Cinta. Satu kata berjuta makna. Satu kata yang setiap orang damba. Satu kata yang juga bisa membuat orang gila karenanya. Cinta, ya cinta. Banyak orang ingin memiliki cinta. Seperti halnya aku. Tapi entah kenapa cinta yang aku rasa ini berbeda. Aku tidak yakin bisa memiliki orang yang aku suka. Aku juga tidak tahu apakah orang yang aku suka itu juga memiliki rasa yang sama.
Hari ini aku dan kak Yanuar tidak ada jadwal kuliah. Tiba-tiba kak Yanuar meneleponku.
“Kay, jalan yuk.”
“Jalan ke mana, Kak?”
“Ke Mall sebelah.”
“Oke deh. Aku siap-siap dulu ya.”
Mimpi apa aku semalam? Hari ini aku diajak jalan berdua saja dengan kak Yanuar? Aku girang bukan kepalang. Cukup lama aku memagut diri di depan cermin. Mencoba beberapa pakaian yang akan aku pakai untuk keluar bersama kak Yanuar. Akhirnya pilihanku jatuh pada dress warna putih pendek selutut bermotif bunga lavender, dengan lengan se-siku. Tak lupa aku menyisir rapi rambut panjangku. Aku ikat ke belakang sedikit, sisanya aku urai, mirip rambutnya Ran Mouri dalam komik Detective Conan.
Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di Mall.
“Tumben ngajakin aku ke sini?”
“Aku mau ngasih kejutan buat kamu.”
Aku berhenti berjalan. Dia terus berjalan di depanku. Kejutan?
Kejutan apa ya? Hatiku tiba-tiba berdegup kencang. Aku meneruskan langkah kakiku, berusaha menyamakan langkah dengannya. Tak lama dia berhenti di sebuah cafe di dalam mall.
“Masuk yuk”, ujar kak Yanuar.
Aku mengangguk pelan. Dia mempersilahkan aku duduk di salah satu meja di dalam cafe. Kemudian dia juga mengambil tempat duduk di sampingku.
“Kamu pesen makanan gih”, ujar kak Yanuar sambil menyodorkan menu makanan.
Aku memesan 1 porsi burger kecil dan jus strawberry.
“Cuma ini aja?”, tanyanya.
Aku mengangguk. “Lagi diet, Kak.”
“Diet segala sih kamu, kamu chubby gini juga udah cantik tau. Kayak aku dong makannya banyak”, ujarnya sambil memesan 1 porsi nasi goreng spesial lengkap dengan fried chicken. Aku hanya tersipu sekaligus bahagia mendengar perkataannya. Dia selama ini menganggapku cantik? Ah, senangnya aku.
Belum sampai pesanan makanan kami, tiba-tiba kak Yanuar menyapa seseorang.
“Hei, Gre!”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Kak Yanuar menyuruhnya duduk di meja kami. Aku mengernyitkan dahi. Aku belum kenal wanita ini sebelumya. Aku lihat penampilannya, terlihat sangat cantik dan anggun dengan memakai dress maroon panjang tanpa lengan, rambutnya diurai lurus, sedikit berwarna kemerahan. Wajahnya dirias dengan make up yang sederhana tapi sangat cocok dengan gaun yang ia pakai.
“Hai, aku Gracia”, ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku.
“Kayla”, aku menyambut tangannya, berusaha untuk tersenyum.
“Jadi gini Kay, ini yang aku maksudkan kejutan. Ini Gracia, pacar aku”, ujar kak Yanuar. Hatiku kali ini berdegup lebih kencang. Bukan karena aku
merasakan getaran cinta, bukan. Melainkan karena rasa terkejutku yang teramat sangat. Bagai disambar petir rasanya ketika aku mendengar perkataan kak Yanuar. Aku pikir kak Yanuar akan memberi kejutan yang romantis untukku. Tapi kenyataannya?
“Kamu udah aku anggep kayak adek aku sendiri Kay, jadi apapun yang aku lakuin, aku akan berbagi dengan kamu.” Ucap kak Yanuar.
“Oh ya, Gre, ini Kayla yang sering aku ceritain ke kamu.”
“Yanuar cerita banyak loh tentang kamu, makasih ya udah selalu ada buat Yanuar”, kata Gracia sok akrab.
Aku hanya tersenyum kecut. Ingin rasanya aku pergi dari cafe ini dan segera pulang. Tapi aku harus tetap menahan diriku, aku tidak boleh terlihat kesal ataupun sedih. Kak Yanuar nggak boleh tahu bahwa aku menyimpan rasa cinta padanya.
***
Usai pertemuan dengan Gracia minggu lalu, membuatku sadar bahwa selama ini kak Yanuar sama sekali tidak memiliki rasa terhadapku. Apalagi semenjak ada Gracia dalam hidupnya, dia sudah jarang berkomunikasi denganku, begitu pula keluarganya. Kembali aku merasakan kesendirian di kota ini. Aku sudah tidak pernah jalan dengan kak Yanuar lagi. Jangankan jalan berdua, berangkat kuliah berdua saja sudah tidak pernah. Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Aku harus tahu diri. Aku harus mengerti posisiku di hatinya hanyalah sebagai ‘adik’, tidak lebih.
Aku memandangi foto kami berdua di dekat jendela. Tak terasa aku menitikkan air mata. Cengeng ya? Memang. Tapi beginilah rasanya ketika orang yang kau cintai, malah mencintai orang lain. Dan lebih parahnya, orang yang kau cintai tidak mengetahui apa yang kau rasakan sebenarnya.
Aku mulai tenggelam dalam lamunanku. Andai saja aku menyatakan cinta lebih awal pada kak Yanuar, pasti kak Yanuar tidak akan memilih gadis itu. Aku yakin jika kak Yanuar mengetahui perasaaanku, dia akan mempertimbangkannya dan memilihku sebagai kekasihnya. Ah, tapi itu hanya anganku saja.
Handphoneku bordering, tanda ada panggilan masuk. Aku lihat layar di handphoneku, rupanya dari mama.
Aku angkat panggilan dari mama, “Halo, Ma.”
“Halo sayang, gimana kabar kamu? Udah seminggu nih kamu nggak ngabarin mama. Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Kay?”, ujar mama.
Insting seorang ibu. Ibu selalu tahu dan merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya.
“Kayla baik-baik aja kok, Ma. Lagi mau ada Festival nih di kampus, jadi Kayla agak sibuk gitu deh”, ujarku berbohong. Di kampusku memang sedang menyiapkan festival Band antar mahasiswa, dan aku salah satu panitianya. Tapi aku tidak terlau sibuk, karena aku hanya sebagai anggota keamanan saja. Aku mencoba untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mama, karena aku tidak mau membuat hati mama sedih. Karena akhir-akhir ini mama juga sering sakit-sakitan.
“Yaudah kalo gitu, kamu lanjutin kesibukan kamu. Tapi jangan lupa istirahat ya. Jangan terlalu diforsir tenaga kamu. Nanti kamu malah sakit.”
“Iya, Ma. Mama juga jaga kesehatan ya”
“Iya, I love you, dear.”
“Love you too, Mom.”
Mama menutup teleponnya. Kembali aku menatap jendela, terhanyut dalam lamunanku. Di luar rumah hujan mulai turun. Tetes demi tetesnya
terlihat dari jendela kamarku. Tak lama kemudian hujan turun begitu derasnya. Sepertinya langit juga merasakan apa yang aku rasakan.
***
Terik matahari mulai memasuki kamarku, sepertinya sudah pagi. Tapi aku malas bangun hari ini. Entahlah, akhir-akhir ini aku seperti tidak bersemangat menjalani hidup. Sudah lama juga aku tidak mengikuti rapat persiapan fesival band antar mahasiswa ini. Handphoneku berdering di sampingku. Tidak aku hiraukan. Berkali-kali handphone itu berdering.
“Duh, siapa sih nih pagi-pagi ganggu aja”, gerutuku kesal. Mungkin Hito, koordinator keamanan yang mencoba menghubungiku, dan menyuruhku hadir dalam rapat. Ah, malasnya.. paling yang dibahas itu-itu saja.
Aku lihat handphoneku ada 5 panggilan tidak terjawab dan 2 pesan masuk yang isinya sama.
From: Yanuar
‘Bangun woy!’
Aku segera bangun dari tempat tidur melihat ada pesan dari kak Yanuar. Tumben sekali dia mengirim pesan padaku. Tak biasanya dia menghubungiku sepagi ini, mengingat sudah berminggu-minggu dia tidak pernah mengabariku. Meskipun kami terlibat dalam acara yang sama, karena dia juga anggota band kampus, tapi kami jarang sekali berkomunikasi, baik bertatap muka atau sekedar chatting.
Aku segera menelepon balik dirinya.
“Halo kak, aku udah bangun. Ada apa nih. Pagi-pagi udah ganggu orang aja”, ujarku sesaat setelah dia mengangkat telepon.
“Aku mau curhat nih, kamu ada waktu nggak?”
“Curhat aja sekarang, aku lagi nganggur kok.”
“Aku.. aku baru putus sama Gracia.”
Aku diam. Ada sebersit rasa bahagia dalam hatiku. Aku bahagia karena akhirnya dia bisa berpisah dengan kekasihnya tanpa aku menganggu hubungan mereka, dan aku bahagia akhirnya dia kembali padaku. Kembali berbagi semuanya denganku.
“Kenapa bisa putus, kak?”
“Dia dijodohin sama orangtuanya.”
Dia menghentikan pembicaraannya sebentar. Ada rasa sedih yang ia tahan.
“Kamu mau nggak jadi pengganti Gracia?”
Deg. Hatiku lagi-lagi berdegup kencang.
“Apaan sih kak”, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Eh, kakak serius loh. Cuma kamu yang bisa gantiin Gracia di hati kakak.”
“Kak, aku tahu hati kakak masih belum stabil. Kakak hanya butuh tempat curhat. Jadi mending kakak tenangin diri dulu. Jangan keburu cari yang baru. Apalagi sampe bilang gitu ke adeknya sendiri”, entah kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Padahal selama ini aku memang sangat ingin untuk menjadi kekasihnya. Aku tidak mau dia mencintaiku hanya sebagai pelarian saja.
Aku bahagia sekaligus kecewa, bahagia karena dia baru berpisah dengan kekasihnya dan kecewa karena dia ingat padaku di kala dia butuh saja.
***
Mentari, aku tahu hanya sinarmu yang mampu memberi cahaya di dunia ini. tapi aku punya mentariku sendiri, mentari yang selalu menyinari hidupku dengan pesonanya. Kak Yanuar, ya, kami semakin hari semakin dekat saja. Meskipun tidak ada hubungan yang jelas, tapi aku nyaman bisa selalu berada di dekatnya.
Aku berangkat kuliah dengan penuh semangat hari ini. Semangat karena hari ini adalah festival band yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Hito menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan supaya acara berjalan dengan lancar dan aman. Setelah menyiapkan semuanya, kami duduk di pintu belakang sambil berjaga.
“Tumben lo senyum-senyum sendiri, Kay”, kata Hito.
“Emang gue harus nangis gitu?”, jawabku sekenanya.
“Eh, gue denger Yanuar baru tunangan ya? Sama anak jurusan sebelah.”
Aku mengalihkan pandangan dari handphoneku. “Kata siapa lo?”, aku cukup terkejut.
“Udah banyak yang tahu kali, Kay. Masak lo nggak tahu sih? Lo kan deket sama dia. Anak band juga udah pada tahu kok.”
Aku berpikir sejenak. Memang kemarin aku sempat melihat di handphonenya kak Yanuar ada foto seorang perempuan. Tapi belum lama aku melihat foto itu, handphonenya sudah diambil lagi oleh kak Yanuar.
“Iya iya, gue ngerti kok. Gue pura-pura nggak tahu aja tadi”, jawabku pura-pura biasa saja di depan Hito.
“Yaudah gue mau ke ruang UKM band dulu Kay, mumpung jam istirahat nih.”
“Eh, gue ikut dong.”
“Ayo”
Aku berjalan beriringan bersama Hito menuju ruang UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) band. Ruang UKM band tidak terlalu jauh dari aula festival. Hanya berselisih 5 ruang kelas saja. Aku ingin menanyakan perihal ini pada kak Yanuar secara langsung. Apa benar potret wanita yang ada di handphonenya itu adalah tunangannya? Mengapa selama ini dia tidak pernah cerita kepadaku? Mengapa sikapnya kepadaku selama ini begitu hangat layaknya seorang kekasih? Sejumlah pertanyaan muncul di benakku. Yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
Aku dan Hito tiba di ruang UKM. Hito menyapa teman-teman yang lainnya. Ruang band ini tidak terlalu besar. Di bagian depan ada ruangan untuk bersantai dan bagian dalam ada studio beserta alat musik untuk tempat latihan. Kak Yanuar juga ada di sana bersama teman-teman lainnya yang sedang bersantai. Kak Yanuar mendekatiku dan duduk di sebelahku.
“Minum, Kay?”, ujarnya sambil menyodorkan sebotol teh kepadaku.
Aku menggelengkan kepala. Aku masih heran kenapa dia masih begitu perhatian kepadaku. Padahal dia sudah memiliki tunangan. Di ruang depan ini, panitia mengerjakan segala sesuatu yang diperlukan untuk festival. Ada yang mengevaluasi jalannya festival yang baru setengah hari berjalan, ada yang bercanda sambil memakan snack.
“Kita balik ke aula yuk, udah mau mulai nih”, ujar salah satu panitia.
“Eh, iya. Keburu hujan juga”, ujar Hito
“Kalian duluan deh, ntar gue nyusul”, kata kak Yanuar.
“Huu, bilang aja lo mau berduaan”, kata temannya yang lain.
“Yan, jaga diri. Jangan semuanya lo embat”, kata Hito.