Matahari mulai bangun dari tidurnya. Seperti biasa, aku mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku mulai mengambil sepeda kesayanganku. Setelah kunaiki, ternyata ban dari salah satunya ada yang bocor. Aku kebingungan, karena orang tuaku sudah berangkat kerja. Aku minta tolong pada pakdheku untuk memompanya. Setelah dipompa, aku langsung menaikinya dan melaju dengan kencang. Sesampainya di sekolah, jam sudah pukul 06.59 WIB. Untunglah aku tidak telat.
Hari ini waktunya pelajaran matematika. Aku sangat suka dengan pelajaran matematika. Bu Nurani, S.Pd., itulah guru favoritku. Beliau mengajar mata pelajaran matematika. Beliau mengawali pelajaran dengan mengulas materi pelajaran minggu lalu. Aku sangat mengharapkan dipanggil beliau untuk mengerjakan soal di papan tulis. Keinginanku terkabul dan akhirnya namaku dipanggil.
“Husna, ayo kerjakan soal ini”, ucapnya. Lalu aku mengiyakan perintah itu. Ya, namaku Aulia Husna. Biasa dipanggil Husna. Aku tinggal di Pasuruan. Aku merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Di rumah, hanya aku yang dimanjakan oleh orang tauaku, karena kakakku sudah menikah dan memilih pisah tempat tinggal dari orang tuaku. Aku duduk di kelas 5 SD. Aku termasuk anak yang pemalu dan kadang-kadang menjadi bahan bully-an teman-temanku. Aku minder dengan diriku sendiri. Ketika aku mendengar bully-an dari teman-temanku, aku hanya berdoa, ‘semoga aku bisa sukses dengan bully-an ini’. Dan aku menganggap perkataan mereka itu seperti radio rusak.
Mendengar namaku dipanggil, aku langsung beranjak maju ke papan tulis dan mengerjakannya. Ternyata jawabanku benar. Aku bertambah suka dengan mata pelajaran matematika.
Saat jam istirahat, bu Nurani memanggilku dan beberapa temanku.
Aku bingung, kenapa beliau memanggilku? Apakah aku terkena kasus?
Entahlah, itu akan terjawab setelah aku menemuinya. Aku sangat gemetaran ketika aku menginjak teras kantor. Aku sangat penasaran, aku bertanya peda temanku Naila, “Emang ada apa, sih? Kasus ya?”, bisikku kepada Naila.
“Entah, aku juga takut, nih.”, ujarnya.
Bu Nurani mulai membuka pembicaraan, “Maaf sebelumnya ibu mengganggu kalian. Jadi gini, bulan depan ada kegiatan lomba mata pelajaran matematika, Ibu akan menyeleksi kalian untuk persiapan mengikuti lomba itu.”
“Apa bu?”, ucapku kaget.
“Ya, kenapa? Husna tidak minat ya?”, sahutnya. Aku sangat gembira, dan spontan menjawab, “Aku sangat minat sekali bu.”
Kami keluar dari kantor, kami masih tidak percaya dengan ujaran bu Nurani tadi. Tapi, bu Nurani tidak mungkin berbohong. Mungkin ini kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bisa dan menghapus bully-an teman-teman dengan perlahan.
Hari demi hari berlalu. Aku sangat berharap untuk mengikuti lomba itu. Tapi aku tidak ada yang mengajari untuk menguasai materi-materi itu.
Karena orang tuaku hanya sedikit mengenyam pendidikan. Aku berusaha sendiri. Aku selalu diberi semangat oleh ibuku dan beliau selalu menemaniku, meski tidak bisa mengajariku.
Hari seleksi tiba. Waktunya pasrah dengan semua takdir, karena aku sudah ikhtiar dan berdoa. Takdir rupanya tidak berpihak padaku. Aku tidak lolos seleksi tersebut. Aku menerima dengan lapang dada, meskipun terselip rasa kecewa. Aku berpikir, mungkin ada kesempatan di lain waktu.
***
Setiap hari aku tetap bersemangat. Bahkan kecintaanku kepada matematika terus menggebu-gebu. Tak terasa aku sekarang duduk di kelas 6 SD. Latihan, try out, dan ujian nasional mulai menyambut kami. Aku sangat bersemangat jika yang diujikan itu adalah mata pelajaran matematika.
Aku merasa sangat kecewa jika nilai matematikaku di bawah 9,00. Entah kenapa perasaan kecewa itu muncul, mungkin karena aku sangat mencintai mata pelajaran matematika.
Setelah pulang sekolah, aku langsung belajar dengan sangat tekun. Aku teringat ucapan bu Nurani. ‘Saya dulu belajar di mana saja, nak.
Sampai-sampai saya menyapu pun membawa buku’. Waktu itu kupikir bu Nurani terlalu berlebihan, tapi, pada akhirnya perilaku bu Nurani terjadi padaku pula. Aku belajar dimanapun dan kapanpun.
***
Malam hari aku sibuk belajar untuk ujian nasional. Esok paginya aku bangun pagi-pagi sekali. Usai melaksanakan salat, aku mendengar perintah ibu untuk melanjutkan belajarku, karena waktu subuh adalah waktu yang tepat bagi prnuntut ilmu untuk mempelajaraninya.
Pukul 06.50 WIB, bel pun berbunyi. Seperti biasa, sebelum masuk ruangan, semua peserta ujian nasional diperintah untuk baris di depan ruangannya masing-masing. Setelah itu, ujian nasional pun dimulai.
Aku sudah menyelesaikan dan mulai mengeceknya kembali. Aku membersihkan noda-noda di kertas yang diakibatkan karena tanganku yang selalu basah dengan keringat. Ketika aku menghapus noda tersebut, tiba-tiba kertas itu sobek. Aku sangat kaget dan khawatir. Aku langsung beranjak ke pengawas ujian nasional dan bertanya, “Pak, bagaimana ini? LJK saya sobek?”
“Kok bisa, sih, nak”, ujarnya.
“Saya tadi menghapus noda yang ada di sini, mungkin tadi saya terlalu menekan sampai jadi seperti ini.”, jelasku.
“Ini waktunya sudah hampir habis, kamu tidak bisa mengerjakan waktu sesingkat ini, tapi ada kemungkinan kertas ini masih bisa diterima komputer untuk memunculkan nilai kamu”, ucapnya sambil memegang LJK ku dan menerawangnya.
“Benar, kan, pak? Saya khawatir jika nilai ujian nasional saya tidak muncul”, sahutku.
“Insyaallah ini tidak apa-apa, karena masih belum tembus”, tegasnya.
Setelah itu, aku kembali ke tempat dudukku dan merenungkannya. Sampai hari ke tiga pelaksanaan ujian nasional, aku tetap memikirkan kejadian itu.
Semua kekhawatiran terlintas dibenakku.
***
Tiba pada waktu pelaksanaan wisuda. Aku berhias dengan tampilan yang sangat sederhana. Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku. Tiba saatnya pembawa acara mulai mengumumkan satu-persatu juara pada setiap mata pelajarannya.
“Nilai mata pelajaran matematika terbaik dengan nilai sangat sempurna yaitu 10,00 diraih oleh Aulia Husna”, aku sangat terkejut dan tidak
menyangka kalau aku bisa mendapatkan sesuatu yang sangat kuharapkan.
Selain mendapatkan nilai matematika terbaik, aku juga mendapatkan juara dari mata pelajaran lain pula. Aku juga mendapat peringkat kedua. Ibuku menangis haru melihatku, beliau bangga dan tidak menyangka dengan prestasi yang telah kudapatkan. Aku masih belum menyangka dengan apa yang telah aku dapat. Tapi itulah takdir yang Allah beri.
Pesanku, pegang erat impian-impianmu dan janganlah kamu memupuskan harapanmu hanya karena adanya lubang kecil yang menghalangi jalanmu.