• Tidak ada hasil yang ditemukan

FOKUS KITA jadi di 15 negara dalam kurun waktu

1972 – 1995 yang menyebabkan to- tal kematian sebanyak 1,5 jiwa, dan total kerugian harta benda mencapai nilai US $ 200 juta. Sumber yang sama menyajikan data kejadian tsu- nami besar antara 1945 - 1994 se- banyak 9 kejadian yang terjadi di 9 wilayah negara berbeda dengan jum- lah korban meninggal sebanyak lebih dari 15.000 orang dan kerugian harta benda antara 1992-1993 saja menca- pai US $ 1 juta.

Dalam aspek bencana letusan gu- nung api, DMTP dalam modul yang sama menyajikan data pilihan sejak tahun 79 sampai 1991 yang menca- tat 10 kejadian letusan gunung api dengan korban meninggal lebih dari 211.000 orang. Dalam data bencana letusan gunung api tersebut, Indo- nesia menduduki dua tempat tera- tas dalam hal jumlah korban, yaitu: letusan Gunung Tambora (1815) dengan korban sebanyak 95.000 orang dan Gunung Krakatau (1883) dengan korban sebanyak 36.000 orang. Penyebab kematian untuk Tambora adalah tefra, tsunami, dan kelaparan; sedangkan untuk Kraka- tau adalah tsunami yang dipicu oleh letusan gunung api. Dalam modul yang sama, DMTP menyajikan data 6 kejadian longsor besar di 5 negara yang berbeda antara 1970 – 1991, dengan kematian yang diakibatkan- nya total mencapai 33.000 orang dan kerugian lebih dari US$ 21 juta.

Jumlah korban dan kerugian aki- bat bahaya geologi yang berkembang menjadi bencana akan meningkat berlipat ganda apabila catatan data dilanjutkan sampai Tahun 2005. Terutama setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami yang paling dah- syat di Provinsi Nanggroe Aceh Da- russalam (NAD) dan Sumatera Utara pada akhir Tahun 2004.

Paparan pada sub bagian ini me- negaskan kembali dua hal. Pertama, bahwa, bahaya geologi merupakan jenis serangan bahaya mendadak. Secara umum, kecil peluang untuk implementasi peringatan dini secara efektif, terutama pada kasus gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. Kedua, bahaya gempa bumi, tsuna- mi, letusan gunung api, dan tanah longsor merupakan bahaya alam yang menjadi perhatian dunia. Hal itu mengingat bahwa bahaya geo- logi sering berubah menjadi bencana yang menimpa suatu masyarakat,

merusak populasi besar serta me- merlukan bantuan pihak luar ma- syarakat itu dalam usaha pemulihan paska bencana.

Karakteristik Umum Bahaya Geologi

DMTP merekomendasikan satu penyajian indikasi tentang karakte- ristik dasar dari setiap jenis bahaya dan berbagai tindakan yang diper- lukan untuk menghadapi bencana yang ditimbulkannya (Tabel 2 sampai Tabel 5). Dipesankannya bahwa ben- cana mempunyai pengaruh-penga- ruh tidak langsung yang dapat ber- tahan bahkan setelah bencana ter- sebut secara serta merta ditangani. Masalah perpindahan penduduk se- telah serangan bencana yang men- dadak, seperti gempa bumi dan tsu- nami mungkin terus berlanjut me- skipun telah dilaksanakan tindakan bantuan darurat, program-program pemulihan, dan bahkan rehabilitasi. Dampak tambahan dapat mengubah serangan bencana mendadak menja- di situasi darurat yang berkesinam- bungan.

Isu lebih lanjut yang harus di- ingat adalah berkenaan dengan kon- sekuensi dari satu serangan benca- na yang mendadak ketika bantuan pertolongan terhambat oleh adanya konfl ik sipil yang menyebabkan ak- ses ke lokasi bersangkutan menjadi tidak mungkin. Dengan kata lain, da- lam penanganan bencana, terdapat banyak pertentangan. Meskipun de- mikian, karakteristik dasar dari se- tiap jenis bencana khusus dan emer- gensi dan tindakan-tindakan respon yang memadai dapat disusun berda- sarkan kriteria dari masing bahaya sebagaimana berikut ini:

• Fenomena sebab akibat

• Pengaruh dan karakteristik umum

• Kemungkinan peramalan

• Faktor-faktor yang memberi an- dil pada kerentanan

• Pengaruh-pengaruh khusus (yang ditimbulkannya)

• Tindakan pengurangan risiko yang mungkin

• Tindakan kesiapan khusus

• Kebutuhan umum paska ben- cana

Dijelaskan lebih lanjut dalam model DMTP bahwa jenis-jenis ben- cana yang berbeda-beda mempunyai pengaruh-pengaruh khusus yang

unik. Semua tindakan-tindakan ke- siapan, pengaruh risiko, dan respon paska bencana dan emergensi harus mempertimbangkan dan mengantisi- pasi hal-hal berikut:

1) Pengaruh gabungan dari je- nis bencana yang berbeda muncul secara gabungan, misal: gempa bumi dan tanah longsor;

2) Pengaruh bencana yang be- rurutan, yaitu etika satu bencana menyebabkan muncul bencana yang lain yang mengikutinya, sebagai con- toh: gempa bumi yang menyebabkan tsunami;

3) Kedahsyatan dari dampak aktual sebuah bencana terhadap masyarakat bergantung pada faktor- faktor organisasi dan manusia serta faktor-faktor topografi s dan alam.

Karakterisasi dasar dari setiap je- nis bahaya (potensi bencana) adalah salah satu hal yang harus dilakukan dalam urutan tahap-tahap manaje- men bencana. Tabel penyajian ka- rakteristik umum bencana geologi di bawah ini dikutip dari modul DMTP beberapa modifi kasi (perbaikan dan konsistensi terjemahan).

Implementasi karakter bahaya tersebut harus pula disesuaikan dengan kekhasan dari kondisi se- tempat. Setiap potensi bahaya atau bencana geologi pada kenyataannya memiliki karakter khas masing-ma- sing. Dengan demikian, Tabel 2 sam- pai Tabel 5 itu merupakan panduan umum untuk penyajian karakter da- sar setiap bahaya geologi.

Bahaya Geologi Indonesia

Bangsa Indonesia memang di- takdirkan untuk hidup di wilayah tektonik aktif yang setiap saat berpo- tensi menimbulkan bencana geologi. Oleh karena itu, kita memang harus mengenal dan akrab dengan potensi bencana geologi atau fenomena geo- logi yang berpotensi menimbulkan bahaya geologi (geo-hazards). Bebe- rapa fenomena geologi yang sewak- tu-waktu dapat berkembang menjadi bahaya geologi dan berlanjut menjadi bencana geologi yang berada di seki- tar kita adalah:

• Sebanyak 79 gunung api ak- tif yang tersebar di Busur Vulkanis Sumatera-Jawa-Bali -NTT-Sulawesi sampai ke Maluku. Sebaran dan jum- lah gunung api aktif (Tipe-A) beserta gunung api jenis lainnya. Akhir-akhir ini empat di antaranya, yaitu Gu-

FOKUS KITA

Jenis bahaya geologi I Letusan Gunung Api

Fenomena sebab akibat : Magma dan gas-gas yang terlarut terdorong oleh tekanan hingga keluar lewat lubang vulkanik (kawah)

Pengaruh dan

karakteristik umum :

• Tipe gunung api

• Magma yang mengalir keluar pada permukaan adalah lava dan semua partikel padat yang dikeluarkan adalah tephra

• Kerusakan sebagai akibat dari jenis material yang dikeluarkan seperti: abu, aliran abu panas (ledakan gas yang mengandung abu dan bagian-bagian kecil partikel; awan panas), lahar, runtuhan, dan aliran lava

Kemungkinan Peramalan :

• Studi sejarah geologi tentang gunung api – terutama sekali yang terletak di jalur vulkanik yang dapat diidentifi kasi dengan jelas, seiring dengan aktivitas seismic dan observasi-observasi lainnya, dapat mengindikasikan satu gunung api yang akan muncul

• Tidak atau belum ada indikator yang dapat dipertanggung- jawabkan yang telah ditemukan dan tanda-tanda awal letusan gunung api tidak selalu muncul

Faktor-faktor yang memberi andil pada kerentanan

:

• Tempat hunian yang berada di lereng gunung api

• Tempat hunian pada jalur aliran lahar dan jalur aliran lava

• Bangunan dengan rancangan atap yang tidak kuat menampung akumulasi debu

• Adanya material yang dapat terbakar

• Tidak-adanya rencana evakuasi atau sistem peringatan

Pengaruh-pengaruh

khusus yang merugikan :

Korban dan kesehatan – Kematian yang disebabkan oleh aliran abu panas, aliran lahar dan kemungkinan aliran lava dan gas- gas beracun. Luka-luka yang disebabkan oleh batu-batu yang berjatuhan, terbakar; kesulitan bernafas karena gas dan abu

Hunian, infrastruktur dan pertanian – Kerusakan total atas segala sesuatu yang berada pada jalur abu/awan panas, lahar, atau aliran lava (daerah bahaya); runtuhnya bangunan karena beban lahar/ abu basah, banjir, tertutupnya jalan atau sistem komunikasi

Tanaman pangan dan cadangan pangan – Rusaknya tanaman pangan yang berada pada jalur aliran abu dapat mematahkan atau mematikan padi dan cabang-cabang pohon, ternak mungkin menhirup gas beracun atau abu; sawah dan lahan berumput dapat terkontaminasi atau hancur terkena abu/awan panas

Kemungkinan tindakan pengurangan risiko :

• Perencanaan penggunaan lahan untuk tempat tinggal di sekitar gunung api

• Tindakan-tindakan perlindungan struktural

Tindakan-tindakan

kesiapan khusus :

• Rencana-rencana darurat gunung api nasional

• Pengawasan gunung api dan sistem peringatan

• Pelatihan aparat pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam SAR, pemadaman api

Kebutuhan-kebutuhan khusus paska bencana :

• Peringatan dan evakuasi

• Bantuan medis

• SAR

• Pemberian makanan, air dan tempat perlindungan

• Relokasi korban

• Menyediakan bantuan fi nansial

Alat-alat penilaian

dampak :

• Survei udara dan daratan untuk menilai kerusakan

• Evaluasi rencana evakuasi dan respon emergensi

Tabel 2. Karakteristik dasar (karakteristik umum) bahaya Letusan Gunung Api

Salah satu karakter khas bahaya Gunung Api Merapi adalah awan panas (Gambar 9A) dan karakter khas bahaya Gunung Api Kelut adalah danau kawah (Gambar 9B).

FOKUS KITA

Jenis bahaya geologi II : Gempa bumi

Fenomena sebab akibat : Pergeseran atau perpindahan batuan kerak bumi di sepanjang daerah patahan yang bergetar hingga kembali kedalam susunan kesetimbangan yang baru

Pengaruh dan karakteristik

umum :

• Bergetarnya bumi yang disebabkan oleh gelombang pada bagian bawah hingga bagian permukaan bumi

• Kerentanan permukaan bumi

• Goncangan

• Tsunami

• Gempa bumi, vibrasi

• Likuifaksi

• Tanah longsor

Kemungkinan peramalan :

Kemungkinan pemunculannya dapat ditentukan, tetapi waktu yang tepat kemunculannya tidak dapat dipastikan. Peramalan didasarkan pada pemantauan aktivitas seismik, sejarah gempa yang sudah terjadi dan daerah yang dipengaruhinya, dan observasi

Faktor-faktor yang memberi andil pada kerentanan :

• Lokasi hunian di daerah seismik

• Bangunan-bangunan yang tidak tahan terhadap gerakan tanah

• Kompleks bangunan yang padat dengan tingkat hunian yang tinggi

• Kurangnya akses terhadap informasi tentang risiko gempa

Pengaruh-pengaruh khusus

yang merugikan :

Kerusakan fi sik – Kerusakan atau hilangnya bangunan atau infrastruktur; kebakaran, jebolnya bendungan, tanah longsor, kemungkinan terjadinya banjir

Korban – Sering kali banyak, khususnya di dikat pusat gempa atau pada daerah-daerah yang berpenduduk tinggi atau di sekitar bangunan- bangunan yang tidak tahan gempa

Kesehatan umum – Luka karena retak tulang merupakan masalah umum. Ancaman berikutnya: banjir, cadangan air yang terkontaminasi, dan rusaknya fasilitas-fasilitas sanitasi

Cadangan air – Kemungkinan munculnya masalah serius yang disebabkan oleh rusaknya sistem-sistem air (perpipaan, irigasi), polusi pada sumber- sumber air dan perubahan tata air

Kemungkinan tindakan

pengurangan risiko :

• Pemetaan bahaya

• Pelatihan dan program kesadaran umum

• Penilaian dan pengurangan kerentanan struktural

• Kontrol penggunaan lahan atau zonasi, peraturan

• Pembangunan dan asuransi

Tindakan-tindakan kesiapan

khusus : Peringatan akan bahaya gempa dan program-program

Kebutuhan-kebutuhan khusus

paska bencana :

• Mencari dan menyelamatkan (SAR)

• Bantuan medis emergensi

• Kebutuhan-kebutuhan pemulihan kerusakan dan survei penilaian

• Reparasi dan rekonstruksi

• Pemulihan ekonomi

Alat-alat penilaian dampak : • Skala (Mercalli yang dimodifikasi, MSK), formulir kegunaan dan kerusakan

Dokumen terkait