Pembaca yang budiman,
Setelah letusan Gunung Api Merapi mereda, tanah air Indonesia kembali diguncang bencana alam besar: gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami di kawasan selatan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Sementara itu, ben-cana yang berkaitan dengan fenomena geologi, seperti semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, belum juga berhenti. Dalam suasana duka karena bencana-bencana tersebut, Warta Geologi (WG) kini hadir kembali menemui Anda semua.
Kita memang hidup di kawasan rawan bencana. Ka-rena itu, upaya-upaya pemahaman yang mendalam ten-tang bahaya-bahaya kebumian (geo-hazards) dan konsep penanganan bencana yang ditimbulkannya sangat pen-ting untuk terus menerus dipen-tingkatkan. Di dalam peraturan tentang organisasi tatalaksana kepemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral, aspek terkait geo-ha-zards ini tercakup dalam istilah “bencana geologi”. Da-lam peraturan tersebut, salah satu satuan kerja di bawah Badan Geologi bernama “Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi”.
Kinerja yang optimal dalam penanganan bencana memerlukan pemahaman yang lengkap tentang makna berbagai istilah dan implikasinya. Istilah-istilah seperti “bahaya” dan “bencana” menyiratkan tahap-tahap terten-tu dari langkah penanggulangan kejadian bencana, baik sebelum, selama, dan sesudahnya. Semuanya harus di-pahami secera proporsional. Sementara itu, hasil-hasil di bidang penanganan bencana, perlu disosialisasikan untuk diketahui bersama seluruh komponen masyarakat. Dengan demikian, sesesuai dengan falsafah bahwa pe-nanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, setiap anggota masyarakat berpeluang mengetahui dan berkontribusi dalam penan-ganan bencana.
Fokus KitaWG edisi keempat ini memperbincangkan konsep penanganan bencana, bahaya geologi dan mitiga-si bencana geologi di Indonemitiga-sia. Melalui kaji ulang tentang kebencanaan ini, khususnya bencana geologi, akan dipe-roleh umpan balik gambaran tentang apa yang dimiliki, kerangka persoalan yang dihadapi, agenda, dan prioritas pelaksanaan upaya dalam rangka mitigasi bencana geolo-gi dan kinerja manajemen bencana yang baik.
Pembaca yang budiman,
Tatanan geologi Indonesia yang terletak di atas tiga lempeng tektonik, selain memberikan sumber daya ke-bumian (geo-resources) yang kaya, dan lingkungan bumi (geo-environment) yang beranekaragam, juga ancaman bahaya kebumian (geo-hazards) yang sangat tinggi, baik ragam maupun persebarannya. Besarnya bahaya geologi Indonesia dan tingginya frekuensi kejadian bencana yang diakibatkannya merupakan bukti bahwa kita memang
me-mang hidup di wilayah yang rawan bencana.
Dalam literatur-literatur tentang mitigasi bencana (lihat misalnya: Wikipidea) dinyatakan bahwa mitigasi (bencana) adalah bagian dari manajemen bencana (disaster mana-gement) atau manajemen darurat (emergency manage-ment). Manajemen bencana meliputi: penyiapan, dukun-gan, dan pembangunan kembali suatu masyarakat yang terkena bencana alam (natural disaster) atau bencana buatan (man-made disaster). Manajemen bencana adalah suatu proses yang harus diselenggarakan terus menerus oleh segenap pribadi, kelompok, dan komunitas dalam mengelola seluruh bahaya (hazards) melalui usaha-usaha meminimalkan akibat dari bencana yang mungkin timbul dari bahaya tersebut (mitigasi).
Mitigasi adalah bagian atau salah satu tahap dalam penanganan bencana. Tahap mitigasi - dalam maknanya yang berarti kesiapsiagaan atau kewaspadaan - adalah cara yang murah dalam mengurangi akibat bahaya-bahaya yang dihadapi masyarakat dibandingkan dengan tindakan lainnya, seperti: evakuasi, rehabilitasim dan rekonstruksi. Mitigasi harus dilakukan baik secara bersama-sama mela-lui agenda Pemerintah, maupun sendiri-sendiri; baik saat dan paska kejadian, maupun sebelum kejadian. Karena itu, konsep mitigasi dan tahap lainnya dari manajemen bencana, serta irisan dan kesalingterkaitan diantara ta-hapan-tahapan tersebut perlu dipahami sebelumnya oleh siapa pun yang terlibat dalam penanganan bencana.
Seluruh geo-hazards atau potensi bencana (disaster) tersebut harus dinilai atau dievaluasi serta dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi bencana. Penilaian tersebut berkenaan dengan aspek fi sik bumi sebagai fokus perhatiannya dikenal sebagai analisis geo-risk. Identifi kasi geo-risk, sebagaimana identifi kasi resiko-resiko lainnya, memang merupakan salah satu indikator berlangsungnya suatu mitigasi bencana dalam makna yang luas. Profi l WG kita kali ini tentang tokoh yang banyak berkiprah dalam ka-jian geo-risk melengkapi informasi yang diperlukan tentang mitigasi bencana, khususnya bencana geologi.
Pembaca yang budiman,
Selain menampilkan profi l kita kali ini, Ir. Hardoyo R, fo-kus kita, beberapa artikel khas kegeologian, WG edisi ke-empat ini juga menyajikan berita-berita di sekitar aktivitas unit-unit berikut staf-stafnya di lingkungan Badan Geologi menjelang peringatan ulang tahun kemerdekaan Republuk Indonesia yang ke-61, 17 Agustus 2006. Dalam WG edisi kali ini pembaca juga disuguhi berita-berita dan laporan-laporan kegiatan koordinasi, dan kepemerintahan Badan Geologi. Selain itu, WG edisi ke-4 ini mulai menyajikan rubrik baru, yaitu: geologi populer dan wawasan.
Selamat menikmati Warta Geologi edisi keempat!
Oman Abdurahman
Bencana: Konsep Penanganan dan Mitigasinya
PROFIL
Dalam rangka menyiapkan bahan
Profi l, WG yang diwakili oleh Joko
Par-wata dan Bunyamin, telah diterima oleh
Pak Hardoyo di gedung Pusat
Ling-kungan Geologi (PLG) untuk
wawan-cara. Berikut ini transkripsi wawancara
dengan beliau:
Tanya (T): Bisa bapak ceritakan tentang
keluarga Bapak?
Jawaban ( J)
: Istri saya satu, namanya
Endang Lestari sebagai ibu rumah
tang-ga. Anak saya dua dan keduanya laki-laki.
Anak-anak saya tidak ada yang
mengik-uti jejak bapaknya. Anak yang pertama
namanya Aditio Baskoro Hardoyo,
bu-lan Agustus lalu baru lulus dari Desain
Komunikasi Visual, STISI, Bandung. Dia
memang punya hobby fotografi . Anak
yang kedua, Pradipto Isworo Hardoyo,
juga kuliah di jurusan yang sama dengan
kakaknya tetapi sekarang baru Semester
5 di STTN. Sama dengan kakaknya, dia
suka gambar tetapi gambar yang
berge-rak, ya mungkin di bidang fi lm.
Pak Hardoyo bersama keluarga bertempat
tinggal di Jln. Sepakbola No. 7 Arcamanik,
Bandung 40293, Telepon: 022-7208732.
T: Asal Bapak?
J:
Saya lahir di Solo. Istri juga asal Solo.
Kami bertemu saat kuliah di UGM.
Pak Hardoyo lahir di Surakarta (Solo)
tang-gal 30 Oktober 1950.
T: Apa obsesi Bapak yang belum tercapai?
Pro
fi
l dalam kesempatan kali ini menampilkan Pak Hardoyo. Beliau
memiliki nama lengkap Ir. Hardoyo Rajiowiryono, M.Sc., dan saat ini
menyandang tugas sebagai Kepala Bidang Informasi pada Pusat
Lin-gkungan Geologi, Badan Geologi.
Dalam lingkup tugas yang diembannya, Pak Hardoyo sebelumnya
hin-gga saat ini terlibat secara aktif dalam kegiatan geo-risk (geohazard risk)
yang merupakan kerja sama di bawah payung GTZ antara Pemerintah
Jerman yang diwakili oleh BGR dan Pemerintah Indonesia yang diwakili
oleh DESDM (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral). Kegiatan
geo-risk sangat erat terkait - bahkan merupakan bagian dari -
mitiga-si bencana. Sebagaimana akan kita lihat nanti, apa yang terkandung
dalam Pro
fi
l kali ini menunjang Fokus Kita nomor ini yang membahas
seputar mitigasi bencana geologi, khususnya berkenaan dengan aspek
geo-risk.
Dalam pencarian bahan sumber penulisan Pro
fi
l WG kali ini,
redak-si menggunakan metode wawancara seperti biasanya, namun dalam
penuangannya ada sedikit perbedaan. Kali ini redaksi mencoba
me-nurunkan hasil wawancara dengan cara hampir apa adanya
sebagai-mana wawancara tersebut telah dilakukan. Beberapa tambahan narasi
sebagai pengantar atau catatan, apabila dipandang perlu, disertakan
pada setiap pertanyaan atau butir-butir substansi yang ditanyakan
da-lam wawancara (tulisan miring). Seda-lamat membaca!
Mengenalkan Geo-risk
sebagai bagian dari Mitigasi Bencana
PROFIL
Dalam jawaban Pak Hardoyo di bawah
ini tergambar cita-cita beliau tentang peran
geologi dalam pembangunan. Geologi
seha-rusnya menjadi dasar pengembangan
wila-yah/penataan ruang.
J
: Saya ingin
Peranan Geologi
da-lam Penataan Ruang dan Lingkungan
menonjol dalam pembangunan
. Selama
ini di Indonesia peranannya sangat
ku-rang, karena disini kita punya kebiasaan
“sesuatu” kalau belum diatur oleh
institu-sinya, maka dianggap belum ada
peratu-rannya. Kelemahannya di situ. Saya ambil
contoh, di Malaysia ada yang namanya
Town Planning Act. Di situ disebutkan
bahwa
“setiap pembangunan kota baru
atau perluasan wilayah perkotaan harus
memperhatikan kondisi bawah
permu-kaan (sub surface)”.
Dan setiap orang di
sana sudah tahu bahwa kalau berbicara
bawah permukaan itu berarti berbicara
geologi. Dan departemen yang
menanga-ni hal imenanga-ni adalah Departemen Geologi
Malaysia. Jadi kalau ada apa-apa ya...
langsung ke Departemen Geologi-nya
bukan ke yang lainnya. Sementara di
In-donesia masing-masing sektor berusaha
membuat peraturan, masing-masing
pe-raturan itu tumpang-tindih dan berbeda.
Dan kita (Badan Geologi red.) yang
be-lum memiliki Undang-Undang Geologi,
oleh orang dianggap tidak memiliki
ke-wenangan untuk mengatur Geologi
un-tuk macam-macam kegunaan, nah ini
yang jadi masalah utama.
T: Oh, ya...bagaimana ceritanya Bapak
bisa tertarik menjadi geolog?
Selain menceritakan asal mula
ketertari-kannya dalam bidang geologi, Pak Hardoyo
dalam jawaban beliau di bawah ini
mence-ritakan hasil temuan (metode) beliau yang
dijadikan rujukan dalam aplikasi geologi
untuk tata ruang di Indonesia. Riwayat
pendidikan dan karir beliau selengkapnya
disertakan di bagian akhir jawaban ini
se-bagai catatan tambahan.
J
: Saya memang beda, sejak kelas 3
SMA saat kumpul-kumpul bersama
te-man dan ditanya mau milih melanjutkan
sekolah kemana. Kita berpikir bahwa
Indonesia itu sumber dayanya sangat
banyak. Kita ngertinya waktu itu cuman
sumber daya, belum tahu
bagian-bagi-annya, apa yang di bawahnya, dll. Ya….
Sebetulnya saya sudah berpikir untuk
mengembangkan
resources Indonesia,
khususnya bawah permukaan.
Setelah menamatkan SMA-nya, Pak
Har-doyo melanjutkan pendidikannya di Jurusan
Teknik Geologi, Fakultas Teknik,
Universi-tas Gajah Mada dan selesai sebagai sarjana
geologi pada Tahun 1980. Kemudian beliau
melanjutkan studinya di Department of
Geology, University of Wollongong,
Austra-lia dengan meraih gelar master science
(ho-nours) in geology, majoring in
environmen-tal geology, pada Tahun 1990.
Tahun 1978 sewaktu kuliah tingkat 5
saya bersama teman-teman diajak Caltex
untuk keliling Indonesia melihat
per-tambangan minyak. Ada 15 mahasiswa
dari UGM, 15 dari ITB. Ya, ceritanya
mau direkrut mereka. Setelah jalan-jalan
itu bukannya tertarik bekerja di
permi-nyakan tetapi justru saya tidak tertarik
kerja di sana karena suasana kerja yang
tidak sesuai dengan hati. Waktu itu
atu-rannya memang amat ketat. Para pegawai
ditempatkan di mess khusus dan tidak
bercampur dengan dunia luar.
Setelah itu saya mulai membaca
mengenai berbagai hal, terutama
tulisan-nya Pak Suharto Wongso Sentono dan
Pak Mulyono Purbo, yang secara tidak
langsung saya anggap sebagai guru saya.
Kemudian waktu membuat tesis, saya
mengajukan judul Geologi untuk Tata
Ruang, dan saya kira waktu itu
meru-pakan tesis yang pertama dibuat
maha-siswa.
dipa-PROFIL
kai dasar untuk penyusunan Tata Ruang
Kabupaten Serang dan Kota Cilegon.
Se-mua departemen yang terlibat dan terkait
melakukan rapat dipimpin langsung oleh
Bapak Emil Salim. Hasil rapat ternyata
memilih usulan metode dan survei saya.
Ya, bangga karena dianggap terbaik oleh
Bapak Emil Salim mengalahkan yang
lain termasuk dari Kimpraswil.
Kelebihan survei saya adalah adanya
faktor pendukung (supporting factor) dan
faktor kendala (risk factor). Saya
tunjuk-kan dalam usulan saya bagaimana
topo-grafi nya, fondasinya, air tanahnya, dan
rawan longsor atau tidak. Saya udah bisa
ngomong begitu waktu itu. Di sini
pan-tainya lunak..jadi rawan erosi. Ya..setiap
tempat saya kasih skor, atau bobot
se-hingga rapat yang dipimpin Bapak Emil
Salim memilih usulan saya.
Ini yang sekarang saya tekuni dan
kembangkan, apalagi dengan adanya
Sistem Informasi Geografi s menjadi tool
untuk analisis, metode ini jadi semakin
berkembang.
Sejak masuk di DGTL (PLG
seka-rang), DESDM, 1981, riwayat pekerjaan
Pak Hardoyo berturut-turut adalah
seba-gai berikut: Staf Seksi Geologi Lingkungan
Pantai (1981-1993), Kepala Seksi Geologi
Lingkungan Perkotaan (1993-1998),
Ke-pala Sub Dit Analisis dan Informasi
(1998-2001), Pejabat Harian (PH) Kepala Sub
Direktorat Geologi Lingkungan Perkotaan
dan Daerah (2000-2001), Kepala Sub
Di-rektorat Geologi Lingkungan Perkotaan dan
Regional (2001-2005), dan Kepala Bidang
Informasi (2001-sekarang).
Di lingkungan tugas-tugas non
struk-tural, Pak Hardoyo juga sangat aktif. Hal
ini terlihat dari karir beliau sebagai
be-rikut: Anggota Tim Teknis Amdal
Departe-men Energi dan Sumber Daya Mineral
(1993–kini), Pimpinan Redaksi Buletin
Tata Lingkungan (1994-1998), Anggota
Tim Penelitian Laut Indonesia
(1994-1996), Anggota Tim Evaluasi
Pembangu-nan Bandung Utara dan Kawasan Puncak
(1977), Anggota Tim CCOP Coastplan
Project (1997-1999), Anggota Redaksi
Buletin Geologi Tata Lingkungan
(1999-2005), PH Sekretaris Tim Teknis Amdal
Direktorat Jenderal Geologi dan
Sumber-daya Mineral (2000-2005), dan Kepala
Tim Indonesia untuk Geo-risk Project
(2003–sekarang).
T : Selama ini (aplikasi metode
tersebut-red) untuk daerah lain atau skala regional
bagaimana?
J:
Kelihatannya ada hal yang
meng-gembirakan. Dengan adanya kegiatan
sosialisasi kami juga mengundang
sektor-sektor lain yang terkait seperti LH, PU,
Bappeda, Bappedal, dan NGO ternyata
banyak permintaan metode saya gunakan
untuk diterapkan.
Satu lagi hal yang menggembirakan,
ketika saya mewakili departemen untuk
presentasi-presentasi di Bappenas, saya
banyak ketemu dengan NGO (LSM)
dan salah satu dosen Planologi senior
dari ITB Pak Tjuk Kuswartoyo yang
tertarik dengan metode saya. Kebetulan
beliau bekerja untuk UNDP, beliau selalu
meminta bantuan saya untuk
menerap-kan metode saya untuk Indonesia Timur.
Dan kemarin saat kegiatan
rekon-struksi dan rehabilitasi Aceh, ternyata
hasil survei di Aceh banyak sekali
per-mintaan dan telah beredar luas di
badan-badan internasional yang beroperasi di
Aceh.
T: Dulu Bapak menjadi
Kasub-dit Geologi Lingkungan
seka-rang namanya menjadi Pokja,
terobosan apa yang sedang
Ba-pak kerjakan?
J:
Sub bidang yang sedang
saya pegang sekarang adalah
Sub Bidang Informasi. Jadi
saya mempunyai keleluasaan
melakukan dalam
penyebar-luasan informasi. Rencananya
akan memperbanyak kegiatan
sosialisasi. Karena kebutuhan
masyarakat memang ada dua
jenis: hasil-hasil survei dan hasil
peng-embangan. Masyarakat membutuhkan
hasil-hasil survei geologi juga hasil
peng-embangan atau riset di bidang Tata
Ru-ang dan Lingkungan. Saya memberikan
masukan agar pekerjaan teman-teman di
bagi dua: tetap melakukan survei dan
te-rus melakukan in-house riset untuk
peng-embangan.
T: Kerjasama atau koordinasi dengan
De-partemen PU bagaimana?
J:
Secara umum belum, tetapi setelah
berbagai kejadian bencana, kelihatannya
teman-teman dari PU mulai menyadari
pentingnya
zoning bencana. Kita sambil
menyiapkan rancangan Perpres Kawasan
Lindung Geologi. Tampaknya peraturan
ini banyak diadopsi oleh PU, kebetulan
mereka sedang merevisi PP Tata Ruang
dan menjanjikan peran aspek geologi
akan semakin kuat.
Terobosan yang telah dirintis Pak Hardoyo
dalam bidang sosialisasi aplikasi geologi
untuk tata ruang diyakini akan terus
ber-lanjut mengingat hubungan dan aktivitas
beliau dalam organisasi-organisasi profesi
dan kemasyarakatan cukup luas dan
ba-nyak. Diantaranya, beliau telah dan sedang
aktif dalam organisasi profesi dan
kemasy-arakatan berikut: Anggota Pemuda Pelajar
Indonesia (PP) Australia (1988 – 1990),
Sekretaris PPI University of Wollongong
(1989 – 1990), Anggota Ikatan Ahli
Ge-ologi Indonesia (IAGI) (1995 – sekarang),
Anggota Masyarakat Penginderaan Jauh
Indonesia (MAPIN) (1977 – sekarang),
Kepala Biro Publikasi IAGI merangkap
Pimpinan Redaksi Majalah Geologi
In-“
Saya ingin
Peranan Geologi
dalam Penataan
Ruang dan Lingkungan
PROFIL
donesia (1999 – 2002), dan Humas IAGI
Pusat (2003 – 2005).
T: Apakah geo-risk itu?
Dalam jawaban Pak Hardoyo atas
pertan-yaan tentang geo-risk di bawah ini
tergam-bar bagaimana posisi kegiatan analisis
geo-risk dalam mitigasi bencana atau lebih luas
lagi: dalam manajemen bencana. Diketahui
pula dari uraian beliau yang sejak Tahun
1993 sampai sekarang mengepalai Tim
Indonesia untuk Geo-risk Project, bahwa
mitigasi bencana atau manajemen bencana
dengan geo-risk sebagai salah satu bagian
kegiatannya merupakan alat ukur
pencapa-ian ‘good local government’.
J:
Geo-Risk ini sebetulnya
kependek-an dari Geohazard Risk. Artinya, resiko
ketika kita berdiam atau
mengembang-kan kawasan yang rawan bencana.
Geo-risk adalah nama kerja sama di bawah
Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit
(GTZ) – badan milik pemerintah
Jer-man yang menangani kerja sama teknik
internasional – yang merupakan program
kerja sama teknis antara Pemerintah
Jerman yang diwakili Bundesanstalf für
Geowissenschaften und Rohstoff e (BGR)
– Lembaga Pemerintah Jerman yang
menangani Geosains dan Sumber Daya
Alam – dengan Pemerintah Indonesia
yang diwakili DESDM. Ada satu
pro-gram utama yang bernama “Good Local
Government”. Isi program tersebut adalah
agar kinerja pemerintah daerah menjadi
lebih baik, meningkat, dan lebih
bijaksa-na. Salah satu kunci untuk mencapai good
local government tersebut adalah jika
Pe-merintah Daerah mau mengembangkan
wilayah dan tata ruangnya secara benar,
maka harus mempertimbangkan
aspek-aspek geologi baik supporting mau pun
geo-hazardnya. Jika hal itu dilaksanakan,
berarti kita sudah melakukan mitigasi.
Personil yang terlibat dalam kerja
sama tersebut adalah gabungan dari
In-donesia dan Jerman. Melalui kerja sama
terebut, diharapkan baik transfer ilmu
maupun bantuan bagi daerah. Ada 2 hal
utama yang kita inginkan: 1) menghitung
economic losses, dan 2) menyiapkan dan
membantu Pemda untuk mempersiapkan
masyarakat agar mampu bertahan atau
mampu memanage daerahnya apabila
ter-jadi bencana. Dengan cara itu masyarakat
yang terkena bencana mampu dan cepat
melakukan recovery. Ini yang dinamakan
community base disaster risk management.
Proyek (geo-risk) ini mencakup
ren-tang waktu yang panjang (multiyears),
di-awali tahun 2003 sampai 2005,
diperpan-jang lagi sampai 2006, dan jika
memun-gkinkan akan diperpanjang sampai 2009.
Ada 3 expatriat yang terlibat secara long
term, yaitu: Manager Proyek (Dr. Ranke),
1 orang ahli database, dan 1 orang ahli
GIS. Namun, yang disayangkan justru
expert datangnya tidak pasti kadang 3
bu-lan sekali, sehingga kita tidak dapat
mela-kukan transfer knowledge setiap saat.
T: Apa kegiatan-kegiatan yang dilakukan
dalam geo-risk tersebut dan apa
produk-produknya?
Dalam paragraf di bawah, Pak Hardoyo
mengelaborasi lebih lanjut sekitar kegiatan
geo-risk di 5 daerah di Indonesia sebagai
percontohan.
J:
Ada 5 (lima) pilot project geo-risk
yang sudah dan sedang digarap. Yang
sudah selesai kegiatannya adalah di Ende
dan Maumere (NTT). Dari hasil yang
sudah dicapai, dampaknya untuk Pemda
cukup bagus dan metodenya banyak
diaplikasikan. Bahkan sewaktu melakukan
sosialisasi ke daerah, DPRDnya langsung
memutuskan untuk menaikkan dana
satlak dan memerintahkan Bappeda-nya
untuk menggunakan informasi geologi
sebagai basis penataan ruang.
Untuk tim Aceh kemarin memang
kegiatan
geo-risk tidak terkait, tapi ada
kerjasama khusus antara PLG dengan
Pemda Aceh terkait aplikasi geologi
ling-kungan dalam penataan ruang, terutama
dalam pengembangan aspek
geotek-niknya.
Kembali ke risk. Jadi, fokus
geo-risk adalah memang menghindari
ben-cana tetapi berbasis tata ruang dan
pe-ningkatan atau penguatan kesadaran
masyarakat. Dengan banyaknya bencana
akhir-akhir ini juga ada perluasan
mi-natan kerja. Walaupun fokusnya tetap di
lima lokasi tadi, tapi daerah-daerah
lain-nya yang potensial terkena bencana juga
menjadi fokus garapan ke depan.
T: Terakhir kali, pak. Mungkin ada pesan
dan kesan dari bapak?
J:
(Sambil tersenyum) Saya tidak ada
pesan, nanti takut dianggap menggurui.
Pak Hardoyo memang rendah hati. Beliau
enggan menyampaikan pesan apa-apa
kare-na khawatir dianggap menggurui. Namun,
kita dapat menyimak pemikiran-pemikiran
beliau lebih lanjut dalam karya tulis-karya
tulis beliau yang cukup banyak jumlahnya.
Beberapa karya tulis beliau dalam 3 (tiga)
tahun terakhir adalah:
-
2004, Makalah berjudul Klasifi kasi
Sebagai Dasar Kebijakan
Konser-vasi dan Pengembangan Kawasan
Karst dalam Kumpulan Makalah
Workshop Nasional Pengelolaan
Ka-wasan Karst.
-
2005, Makalah berjudul Evaluation
of Engineering Geology on
Land-slide Occurred at Th e Gombel Hill
Area – Semarang dalam Proceeding
of 3nd International Conference on
Geotechnical Engineering (ISBN)
No. 979-97161-2-8
-
2005, Buku Profi l Lingkungan
Ge-ologi Pulau Jawa (sebagai
Penyunt-ing),
-
2005, Atlas Informasi Geologi
Lingkungan untuk Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Provinsi NAD dan
Pulau Nias (sebagai Penyunting),
-
2005, Atlas Informasi Geologi
Lingkungan untuk Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Pulau Alor dan Nabire
(sebagai Penyunting).
Demikian melalui wawancara, kita
telah mengenal Pak Hardoyo sebagai
salah seorang yang telah merintis aplikasi
geologi (lingkungan) dalam Tata Ruang
di Indonesia berikut selintas gambaran
pemikirannya di bidang tersebut. Semoga
beliau yang akan memasuki masa pensiun
pada akhir bulan Oktober 2006 nanti
panjang umur, sehat selalu, dan senantiasa
dalam lindungan Allah SWT serta tetap
berkiprah dalam bidang geologi dan
implementasinya untuk pembangunan.
SEPUTAR KITA
Kerja Sama Teknik Jerman – Indonesia
PADA tanggal 6 – 8 Juni 2006 bertempat di gedung Badiklat-ESDM Jln. Gatot Subroto, Jakarta telah dilaksanakan Target Oriented Project Planning Workshop on Natural Disas-ter Management. Pembukaan dila-kukan oleh Kepala Badan Geologi, Bambang Dwiyanto M.Sc, dan setelah itu diikuti dengan sambutan-sambu-tan dari Andrea Heyn selaku Kon-sul Bidang Keilmuan dari Kedutaan Besar Jerman; Dr. Manfred Poppe, Good Local Governance-GTZ Projects; Dr. Volker Steinbach, Head of Sec-tion InternaSec-tional CooperaSec-tion Europe, Asia, Oceania; dan Dr. Ulrich Ranke, Georisk Project Manager. Tujuan dari rapat kerja ini adalah untuk meny-amakan pandangan mengenai Geo-risk Project termasuk rencana kerja, susunan anggota tim, bidang yang akan dikembangkan dan penyediaan pera-latan, pelatihan serta penen-tuan tolok ukur dalam pemantauan dan evaluasi kemajuan proyek.
Proyek ini membantu pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten un-tuk menyusun pedoman dan mem-berikan rekomendasi dalam pengu-rangan resiko bencana sejak tahun 2003, dan pada saat ini telah me-masuki fase ke-2. Proyek ini dikelola di bawah kerja sama teknik antara Indonesia dan Jerman dengan Deut-sche Gessellschaaft fuer TechniDeut-sche Zusammenarbeit (GTZ) dari pihak Jerman sebagai pelaksananya.
Pemerintah Indonesia melaku-kan pendekatan kepada Pemerin-tah Jerman pada Pemerin-tahun 1998 untuk mengembangkan kerja sama antara kelompok masyarakat dan pemerin-tah daerah melalui suatu kegiatan pengelolaan perkotaan yang lebih efektif dan difokuskan dalam pengelo-laan resiko akibat bencana alam geo-logi. Pemerintah Indonesia menugas-kan Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, yang sekarang menjadi Badan Geologi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) dan Pusat Lingkungan Geologi (PLG) untuk mencari bantuan teknik dalam bidang ini melalui Ker-ja Sama Teknik Jerman-Indonesia. Di pihak Jerman, Federal Geological Survey (Bundensanstalt fuer Geowis-senschaften und Rohstoffe, BGR) dit-unjuk sebagai pelaksana. Perjanjian antara kedua belah pihak diimple-mentasikan dalam kerja sama teknik untuk pengembangan wilayah timur Indonesia (NTB-NTT).
Sejak awal 2003 sampai akhir 2004 dan sejak Desember 2005 hingga saat ini, kegiatan pemberian bimbingan untuk membantu daerah – daerah terpilih dalam meningkat-kan kemampuan teknis dan kompe-tensi kelembagaan menjadi lebih baik dan lebih beorientasi ke masyarakat dalam bidang pengelolaan bencana alam telah dilakukan. Daerah yang menjadi wilayah kerja adalah
Sema-rang (Jawa Tengah), Yogyakarta, Ka-bupaten Ende, dan KaKa-bupaten Sik-ka. Georisk Project telah memetakan wilayah rawan bencana gunung api dari 3 gunung api (Iya, Kelimutu, dan Egon), kerentanan terhadap longsor, zona gempa dan tsunami di daerah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sik-ka, Nusa Tenggara Timur. Satu tim juga bekerja untuk Community Base Disaster Risk Management (CBDRM) di Kabupaten Sikka and Yogyakarta, dan tim lainnya bekerja meneliti am-blesan tanah di daerah Semarang. Pengalaman-pengalaman itu mem-berikan indikasi yang jelas bagi arah proyek ini kedepan yang di diskusi-kan dalam rapat kerja ini.
Dalam kesempatan ini, mewakili Pemerintah Jerman, Mrs. Andrea Heyn secara simbolis menyerahkan beberapa seismograf kepada Badan Geologi yang diterima oleh Kepala Badan Geologi untuk dipasang dalam usaha pemantauan gunung–gunung api di Flores, dan dalam sambutan-nya Kepala Badan Geologi meminta agar proyek ini sampai tahun 2009 dapat menjadi tempat tukar menu-kar informasi yang pada gilirannya dapat menghasilkan suatu visi ke-depan bagaimana dan dengan target apa pengelolaan bencana yang ber-hubungan dengan geologi ini dapat dilaksanakan dengan baik di Indone-sia. WG(Igan SS).
MENYAMAKAN PANDANGAN
SEPUTAR KITA
4
thIndonesia PPM Case Study Workshop,
13-17 Juni 2006, Jakarta
WORKSHOP ke-4 studi kasus ce-kungan Kutai–Indonesia telah dilak-sanakan dengan sukses pada tanggal 13 – 17 Juni 2006 di Hotel Ciputra, Jakarta. Workshop yang berjudul IOR/EOR technologies and the role of the government in attracting addi-tional/new investments in a mature basin diikuti oleh 42 peserta berla-tar belakang teknis dan manajemen, perwakilan dari 8 negara CCOP.
Workshop ini diselenggarakan atas kerja sama antara CCOP dan PPTMBG “LEMIGAS”, terdiri dari presentasi, diskusi kelompok, dan kunjungan lapangan. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Ba-dan Geologi, Bambang Dwiyanto, M.Sc. selaku Wakil Tetap Indonesia untuk CCOP. Hadir pula pada saat pembukaan Ms Marte Gerhardsen, Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta, Dr Evita H Le-gowo, Kepala PPTMGB “LEMIGAS”, para tamu dari institusi yang berhu-bungan dengan minyak bumi di In-donesia, dan para peserta workshop.
Pembicara utama dalam work-shop ini adalah Mr Gunnar
Soi-land, ahli geologi senior dari Norwe-gian Petroleum Directorate (NPD) dan
Mr Egil Meisingset, Wakil Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ke-mentrian Minyak Bumi dan Energi, Norwegia. Keduanya membagi penga-laman Norwegia dalam pengelolaan yang baik sumber daya minyak bumi, bagaimana mereka mempromosikan pengembangan dan penerapan dari teknologi baru untuk mendapatkan tambahan minyak bumi yang diambil dari lapisan batuan, dan bagaimana pemerintah bekerja sama dengan perusahaan minyak bumi berusaha untuk mencapai tujuan utama yaitu menciptakan nilai maksimum untuk masyarakat dari sumber daya mi-nyak bumi.
Presentasi dari negara-negara CCOP menitikberatkan pembahasan pada teknologi IOR/EOR, baik yang telah diterapkan ataupun yang ma-sih dalam penelitian. Beberapa pre-sentasi juga menyoroti kerja sama dan strategi pemerintah, yang didu-kung oleh kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi mi-nyak bumi yang pada gilirannya
da-pat meningkatkan kondisi ekonomi negara yang bersangkutan. Diskusi kelompok dan presentasi disiapkan untuk membuka kesempatan bagi para peserta bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam berbagai bi-dang yang berhubungan dengan to-pik workshop.
Secara umum, workshop ini mem-berikan kesempatan kepada para pe-serta untuk belajar dan mendapatkan informasi dalam penerapan teknologi baru dalam meningkatkan produksi minyak dan gas, dan juga informasi mengenai strategi pemerintah untuk menarik investasi tambahan maupun baru dalam bidang minyak dan gas bumi yang seperti yang telah dilaku-kan oleh Norwegia dan negara-negara CCOP lainnya.
Workshop ini diakhiri dengan kunjungan ke Taman Safari Indone-sia yang berlokasi di Bogor. Work-shop ini juga merupakan workWork-shop terakhir dalam rangkaian studi ka-sus PPM Indonesia.
(Prima M. Hilman)
SEPUTAR KITA
HATI-hati memilih teman. Salah memilih teman bahaya akibatnya. Ini berlaku terutama bagi anak-anak muda yang masih berjiwa labil dan kurang perhatian orang tua. Data se-buah polling terhadap para pecandu narkoba yang tertangkap mengun-gkapkan penyebaran narkoba paling banyak bermula dari ajakan teman.
Demikian disampaikan pada aca-ra ceaca-ramah “Bahaya Narkoba dan Permasalahannya” (4/7) di Audi-torium Badan Geologi yang diikuti oleh 267 putra-putri pegawai Badan Geologi. Hadir sebagai penceramah AKBP Drs. Asep Jaenudin dari Kasat Narkoba Polwiltabes Bandung dan Drs. Jhoni Alwi, S.H., Ketua Dewan Pengurus Pusat Gerakan Narkoba
CERAMAH BAHAYA NARKOBA DAN PERMASALAHANNYA
DI BADAN GEOLOGI
JANGAN SALAH PILIH TEMAN
Propinsi Jawa Barat.
Lebih lanjut, Drs. Jhoni Alwi men-gutarakan, untuk mencegahnya ada-lah dengan memperkuat keimanan, memilih lingkungan pergaulan yang sehat, dan menjalin komunikasi yang baik antar anggota keluarga.
Dalam acara tanya jawab ditam-pilkan tiga orang remaja yang per-nah terjerumus menjadi pemakai narkoba, dan saat ini sembuh setelah menjalani pengobatan. Selain itu di-gelar pula acara pemutaran fi lm ten-tang bahaya narkoba dan hiburan.
Acara yang digelar oleh Sub Unit Nasional Korpri Badan Geologi Bi-dang Pemberdayaan Perempuan ini ditutup dengan acara Door Prize. ***
(Lilies Marie)
GEMPA BUMI GUNCANG
YOGYAKARTA DAN
BANTUL
SAAT perhatian pemerintah dan masyarakat Indonesia tercurah kepa-da letusan kepa-dan penanganan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, pada hari Sabtu (27/05) bencana gempa bumi berkekuatan 6,2 Mw atau 5,6 Skala Richter secara tiba-tiba meng-guncang Yogyakarta dan Bantul. Akibat bencana ini sebanyak 5.400 orang tewas dan puluhan ribu rumah termasuk prasarana publik rusak.
Gempa bumi yang terjadi sekitar pukul 05.54 WIB pagi ini disebabkan oleh aktivitas patahan/sesar aktif di daerah bagian selatan Yogyakarta berarah barat daya-timur. Berda-sarkan pusat informasi gempa bumi USGS Amerika Serikat, gempa itu terjadi pada kedalaman 17,1 kilome-ter dengan lokasi pusat gempa kilome- terle-tak di dekat pantai pada koordinat 8,0070 LS - 110,2860 BT atau terletak pada posisi kurang lebih 25 kilometer
barat daya Yogyakarta dan sekitar 115 kilome-ter selatan Kota Sema-rang.
Getaran gempa bumi itu dirasa-kan oleh masyarakat Yogyakarta, pantai selatan Yogyakarta, Jawa Ti-mur bagian Selatan serta sebagian wilayah di Jawa Tengah. Goncangan gempa itu terasa kuat pada daerah-daerah yang disusun oleh endapan batugamping dan endapan gunung-api yang bersifat urai, sehingga ren-tan terhadap guncangan gempa bumi dan berpotensi merusak bangunan di atasnya. Gempa bumi itu bersumber di dekat pantai, sehingga tidak berpo-tensi menimbulkan tsunami, namun getaran gempa tersebut sangat besar, disebabkan oleh getaran yang besar dan kedalaman yang dangkal, maka gempa seperti ini dikategorikan seba-gai gempa bumi yang merusak.
Dalam peta wilayah gempa bumi merusak di Indonesia yang dikeluar-kan oleh Badan Geologi, gempa bumi di Yogyakarta termasuk dalam gempa bumi merusak tingkat tujuh dengan skala MMI (kerusakan) mencapai 6-7, dan Badan Geologi melalui PVG telah mengirimkan tim tanggap darurat ke lokasi gempa tersebut. Patahan aktif yang terpantau di daerah tersebut membentang mulai dari batas pantai Sabden-Bantul-Yogyakarta hingga mencapai Prambanan. Pada zona patahan tersebut terjadi kerusakan bangunan dan infrastruktur yang pa-rah sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa.
(Prima M. Hilam) Tanya jawab dengan tiga remaja yang per-nah terjerumus narkoba.
GEOLOGI POPULER
EVOLUSI DAN JEJAK PARA AHLI GEOLOGI
EVOLUSI adalah masalah klasik. Banyak orang menganggapnya se-buah teori belaka dan tak lebih dari cerita masa lalu. Karena itu, hanya segelintir orang yang mau menggali-nya lebih jauh. Namun, sesungguh-nya, sangatlah menarik untuk mem-pelajari berbagai teori asal-usul ke-hidupan serta spekulasinya terhadap perubahan-perubahan di permukaan bumi. Sejarah geologi dan aspek bio-logi menantang untuk dipelajari guna mengungkap sejarah kehidupan di alam.
Peneliti paska Darwin mencari formula baru untuk mempelajari evolusi dengan berusaha mencari kronologi-kronologi yang paling te-pat. Ahli evolusi berbeda pendapat dalam mengungkap teori tersebut. Banyak di antara kita sudah fami-liar dengan Henry Fairfi eld Osborn, penulis The History of Natural Sci-ence. Osborn mampu bercerita ber-bagai teori kehidupan di alam yang semuanya mengandung argumen
dalam berbagai citarasa. Akan tetapi, manakah diantara teori-teorinya itu yang benar? Apakah hanya sebuah whitewash atau kamufl ase?
Scientifi c blunder dan teori evo-lusi organik
Akhir-akhir ini banyak ilmuwan mengungkapkan bantahan terhadap teori-teori tentang evolusi yang telah bertahun-tahun dianut para ilmu-wan. Hal itu merupakan dinamika ilmu pengetahuan. Namun, ketika penemuan-penemuan baru dikemu-kakan dan membantah teori yang ada, biasanya pemilik atau penga-nut teori lama memberikan argumen yang merujuk ke peristiwa masa lalu yang tidak dapat dibuktikan kebenar-annya. Jadilah hal itu sebuah speku-lasi. Teori-teori yang dipertahankan semacam itu sekarang dikenal se-bagai The Chief of Scientifi c Blunder: kekeliruan ilmiah karena beberapa ketidaktelitian di awal tetapi diang-gap benar, dianut terus menerus dan tidak ada yang berusaha mengung-kapkan kebenarannya.
Banyak penulis mengatakan ba-hwa orang-orang Yunani Kuno ada-lah kaum evolusioner. Hal tersebut hanya sebagian yang benar. Orang-orang Yunani Kuno itu adalah pe-muja dewa dan mereka tentu mem-percayai berbagai hal yang terkait dengan kisah para dewa. Layaknya terhadap teori evolusi, mereka taat dan mempercayai para dewa secara turun-menurun. Aliran semacam ke-taatan kepada para dewa dari orang-orang Yunani Kuno inilah yang meru-pakan bagian terpenting dari sebuah kisah tentang teori evolusi organik. Oleh karena itu, hanya metoda natu-ralistiklah yang menstimulasi mere-ka menyusun skema perkembangan evolusi. Orang-orang Yunani telah
percaya secara turun-temurun ba-hwa hanya skenario evolusi organik yang mampu menjelaskan asal-usul kehidupan.
Bukan hanya katak dan makhluk melata lainnya, tetapi juga kehidupan kuda dan gajah di masa lalu --jika anda hanya memiliki sedikit waktu-- apakah kesemuanya akan tumbuh spontan dari tanah yang lembab? Bagaimana dengan manusia? Seperti yang mereka katakan tentang sebuah daratan yang tidak memiliki habitat asli, siapa yang tumbuh dari dalam tanah? Mereka – orang-orang Yunani itu - menyebutnya autochtones, bera-sal dari dua kata yang artinya tum-buh dari tanah oleh kekuatan dalam tanah itu sendiri. Dan, Nobel Athena digunakan untuk pakaian kebesaran pasukan “belalang” tempurnya un-tuk menunjukkan bahwa mereka bu-kan manusia asli dari Daratan Troya. Dengan kata lain, mereka adalah au-tochtones dari Yunani.
Kalau kita cermati, kisah tersebut memang dipenuhi nuansa takhayul. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Louis T. Moore, Bangsa Yunani se-benarnya tidak pernah punya bukti nyata skema evolusi organik. Tak seorang pun mampu mengemukakan bukti hingga ilmu kebumian - yang memberikan petunjuk penempa-tan fosil dalam suatu urupenempa-tan waktu - sedikit demi sedikit berkembang. Metode fosil ini memberikan gamba-ran mengenai sekuen sejarah yang memungkinkan skema evolusi yang baik dapat disusun. Osborn dan para ahli evolusi mungkin tidak melihat kenyataan sejarah itu ketika mereka mengklaim bahwa leluhur Yunani juga mempercayai segala sesuatu tentang skema kehidupan berdasar-kan interpretasi fakta-fakta geologis dan biologis.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal“ (QS. Ali Imran 192)
Oleh: Joko Parwata
GEOLOGI POPULER
Buffon sebagai peneliti pertama se-jarah geologi
Peneliti pertama yang mempela-jari sejarah geologi adalah Count de Buffon (1707-1788), seorang ilmu-wan yang hidup sebelum Revolusi Pe-rancis atau 101 tahun sebelum Char-les Darwin. Buffon adalah ilmuwan terkemuka. Ia mampu membangun museum sejarah Kerajaan Perancis di Paris. Ia juga produktif menulis, di antaranya adalah 15 volume sejarah kehidupan yang kemudian disusun menjadi “Outline of Science”.
Buffon banyak melakukan pene-litian tentang teori kebumian, yang pada masa itu ilmu kebumian masih dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan. Ilmuwan pada masa itu lebih tertarik untuk mempelajari bo-tani atau zoologi dan apa yang me-reka pelajari itu selalu menentukan terhadap spekulasi teori-teori pem-bentukan bumi tanpa ada sangga-han bahkan spekulasi-spekulasi itu tetap dikuti hingga para ilmuwan ter-sebut meninggal. Tulisan Buffon ke-mudian menjadi sangat terkenal dan berpengaruh terhadap cara pandang ilmuwan terkait batuan dan sejarah kehidupan di bumi. Untuk itu, Buf-fon-lah yang pantas diakui sebagai penemu teori evolusi organik.
Teori kulit bawang Wagner hingga Skala Mohs
Abraham Gottlob Werner (1749-1817), seorang guru mineralogi di Friberg, Jerman, dikenal sebagai pe-nemu ilmu geologi sebagai bagian ter-pisah dari ilmu alam. Werner sangat
menyenangi pelajaran tersebut dan mampu memikat murid-muridnya terhadap konsep baru yang berbeda dengan doktrin-doktrin lama. Kon-sep inilah yang kemudian dikenal sebagai Geognosy dan dipopulerkan oleh seorang muridnya Friderich Mohs (1773-1839), ahli mineralogi terkenal penemu Skala Mohs (skala geologi untuk menyatakan kekua-tan mineral). Pada masa itu terkenal semboyan para penganut Werner be-rikut: “The evil that men do lives after them, The good is of it interred with their bones”.
Melalui teori “Onion Coat” yang amat terkenal di masanya, Werner mencoba mengemukakan tentang berbagai batuan yang terbentuk di tempat asal. Dia meyakinkan bahwa material-material penyusun permu-kaan bumi terbentuk pada media cair terlarut dan terendapkan di bawah laut. Berbagai macam batuan menga-lami rombakan dan presipitasi secara bertahap sesuai kekuatannya. Batu-an yBatu-ang bBatu-anyak mengBatu-andung mine-ral kuarsa dan minemine-ral bersifat asam lainnya lebih tahan daripada batuan yang bersifat basa. Material-material tersebut terendapkan di lautan be-bas sebagai senyawa kimia terlarut dan otomatis akan ditemukan secara alami sebagai sebuah urutan sejarah pengendapan dari setiap jenisnya se-suai tempat asalnya di seluruh bumi, semacam selubung kulit bawang.
Konsep onion coat masih dipakai dalam skala kecil hingga sekarang un-tuk menyebut pelapukan fi sik batuan beku, disebut onion coat weathering. Sungguh sayang perkembangan teori onion coat lamban di antara berba-gai studi dan teori lainnya berkaitan
dengan mineral dan batuan. Kebe-narannya terungkap setelah adanya pengajaran-pengajaran ilmu kebumi-an secara bertahap pada abad ke-19 M. Pendidikan dan penelitian mendo-rong orang untuk mempelajari lebih lanjut tentang batuan dan susunan batuan di sekitar lingkungannya.
Scientifi c blunder dalam teori ku-lit bawang
Ada beberapa kontradiksi dari teori Werner. Faktanya, Werner ti-dak pernah bepergian jauh dari tempat tinggalnya dan tentu saja ia tidak diberkati kekuatan suprana-tural untuk mengetahui kejadian di masa lampau. Kerena itu, beberapa peneliti menyatakan bahwa teorinya hanyalah sebuah perkiraan yang tak akan valid lagi terhadap fakta-fakta yang mungkin ditemukan suatu saat di Australia, India, Perancis atau se-bagian tempat di ujung Benua Eropa.
Charles Lyell mengatakan, bisa jadi tidak jauh dari rumah Werner akan terlihat sekumpulan batuan yang sangat kontradiktif dengan teorinya. Namun, Alex van Humboldt dan be-berapa ahli ilmu alam mengatakan, mereka menemukan susunan batuan yang cocok dengan teori Werner.
Ditinjau dari aspek metodologi ilmiah modern, Werner melakukan kesalahan fatal. Ia mengambil kesim-pulan universal berdasarkan data yang terbatas dan mengabaikan ber-bagai hal yang kontradiktif dan be-lum ditemukan pendekatannya. Sci-entifi c blunder semacam ini banyak dilakukan oleh ilmuwan dahulu se-suai perkembangan pada zamannya. Dalam hal ini boleh kita katakan, ba-hwa mungkin kita masih hidup da-lam kepopuleran teori kulit bawang. Ya, kulit bawang yang terdiri dari komponen kulit bawang biologi dan mineralogi.
William Smith penemu teori ke-samaan waktu pembentukan lapi-san batuan
Secara bertahap selama dan sete-lah berakhirnya Perang Napoleon, sis-tem Werner mulai disesuaikan para peneliti untuk melakukan pendeka-tan klasifi kasi strata batuan berda-sar jenis-jenis fosil yang terkandung. Metode baru ini dikembangkan oleh
Sir William Smith (1769-1838), seo-rang ahli bangunan dari Inggris Se-latan. Smith sangat menyukai pela-Count de Buffon (1707-1788)
GEOLOGI POPULER
jaran matematik untuk membantu pekerjannya sebagai konsultan sipil yang bertugas menggali kanal dan bendungan. Dia harus lebih banyak belajar untuk mengembangkan peng-etahuannya terhadap kondisi bawah tanah di berbagai tempat. Dia mela-kukan perjalanan keliling Inggris ba-gian selatan dan tengah hanya untuk menambah pengetahuannya.
Smith akhirnya menemukan sesu-atu yang aneh dalam bsesu-atuan yang ia tidak tahu namanya, yang juga sama ditemukan pada singkapan batuan di tempat lain yang letaknya sangat jauh. Kedunya juga mengandung material (baca: fosil) yang sama. Dia mulai berpikir dan menarik kesimpu-lan bahwa dua lapisan di dua tempat berbeda itu sesungguhnya bersam-bung di bawah tanah. Lahirlah me-tode baru penyelidikan lapisan batu-an tertentu berdasarkbatu-an kbatu-andungbatu-an fosilnya yang tak terbatas oleh jarak, bahkan sampai ratusan mil atau le-bih jarak pemisah itu.
Metode Smith terbukti dapat di-terapkan secara universal dan sejak itu para ahli geologi memiliki sebu-ah sistem geologi yang dapat meng-asumsikan bahwa batuan di negara lain yang jauh, India, Inggris atau Amerika Latin dan di tempat lain-nya yang menunjukkan kandungan fosil sama, terbentuk pada waktu yang sama. Implikasinya, metode ini juga mengasumsikan bahwa batuan yang mengandung berbagai jenis fo-sil berlainan tidak diendapkan secara simultan, melainkan pada interval waktu sebelum atau sesudahnya. Panjang interval waktu ini kemudian dikenal sebagai “Smith Strata”, diten-tukan melalui skema kronologis ber-dasarkan jenis-jenis fosil yang hidup
dan terkubur dari masa ke masa.
Kerancuan ilmiah Smith cikal bak-al lahirnya Teori Darwin
William Smith mengatakan ba-hwa ia menemukan gejala umum di Inggris. Bahwa, menurutnya, lapi-san batuan di Inggris memiliki ke-miringan ke timur atau tenggara dan ia membayangkan kalau di seluruah dunia lapisan-lapisan batuan akan selalu ditemukan dalam kondisi mi-rip: tidak hanya kesamaan sekuen, tapi semuanya memiliki kemiringan ke timur!! Itulah gambaran lain dari absurditas dari seorang yang dijuluki sebagai “Father of English Geology”.
Baron Cuvier (1769-1832) seo-rang ilmuwan besar Perancis, sangat mengagumi teori Smith dan men-jelaskan keberadaan fosil dengan pendekatan ilmiah. Ia mengajarkan konsepnya keseluruh dunia. Tetapi, kita harus memberikan catatan pan-jang tentang bagaimana kerancuan ide Smith menjadi dasar bagi Charles Darwin untuk mengambangkan teori evolusinya. Catatan panjang juga ha-rus kita berikan tentang bagaimana Darwin mempertahankan teorinya, mengingat prestasi teori tikus Darwin (Darwin’s Pet Theories) sebetulnya ti-dak terlalu baik.
Charles Lyell penemu “Theory of Uniformity” dan sanggahan ter-hadapnya
Orang yang benar-benar meletak-kan fondasi awal dan menyatameletak-kan kaitan penting antara geologi dan evolusi di dunia adalah Charles Lyell
(1797-1875). Lyell adalah ilmuwan dan hulubalang Ratu Victoria yang dikebumikan di Westminster Abbey. Dia menempatkan fosil atau jejak
biologis yang telah dijabarkan dalam konsep teori kulit bawang dengan menambahkan bahwa semua peru-bahan geologis di waktu lampau ha-rus dapat dijelaskan oleh proses-pro-ses yang terjadi di lautan, sungai dan angin di masa kini dengan asumsi tidak adanya katastropis yang terjadi di masa lampau, tetapi mengakomo-dasi metode dan gaya-gaya alam yang berpengaruh dan dapat mengubah kondisi geologis dari waktu ke wak-tu. Sejak itu kita mempunyai konsep geologi modern yang disebut “Theory of Uniformity”, sebagai kebalikan dari paham katastropisme, yang sempat populer di antara para ahli geologi pada pertengahan abad ke-19 M.
Teori kulit bawang Werner menja-di lebih jelas dan nyata, setelah para ahli geologi di masa itu mengadopsi metode baru untuk mengidentifi kasi strata; tetapi penganut lama kurang
Sir Charles Lyell (1797-1875), pence-tus teori Uniformitarianism (sumber: Wikipedia).
Sketsa ketidakselarasan (unconformity) di Frederick Street, Edinburg digambar oleh James Hutton (sumber: koleksi USGS Museum).
GEOLOGI POPULER
berfi kir dan keras hati memegang skema suksesi dari teori kulit ba-wang universal. Lebih nyata lagi ke-tika Herbert Spencer mengkritik ta-jam metode Lyell dan geolog lainnya yang sepaham – mereka yang tidak mampu menjelaskan katastropisme - dengan kata-katanya yang pedas: ”Must we not own that, though the onion coat hypothesis is dead, its spi-rit is traceable under a transcendental form, even in the conclusion form, even the conclusion of its antagonists?”
Charles Darwin dan Teori Evolusi-nya, sebuah suplemen?
Charles Darwin (1809–1882) memulai petualangan studinya di Edinburgh, tetapi setelah dua tahun mempelajari ilmu dasar ia jenuh dan bosan. Darwin lalu pindah ke Cam-bridge untuk belajar Ilmu Teologi dan berhasil menamatkan studinya di usia 22 tahun. Ia kemudian ditu-gaskan sebagai penyiar agama dan bergabung dengan awak kapal “Be-agle” yang mengantarnya mengeli-lingi Samudera Selatan selama lima tahun. Tahun 1836 Darwin kembali, dan semenjak itu ia tidak pernah keluar dari Inggris. Sebagai seorang misionaris, tugas-tugas Darwin se-betulnya kurang berhasil. Ia hanya melakukan observasi dan mencatat untuk dirinya saja.
Darwin sama sekali tidak punya latar belakang pendidikan tentang binatang, sehingga apa yang ia amati dan interpretasikan sebetulnya patut dipertanyakan. Darwin hanya menda-pat sedikit bimbingan pengetahuan geologi dari Sedgwick, seorang penga-jar di Universitas Cambridge. Untuk itu nampak jelaslah pada diri Darwin muda, dengan sedikit sentuhan ilmu geologi dan dasar-dasar biologi, beru-paya mereformasi teori saintifi k. Se-buah skema baru yang dikreasi oleh seorang pemuda yang belum genap tigapuluh tahun.
Darwin mulai mempelajari konsep Lyell “Principles of Geology” dalam perjalanannya ke Amerika Latin. Se-kembali dari perjalanan ia berusaha menggali konsep “Biological Onion-Coat Theory” dan “The Theory of Geo-logic Uniformity” yang tidak mampu menjelaskan adanya peristiwa tastropisme di dunia. Dari hasil ka-jiannya ia berhasil mengemukakan konsep baru yang ia sebut “Natural Selection” yang merupakan teori
le-bih meyakinkan untuk menjelaskan bagaimana perubahan spesies terjadi dari waktu ke waktu. Jadi makin je-laslah bahwa anti pandangan Bible tentang geologi ditambah dengan se-dikit sentuhan konsep geologi yang ia dapatkan dari Lyell maupun ilmuwan lain sebelumnya, merupakan pondasi dasar Teori Evolusi Darwin. Teori ini sebetulnya hanyalah suplemen untuk menjelaskan metode yang lebih tepat tentang fakta-fakta yang diperoleh di alam berdasarkan teori-teori kebumi-an sebelumnya.
Teori kulit bawang Werner mau-pun teori evolusi nampak kontradik-tif dan tidak mampu menjelaskan ketika dari fakta yang ditemukan di alam, ditemukan beberapa contoh fosil yang sama pada batuan dengan
lapisan maupun tahapan evolusi yang sangat berbeda dengan kondisi standar. Kenyataan ini menjadi dis-kusi yang amat menarik dalam buku “The New Geology, a Textbook for Col-leges” (1923) dan “Evolutionary Geo-logy and New Catastrophism” (1926) yang mengupas tuntas kontradiktif teori evolusi.
Penutup
Kupasan ini masih banyak me-ninggalkan pertanyaan dan belum ada jawaban pasti mengenai evolusi makhluk hidup di alam. Belum ada bukti dan data saintifi k serta intele-jen yang nyata dan dapat diamati un-tuk mendukung teori evolusi dalam menjelaskan perkembangan mak-hluk hidup di alam dari waktu ke waktu, terkecuali sebagian kecil dari skenario skematis Darwin.
Bagaimana dengan teori “The Cre-ation of God” yang dikumandangkan oleh ilmuwan Turki Harun Yahya dan akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan para ilmuwan? Kon-sep “Spontaneous Generation” juga pernah dilontarkan oleh Louis Pas-teur setengah abad yang lalu. Fak-tanya, sekarang banyak juga yang menganut ajaran-ajaran agama ba-hwa Tuhan menciptakan makhluk tidak hanya sekali, tetapi dari waktu ke waktu. Evolusi geologi dan biologi kini membuka banyak peluang bagi para ahli untuk mengembangkan konsep-konsep pemikiran baru dan menyajikan data-data saintifi k un-tuk mendukung konsep tersebut. Se-lamat Berburu!
WAWASAN
Pendahuluan
Peranan geologi sampai saat ini dirasakan belum optimal dalam menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan guna meningkat-kan kesejahteraan rakyat. Banyak permasalahan yang berkaitan dengan kegeologian dirasakan belum dikelola secara tepat dan profesional sehingga diperlukan usaha untuk meningkat-kan kinerja penyelenggaraan bidang geologi. Dijumpai banyak masalah yang menjadi kendala belum opti-malnya pemanfaatan profesi, keahli-an, data dan informasi geologi untuk menunjang pembangunan dan mem-bantu masyarakat yang memerlukan peranan disiplin kegeologian.
Salah satu kendala yang dihadapi saat ini antara lain pemecahan per-masalahan yang sangat erat hubung-annya dengan masalah kegeologian yang belum terintegrasi secara na-sional. Secara kelembagaan, ken-dala tersebut aken-dalah dijumpainya banyak kerancuan yang menyangkut kewenangan berbagai instansi yang menangani hal-hal yang berhubung-an dengberhubung-an masalah geologi. Sebagai contoh, suatu lembaga yang tugas dan fungsinya bukan menangani bidang kebencanaan geologi, telah membe-rikan pernyataan berkaitan dengan kejadian gempa bumi yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia akhir-akhir ini. Banyak lembaga yang telah memberikan pandangan yang ber-beda terhadap masalah aktual yang sangat berhubungan erat dengan ke-geologian, misalnya gempa bumi yang menyebabkan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 di Aceh dan Nias, gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya tanggal 27 Mei 2006 dan kejadian geologi lainnya di beberapa wilayah di Indonesia. Memang, sudut pandang terhadap suatu kejadian geologi sangat multi interpretative
karena memang banyak faktor yang mempengaruhi peristiwa tersebut. Akan tetapi, analisa yang mendekati ketepatan sangat diperlukan teru-tama yang menyangkut kepenting-an publik, misalnya mitigasi dalam menangani bencana untuk memini-malkan korban atau kerugian harta benda akibat bencana tersebut.
Contoh betapa pentingnya pe-ranan geologi ditunjukkan oleh be-berapa kejadian yang menjadi topik pemberitaan di beberapa media. An-tara lain, terjadinya beberapa kali pe-ristiwa amblesan pada jalan tol Cipu-larang sekitar Km 91,6 yang kurang memperhitungkan data dan informa-si geologi, yaitu adanya sungai purba dan dijumpainya expansive clay di bawah fondasi jalan tol tersebut yang memerlukan special treatment (ter-lepas dari konstruksi fondasi jalan yang kurang tepat). Demikian pula peristiwa semburan lumpur panas bercampur gas di Porong, Sidoarjo, yang sudah berlangsung sejak 29 Mei 2006 dan telah menggenangi desa-desa di Kecamatan Porong dan sekitarnya hingga setinggi 6 meter (terlepas dari kemungkinan kesala-han teknik pemboran). Contoh lain adalah kasus Busang yang terjadi se-kitar tahun 1997, dimana terjadi pe-nentuan besar cadangan emas yang sangat over estimate sehingga saham perusahaan tersebut diperebutkan oleh banyak pihak dan sempat mem-pengaruhi bursa saham di New York. Kasus-kasus yang dicontohkan di atas berturut-turut menunjukkan belum optimalnya pemanfaatan data dan informasi geologi untuk kepen-tingan konstruksi jalan, eksplorasi migas, dan perhitungan cadangan mineral yang potensial. Apa yang menjadi fokus perhatian kita dalam uraian tersebut di atas adalah sebe-rapa jauh kompetensi profesi, data
dan informasi geologi dalam menga-tasi kasus-kasus seperti yang dicon-tohkan di atas.
Beberapa landasan pemikiran
Kejadian longsor atau gerakan tanah di beberapa tempat di Indone-sia terbukti telah banyak menimbul-kan korban jiwa dan kerugian harta benda yang cukup besar. Kejadian bencana alam tersebut merupakan representasi dari kemampuan dan daya dukung alami dalam mengkon-servasi air, mencegah banjir dan long-sor yang semuanya sangat berkaitan dengan jenis tanah, kondisi geologi, topografi , hidrologi, dan faktor iklim. Pembangunan atau pengembangan sebuah kegiatan fi sik di lingkungan yang geologinya tidak mampu men-dukung atau menampung beban-be-ban tersebut menyebabkan bencana. Sebuah bencana akibat gabungan antara alam dan perbuatan manusia. Kondisi yang demikian mendorong di-perlukannya Peraturan Daerah yang mengatur wilayah-wilayah (zoning regulation) rawan bencana longsor atau gerakan tanah. Tentunya Pera-turan Daerah tersebut memerlukan payung hukum atau peraturan pe-rundang-undangan yang lebih tinggi dalam bentuk Peraturan Presiden, Peraturan Pemerintah atau bahkan Undang-Undang untuk memperkuat landasan yuridisnya dan konsekwen-si hukumnya jika terjadi pelangga-ran.
Kondisi lain yang dijumpai saat ini adalah belum maksimalnya peng-gunaan data dan informasi geologi se-bagai dasar perencanaan pembangu-nan wilayah (regional development act). Padahal, dalam forum Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BK-TRN) pernah ditegaskan bahwa da-lam penyusunan atau perencanaan Tata Ruang nasional yang menjadi
UU KEGEOLOGIAN:
Bukankah suatu keniscayaan?
WAWASAN
basis Rencana Tata Ruang Wilayah jangan sampai melupakan data dan informasi kegeologian. Dalam kon-teks penentuan zonasi kawasan pe-runtukan pertambangan, memang kita agak kesulitan menentukan ba-tas-batas zona tersebut, kecuali un-tuk lokasi dimana penyebaran mine-ralnya sudah diketahui melalui kegi-atan eksplorasi. Pengalokasian suatu kawasan untuk peruntukan tambang mineral yang baru pada tahap inven-tarisasi, dimana lokasi dan penye-barannya belum diketahui secara pasti, sulit dilakukan. Dalam kai-tan ini yang menjadi kendala dalam pengembangan sumber daya geologi yang potensial adalah munculnya UU tentang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999 yang melarang kegiatan penambangan terbuka di daerah hu-tan lindung. Meskipun tujuan UU ini pada prinsipnya meminimalisir ting-kat kerusakan kawasan hutan khu-susnya hutan lindung, tetapi secara alamiah kontradiktif dengan pola penyebaran mineral, terutama mine-ral logam yang umumnya menempati daerah bertopografi tinggi dan mem-punyai kelerengan yang terjal. Dae-rah-daerah tersebut biasanya sudah ditetapkan sebagai hutan lindung, sehingga kegiatan eksplorasi bahkan identifi kasi sumber daya mineral di daerah tersebut sulit dilakukan.
Masalah yang tak kalah penting-nya adalah kaitan antara cekungan geologi, terutama cekungan Tersier, dalam hubungannya dengan ce-kungan yang diidentifi kasi meng-andung cadangan minyak dan gas bumi (migas), baik yang cadangan-nya sudah terbukti (proven reserve) maupun yang baru bersifat potensi (potential reserve). Peranan informasi geologi untuk identifi kasi cekungan migas tersebut menjadi sangat pen-ting dan bersifat strategis terutama yang menyangkut daerah frontier atau wilayah yang berbatasan dengan negara lain, karena sifat penyebaran cekungan yang tidak mengenal batas wilayah negara.
Beberapa pertimbangan diperlu-kannya UU Kegeologian
Wilayah Indonesia memiliki tatanan geologi yang khas dan rumit sebagai akibat interaksi pertemuan antara tiga mega lempeng tektonik dunia, yaitu Lempeng Samudra Pa-sifi k, Lempeng Benua Indo-Austra-lia, dan Lempeng Benua Eurasia.
Tatanan geologi tersebut telah menja-dikan Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam dalam wujud mineral dan sumber daya energi yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, kon-disi tersebut juga menyimpan elemen dinamika bumi yang memunculkan daerah-daerah rawan bencana alam (bencana geologi) yang dapat menim-bulkan korban jiwa dan harta cukup besar.
Disamping hal-hal tersebut dia-tas, interaksi antara ketiga mega-lempeng dunia itu telah menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografi s dan geologis mem-punyai tatanan yang unik dan kom-pleks, sehingga memiliki spektrum yang sangat beraneka ragam ditin-jau dari pola penyebaran penduduk, adat-istiadat, sumberdaya mineral dan energi, peluang terjadinya ben-cana geologi, dan keanekaragaman
fl ora-fauna tropis yang jarang atau bahkan tidak dijumpai di belahan dunia yang lain. Potensi yang be-sar ini merupakan modal dabe-sar bagi pembangunan nasional yang berkela-njutan untuk meningkatkan kesejah-teraan masyarakat Indonesia.
Dari beberapa contoh yang telah diuraikan di atas, kebutuhan akan pengaturan masalah kegelogian se-cara nasional dirasakan cukup men-desak. Dalam hal ini kebutuhan ter-hadap suatu Undang Undang (UU) sangat ditentukan oleh aspirasi para pemangku kepentingan (stake hol-der). Sebab, UU tersebut akan men-gatur apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh anggota masyarakat. Hal ini mem-bawa kepada konsekuensi adanya reward-punishment, sehingga masya-rakat dapat mengerti dan mematuhi UU tersebut.
Bagaimana dengan UU Kegeolo-gian? Masyarakat mana yang kira-kira memerlukan UU tersebut untuk membantu mereka menyelesaikan semua permasalahan yang berkai-tan dengan kegeologian di Indonesia? Dalam hal apa kira-kira masyarakat tersebut memerlukan keberadaan UU tersebut? Jawaban atas pertanya-an-pertanyaan mendasar tersebut harus diakomodasikan secara tepat agar UU tersebut betul-betul dapat diimplementasikan dan digunakan secara efektif sebagai payung hukum bagi peraturan di bawahnya (PP, Perpres, Perda, dan lain-lain). Perlu dipikirkan juga apakah jika geologi
diundangkan malah dapat memper-sempit ruang gerak kegiatan bidang tersebut? Dan apakah aspek geo-sains dari kegeologian dapat dibuat regulasinya?
Selanjutnya, pembuatan suatu undang-undang harus memper-timbangkan beberapa aspek yaitu: aspek hukum, ekonomi, sosiologi dan politik. Aspek hukum meny-angkut dukungan keterkaitan kai-tan dengan UU lain, terutama UUD. Aspek ekonomi mempertimbangkan apakah produk hukum tersebut da-pat memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masya-rakat? Adapun ditinjau dari aspek sosiologi mempertimbangkan apakah produk hukum ini akan memberikan manfaat dalam peningkatan kese-jahteraan sosial? Adapun indikator politik yang diperlukan antara lain dukungan politik dan dukungan as-pirasi masyarakat terhadap penting-nya diterbitkan RUU Kegeologian.
Peraturan dalam bidang kegeologian di beberapa negara
Di bawah ini diberikan beberapa contoh regulasi di bidang kegeologian di beberapa negara, terutama yang menyangkut peranan/fungsi data dan informasi geologi:
a. United Stated Geological Sur-vey (Amerika Serikat) telah menge-luarkan regulasi di bidang geologi yang sangat spesifi k misalnya yang menyangkut perencanaan tata ruang berbasis lingkungan geologi (environ-mental geology);
b. Republik Rakyat Cina dalam Mineral Resources of Law menekan-kan tentang tugas pemerintah dalam penyusunan rencana pengembangan dan pemanfaatan sumber daya neral. Pemanfaatan sumber daya mi-neral oleh perseorangan atau badan usaha harus mendapatkan ijin dari pemerintah, dan pemerintah harus melakukan pengawasan yang serius dalam pemanfaatan sumber daya mi-neral tersebut.
au-WAWASAN
dio visual, medium elektromagnetik, data fi sik berupa: inti pemboran, spe-simen, sayatan tipis dan contoh yang dihasilkan dari penyelidikan geologi. Disamping itu pemerintah diharus-kan melakudiharus-kan penyusunan suatu sistim informasi data geologi dan mensosialisasikan sistim penyusun-an atau pelaporpenyusun-an data geologi ypenyusun-ang seragam. Data geologi yang dimaksud meliputi data geologi migas, coal bed methane dan mineral radioaktif; dan data geologi kelautan.
Penutup
Pengaturan dalam bidang kegeo-logian yang lebih tegas dan kompre-hensif terhadap aspek-aspek yang menjadi fokus perhatian sebagai-mana dalam uraian diatas menjadi kebutuhan dengan memperhatikan kondisi bidang kegeologian saat ini yang terkait erat dengan hak, ke-wajiban dan peran masyarakat pe-mangku kepentingan (stake holder) di bidang kegeologian. Dari pemba-hasan sebelumnya mengenai bebe-rapa kendala yang dijumpai dalam pengembangan bidang kegeologian dan beberapa kondisi nyata yang me-nyangkut pengelolaan kegeologian secara nasional, maka di masa men-datang ”Keberadaan UU Kegeologi-an merupakKegeologi-an suatu keniscayaKegeologi-an untuk direalisasikan“. Untuk itu, Rancangan Undang-undang (RUU)
Kegeologian sudah semestinya diper-siapkan sejak saat ini. Beberapa hal yang penting sebagai muatan materi dalam penyusunan RUU Kegeologian adalah sebagai berikut:
• Masalah penetapan kawasan rawan bencana geologi yaitu letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor (yang dalam RUU Penataan Ruang dimasukkan seba-gai kawasan lindung); dalam RUU Kegeologian harus didefi nisikan se-cara lebih lengkap supaya lebih im-plementatif. Meskipun bencana geo-logi tersebut sulit diprediksi kapan terjadinya, tetapi dengan pendekatan kegeologian diharapkan ada langkah-langkah lebih kongkrit yang tujuan-nya untuk mengurangi dampak me-rusak bencana tersebut dan jatuh-nya korban.
• Penggunaan data dan informasi geologi yang saat ini belum dilakukan secara optimal sebagai dasar peren-canaan pembangunan wilayah agar ditingkatkan pengaturannya dalam UU Kegeologian tersebut.
• Diperlukannya pengaturan da-lam penyusunan rencana pengem-bangan dan pemanfaatan sumber daya mineral secara sistimatik, meli-puti pengaturan administrasi, penye-ragaman dalam penyusunan data dan informasi geologi beserta upaya-upaya sosialisinya.
• Mengoptimalkan kompetensi
bi-dang kegeologian dalam mengatasi atau memecahkan permasalahan untuk kepentingan konstruksi (pra-sarana jalan, jembatan, bangunan); dan eksplorasi migas dan penentuan cadangan mineral yang potensial se-suai standard minimal yang harus dipenuhi.
• Menonjolkan peranan informasi geologi untuk identifi kasi cekungan migas yang penting dan strategis terutama yang menyangkut daerah frontier atau wilayah yang berbatas-an dengberbatas-an negara lain.
Untuk mempersiapkan RUU Ke-geologian tersebut langkah yang pa-ling penting saat ini adalah menyu-sun Naskah Akademis yang meru-pakan bahan materi sebagai dasar perumusan pengaturan hukum. Naskah Akademis RUU Kegeologian harus memuat informasi tentang geologi secara komprehensif dan mencakup seluruh aspek-aspeknya, mudah dipahami baik oleh masyara-kat umum maupun oleh aparatur ne-gara sehingga dapat ditindaklanjuti secara efektif. Konsepsi pengaturan penyelenggaraan bidang kegeologian harus merupakan penjabaran dari berbagai konsep atau teori yang ter-kait dan analisis terhadap berbagai aspek yang perlu dikembangkan da-lam penyelenggaraan bidang kegeolo-gian.
Seorang fi lsuf t ermasyur dan beradab ket ika dat ang berkunj ung ke kampung Nasruddin bert anya t empat yang enak unt uk makan. Nasruddin memberit ahu sebuah t empat dan sang fi lsuf , yang haus akan perbincangan, mengaj ak Mullah Nasruddin unt uk menemaninya. Sebagai sebuah kewaj iban, Mullah Nasruddin menemani sang
fi lsuf ke rest oran t ersebut , lalu bert anya kepada pelayan hidangan spesial hari it u. “ Ikan! Ikan segar! ” j awab pelayan.
“ Pesan dua, ” mereka berkat a.
Beberapa menit kemudian, si pelayan membawa sebuah piring besar dengan dua ekor ikan di at asnya, ukuran salah sat u ikan lebih kecil daripada yang sat unya lagi. Tanpa ragu-ragu, Mullah Nasruddin mengambil ikan yang lebih besar dan melet akkannya di piringnya. Sang fi lsuf , melihat Nasruddin dengan t at apan penuh t idak percaya, kemudian mengat akan bahwa t indakan Nasruddin it u selain egois j uga melanggar prinsip-prinsip umum mengenai moral, agama, dan et ika. Nasrudin dengan t enang mendengarkan seluruh penj elasan sang fi lsuf , dan saat sang fi lsuf it u selesai mengeluarkan nasehat -nasehat nya, Nasruddin bert anya,
“ Jadi anda sendiri akan memilih ikan yang mana?”
“ Sebagai manusia yang alim, t ent u saya akan memilih ikan yang lebih kecil. ” “ Kalau begit u ambillah ikan yang kecil it u, “ kat a Nasruddin seraya melet akkan ikan yang kecil it u dalam piring fi lsuf yang alim it u.