• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-Book Majalah Geografi Warta Geologi Volume 5 Nomor 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "E-Book Majalah Geografi Warta Geologi Volume 5 Nomor 2"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Foto: SR. Wittiri, 1992

Ciri khas bagi gunung api yang sedang tumbuh adalah letusan tipe srombolian. Letusan tipe ini terjadi karena kantong fluida yang dangkal dengan komposisi andesitik basaltis dengan tekanan gas yang relatif rendah. Lontaran lava pijar hanya mencapai jarak 300 meter dari pusat letusan (kawah).

Gunung Anak Krakatau tumbuh dari runtuhan letusan Gunung Krakatau 1883 yang menghasilkan kaldera. Anak Gunung ini membesar karena tumpukan material letusan yang terjadi hampir setiap tahun.

(4)

4 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

Foto: Oki Oktariadi, 2009

Morfologi yang bentuknya berupa segi tiga yang melebar ini lazin ditemui di daerah strukutur sesar aktif dan dikenal dengan “triangular facet”. Salah satu bentuk morfologi tersebut dijumpai pada lintasan antara Enrekang dan Tanah Toraja, Sulawesi Selatan sepanjang beberapa kilometer perjalanan. Masyarakat setempat mengenal wilayah tersebut dengan Daerah Gunung Nona, pasalnya mereka asosiasiakan dengan alat kelamin wanita. Tetapi secara resmi penduduk setempat lebih mengenal

dengan nama Buttu Kabobong yang berarti “gunung erotis” (erotic

mountain). Dalam bahasa Enrekang dikenal dengan Massenrempulu

yang berarti gunung yang terdorong.

Secara geologi, Gunung Nona berada di kaki Buntu (Gunung) Bambapuang, terbentuk dari batu pasir hasil pengangkatan akibat tumbukan lempeng anak benua Euresia dan Australia. Perbedaan geomorfologi kedua anak benua yang bertabrakan secara dahsyat tersebut menciptakan barisan gunung yang tiba-tiba dipotong secara hampir tegak lurus oleh barisan gunung lain. Aktivitas tersebut terus berlangsung dan akibatnya terbentuklah morfologi triangular facet.

(5)

Teks: T. Bachtiar

Potensi panas bumi Indonesia mencapai 40% dari potensi panas bumi dunia, namun baru dimanfaatkan sebesar 1.100 Megawatt, atau sekitar 4,2% dari cadangan panas bumi Indonesia.

Sampai tahun 2025, Indonesia bertekad untuk mengurangi peran energi fosil dari 52% menjadi 20%, dan meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi hingga 5%. Ke depan, Indonesia akan menjadi pengguna energi panas bumi, terbesar, yang dapat mengurangi emisi karbon sebesar 26% pada tahun 2020 atau mengurangi emisi karbon hingga 17,3 juta ton per tahun.

(6)

6 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

Foto dan teks: T. Bachtiar

Menyusuri Ci Tarum sepanjang 7 km antara bendungan Saguling sampai Power

House Saguling, terdapat banyak gejala alam yang menakjubkan. Sebelum adanya

Danau Saguling, sejak Danau Bandung Purba bobol 16.000 tahun yang lalu di antara Puncak Larang dan Pasir Kiara - di Cukangrahong, lembah ini merupakan jalur utama Ci Tarum. Alirannya sangat deras, sehingga di bagian yang terbendung bebatuan raksasa, membentuk jeram dan air terjun. Di bagian yang agak terlindung membentuk lubuk.

Perjalan di kawasan ini melewati bebatuan berumur Pliosen (6,2-1,65 juta tahun yang lalu), yaitu batuan breksi tufan bersifat andesitik dan basal, lava, batu pasir tufan, dan konglomerat. Batuan lainnya yang terlewati berumur Miosen (25,2-6,2 juta tahun yang lalu), seperti breksi batu pasir bersifat basal, batu gamping, konglomerat, batupasir, dan batu lanau. Batuan paling tua umurnya berumur Oligosen akhir dan Miosen Awal (30-16,2 juta tahun yang lalu), seperti batu pasir yang berlapis sempurna berselingan dengan batu lanau, batu lempung, grewak, dan breksi, yang menunjukkan sifat-sifat khas turbidit.

Di sepenggal Ci Tarum itu terdapat batu-batu berlubang, mulai dari sebesar cangkir

sampai sebesar drum. Itulah pothole, dalam bahasa Sunda disebut jublegan,

karena bentuknya menyerupai jubleg, lumpang berukuran besar. Karena tekanan

dan pusaran air yang sangat kuat, membuat pasir dan kerikil yang terjebak di sana menjadi matabor alami yang terus berputar mengikis batuan hingga membentuk

jublegan.

Proses alam, memang tidak tiba-tiba. Alam sangat sabar berproses.

(7)

P e n g a n t a r R e d a k s i

Pembaca yang budiman,

Selamat berjumpa lagi dengan Warta Geologi (WG) Volume 5 Nomor 2 ahun 2010. WG kali ini diwarnai tulisan-tulisan seputar gunung api. Pada WG nomor 2 ini, Kepala Badan Geologi, Dr. R. Sukhyar, menyumbangkan pemikirannya melalui tulisan tentang abu vulkanik yang dikemas secara populer.

“Editorial” WG kali ini mengupas tentang debu gunung api dan tantangan peradaban. Letusan gunung api itu menyebabkan berbagai dampak, mulai dari kerugian ekonomi, perubahan iklim, hingga perubahan sejarah. Pesan utamanya adalah agar kita lebih waspada terhadap ancaman debu gunung api. Mitigasi bencana gunung api, termasuk di dalamnya pengurangan risiko terhadap bahaya abu vulkanik, harus ditingkatkan, karena dapat menimbulkan kerugian besar bagi kehidupan.

Pembaca yang budiman,

Rubrik “Geologi Populer” menyajikan empat tulisan, yaitu tentang sumber daya geologi dan tiga tulisan tentang kebencanaan geologi. Keempat tulisan tersebut adalah: “Dilema Pemanfaatan Gambut di Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat”, “Ancaman Abu Vulkanik Eyjafjallajokull, Islandia dalam Perspektif Risiko Bencana”, “Ancaman Abu Gunung Api terhadap Penerbangan”, dan “Gununga Api Bawah Laut Indonesia”.

Dalam tulisan tentang gambut, Hamdan Z. Abidin menyampaikan syarat-syarat kondisi alam untuk terbentuknya endapan gambut. Kondisi geologi di Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas,

Kalimantan Barat memenuhi persyaratan,

sehingga di wilayah itu terbentuk endapan gambut, serta untung rugi pemanfaatan gambut bagi lingkungan. Tulisan tersebut dilengkapi pula dengan paparan tentang sebaran gambut di Indonesia.

Artikel berjudul “Ancaman Abu Vulkanik

Eyjafjallajokull, Islandia dalam Perspektif Risiko Bencana” merupakan pemikiran Dr. R. Sukhyar, sebagai refleksi atas peristiwa letusan gunung api ini pada April 2010. Persoalan yang disampaikan dari letusan gunung api yang tergolong kecil ini, namun mempunyai dampak yang besar sangat penting. Bagaimana sekiranya suatu saat nanti, terjadi letusan katastrofik dari letusan gunung api aktif, sangatlah menantang pemikiran. Beberapa langkah mitigasi yang dipesankan dalam akhir tulisan ini penting untuk diperhatikan. Satu di antaranya, yaitu kerangka kerja internasional untuk mitigasi ancaman abu vulkanik, mengingat besarnya potensi bahaya debu gunung api yang dihadapi masyarakat dunia.

Masih di seputar abu gunung api, Imtihanah dalam tulisannya menguraikan lebih jauh tentang ancaman abu gunung api bagi penerbangan.

Tulisan yang berjudul “Ancaman Abu Gunung Api terhadap Penerbangan” tersebut mengulas beberapa letusan gunung api Indonesia yang membahayakan penerbangan. Tulisan tersebut juga mengulas lebih jauh bagaimana proses abu gunung api merusak mesin jet dari pesawat terbang.

Sementara itu, SR Wittir dalam tulisannya “Gunung Api Bawah Laut Indonesia”, menginformasikan sejumlah gunung api bawah laut yang ada di Indonesia. Muatan tulisannya penting sebagai respon terhadap penemuan gunung api bawah laut baru-baru ini di Perairan Sangihe, Sulawesi Utara. Yakni, bahwa gunung api dapat tumbuh di mana saja, baik di darat maupun di laut, di sepanjang jalur gunung api atau di jalur tektonik; dan sebelumnya sudah tercatat beberapa gunung api bawah laut di Indonesia.

Pembaca yang budiman,

Rubrik “Profil” menampilkan tokoh yang khusus, Dr. Wimpy S. Tjetjep, Deputi III Menteri Koordinasi Perekonomian, Bidang Koordinasi Energi, Sumber Daya Mineral dan Kehutanan. Siapapun yang berkarir di bidang Geologi, baik di Pemerintahan maupun di swasta, tentu mengenal beliau yang pernah menjabat Direktur Vulkanologi, Staf Ahli bidang Sumber Daya Alam di Kementrian Negara Otonomi Daerah, Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral. “Profil” menampilkan karirnya di bidang Pemerintahan, termasuk kiprahnya yang sangat penting dalam olahraga bridge di Indonesia.

“Layanan Informasi Geologi” menyajikan

reportase tentang Laboratorium Kimia Mineral dan Fisika Mineral, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi. Melalui layanan informasi tersebut dapat diketahui kemampuan layanan yang dapat diberikan oleh salah satu laboratorium yang berada di lingkungan Badan Geologi. Sementara itu, rubrik ”Seputar Geologi” menyampaikan sejumlah berita yang bervariasi yang terjadi antara bulan April-Juni 2010. Satu di antaranya adalah reportase perhelatan besar konferensi internasional tentang panas bumi, Word Geothermal Conference (WGC), yang berlangsung di Bali, 25-30 April 2010 yang lalu.

Pembaca yang budiman,

Kami senantiasa mengundang para pembaca, khususnya para peneliti dan pengamat bidang geologi dari dalam maupun luar lingkungan Badan Geologi untuk menulis pengetahuan ilmiah dalam bentuk populer di WG. Tak lupa, kepada para penulis yang telah menyumbangkan tulisannya pada WG kali ini, kami mengucapkan terima kasih.

Akhir kata, selamat membaca Warta Geologi vol 5

Nomor 2, Juni 2010.n

(8)

8 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

E d i t o r i a l

Debu Gunung Api dan Tantangan Peradaban

Eyjafjallajokull, boleh jadi merupakan nama

gunung api yang paling sulit untuk dituliskan atau diucapkan di kita. Begitu sulitnya, para juru warta di negara kita lebih memilih nama ”Gunung Islandia” ketika harus menyebutkan nama gunung api yang terletak di Islandia itu. Asal-usul nama gunung api di kawasan Eropa Utara ini biarlah menjadi urusan ahli bahasa atau peminat toponimi. Perhatian kali ini pada debu yang disemburkan oleh gunung api ke angkasa.

Debu biasanya dianggap sebagai benda atau sesuatu yang kecil, ringan, lemah, atau rendah. Namun, tidaklah demikian dengan debu gunung api. Volume debu yang dihentakkan ke angkasa oleh sebuah gunung api yang meletus itu sangat besar, berat, dan kuat, sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar,

memicu berbagai penyakit; menyebabkan

kematian, perubahan iklim, bahkan mengubah sejarah. Kita perlu memperhatikan masalah debu gunung api ini.

Debu Gunung Api dan Kerugian Ekonomi Eyjafjallajokull meletus pada April 2010 setelah tidur selama sekitar 200 tahun. Kekuatan

letusannya mencapai VEI (Volcanic Explosivity

Index) sekitar 3. Memang, letusan itu tidak seberapa besar dibanding letusan Krakatau pada 1883 (VEI 6) atau Tambora 1815 (VEI 7). Namun, kerugian ekonomi yang diakibatkannya sangat besar. Sebagaimana dilansir oleh berbagai media, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasionaonal (IATA) kerugian ekonomi akibat terhentinya penerbangan selama sepekan karena letusan Eyjafjallajokull, April 2010, itu mencapai 1,7 juta milyar dolar AS atau Rp 15,3 triliun. Karenanya beberapa perusahaan penerbangan Eropa pada tahun 2010 ini terancam merugi.

Debu gunung api yang secara fisik berukuran cukup kecil, yaitu 1-5 mm untuk ukuran kandungan utamanya berupa partikel gelas, namun dalam jumlah besar volume bahan yang dilontarkan ke angkasa menyebabkan banyak kerugian. Debu gunung api di Islandia, April 2010, selain menyebabkan kerugian ekonomi di sektor penerbangan sipil, juga menyebabkan harga minyak dunia turun. Aibatnya bagi Indonesia, ekspor produk tekstil dan komoditi lainnya ke negara-negara Eropa sempat terhenti beberapa hari.

Sang Debu mengubah Sejarah?

Gunung Tambora, di Pulau Sumba, NTB, pada tahun 1815 meletus dengan kekuatan setara dengan 10.000 kali letusan Eyjafjallajokull April 2010. Demikian hebatnya letusan itu, Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebutnya sebagai ”letusan gunung api yang paling kuat sepanjang catatan sejarah”. Abu dari letusan Tambora 1815 selain menyebabkan kematian langsung juga

memicu perubahan iklim global dan menurunnya kesehatan dan kesejahteraan banyak penduduk di muka bumi. Pengaruh letusan Tambora 1815 juga bertepatan dengan masa ketika Napoleon kalah dalam perangnya yang kedua setelah ia lolos dari pengasingannya di pulau Elba, Mei-Juni 1815.

Jauh sebelum letusan Tambora 1815 atau Krakatau 1883, pada pertengahan abad ke-6 M, Gunung api Krakatau tua – disebut ”Proto Krakatau” - diduga kuat telah meletus secara dahsyat. Letusan katastrofis Proto Krakatau itu menyebabkan berbagai perubahan penting pada tatanan iklim dan kehidupan di berbagai belahan dunia. Letusannya memicu pemunculan apa yang dikenal sebagai Abad Kegelapan (Dark Ages) hingga tenggelamnya digantikan oleh cikal bakal abad moderen. Hal ini sebagaimana laporan Ken Wohletz, 2002 (tersedia pada http:// www.ees1.lanl.gov/Wohletz/Krakatau.htm, diakses pada Juni 2010). Dalam kaitan ini dapat pula diperiksa hipotesa yang disampaikan dalam

ulasan atas buku David Keys, 1999, Catastrophe:

An Investigation into the Origins of the Modern

World” yang menjadi fokus pembahasan Wohletz,

2000 tersebut, tersedia pada http://www.semp.us/ publications/biot_reader.php?BiotID=214, diakses pada Juni 2010).

Kembali ke catatan sejarah modern, letusan Krakatau pada 1883 yang berkekuatan 1000 kali letusan gunung api di Islandia April 2010 itu, selain menyebabkan korban jiwa lebih dari 36.000 orang, terutama akibat sapuan tsunami, juga menghamburkan debu ke angkasa dengan volume yang sangat besar. Berbagai dampak letusan Krakatau 1883 sudah begitu banyak dilaporkan, termasuk bencana yang diakibatkan oleh debunya. Berikut ini terjemahan dari sebagian laporan George P.C perihal dampak debu letusan Krakatau 1883 terhadap atmosfer di berbagai kawasan bumi (tersedia pada http://www.drgeorgepc.com/ Volcano1883Krakatoa.html, diakses pada 02 Juni 2010):

(9)

tahun 1884 baik di Amerika maupun di Eropa. Fenomena sinar matahari saat tenggelam yang tidak biasa ini berlanjut berlanjut hampir selama 3 tahun”.

Perubahan Iklim Global dan Bumi yang Rentan

Debu gunung api juga merupakan salah satu penyebab perubahan iklim global disamping penyebab lainnya yaitu: perubahan orbit bumi, perubahan yang terjadi di matahari, dan dinamika

lautan; serta sebab antrophogenic yang masih

menjadi bahan perdebatan. Umumnya debu gunung api menyebabkan suhu bumi menurun atau bumi menjadi lebih dingin. Namun, pemanasan global juga dapat terjadi dalam beberapa kasus.

Menurut David Keys dalam rujukan tersebut diatas, temperatur permukaan bumi global mendingin

antara 5 sampai 10 beberapa derajat Celsius (oC).

atau lebih akibat letusan Proto Krakatau pada sekitar 535 tahun sebelum Masehi (SM) hingga 10 tahunan sesudahnya. Salah satu bukti yang diajukan Keys untuk hipotesanya tentang adanya letusan katastrofis Proto Krakatau itu tiada lain adalah fenomena yang menunjukkan terjadinya penurunan temperatur global. Bukti tersebut antara lain: mengecilnya lingkaran tumbuh pada

batang tumbuhan (tree rings) yang diperoleh

dari studi dendrochronology terhadap bebera

tumbuhan dari kawasan Eropa.

Pada 1883, Krakatau kembali meletus dahsyat. Abu letusannya menyebabkan temperatur

rata-rata bumi turun 1,2oC dan cuaca berlanjut dalam

ketidak-menetuan beberapa tahun kemudian, serta temperatur bumi tidak kunjung normal sampai tahun 1888 sebagaimana laporan Wikipedia (tersedia pada http://en.wikipedia. org/wiki/Krakatoa, diakses pada Mei 2010). Sebelumnya, letusan Tambora pada 1815, juga menyebabkan penurunan temperatur bumi global antara 0,4-0,7°C. Pada tahun berikutnya, 1816,

sebagaimana informasi

dalam Wikipedia (tersedia pada http://en.wikipedia. org/wiki/Mount_Tambora diakses pada Mei 2010) pengaruh letusan Tambora menyebabkan tahun tanpa

musim panas (year without

summer) di belahan bumi kematian beberapa jenis

ternak, berkembangnya

berbagai wabah penyakit,

menurunnya kesehatan

masyarakat, dan dampak

merugikan lainnya.

Kesejahteraan masayarakat pun menurun; dan beberapa kota-kota dan kebudayaan besar dapat memudar atau bahkan punah. Sejarahpun berubah. Selain itu, debu gunung api yang berasal dari Bumi itu pada gilirannya dapat menjadi ancaman balik untuk dinamika Bumi.

”Jauh dari gambaran lembut seperti dilukiskan mitologi - mitologi kuno, Dewi Pertiwi

sesungguhnya gampang senewen dan meledak -

ledak. Dia begitu peka sehingga sedikit saja cuaca dan iklim berubah, maka tercabiklah kerak bumi, dan keluarlah letusan vulkanik, gempa bumi dan longsor yang semuanya dahsyat”.

Demikian ANTARA News, 7 Oktober 2009 mengawali sebuah beritanya (tersedia pada http://www.antaranews.com/berita/1254900798/ perubahan-iklim-membuat-gempa-bertambah-dahsyat, diakses pada Juni 2010). Paragraf tersebut diatas merupakan pengantar berita tentang hasil pertemuan sejumlah ilmuwan di London, Inggris pada pertengahan September 2009. Salah satu kesimpulan pertemuan itu adalah penilaian bahwa perubahan iklim dapat merusak keseimbangan Bumi yang berujung pada rangkaian bencana geologis. Berbagai data iklim lainnya seperti La Nina, mencairnya es dikutub yang memicu bencana geologis juga disampaikan para ilmuwan dalam pertemuan tersebut. Kesemuanya menunjukkan pengaruh iklim terhadap dinamika Bumi. Sebaliknya, paparan sebelumnya menunjukkan pengaruh Bumi terhadap iklim.

Tantangan Mitigasi-Tantangan Peradaban

Mengingat wilayah Indonesia memiliki banyak gunung api yang sewaktu-waktu dapat meletus, dan kita tidak tahu secara persis kapan letusan itu akan terjadi, debu gunung api Indonesia penting untuk selalu diwaspadai. Namun, sebagaimana segala sesuatunya berpasangan, selain ancaman, sang debu gunung api juga memberikan peluang.

Secara umum peluang itu berupa peningkatan mitigasi atau pengurangan risiko bencana akibat letusan gunung api melalui berbagai upaya mitigasi. Secara khusus, peluang berupa tantangan itu antara lain pemodelan pengaruh debu gunung api untuk berbagai skenario risiko dan upaya mitigasinya, kerjasama global dalam peningkatan kualitas peringatan dini adanya ancaman debu gunung api, dan pengembangan teknologi yang relevan, seperti teknologi terkait penerbangan. Tantangan lainnya adalah penataan ruang dan pembangunan berbagai sektor yang mempertimbangkan ancaman debu gunung api dan pengurangan risikonya; serta peningkatan

upaya recovery dari bencana seperti asuransi

bencana letusan gunung api. Sebuah tantangan yang sesungguhnya multi disiplin dan bagian dari

peradaban umat manusia.n

Bandung, Juni 2010 Oman Abdurahman

(10)

10

W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

W

ilayah Kecamatan Selakau

termasuk Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, menempati sebagian besar dataran banjir sepanjang Sungai Selakau. Wilayah ini sebagian besar merupakan dataran rendah yang sangat luas, dengan ketinggian tidak lebih dari 10 meter di atas permukaan

laut. Secara litologi, daerah ini ditutupi oleh endapan Kuarter berupa gambut, pasir, lempung, lumpur, dan sisa-sisa tumbuhan. Namun demikian, gambut mendominasi endapan Kuarter di daerah ini dan menutupi dataran rendah yang sangat luas. Sebaran gambutnya sangat luas, namun belum dimanfaatkan secara

Oleh: Hamdan Z. Abidin

Gambut di Selakau

Dilema Pemanfaatan

(11)

fisik, kecuali untuk persawahan, serta perkebunan sawit dan jeruk.

Proses pembentukan gambut erat kaitannya

dengan keberadaan rawa serta kegiatan

penurunan lahan, sehingga terjadi cekungan, lalu tetumbuhan di atasnya roboh dan mengisi cekungan. Sebagian terjadi proses dekomposisi dan pengarbonan, menyebabkan terbentuknya gambut yang tersebar luas di wilayah Kecamatan Selakau.

Morfologi: Dataran Kering dan Dataran Rawa Sebagian besar morfologi wilayah kecamatan Selakau didominasi oleh dataran rendah dan sedikit perbukitan terisolasi. Dataran rendah dapat dibedakan menjadi dataran rendah kering dan dataran rendah berawa. Dataran rendah kering menempati bagian hilir Sungai Selakau. Daerah ini umumnya ditutupi oleh hutan belukar. Sebagian kecil daerah ini dimanfaatkan penduduk untuk lahan pertanian dan perkebunan. Dataran rendah kering menutupi daerah yang sangat luas mencapai ribuan hektar. Sejauh mata memandang, tidak terlihat adanya perbukitan, kecuali Gunung Silubat.

Sebaliknya, dataran rawa menempati bagian hulu dan anak-anak Sungai Selakau. Daerah ini ditutupi oleh hutan rawa dan pohon berduri sejenis pohon pandan air (rasau). Pohon rasau ini menghiasi sisi-sisi sungai, dan membahayakan kalau tersangkut pada batang atau daunnya karena dipenuhi duri yang tajam. Di beberapa tempat, di musim kemarau, pohon ini pernah terbakar dan hanya terlihat bekas batangnya saja. Sebetulnya dataran rawa ini merupakan daerah basah kering. Artinya, kalau di musim hujan, daerah ini terendam oleh

air sehingga memudahkan bagi angkutan sungai untuk melewatinya. Keberadaan air di daerah ini sangat penting sebagai sarana transportasi untuk membawa bahan sehari-hari dari kota Kecamatan Selakau ke desa. Pada saat air menggenangi daerah ini, penduduk berkesempatan untuk melakukan penebangan kayu untuk bangunan atau untuk dijual. Pada saat demikian, balok-balok kayu dapat dengan mudah diangkut melalui air.

Sebaliknya, di kala musim kemarau, daerah ini menjadi kering dan keberadaan air hanya dijumpai pada alur-alur sungai saja. Di kala musim kemarau ini, terjadi pembakaran maupun kebakaran hutan, karena pepohonan mudah terbakar, terutama rasau.

Daerah perbukitan dijumpai di desa Silubat, yang dikenal dengan Gunung Silubat. Gunung Silubat merupakan gunung ganda dengan ketinggian berkisar 100 m.dpl. Gunung ini dikelilingi dataran rawa dan ditutupi pepohonan dan kebun masyarakat. Di kaki gunung, terutama di lembah bagian barat, banyak dijumpai dompeng untuk menambang emas.

Endapan Kuarter

Secara Geologi, daerah ini didominasi oleh endapan Kuarter/Resen, kecuali di daerah Gunung Silubat yang ditutupi oleh batuan sedimen. Endapan Kuarter/Resen terdiri dari gambut, pasir, lempung dan lumpur. Gambut menempati sebagian besar daerah hilir Sungai Selakau yang membentuk dataran rendah kering yang sangat luas. Gambut berwarna putih kecoklatan, kekuningan, kehitaman, lunak seperti tanah liat, dan tidak terkonsolidasi dengan kuat. Di dalam gambut tanah liat ini dijumpai potongan batang-batang

(12)

12 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

kayu yang berukuran cukup besar, akar pohon atau bekas pangkal pohon yang sudah mati. Juga akar-akar pohon yang masih hidup menembus lapisan gambut bagian atas. Pasir sangat jarang dijumpai kecuali bersatu dengan lumpur yang pekat. Sumber pasir diduga berasal dari Gunung Silubat. Lempung yang berwarna putih, lunak, tersingkap setempat-setempat pada batas dataran kering dan dataran berair. Lempung diduga sebagai hasil pelapukan batulempung di Gunung Silubat. Lumpur, berwarna hitam kecoklatan menempati daerah dataran berawa dan aliran sungai. Baik lumpur, pasir, dan lempung merupakan endapan resen yang belum terkonsolidasi dengan kuat. Dalam lumpur-lumpur ini dijumpai potongan kayu atau akar kayu yang sudah mati.

Batuan sedimen di Gunung Silubat terdiri dari perselingan batupasir dan batulempung.

Batupasir berwarna abu-abu, berbutir halus, masif dan sudah mengalami pelapukan kuat sehingga sulit melihat batuan asalnya. Oksida besi berupa hematit, jarosit, umum dijumpai. Dalam batupasir ini dijumpai lapisan tipis urat kuarsa yang mengandung pirit. Batulempung berwarna kelabu dan telah mengalami pelapukan kuat seperti halnya batupasir. Sebagian besar telah teroksidasi dengan terlihatnya mineral hematit dan jarosit dan oksida besi.

Tanah Gembur

Gambut didefinisikan sebagai endapan Kuarter/ Resen yang berupa sisa tumbuhan yang membentuk tanah gembur atau setengah padat. Ketika tetumbuhan mati lalu masuk ke dalam tanah berlumpur atau rawa, dengan kondisi anarobik, sehingga terjadi proses dekomposisi dari sisa-sisa kehidupan tadi. Adanya akumulasi tetumbuhan berikutnya serta adanya proses sedimentasi, mengakibatkan kompaksi material di bagian bawah rawa/tanah berlumpur. Secara perlahan-lahan seluruh tanah berlumpur tertutupi oleh sisa-sisa tetumbuhan. Secara vertikal, dari atas hingga kebagian bawah, akan memperlihatkan tingkat pengembangannya, yaitu: kehidupan lumut, lumut mati, gambut laminasi dan gambut padat.

Gambut dapat dianalogikan dengan lignit. Perbedaan antara gambut dan lignit sangat tipis. Gambut merupakan kumpulan material yang berumur Resen, berupa sisa-sisa akar pepohonan, potongan kayu, lumpur, tanah liat, dll. yang telah mengalami karbonisasi/dekomposisi. Sebaliknya, gambut yang melalui proses sempurna termasuk tekanan, pengeringan, pengerasan serta melalui waktu geologi, akan membentuk batu bara lignit. Jadi gambut merupakan proses karbonisasi awal sisa-sisa tetumbuhan untuk selanjutnya berubah menjadi lignit-bitumen-batubara-sampai antrasit.

Proses Pembentukan Gambut

Proses pembentukan gambut merupakan proses awal pembentukan batubara menjadi lignit-batubara. Proses pembentukan batubara di daerah rawa/danau. Gambut pun terjadi di daerah yang sama. Ada beberapa parameter pembentukan gambut. Pertama adanya lahan/dataran yang luas dan bersifat rawa dan basah.

Kedua adalah keberadaan material sebagai bahan pembentuk gambut, yaitu adanya hutan rawa yang hidup di daerah rawa tersebut. Berikutnya adalah waktu, sehingga terjadi proses penggambutan. Lahan rawa yang basah serta bersifat gembur dan mudah dipengaruhi oleh kondisi sekitarnya, apabila sudah dipenuhi oleh tetumbuhan, terjadilah proses pembebanan yang mengakibatkan penurunan sehingga lambat-laun terjadilah suatu danau/ cekungan. Akibat penurunan yang berjalan terus-menerus serta adanya aktivitas endogen atau

(13)

akibat lainnya, tetumbuhan yang hidup itu roboh dan tumbang serta mengisi cekungan/danau.

Didukung oleh kondisi alam dan iklim basah

(humid), terjadilah proses pengarbonan sebagian

sisa tumbuhan yang mati. Proses sedimentasi berjalan terus sehingga material tadi tertutup oleh sedimen (lumpur) yang belum terkonsolidasi kuat. Karena proses ini berlangsung dalam waktu Kuarter/Resen, proses pembebanan belum terjadi maksimal begitu pula proses karbonisasi terhadap material yang ada juga tidak maksimal. Akhirnya terbentuklah endapan yang dikenal dengan gambut.

Apa yang terjadi di daerah Kecamatan Selakau telah memenuhi parameter tersebut. Di daerah Selakau terdapat dataran banjir yang luas, merupakan kondisi awal untuk terjadinya gambut. Daerah ini sebelumnya ditumbuhi oleh

tetumbuhan yang lebat, terbukti adanya sisa-sisa kehidupan di masa lalu dengan ukuran yang cukup besar. Akhirnya, tumbuhan tadi mati, mungkin disebabkan karena tua atau akibat lain. Lambat laun, proses penurunan terjadi dan diikuti oleh proses sedimentasi. Akibatnya sisa kehidupan itu tertutupi oleh sedimen baru dan disertai oleh proses dekomposisi dan pengarbonan sebagian dan menghasilkan gambut Selakau.

Gambut di Kecamatan Selakau

Di wilayah Kecamatan Selakau banyak terdapat gambut yang tebal. Gambut ini tersingkap sepanjang sungai Selakau di daerah dataran kering. Ketebalannya berkisar antara 1-5 m, bahkan lebih. Gambut ini berwarna putih abu-abu kotor sampai coklat kehitaman, setengah lunak seperti halnya tanah liat. Dalam gambut ini dijumpai bekas batang-batang kayu beserta akar-akarnya yang sudah mati, diameternya mencapai

(14)

14 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

1 meter. Artinya, daerah ini sebelumnya ditumbuhi oleh pepohonan yang besar.

Secara vertikal, gambut di wilayah Kecamatan Selakau terdiri dari beberapa lapisan, yaitu lapisan permukaan, lapisan gambut lunak dan lapisan

gambut agak padat. Lapisan gambut permukaan disebut sebagai lapisan fibrik, berwarna coklat kehitaman, lunak dan mengandung tanah, banyak sisa pepohonan mati serta akar tumbuhan hidup di permukaannya. Ketebalan lapisannya sekitar 1-2 m.

(15)

Lapisan kedua adalah gambut humik yang berwarna kuning kecoklatan yang terdiri dari dari tanah dan sedikit sisa tumbuhan dan sedikit padat. Batas antara lapisan 1 dan 2 memperlihatkan suatu jejak perlapisan.

Lapisan ketiga adalah gambut saprik, berwarna kuning kecoklatan, keputihan dan agak padat. Lapisan ini dicirikan hampir tidak memiliki sisa tumbuhan. Tebal lapisan tidak bisa diketahui secara pasti karena harus dilakukan pemboran.

Sebaran Gambut di Indonesia

Di Indonesia, sebaran gambut terdapat di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Menurut penelitian yang dilakukan oleh John Roach (2004) untuk Nasional Geografi (berita Internet), menyatakan bahwa gambut di Indonesia menempati 11% dari luas keseluruhan daratan Indonesia. Namun sekarang hanya bersisa 17 juta hektar saja dari 20 juta hektar. Berkurangnya gambut di Indonesia karena dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan, transmigrasi, dll. Di Pulau Sumatera gambut hanya tersisa sekitar 4,6 juta hektar, yang tersebar di pantai timur Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan, seperti di Jambi; Riau (Bunut-Kuala Kampar, Sei Rokan Timur, Sei Kecil dan Kabupaten Indragiri Hilir; Sumatera Selatan (Lalan). Di Pulau Kalimantan gambut hanya tersisa sekitar 3–5 juta hektar, yang tersebar di pantai barat Kalimantan Barat (termasuk gambut Selakau), bagian tengah Kalimantan Tengah (S. Sebangau), Kalimantan Selatan serta beberapa tempat di Kalimantan Timur. Sebaliknya, lahan gambut di Papua tersebar di pantai bagian selatan dengan luas sekitar 8,7 juta hektar.

Manfaat dan Kerugian Gambut

Di Indonesia, lahan gambut dijadikan sebagai lahan pertanian, persawahan dan perkebunan. Begitu juga gambut di Kecamatan Selakau, umumnya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Secara fisik gambut bisa dipotong-potong berupa balok-balok tipis, kemudian dikeringkan dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar. Meskipun kandungan karbon dalam gambut 50-60% dengan nilai kalori cukup tinggi, gambut hanya dapat digunakan sebagai bahan bakar saja karena asap dan abunya yang tinggi.

Manfaat lainnya, gambut sangat penting untuk pertanian dan perkebunan, karena dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan

keasaman tanah, serta mempertahankan

kelembaban tanah dan kelebihan air, sehingga tidak terjadi pembusukan akar. Gambut juga dapat menyimpan nutrisi, walaupun gambut sendiri tidak subur. Untuk reproduksi kesehatan ikan serta melindungi pertumbuhan ganggang

dan membunuh mikro-organisme, maka gambut dapat dimanfaatkan.

Dalam perubahan lingkungan global saat ini,

gambut dapat berfungsi sebagai penyerap CO2.

Oleh karena itu, sudah seharusnya lingkungan gambut dijaga, sehingga tidak dibakar ataupun ditambang. Dengan terjaganya lahan gambut membantu kehidupan manusia di masa yang akan datang, mengingat udara di sekitar sudah sangat tercemar oleh emisi CO2 yang berlebihan, baik

yang dikeluarkan oleh jutaan kendaraan maupun pabrik-pabrik besar ataupun rumah kaca di dunia ini.

Di samping gambut bermanfaat banyak kepada umat manusia, namun ada kelemahan dan kerugiannya juga. Gambut apabila mengalami pemanasan, cepat mengering sehingga mudah terbakar. Oleh karena itu, pada musim kemarau, gambut Indonesia selalu menimbulkan malapetaka karena selalu mengeluarkan titik api yang sulit dipadamkan, apalagi apinya berada di bawah permukaan. Adanya gambut akan menyulitkan untuk pembuatan sarana jalan raya, rel Kereta Api dan bangunan.

Penutup

Apapun yang diciptakan Tuhan, pasti ada manfaatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu pula dengan gambut yang tersebar di daerah basah termasuk rawa, mempunyai manfaat bagi manusia. Adanya lahan gambut yang luas di Indonesia memberikan peluang kepada masyarakat Indonesia untuk memanfaatkannya.

Perkebunan, pertanian, dan persawahan umumnya berada di lahan gambut, dan saat ini ribuan bahkan jutaan hektar lahan-lahan gambut ini telah dimanfaatkan untuk perkebunan, terutama sawit. Lahan gambut juga dapat ditambang untuk pupuk dan kepentingan lainnya.

Saat ini telah terjadi pemanasan global dengan

terkonsentrasinya gas CO2, maka gambut akan

berperanan penting untuk menyerapnya. Gambut juga dapat dijadikan parameter perubahan iklim. Oleh karena itu, keberadaan gambut di Indonesia umumnya dan di daerah Selakau khususnya, harus dijaga kelestariannya karena banyak memberikan manfaat walaupun ada segi buruknya. Gambut merupakan cikal bakal pmbentukan batubara. Tanpa adanya pembentukan gambut sebagai titik awal pembentukan batubara, tentunya tidak akan terjadi endapan batubara yang banyak tersebar di

bumi Indonesia ini.n

(16)

16

W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

P

ada bulan April lalu berbagai

media memberitakan dampak abu

gunung api (volcanic ash) yang

bersumber dari Gunung Eyjafjallajokull (1.666 m dpl.) yang letaknya di utara Skogar, Islandia. Di kalangan ahli vulkanologi, gunung api ini tidak

banyak dikenal. Gunung api ini meletus terakhir pada tahun 1823 atau hampir 200 tahun yang lalu. Disamping jarang meletus, letusannya tergolong kecil, bersifat efusif seperti umumnya gunung api yang ada di sekitarnya. Harian Umum Kompas memberitakan, gunung

Oleh: R. Sukhyar

dalam Perspektif Risiko Bencana

Ancaman Abu Vulkanik

Gunung Eyjafjallajokull, Islandia

(17)

api yang berada di bawah permukaan gletser Eyjafjallajokull, Islandia, itu meletus pada Rabu, 14 April 2010 pagi. Akan tetapi yang menjadi perhatian bukan letusannya, melainkan dampak sebaran abu yang ditimbulkannya.

Tiga hari setelah letusan, abu vulkanik disemburkan ke atmosfir hingga ketinggian 11 km dan menyebar ke arah timur hingga sejauh 3.000 km mencapai Moskwa, Rusia. Tentu negara-negara yang lebih dekat juga terkena dampaknya seperti Inggris Raya, Jerman, Belanda, Polandia, Swedia, Finlandia, dan Denmark. Bahkan negara-negara Eropa bagian selatan seperti Perancis, Italia, dan Spanyol juga kebagian abu, meskipun dalam intensitas yang lebih kecil. Akibatnya, hingga 18 April 2010, sebanyak 63.000 penerbangan domestik dan antarbenua dari dan ke Eropa yang diestimasikan mengangkut 3,4 juta penumpang dihentikan oleh pihak yang berwenang untuk sementara waktu hingga ruang udara Eropa bersih dari abu vulkanik dan dirasa aman untuk penerbangan. Kerugian ditaksir mencapai 200 juta dolar per hari dan dampaknya hampir dialami oleh semua negara, belum lagi dampak beruntun lainnya.

Yang menjadi pertanyaan mengapa letusan gunung api yang tergolong kecil ini mempunyai dampak yang begitu besar. Dari perspektif risiko, sumber ancaman yang kecil bisa berpotensi menimbulkan risiko yang besar. Lalu bagaimana jika suatu saat terjadi letusan katastrofik dari salah satu gunung api aktif yang ada di dunia. Dalam catatan sejarah, letusan katastrofik yang pernah disaksikan oleh umat manusia dan terjadi di Indonesia, yaitu letusan Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat pada 1815 dan Gunung Krakatau, Lampung pada 1883.

Karakteristik Letusan Eyjafjallajokull

Gunung api Eyjafjallajokull yang letaknya di utara Skogar, Islandia, memiliki ketinggian 1.666 m dpl., merupakan gunung api yang muncul pada

zona pematang di samudera Atlantik (Mid Ocean

Ridge Volcanism), zona yang memisahkan antara

benua Eropa-Afrika dengan benua Amerika Utara - Amerika Latin. Sebagai kompensasi pemisahan kedua benua tersebut terjadi letusan magma basaltik dari dalam bumi di sepanjang pematang membentuk kulit bumi atau dasar samudera Atlantik yang baru diantaranya gunung api seperti di Islandia.

Pada gunung api yang berkomposisi magma basaltik seperti di Islandia, tidak akan terjadi letusan besar seperti tipe Plinian atau Vulkanian yang bersifat eksplosif sebagaimana gunung-gunung api yang muncul pada zona tumbukan (subduksi) seperti di Indonesia, Filipina, Jepang, Rusia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Gunung api yang muncul di zona subduksi, kandungan magmanya cenderung asam dan kental dengan kandungan silika tinggi

(> 50 %) dan relatif kaya gas yang menjadi faktor penentu eksplosivitas letusan suatu gunung api.

Gunung api dengan tipe basaltik letusannya cenderung bersifat efusif berupa aliran lava. Walupun demikian bukan berarti tidak ada aktivitas eksplosif, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Sifat ini dikarenakan magma basaltik sangat encer, maka gas dalam magma sangat mudah memisahkan diri dan membentuk letusan-letusan kecil (letusan-letusan gas atau letusan-letusan abu) dengan frekuensi letusan yang tinggi.

Terdapat tiga faktor yang menyebabkan tingginya asap debu letusan Gunung Eyjafjallajokull, yaitu; pertama, gunung api ini sudah lama tidak meletus (dormant) yang menyebabkan volume magma yang dilontarkan cukup besar diiringi dengan letusan-letusan kecil yang sangat kerap. Kumulasi letusan yang banyak jumlahnya akan mendorong kolom asap ke atas hingga mencapai ketinggian diatas 10 km. Kedua, karena gunung api ini sudah lama tidak meletus, maka besar kemungkinan jalan keluar magma ke permukaan tersumbat. Untuk mendorong batuan penutup tersebut diperlukan energi yang besar dan ketika berhasil, maka letusan terjadi dalam kondisi tekanan yang maksimum. Oleh sebab itu awal aktivitasnya akan ditandai oleh letusan eksplosif yang membentuk kolom asap tinggi, mendobrak pintu kepundan dan mengikisnya agar magma dapat keluar. Seiring dengan waktu, letusan akan menurun diganti oleh erupsi yang bersifat efusif, berupa aliran lava di permukaan. Ketiga, musim dingin yang terjadi pada saat aktivitas berlangsung menyebabkan kerapnya terjadi letusan eklsploif sebagai akibat interaksi atau kontak antara material magma panas dengan air. Dalam keadaan ini terjadi kolom asap yang tinggi. Akibat interaksi magma dan air menyebabkan fragmentasi magma menjadi semakin sempurna menghasilkan butiran atau pecahan semakin kecil atau halus. Faktor meteorologi juga berperan dalam menyebabkan pergerakan awan debu vulkanik baik secara vertikal dan lateral.

Abu Vulkanik Sebagai Produk Letusan Gunung Api

Abu vulkanik merupakan fragmen berukuran sangat kecil (< 2 mm) yang disemburkan dari gunung api ketika tiba-tiba terjadi pelepasan gas dari magma dan terlontar ke atmosfir. Sebaran abu vulkanik bisa mencapai ribuan kilometer, tergantung pada arah dan kecepatan angin.

(18)

18 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

langsung sebesar 80.000 jiwa. Sedangkan yang terkena aliran awan panas secara langsung hingga menimbulkan kematian sekitar 12.000 jiwa.

Akibat dari letusan Gunung Tambora tidak hanya dirasakan oleh penduduk di Pulau Sumbawa dan sekitarnya tetapi dirasakan juga oleh masyarakat di Benua Eropa dan Amerika. Kota Genewa, Swiss

dan New Haven, USA mengalami musim panas

yang terdingin pada tahun 1815 dan produksi pertanian mengalami penurunan tajam. Mereka baru mengetahui beberapa tahun kemudian bahwa bencana tersebut akibat tidak langsung dari letusan Gunung Tambora. Itulah sebabnya

pada tahun itu dikenal dengan “the year without

summer”.

Abu vulkanik biasanya tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi menimbulkan dampak sekunder. Dampak yang ditimbulkannya antara lain:

Gangguan pernafasan yang disebut silikosis. 1.

Sebagaimana diketahui bahwa komposisi kimia abu vulkanik didominasi oleh silika yang berbentuk kristal. Butiran atau fragmen halus biasanya bentuknya tajam, sehingga apabila masuk ke dalam mesin kendaraan menyebabkan goresan. Biasanya butiran atau fragmen pada gunung api bersifat basaltik bentuknya tidak beraturan dan lebih tajam. Pemicu kecelakaan lalu lintas akibat dari 2.

kegelapan. Pada saat terjadi hujan abu, jarak pandang mata hanya beberapa meter saja. Dalam suasana panik dan gelap akan sangat mudah terjadi kecelakaan lalu lintas.

Penyebab iritasi pada mata. Karena

3.

mengandung kristal silika yang tajam, sehingga mudah terjadi iritasi pada mata manusia Mengganggu penerbangan pesawat. Apabila 4.

abu vulkanik tersedot oleh mesin jet pesawat, akan meleleh sehingga mengganggu putaran mesin pesawat. Akibatnya mesin bisa mati mendadak, sehingga menimbulkan kecelakaan yang fatal. Disamping goresan atau kikisan pada logam-logam mesin akibat tajamnya butiran abu vulkanik.

Mampu merobohkan bangunan apabila abu 5.

vulkanik dalam jumlah besar menimpa atap bangunan. Kasus ini pernah terjadi pada letusan G. Kelut tahun 1990. Sebuah bangunan milik perusahaan perkebunan roboh tertimpa abu vulkanik hingga memakan korban puluhan jiwa.

Indeks Letusan (Tingkat Eksplosivitas)

Untuk memberi gambaran secara semi kuantitatif besarnya suatu letusan gunung api, para ahli memperkenalkan Indeks Letusan Gunung Api yang disebut VEI (Volcanic Explosivity Index) berskala antara 0 hingga 8. Nilai VEI ditentukan dari jumlah volume material yang dikeluarkan dan ketinggian kolom letusan. Letusan gunung api di Islandia saat ini, indeks letusannya diperkirakan VEI ≤ 3 karena

bersifat efusif, material yang keluar sebagian besar dalam bentuk lelehan lava, sedangkan volume material lontarannya sangat kecil walaupun kolom asapnya tinggi.

Sebagai perbandingan, letusan Gunung Tambora tahun 1815, mempunyai VEI 7. Semula gunung api ini memiliki ketinggian 3.365 m dpl., akibat letusannya yang dahsyat terpotong hingga ketinggiannya tinggal 2.245 m dpl. Material yang dilontarkan sebesar 150 km3, atau kira-kira

ekuivalen dengan sebuah kawah yang mempunyai diameter 14 km dengan kedalaman 1 km. Tabel 1 menunjukkan VEI dan rata-rata volume material serta tinggi kolom letusan.

Risiko Ancaman Abu Vulkanik

Apabila dilihat dalam perspektif risiko bencana, nilai risiko tidak hanya tergantung pada besar dan jenis letusan saja. Risiko merupakan hubungan fungsional ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Dalam bencana geologi, sumber ancaman bersifat permanen dalam arti tidak bisa dikendalikan atau dihilangkan, seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami maupun gerakan tanah. Kerentanan menggambarkan besarnya nilai aset dan jumlah manusia yang berada pada kawasan rawan bencana yang mungkin hilang, berkurang baik kuantitas maupun fungsinya ketika bencana terjadi. Kapasitas adalah segala kemampuan baik berupa infrastruktur dan sumber daya manusia dari

para pemangku kepentingan (stakeholder) yang

terdiri dari masyarakat, lembaga non-pemerintah dan pemerintah, dalam menghadapi ancaman.

Dalam menghadapi ancaman sebaran abu vulkanik dari Islandia, pemerintah negara-negara Eropa telah memutuskan untuk penghentian sementara semua jalur penerbangan. Tentu keputusan ini akan berdampak sangat luas, tidak hanya di Eropa saja, tetapi bagi negara-negara lain yang mempunyai hubungan bisnis dengan memanfaatkan jasa penerbangan. Padahal bila dilihat dari ancaman letusan gunung api ini tergolong kecil dengan indeks letusan VEI ≤ 3. Sudah tepatkah keputusan yang diambil oleh pemerintah di negara terdampak?

Dilihat dari aspek manajemen mitigasi, langkah yang diambil pemerintah negara-negara Eropa sudah tepat, sebagai langkah preventif dan antisipatif. Apabila keputusan ini tidak segera diambil, risiko yang lebih besar tidak bisa dihindari. Kecelakaan pesawat yang akan memakan korban manusia kemungkinan akan terjadi. Penghentian penerbangan merupakan tindakan nyata dalam rangka pengurangan risiko bencana yang lebih besar. Berapapun kerugian ekonomi akibat keputusan ini, masih jauh lebih kecil risikonya dibanding apabila hanya dibiarkan saja, tidak

diambil tindakan apapun (by omition). Faktor

(19)

VEI Tinggi Kolom Volume material ejekta (terlontar ke atmosfir) Tipe erupsi Contoh Letusan

0. < 100 m 1000-an m3 Hawaiian Kilauea

1. 100-1000 m 10.000-an m3 Strombolian Stromboli

2. 1-5 km 1.000.000-an m3 Vulcanian Galeras (1992)

3. 3-15 km 10.000.000-an m3 Vulcanian Merapi (2006)

4. 10-25 km 100.000.000-an m3 Plinian Galunggung (1982), Colo (1983)

5. >25 km 1-an km3 Plinian St.Helens (1980)

6. >25 km 10-an km3 Ultra-Plinian Krakatau (1883)

7. >25 km 100-an km3 Ultra-Plinian Tambora (1815)

8. >25 km 1000-an km3 Ultra-Plinian Toba (74 ribu tahun yl)

Tabel 1. Ekuivalensi Indeks Letusan dengan Tinggi Kolom dan Volume Material.

utama (decisive factor). Terdapat kekhawatiran

sangat tinggi, apabila benar-benar terjadi suatu

kecelakaan akibat pelanggaran terhadap warning,

maka akan membawa dampak semakin besar, masyarakat akan trauma menggunakan pesawat. Namun di sisi lain, permasalahan serius adalah bagaimana menghilangkan atau mengurangi risiko bencana di tengah-tengah aktivitas ekonomi yang tidak boleh berhenti. Bayangkan apabila lebih dari satu gunung api meletus pada waktu bersamaan, umpama satu yang lainnya di Hawaii, akan semakin kacau keadaannya. Padahal secara statistik terdapat 50-60 gunung api meletus setiap tahun walapun pada intensitas yang bervariasi. Oleh sebab itu kemampuan ilmu dan teknologi harus digunakan. Analoginya adalah bagaimana pesawat harus menghindari zona turbulensi atau badai di atmosfir kumpulan awan lainnya. Bukankah bandara Islandia tetap beroperasi sementara bandara di 31 negara di daratan Eropa ditutup, artinya terdapat zona-zona ketinggian tertentu, atas informasi meteorologi yang akurat, masih dapat dilalui pesawat. Teknologi penginderaan jauh melalui teknologi satelit dan meteorologi menjadi sangat penting dibarengi dengan kecepatan analisis dan pemberian peringatan dini. Eksperimen dan uji coba dampak abu vulkanik terhadap mesin kendaraan terutama mesin peswat di udara dan potensi dampak negatif di udara harus terus dipelajari.

Dampak abu vulkanik bisa mempengaruhi cuaca bila terjadi dalam skala besar seperti pada letusan Gunung Tambora. Dari kejadian dalam sejarah bencana letusan gunung api, kita dapat menarik benang merah kaitan antara bencana geologi dengan bencana akibat perubahan iklim (climate change). Hal ini perlu dikemukakan disini mengingat paradigma yang berkembang saat ini adalah terfokus pada perubahan iklim global. Ini bisa dipahami karena perubahan iklim global dampaknya akan dirasakan oleh semua umat manusia di permukaan bumi. Tetapi perlu diingat juga bahwa di negara-negara tertentu, khususnya di Indonesia, potensi bencana geologi tidak pernah

menurun. Kejadian gempa bumi merusak sejak gempa dan tsunami di Aceh, disusul Chile, Haiti dan terakhir di China, nampaknya belum akan mereda. Bagaimana dengan ancaman letusan besar gunung api dalam bila terjadi abad ini, mengingat sejak letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 atau lebih dari seratus tahun tidak terjadi letusan besar. Kita tentu tidak berharap, tetapi dengan memiliki 129 gunung api aktif (13% dari semua gunung api di muka bumi), potensi terjadi letusan besar di Indonesia masih sangat mungkin terjadi. Tidak seorangpun yang tahu, gunung api yang mana dan kapan akan mengalami letusan besar.

Sejak tahun 1970 hingga 1995 sedikitnya tercatat 60 kejadian pesawat udara masuk ke dalam awan debu gunung api. Beberapa kejadian menyebabkan mesin pesawat mati. Salah satu kejadian yang pernah dialami oleh maskapai

penerbangan British Airways, pada tahun 1982

ketika terjadi letusan Gunung Galunggung, Jawa Barat. Pada saat terbang dari Australia menuju Singapura, melewati Jawa Barat tiba-tiba mesinnya mati karena menyedot debu Galunggung. Beruntung bisa mendarat darurat di Jakarta, sehingga tidak terjadi kecelakaan yang fatal. Oleh sebab itu, penelitian yang mendasar dan mendalam perlu dilakukan oleh para ahli ilmu kebumian untuk lebih mengenal dan memahami proses sumber ancaman bencana. Disamping itu, pemantauan gunung api yang efektif perlu tetap dilakukan, untuk mengetahui gejala awal aktivitas gunung api secara lebih dini sehingga peringatan dini bisa disampaikan pada saat yang tepat. Dengan kemampuan teknologi citra satelit saat ini, pengamatan sebaran abu vulkanik secara lebih presisi sangat dimungkinkan. Akan tetapi perlu kerangka kerja international sehingga para pemangku kepentingan bisa memberikan

kontribusi yang proporsional.n

(20)

20

W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

B

ahaya letusan gunung api adalah

bahaya laten, artinya bahaya yang secara diam-diam selalu mengancam. Siapa saja yang berpotensi terancam letusan gunung api? Untuk menjawab pertanyaan

tersebut ada baiknya menyimak

beberapa peristiwa letusan gunung api yang pernah terjadi di masa lalu.

Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 adalah letusan gunung api dahsyat dan merupakan contoh yang sempurna dari hancurnya satu pulau,

G e o l o g i P o p u l e r

Oleh: Imtihanah

Terhadap Penerbangan

Ancaman Abu Gunung Api

Ciri khas bagi gunung api yang sedang tumbuh adalah letusan tipe srombolian. Letusan tipe ini terjadi karena kantong fluida yang dangkal dengan komposisi andesitik basaltis dengan tekanan gas

(21)

Kenampakan mineral silika (SiO2) dalam mikroskop (http://blogs.finnair.com)

Pulau Krakatau. Demikian dahsyatnya letusan tersebut bunyi ledakannya terdengar hingga jarak 4.800 km jauhnya. Bukan hanya itu, laut

bergolak hingga menimbulkan gelombang

pasang (tsunami) setinggi 30 m dan menyapu pantai selatan Sumatera dan pantai barat Jawa dan menelan korban jiwa 36.000 jiwa.

Gunung Galunggung yang meletus selama 9 bulan lamanya pada tahun 1982 mengakibatkan Kota Bandung yang berjarak 120 km berhari-hari temaram di siang hari karena terganggu oleh hujan abu. Abu letusan yang dihembuskan ribuan meter tingginya mengganggu jalur penerbangan nasional dan internasional. Beberapa pesawat terbang dari Jakarta atau Singapura tujuan Australia secara terpaksa harus mendarat darurat di Jakarta atau Denpasar karena ada gangguan pada sistem mesin.

Pada pertengahan April 2010 dunia penerbangan

Eropa terganggu oleh letusan Gunung

Eyjafjallajökull, Islandia. Gunung api yang telah

mangalami masa istirahat (dormant) selama 200

tahun tersebut melontarkan abu letusan setinggi 11 km tingginya dari atas puncak.

Dari kisah di atas sangat jelas bahwa letusan gunung api berbahaya bagi mereka yang berada di darat, di laut, dan di udara.

Efek Abu Gunung Api (volcanic ash) terhadap mesin jet

Letusan gunung api melontarkan asap letusan (plume), yang terdiri dari gas dan partikel-partikel halus berbagai mineral yang kemudian menyebar ke atmosfir mencapai puluhan kilometer tingginya atas bantuan tiupan angin.

Pesawat terbang komersial yang menjelajahi angkasa dan kebetulan melintas pada wilayah gunung api yang sedang meletus tidak punya pilihan kecuali masuk ke dalam awan yang penuh dengan debu letusan gunung api. Kandungan utama debu ini adalah partikel silika (gelas)

berukuran 1-5 mm dengan titik lebur antara 6000

-8000C. Jika partikel abu gunung api yang sangat

halus ini masuk ke dalam mesin jet pesawat

terbang yang mempunyai suhu > 10000C akan

terakumulasi dan menyumbat mesin dengan lelehan gelas. Partikel silikat ini akan meleleh di kompresor bertekanan tinggi dan turbin mesin jet kemudian menjadi padat kembali di bagian-bagian turbin yang relatif lebih dingin dan menempel pada bilah baling-baling mesin. Silikat padat ini mengganggu aliran udara di mesin dan dapat menyebabkan kinerja mesin menurun atau bahkan berhenti sama sekali.

Partikel juga menempel pada bagian depan pesawat dan menyebabkan beberapa hal; salah pembacaan pada indikator kecepatan udara, mengganggu aliran udara di sekitar sayap, dan mempengaruhi pandangan dari dek penerbangan, mengikis struktur badan pesawat dan menyebabkan goresan-goresan halus serta pengelupasan bagaikan diamplas. Selain itu udara di kabin, akibat pengaruh dari udara luar, boleh jadi mengandung partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan.

Letusan Gunung Eyjafjallajokull, Islandia Pada pertengahan April 2010 salah satu gunung api di Islandia, Gunung Eyjafjallajolull meletus. Gunung api ini sudah tidur lebih dari 200 tahun. Letusannya menggangu penerbangan di belahan benua Eropa karena abu letusannya menyebar

(22)

22 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

di seantero Eropa. Setidaknya selama enam hari, antara 15-20 April 2010 sejumlah besar bandara ditutup. Pada 20 April 2010, 5 hari setelah erupsi, sebagian larangan dicabut setelah uji penerbangan memperlihatkan kerapatan abu vulkanik telah berkurang. Para ilmuwan dan operator penerbangan telah menetapkan dan menyetujui batas ambang aman, yaitu konsentrasi

Peta jalur penerbangandi Eropa dan prediksi sebaran debu letusan Gunung Eyjafjallajokull (http://news.bbc.com.uk/2hi/uk_news/8625813.stm).

Peta satelit yang menggambarkan sebaran debu letusan Gunung Eyjafjallajokull (http://news,bbc.co.uk/2/hi/uk_news/8625813.stm).

abu 0,002 g per meter kubik udara, karena pada konsentrasi ini tidak akan menyebabkan kerusakan pada mesin pesawat.

Peta berikut ini menunjukkan jalur penerbangan di Eropa dibatasi pada area di sekitar awan abu yang dihasilkan dari letusan Eyjafjallajokull, ditunjukkan dengan warna merah. Sapuan warna lebih gelap menunjukkan posisi awan yang lebih tinggi di atmosfer.

Peta-peta satelit menunjukkan sebaran abu letusan setelah dua hari sejak terjadinya letusan. Warna hitam dan merah tua menunjukkan lintasan awan abu dengan kerapatan tertinggi.

Kisah Abu Letusan Gunung Galunggung, Jawa Barat

Pada malam 24 Juni 1982 yang cerah tanpa

rembulan, pesawat British Airways denhgan

nomor penerbangan BA009 lepas landas dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Perth, Australia. Sebanyak 249 orang penumpang dengan bahan bakar 91.000 kg untuk 5 jam penerbangan. Ketika pesawat berada pada ketinggian 11.300 m, kapten pilot melihat asap muncul dari celah-celah lantai pesawat dan berbau hasil pembakaran. Di kaca depan serta mesin terlihat nyala api, tetapi radar udara menunjukkan segalanya sesuatunya normal. Kemudian insinyur mesin mengumumkan, mesin nomor 4 mati, diikuti mesin nomor 3, disusul kemudian mesin 3 juga mati, dan akhirnya semuanya mati. Kapten Pilot mengumumkan Mayday dan menghubungi Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kapten pilot berusaha keras memahami situasi, karena semua peralatan berfungsi baik termasuk pasokan listrik berjalan normal. Pilot otomatis juga berada dalam kontrol, tetapi kecepatan udara menurun.

Kapten memutar haluan menuju Jakarta, ketinggian aman di area pegunungan adalah sekitar 3200 meter. Ketika pesawat berada pada ketinggian 3600 meter, tiba-tiba mesin no. 4, yang pertama mati, menyala kembali. Tidak berapa lama berselang ketiga mesin lainnya juga menyala kembali - meskipun satu mesin kemudian mati lagi - semua kembali normal.

Lima belas menit telah berlalu sejak Mayday, pilot

(23)

pendaratan dinyalakan penuh. Ternyata kaca depan telah hampir buram sepenuhnya. Perlahan mereka mendarat dengan melihat melalui sisi kiri jendela depan, satu-satunya area yang masih tembus pandang. Para penumpangpun mendarat dengan selamat.

Dua hari kemudian, para awak mendapat jawaban atas penyebab kejadian aneh tersebut. Ternyata mereka telah terjebak di dalam awan abu vulkanik letusan Gunung Galunggung, 177 km di timur Jakarta. Abu letusan itulah yang telah menggores kaca depan hingga buram dan mengelupaskan cat ujung tombak pesawat, dan mesin adalah bagian yang paling parah terkena akibatnya, karena setiap mesin memproses 1,67 milyar meter kubik udara per menit. Dalam volume udara sedemikian, awan debu tidak perlu tebal untuk membuat timbunan debu di bagian-bagian bertemperatur tinggi yang sedang bergerak. Partikel mineral silikat ini kemudian meleleh lebur ketika bersentuhan dengan komponen-komponen bertemperatur tinggi tersebut.

Efek pertama debu terhadap mesin Rolls Royce BA009 adalah merubah bentuk bilah-bilah melalui abrasi dan sehingganya merusak efisiensi kompresi. Karena merupakan yang pertama mati, maka mesin no 4 mengalami paling sedikit kerusakan. Abu tersaring dan menyumbat tabung pitot pesawat - peralatan berujung runcing yang menggunakan tekanan udara luar untuk mengatur kecepatan pesawat - sehingganya menjelaskan mengapa para awak menerima pembacaan kecepatan udara yang menimbulkan tanda tanya. Saluran sistem kontrol lingkungan terkikis habis dari dalam oleh debu, menjelaskan mengapa keluar asap dari celah-celah di lantai pesawat. Dan di dalam mesin, baling-baling yang mengelilingi mulut saluran bahan bakar, yang mengubah bahan bakar menjadi kabut sebelum pembakaran, juga tersumbat. Ini berarti bahwa meskipun mulut saluran dapat melewatkan bahan bakar pada laju yang diinginkan, tetapi baling-baling yang tersumbat menghambat proses atomisasi, sehingga upaya menjalankan kembali mesin-mesin lebih sukar dari biasanya.

Terlepas dari penjelasan yang masuk akal di atas, mendapati semua mesin jet mati adalah hal yang tidak diinginkan meskipun pilot telah melakukan hal yang benar dan mendaratkan pesawat dengan aman, karena biaya perbaikan bukanlah hal sepele bagi penerbangan.

Peristiwa ini bukanlah yang pertama, sebelumnya sebuah pesawat Garuda DC-9 juga menabrak awan abu pada tanggal 5 April 1982. Dan juga

sesudahnya, pada tanggal 13 Juli 1982 sebuah pesawat Singapore Airlines 747 tujuan Melbourne juga berhadapan dengan awan abu.

Sebagai akibat dari peristiwa abu Galunggung di atas, manual prosedur keadaan darurat bagi pilot diubah. Sebelumnya, apabila mesin gagal maka yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kecepatan. Tetapi abu membuat masalah menjadi lebih parah. Dewasa ini, pilot sesegera mungkin akan memperlambat kecepatan dan menurunkan ketingggian hingga di bawah awan abu. Memasukkan air dingin dan udara bersih biasanya cukup untuk menghancurkan gelas silikat dan membebaskan mesin dari sumbatan. Meskipun begitu jendela depan tetap saja akan terkikis abu dan menjadi rusak dan pesawat harus mendarat menggunakan peralatan. Belum dapat diketahui bilakah kondisi seperti ini akan teratasi. Keadaan ini seperti taifun karena pesawat tidak dapat terbang masuk ke dalamnya, tidak dapat dimonitor langsung dan harus bergantung pada citra satelit.

Tujuh tahun kemudian, pada 14 Desember 1989, letusan Gunung Redoubt, Alaska memaksa pesawat KLM 747 memasuki plume abu pada ketinggian 7620 m. Belajar dari pengalaman British Airways, BA009, para awak lalu menurunkan ketinggian hingga lebih dari tiga kilometer dan mendarat di Anchorage dengan dua mesin. Biaya perbaikan pesawat termasuk pengecatan dan mengganti

keempat mesin menelan biaya 80 juta US dolar.n

Diterjemahkan dan disarikan dari

SR Wittiri, 2007, Gunung api Indonesia

(24)

24

W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o l o g i P o p u l e r

Oleh: SR. Wittiri

P

ada suatu pagi awal Januari 1988,

penduduk Desa Pokka, Ruteng dikagetkan oleh suara ledakan yang berasal dari lembah yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Suara ledakan itu disusul oleh kepulan asap berwarna hitam tebal yang disertai dengan hujan abu. Lembah yang diapit oleh

dua pocok (bukit), Pocok Mandosawu dan Pocok Ranakah tersebut berada di dalam Kompleks Kaldera (purba) Pocok Leok di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Berselang lima hari kemudian para peneliti dari Pusat Vulkanologi dan

Indonesia

Gunung Api Bawah Laut

(25)

Foto kiri adalah leleran lava saat pertama kali menembus batuan penutup di Lembah Ranakah – Mandosawu. Kanan adalah awan panas guguran dari tumpukan lava yang mulai membesar. Tampak menara radio telekomunikasi milik Telkom di Puncak Mandosawu.

Mitigasi Bencana Geologi, dahulu Direktorat Vulkanologi, menemukan lobang berdiameter 5 m yang setiap malam memancarkan cahaya merah. Itu pertanda adanya magma yang siap keluar dan tumbuh menjadi suatu gunung api. Hari-hari berikutnya letusan efusif terus berlangsung membawa lava dan akhirnya menggunung. Hingga akhir Februari 1988 tingginya sudah mencapai 70 m dari dasar lembah dan sudah menyamai pendahulunya, Pocok Ranakah dan Pocok Mandosawu.

Hari itu, tanggal 8 Januari 1988, lahir gunung api baru yang memperkaya khazanah kegunungapian Indonesia. Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, ESDM, ketika itu Professor J.A. Katili, memberi nama pada gunung api baru tersebut “Gunung Anak Ranakah” karena tubuhnya relatif menempel di tubuh Pocok Ranakah.

Kejadian tersebut menyiratkan bahwa, gunung api sewaktu-waktu dapat muncul di sembarang tempat, baik di darat maupun di dasar laut dengan satu syarat, berada pada jalur gunung api. Hal tersebut sangat mungkin terjadi di wilayah Indonesia yang mempunyai jalur gunung api yang sangat luas.

Dari kisah tersebut dan berdasarkan pemahaman geologi, suatu gunung api membesar “harus” melalui proses peletusan. Sebab apabila tidak ada proses peletusan, maka mustahil magma akan mencapai permukaan yang akan menjadi cikal bakal tubuh gunung api.

Kisah lahir dan tumbuhnya gunung api di atas

terjadi di daratan Flores. Penulis memakai kata “lahir” dan “tumbuh” karena sesungguhnya keberadaan gunung api berangkat dari sesuatu yang tidak ada kemudian lahir dan tumbuh membesar yang didahului oleh proses peletusan.

Gunung Api Bawah Laut Indonesia

Ekspedisi bersama antara ahli Indonesia dengan

Amerika Serikat menggunakan kapal riset Okeanus

Explor (National Oceanic and Atmospheric

Administration - NOAA) menemukan jejak gunung

api bawah laut di sebelah barat Pulau Kawio (4o40’16” Lintang Utara dan 125o28’41” Bujur

Timur), Perairan Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung api tersebut berada pada kedalaman -3800 m dari dasar laut (ddl) dan mereka namakan “Gunung Kawio Barat”. Menurut salah seorang ahli yang tergabung dalam ekspedisi tersebut, Jim Holden, sosok gunung api ini sangat besar, bahkan lebih besar dari gunung api lainnya yang ada di

Indonesia saat ini. (http://geology.com/news/2010/

kawio-barat-submarine-volcano.shtml). Penemuan

tersebut ramai diberitakan oleh berbagai media dan mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat luas.

(26)

26 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

1. Gunung Banua Wuhu (Mahangetang)

Gunung api ini pertama kali diketahui

keberadaannya pada tahun 1835 saat pertama kali meletus. Purna letusan muncul puncak setinggi 90 m di atas muka laut. Keadaan tersebut tidak bertahan lama karena runtuh dihantam gelombang. Kejadian serupa berlangsung pada tahun 1919 dan 1935, namun tubuh gunung tersebut selalu runtuh ditelan gelombang. Kini puncak Banua Wuhu berada pada kedalaman -12 m di bawah permukaan air laut.

Banua Wuhu berada di Perairan Sangihe, Laut

Sulawesi pada posisi geografis: 30 08’ 16” Lintang

Utara, 1250 29’ 26” Bujur Timur dan masuk dalam

wilayah Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara.

Berdasarkan catatan sejarah, Banua Wuhu pernah meletus pada 23 – 26 April 1835 berupa letusan efusif, leleran lava, letusan normal pada 17 – 18 April dan 27 Agustus 1904, 18 Juli dan 20 Agustus 1918 terjadi letusan normal. Pada Januari 1919 terjadi peningkatan kegiatan berupa gelembung-gelembung udara mencapai permukaan air. Pada 2 Februari 1919 terjadi letusan efusif, dan 2 – 3 April 1919 leleran lava berlanjut dan menambah besar tubuhnya.

Tim Vulkanologi yang mengunjungi lokasi Banua Wuhu pada Mei 2004 menemukan bahwa bagian puncaknya berada di bawah air sedalam antara 15 – 25 m. Menurut nelayan yang menangkap ikan di wilayah tersebut, bagian puncak terkadang

Sketsa Gunung Kawio Barat yang dibuat oleh Tim Ekpedisi NOAA dan lokasi Pulau Kawio (kanan).

No. Komposisi % Berat

1. SiO2 60,75

2. Al2O3 16,28

3. Fe2O3 6,8

4. CaO 7,72

5. MgO 3,24

6. Na2O 1,54

7. K2O 1,54

8. MnO 0,13

9. TiO2 0,48

10. P2O5 0,17

11. H2O 0,08

12. HD 0,78

Tampak gelembung-gelembung air yang keluar dari celah bebatuan dari bagian puncak Gunung Banua Wuhu. Foto: Publikasi Pemkab Sangihe, 2000.

(27)

muncul beberapa centimeter bila air laut surut. Nelayan tersebut menuturkan bahwa daerah di sekitar gunung api ini banyak terdapat ikan dan air lautnya terasa hangat.

Contoh lava dianalisa di Laboratorium Kimia Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunung apian (BPPTK), PVMBG, Badan Geologi, di Yogyakarta.

2. Gunung Submarin 1922

Gunung api ini diketahui keberadaannya ketika terjadi letusan pada 1922. Setelah itu tidak ada

lagi kegiatan selanjutnya sampai saat ini. Itulah sebabnya diberi nama Submarin 1922.

Secara geografis gunung api bawah laut ini mengambil tempat di Perairan Sangihe, Laut Sulawesi pada posisi 3058’ Lintang Utara, 1240

10’ Bujur Timur.

3. Gunung Yersey

Yersey ditemukan oleh tim ekpedisi Snellius pada 1929. Gunung api ini diapit oleh dua gunung api di Laut Banda, yaitu Gunung Wetar dan Gunung Batu Tara, berada pada posisi geografis 70 32’

(28)

28 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

Lintang Selatan, 1230 57’ Bujur Timur di Laut

Banda bagian selatan. Pernah terjadi letusan tetapi tidak pasti waktu kejadiannya.

4. Gunung Emperor of China

Menurut kabarnya, nama gunung bawah laut ini disesuaikan dengan nama kapal, Emperor of China, yang sedang melintas ketika terjadi letusan dan mendokumentasikan keberadaannya untuk pertama kalinya.

Gunung api bawah laut ini tumbuh di kedalaman laut -2850 m, tingginya 1500 m dari dasar laut (ddl) pada posisi geografis 60 37’ Lintang Selatan,

1240 13’ Bujur Timur di wilayah Laut Banda bagian

barat. Letusannya tercatat pada tahun 1893 dan Februari atau Maret 1927.

5. Gunung Nieuwerkerk

Gunung api ini memiliki dua puncak, Puncak I berada pada kedalaman – 2285 m setinggi 1900 m ddl dan Puncak II pada kedalaman – 2325 m setinggi 1800 m ddl.

Sejarah letusannya, tidak jelas dari puncak yang mana, terjadi pada tahun 1893, 24 September 1925, dan Maret 1927.

Nieuwerkerk berada di wilayah Laut Banda bagian barat pada posisi geografis : 60 36’ Lintang Selatan,

1240 40,5’ Bujur Timur (Puncak I), dan 60 39’

Lintang Selatan, 1240 43’ Bujur Timur (Puncak II)

6. Gunung Hobal

Hobal dalam bahasa setempat (Suku Atedei) berarti “timbul”. Nama itu berkaitan dengan keberadaan gunung api bawah laut tersebut yang sering timbul/muncul ke atas permukaan laut dekat pantai Tanjung Paugora.

Hobal adalah parasit dari Gunung Ili Werung seperti halnya Gunung Ili Grip. Gunung api bawah laut ini pertama kali diketahui keberadaannya oleh nelayan ketika meletus pada 5 Desember 1973. Hobal mengambil tempat perairan Selat Sumba

pada posisi geografi 80 22’ Lintang Selatan, 1230

35’ Bujur Timur, masuk dalam wilayah Kecamatan Atedai, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dalam tahun 1974 pernah muncul di permukaan 3 (tiga) puncak setinggi antara 20 – 60 m namun tidak bertahan karena runtuh dihantam gelombang.

Mei 1995 terjadi letusan yang menyebabkan air laut di sekitarnya bergolak setinggi 5 m

(29)

tetapi tidak menimbulkan tsunami. Tepat empat tahun kemudian, pada 22 Mei 1999, Hobal giat kembali, kali ini letusannya lebih besar dibanding sebelumnya. Letusan tersebut disertai suara dentuman dan kilatan serta lontaran material bercampur dengan air berwarna hitam setinggi 100 m. Purna letusan ditemukan banyak batu apung di sekitar pantai hasil letusan Hobal. Tidak ada perubahan pada garis pantai ketika letusan berlangsung, artinya tidak terjadi tsunami.

Sayang sekali para pengamat tidak pengambil contoh batuannya untuk dianalisis.

Kesimpulan

Gunung api dapat tumbuh dimana saja, baik 1.

di darat maupun di dasar laut sepanjang jalur gunung api atau jalur tektonik.

Gunung Kawio Barat yang ditemukan oleh Tim 2.

Espedisi USA dan Indonesia bukan sesuatu yang mustahi karena jalur tersebut adalah Jalur Gunung Api Busur Sangihe. Jalur ini berlanjut

ke Filipina dan Jepang.n

Penulis adalah Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi

(30)

30 W a r t a G e o l o g i J u n i 2 0 1 0

G e o F a k t a

Istilah Ofiolit dan Penemunya

Ofiolit merupakan penggalan kerak samudera dan lapisan mantel atas di bawahnya yang telah terangkat

atau terpindahkan dan tersingkap di bagian tepi kerak benua. Kata ofiolit berasal dari Bahasa Yunani ophios

(ular) dan lithos (batu).

Istilah ofiolit pada awalnya digunakan oleh Alexandre Brongniart (1813) untuk menyebut susunan batuan

hijau (serpentin dan diabas) di Pegunungan Alpen. Steinmann (1927) merubah penggunaan istilah ini

Gambar

Tabel 1. Ekuivalensi Indeks Letusan dengan Tinggi Kolom dan Volume Material.
Gambar dari sebuah bukit di Siprus. Lembaran vertikal batuan tanggul menyusup ke lava yang mengalir di dasar laut
Gambar di lokasi Museum Tsunami, berupa kejadian tsunami di Indonesia dan seluruh dunia, terdiri dari poster-poster tsunami.

Referensi

Dokumen terkait

PARAMETER DESKRIPSI CAPAIAN PEMBELAJARAN KHUSUS BIDANG MASTER OF CEREMONY SESUAI KKNI JENJANG III.. semangat untuk mendahulukan kepentingan

BEBERAPA GENOTIPE Saccharum spp.SUMATERA UTARA DENGAN VARIETAS TEBU TOLERAN KEKERINGAN (PS 864 DAN PSJT 941) MENGGUNAKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA.. Nama :

Menguasai pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-prinsip serta konsep umum untuk menerjemahkan informasi tentang rencana kerja, memilih bahan, menggunakan

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P&gt;0.05) pada lama penyimpanan yang berbeda terhadap mutu organoleptik dan kadar air. Kata kunci :

Kerinci yang diusahakan pada tanah Andisol, petani umurnnya melakukan penanaman pads bedengarlguludan searah lereng dengan maksud untuk menciptakan kondisi

Pengaruh kepemimpinan Islami terhadap Kinerja Karyawan pada Rabbani Semarang/ 2015 Independen: Kepemimpinan Islami Dependen: Kinerja karyawan Analisis regresi linier

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik marolis dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan

rendah sampai sangat rendah (marginal) Tanah ini mempunyai tingkat kepekaan erosi yang tinggi, kadar hara dan bahan organik rendah, tingkat kemasaman tinggi