• Tidak ada hasil yang ditemukan

e book majalah geografi warta geologi volume 4 nomor 4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "e book majalah geografi warta geologi volume 4 nomor 4"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Pengantar Redaksi 3 1 Oktober 2009; Seminar Geologi Kuarter di

Semarang, 15 Oktober 2009 dan Sosialisasi Penyebarluasan Informasi Geologi dan Geofisika bagi Guru Geografi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang berlangsung pada 28 Oktober 2009.

Suatu peristiwa yang mengenaskan menimpa saudara kita di Sumatra Barat, yang kita kenal dengan “Gempa Padang”, terjadi pada 30 September 2009. Gempa dengan intensitas 6,7 SR tersebut memicu longsor di berbagai tempat sehingga terjadi bencana yang berlipat dan merenggut banyak korban jiwa. Bencana tersebut mengingatkan kita pada peristiwa bencana yang dahsyat yang terjadi 5 tahun yang lalu: gempa dan tsunami Aceh. Itulah hakekat hidup, suka dan duka terjadi silih berganti dan tidak dapat ditolak. Siapa pun tidak dapat menebak apa yang akan terjadi, terutama peristiwa yang berkaitan dengan bencana atau bahaya bumi (geohazard). Karena itu, editorial WG kita pada kesempatan mengingatkan kembali risiko hidup di atas lempeng yang selalu bergerak dan sikap serta langkah yang diperlukan guna menghadapinya.

Pembaca yang budiman

Sebuah tulisan tentang tsunami disajikan WG kali ini mengingatkan kembali akan bumi kita yang selalu dinamis dan mengandung ancaman bencana yang dahsyat. Gerak lempeng tektonik yang membentuk rupa bumi kita dan selalu dinamis itu adalah salah satu dari kebesaran Tuhan Sang Pencipta. Sebuah tulisan tentang kebesaran ciptaan-Nya yang lebih megah lagi, alam semesta ini, melengkapi WG kita Volumen 4 No. 4 ini.

Sebuah bangunan terpencil yang dihuni oleh beberapa petugas Badan Geologi terdapat hampir di setiap gunung api aktif di seluruh wilayah Indonesia. Itulah pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yang mungkin kehadirannya dilupakan, namun perannya sangat penting, terutama pada saat gunung api yang berada didekatnya menunjukkan aktivitas. WG kali ini sengaja menyajikan informasi tentang PGA Indonesia.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan Selamat Hari Ibu, 22 Desember khususnya bagi seluruh karyawati dan umumnya kaum perempuan. Untuk itu, dalam WG sekarang ini kami mengangkat profil seorang karyawati yang tidak pernah berhenti memikirkan, bahkan bergelut dengan salah satu potensi bencana geologi yang mematikan: tsunami Apresiasi ini kami anggap penting sebagai bukti bahwa bukan hanya kaum pria yang peduli dan bergelut dalam masalah bencana, tetapi perempuan pun mampu. Dewan redaksi juga tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Natal, 25 Desember bagi rekan-rekan yang merayakannya. Semoga kasih Tuhan selalu menyertai langkah kita semua.

Akhirnya kami berharap semoga tahun baru 2010 yang segera datang memberikan angin segar dan semangat baru yang akan memacu kita untuk bekerja dan berkarya lebih baik dengan prestasi yang lebih gemilang dari sebelumnya.n

(4)

E d i t o r i a l

Berarak Bagaikan Awan

Hampir lima belas abad yang lalu (abad 6 M), jauh sebelum Harry Hammond Hess mengemukakan teori “sea floor spreading” yang kemudian berkembang dan kini dikenal sebagai teori tektonik lempeng (plate tectonic), Al Quran sudah mengingatkan bahwa gunung-gunung itu melayang: “kamu lihat gunung-gunung itu, kamu duga dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan bagaikan jalannya awan” (QS 27:88). Ayat tersebut seakan menjadi ilham bagi Hess untuk mengemukakan inti teorinya bahwa bumi yang kita huni ini sesungguhnya mengapung di atas suatu lempeng yang senantiasa bergerak.

Dalam teori tektonik lempeng dinyatakan bahwa lapisan teratas bumi kita ini (litosfera) terdiri atas dua lempeng, yaitu: lempeng samudera (oceanic plate) dan lempeng benua (continental plate). Keduanya selalu bergerak, meski kecepatan geraknya rendah. Karena itu, lempeng-lempeng dapat bertubrukan, jika dua lempeng saling mendekat; bergesekan jika dua lempeng bergerak sejajar berlawanan arah, atau saling menjauh; menyebabkan tidak stabilnya – atau kita menyebutnya dinamis – bumi kita ini.

Konsekuensi bagi benda yang berada di atas tatanan yang dinamis adalah benda tersebut ikut dinamis. Kondisi tersebut berlaku bagi rangkaian kepulauan yang berada tepat pada zona benturan dua lempeng, bukan hanya satu melainkan tiga, zona benturan dua lempeng. Itulah kepulauan Indonesia. Apa yang kita rasakan dan saksikan belum lama ini berupa rangkaian gempa bumi yang menggoyang bumi Indonesia adalah perulangan dari banyak kejadian serupa yang sudah amat sering menimpa kita. Artinya, kejadian tersebut bukan hal yang baru, bahkan akan selalu berulang di masa yang akan datang, sehingga seharusnya menjadi perhatian bagi semua pihak. Goncangan gempa bumi adalah bukti dinamisnya bumi yang kita tempati akibat gerakan lempeng-lempeng di bawahnya yang merupakan ancaman atau bahaya bagi kita. Pada gilirannya bahaya tersebut dapat menjadi bencana.

Salah satu definisi bencana adalah suatu kejadian yang menimpa seseorang atau suatu komunitas yang menyebabkan penderitaan yang melampaui batas toleransi tertentu sedemikian sehingga seseorang atau komunitas tersebut tidak mampu untuk pulih kembali dengan kemampuannya sendiri tanpa bantuan dari pihak luar. Bencana geologi atau bencana yang dipicu oleh peristiwa geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan

gunung api, dan gerakan tanah adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi di wilayah Kepulauan Indonesia yang terjepit di antara tiga mega lempeng dengan penduduk dan aktivitasnya. Penduduk sudah seharusnya mafhum dengan kondisi tersebut seperti seorang nelayan yang sudah siap diterpa badai setiap kali pergi melaut karena suatu saat badai pasti adanya. Namun, apa yang kita saksikan adalah bahwa setiap peristiwa bencana geologi yang menimpa selalu dianggap sebagai hal yang baru sehingga menjadi alasan dari suatu ketidaksiapan. Semua pihak, pemerintah dan penduduk tidak siap menghadapi, apalagi menerima, bencana. Padahal kejadian tersebut adalah suatu keniscayaan dan pasti adanya, meski tidak ada seorang pun yang tahu secara tepat kapan waktu ancaman bahaya yang dapat meninbulkan bencana tersebut terjadi.

Kita sering mendengar tentang kearifan lokal yang pada hakekatnya adalah kepedulian masyarakat

setempat terhadap peristiwa yang sering

menimpanya. Selama puluhan tahun kita tidak pernah mendengar keluhan yang datang dari masyarakat Pulau Nias, Sumatra Utara, sebuah pulau yang amat sering digoyang gempa bumi. Demikian, karena mereka sangat memahami apa yang harus diperbuat apabila gempa terjadi. Penduduk Pulau Siau, Sulawesi Utara, pulau tempat tumbuhnya Gunung Karangetang, gunung api yang sangat giat karena meletus setiap tahun, tidak pernah gentar mendengar suara gemuruh dan menyaksikan aliran lava pijar membara yang bergulung dari puncak gunung. Sebab, mereka mengenal daerah yang aman dan perilaku yang semestinya dilakukan agar dapat bertahan (survive) atau selamat ketika letusan gunung tersebut terjadi. Itulah dua contoh dari kearifan lokal.

(5)

5 Geologi Populer

P

enambangan ilegal, disebut pula sebagai

penambangan tidak resmi, penambangan

tanpa izin (peti), atau peler (penambang

liar era reformasi) – selanjutnya disingkat “peti”

- sudah beroperasi sejak ratusan tahun lamanya,

bahkan banyak yang dijalankan secara turun

temurun. Mereka tersebar di seluruh wilayah

Indonesia, baik di lokasi-lokasi yang terpisah dari

tambang resmi maupun di tempat yang berimpit

atau berdekatan dengan tambang resmi. Logam

utama yang ditambang adalah emas, yakni suatu

logam yang merupakan logam mulia, dianggap

sebagai standar moneter dunia, dan diminati oleh

banyak orang baik individu, kelompok orang atau

pun perusahaan. Di mana pun logam ini berada,

di tengah hutan belantara bahkan di tengah kota

sekalipun, pasti akan diburu orang.

“Akibat dan Dampak Kerusakannya”

Oleh: Hamdan Z. Abidin

di Bumi Indonesia

(6)

Merajalelanya peti diakibatkan oleh banyak faktor. Tiga faktor penting yang menjadi penyebabnya adalah: harga logam yang menarik, tidak tersedianya lahan pekerjaan, dan tidak adanya perangkat dan penegakan hukum yang jelas tentang peti. Terutama faktor terakhir ini menyebabka para pelaku peti dapat melakukan penambangan dengan bebas seolah-olah bahan dan area tambang itu milik mereka. Apalagi, saat ini dengan diterapkan “otonomi daerah”, masyarakat di daerah seolah-olah menjadi pemilik bahan tambang di daerahnya, sehingga perusahaan-perusahaan terkait yang berasal dari luar sulit untuk masuk. Saat ini, bukan saja emas yang ditambang secara ilegal, akan tetapi sudah merambah pula kepada logam-logam lain seperti bijih besi primer, timah aluvial, mangan, logam dasar (Cu-Pb-Zn), dan batubara.

Seperti disebutkan di atas, peti sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu atau sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Kebanyakan keberadaan peti sama seperti sebuah kerajaan. Artinya para pengikut penambang ilegal turun temurun sampai ke anak cucu. Para penambang ilegal ini umumnya penduduk lokal yang bukan ahli pertambangan atau disebut pula sebagai penambang konvensional.

Di masa lalu, peti beroperasi hanya dengan menggunakan linggis, cangkul, palu, dan alat dulang. Namun, seiring perkembangan zaman atau teknologi, penambang lokal berubah menggunakan teknologi seperti mesin, dsb.

Sekarang, banyak diantara mereka yang

menggunakan mesin “dompeng” buatan Cina untuk menghancurkan tanah yang kemudian dengan mesin isap mereka mengalirkan tanah tersebut ke penyaringan (jak-sakan). Dengan berfungsinya mesin “dompeng” (semprot dan isap), tambang dapat dioperasikan lebih cepat dan kerusakan alam juga lebih cepat. Jika sebelumnya, para pelaku peti itu dari masyarakat setempat, sekarang banyak pula diantara mereka berasal dari luar daerah, yang didanai oleh orang-orang berduit.

Sebaran Tambang Ilegal di Indonesia Peti tersebar di seluruh bumi Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya). Di wilayah Sumatra, hampir di setiap provinsi ditemukan peti. Namun, yang paling banyak di antaranya adalah di Provinsi Jambi, Sumatra Barat, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung. Lokasi bahan galian logam emas di Sumatra terdapat sepanjang Pegunungan Barisan dari ujung barat daya Sumatra sampai ujung Tenggara Sumatra. Mereka melakukan penambangan emas baik dengan cara peti di bekas tambang Belanda dahulu maupun di lokasi penemuan baru.

Di Provinsi Jambi, peti dijumpai di Kabupaten Tebo. Para pelaku peti di sini menyedot pasir pengandung-emas dari dalam Sungai Tebo. Puluhan penambang apung (peti) berada di sungai tersebut. Akibatnya, air yang sudah keruh itu tambah keruh serta berlumpur mengalir sepanjang sungai sampai ke pantai. Belum diketahui secara pasti, apakah para penambang tersebut menggunakan merkuri atau tidak sebagai perekat butir-butir emas halus.

Di Provinsi Sumatra Barat, penambang ilegal tersebar di beberapa tempat, yaitu di wilayah kabupaten Pesisir Selatan, Pasaman, dan Solok. Pada umumnya, mereka menambang bekas tambang Belanda yang sudah pernah ditambang. Bahan galian yang ditambang juga berupa emas. Ada dua lokasi penambangan ilegal yang hingga sekarang masihberlangsung, yaitu di Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman dan Kecamatan Abai dan Lubuk Gadang, Kabupaten Solok Selatan.

Tambang jenis ini dijumpai pula di Pongkor (Jawa Barat) yang dikenal dengan ”Tambang Gurandil”; juga dijumpai di Soripesa, Sumbawa Timur. Tentunya banyak lagi di tempat lain yang belum terrekam dengan baik. Di Kalimantan, penambang ilegal ini tersebar di setiap provinsi (Kalbar, Kalsel, Kaltim dan Kalteng).

(7)

7 Geologi Populer ini dibawa ke tempat pengumpulan dan dipecah ulang secara mekanik atau manual. Ada dua cara pemecahan batuan ini, yaitu – sebut saja - cara tumbukan dan cara gelondongan.

Cara tumbukan dilakukan dengan cara menumbuk batuan tadi menggunakan roda banting yang berukuran 3 - 4 m. Roda banting yang diputar oleh mesin ini dihubungkan dengan palu (kayu atau besi) yang dapat turun naik, sehingga menumbuk batu-batu tersebut. Setelah bebatuan tadi menjadi halus, kurang lebih seukuran pasir halus, dilakukan proses akhir dengan cara mendulang. Dari hasil dulang ini akan terlihat adanya emas. Jika ada emas, mereka melakukan proses akhir pemisahan emas dengan menggunakan air raksa sebagai pengikat. Hasil pengikatan emas oleh air raksa ini telah dapat dijual namun sebelumnya harus dilakukan pemisahan akhir menggunakan asam ketat (bromoform).

Cara kedua, atau cara gelondongan, dilakukan dengan memasukkan batuan tersebut ke dalam tabung besi yang diisi dengan beberapa besi bulat untuk menghaluskan pecahan tadi. Mesin penghancur ini disebut mesin gelondongan. Dalam mesin gelondongan ini terdapat beberapa tabung atau drum besi yang berisi pecahan bebatuan. Gelondongan ini diputar oleh mesin ”dompeng” yang dihubungkan dengan kabel. Namun ada pula yang diputar dengan mempergunakan kincir air. Proses ini dilakukan berhari-hari siang dan malam sampai betul-betul bebatuan tadi sudah menjadi tepung batu. Setelah material bahan galian tersebut halus kemudian dikeluarkan dan didulang untuk mendapatkan emas. Guna menyatukan butiran emas yang sangat halus, mereka juga gunakan air raksa sebagai pengikat. Proses pengambilan bijih sistem kedua ini khusus dilakukan untuk cebakan atau endapan logam (emas) primer.

Sistem terbuka diterapkan untuk penambangan bijih emas sekunder yang dilakukan dengan metode tambang terbuka (open pit). Para penambang menggunakan dua mesin (dompeng). Satu mesin berfungsi untuk menyemprot tanah penutup atau pasir yang mengandung emas, sedangkan mesin satunya lagi untuk mengisap pasir bercampur

Pemasangan selang air penambangan emas plaser di Solok Selatan, Sumatra Barat.

Saringan atau sakan/ jek untuk penampung emas.

(8)

lumpur yang dialirkan ke tempat penyaringan yang disebut “sakan” atau ”jek”. Saringan ini dialasi dengan karpet atau handuk untuk menangkap butiran emas, sedangkan mineral ringan (tanah, pasir, dan lumpur) akan terbuang bersama bubur lumpur. Bijih emas yang tersangkut di karpet atau handuk tadi dicuci ulang dan terakhir direkat dengan air raksa sebagai pengikat. Untuk melepaskan bijih emas dari air raksa tersebut, lalu digoreng dengan menggunakan cairan asam ketat (bromoform). Proses penggorengan ini sangat berbahaya, karena para penggoreng akan menghirup udara atau uap asam ketat tersebut. Emas yang yang sudah terpisah dari air raksa masih tercampur dengan logam lain (platina, perak, dll), namun sudah siap untuk dipasarkan.

Emas hasil pendulangan sudah dapat dijual langsung kepada pembeli atau penadah. Meskipun, emas-emas hasil pendulangan ini belum menunjukkan berat yang sebenarnya, karena masih bercampur dengan logam lainnya; namun, para pendulang sudah dapat mengantongi rupiah di kala mereka pulang ke rumah. Biasanya, emas hasil dulang, baik yang direkat dengan air raksa atau tidak akan langsung dijual kepada pembeli (cukong) yang telah memberinya modal awal. Dengan kata lain, para penambang ilegal sebenarnya tidak akan pernah kaya, karena hasil emas yang mereka peroleh hanya cukup untuk bayar hutang saja kepada penadah atau cukong yag memberinya modal awal Tentunya yang kaya adalah para penadah atau orang yang memberi modal awal. Para penadah/cukong akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu keuntungan dengan menyuplai bahan logistik dan juga keuntungan dari pembelian emas yang murah dibandingkan dengan harga pasar.

Penyebab Keberadaan Penambangan

Ilegal (Peti)

Muncul suatu pertanyaan: “Kenapa penambangan ilegal ini bermunculan bak jamur?” Seperti disebutkan di atas, penambang ilegal atau pelaku peti adalah penambang gelap yang tidak memperoleh izin dari pemerintah. Para pelaku peti ini muncul sudah sangat lama sejak manusia ini mengenal logam khususnya emas. Keberadaan peti ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena mereka sudah turun temurun melakukan penambangan. Kebetulan daerah yang ada cebakan logam (misalkan emas) berada di sekitar mereka. Tentunya bagi daerah yang tidak memiliki cebakan, kesempatan demikian tidak akan pernah terjadi. Penyebab kedua, tentunya didesak oleh sulitnya lapangan kerja, sedangkan mereka harus bertahan hidup. Penyebab ketiga, bukan karena turun temurun dan juga bukan karena masalah lahan kerja, akan tetapi sebagai kerja sampingan karena logam (emas) yang mereka cari bernilai jual tinggi. Alasan keempat, karena lemahnya perangkat hukum yang mengatur dan melakukan penegakan hukum bagi penambang ilegal. Tentunya sudah ada aturan bagi penambang

ilegal ini, akan tetapi tidak dijalankan dengan semestinya. Bahkan banyak kasus dimana pihak yang berwenang memberi kesempatan kepada penambang ilegal ini untuk menambang asal memberi upeti. Dengan demikian, penambang ilegal ini tidak pernah berhenti dan akan bermunculan terus menerus.

Di masa sebelumnya, target peti hanya terbatas pada logam emas. Namun, sekarang, semua bahan galian telah ditambang secara ilegal termasuk logam dasar (tembaga, timah hitam,

Penambangan emas sekunder di Sungai Tebo, Jambi.

Kerek pengambilan biji seng di Kecamatan Surolangun, Muro, Sumatra Selatan.

(9)

9 Geologi Populer dan seng), timah putih, besi, mangan, batubara

serta bahan galian industri berupa pasir, batu, tanah, dll. Jadi begitu banyak bahan galian yang diambil tanpa izin pemerintah. Dengan demikian, begitu banyak pula pajak atau royalti yang tidak dibayarkan kepada pemerintah. Padahal, pajak atau royalti tersebut berguna untuk masyarakat banyak sesuai dengan amanah UUD 45 Pasal 33 yang berbunyi: ”Bumi dan air milik rakyat dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.

Dampak Penambangan Ilegal

Jelaslah bahwa dengan penambangan ilegal, para pelakunya dapat mengatasi keperluan hidup sehari-hari mereka dan sanak familinya. Namun, dampak dari peti sangat dahsyat dan memprihatinkan. Dampak yang sangat serius dari proses peti adalah pencemaran lingkungan (perusakan hutan atau lahan dan pencemaran air). Perusakan hutan atau lahan merupakan dampak pertama dari kegiatan peti walaupun tidak semua peti merusak hutan dan laham. Bagi tambang (emas) primer, tanah permukaan maupun tumbuhan di atasnya mungkin tidak banyak terganggu karena mereka mengambil material di bawah permukaan dengan membuat terowongan

Mesin glondongan di daerah Bonjol, Sumatra Barat. Kerusakan akibat tambang emas sekunder Plaihari Tanahlaut, Kalimantan Selatan.

(kasus di Bonjol, Pongkor, dll). Selanjutnya, akibat sekunder dari peti ini, khususnya peti logam emas, adalah penggunaan air raksa yang sangat membahayakan bagi keberlangsungan hidup manusia dan lingkungannya

Sebaliknya, peti tambang sekunder (logam emas atau timah), merupakan penghancuran lahan secara total baik tanah penutup maupun pencemaran air. Pada umumnya, tambang ini banyak beroperasi di daerah lembah sungai dan dataran, karena logam sekunder emas dan timah dapat dijumpai pada endapan sungai tua. Daerah ini, sangatlah vital untuk lahan pertanian dan perkebunan atau persawahan dan juga sebagai sumber air. Seperti telah disebutkan sebelumnya, penambangan ini bukan saja menghancurkan lahan, akan tetapi sudah menghancurkan bumi ciptaan Tuhan. Hasil akhir akibat tambang sekunder ini, akan terlihat gundukan tanah dan pasir yang luas, panas, serta kering. Tidak ada tumbuhan produktif satu pun yang dapat bertahan hidup kecuali rerumputan yang kurang berguna bagi manusia.

(10)

Masyarakat yang sebelumnya sebagai petani berubah drastis menjadi penambang timah sekunder atau timah alluvial/ atau timah plaser. Akibatnya, hampir 2/3 wilayah Pulau Bangka sudah rusak berat. Daratan yang tadinya ditumbuhi oleh pohon-pohon berubah menjadi gundukan pasir, yaitu pasir kuarsa yang memutih bagaikan salju. Di atas gundukan pasir ini tidak satu tumbuhan pun mampu hidup karena lapisan tanahnya yang subur sudah terbuang bersama lumpur tambang.

Dampak yang sama juga dialami oleh tambang batubara (endapan primer) Tambang batubara ini selalu dilakukan dengan model tambang terbuka (open pit), yaitu membuka lahan permukaan. Kerusakan akibat tambang batubara ini tidak terkecuali baik ilegal maupun yang legal. Contoh-contoh tambang jenis ini terdapat di seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.

Solusi Pengentasan Tambang Ilegal Untuk mencegah berkembangnya peti lebih lanjut, maka penegakan hukum (law enforcement) harus dilaksanakan secara. Pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Daerah harus membuat PERDA (Peraturan Daerah) yang mengatur tentang bahan tambang ini mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi di tingkat Pusat atau Nasional. Siapa yang boleh dan tidak boleh menambang bahan galian atau bahan tambang lainnya di bumi Indonesia ini, termasuk cara penambangannya harus diatur secara tegas dalam PERDA tersebut. Dengan adanya aturan yang tegas dan jelas, di samping melakukan pembinaan kepada para pelaku, peti ini dapat ditekan pertumbuhannya. Tugas ini tentunya dapat dilakukan oleh setiap Dinas Pertambangan dan Energi di daerah. Sudah sepatutnya peti dipantau secara serius karena keberadaan peti secara regional tambang sama dengan menghancurkan bumi ciptaan Tuhan secara perlahan-lahan.

Kerusakan akibat tambang timah sekunder di Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung. Kerusakan lahan akibat penambangan bijih seng di Kecamatan Sorolangun, Mura, Sumatra Selatan.

Penutup

Sejak dahulu, penambangan ilegal atau peti telah lama dilakukan oleh masyarakat di lokasi-lokasi tempat bahan galian yang mereka cari berada. Kegiatan peti dapat dikatakan mudah meraka lakukan tanpa banyak hambatan berarti, seolah-olah bahan tambang ini milik mereka. Di sinilah perlu adanya aturan main supaya penambang ilegal ini tidak bisa dengan mudahnya membuat suatu tambang. Aturan main tersebut harus tertuang di dalam PERDA setiap Daerah yang memiliki fenomena peti atau potensial terjadi penambangan ilegal.

Selain itu, sesungguhnya peti ini tidak mampu memakmurkan pelakunya. Bahkan, bukannya kemakmuran yang mereka diperoleh, melainkan banyak masalah terutama masalah-maslaah karena pengrusakan lingkungan yang mereka hadapi. Di mana pun penambangan ilegal ini berada, maka di situlah awal kehancuran lingkungan yang tak terelakkan. Membuat tambang hanya membutuhkan waktu 1-2 minggu namun untuk

memulihkan kembali (recovery) lingkungan

akibat penambangan ini membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Lihat saja bekas penambangan endapan timah yang dilakukan sejak zaman Belanda (200-300 tahun yang lalu), saat ini baru ditumbuhi oleh hutan kerdil saja dengan tanah penutup tidak lebih dari 10 cm. Oleh karena itu, sudah saatnya para pelaku peti ini menghentikan kegiatannya dan mencari kegiatan lain yang sifatnya tidak merusak. Sejauh ini, keberadaan peti telah merusak bumi ini, juga merusak masa depan anak cucu kita karena lahan atau bumi ini menjadi kerdil, kering, dan tandus yang tidak dapat dimanfaatkan lagi untuk kurun waktu yang cukup lama.n

(11)

11 Geologi Populer

S

aat menatap langit luas di malam

yang cerah, nampak gemerlap

bintang serta semburat kabut yang

menakjubkan. Seberkas rona cemerlang, ia

mungkin planet Venus, atau boleh jadi planet

Mars, dan kilau yang lainnya adalah

bintang-bintang tidak dikenal nun jauh di sana. Kabut

terang adalah gugusan bintang-bintang yang

berada jauh dari jangkauan indera atau terlalu

kecil untuk diamati secara terpisah-pisah sebagai

individu titik. Sungguh keindahan yang tiada tara.

Oleh: Sugalang

Ditinjau dari Teologi dan Sains

Penciptaan Alam Semesta

(12)

Ilustrasi asal kejadian alam semesta berdasarkan teori Big Bang.

Kekaguman menyaksikan atraksi panorama di angkasa pada malam yang gemerlap memunculkan banyak pertanyaan; apakah angkasa itu?, bagaimana fenomena yang menakjubkan itu terbentuk?, akankah bersinar selamanya?, apakah akan datang dan selanjutnya berakhir pada suatu tempat atau ada tanpa akhir?, dan beribu pertanyaan lainnya. Tulisan di bawah ini selanjutnya akan mencoba suatu pembahasan tentag penemuan terkini berkenaan dengan teori penciptaan alam semesta dan kemungkinan penafsiran ayat-ayat Al Qur’an yang relevan dengan hal tersebut.

Allah swt berfirman dalam Al Qur’an Surat ke 67 ayat ke-3 dan ke-4 (QS. 67 : 3-4): “……Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah berkali-kali niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah”. Memang Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Oleh karena itu Tuhan menantang apabila menemukan sesuatu ciptaan-Nya yang tidak sempurna, dan ternyata memang tidak ada yang sia-sia.

Terciptanya Alam Semesta

Sampai saat ini diketahui ada dua teori mengenai asal usul kejadian alam semesta, yaitu Teori Big Bang (Ledakan Besar) yang digagas oleh Georges Lemaître pada tahun 1930 dan teori Steady State atau dikenal dengan Infinite Universe Theory

atau Continuous Creation (Kreasi Menerus) oleh Hermann Bondi, Thomas Gold, dan Fred Hoyle pada tahun 1948 (George B. Field, dalam “Origin of the Universe”).

Teori Big Bang

Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari sebuah massa kompak padu (compact mass) yang kemudian meledak dan materialnya tersebar ke segala arah di ruang angkasa. Seluruh materi hasil ledakannya membentuk semacam kabut kosmis atau debu kosmis dalam berbagai ukuran. Kini materi tersebut menjadi komponen benda-benda angkasa, yaitu galaksi, bintang, planet, maupun material lain yang selalu bergerak satu sama lain.

Ilustrasi pada gambar di atas menjelaskan bahwa alam semesta bermula dari adanya suatu massa padu yang meledak (panel A) yang mengakibatkan materi hasil ledakannya tersebar ke seluruh arah di angkasa dan selalu bergerak menjauhi titik ledak untuk selama-lamanya (panel B, C, dan D), yang berarti langit selamanya mengembang. Gambar di atas juga menyatakan pendapat lain, namun masih dalam kerangka teori Big Bang. Disni penciptaan alam semesta dimulai dengan ledakan massa padu (panel A) yang mengakibatkan materi hasil ledakan bergerak tersebar ke segala penjuru angkasa (panel B) kemudian suatu saat nanti akan menyusut atau berkontraksi (panel E), selanjutnya akan terjadi ledakan lagi sebagaimana ledakan pertama (panel F), demikian siklus ini akan terjadi berulang-ulang (oscillating proccess).

Big Bang (dua panel atas kanan); alam semesta dimulai adanya ledakan besar dan selalu meluas.

(13)

13 Geologi Populer hasil ledakan besar ke segala penjuru angkasa.

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih berbentuk asap” (QS 41 : 11). Kalimat “langit masih berbentuk asap” di dalam ayat tersebut di atas dapat ditafsirkan sebagai kumpulan materi hasil ledakan besar yang sudah

karena itu teori Continuous Creation tidak dibahas lebih lanjut.

Alam Semesta yang Mengembang

Kembali kita telusuri kejadian alam semesta melalui pendapat adanya ledakan besar. Albert Einstein,

Dua photo menunjukkan material-material di angkasa kabut atau asap (“cosmic dust”). Atas, Horsehead Nebula dan bawah, Great Nebula. California Institute of

(14)

ilmuwan pertama yang dijuluki sebagai modern cosmologist, pada tahun 1915 melengkapi teorinya tentang Teori Relativitas Umum yang selanjutnya diaplikasikan pada persoalan-persoalan penyebaran atau distribusi materi-materi di alam semesta. Tahun 1922, Alexander Friedmann seorang ahli fisika bangsa Rusia berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa perluasan alam semesta atau pengembangan alam semesta dimana seluruh partikel atau benda-benda angkasa melayang satu dengan yang lain dengan kecepatan yang tinggi. Partikel-partikel angkasa ini telah bergerak ke segala arah sejak awal kejadian ledakan besar.

Dalam model alam semesta ini yang unik adalah bahwa langit atau alam semesta ini adalah semakin meluas atau mengembang. Pengembangan angkasa semesta ini dimulai sejak adanya Big Bang atau ledakan besar. Sebelumnya orang berpendapat bahwa galaksi-galaksi ini satu dengan lainnya diam pada tempatnya. Ilmu pengetahuan selanjutnya berkembang dengan sangat pesat. Ilmuwan Edwin Hubble, seorang astronom di Mount Wilson Observatory pada tahun 1929 melalui teleskopnya, menemukan bahwa galaksi-galaksi ternyata saling menjauh dengan kecepatan ribuan kilometer setiap detiknya. Ini menunjukkan bahwa alam semesta ini tidaklah statis seperti dipercaya sejak lama, namun bergerak mengembang. Sebagai ilustrasi

dapat diumpamakan pengembangan alam

semesta ini sama dengan proses pengembangan sebuah balon yang sedang ditiup. Ketetapan tersebut sudah tertulis di dalam Al-Quran, lebih dari 15 abad yang lalu: “Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”. ( QS. 51 : 47). Dalam ayat ini terdapat kata “meluaskannya” yang berarti Allah swt dengan kekuasaannya melakukan perluasan langit karena material alam semesta setelah ledakan besar tersebar ke segala penjuru dan bergerak menjauhi titik lokasi awal ledakan besar.

Para Ilmuwan yang menganut teori Big Bang berbeda pendapat dan dapat dikelompokkan

kedalam 3 aliran, yaitu:

Alam semesta terbentuk setelah peristiwa Big 1.

Bang, meluas selamanya dan tidak pernah menyusut atau kontraksi.

Alam semesta merupakan sistem tertutup, 2.

dan pengembangan alam semesta tidaklah mengembang untuk selama-lamanya. Ini berarti suatu saat pergerakan materi akan terhenti. Alam semesta terbentuk setelah Big Bang dan 3.

alam semesta mengembang (saat kini dalam fase mengembang), selanjutnya mengkerut (kontraksi), dan kemudian ledakan terjadi kembali, mengembang dan seterusnya terjadi berulang-ulang (siklus) yang disebut sebagai proses oscillating.

Diketahui ada semacam “Big Bang kecil-kecil“ di dalam alam semesta kini yang oleh para ilmuwan disebut sebagai Small Universe. Ukurannya jauh lebih kecil dari alam semesta saat ini. Proses pembentukannya mirip dengan Big Bang, tetapi dengan skala yang lebih kecil.

Aliran ketiga, yaitu teori Oscillating Process dalam pembentukan alam semesta saat kini banyak dipercaya dan dianut. Dari sisi teologi Islam ini menarik karena salah satu Firman-Nya dalam Al Qur’an, berbunyi, “Pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran kertas, sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulangi lagi. Itulah janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakan“. (QS Al 21 : 104). Dalam ayat di atas terdapat kalimat ”Kami akan mengulangi lagi” yang ditafsirkan bahwa penciptaan alam semesta akan terjadi berulang kali (oscillating proccess). Ayat ini menyatakan bahwa perulangan itu adalah suatu kepastian dari janji Alloh yang akan ditepati-Nya.

Manusia sebagai mahluk ciptanNya yang diberi akal dan dinamis dalam berpikir selalu ingin tahu, maka kemungkinan pada suatu saat akan dapat menafsirkan Firman-Nya dengan baik sesuai dengan perintahNya: ”Pelajarilah tanda-tanda yang Aku berikan, bagi orang orang yang berpikir!!” Namun, manusia pasti memiliki

(15)

15 Geologi Populer keterbatasan kemampuan ilmu karena memang

manusia hanya diberi sedikit dari Ilmu Allah swt sebagaimana dalam FirmanNya: “…, dan mereka tidak mengetahui sedikitpun dari ilmu-Nya kecuali sesuatu yang telah dikehendaki-Nya.” (QS. 2 : 255)

Oleh sebab itu, walaupun para ilmuwan dapat memikirkan asal mula kejadian alam semesta, tetapi ada suatu pertanyaan yang tidak pernah terjawab, di antaranya adalah:

Dari manakah materi itu berasal? 1.

Bagaimana keadaan alam semesta ini sebelum 2.

ada ledakan besar?

Kapan akan terjadi kehancuran alam semesta 3.

atau saat alam semesta beserta isinya mengalami proses kontraksi?

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk (saat) menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri.

...” (QS. 18 : 51). Suatu proses kontraksi berdimensi kecil (dibanding alam semesta) adalah terdapatnya suatu obyek misterius di angkasa semesta yang disebut sebagai obyek “Lubang Hitam” atau Black Holes dan baru dipelajari pada kisaran 1970an. Obyek ini merupakan suatu fenomena fisika yang aneh di ruang angkasa yang mempunyai kemampuan menyedot atau menarik segala materi di sekitarnya secara gravitasional, tidak terkecuali cahaya atau energi. Keberadaan black holes tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasa kehadirannya oleh gelombang radio astronomi. Penyedotan segala macam materi oleh Lubang Hitam ini dipakai sebagai model proses kontraksi alam semesta bahkan sebagai model kematian dan kelahiran alam semesta.

Pertanyaan yang ketiga, yaitu mengenai waktu atau kapan terjadinya kehancuran alam semesta atau kiamat yang diduga terjadi pada saat proses kontraksi alam semesta tidak dapat dijawab.

(16)

Yang dapat dijawab adalah prosesnya, yaitu saat proses kontraksi alam semesta. “Katakanlah, sesungguhnya pengetahuan tentang (datangnya hari kiamat) itu hanya ada di sisi Allah dan sesungguhnya aku ini hanya seorang pemberi peringatan yang nyata“. (QS. 67 : 26)

Penutup

Al Qur’an telah memberitahukan proses kejadian alam semesta kira-kira 15 abad yang lalu. Keajaiban tampak karena kabar tersebut ternyata sesuai dengan pendapat dan hasil penelitian para Ilmuwan dengan dukungan peralatan yang serba canggih dan modern di abad sekarang ini. Teori Big Bang dengan aliran Oscillating Process dalam pembentukan alam semesta kini banyak dipercaya dan dianut. Dalam tahun 1970an para ilmuwan menemukan adanya lubang hitam (black hole) yang menyedot segala macam benda angkasa dan boleh jadi menjadi sarana kehancuran alam semesta.

Daftar Pustaka

George B. Field, Ph.D.,

The Origin of The

Universe, The New Book of Popular Science, copyright 1981 by GROLIER incorporated. Center for Astrophysics, Harvard University and the Smithsonian Institution;

Magdy Shahal, Dr.,; Ensiklopedia Mukjizat Al

Qur`an dan Hadis, Cairo-Egypt Cetakan I, Juli 2008. PT. SAPTA SENTOSA.

Moh. Rifa`i, Dr., 1992; Al Qur`an Terjemahan

dan Tafsir, CV. WICAKSONO & DAHARA PUSTAKA, Semarang.

Mort La Brecque.,

Black Holes, The New

Book of Popular Science, copyright 1981 by GROLIER incorporated.Orbis Publishing, New Encyclopedia of Science, 1980. Vol. 14, ORBIS PUBLISHING LIMITED, London.n

Penulis adalah Pejabat Fungsional Perekayasa Pusat Lingkungan Geologi

Badan Geologi

(17)

17 Geologi Populer

A

pa itu Tsunami

Ketika gempa bumi yang berkekuatan

hampir penuh, 9,3 Skala Richter (SR),

mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam pada

26 Desember 2004, tidak seorangpun yang

menduga bahwa ada bencana lain yang sedang

mengintip. Pada saat seluruh warga berusaha

menenangkan diri dan membenahi hartanya yang

masih tersisa dari reruntuhan, bahkan sebagian

diantara mereka sedang mencari ikan di pantai

yang surut secara tiba-tiba, serta-merta air laut

naik merambah ke darat, makin lama semakin

kencang dan besar. Tidak ada yang paham apa

yang sedang terjadi. Ketidakpahaman tersebut

mengakibatkan kepanikan luar biasa. Bencana

yang mengintip itu sedang berlangsung, itulah

tsunami.

Mengenal

Tsunami

Oleh:

Yudhicara

(18)

Penyebab terjadinya tsunami (tsunamigenik).

Saya terkesima menyaksikan sesosok kapal laut yang panjangnya lebih 10 m terdampar di tengah perkampungan penduduk dengan posisi berdiri sempurna. Kapal tersebut terlempar dari pelabuhan yang jaraknya hampir 7 km dari tempatnya sekarang. Pemandangan lain yang mencengangkan adalah sebuah perahu nelayan bertengger di atas sebuah rumah penduduk tanpa merusak rumah tersebut. Fenomena itu menggambarkan betapa dahsyatnya daya angkut air bah yang menggulung dari tengah Lautan Hindia yang menabrak daratan Aceh. Itulah sosok tsunami.

Kata atau istilah tsunami memang tidak dikenal secara luas di kalangan masyarakat Indonesia. Istilah tersebut menjadi sangat terkenal setelah gempa bumi yang berkekuatan besar mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir tahun 2004 yang lalu. Demikian besarnya gempa tersebut sehingga tidak saja membelah permukaan tanah yang disertai dengan suara gemuruh dari dalam bumi (rumbling ground), tetapi juga mengangkat air laut hingga tumpah jauh ke darat. Peristiwa gulungan ombak yang melanda daratan tersebut dikenal dengan nama “tsunami”.

Istilah tsunami berasal bahasa Jepang yang terdiri dari dua potongan kata, masing-masing “tsu” yang berarti pelabuhan dan “nami” yang artinya gelombang. Demikian seringnya peristiwa gelombang laut melanda sebagian kota pelabuhan di Jepang sehingga kata tsunami dipergunakan untuk peristiwa “gelombang laut yang melanda pelabuhan/daratan”.

Secara bebas kata tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Impulsif tersebut dapat berupa gempa bumi tektonik yang terjadi di dasar laut dengan besaran > 7 SR, letusan gunung api pulau, atau longsoran pantai dalam skala besar.

(19)

19 Geologi Populer Gelombang raksasa ini dapat merambat melalui

ribuan mil melintasi lautan dan membawa energi yang sangat mematikan dan dapat menghancurkan bangunan, pepohonan, dan apa saja yang dilewatinya.

Penyebab tsunami

Jika kita melempar batu ke dalam kolam, maka air kolam terganggu dan akan menghasilkan riak. Perumpamaan tersebut identik dengan fenomena tsunami, namun gangguan yang membentuknya sangat besar sehingga tidak hanya menghasilkan

riak, tetapi gelombang besar. Fenomena

alam yang menghasilkan tsunami tersebut disebut “tsunamigenik”. Dapat disebut bahwa tsunamigenik adalah suatu kejadian di alam yang berpotensi atau menyebabkan terjadinya tsunami.

Umumnya tsunami dihasilkan oleh gempa bumi tektonik. Kejadian tersebut menghasilkan pergeseran vertikal di dasar laut di sepanjang zona rekahan pada kulit bumi menyebabkan gangguan vertikal tubuh air. Sumber mekanisme lainnya adalah letusan gunung api pulau atau di gunung api bawah laut. Perpindahan sedimen dasar laut atau peristiwa tanah longsor di daerah pesisir yang bergerak ke arah air laut, juga akan menyebabkan gangguan terhadap air laut. Sebab lainnya bisa juga karena ulah manusia, misalnya adanya ledakan di laut, sedangkan akibat lainnya

adalah jatuhan benda dari luar angkasa, seperti yang pernah terjadi di Chixulub, Mexico. Namun yang terakhir ini jarang terjadi.

Para ilmuwan menemukan suatu batuan meteor yang menubruk bumi 3,5 juta tahun yang lalu dan menghantam lautan sehingga menghasilkan tsunami yang yang secara drastis mengubah garis pantai dan menyapu hampir seluruh kehidupan yang ada di daratan.

Tsunami terjadi saat dasar laut berubah dan secara vertikal memindahkan kolom air. Gempa bumi tektonik merupakan jenis gempa yang berasosiasi dengan deformasi kerak bumi. air di atasnya akan mengalami pemindahan dari posisi kesetimbangannya. Gelombang terbentuk sebanyak kolom air yang dipindahkan, sebagai pengaruh dari gaya gravitasi, yang bereaksi terhadap kesetimbangannya, saat suatu areal yang besar di lantai samudera terangkat atau turun, maka tsunami akan terbentuk. Tidak semua gempa tektonik dapat menghasilkan tsunami. Gempa dengan intensitas > 7 SR yang terjadi pada kedalaman dangkal (< 60 km) di bawah dasar laut serta berasosiasi dengan mekanisme patahan naik atau patahan turun berpotensi menghasilkan tsunami. Gempa dengan kriteria tersebut dapat menyebabkan perubahan pada permukaan dasar laut, sehingga mengalami kenaikan atau penurunan (deformasi vertikal).

(20)

Indikasi terjadinya tsunami

Sesaat sebelum terjadi tsunami sesungguhnya ada beberapa indikasi yang dapat diamati dan bisa dijadikan acuan untuk evakuasi. Indikasi tersebut antara lain:

Didahului oleh guncangan gempa yang kuat.

Setelah gempa mulai mereda air laut surut tidak

seperti biasanya.

Teramati garis putih di tengah laut yang

menandakan adanya buih sebagai tanda tsunami sedang berjalan menuju pantai. Tercium bau garam yang menyengat dan kabut

di atas permukaan laut sebagai hasil interaksi antara udara dan laut.

Terdengar bunyi menggelegar seperti suara

helicopter atau rombongan drum band dari arah laut.

Fluktuasi muka air tanah yang signifikan yang

teramati dari dalam sumur atau sungai.

Kecepatan tsunami

Pada laut yang dalam, kecepatan tsunami dapat mencapai 800 km perjam, hampir menyamai kecepatan pesawat jet. Puncak antara gelombang dengan gelombang berikutnya mencapai ratusan kilometer (lk. 200 km), namun ketinggiannya hanya beberapa meter. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya melambat hingga di bawah 80 km perjam, dengan panjang gelombang kurang dari 20 km, tetapi ketinggian gelombangnya membesar beberapa kali. Dengan kecepatan yang demikian besarnya sehingga mempunyai daya rusak yang tinggi dan manusia tidak sempat menghindar karena melebihi kecepatan lari manusia.

Dampak Tsunami

Sebagaimana gelombang laut lainnya, tsunami mulai kehilangan energinya saat mencapai pantai. Sebagian energi gelombang terpantulkan ke

laut, sedangkan ke arah pantai energi rambatan gelombang teredam melalui gesekan dasar dan turbulensi. Meskipun mulai kehilangan energi ketika mencapai pantai, tsunami masih memiliki sisa energi yang cukup dengan potensi menggerus yang besar. Pasir pantai akan mengelupas dan mencabut pepohonan serta vegetasi lainnya yang ada di pantai. Demikian banyaknya air yang tumpah, sehingga menggenangi daratan (inundation) hingga ratusan meter jauhnya.

Genangan air akibat tsunami yang terjauh ke arah daratan dengan ketinggian maksimum yang diukur dari atas pemukaan laut (sea level disebut run up , sedangkan ketinggian air dari permukaan tanah biasa disebut tsunami height.

Dalam perjalanannya tsunami menggerus

permukaan dasar laut dangkal dan membawa material (disebut dengan “debris”) hingga ke pantai, bersatu dengan material yang ada di pantai terbawa hingga jauh ke arah daratan. Sering kita menemukan kapal yang beratnya berpuluh-puluh ton hinggap di atap bangunan atau terlempar hingga jauh ke daratan.

Sejarah Tsunami di Indonesia

Indonesia sebagai negara maritim dan berada di pinggir benua pada zona tektonik yang sangat aktif mempunyai konsekuensi sebagai daerah yang labil. Sebagai wilayah benturan tiga mega lempeng, maka wajar memiliki banyak gunungapi aktif.

Kejadian tsunami di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa bumi tektonik di sepanjang daerah subduksi. Selama periode waktu antara tahun 1600 hingga 2005 telah terjadi paling tidak 107 kejadian tsunami. Dari jumlah itu, 90 persen

(21)

21 Geologi Populer diantaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9

persen karena letusan gunungapi, dan hanya 1 persen disebabkan oleh longsor.

Run up tsunami terbesar dan merupakan rekor tertinggi selama ini terjadi pada tahun 1880 ketika tsunami melanda Sumatra bagian selatan dan Jawa bagian barat akibat letusan Gunung Krakatau. Ketinggian run up mencapai 41 m.

Dilihat dari jumlah korban, tsunami Aceh menempati rekor tertinggi di Indonesia bahkan di dunia. Jumlahnya mencapai sekitar 225.000 jiwa meninggal dan hilang.

Tsunami yang terjadi disebabkan oleh gempa bumi antara lain Gempa Flores yang terjadi pada tahun 1992, Gempa Banyuwangi tahun 1994, Gempa Toli-toli, Biak tahun 1996, dan Gempa Sumba dalam tahun 1977.

Sejak tahun 2004 secara berturut-turut terjadi gempa bumi yang menghasilkan tsunami, masing-masing Gempa Aceh yang berlangsung pada 26 Desember 2004. Menyusul dalam tahun 2005 terjadi Gempa Nias, tahun 2006 berlangsung Gempa Pangandaran, terakhir gempa Bengkulu di penghujung tahun 2009.

Tsunami karena letusan gunung api terjadi antara lain pada tahun 1880 akibat letusan Gunung

Krakatau, Selat Sunda dan letusan Gunung Ruang, Laut Sulawesi dalam tahun 1889.

Tsunami yang diakibatkan oleh longsoran diantaranya di Pulau Seram (1899) yang dikenal dengan “Bahaya Seram”. Dalam tahun 1997 tsunami di Pulau Lomblen, dan tsunami Flores (Pulau Babi) yang terjadi pada tahun 1992.

Langkah Yang Tepat Ketika Terjadi Tsunami

1.Jika sedang berada di rumah dan mendengar peringatan tsunami, penduduk yang tinggal di pesisir pantai atau dalam zona tsunami hendaknya mengungsi ke daerah yang lebih tinggi di luar zona tsunami.

2.Jika sedang berada di pantai atau di laut dan merasakan adanya guncangan gempa, segera bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu hingga diumumkan peringatan tsunami.

3. Jika berada di atas kapal atau perahu di tengah laut dan mendengar atau mengetahui adanya peringatan kemungkinan tsunami, jangan kembali ke pelabuhan tetapi arahkan haluan ke laut lepas. Gelombang ditengah laut relatif lebih tenang dibanding di pantai.

Faktor Yang Mempengaruhi Resiko Tsunami

Karakteristik pantai merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya resiko yang ditimbulkan akibat tsunami. Kondisi

(22)
(23)

23 Geologi Populer

Contoh penanaman pohon di sepanjang pantai oleh cemara di Sumatra Barat (atas) dan hutan bakau di Bali (bawah).

(24)

Contoh pembuatan dinding pantai dan pemecah gelombang pasca tsunami di Pangandaran, Jawa Barat.

Sikap Hidup di Daerah Rawan Tsunami

Hidup akrab dengan bencana merupakan suatu harapan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Meski bencana tidak diharapkan terjadi, namun kesiapan dan langkah-langkah mitigasi dalam rangka memperkecil dampak suatu bencana perlu diupayakan. Khusus untuk kasus tsunami paling tidak ada beberapa upaya mitigasi, yaitu;

Penanaman pepohonan (jalur hijau) di kawasan

sepanjang pantai di wilayah rawan tsunami. Keberadaan jalur hijau akan menghentikan laju benda-benda terapung yang terbawa oleh gelombang tsunami ke darat; mengurangi kecepatan aliran air dan mengurangi ketinggian genangan; menyelamatkan orang hanyut (tersangkut di pohon); dan meredam angin yang membawa material (pasir) berukuran halus sehingga membentuk gumuk pasir (sand dune) yang dapat menjadi penghalang tsunami;

Pelindung alami berupa gumuk pasir (sand dune)

atau sedimentasi akibat penumpukan pasir oleh ombak dan angin dapat menjadi penghalang yang dapat meredam laju pencapaian tsunami jauh ke darat.

Dinding pantai dan pemecah gelombang

adalah jenis pelindung buatan yang efektif mereduksi gelombang. Pelindung buatan ini dapat dibangun di sepanjang pantai dengan tujuan untuk mengamankan wilayah pantai, pemukiman dan bangunan lainnya dari abrasi akibat hempasan ombak dan arus sepanjang pantai (longshore current);

Rute-rute evakuasi yang dilengkapi dengan

rambu-rambu penunjuk rute hendaknya

disiapkan sedini mungkin di daerah rawan tsunami, disertai penentuan titik-titik pertemuan pada saat pelaksanaan evakuasi;

Pembuatan peta-peta bahaya, peta pembagian

(25)

25 Geofakta

Contoh sederhana daerah yang diselamatkan oleh tataan alami saat terjadi tsunami 17 Juli 2006 (lokasi: Menganti, Jawa Tengah).

kawasan rawan bencana dan peta resiko dan peta evakuasi.

Penataan ruang perlu dilakukan untuk

menghadapi kemungkinan bahaya tsunami, yaitu dengan cara penempatan jalur hijau, jenis-jenis pelindung pantai, rute evakuasi dan bangunan evakuasi tahan tsunami yang dibuat di dekat pantai, dan penataan pemukiman untuk dapat melindungi masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami dan melindungi aset-aset yang terdapat di sekitar pantai tersebut. Kewaspadaan dini perlu diberikan berupa

penyebarluasan pengetahuan umum mengenai

bencana tsunami, tanda-tandanya, dan

pembuatan monumen peringatan bahwa di

suatu tempat pernah terjadi tsunami, dalam rangka meningkatkan kewaspadaan akan bahaya tsunami.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa “Untuk memenangi suatu peperangan kenalilah

musuhmu”.n

Penulis adalah Peneliti

(26)

Hugo Benioff

Penemu Zona Benioff

G e o F a k t a

Para seismologi tentu mengenal apa yang disebut dengan Zona Benioff atau Benioff Zone. Zona ini adalah wilayah dengan kegempaan yang tinggi dan merupakan wilayah terdalam pada daerah subduksi. Penemu dan diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang seismologi bernama Hugo Benioff. Untuk menghormatinya, maka penemuannya tersebut diberi nama dengan membubuhkan namanya.

Victor Hugo Benioff (1899 – 1968), demikian nama lengkapnya, lahir pada 14 September 1899 di Los Angeles, California. Dia adalah seorang ahli seismologi di California Institute of Technology dan merupakan salah seorang sosok yang terkenal karena karyanya dalam memetakan lokasi gempa bumi di Samudera Pasifik.

Setelah lulus dari Pomona College di tahun 1921, Benioff memulai karirnya dengan menjadi seorang ahli astronomi dan bekerja selama beberapa waktu di Mount Wilson Observatory, tetapi saat

ia mengetahui bahwa astronom bekerja pada malam hari dan tidur di siang hari, ia beralih ke seismologi. Ia bergabung dengan Laboratorium seismologi pada tahun 1924 dan menerima gelar PhD dari Caltech pada tahun 1935.

Benioff dianggap jenius dalam merancang

instrumentasi perekam gempa. Instrumen

pertama yang diciptakannya pada tahun 1932 adalah Seismometer Benioff. Peralatan ini peka terhadap getaran akibat gempa bumi, sama terkenalnya dengan instrumen regangan Benioff, yang mencatat peregangan permukaan bumi.

Benioff memperhatikan bahwa sumber gempa semakin dalam di bawah lempeng tektonik semakin menjauhi zona subduksi. Pola ini cenderung menunjukkan posisi lempeng yang menunjam.

Wadati-Benioff zone atau zona Benioff adalah daerah dengan seismisitas aktif yang dalam pada zona subduksi. Diferensial gerakan sepanjang

(27)

27 Geofakta

(28)

G e o F a k t a

G e o F a k t a

(29)

29 Proil zona adalah sama dengan yang dari lempengan

yang menunjam. Teori ini ditemukan oleh Hugo Benioff dan Kiyoo Wadati dari Badan Meteorologi Jepang, kemudian dikenal dengan Wadati-Benioff zone.

Hugo Benioff mendapat award dari Nasional Academy of Sciences pada tahun 1953, kemudian menerima award dari Geological Society of America pada tahun 1957. Tahun 1958 terpilih sebagai pimpinan pada Society of America di bidang seismologi, dan menerima William Bowie Medal dari American Geophysical Union pada tahun 1965.

(30)

Yudhicara,

Seorang perempuan yang tak gentar meneliti tsunami, bencana geologi yang mematikan

Sebagai apresiasi Warta Geologi (WG) atas pengabdian dan peran seorang perempuan yang tegar dalam melaksanakan tugas, penelitian dan upaya-upaya lainnya dalam mitigasi ben-cana tsunami, dan bertepatan dengan mem-peringati Hari Ibu, 22 Desember 2009, WG kali ini mengangkat profil seorang karyawati yang berkarier di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Ben-cana Geologi (PVMBG). Dia adalah Ir. Yudhicara, M.Sc.

Perempuan mungil yang energik ini lahir di Bandung dan dibesarkan dalam kedisiplinan yang sangat kuat, terutama karena ayahnya yang bertugas sebagai seorang TNI Angkatan Darat. Darah tentara yang mengalir di dalam tubuhnya tidak pernah berhenti bergolak. Semasa kuliah di Universitas Padjadjaran hingga saat ini dia aktif berkecimpung dalam Resimen Mahasiswa (Men-wa). Tidak berhenti di situ, darah pengabdian ten-tara dalam diri sarjana geologi ini terus mengalir.

Terbukti, setelah dipersunting oleh Joko Mardono, seorang perwira tentara yang bertugas di TNI Ang-katan Laut, dia pun berkarir di instansi Pusat Peneli-tian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Departe-men Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM). Kecintaan pada bidang yang digelutinya dan tun-tutan tugas Negara membawa perempuan mungil nan tegar ini pada lingkungan kerjanya saat ini, yaitu PVMBG, Badan Geologi, masih di lingkungan DESDM.

Setelah menikah, Yudhicara dan suaminya boleh dibilang sebagai pasangan suami-isteri yang sama-sama sibuk di laut. Sang suami sibuk ber-tugas mengamankan negara menjaga kedaulatan bangsa di laut. Sementara itu, sang isteri, Yudhicara, tidak pernah diam meneliti bencana di laut, yaitu tsunami. Saat ini mereka sudah dikaruniai dua orang putra, masing-masing Satrio Nata Mulia (12 tahun) dan Farrel Cetta Gumelar (9 tahun).

“….

Saya dididik

untuk punya

mental juara.

Bagi saya

setiap

kesempatan

harus diraih

karena

kesempatan berikutnya

belum tentu datang

….”

P R O F I L

(31)
(32)

Ketika Tim WG menemuinya untuk wawancara di ruang kerjanya di lantai 3 PVMBG, Yudhicara tengah sibuk mempersiapkan makalah yang akan dipaparkan dalam acara International Symposium on Tsunami Risk Assesment and Mitigation in South and South East Asia; and Training Course on Multi-Sources Generate Tsunami Modeling yang akan diselenggarakan di Manado 1-4 Desember 2009. Dalam WG edisi ini pula, para pembaca akan menemukan salah satu tulisannya mengenai tsunami.

Berikut ini hasil wawancara Warta Geologi dengan Yudhicara selengkapnya:

Tim WG: Kabarnya Anda pernah bekerja di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Balitbang ESDM, apa benar?

Yudhicara: Benar

Tim WG: Apa yang mendorong Anda beralih dari laut ke gunung?

Yudhicara: Sebenarnya saya tidak beralih ke gunung, saya tetap bermain di laut. Saat reorganisasi Badan Geologi tahun 2006, bidang kebencanaan geologi disatukan di dalam satu unit, yaitu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi. Kebetulan tupoksi saya di P3GL mengenai kebencanaan tsunami ikut pindah ke PVMBG, Badan Geologi, maka saya mengajukan pindah mengikuti tupoksi. Alhamdulillah, permohonan saya disetujui. Jadi saya tetap berada di laut.

Tim WG: Tetapi ngomong-ngomong, pernah naik gunung?

Yudhicara: Sebagai seorang geologis, naik gunung adalah wajib.

Tim WG: Gunung apa saja yang pernah didaki? Yd: Beberapa gunung di Jawa Barat, misalnya

Gunung Salak, Ciremai, Wayang–Windu,

Manglayang, Patuha, dan Gunung Papandayan. Selain itu juga pernah mencoba naik ke Gunung Slamet dan Merapi. Untuk Merapi saya tidak berhasil tiba di puncak.

Tim WG: Pendidikan geologi diperoleh di mana?

Yudhicara: Tahun 1994 saya lulus S1 di Universitas Padjadjaran, Jurusan Geologi. Ketika saya bekerja di P3GL saya berkenalan dengan gempa bumi dan tsunami, maka saya melanjutkan pendidikan Ma-gister (S2), Jurusan seismologi di ITB, tapi masih erat kaitannya dengan ilmu dasar saya, geologi. Tahun 2006 pendidikan magister saya selesai. Antara tahun 2000–2001 sempat menempuh pendidikan Post Graduate di International Institute of Seismology and Earthquake Engineering(IISEE), Tsukuba, Jepang.

Tim WG: Selain di Jepang, pernah mengikuti pendidikan di tempat lain di luar negeri?

Yudhicara: Sebelum kuliah di ITB saya sempat kuliah di Italia selama 6 (enam) bulan, tetapi tidak sampai rampung.

(33)

33 Proil di sekolah menengah (SMA). Mungkin guru saya

menyampaikannya dengan baik, saya tertarik dengan pelajaran ilmu bumi (geografi). Saya pikir ilmu ini penuh dengan petualangan. Sehingga tidak mengherankan kalau nilai saya dalam pelajaran ini selalu bagus. Ketika masuk ke Unpad, saya memilih jurusan geologi.

Tim WG: Mengapa menggeluti masalah tsunami?

Yudhicara: Sebetulnya saat menyusun skripsi, saya mengambil bidang kegempaan. Nasib yang menggiring saya diterima bekerja di P3GL dan mulai berkenalan dengan tsunami. Kebetulan

pemahaman saya mengenai kegempaan

sangat menunjang untuk lebih dekat dengan tsunami. Saat saya mengambil kuliah S2 terbuka kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang

Tim WG: Apakah ada pengalaman dalam berorganisasi atau pengalaman menarik selama bekerja ?

Yudhicara: Saya aktif di organisasi Resimen Mahawiswa (Menwa). Saya banyak mendapat bukan saja tentang berorganisasi, tetapi juga masalah kepribadian. Pelajaran berharga lainnya adalah mengenal berbagai karakter orang. Bagi saya ini pengalaman menarik. Yang berkaitan dengan pekerjaan, saya aktif dalam organisasi profesi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Jawa Barat Peduli, suatu organisasi yang bergerak dalam masalah kebencanaan.

(34)

P R O F I L

Yudhicara: Saat ini saya sedang menulis buku mengenai Bencana Gempa dan Tsunami untuk murid TK, yang isinya berupa cerita bergam-bar yang menjelaskan bagaimana terjadi gempa bumi dan tsunami serta upaya menyelamatkan diri dari bencana tersebut. Isi buku untuk tingkat SD dan SMP pembahasannya sedikit lebih dalam. Bahasannya mulai dari bumi yang kita tempati, proses terjadinya gempa dan tsunami secara umum, tindakan-tindakan penyelamatan saat ter-jadinya bencana itu. Selain itu beberapa makalah ilmiah, di antaranya sudah diterbitkan di Jurnal Geologi Indonesia.

Tim WG: Menurut Anda apakah gempa bumi dan tsunami bisa diprediksi?

Yudhicara: Sejauh ini terjadinya gempa bumi belum dapat diduga kapan dan dimana akan terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah memoni-tor dan melakukan studi tentang gempa bumi itu sendiri, dengan mengetahui karakter gempa bumi dan perhitungan kejadian gempa secara statistik, diharapkan dapat diketahui keboleh jadian suatu gempa besar akan terjadi di suatu daerah. Hal ini penting agar kita dapat membuat peta kawasan rawan bencana gempa bumi yang akan berguna sebagai informasi kepada masyarakat maupun pemerintah akan potensi gempa bumi di daerah itu.

Tim WG: Paling tidak mungkin dapat diketahui gejalanya sehingga kejadian tersebut tidak menimbulkan suatu bencana, komentarnya?

Yudhicara: Tentang tsunami, sebetulnya bisa

diprediksi apakah suatu gempa akan diikuti oleh tsunami atau tidak, tetapi waktunya sangat singkat. Sebagai contoh, bila terjadi gempa besar, para ahli mempunyai waktu lebih kurang 15 menit untuk memastikan bahwa gempa yang terjadi ber-peluang diikuti tsunami atau tidak. Bila ada pelu-ang terjadi tsunami, maka tindakan evakuasi harus segera dilakukan. Namun karena Indonesia berada di daerah sumber terjadinya tsunami, maka ka-dang-kadang peringatan bahaya tsunami ini tidak efektif karena terkesan selalu terlambat. Gempa besar yang berpotensi tsunami mempunyai kri-teria khusus, yaitu harus dangkal (kedalamannya pusat gempanya kira-kira di bawah 30 km dari dasar laut) dan disebabkan oleh dislokasi vertikal, kemudian magnitudanya harus besar > 7 skala Richter.

Tim WG: Sering terjadi perbedaan hasil perhitungan antara BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) dengan Badan Geologi mengenai pusat gempa, sebagai contoh Gempa Yogyakarta. Apa komentar Anda?

Yudhicara: Badan Geologi sendiri tidak memiliki jaringan seismograf untuk memantau gempa bumi tektonik. Tetapi gempa bumi vulkanik PVMBG, Badan Geologi termasuk memiliki jaringan yang baik. Bila terjadi gempa tektonik, kami mengacu kepada hasil perhitungan USGS (Badan Geologi Amerika Serikat) yang mempunyai jaringan seismograf yang lebih banyak. Semakin banyak dan rapat suatu jaringan stasiun seismo-graf, maka hasil perhitungannya semakin akurat. Saya kira sekarang BMKG sudah mulai berbenah melengkapi jaringan seismografnya sehingga pengukuran mereka tidak jauh berbeda.

Tim WG: Apakah ada semacam pelatihan mengenai penanganan kejadian tsunami. Bila ada sejauh mana peran serta Anda?

Yudhicara: Respon internasional mengenai bencana tsunami sangat besar, mungkin karena banyak negara yang berpeluang terlanda bila terjadi tsunami. Misalnya Tsunami Aceh pada Desember 2004 yang lalu, dampaknya menjalar hingga ke Thailand, bahkan ke Afrika. Oleh karena itu beberapa lembaga internasional mensponsori berbagai seminar tentang tsunami. Kebetulan saya pernah ikut, diantaranya di Philiphina tentang simulasi perambatan gelombang tsunami, kemudian di Thailand pelatihan untuk menentukan daerah rawan tsunami menggunakan remote

...”Sampai sekarang pun, kalau

saya memiliki suatu keinginan, saya

akan berusaha untuk mewujudkan

(35)

35 Proil morfologi wilayah tersebut mempunyai potensi

terhadap ancaman tsunami. Makalah yang saya presentasikan mengenai risiko bencana tsunami terhadap penduduk ditinjau dari sisi karakteris-tik, bentuk, proses dinamika, dan tutupan lahan pantai, serta aktivitas penduduk yang bermukim di sepanjang pantai Sumatra Barat.

Sebagai seorang perempuan, Yudhicara

mempunyai prinsip yang belum tentu dimiliki kalangan perempuan lainnya. Hal ini tampak dari ungkapan beliau yang diperoleh WG saat mewawancarainya:

”Saya dididik untuk punya mental juara (baca: sukses-red). Bagi saya setiap kesempatan harus diraih karena kesempatan berikutnya belum tentu datang”.

kan keinginan itu. Suami saya selalu mendukung selama keinginan tersebut positif bagi kami.

Tim WG: Yang Terakhir, ada pesan buat para geolog muda terutama yang perempuan?

Yudhicara: Buat para geolog perempuan, saya yakin kita mampu bekerja dan sejajar dengan para geolog laki-laki. Kita pasti mampu dan jangan mau kalah. n

Pewawancara: Bunyamin

(36)

Dalam rangka penyebaran informasi tentang Geologi Kuarter Wilayah Pantai Utara Jawa Tengah, Badan Geologi bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis hingga Jumat 15 – 16 Oktober 2009 mengadakan kegiatan Seminar ”Geologi Kuarter Pantai Utara Jawa Tengah dan Aplikasinya pada Pembangunan dan Pengembangan Wilayah” yang diselenggarakan di Kota Semarang yang dibuka oleh Pejabat Pusat Survei Geologi yang mewakil Kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Seminar ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan dan menyebarluaskan serta mendiskusikan hasil-hasil penelitian yang melibatkan para pemangku kepentingan (stake holders). Hasil penelitian menyangkut data bawah permukaan berupa tataan stratigrafi Kuarter, lingkungan pengendapan serta dinamika cekungan Kuarter, serta sifat fisik batuan. Hasil penelitian lainnya yang menyangkut data geologi permukaan berupa sesar aktif,

morfotektonik, geomorfologi dan struktur geologi juga disajikan dalam seminar tersebut.

Seminar ini juga dimaksudkan untuk menghimpun masukan-masukan berupa data dan informasi

geologi yang dapat dimanfaatkan untuk

melengkapi data yang telah terkumpul guna pengembangan wilayah dalam penyusunan tata ruang serta pengembangan geosain (mekanisme kejadian gempa bumi) sehingga kerugian materiel dan korban jiwa akibat yang ditimbulkan bencana geologi dapat dikurangi seminimal mungkin.

Seminar diikuti oleh para pejabat struktural Pemerintah Kabupaten se Propinsi Jawa Tengah yang menangani pengembangan wilayah/tata ruang, Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta, perwakilan dari seluruh Dinas Pertambangan dan Energi di tingkat Provinsi dan Kabupaten (Jawa Tengah), serta perwakilan dari unit teknis Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah.

Seminar Geologi Kuarter Pantai Utara

Jawa Tengah dan Aplikasinya pada

Pembangunan dan Pengembangan Wilayah

(37)
(38)

Pada sesi hari kedua, Jumat 16 Oktober 2009 dihadirkan sembilan pembicara, Ir. Sidarto, M.Si., Struktur Geologi Daerah Jawa Tengah Bagian Utara ditafsir pada Data inderaan Jauh. Ir. Asdani Soehaimi, Seismotektonik daerah Jawa Tengah dan Potensi Bencana Gempabumi di lajur seismotektonik Trnasek Pacitan-Muria, Ir. Kamawan, Percepatan dan Mikrozonasi Kerentanan bencana Gempabumi Lajur Pantura, Sukahar Eka A. Saputra, ST, Kajian Tektonik Kuarter Wilayah Muria dan Lasem, Jawa Tengah, Ir. Dodid Murdohardono, M.Sc., Aspek Geologi Teknik dalam pengembangan Wilayah Kota Pemalang dan sekitarnya. Ir. Dwiyanto J.S., MT, Peningkatan Daya Dukung Tanah dengan metoda Grouting pada Endapan Aluvial Kota Semarang, Dr. Sutikno Bronto, Gunung api di Selatan Dataran Pantai Utara Jawa Tengah: Sumber Daya dan Potensi bahaya. Joko Wahyudiono, ST, Indikasi Sesar Aktif di sekitar Kali Garang Semarang, Ir. Helmi Murwanto, M.Si., Geographical Phenomenon Was Caused by Neotectonic Process and Regional Development in Semarang City, Central Java.

Tepat pukul 16.00 acara seminar ditutup oleh Kepala Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Dari beberapa sumber dikatakan secara geografis daerah Pantai Utara ini sangat strategis. Daerah ini merupakan penghubung antara Jakarta dan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat serta Provinsi Jawa Timur di sebelah timur. Berdasarkan posisinya yang strategis tersebut daerah ini mengalami perkembangan pembangunan yang cukup pesat. Hal tersebut ditunjukkan oleh perkembangan

penduduk yang sangat signifikan, serta

perkembangan sentra industri. Laju pertumbuhan penduduk dapat membawa implikasi semakin tingginya kebutuhan akan perumahan beserta pemenuhan prasarana dasarnya. Ketersediaan

daya dukung alam ada dan tingkat kebutuhan yang semakin tinggi, mengakibatkan semakin tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhan tersebut. Apabila fakta-fakta tersebut tidak segera dicarikan jalan keluarnya, maka dapat mengakibatkan penurunan daya dukung infrastruktur wilayah.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan fungsi lahan dan daya dukung lahan mengalami perubahan atau gangguan sebagai konsekuensi dari aktivitas manusia (human disaster) adalah sebagai berikut: Ledakan pertumbuhan penduduk dan industri yang tidak terkontrol, hilangnya/ menyusut/berkurangnya lahan pertanian subur, pengembangan wilayah (perumahan) yang tidak terkontrol, dan perusakan ekosistem.

(39)

39 Seputar Geologi Pada tanggal 2 Oktober 2009 bertempat

di UGM Kepala Badan Geologi melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Rektor UGM.

Butir-butir dalam Nota Kesepahaman tersebut yaitu: Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pendidikan, Penelitian, Penyelidikan, Teknologi dan Pengkajian di Bidang Kebumian. Kegiatan tersebut sangat penting artinya mengingat substansinya berkaitan dengan Tugas dan Fungsi Badan Geologi.

Nota Kesepahaman tersebut merupakan langkah yang baik sehingga perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk dijadikan media dan konsep pemikiran sekaligus menggalang niat kebersamaan dalam disiplin ilmu yang berkaitan dengan kebumian, dan menghasilkan butir-butir penting yang dapat memberikan terobosan baru yang efektif serta usable bagi upaya pengembangan di bidang geologi.

Salah satu agenda komunitas geologi saat ini, yaitu berkaitan dengan upaya penyelamatan bumi dan bagaimana peran aktif para ahli geologi dalam mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta bertanggung jawab, guna mendorong perencanaan dan pengelolaan yang lebih baik. Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah yang menjadi tugas pokok bagi para ahli geologi di berbagai instansi di Indonesia pada umumnya, khususnya di Universitas Gajah Mada dan Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Khusus bagi Universitas Gajah Mada sebagai salah satu institusi pendidikan yang mencetak ahli geologi diharapkan dapat saling bahu membahu dengan Badan Geologi dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu geologi di dalam pembangunan nasional.

Hakekat dari pembangunan berkelanjutan

merupakan suatu bentuk usaha optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya

Gambar

Tabel Pos Pengamatan Gunung Api Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Dewan Redaksi.. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa gunung api yang semula digolongkan tidak aktif, gunung api tipe B, dapat meletus dalam periode hidup kita sekarang. Atas

Bagaimana dengan ancaman letusan besar gunung api dalam bila terjadi abad ini, mengingat sejak letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 atau lebih dari seratus tahun tidak

dilukiskan. Semua bisa berlapang dada ketika ramadhan, tersenyum dan mampu berbagi. Semoga kita bisa melakukannya di bulan-bulan yang lainnya. Jangan lupa matikan

Metode ini akan mengukur waktu yang telah dilalui sejak kematian mahluk hidup, tetapi dibatasi tidak lebih dari 50.000 tahun yang lalu, batas yang dapat diukur dengan metode

Pijar-pijar lava membara mengalir dari tubuh Merapi. Foto: Heru Suparwoko... Ke depan, Merapi dapat saja melakukan erupsi dengan intensitas yang besar, yaitu bertipe vulkan ian atau

Berdasarkan pola pikir di atas, maka wajar apabila fungsi yang dis- elenggarakan dalam melaksanan tugas Badan Geologi sebagaimana diatur dalam peraturan terkait- meli- puti

Dalam misi besar itu, Badan Geologi sebagai institusi yang sangat berkepentingan dalam melakukan upaya konservasi geologi dalam konteks pembangunan berkelanjutan, tengah melakukan

Seperti halnya waktu gempa Aceh tahun 2004, gempa tahun 2005 inipun mengangkat sebagian wilayah, terutama bagian barat Pulau Nias yang terangkat sampai 3 m, termasuk