• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-Book Majalah Geografi Warta Geologi Volume 4 Nomor 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "E-Book Majalah Geografi Warta Geologi Volume 4 Nomor 3"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

P e n g a n t a r R e d a k s i

Pembaca yang budiman

Dalam Warta Geologi edisi nomor 3 tahun

2009 ini, dewan redaksi menyuguhkan tiga

artikel utama dalam rubrik “Geologi Populer”,

dua artikel dalam rubrik “Lintasan Geologi”,

sebuah artikel dalam rubrik “Geofakta”,

sebuah “profil”, dan sebuah artikel dalam

“Layanan Informasi Geologi”. Selain itu

disajikan pula beberapa berita dalam “Seputar

Geologi”.

Artikel pertama dalam rubrik “Geologi

Populer” berjudul “Suka Duka ‘Berburu’

Batugamping Tersier di Pegunungan Duabelas,

Jambi” dan merupakan bagian pertama dari

dua tulisan sumbangan Rian Koswara dan

Nana Suwarna. Tulisan ini merupakan catatan

pengalaman para penulisnya saat bertugas di

lapangan mencari singkapan batugamping

Formasi Baturaja di tahun 2006. Dalam Peta

Geologi Lembar Muarabungo (Simanjuntak

drr., 1996) atau laporan geologi lainnya

kehadiran batugamping di Pegunungan

Duabelas belum pernah diinformasikan.

Penemuan ini serta suka duka perjalanannya

kiranya bisa menggambarkan seperti apa

pekerjaan seorang geolog di lapangan.

Artikel kedua berjudul “Hubungan antara

Letusan Gunung Api dengan Salah Satu

Penyebab

Proses

Karstifikasi”.

Tulisan

sumbangan

Wawan

Hermawan

dan

Hermawan ini menyatakan bahwa penyebab

proses karstifikasi di daerah Sukolila dan

Tuban adalah hujan asam yang disebabkan

oleh gas-gas vulkanik hasil letusan gunung

api.

Artikel ketiga merupakan sumbangan salah

seorang Profesor Riset Badan Geologi, Hamdan

Z. Abidin bersama rekan Baharudin. Tulisan

berjudul “Peta Geologi Indonesia, Proses dan

Manfaatnya” mengupas mengenai proses

pembuatan Peta Geologi oleh Pusat Survei

Geologi - Badan Geologi sejak awal tahun

1970an. Peta Geologi memuat informasi

mengenai data geologi seperti litologi, umur

batuan, struktur geologi, dan perkembangan

tektonik daerah bersangkutan yang sangat

berguna bagi kepentingan potensi sumber

daya, usaha pertambangan, pertanian,

pekerjaan-pekerjaan teknik sipil, dan mitigasi

bencana geologi. Namun sayang sekali, sejak

adanya regulasi Otonomi Daerah, pekerjaan

pembuatan Peta Geologi ini terhenti karena

terkendala oleh tidak tersedianya sarana dan

sumber daya manusia di daerah-daerah.

Pembaca yang budiman,

Artikel-artikel dalam rubrik “Lintasan Geologi”

mengupas mengenai peristiwa Gempa

Bumi Tasikmalaya tanggal 2 September

2009 dan dampaknya. Donny Hermana

melaporkan peristiwa longsor yang terjadi

di Bukit Urug Hanafi di Kampung Babakan

Caringin, Kecamatan Cibinong, Kabupaten

Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Sementara

Rudy Suhendar drr. menguraikan analisis

kerusakan bangunan-bangunan di berbagai

lokasi gempa dikaitkan dengan geologi

lingkungan.

(4)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

P e n g a n t a r R e d a k s i

mewawancarai

Iwan

atas

prestasinya

menemukan fosil gajah purba “

elephas sp

di Dusun Sunggun, Kelurahan Medalem,

Kradenan, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa

Tengah. Penemuan fosil ini terhitung penting

karena memberikan informasi untuk

melengkapi “

missing link

” evolusi gajah

purba di Asia Tenggara.

Terakhir rubrik “Layanan Informasi Geologi”

Warta Geologi mengupas Jurnal Geologi

Indonesia sebagai jurnal ilmiah kebumian

terbitan Badan Geologi yang menjadi wadah

tulisan ilmiah bagi para pejabat fungsional

di lingkungan Badan Geologi dan instansi

lainnya. Kiprah Jurnal Geologi Indonesia

terhitung penting setelah pada tahun 2008

menggagas terbentuknya Forum Komunikasi

Editor Jurnal Kebumian (ejb). Forkom ejb ini

memiliki tujuan untuk menjalin komunikasi

antar pengelola dan dewan redaksi jurnal

kebumian dalam pengelolaan jurnal

masing-masing.

Pembaca yang budiman,

Dewan Redaksi Warta Geologi mengucapkan

terima kasih atas sumbangan tulisan pada

edisi ini dan senantiasa mengajak para

pembaca khususnya para peneliti dan

pengamat bidang geologi dari dalam dan luar

lingkungan Badan Geologi untuk menulis.

Mari kita menumbuhkan budaya menulis dan

membaca dengan mulai menyemarakkan

Warta Geologi ini dengan tulisan-tulisan

ilmiah populer anda.

Dengan ini juga segenap Dewan Redaksi

Warta Geologi mengucapkan Selamat Hari

Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H kepada

para pembaca Warta Geologi, mohon maaf

lahir batin kiranya apabila dewan redaksi

melakukan kesalahan pemberitaan dalam

media Warta Geologi terbitan Badan Geologi

ini.

Akhir kata, selamat menikmati Warta Geologi

(5)

E d i t o r i a l

Fosil, Menyambung Mata Rantai yang Hilang

Suatu kaidah yang dikemukakan oleh James Hutton kemudian dipegang teguh oleh para ahli geologi, yaitu “Present is The Key to The Past”, yang maknanya adalah fenomena yang tampak pada masa kini adalah kunci masa lalu.

Salah satu kunci masa lalu adalah fosil. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa secara definisi fosil diartikan sebagai bukti kehidupan organisme yang terawetkan pada lapisan batuan dalam kurun waktu yang sangat lama, puluhan ribu hingga jutaan tahun. Dengan demikian sejarah dan lingkungan kehidupan pada masa lalu dapat diketahui dengan menelusuri dan menemukan keberadaan fosil pada suatu wilayah. Kata fosil sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu fossa yang berarti “menggali keluar dari dalam tanah”.

Seorang naturalis berkebangsaan Inggris bernama

Alfred Russel Wallace yang memproklamirkan

biogeografi, pada tahun 1865 membagi wilayah Indonesia atas dua bagian berdasarkan keberadaan fauna dan flora, ternyata kemudian juga dari sisi geologi, menjadi bagian barat dan bagian timur. Bagian barat dimulai dari Sumatera, berlanjut ke Jawa dan berakhir di Kalimantan. Adapun bagian timur dimulai dari Pulau Sulawesi, merambah ke selatan mencapai Nusa Tenggara, berbelok ke Maluku dan berakhir di Papua. Garis batas antara kedua wilayah tersebut dimulai dari Sangihe, Sulawesi Utara melalui Selat Makassar dan berujung di Timor, Nusa Tenggara Timur sepanjang 5000 km yang kemudian dikenal dengan “Garis Wallace” (Wallace’s Line).

Korelasi antara penemuan suatu fosil dengan Garis Wallace adalah pembuktian bahwa garis biogeografi adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Meskipun demikian, beberapa makhluk hidup di masa lalu ternyata berhasil melampaui garis tersebut, salah satunya adalah gajah. Ditemukannya fosil binatang besar tersebut

di beberapa tempat di Pulau Jawa, Sulawesi dan Flores menjadi suatu temuan yang dapat merangkai cerita bahwa gajah adalah binatang yang tangguh dan berhasil mengembara melintasi Garis Wallace.

Suatu kisah yang menarik untuk disimak adalah kebiasaan orang Flores (masih berlaku sampai saat ini) dalam hal pernikahan. Seorang calon pengantin pria diharuskan menyediakan gading gajah sebagai mas kawin bagi calon mempelai wanita yang dikenal dengan “belis”. Untuk saat ini kebiasaan tersebut terasa ganjil karena pada masa sekarang diketahui secara luas bahwa gajah hanya hidup di Pulau Sumatera. Dari penjelasan di atas dengan ditemukannya fosil gajah antara lain di Flores, sedikit membuka cakrawala berfikir bahwa boleh jadi kebiasaan tersebut sudah berlaku sejak dahulu kala yang ketika itu sangat memungkinkan karena memang ada binatang gajah yang hidup di Tanah Flores. Memang tidak mudah meninggalkan kebiasaan nenek moyang yang sudah berlaku turun-temurun meskipun secara nalar tidak masuk akal.

Pada 23 Maret 2009 secara tidak sengaja seorang peneliti dari Museum Geologi, Badan Geologi terperanjat melihat seonggok gading yang sudah membatu menyembul dari longsoran penggalian pasir penduduk di Dusun Sunggun, Desa Mendalem, Kecamatan Kradem, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dari penggalian yang dilakukan lebih lanjut, ternyata fosil gajah tersebut adalah fosil vertebrata yang terlengkap (90% utuh) sejak perburuan yang sudah dilakoni oleh para ahli paleontolog sejak tahun 1850. Penemuan tersebut tentu merupakan hal yang luar biasa dan patut diacungi jempol. Fosil gajah tersebut adalah jenis

Elephas hysudrindicus, Mbahnya gajah purba.n

(6)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

M

eskipun sama-sama di hutan,

tidak seperti pemburu binatang

yang dilengkapi dengan senapan,

panah, atau pun golok panjang, pemburu

batugamping hanya dilengkapi dengan peralatan

standar geologi lapangan, yakni kompas dan palu

geologi, loupe, GPS, kamera, dan alat ukur jarak,

serta buku catatan. Yang diburu pun bukanlah

makhluk hidup yang harus dikejar karena bisa

berlarian, namun singkapan batugamping yang

diam di tempat. Batugamping ini merupakan

batugamping Formasi Baturaja berumur Miosen,

yang di wilayah Cekungan Sumatra Selatan

dianggap sebagai batuan waduk (reservoir)

minyak bumi. Episode kesatu pelaksanaan

perburuan ini berlangsung pada 2006..

di Pegunungan Duabelas, Jambi

(Bagian 1)

Oleh: Rian Koswara dan Nana Suwarna

G e o l o g i P o p u l e r

Suka Duka “Berburu”

Batu Gamping Tersier

G e o l o g i P o p u l e r

(7)

Lokasi perburuan terletak di kaki timur laut Pegunungan Duabelas, hulu Sungai Kejasung dan sekitarnya yang secara administratif termasuk Desa Batusawar, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Wilayah kaki dan lereng Pegunungan Duabelas ini merupakan kawasan hutan lindung/suaka Taman Nasional Pegunungan Duabelas dan dihuni oleh suku Anak Dalam.

Lokasi batugamping dapat dicapai dari Desa Batusawar melalui sungai dengan menggunakan perahu dayung, diselingi jalan kaki atau menarik perahu tersebut pada bagian-bagian sungai yang dangkal atau arusnya deras atau yang alirannya tertutup oleh balok-balok kayu hasil penebangan liar.

Suka Duka Perjalanan

Kengerian, duka, dan suka bercampur aduk dalam perburuan pertama ini. Ketika rombongan sedang melintasi sungai, perahu kami dihadang oleh sekelompok Suku Anak Dalam. Suku Anak Dalam ini dalam istilah lama disebut Suku Kubu. Kami dilarang melanjutkan perjalanan oleh mereka, karena belum ada izin dari kepala suku

mereka, yakni Temenggung Jelitai. Alasan lain penghadangan itu adalah faktor balas dendam. Porter kami yang berasal dari Desa Peninjauan bukan suku Anak Dalam, akan ditangkap. Kejadian ini dilandasi oleh keinginan balas dendam pemuda suku Anak Dalam terhadap sebagian pemuda desa, karena beberapa waktu lalu saat mereka pergi ke Desa Peninjauan, mereka dianiaya oleh pemuda desa tersebut.

Setelah dijelaskan duduk perkaranya dan semua pihak mengerti, kami diperkenankan melanjutkan perjalanan. Seluruh perlengkapan kami yang tadinya dirampas dikembalikan semua, kecuali seperiuk nasi beserta lauknya dan seperiuk bubur kacang hijau.

Hambatan ini sebenarnya dapat diatasi jika kami sebelumnya meminta izin dari Temenggung (Kepala Suku) lainnya yang berada di tepi barat Pegunungan Duabelas, yakni di wilayah Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Namun hal ini tidak mungkin kami lakukan, sebab kami berada di bagian timur Pegunungan Duabelas. Akibat adanya hambatan-hambatan teknis maupun non teknis dalam perjalanan berburu lewat sungai Peta lokasi dan geologi daerah perburuan (Simanjuntak drr., 1996).

Tim terpaksa memotong pohon tumbang yang menghalangi lintasan Sungai Kejasung. (Foto: N. Suwarna).

(8)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 Penulis ke-1 yang berfungsi ganda menjadi juru dayung. (Foto: N. Suwarna).

G e o l o g i P o p u l e r

ini, maka kami tidak dapat mencapai sasaran perburuan.

Sukanya, adalah kami dapat menemukan pengalaman baru, yakni dalam perjalanan lewat sungai ini, penulis kesatu, selain melaksanakan tugas utama berburu batugamping, juga harus siap menjadi pendayung perahu, akibat kurangnya tenaga bantuan setempat. Selain itu, dicegat dan dilarang serta sedikit diancam untuk melanjutkan perjalanan oleh Suku Anak Dalam, maupun tidur di tenda tepi sungai dengan perasaan waswas, trauma didatangi oleh Suku Anak Dalam malam-malam, merupakan pengalaman berharga.

Pengalaman unik lainnya, yakni saat kami berniat melakukan hajat besar atau pun kecil di sungai maka kami diharuskan berteriak-teriak terlebih dahulu untuk memberitahu warga suku Anak Dalam, terutama kaum perempuannya, di sekitar tempat tersebut bahwa kami sedang melaksanakan hajat. Ada ketentuan yang tidak tertulis, apabila “kepunyaan laki-laki” kaum pendatang terlihat oleh perempuan suku Anak Dalam atau sebaliknya, maka si pendatang akan kena denda. Dendanya berupa seekor kambing dewasa atau kain sarung batik sebanyak dua puluh lima lembar. Hal lain, jangan coba-coba berani memotret perempuan suku Anak Dalam, bila larangan ini dilanggar anda bisa disandera suku Anak Dalam.

Sementara itu, yang paling utama adalah dukanya, karena sudah lewat tujuh hari perjalanan kami merasa bekerja sia-sia, akibat tidak mendapatkan apa yang kami buru. Penyebab lainnya yang merupakan hambatan perjalanan ini adalah adanya rombongan pencari harta karun yang didampingi oleh seorang penduduk desa yang memutarbalikkan fakta agar mereka bebas dan lancar kerja. Penunjuk jalan tersebut menginformasikan kepada penduduk yang dilewati, baik orang desa maupun suku Anak Dalam, bahwa mereka adalah para geolog petugas dari Jakarta yang sedang melakukan survei, sedangkan rombongan kami diberitakan sebagai pencari harta karun.

Untuk mencapai sasaran perburuan, taktik pun perjalanan diubah. Sekarang kami laksanakan lewat darat. Pertama, dari Desa Batusawar kami menggunakan sepeda motor sampai batas hutan tempat pemukiman Suku Anak Dalam, dengan melewati jalan bekas perusahaan kayu, yang sangat becek dan lengket karena sedang musim penghujan, namun sangat berdebu di musim kemarau. Selanjutnya masuk jalan setapak, yang di beberapa tempat terhalangi oleh bergelimpangannya batang-batang kayu, sehingga kami kadang-kadang terpaksa memikul bersama-sama kendaraan motor tersebut. Sehubungan perjalanan selanjutnya harus dilaksanakan dengan Penulis ke-1 menarik perahu di air agak dangkal, tapi cukup deras, di S. Kejasung Besar,

bersama-sama dengan tenaga setempat. (Foto: N. Suwarna).

(9)

jalan kaki, maka kendaraan-kendaraan roda dua yang kami pakai, kami sembunyikan di ceruk-ceruk tebing yang rimbun. Kami berjalan kaki sampai Sungai Kejasung dan menyusuri sungai itu sampai ke lokasi perburuan.

Perjalanan melalui darat ini menghabiskan waktu empat hari. Alhamdulillah, kami hampir tidak menemukan lagi hambatan dari Suku Anak Dalam, malahan Temenggungnya, yakni Temenggung Meladang sangat wellcome dan membantu kami. Ada satu anak buah Temenggung yang agak menghambat. Namun hal itu dapat kami tanggulangi, karena kami membawa surat khusus dari Kepala Desa dan juga membawa telepon satelit, sehingga ketika kami dihadang oleh anak buah Temenggung tersebut, dia dapat melakukan kontak langsung dengan kepala desa (mereka sangat respek terhadap kepala desa).

Selama perjalanan ke tempat sasaran, kami yang dibantu oleh sejumlah tenaga setempat dari desa, jika hari sudah petang membangun tenda terbuka di tepi sungai untuk melepaskan penat dan tidur semalam, persiapan untuk melanjutkan perjalanan hari esoknya. Dalam perjalanan darat ini, kami yang berangkat terburu-buru dari desa, sehubungan dengan terbatasnya waktu untuk mengejar buruan dan juga masih trauma atas penghadangan ketika dalam perjalanan sungai, menyebabkan kurangnya perhitungan dalam persiapan logistik, sehingga pada hari keempat, yakni hari terakhir, rombongan hanya sempat makan pagi saja, karena bekal makanan sudah habis.

Hasil Perburuan

Pada hari keempat atau terakhir ini, pukul 7 pagi, kami berlima pergi menyusur Sungai Kejasung untuk mengejar buruan yang jaraknya cukup jauh, kira-kira 11 km dari kemah. Dalam perjalanan ini kami hanya membawa bekal nasi 2 bungkus, yang akan kami bagi nanti makan siang untuk berlima, karena persediaan logistik sudah habis. Tiga porter kami tinggalkan untuk membereskan tenda dan peralatan, karena untuk pulang kami harus melewati lagi tempat berkemah. Meskipun dalam perburuan ini satu porter terpaksa kami tinggalkan dulu di setengah perjalanan karena kakinya luka, namun Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga ke lokasi perburuan.

Sepanjang lintasan yang kami lewati, sebelum mencapai batugamping yang kami buru, batuan sedimen klastika halus Formasi Gumai yang berlapis baik dan segar tersingkap dengan baik. Batuan sedimen ini yang umumnya terdiri atas batulempung gampingan dan napal, dengan beberapa selingan atau nodul batugamping di tempat-tempat tertentu, kami ambil percontohnya dan diukur pula posisi perlapisannya. Selewat

Sepeda motor yang dipakai selama perburuan, melewati jalan berlumpur lengket yang licin dan berlubang-lubang. (Foto: R. Koswara).

Beberapa rintangan yang ada di jalan setapak, sehingga sepeda motor kadang-kadang harus digotong untuk melewatinya. (Foto: R. Koswara).

(10)

10 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 batuan Formasi Gumai, kami menemukan singkapan batugamping, yang selama ini dalam Peta Geologi Lembar Muarabungo (Simanjuntak drr., 1996) maupun laporan geologi lainnya belum pernah diinformasikan. Singkapan batugamping yang kami buru di Pegunungan Duabelas ini, secara geologis adalah batugamping Formasi Baturaja. Kami sangat bergembira, karena yang selama ini kami cari dan kejar dalam kurun waktu sepuluh hari perjalanan, dapat kami tangkap.

Kami tidak dapat lama-lama meneliti buruan ini, karena hari sudah mulai petang, sementara jarak yang akan kami tempuh untuk pulang masih jauh. Batugamping yang kami buru tersebut secara cepat kami ukur posisi perlapisannya, lokasinya, dan diambil percontohnya.

Berangkat dari lokasi perburuan sekitar jam 3 petang, sehingga kami beserta rombongan kecil ini harus jalan secara cepat agar tidak kemalaman sampai ketempat berkemah malam sebelumnya. Kami tidak sempat makan, pertama karena makanan tidak mencukupi, kedua karena hari petang. Begitu kami bertemu teman yang sedang menunggu di tempat bekas bertenda, semuanya langsung bergerak menuju ke tempat penyimpanan

motor. Dengan melewati jalan setapak di bawah rimbunnya pepohonan, kami berjalan beriringan dengan cepat, tanpa minum, tanpa penerangan yang memadai. Meskipun hausnya tidak ketulungan, karena tak adanya lagi persediaan air minum, kami terus berjalan. Namun, tubuh tidak dapat dibohongi, sehingga sesampainya di pondok Temenggung Meladang, kami akhirnya sedikit ambruk, sehingga rombongan berhenti dulu sebentar untuk penyegaran.

Begitu badan agak sedikit bertenaga, kami semua berangkat lagi, menyusur sungai, kemudian mendaki bukit dan menuruni lembah di hutan yang cukup rimbun. Seringkali beberapa anggota rombongan jatuh-bangun, terjerembab, sampai sobek-sobek pakaiannya, karena gelapnya jalan yang dilewati, apalagi kalau terkena duri rotan yang malang-melintang, ditambah lagi mereka membawa beban yang cukup berat.

Pukul 23.30 sampailah rombongan ke tempat motor-motor disembunyikan. Persiapan di sini memerlukan waktu yang cukup lama juga, karena beberapa motor mogok, tidak bisa dihidupkan, sehubungan kehujanan dan ditinggalkan selama 3 hari. Kami berangkat dengan gembira pukul Kriteria penentuan KP untuk RTRW kabupaten/kota sebelum UU No.4 Tahun 2009 terbit. Setiap kriteria terdiri atas indikator-indikotor yang memiliki bobot nilai tertentu.

Napal Formasi Gumai, berlapis baik, yang tersingkap di tepi dan dasar S. Kejasung Besar. (Foto: R. Koswara)

Nodul batugamping yang tersisip di dalam lapisan napal Formasi Gumai. Lokasi: S. Kejasung Besar. (Foto: N. Suwarna).

Penulis kesatu berdiri di atas singkapan batugamping berlapis. Lokasi: S. Kejasung Besar. (Foto: N. Suwarna).

(11)

1.00 malam, dengan harapan dapat secepatnya sampai ke kampung. Namun sesampainya di bekas jalan perusahaan kayu, hambatan menghadang lagi, kegembiraan menghilang seketika. Jalan tanah yang becek bekas hujan semalam sangat mengganggu kelancaran perjalanan; roda motor tidak bisa berputar sama sekali, karena lengket oleh lumpur. Kedua penulis yang bersama-sama menaiki satu motor, berapa puluh kali jatuh bangun terlempar ke semak-semak, dan berulang-ulang berhenti hanya untuk membuang lengketan tanah di roda sepeda motor. Lagi-lagi tubuh tidak dapat dibohongi, ketahanan fisik manusia terbatas, apalagi tanpa minum dan makan sejak siang hari. Kami berdua saking letihnya, bergeletak saja di tanah becek tanpa memperdulikan ancaman bahaya, di tengah-tengah hutan, sementara rekan-rekan lainnya berceceran sepanjang perjalanan, tanpa menghiraukan satu sama lainnya.

Sejumlah jembatan kayu yang licin oleh lumpur, dan hanya merupakan kumpulan kayu bulat dan papan kecil-kecil yang melintang di atas sungai yang dalam dan sedang meluap airnya terpaksa kami lewati dengan hati-hati, karena kami berdua ingin segera sampai di kampung. Sesudah mengalami jatuh bangun selama perjalanan malam yang cukup melelahkan dan menegangkan, baik selama jalan kaki maupun naik sepeda motor, hampir tanpa makan dan minum, akhirnya pukul 5.00 pagi kami berdua sampai di tepi Sungai Kejasung,

tempat pompong (perahu kayu) menunggu sejak siang hari. Dengan setengah berlari kami mendekati pompong itu. Saking gembiranya melihat pompong itu kami tidak melihat bahwa di jalan yang akan kami lewati ada batang kayu bulat melintang. Kami berdua sekali lagi terjerembab dan jatuh terlempar ke semak-semak.

Penutup

Meskipun cukup sakit karena sering jatuh dari sepeda motor yang sedang berlari kencang dan juga perjalanan seharian yang melelahkan, kami merasa bahagia dan gembira karena perjalanan ini tidak sia-sia. Apa yang kami buru sudah kami dapatkan. Perburuan 2006 yang merupakan episode kesatu ini belum selesai sepenuhnya, karena penyelesaiannya dilaksanakan pada 2007, dan ceritanya akan dipaparkan pada episode kedua. Pekerjaan ini dilaksanakan dalam rangka kerja sama antara Pusat Survei Geologi (Badan Geologi) dan MEDCO, pada 2006.n

Penulis adalah mantan petugas lapangan yang sekarang berkiprah di Dewan Redaksi Jurnal Geologi Indonesia. Badan Geologi

(12)

1 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

K

eberadaan pebukitan batugamping di daerah Pati dan Tuban menyisakan pertanyaan besar, mengapa sebagian besar gua batugamping di daerah Pati banyak dijumpai di bagian utara, sedangkan di bagian selatan tidak? Apakah hal ini ada kaitannya dengan keberadaan Gunung Muria yang berada di sebelah utara? Sementara itu, sebagian besar gua batugamping di daerah Tuban banyak dijumpai di bagian selatan, sedangkan di bagian utara tidak. Apakah hal ini ada kaitannya pula dengan keberadaan Gunung Semeru, Arjuno, dan lain-lainnya yang berada di sebelah selatan? Satu hipotesa mengaitkan kenyataan tersebut dengan pelarutan kimiawi sebagai salah satu proses karstifikasi yang membentuk kenampakan endokarst dan eksokarst di kedua daerah pebukitan batugamping tersebut. Pelarutan kimiawi tersebut erat kaitannya dengan terjadinya hujan asam akibat meterial letusan gunung api.

Oleh:

Wawan Hermawan dan Hermawan

G e o l o g i P o p u l e r

G e o l o g i P o p u l e r

dengan Salah Satu Penyebab

Proses Karstifikasi

Hubungan antara Letusan

Gunung Api

(13)

Skema proses karstifikasi yang salah satunya dipengaruhi oleh hujan asam yang jatuh di daerah pebukitan batugamping

Pelarutan Batu Gamping

Prawoto (2001) dan Kiraly (2003) menyatakan bahwa hujan asam yang terjadi di suatu daerah batugamping dapat menyebabkan proses pelarutan pada batugamping tersebut dan akan menghasilkan larutan gamping (CaCO3) dengan kepekatan tertentu sesuai dengan kepekatan hujan asam. Larutan gamping tersebut suatu saat akan mengalami kristalisasi dan presipitasi menjadi bentukan-bentukan endokarst dan eksokarst. Proses tersebut dikenal sebagai karstifikasi.

Seperti kita ketahui bahwa hujan asam yang terjadi pada masa lampau bukan diakibatkan

oleh aktivitas pabrik atau kendaraan berbahan bakar fosil seperti sekarang ini, tetapi lebih banyak diakibatkan oleh gejala alamiah seperti pengaruh nitrit dan nitrat yang dihasilkan oleh tumpukan humus pada hutan tropis atau akibat letusan gunung api yang menghasilkan beberapa gas-gas vulkanik.

(14)

1 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

G e o l o g i P o p u l e r

Semakin pekat air larutan CaCO3 hasil pelarutan yang terbentuk, semakin mudah terbentuknya endokarst dan eksokarst di pebukitan batugamping. Apabila kepekatan larutan rendah atau tidak terjadi lagi pelarutan, maka tidak akan terjadi endokarst dan eksokarst, artinya proses karstifikasi tidak aktif atau untuk sementara berhenti hingga tersedia kembali larutan asam yang pekat (berasal dari hujan asam). Struktur sesar, retakan dan kekar Pada kekar, rekahan dan retakan akibat struktur geologi berupa perlipatan dan sesar yang terjadi sepanjang deretan pebukitan batugamping akan mempercepat pelarutan tersebut, karena air hujan yang bersifat asam tersebut akan melarutkan batugamping melalui struktur-struktur tersebut hingga suatu saat akan terbentuk gua-gua akibat keruntuhan dinding-dinding sepanjang struktur.

DATA DAN ASUMSI Karst Sukolilo dan Tuban

Peta sebaran gua-gua berair dan gua-gua kering menunjukkan kondisi karst di daerah Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Dari peta tersebut dapat diamati bahwa sebagian besar gua-gua berair dan gua-gua kering terdapat pada sayap batugamping di sebelah utara yang relatif lebih dekat jaraknya dengan letak Gunung Api Muria, sehingga kemungkinan besar sayap bagian utara tersebut terpengaruh oleh gas-gas vulkanik hasil letusan Gunung Api Muria. Sedangkan untuk karst Tuban belum banyak data yang diperoleh secara lengkap kondisi karstifikasi di daerah tersebut.

(15)

Letusan Gunung Api

Letusan gunung api yang dimaksud dalam tulisan ini adalah letusan dahsyat yang menghasilkan sejumlah besar debu dan gas yang dilontarkan ke udara dan berpengaruh terhadap iklim global dunia. Pengaruhnya terhadap iklim dunia berupa tutupan debu dan sebaran gas vulkanik hingga radius yang sangat luas.

Sebaran Debu dan Gas-Gas Vulkanik

Beget, drr. (1993) menyatakan bahwa sebaran debu dan gas vulkanik sangat tergantung pada besarnya letusan, arah, dan kekuatan angin, sehingga jarak

tempuh debu dan gas sangat bervariasi dari yang dekat atau hanya di sekitar tubuh gunung api hingga berkilo-kilo meter jauhnya.

Dari kedua besaran letusan gunung api tersebut di atas dapat diketahui bahwa bukan saja pebukitan batugamping di dekat gunung api yang terpengaruh debu dan gas yang berasal dari suatu letusan, tetapi pebukitan batugamping yang jaraknya sangat jauh pun terpengaruh.

Oleh sebab itu bukan hal yang mustahil apabila pebukitan batugamping yang tidak berdekatan dengan gunung api pun dapat mengalami proses karstifikasi yang sangat intensif bersamaan

dengan letusan gunung api dahsyat di belahan bumi yang lain seperti Gunung Api Pinatubo, Gunung Api Tobapurba, Gunung Api Tambora, dan Gunung Api Krakatau. Tiupan angin akan membawa debu dan gas vulkanik ke daerah pebukitan batugamping di sekitar pusat letusan gunung api maupun yang amat jauh dari pusat letusan gunung api. Apabila terjadi hujan maka terbentuklah hujan asam, kepekatan asam yang terbentuk sangat tergantung pada media air yang akan mengencerkannya. Semakin pekat asam yang terbentuk dan bersentuhan dengan batugamping, maka segera terjadi proses pelarutan batugamping tersebut dan menghasilkan larutan gamping pekat mengikuti struktur geologi yang ada.

Letusan gunung api yang besar menghasilkan debu dan gas vulkanik dalam jumlah yang sangat besar, dan segera setelah itu akan bereaksi dengan air hujan menjadi hujan asam. Jenis asam yang terbentuk, antara lain: H2SO4, H2CO3, HCl, HNO3, dan HF. Diantara asam-asam tersebut ada yang sangat reaktif terhadap batugamping sehingga akan menjadi pemicu proses pelarutan batugamping yang merupakan salah satu faktor di dalam proses karstifikasi.

Sebaran debu dan gas vulkanik di sekitar tubuh gunungapi apabila letusan berlangsung kecil dan tersebar luas mengikuti arah angin apabila letusan besar.

(16)

1 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 Debu dan gas vulkanik letusan G. Pinatubo menyebar ke sepanjang katulistiwa. (Sumber

Self dkk, 2007)

Grafik total SO2versus Waktu setelah letusan. (Sumber Self dkk, 2007)

Pelamparan debu dan gas-gas vulkanik, serta perbandingan massa campuran dan ketinggian debu dan gas-gas vulkanik versus waktu setelah letusan. (Sumber Self dkk, 2007)

(17)

Grafik perubahan phase gas vulkanik dari bentuk gas-cairan-padat. (Sumber Prawoto, 2001)

Total gas SO2 yang dilontarkan keluar pada saat letusan Gunung Api Pinatubo versus sehabis waktu letusan di dalam hari terlihat pada grafik di bawah. Terlihat bahwa total gas SO2 akan berkurang cukup signifikan dari waktu setelah letusan hingga sekitar 170 hari, dari total di atas 10,00 hingga 20,00 megaton menjadi sekitar 0,10 hingga 1,00 megaton. Sehingga terbentuknya hujan asam dengan kepekatan tinggi sangat tergantung kepada intensitas curah hujan pada saat letusan terjadi.

Pelamparan (surface area) debu, gas-gas vulkanik dan ketinggian debu dan gas-gas vulkanik Gunung Api Laramie, Lauder, dan Kiruna versus waktu setelah letusan terlihat pada salah satu gambar. Pada umumnya berada di bawah maksimum ketinggian stratospherik, sehingga kemungkinan besar masih dapat bereaksi dengan hujan hingga 2 - 3 tahun.

Pengaruh Curah Hujan

Curah hujan akan mempengaruhi pembentukan hujan asam, semakin besar curah hujan yang terjadi pada saat letusan atau mendekati setelah letusan, maka akan terjadi pengenceran asam yang terbentuk, sebaliknya semakin kecil curah

hujan yang terjadi maka akan semakin pekat hujan asam yang terbentuk.

Hujan asam dapat terjadi pada saat atau setelah letusan gunung api berlangsung kemudian menjadi media yang melarutkan batugamping. Perubahan gas CO2 dari fase gas menjadi cairan berupa hujan asam yang berpotensi menjadi pemicu pelarutan batugamping kemudian akan berubah bentuk padat setelah melewati proses pengkristalan dan pengendapan. Demikian juga berlaku analogi terhadap gas-gas vulkanik lainnya.

Dengan semakin banyak kekar, retakan dan rekahan pada lapisan batugamping maka akan semakin mudah terbentuk proses karstifikasi, yakni pembentukan gua-gua, endokarst dan esksokarst, serta meninggalkan bentukan eksokarst berupa sisa-sisa tubuh batugamping berupa Sinkhole, Pinacle dengan lubang-lubang pelarutan oleh hujan asam. Kastning dkk (1999) Sinkhole terbentuk secara perlahan-lahan sejalan dengan pelarutan oleh media pada batuan dasar di bawah permukaan.

Proses pelarutan oleh asam bikarbonat (H2CO3) adalah sebagai berikut:

CO2 + H2O + CaCO3 ---> (CaHCO3)2

Terlarut dalam aliran, dengan mekanisme sebagai berikut:

(18)

1 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 Pelarutan terjadi sepanjang zona lemah, retakan, rekahan atau celahan rambut. Maka peranan geotektonik menjadi sangat penting dalam proses karstifikasi, di samping larutan asam pekat dari hujan asam yang terjadi akibat letusan gunung api, demikian juga analog pada gas-gas vulkanik yang lainnya.

Semakin kuat (kepekatan tinggi) asam yang terbentuk akan semakin cepat terjadi pelarutan batugamping dan terbawa oleh aliran air,

sehingga larutan gamping (CaCO3) pekat - sangat pekat tersebut setelah melewati retakan, rekahan dan kekar akan membentuk kristal-kristal gamping berupa Stalagtit, Stalagmit, dan Flowstone.

Proses terjadinya bentukan-bentukan endokarst tersebut sangat dipengaruhi oleh larutan gamping (CaCO3) saat melewati bukaan retakan, rekahan dan kekar dari yang sangat sempit hingga lebar. Pada bukaan sangat sempit akan membentuk stalagmit dan stalagtit melalui pengendapan Pinacle merupakan bagian luar bentuk karstifikasi yang diduga mengalami pelarutan setelah tertimbun debu vulkanik dan tertimpa hujan asam (sumber Anon, 2005).

Endokarst yang terbentuk oleh larutan gamping dengan kepekatan yang tinggi,hal ini hanya dapat dihasilkan dari pelarutan batu gamping oleh media asam yang sangat

(19)

larutan gamping yang membentuk lapisan kristal warna-warni tergantung pengotoran larutan dan jenis asam yang melarutkan batugamping. Pada bukaan yang cukup lebar akan terjadi bentukan berupa pengendapan dan pengkristalan gamping (CaCO3) dari larutan yang sangat pekat yang meleleh atau mengalir sangat lambat membentuk flowstone dan bentukan-bentukan endokarst lain yang sangat aneh, hal tersebut hanya dapat dibentuk oleh larutan yang sangat pekat dan larutan tersebut hanya diperoleh pada pelarutan batugamping oleh asam yang pekat - sangat pekat.

Kesimpulan

Penyebab salah satu proses karstifikasi batugamping di daerah Sukolilo diakibatkan oleh hujan asam yang disebabkan oleh gas-gas vulkanik hasil letusan Gunung Api Muria. Penyebab salah satu proses karstifikasi batugamping di daerah Tuban diakibatkan oleh hujan asam yang disebabkan oleh gas-gas vulkanik hasil letusan Gunung Api Arjuno, Welirang, Semeru dan Pananggungan.

1.

2.

Gas-gas vulkanik yang berasal dari Gunung Api Muria terletak di utara deretan pebukitan batugamping Sukolilo berpengaruh terhadap proses karstifikasi di sayap utara dengan menghasilkan pelarutan yang sangat pekat-pekat sehingga menyebabkan bentukan indokarst berupa: Stalagmit, Flowstone, dan bentukan-bentukan lain yang hanya mungkin dibentuk oleh larutan batugamping sangat pekat - pekat.

Gas-gas vulkanik yang berasal dari Gunung Api Semeru, Arjuno, Welirang dan Penanggungan di selatan deretan pebukitan gamping Tuban kurang berpengaruh terhadap proses karstifikasi di daerah Tuban karena letaknya terlampau jauh, sehingga di daerah Tuban kerang banyak dijumpai bentukan-bentukan indokarst, hanya berupa gua-gua.

Saran

Dari uraian di atas maka dapat direkomendasikan bahwa penelitian karstifikasi harus dilakukan secara terintegrasi antara ketiga kelompok kerja program di lingkungan Pusat Lingkungan Geologi dengan kegiatan antara lain:

Kajian air tanah di daerah karst guna pemanfaatan sumber daya alam, pengujian kandungan kimia air tanah terutama (CaCO3) terlarut dan unsur-unsur penting lainnya, arah aliran dan kuantitas/kualitas air tanah.

Kajian umur absolut perlapisan pembentuk endokarst dengan carbon dating, berkaitan dengan penentuan masih aktif atau tidaknya proses karstifikasi sudah berhenti akibat tidak terjadi pasokan gas-gas yang menyebabkan hujan asam. Pengujian unsur-unsur pembentuk warna pada perlapisan endokarst dan hipotesa pembentukan Pinacle serta lubang-lubang pada eksokarst.n

Penulis adalah Penyelidik Bumi Pusat Lingkungan Geologi Sayatan endokarst yang menunjukkan umur perlapisan, dapat dilakukan

(20)

0 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

G e o l o g i P o p u l e r

D

alam Era Orde Baru dikenal adanya program PELITA (Pembangunan Lima

Tahun). Program ini berlaku untuk

pembangunan dalam segala bidang termasuk

pembangunan geologi (kebumian). Salah satu

institusi yang menangani bidang kebumian

adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan

Geologi (P3G) yang sebelumnya berada di

bawah Dirjen Geologi, dan kemudian di bawah

Badan Litbang Geologi. Sekarang, institusi ini

bernama Pusat Survei Geologi (PSG) dan berada

di bawah Badan Geologi, Departemen Energi

dan Sumber Daya Mineral. Saat era Orde Baru,

tugas utamanya adalah mengeksekusi pemetaan

geologi skala 1:50.000 hingga 1:250.000, dengan

nama kegiatan “Proyek Pemetaan Geologi dan

Interpretasi Foto Udara/Geofisika”.

Peta Geologi Indonesia,

Proses dan Manfaatnya

Oleh:

Hamdan Z. Abidin & Baharuddin

(21)

Pelaksanaan proyek tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an, awal PELITA I, dan berakhir pada PELITA V tahun 1990-an. Total waktu selama lebih kurang 25 tahun (78% dari 32 tahun masa Orde Baru) dihabiskan untuk melaksanakan pemetaan geologi. Hasil akhir dari proyek ini berupa peta geologi berskala 1:250.000 (181 lembar), 1:100.000 (58 lembar), 1:50.000, dan skala 1:1.000.000. Pemetaan geologi dengan skala 1:250.000 dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, sedangkan peta skala 1:100.000 terutama dilakukan di Pulau Jawa dan Madura, dengan sebagian kecil di Kalimantan dan Sumatra bagian selatan dan utara. Selain itu, di sejumlah kawasan terpilih di Jawa, dilaksanakan pula pemetaan geologi skala 1:50.000. Peluncuran hasil pemetaan geologi seluruh Indonesia yang berskala 1:250.000 (yang sudah dianggap sempurna) dilakukan pada 17 Agustus 1995 sebagai kado Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-50.

Sejak itu kegiatan pemetaan geologi bersistem Indonesia tidak dilanjutkan lagi kecuali menyelesaikan penerbitan sebagian peta dengan skala 1:100.000 dan 1:1000.000. Sejak dilaksanakannya otonomi daerah, kegiatan pemetaan geologi berskala 1:100.000 dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Namun sampai saat ini, tidak satu pun peta geologi yang diterbitkannya, karena tidak tersedianya sarana dan sumber daya manusia (baca tenaga ahli geologi).

PROSES PEMBUATAN PETA GEOLOGI

Untuk menghasilkan sebuah peta geologi, diperlukan beberapa tahapan, dimulai dari olah perpustakaan, analisis foto udara dan citra landsat, pekerjaan lapangan, pengolahan data dan laboratorium, pembuatan peta permulaan, penelaahan/kartografi, dan yang terakhir pencetakan peta dan laporannya untuk diterbitkan.

Persiapan

Persiapan meliputi penentuan lokasi/daerah yang akan dipetakan, proposal tentang kegiatan pemetaan geologi menyangkut latar belakang, kondisi penduduk, pencapaian daerah pemetaan, dan personil yang akan terlibat dalam kegiatan pemetaan. Selain itu perlu dilakukan studi literatur (perpustakaan) mengenai data geologi dari para peneliti terdahulu. Yang tidak kalah penting adalah membuat peta geologi tafsiran yang dikompilasi dari interpretasi foto udara (sesuai dengan judul proyek) dan citra landsat. Penekanan interpretasi foto udara selain geologi tafsiran (litologi dan struktur) juga penggambaran pola aliran sungai. Pola aliran ini berguna untuk merencanakan lintasan geologi yang akan dilewati di lapangan.

Selanjutnya menyiapkan peta dasar, baik dari hasil interpretasi foto udara atau peta topografi yang sudah tersedia. Biasanya, untuk melakukan pemetaan geologi skala 1:250.000, digunakan peta topografi berskala 1:100.000. Dalam peta dasar ini, semua indikasi geologi diplot (lokasi, struktur, litologi, indikasi tambang, cebakan mineral, batubara, indikasi fosil, rembesan minyak, dll.). Tentu hal yang tidak boleh dilupakan adalah peralatan pemetaan geologi seperti kompas, palu, loupe, kamera, GPS, dan tenda. Hal terakhir adalah menyiapkan surat-surat untuk pemerintah daerah tempat kegiatan pemetaan akan dilakukan. Apabila persiapan awal ini dapat dibuat dengan sempurna, maka pekerjaan lapangan akan berjalan dengan baik.

Kegiatan Lapangan

Pekerjaan lapangan merupakan tahapan inti pemetaan geologi. Tujuan utama dalam kegiatan lapangan adalah untuk melakukan pendataan semua jenis batuan, pengambilan percontoh batuan, pengukuran jurus/kemiringan lapisan dan struktur geologi, dan lain-lain. Dalam melakukan Sekali waktu berjuang melawan arus Sungai Kapuas, Kalimantan di lain waktu memanfaatkan kuda membawa segala kebutuhan di Padang Lawas,

(22)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 pemetaan geologi, tidak ada pekerjaan individu kecuali kerja tim. Dalam satu tim dibutuhkan personil sekitar 15 orang, mulai ahli geologi, asisten ahli geologi, surveyor/teknisi, pengemudi, dan pemandu lokal. Umumnya kegiatan lapangan untuk satu lembar peta skala 1:250.000 dilakukan dalam 2 sesi (tergantung tingkat kesulitan lapangan). Pada kegiatan lapangan sejak 1968 hingga 1978, setiap sesi dilakukan selama 3 bulan, bahkan jika dianggap perlu bisa dilakukan sampai 4 bulan, dengan jumlah keseluruhan per tahun 6 – 7 bulan. Namun sejak 1979 – 1989, setiap sesi hanya dilaksanakan selama 2 bulan, bahkan dalam kurun waktu 1990 – 1996 hanya 1 bulan.

Dalam melakukan pekerjaan lapangan, tim dibagi menjadi beberapa subtim yang masing-masing terdiri atas 2 – 4 orang dengan susunan 1 ahli geologi dan 1 surveyor, atau 2 asisten ahli geologi, ditambah tenaga setempat. Kegiatan lapangan ini dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu bertempat tinggal tetap (base camp) apabila lokasi pemetaan dapat dicapai dalam sehari pulang pergi, dan dengan cara berpidah-pindah (fly camp) apabila lintasannya panjang.

Analisis Laboratorium

Analisis laboratorium merupakan salah satu bagian penting dalam penyelesaian peta geologi. Sejumlah percontoh batuan yang terpilih yang mewakili setiap kelompok batuan dianalisis secara petrografis (mineralogi batuan), geokimia batuan, pentarikhan, kandungan fosil dll. Dari hasil analisis laboratorium ini dapat diketahui jenis, komposisi, umur batuan, lingkungan pengendapan, serta jenis fosil yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian akan memudahkan mengkompilasi satuan unit geologi yang mempunyai karakter sama (kimiawi, komposisi, umur dll.) ke dalam peta geologi, sedangkan percontoh batuan yang merupakan “hand specimen” disimpan sebagai koleksi Museum Geologi.

Kompilasi Peta Geologi

Data yang diperoleh di lapangan tidak serta-merta bisa menghasilkan peta geologi yang memenuhi persyaratan. Seperti telah disebutkan di atas, pekerjaan pemetaan geologi merupakan pekerjaan tim. Oleh karena itu, seseorang yang bertanggung jawab dalam penyelesaian peta geologi tersebut (Kepala Tim) harus berkomunikasi dengan anggota

G e o l o g i P o p u l e r

Menyeberangi lembah sedalam puluhan meter dengan jembatan gantung di Taput, Sumatra Utara atau diangkut helicopter menyusuri Sungai Mahakam, Kalimantan.

(23)

tim. Semua data lapangan yang diperoleh dari anggota tim dikumpulkan dan didiskusikan serta diplot ke dalam peta dasar yang telah tersedia. Data awal yang harus diplot dalam peta dasar adalah lokasi pengambilan setiap percontoh, jenis litologi (batuan sedimen, batuan beku/terobosan, batuan gunung api, batuan malihan, maupun alluvial), struktur geologi (sesar dan lipatan), serta jurus dan kemiringan lapisan batuan. Pekerjaan selanjutnya adalah membuat kompilasi data subtim dan diplot berupa peta geologi kompilasi. Pada tingkat ini sudah tergambar batas litologi, struktur dan lainnya. Selanjutnya, runtunan beberapa litologi baik berdasarkan litologi sejenis, maupun umur, disatukan sehingga membentuk suatu unit batuan yang dikenal dengan “formasi”, dan lebih tinggi dari formasi disebut “kelompok”. Oleh karena itu, dalam peta geologi banyak ditemukan nama formasi yang terdiri atas beberapa unit litologi. Peta yang dihasilkan dari kompilasi dari data lapangan dan interpretasi foto udara berupa peta dua warna (belum diwarnai secara standar tetapi setiap unit batuan sudah diberi notasi/simbol).

Sampai tahap ini, kondisi peta geologi masih terbuka untuk diperbaiki atau diedit oleh ahli lainnya (penyunting) sehingga masih disebut peta

open file (terbuka untuk menerima perbaikan

dan saran serta tambahan data lainnya). Peta

open file tersebut adalah peta dua dimensi

yang menggambarkan tentang pelamparan litologi/formasi secara lateral. Untuk mengetahui posisi runtunan batuan secara vertikal (tegak) dibuat beberapa irisan penampang tegak, yang memberikan gambaran hubungan antara batuan dan ketebalan setiap litologi/formasi (takselaras/ selaras) serta hubungan antara batuan yang diterobos maupun batuan yang menerobos.

Proses Penerbitan Peta

Sentuhan terakhir setelah peta disunting adalah pewarnaan standar, misalnya unit batu granit diberi warna merah, batupasir diberi warna kuning, dan batugamping warna biru. Peta tersebut sudah dilengkapi dengan data umur, petrografi, kimia, kandungan fosil, dan sumber daya geologi. Sebelum dikirim ke percetakan, dilakukan dulu pengecekan terakhir oleh tim pemetaan untuk dikoreksi kemudian dicetak dan diterbitkan.

MANFAAT PETA GEOLOGI

(24)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 Pusat Survei Geologi (dahulu Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi) identik dengan Peta Geologi yang dikenal sangat luas di dalam dan luar negeri. Sangat disayangkan pemetaan geologi Indonesia belum tuntas dikerjakan karena proyek semacam itu tidak ada lagi di masa Era Reformasi ini.

KERJA SAMA PEMETAAN GEOLOGI

Untuk menyelesaikan peta geologi Indonesia pada masanya, Pusat Survei Geologi telah bekerja sama dengan beberapa lembaga asing seperti Jepang (JICA), Australia (BMR/AGSO), Amerika (USGS), Inggris (BGS), Perancis (BRGM), Inggris (Proyek CTA-36), dan South Sumatra Geological Salah satu produk peta geologi skala 1:250.000

Contoh peta plotting struktur (jurus/kemiringan), sebelum dipindahkan ke dalam peta open

(25)

Mapping and Exploration Project (SSGMEP), dll. Proyek kerjasama pemetaan geologi ini tersebar di seluruh Indonesia seperti di Sumatra (BGSUSGS), Kalimantan (JICA-IAGMP-BRGM) dan Irian Jaya (IAGMP). Dengan adanya kerja sama ini di samping mempercepat penyelesaian pemetaan geologi juga sebagai pelatihan dan penambahan wawasan bagi para ahli geologi Indonesia.

PENUTUP

Tidak diragukan lagi bahwa peta geologi merupakan bahan dasar utama untuk kegiatan geologi berikutnya, baik untuk ilmiah (penelitian) maupun untuk terapan. Selain itu, peta geologi juga bermanfaat bagi ilmu multidisiplin seperti pertanian, pertanahan, pembangunan jalan raya, waduk, bangunan raksasa, dan pembangunan kota. Pusat Survei Geologi, satu-satunya lembaga pemerintah di bawah Badan Geologi yang telah mengeksekusi pelaksanaan pemetaan geologi di seluruh Indonesia selama lebih kurang 25 tahun dalam pemerintahan Orde Baru. Peta geologi berskala 1:250.000 dan 1:100.000 telah diterbitkan. Peta geologi skala 1:250.000 telah selesai dilaksanakan di seluruh Indonesia, sedangkan peta geologi skala 1:100.000 hanya

terbatas di Pulau Jawa dan di sebagian kecil Sumatra Utara dan Selatan, serta Kalimantan Selatan. Selebihnya adalah pekerjaan yang tertunda dan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah sebagai amanat dari otonomi daerah.

Sesungguhnya masih banyak pekerjaan pemetaan yang tertunda bahkan belum tersentuh sama sekali, misalnya peta geologi yang lebih rinci (skala kecil, 1:50.000 atau 1:25.000). Selain itu wilayah perbatasan antara negara (Kalimantan - Malaysia, Irian Jaya - Papua Nugini) merupakan daerah yang sangat kritis yang perlu dilakukan penelitian terpadu termasuk pemetaan geologi karena hal tersebut menyangkut kedaulatan NKRI.n

Kedua Penulis adalah Pejabat Fungsional Peneliti Pusat Survei Geologi

(26)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

R

abu siang (2 September 2009, pukul 14.55 wib) saat mentari masih menyisakan

terik panasnya dan mulai bergeser ke

ufuk barat, tanah tempat penulis berpijak

tiba-tiba berguncang. Guncangan terasa berlangsung

beberapa menit dengan kekuatan semakin

lama semakin besar. Penulis dengan spontan

menyelamatkan diri, begitu pula beberapa teman

di sekitar penulis. Belakangan penulis mengetahui

bahwa guncangan tersebut merupakan gempa

bumi tektonik berkekuatan 7,3 skala Richter yang

terjadi akibat berbenturnya dua lempeng di bawah

permukaan bumi. Pusat gempa berada di dasar

laut pada kedalaman 30 km, sekitar 142 km arah

barat daya Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Gempa tersebut menggoyang hampir seluruh

pantai selatan Pulau Jawa dengan pengaruh paling

besar terjadi di bagian barat Pulau Jawa.

Oleh:

Donny Hermana

Bukit Urug Hanafi

Longsor Kembali

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

(27)

Gempa bumi yang berskala besar ini tentu berdampak besar terutama bagi penduduk yang berdomisili tidak jauh dari pusat gempa. Salah satu akibatnya adalah kerusakan bangunan rumah penduduk, gedung perkantoran, sarana ibadah, dan prasarana lainnya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Satkorlak PBP Provinsi Jawa Barat sampai 5 September 2009, kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi tanggal 2 September tersebut adalah sebagai berikut:

Kab Tasikmalaya 827 5 90 - 450 Kota Tasikmalaya 26 5 22 - 3.387 Kab Garut 44 7 135 - 8.195 Kab Bandung 53 11 355 - 5.661 Kab Bandung Barat 70 1 21 - -Kab Sukabumi 211 3 18 - 60 Kab Cianjur 53 26 5 26 11.787 Kab Kuningan 23 - - - 287 Kab Bogor - 2 9 - 663 Kab Ciamis 733 6 158 - 473

Data Kerusakan dan korban jiwa akibat gempabumi 2 September 2009

Wilayah yang terkena dampak cukup besar adalah Kabupaten Cianjur (26 meninggal dunia dan 11.787 mengungsi). Oleh karena itu penulis berencana mengunjungi lokasi bencana di kabupaten itu. Dua hari pasca gempa, penulis menelusuri wilayah Kabupaten Cianjur menuju Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong. Lokasi tersebut berada 167 km dari Kota Bandung, atau 24 km dari Kota Kecamatan Cibinong. Untuk mencapai wilayah tersebut diperlukan perjuangan ekstra karena sarana jalan masih berupa jalan bebatuan, dengan kiri kanannya diapit oleh perbukitan, serta lembah dan jurang yang cukup dalam. Salah satu perbukitan itu adalah Bukit Urug Hanafi yang masuk dalam wilayah RT 01 RW 04, Kampung Babakan Caringin. Bukit tersebut menjadi terkenal karena pada tahun 1957 mengalami longsor sehingga menutupi (mengurug) areal sekitarnya. Peristiwa ini menewaskan seorang tokoh masyarakat yang bernama Haji Hanafi. Untuk mengenang peristiwa mengenaskan tersebut, masyarakat setempat memberi nama pada sisa bukit tersebut dengan “Bukit Urug Hanafi” yang berarti bukit yang menimbun Haji Hanafi. (Sumber: Tokoh Masyarakat Desa Cikangkareng).

Menurut penuturan penduduk di lokasi kejadian, sekitar tiga puluh menit sesudah getaran gempa mereda, tepatnya pada pukul 15.32 wib, Bukit Urug Hanafi seakan terbelah dan melongsorkan jutaan

(28)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

L i n t a s a n G e o l o g i

(29)

meter kubik bebatuan berbagai ukuran. Longsor kering yang tidak diawali oleh hujan tersebut disertai suara gemuruh kuat dan kepulan asap putih yang membumbung tinggi bergerak menuju wilayah pemukiman RT 04 RW 01, Kampung Babakan Caringin. Sebanyak 53 jiwa di dalam 17 rumah tidak dapat menghindari terjangan bebatuan yang mengalir sangat kuat. Dalam sekilat rumah-rumah itu digulung bongkah bebatuan hingga rata dengan tanah. Material longsor sekaligus menimbun jalan menuju Pamoyanan dan menimbun seperempat Rawa Hideung yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut. Hamparan material berupa bebatuan berbagai ukuran diperkirakan sepanjang 250 m, lebar 50 m, dan tinggi 10 m. Sangat disayangkan peristiwa longsor puluhan tahun yang lalu hanya mengabadikan nama seorang tokoh, tetapi belum memberikan pelajaran bagaimana menata lingkungan hidup dengan benar. Peristiwa gempa bumi 2 September 2009 membuktikan bahwa Bukit Urug Hanafi longsor kembali karena digoyang gempa dan kali ini, bukan hanya seorang yang menjadi korban, tetapi puluhan warga yang meninggal karena tertimbun (terurug) bebatuan. Untung tidak dapat

diraih, malang tidak dapat ditolak, peristiwa naas tersebut memang tidak bisa dihindari, tetapi yang harus menjadi pelajaran adalah bahwa bermukim di suatu lembah di bawah suatu bukit yang tidak stabil adalah keputusan yang tidak tepat.n

Penulis adalah Pranata Humas Madya Pusat Survei Geologi

Badan Geologi

(30)

0 W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

L i n t a s a n G e o l o g i

Ditinjau dari Sisi Lingkungan Geologi

T

anggal 2 September 2009, pukul 14.54 WIB terjadi gempa bumi yang

menggoyang sebagian besar Pulau Jawa.

Gempa bumi tersebut berpusat pada lokasi 8,24o

LS – 107,32o BT atau 115 km (Badan Geologi) atau

142 km (BMKG) sebelah barat daya Tasikmalaya

dengan kedalaman 49,5 km (Badan Geologi)

atau 30 km (BMKG) berkekuatan 7,3 pada Skala

Richter. Menurut Badan Geologi, penyebab gempa

tersebut adalah pergerakan sesar aktif yang berada

di bawah dasar laut dengan mekanisme sesar

naik. Gempa tersebut tidak menimbulkan tsunami

karena tidak mempunyai energi yang cukup untuk

meretakkan dasar laut.

Oleh:

Rudy Suhendar, Oki Oktariadi,

Agus Kustaman

Dampak Gempa Tasikmalaya,

2 September 2009

(31)

Sebuah rumah berdinding tembok di Kampung Cikole umumnya runtuh karena tidak memiliki struktur tulang-tulang beton.

Gempa bumi Tasikmalaya tersebut menggoncang dan merusak wilayah selatan dan tengah Pulau Jawa bagian barat, seperti wilayah Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, sebagian Kuningan, dan Cilacap. Sedangkan getarannya dirasakan hingga bagian utara Pulau Jawa. Kerusakan yang terjadi lebih diperparah karena memicu tejadinya gerakan tanah.

Pusat Lingkungan Geologi (PLG) sebagai unit di bawah Badan Geologi yang memiliki fungsi melaksanakan penilaian terhadap terjadinya perubahan fenomena geologi yang terkait dengan faktor lingkungan guna memberikan arahan pengelolaan lingkungan dan penataan ruang, perlu melakukan suatu identifikasi untuk mengetahui hubungan antara kerusakan akibat gempabumi dan lingkungan geologi. Berkaitan dengan itu, pada 4, 5, dan 9 September 2009, PLG mengirimkan tim untuk melakukan peninjauan ke beberapa lokasi yang mengalami kerusakan, yaitu Cikole (Kabupaten Ciamis), Kota Tasikmalaya, Manonjaya, Cigalontang, Cibalong, Cipatujah (Kabupaten Tasikmalaya), Pameungpeuk (Kabupaten Garut), dan Rancabali, Pangalengan (Kabupaten Bandung).

Dalam tulisan ini diuraikan keadaan lingkungan yang diakibatkan oleh kejadian bencana gempa bumi di beberapa lokasi yang didatangi secara terpilih oleh Tim. Uraian menyangkut faktor geologi lingkungan, seperti kondisi topografi, batuan dasar, ketebalan tanah pelapukan dan keberadaan struktur geologi serta terjadinya retakan-retakan pada permukaan tanah. Dari hal tersebut akan terlihat kedepan peranan geologi lingkungan dalam memberikan masukan penataan ruang pemukiman di wilayah perkotaan dan pedesaan.

a.Cikole, Kabupaten Ciamis

Kampung Cikole, masuk dalam wilayah Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis. Secara topografi lokasi yang dilanda kerusakan berupa pedataran yang disusun oleh batuan endapan vulkanik. Tanah pelapukannya diperkirakan berupa pasir lempungan dengan ketebalan > 5 m, tidak ditemukan indikasi struktur geologi disekitar permukaan. Kerusakan fisik sebagian besar adalah bangunan rumah tinggal dan rumah ibadah berupa terlepasnya ikatan struktur bangunan, sehingga runtuhnya dinding bangunan. Bangunan yang memiliki tulang beton hampir tidak terjadi kerusakan. Tidak dijumpai retakan tanah di permukaan sehingga kerusakan terjadi karena getaran gempa yang cukup tinggi.

b.Kota Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya yang terletak di daerah yang hampir datar dengan batuan dasar endapan vulkanik dan aluvial. Tanah pelapukannya berupa pasir lempungan hingga pasir kerikilan dengan ketebalan bervariasi antara 1 hingga > 5 m. Tidak terdapat struktur geologi yang muncul di permukaan.

Kerusakan yang signifikan hanya terlihat satu bangunan yang terletak di Jalan Cihideung yang secara visual berupa bangunan lama, sedangkan sisi kanan dan kiri yang relatif bangunan baru (dikategorikan berstruktur bangunan baik) tetap kokoh. Retakan dan rontok kecil pada pelapis dinding tembok (plesteran) merupakan hal yang umum terlihat.

(32)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

L i n t a s a n G e o l o g i

c.Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya

Manonjaya terletak sekitar 15 km sebelah selatan Kota Tasikmalaya dengan kondisi topografi berupa pedataran yang disusun oleh endapan vulkanik, tidak ditemukan struktur geologi yang muncul di sekitar permukaan.

Kerusakan yang sangat signifikan adalah robohnya balok penyangga serambi mesjid yang mengakibatkan runtuhnya atap bangunan. Bangunan lain hanya retak bagian plesterannya, bahkan kebanyakan masih utuh.

d.Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya

Secara topografi wilayah Kampung Jayapura, Desa Lengkong Jaya, Kecamatan Cigalontang terletak pada daerah perbukitan rendah yang disusun oleh batuan endapan gunungapi muda. Tanah pelapukannya berupa pasir lempungan hingga kerikilan. Daerah ini memiliki banyak lembah dan beberapa kelurusan-kelurusan yang diduga berupa patahan lokal berdimensi kecil.

Kerusakan bangunan baik rumah maupun sarana umum yang diakibatkan oleh kejadian gempa bumi di wilayah Cigalontang ini hampir merata dengan tingkat kerusakan dari berat sampai ringan. Hampir semua bangunan yang berkonstruksi tembok umumnya mengalami kerusakan yang cukup signifikan, terutama yang letaknya sekitar lereng bukit (bagian atas tebing). Sedangkan bangunan yang terbuat dari kayu atau bambu yang berupa rumah panggung betul-betul utuh, tidak terpengaruh oleh gempa bumi.

e.Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya

Cibalong terletak di bagian selatan Kota Tasikmalaya, topografinya berupa perbukitan dan sedikit pedataran bergelombang. Batuan penyusunannya endapan vulkanik dan sedimen, sedangkan ketebalan tanah pelapukannya relatif cukup tebal, terutama di daerah sekitar lembah.

Kerusakan bangunan rumah yang terjadi di Desa Eureun palay, Kecamatan Cibalong, ini umumnya pada bangunan rumah bertembok sederhana tanpa penulangan beton dan berada di sekitar tebing atau lereng.

f.Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya

Topografi wilayah Cipatujah berupa perbukitan dan pedataran pantai yang disusun oleh batuan endapan sedimen, dengan tanah pelapukan yang relatif tipis.

Di daerah pantai tidak terlihat kerusakan bangunan akibat gempa. Bangunan cukup kokoh, terutama fasilitas umum (wisata) pantai. Getaan gempa hanya menjatuhkan atap genting. Tidak dijumpai adanya rekahan-rekahan dipermukaan.

Mesjid Agung Manonjaya yang roboh bagian depannya.

Rumah panggung aman dari gempa di Cigalontang

Salah satu bangunan rumah yang roboh di Cibalong, berdinding tembok sederhana dan berada di sekitar lereng.

(33)

Mesjid Agung di Kota Pameungpeuk tetap kokoh.

g.Pameungpeuk, Kabupaten Garut

Kota Kecamatan Pameungpeuk terletak di bagian selatan Kabupaten Garut. Topografi wilayah ini berupa pedataran bergelombang yang disusun oleh batuan sedimen. Ketebalan tanah pelapukannya relatif tipis dibandingkan dengan daerah di sekitar pedataran pantainya.

Kerusakan bangunan umumnya terjadi retakan dan terlepasnya plesteran tembok dinding dan sebagian besar pada bangunan-bangunan lama. Banyak bangunan kokoh yang masih utuh, seperti mesjid dan beberapa bangunan lainnya.

h.Cikelet, Kabupaten Garut

Wilayah ini berupa pedataran pantai yang disusun oleh endapan aluvial dengan pelapukan cukup tebal, tidak dijumpai strukur geologi yang di permukaan.

Kerusakan bangunan, khususnya rumah penduduk banyak dijumpai di Desa Pamalayan. Hampir seluruh rumah yang terbuat dari tembok mengalami kerusakan yang cukup berat, baik dinding maupun atap rumah yang hancur. Kerusakan di desa ini cukup homogen dibandingkan dengan di tempat lain.

(34)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9 Dinding rumah pemukiman yang roboh di Rancabali.

Dengan struktur bangunan yang sesuai, rumah ini tetap kokoh berdiri.

(35)

Rumah panggung yang telah berusia 90 tahun tetap berdiri kokoh. Kerusakan hanya beberapa plesteran dindingnya yang terkelupas.

i.Rancabali, Kabupaten Bandung

Daerah ini merupakan wilayah Perkebunan Teh Rancabali berupa perbukitan bergelombang yang disusun oleh endapan vulkanik muda dengan tanah pelapukan yang cukup tebal. Banyak dijumpai kelurusan lereng yang diduga sebagai garis atau zona struktur geologi.

Kerusakan bangunan terjadi pada rumah-rumah pemukiman perkebunan teh yang terbuat dari tembok, sedangkan bangunan pemukiman yang terbuat dari kayu tidak mengalami kerusakan.

j.Pangalengan, Kabupaten Bandung

Topografi wilayah Pangalengan berupa perbukitan bergelombang yang disusun oleh endapan vulkanik muda dengan pelapukan yang relatif tebal.

Kerusakkan bangunan yang diakibatkan oleh gempa bumi 2 September 2009 hampir merata terutama yang berada di bagian lereng dan dasar lembah. Kerusakan yang terjadi berupa terlepasnya tahanan dinding bangunan, terutama pada bangunan bertembok sederhana (tanpa tulang beton), bahkan pada bangunan bertulang beton-pun, terutama di yang posisinya berada disekitar lereng atau ujung lereng, juga mengalami kerusakan berat. Beberapa rumah dengan konstruksi yang sesuai dengan kaidah struktur bangunan terlihat kokoh, tidak ada satu retakanpun yang dijumpai pada bagian dindingnya.

Dengan struktur bangunan yang sesuai, rumah ini tetap kokoh berdiri

Rumah panggung yang telah berusia 90 tahun tetap berdiri kokoh. Kerusakan hanya beberapa plesteran dindingnya yang terkelupas.

Kesimpulan dan Saran

Dari peninjauan singkat ini dapat disimpulkan bahwa, secara geologi lingkungan kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa bumi yang melanda bagian selatan dan tengah Pulau Jawa Bagian Barat adalah sebagai berikut :

a.Topografi tempat berdirinya bangunan berpengaruh terhadap tingkat kerusakan b.Adanya kelurusan-kelurusan lembah yang

diduga sebagai penguat getaran

c.Ketebalan tanah pelapukan dan batuan induk dibawahnya berperan dalam kerusakan bangunan di atasnya

d.Kualitas bangunan, terutama di wilayah pedesaan pada umumnya tidak sesuai dengan struktur bangunan yang tahan gempa

e.Pusat Geologi Lingkungan perlu meningkatkan perannya dalam pengarahan tata ruang untuk pembangunan, terutama di daerah pedesaan.n

Para Penulis adalah Penyelidik Bumi Pusat Lingkungan Geologi

(36)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

Louis Agassiz

Ahli Geologi

G e o F a k t a

Jean Louis Rodolphe Agassiz (28 Mei 1807- 14 Desember 1873) adalah seorang paleontologist, glaciologist, dan ahli geologi, dan merupakan pembaru yang menonjol dalam ilmu bumi dan alam. Ia dibesarkan di Swiss dan menjadi profesor sejarah alam di University of Neuchatel. Kemudian, ia menerima sebuah gelar profesor di Harvard University Amerika Serikat.

Louis Agassiz dilahirkan di Môtier (sekarang bagian dari Haut-Vully) di distrik Fribourg, Swiss. Agassiz menyelesaikan studi SD-nya di Lausanne dan menghabiskan empat tahun di sekolah menengah Bienne. Setelah menggeluti profesi sebagai ahli obat, ia kemudian berturut-turut belajar di perguruan tinggi dari Zürich, Heidelberg dan Munich. Khususnya pengetahuan tentang sejarah alam dan botani. Pada tahun 1829 ia menerima gelar Doctor of Philosophy di Erlangen, dan pada tahun 1830 memperoleh Doctor of Medicine di Munich. Pindah ke Paris, ia mendapat bimbingan intensif di bawah pengawasan dari Alexander

von Humboldt dan Georges Cuvier, itulah yang membuat karirnya bergeser untuk menggeluti geologi dan zoology.

Pada tahap awal karirnya di Neuchatel, Agassiz juga membuat dirinya sebagai peneliti yang piawai untuk departemen ilmiah. Dibawah naungannya Universitas Neuchatel segera menjadi lembaga terdepan untuk penyelidikan ilmiah.

Pada periode 1819-1820, von Johann Baptist Spix dan Carl Friedrich Philipp von Martius telah terlibat dalam sebuah ekspedisi ke Brasil, dan mereka kembali ke Eropa, antara lain berhasil mengkoleksi benda alam. Mereka membawa pulang satu set ikan air tawar yang penting dari Sungai Amazon. Spix, yang meninggal pada 1826, tidak hidup cukup lama untuk meneliti sejarah ikan ini, dan Agassiz (yang masih segar karena baru menyelesaikan sekolah) telah dipilih oleh martius untuk tujuan ini. Tugas menjelaskan ikan Amazon telah diselesaikan dan diterbitkan pada 1829.

Jean Louis Rodolphe Agassiz

(37)
(38)

W a r t a G e o l o g i S e p t e m b e r 0 0 9

G e o F a k t a

G e o F a k t a

Kemudian ini diikuti oleh penelitian sejarah ikan danau Neuchatel. Pada 1830 ia mengeluarkan prospektus a History of the Freshwater Fish of Central Europe. Pada 1832 ia ditunjuk sebagai profesor sejarah alam di University of Neuchatel. Ia kemudian tertarik mempelajari lebih mendalam tentang fosil ikan.

Awal 1829, berhasil menerbitkan pekerjaan yang lebih dari yang lain, dan meletakkan dasar yang terkenal di seluruh dunia. Lima volume menghasilkan Recherches sur les poissons fossiles muncul pada interval 1833-1843. Dalam mengumpulkan bahan-bahan untuk pekerjaan ini, Agassiz mengunjungi museum utama di Eropa, dan bertemu Cuvier di Paris, ia menerima banyak dukungan dan bantuannya.

Agassiz menemukan bahwa perlu dibuat klasifikasi palaeontologi berdasar ichthyologi. Terutama terdiri dari gigi, dan skala, bahkan tulang yang relatif sempurna diawetkan dalam beberapa kasus. Karena itu ia mengadopsi klasifikasi ikan yang dibagi menjadi empat grup: Ganoids, Placoids, Cycloids dan Ctenoids, berdasarkan sifat dari skala appendage yg berhubung dgn kulit dan lainnya.

Sebanyak 1290 gambar asli yang dibuat untuk pekerjaannya yang telah dibeli dan disajikan dalam Geological Society of London. Pada 1836 Wollaston Medal telah diberikan kepada Agassiz untuk karyanya pada ilmu pengetahuan dan fosil tentang ikan, dan pada 1838 ia terpilih sebagai anggota kehormatan Royal Society. Pada 1837 ia mengeluarkan “Prodrome” dari monografi baru fosil Echinodermata, dan pada 1839-1840 ia menerbitkan dua quarto volume pada fosil Echinoderms dari Swiss, dan akhirnya ia meluncurkan Etudes sur les kritik mollusques fossiles tahun 1840-1845.

(39)

Karya-karya penting

Recherches sur les poissons fossiles (1833-1843)

History of the Freshwater Fishes of Central

Europe (1839-1842)

Etudes sur les glaciers (1840)

Etudes critiques sur les mollusques fossiles (1840-1845)

Nomenclator Zoologicus (1842-1846)

Monographie des poissons fossiles du Vieux Gres Rouge, ou Systeme Devonien (Old Red Sandstone) des Iles Britanniques et de Russie (1844-1845)

Bibliographia Zoologiae et Geologiae (1848) (with AA Gould ) Principles of Zoology for the use of Schools and Colleges (Boston, 1848) Lake Superior: Its Physical Character, Vegetation and Animals, compared with those of other and similar regions (Boston: Gould, Kendall and Lincoln , 1850)

Geological Sketches (Boston: Ticknor & Fields, 1866)

A Journey in Brazil (1868)

De l’espèce et de la classification en zoologie [Essay on classification] (Trans. Felix Vogeli. Paris: Bailière, 1869) De l’espèce et de la klasifikasi id zoologie

Geological Sketches (Second Series) (Boston: JR Osgood, 1876)

Essay on Classification, by Louis Agassiz (1962, Cambridge)

Numbers, Ronald L., “The Creationists: From Scientific Creationism to Intelligent Design”, 2nd ed., 2006.

Early Classics in Biography, Distribution, and Diversity Studies: to 1950.n

Gambar

Grafik total SO2 versus Waktu setelah letusan. (Sumber Self dkk, 2007)
Grafik perubahan phase gas vulkanik dari bentuk gas-cairan-padat.  (Sumber Prawoto, 2001)

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana dengan ancaman letusan besar gunung api dalam bila terjadi abad ini, mengingat sejak letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 atau lebih dari seratus tahun tidak

Pijar-pijar lava membara mengalir dari tubuh Merapi. Foto: Heru Suparwoko... Ke depan, Merapi dapat saja melakukan erupsi dengan intensitas yang besar, yaitu bertipe vulkan ian atau

Fenomena geologi yang terjadi jutaan tahun yang lalu peristiwa tersebut memberikan informasi di seputar telah memberikan kepada kita sejumlah potensi untuk geologi dan

Itulah salah satu yang mengemuka dalam rapat kerja Badan Geologi (BG) dengan topik Undang-Undang (UU) terkait bidang geologi baru-baru ini. Dalam diskusi yang

Berdasarkan pola pikir di atas, maka wajar apabila fungsi yang dis- elenggarakan dalam melaksanan tugas Badan Geologi sebagaimana diatur dalam peraturan terkait- meli- puti

Upaya Purbo yang sangat tekun mengumpulkan lema dan peristilahan Geologi dalam bahasa Indonesia, atau mencari padanannya dari bahasa Melayu atau bahasa Nusantara lainnya, sejak

Seperti halnya waktu gempa Aceh tahun 2004, gempa tahun 2005 inipun mengangkat sebagian wilayah, terutama bagian barat Pulau Nias yang terangkat sampai 3 m, termasuk

Ruth Dresen, tinggal di Bonn, Jerman, sedang kuliah di Fachhochschule Köln (Sekolah Tinggi Köln), Jurusan Environmental Engineering dengan spesialisasi di bidang