2.1.5 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.1.5.1 Fokus Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi
2.1.5 2.1.5
2.1.5 Aspek Kesejahteraan MasyarakatAspek Kesejahteraan MasyarakatAspek Kesejahteraan MasyarakatAspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.5.1
2.1.5.1 2.1.5.1
2.1.5.1 Fokus Kesejahteraan Dan Pemerataan EkonomiFokus Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi Fokus Kesejahteraan Dan Pemerataan EkonomiFokus Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi
Indikator yang dapat menggambarkan kesejahteraan ekonomi diantaranya adalah jumlah penduduk miskin dan pendapatan perkapita. Jumlah Penduduk Miskin menggambarkan jumlah penduduk yang memiliki penghasilan di bawah garis kemiskinan. Sementara itu Pendekatan Perkapita merupakan besarnya pendapatan rataArata penduduk. Semakin tinggi nilai pendekatan perkapita, dapat dikatakan semakin makmur penduduk wilayah tersebut. Namun demikian indikatorAindikator tersebut perlu dikonfirmasi dengan penilaian sejauh mana kegiatan perekonomian daerah dinikmati secara merata oleh seluruh penduduk. Untuk melihat
~ 48 ~
perkembangan pemerataan pembangunan digunakan indikator ketimpangan pendapatan antar penduduk dan ketimpangan antar wilayah. a.
a. a.
a. Penduduk MiskinPenduduk MiskinPenduduk MiskinPenduduk Miskin
Garis kemiskinan menggambarkan batas minimum pengeluaran per kapita per bulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan non makanan yang memisahkan seseorang tergolong miskin atau tidak. Garis kemiskinan DIY selama periode 2009A2014 mengalami peningkatan. Pada September 2013 garis kemiskinan DIY tercatat sebesar 303.843 rupiah per kapita per bulan. Sementara kondisi bulan September tahun 2014, tercatat garis kemiskinan meningkatn menjadi 321.056 rupiah per kapita per bulan. Kenaikan tersebut dimungkinkan karena terjadinya inflasi. Jumlah penduduk miskin DIY pada periode 2009 hingga 2014 cenderung mengalami penurunan dari 585,78 ribu orang pada Maret 2009 menjadi 532,59 ribu orang pada September 2014,
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....142141414 Jumlah Penduduk Miskin daJumlah Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan Tahun Jumlah Penduduk Miskin daJumlah Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan Tahun n Garis Kemiskinan Tahun n Garis Kemiskinan Tahun 2009 20092009 2009AAAA201320132013 2013 ! "#$ %#%&'# ('& $ ( $)" # %''&$ (*&#$ (( %'"! ! %*)& $ (*& # ( * "('$ %*%&$ (*& % ( ' "(( %* &(( (%&## ($ #$")%) %% &(! (%&)$ ($ $ $"#)$ %$%&(# (%& $ () $($")% %))&#' (%& () $ (" %* %$ &%! ()&%%
Sumber: Susenas Maret 2009 – September 2014
Jika dilihat dari presentase penduduk miskin terhadap total penduduk DIY, tingkat kemiskinan DIY cenderung mengalami penurunan. Tingkat kemiskinan DIY tercatat sebesar 14,55% pada periode September 2014. Meskipun tingkat kemiskinan DIY cenderung mengalami penurunan tetapi secara nasional masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah DIY terus berupaya untuk mengatasi masalah kemiskinan
~ 49 ~ Sumber: Susenas Maret 2009 – September 2014
Gambar Gambar Gambar
Gambar 2222....141414 Persentase Jumlah Penduduk 14 Persentase Jumlah Penduduk Persentase Jumlah Penduduk Miskin DIY, 2009Persentase Jumlah Penduduk Miskin DIY, 2009Miskin DIY, 2009Miskin DIY, 2009AAAA201420142014 2014
Dilihat dari sebarannya, Tingkat kemiskinan di daerah perkotaan lebih kecil daripada di perdesaan. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2014 sebesar 13,36 persen mengalami penurunan 0,37 poin jika dibandingkan dengan keadaan September 2013 yang besarnya mencapai 13,73 persen. Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2014 sebesar 16,88 persen, mengalami penurunan 0,74 poin jika dibandingkan dengan keadaan September 2013 yang mencapai 17,62 persen. Meskipun tingkat penduduk miskin di perkotaan lebih kecil, dilihat dari jumlahnya, penduduk miskin di perkotaan lebih besar daripada di pedesaan. Hal ini dimungkinkan karena meningkatnya arus urbanisasai dari pedesaan ke perkotaan yang menyebabkan jumlah penduduk di kota meningkat pesat.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 2222....151515 15 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Tipe Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Tipe Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Tipe Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Tipe Daerah, September 2012
Daerah, September 2012Daerah, September 2012
Daerah, September 2012AAAA2014201420142014
Periode Perkotaan Pedesaan Penduduk Miskin (ribu orang) Presentase Penduduk Miskin(%) Penduduk Miskin (ribu orang) Presentase Penduduk Miskin(%) MarA09 311,47 14,25 274,31 22,60 MarA10 308,36 13,98 268,94 21,95 MarA11 304,34 13,16 256,55 21,82 MarA12 305,89 13,13 259,44 21,76 SepA12 306,50 13,1 255,60 21,29 MarA13 315,47 13,43 234,73 19,29 SepA13 325,53 13,73 209,66 17,62
~ 50 ~ Periode Perkotaan Pedesaan Penduduk Miskin (ribu orang) Presentase Penduduk Miskin(%) Penduduk Miskin (ribu orang) Presentase Penduduk Miskin(%) MarA14 333,03 13,81 211,84 17,36 SepA14 324,43 13,36 208,15 16,88
Sumber: Susenas September 2012, Maret 2013, dan September 2014
Dilihat dari kontribusinya, lima komoditas makanan yang memberikan kontribusi terbesar pada garis kemiskinan makanan di perkotaan maupun di perdesaan yaitu beras, rokok kretek filter, dan daging ayam ras. Dengan beras masih menjadi kontribusi tertinggi dalam garis kemiskinan, programA program terkait operasi pasar beras maupun beras untuk masyarakat miskin masih perlu dilanjutkan dengan memperhatikan ketepatan sasaran penerima. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah pengeluaran untuk rokok kretek filter yang masih menempati urutan atas. UpayaAupaya promosi kesehatan untuk masyarakat perihal bahaya rokok harus terus diupayakan.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....162161616 Lima Kontribusi Terbesar Garis Kemiskinan Menurut Tipe Lima Kontribusi Terbesar Garis Kemiskinan Menurut Tipe Lima Kontribusi Terbesar Garis Kemiskinan Menurut Tipe Lima Kontribusi Terbesar Garis Kemiskinan Menurut Tipe Daerah September 2014
Daerah September 2014Daerah September 2014 Daerah September 2014
Jenis Komoditi Perkotaan Jenis Komoditi Perdesaan
Makanan
Beras 29,33 Beras 40,2
Rokok kretek filter 8,3 Rokok kretek filter 4,46
Daging ayam ras 7,32 Daging ayam ras 4,25
Telur ayam ras 5,74 Gula pasir 4,07
Tempe 4,61 Mie instan 3,94
Non Makanan
Perumahan 24,96 Perumahan 18,66
Bensin 13,27 Bensin 11,02
Pendidikan 10,52 Kesehatan 7,69
Listrik 7,01 Pakaian jadi anakAanak 7,18
Pakaian jadi anakAanak 5,11 Listrik 6,44
Sumber: Susenas September 2014
Persoalan kemiskinan bukan hanya berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman (poverty gap index) dan tingkat keparahan (poverty severity index) dari kemiskinan. Artinya, selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan berkaitan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan tingkat keparahan kemiskinan itu. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
~ 51 ~
pada periode September 2014 mengalami peningkatan. Kenaikan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rataArata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauh garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin juga semakin melebar.
Sumber: Susenas Maret 2009 – September 2014
Gambar Gambar Gambar
Gambar 2222....151515 Indeks Keparahan Kemiskinan DIY, 200915 Indeks Keparahan Kemiskinan DIY, 2009Indeks Keparahan Kemiskinan DIY, 2009AAAA2014Indeks Keparahan Kemiskinan DIY, 2009 201420142014 b.
b. b.
b. Pendapatan PerkapitaPendapatan PerkapitaPendapatan PerkapitaPendapatan Perkapita
Kinerja perekonomian DIY selama kurun waktu 2009A2013 menunjukan peningkatan dengan diindikasi oleh selalu meningkatnya nilai nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 nilai PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp41,41 triliun dan pada tahun 2013 sudah mencapai Rp63,69 triliun. Ini berarti pula bahwa secara nominal PDRB meningkat sebesar Rp22,28 triliun selama lima tahun.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 2222....171717 17 Perkembangan PDRB DIY Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp)Perkembangan PDRB DIY Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp) Perkembangan PDRB DIY Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp)Perkembangan PDRB DIY Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp)
Sektor 2009 2010 2011 2012*) 2013**) 1. Pertanian 6.366.771 6.644.695 7.373.852 8.355.326 8.861.281 2. Pertambangan dan Penggalian 293.983 304.660 361.793 379.951 416.531 3. Industri Pengolahan 5.528.856 6.396.639 7.434.020 7.609.337 8.771.188
4. Listrik, Gas dan Air Bersih
560.316 607.072 675.912 727.574 796.704
5. Konstruksi 4.431.411 4.833.423 5.580.599 6.186.322 6.908.381 6. Perdagangan, 8.165.613 9.008.181 10.246.578 11.457.201 13.152.524
~ 52 ~ Sektor 2009 2010 2011 2012*) 2013**) Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 3.809.094 4.119.970 4.572.928 4.903.522 5.400.530 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan
4.090.675 4.552.667 5.158.229 5.876.203 6.543.153
9. JasaAjasa 8.160.329 9.158.283 10.381.238 11.536.320 12.840.026 41.407.049 41.407.049 41.407.049 45.625.589 41.407.049 45.625.589 45.625.589 51.785.150 45.625.589 51.785.150 57.031.755 51.785.150 51.785.150 57.031.755 57.031.755 63.690.318 57.031.755 63.690.318 63.690.318 63.690.318
Jika dilihat atas dasar harga konstan 2000, nilai PDRB tahun 2009 sebesar Rp20,06 triliun kemudian meningkat menjadi Rp24,57 triliun pada tahun 2013. Peningkatan nilai PDRB terjadi di semua sektor. Dengan demikian, secara riil PDRB naik sekitar 4,5 triliun rupiah, dan rataArata pertumbuhan ekonomi DIY selama periode 2009A2013 mencapai 5,19 persen per tahun.
Sumber: BPS DIY
Gambar Gambar Gambar
Gambar 222....162161616 Pertumbuhan PDRB DIY, Tahun 2009Pertumbuhan PDRB DIY, Tahun 2009Pertumbuhan PDRB DIY, Tahun 2009Pertumbuhan PDRB DIY, Tahun 2009AAAA201320132013 2013
PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi antara nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh sektor ekonomi di suatu daerah (PDRB) dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Oleh karena itu, besar kecilnya jumlah penduduk berpengaruh terhadap nilai PDRB per kapita. Di sisi lain
~ 53 ~
besar kecilnya nilai PDRB sangat tergantung pada potensi sumber daya alam dan faktorAfaktor produksi yang terdapat di daerah tersebut.
Peningkatan secara nyata nilai PDRB per kapita DIY atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun terus dirasakan hingga tahun 2013. Selama periode tahun 2009A2013 PDRB per kapita atas dasar harga berlaku naik sebesar 46,62 persen. Nilai PDRB per kapita tahun 2009 tercatat sebesar Rp12,08 juta, kemudian terus meningkat hingga mencapai Rp17,72 juta di tahun 2013.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 2222....181818 18 Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku (%) Uraian Uraian Uraian Uraian 2009200920092009 2010201020102010 2011 201120112011 20122012 20122012 2013**)2013**)2013**)2013**) PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (juta rupiah) 41.407.049 45.625.589 51.785.150 57.034.383 63.690.318 Penduduk pertengahan tahun (orang) 3.426.637 3.457.769 3.487.325 3.514.762 3.594.854 PDRB per kapita adh. Berlaku: (rupiah) 12.083.874 13.195.095 14.849.534 16.227.097 17.717.081 Pertumbuhan PDRB per kapita adh. berlaku (%) 7,61 9,2 12,54 9,28 9,18
Sumber: BPS DIY, Tahun 2014
Sementara untuk kenaikan PDRB per kapita secara riil dapat dilihat dari nilai PDRB berdasarkan harga konstan 2000. Nilai riil PDRB per kapita terus mengalami kenaikan dari sebesar Rp5,86 juta tahun 2009 menjadi Rp6,83 juta di tahun 2013, atau terjadi kenaikan sebesar 16,71 persen. Yang perlu menjadi perhatian adalah menurunnya laju pertumbuhan PDRB per kapita pada tahun 2013. Pada tahun 2013 pertumbuhan PDRB perkapita hanya mencapai sebesar 3.05 dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 4.50 persen. PDRB perkapita sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan PDRB dan besaran jumlah penduduk. Dengan demikian selain upayaAupaya peningkatan aktivitas perekonomian daerah, upaya pengendalian jumlah penduduk tetap diperlukan.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 2222....191919 19 Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Konstan (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Konstan (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Konstan (%)Pertumbuhan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Konstan (%)
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013**)
PDRB adh. konstan 2000 (juta rupiah)
~ 54 ~ Uraian 2009 2010 2011 2012 2013**) Penduduk pertengahan tahun (orang)1) 3.426.637 3.457.769 3.487.325 3.514.762 3.594.854 PDRB per kapita adh. konstan 2000 (rupiah) 5.855.379 6.086.017 6.346.347 6.631.806 6.834.068 Pertumbuhan PDRB per kapita adh. konstan (%)
3,41 3,94 4,28 4,50 3,05
Sumber: BPS DIY, Tahun 2014
c. c.c.
c. Indeks Ketimpangan Pendapatan dan Ketimpangan RegionalIndeks Ketimpangan Pendapatan dan Ketimpangan RegionalIndeks Ketimpangan Pendapatan dan Ketimpangan RegionalIndeks Ketimpangan Pendapatan dan Ketimpangan Regional
Terdapat berbagai kriteria atau tolok ukur untuk menilai kemerataan distribusi pendapatan di antaranya digunakan Rasio Gini dan Kriteria Bank Dunia yang paling lazim digunakan. Perkembangan rasio gini DIY tahun 2013 masih tinggi yaitu 0,416 meskipun relatif menurun dibandingkan Rasio Gini 2013 yang mencapai 0,428. Perkembangan Rasio Gini periode 2009A2013 masih cenderung meningkat, oleh karenanya masih perlu terobosan kebijakan untuk lebih meningkatkan pendapatan masyarakat golongan bawah untuk mengurangi kesenjangan dengan pendapatan masyarakat golongan atas.
Sumber: BPS DIY
Gambar Gambar Gambar
~ 55 ~
Ketimpangan antar region yang diindikasikan oleh Indeks Williamson pada periode 2000A2013 menunjukkan kecenderungan peningkatan, yaitu dari 0,38 pada tahun 2000 menjadi 0,47 pada tahun 2013. Peningkatan ini menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan perekonomian antar region (kabupaten/kota) di wilayah DIY semakin memprihatinkan. Dengan demikian pembangunan jangka menengah ataupun jangka panjang ke depan lebih diarahkan untuk pemerataan ekonomi antar kabupaten/kota. Perlu adanya kebijakan afirmatif untuk mendorong program pembangunan di arahkan ke daerahAdaerah yang tertinggal.
Sumber: BPS DIY
Gambar Gambar Gambar
Gambar 2222....181818 Indeks Williamson DIY Tahun 20018 Indeks Williamson DIY Tahun 200Indeks Williamson DIY Tahun 200AAAA2013Indeks Williamson DIY Tahun 200 20132013 2013
Tabel nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku per kabupaten/kota memperlihatkan perbandingan nilai nominal PDRB antar waktu dan antar daerah. Sebagai penyanggah utama perkembangan Kota Yogyakarta, ternyata Kabupaten Sleman menghasilkan nilai PDRB terbesar secara relatif dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. Sementara nilai PDRB terkecil ada di Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul. Perbedaan nilai PDRB antar kabupaten/kota sangat tergantung pada sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki serta ditunjang dengan teknologi yang tersedia. Kabupaten Gunungkidul dengan luas wilayah hampir setengah wilayah DIY, ternyata sampai dengan tahun 2013 hanya menempati urutan keempat dalam hal besaran nilai PDRB yang dihasilkan. Hal ini disebabkan perekonomian Kabupaten Gunungkidul masih ditopang oleh
~ 56 ~
sektor pertanian dengan kondisi sebagian besar lahan pertanian pegunungan berbatu sehingga cara penanaman dan produktivitas komoditas pertaniannya juga tidak seperti di lahan pertanian subur. Sementara itu, Kota Yogyakarta dengan luas wilayah terkecil tetapi mampu mencapai nilai PDRB yang lebih besar.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....202202020 Perkembangan PDRB Kabupaten/Kota Tahun 2009Perkembangan PDRB Kabupaten/Kota Tahun 2009AAAA2013Perkembangan PDRB Kabupaten/Kota Tahun 2009Perkembangan PDRB Kabupaten/Kota Tahun 2009 201320132013
Kabupaten/ Kota 2009 2010 2011 2012 2013**) Kulonprogo 3.286.278 3.547.056 3.867.136 4.196.448 4.641.905 Bantul 8.147.860 9.076.401 10.097.345 11.242.151 12.729.840 Gunungkidul 5.987.783 6.624.572 7.250.682 7.962.605 8.893.405 Sleman 12.503.760 13.611.725 15.097.600 16.696.582 19.105.499 Kota Yogyakarta 10.607.237 11.777.579 12.962.435 14.327.563 15.981.933 D I Y 41.407.049 45.625.589 51.785.150 57.037.833 63.690.318 Sumber: BPS DIY
Gambaran kesenjangan antardaerah antara lain dapat dilihat dengan membandingkan nilai PDRB per kapita antarkabupaten/kota di DIY. Kota Yogyakarta selama lima tahun terakhir menjadi wilayah dengan nilai PDRB per kapita tertinggi. Selama tahun 2013, secara nominal rataArata pendapatan penduduk Kota Yogyakarta mencapai Rp40,47 juta, dibanding dengan yang diterima oleh penduduk Kabupaten Kulon Progo lebih dari 3,4 kali lipat. Bahkan jika dibanding dengan pendapatan yang diterima oleh penduduk Kabupaten Sleman juga masih di atas 2,4 kali lipat, meskipun Kabupaten Sleman memiliki nilai nominal PDRB tertinggi di DIY
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....212212121 Perkembangan PDRBPerkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota Tahun Perkembangan PDRBPerkembangan PDRBPer Kapita Kabupaten/Kota Tahun Per Kapita Kabupaten/Kota Tahun Per Kapita Kabupaten/Kota Tahun 2009 20092009 2009AAAA2013201320132013 Kabupaten/ Kota 2009 2010 2011 2012 2013**) (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kulonprogo 8.480.872 9.120.975 9.910.472 10.671.984 11.770.582 Bantul 9.060.104 9.956.746 10.960.3317 12.114.961 13.564.996 Gunungkidul 8.864.564 9.807.962 10.694.252 11.628.655 12.980.950 Sleman 11.634.944 12.451.096 13.634.545 14.976.756 16.920.504 Yogyakarta 27.220.030 30.303.585 33.189.951 36.363.267 40.472.989 D I Y 12.083.874 13.195.095 14.849.534 16.227.097 17.981.852 Sumber: BPS DIY d. d. d.
d. Laju Inflasi Laju Inflasi Laju Inflasi Laju Inflasi
Inflasi merupakan indikator yang menunjukan kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa. Dengan demikian tingginya inflasi memberikan dampak pada daya beli masyarakat atas barang dan jasa terutama barang kebutuhan pokok yang pada akhirnya berdampak lansung terhadap
~ 57 ~
kesejahteraan masyarakat. Perhitungan laju inflasi DIY diwakili oleh inflasi Kota Yogyakarta sebagai pusat kegiatan perdagangan barang dan jasa.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 2222....222222 22 Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Yogyakarta Tahun Yogyakarta Tahun Yogyakarta Tahun Yogyakarta Tahun 2011
2011 2011
2011AAAA201420142014 2014
Bulan Inflasi Bulanan
2011 2012 2013 2014
Jan 0,84 0,25 0,96 1,05
Feb 0,1 0,1 0,93 0,07
Mar 0,21 0,36 0,79 0,14
Apr A0,28 0,11 A0,3 0,07
Mei 0,13 0,05 A0,29 0,05 Jun 0,26 0,75 0,84 0,43 Jul 0,9 0,76 2,58 0,85 Agt 0,63 0,42 0,87 0,09 Sep 0,19 0,19 A0,24 0,49 Okt 0,04 0,38 0,61 0,28 Nov 0,33 0,2 0,2 1,13 Des 0,48 0,66 0,17 1,76 Inflasi Tahunan 3,88 4,31 7,32 6,59 Sumber: BPS DIY
Inflasi dapat disebabkan baik dari sisi permintaan (demand side) di mana terjadi peningkatan total agregat permintaan maupun dari sisi suplai (supply side) yang biasanya diakibatkan oleh kelangkaan barang atau kenaikan biaya produksi. Pola inflasi bulanan di Kota Yogyakarta seperti yang ditunjukan oleh Tabel XX selama tahun 2011A2014 biasanya mengalami angka tertinggi pada masa hari raya lebaran, liburan tengah tahun dan liburan akhir tahun. Selain itu, inflasi di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh faktor seperti cuaca ekstrem, yang akan menyebabkan gangguan pasokan pada beberapa komoditas sehingga akan terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan barang yang kemudian akan memicu kenaikan harga dan mendorong terjadinya inflasi. Diluar trend musiman tersebut, kenaikan harga BBM memberikan dampak pada meningkatnya inflasi tahun 2014. Seperti yang ditunjukan dalam tabel xx inflasi bulanan mencapai lebih dari satu digit paska pengumuman kenaikan harga BBM pada bulan Oktober tahun 2014. Dampak kenaikan harga tersebut masih diperkirakan memberikan andil terhadap tingkat inflasi pada awal tahun 2015.
~ 58 ~ Sumber: BPS DIY, 2015
Gambar Gambar Gambar
Gambar 222....1921919 Perkembangan Inflasi Tahunan Kota Yogyakarta dan 19 Perkembangan Inflasi Tahunan Kota Yogyakarta dan Perkembangan Inflasi Tahunan Kota Yogyakarta dan Perkembangan Inflasi Tahunan Kota Yogyakarta dan Nasional
NasionalNasional Nasional
Jika melihat pola inflasi tahunan selama tahun 2008A2014, inflasi Kota Yogyakarta menunjukkan perkembangan yang fluktuatif. Pola inflasi kota Yogyakarta dapat dipertahankan lebih rendah dari inflasi nasional sjak tahun 2012.
Sementara itu jika dilihat dari kelompok pengeluaran, bahan makanan masih memberikan andil tertinggi terhadap tingginya inflasi sejak tahun 2008 hingga 2014. Pada tahun 2014 laju inflasi tahunan kelompok bahan makanan mencapai angka 7,70%. Sedangkan kelompok Transportasi dan Komunikasi serta Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar mengalami laju inflasi tahunan tertinggi pada tahun 2014 dikarenakan adanya kebijakan kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik maupun gas LPG.
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....232232323 PerPerkembangan Inflasi Bulanan Kota Yogyakarta Menurut PerPerkembangan Inflasi Bulanan Kota Yogyakarta Menurut kembangan Inflasi Bulanan Kota Yogyakarta Menurut kembangan Inflasi Bulanan Kota Yogyakarta Menurut Kelompok Pengeluaran Tahun 2008
Kelompok Pengeluaran Tahun 2008Kelompok Pengeluaran Tahun 2008
Kelompok Pengeluaran Tahun 2008AAAA2014201420142014
No Kelompok Pengeluaran Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 1 1 1 Bahan Makanan 14,87 3,91 18,86 1,82 8,10 12,31 7,70 2 2 2 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 9,40 7,50 5,47 7,07 6,90 8,15 2,95 3 3 3 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 13,60 1,40 5,49 3,01 2,99 5,18 8,92 11,06 2,78 6,96 3,79 4,3 8,38 8,36 9,88 3,6 7,38 3,88 4,31 7,32 6,59 0 2 4 6 8 10 12 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Nasional DIY
~ 59 ~ No Kelompok Pengeluaran Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 4 44 4 Sandang 8,36 5,81 5,41 9,40 3,56 0 3,61 5 55 5 Kesehatan 8,23 1,86 1,97 5,64 1,93 3,08 5,49 6 66 6 Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga
5,77 2,26 4,25 1,73 1,43 3,17 2,37 7 77 7 Transportasi & komunikasi 2,97 (1,23) 5,57 2,40 1,30 10,45 9,36 Inflasi Kota Yogyakarta 9,88 2,93 7,38 3,88 4,31 7,32 6,59 Sumber: BPS DIY, 2015 2.1.5.2 2.1.5.2 2.1.5.2
2.1.5.2 Fokus Kesejahteraan SosialFokus Kesejahteraan SosialFokus Kesejahteraan SosialFokus Kesejahteraan Sosial
Pembangunan kesejahteraan sosial DIY terkait dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan kesejahteraan masyarakat yang tercermin dari beberapa indikator pada angka melek huruf, angka rataArata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni, angka kelulusan, angka kematian bayi, angka usia harapan hidup, dan rasio penduduk yang bekerja.
a. a. a.
a. Angka Melek HurufAngka Melek HurufAngka Melek HurufAngka Melek Huruf
Spesifik pada elemen pengetahuan, tingkat melek huruf menjadi indikator kunci dasar. Selain menjadi gambaran kasar terhadap akses pendidikan, indikator angka melek huruf juga menjadi dasar bagi seseorang dalam meningkatkan kualitas hidupnya terkait pengembangan pembelajaran berkelanjutan dalam hal mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi, serta penggalian potensi.
Angka melek huruf DIY selama kurun waktu 2010A2013 selalu mengalami peningkatan. Tahun 2010 capaian angka melek huruf DIY tercatat sebesar 90,84% kemudian berturutAturut meningkat menjadi 91,49% di tahun 2011, 92,02% di tahun 2012, dan 92,86% di tahun 2013. Berikut adalah perkembangan Angka Melek juruf DIY Tahun 2009A2013:
~ 60 ~
Sumber : BPS Provinsi DIY, 2014
Gambar Gambar Gambar
Gambar 222....202202020 Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Tahun 2010Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Tahun 2010Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Tahun 2010Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Tahun 2010AAAA201320132013 2013 Apabila dilihat data per kabupaten/kota, capaian angka melek huruf tahun 2013 tertinggi adalah Kota Yogyakarta sebesar 98,43% sedangkan capaian terendah adalah Kabupaten Gunungkidul sebesar 85,32%. Capaian Angka Melek Huruf DIY tahun 2010A2012 menurut kabupaten/kota di DIY dilihat dalam tabel berikut :
Tabel Tabel Tabel
Tabel 222....242242424 Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Menurut Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Menurut Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Menurut Perkembangan Angka Melek Huruf DIY Menurut Kabupaten/Kota Tahun 20
Kabupaten/Kota Tahun 20 Kabupaten/Kota Tahun 20
Kabupaten/Kota Tahun 2010101010AAAA2013201320132013
Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota 20102010 20102010 2011 201120112011 20122012 20122012 2013201320132013
Kota Yogyakarta Kota YogyakartaKota Yogyakarta
Kota Yogyakarta 98,03 98,07 98,1 98,43
Kabupaten Bantul Kabupaten BantulKabupaten Bantul
Kabupaten Bantul 91,03 91,23 92,19 92,81
Kabupaten Kulon Progo Kabupaten Kulon ProgoKabupaten Kulon Progo
Kabupaten Kulon Progo 90,69 92 92,04 93,13
Kabupaten Gunungkidul Kabupaten GunungkidulKabupaten Gunungkidul
Kabupaten Gunungkidul 84,66 84,94 84,97 85,22
Kabupaten Sleman Kabupaten SlemanKabupaten Sleman
Kabupaten Sleman 92,61 93,44 94,53 95,11
DIY DIYDIY
DIY 90,84 91,49 92,02 92,86
Sumber : BPS Provinsi DIY, 2014
b. b. b.
b. Angka RataAngka RataAngka RataAngka RataAAAARata Lama SekolahRata Lama SekolahRata Lama Sekolah Rata Lama Sekolah
Angka rataArata lama sekolah adalah rataArata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani dari masuk sekolah dasar sampai dengan tingkat pendidikan terakhir.
~ 61 ~
Berdasarkan rataArata lama sekolah penduduk di DIY, selama 2010A2012 terjadi peningkatan kualitas pendidikan yaitu dari 9,07 di tahun 2010 menjadi 9,33 di tahun 2013). Peningkatan rataArata lama sekolah di DIY ini dapat dimaknai bahwa penduduk DIY semakin sadar akan pentingnya pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Berikut adalah perkembangan Angka RataARata Lama Sekolah DIY tahun 2010A2013
Sumber : BPS Provinsi DIY, 2014, *: Angka sementara
Gambar Gambar Gambar
Gambar 2222....212121 Perkembangan Rata21 Perkembangan RataPerkembangan RataAAAArata Lama Sekolah (Tahun) 2010Perkembangan Rata rata Lama Sekolah (Tahun) 2010rata Lama Sekolah (Tahun) 2010rata Lama Sekolah (Tahun) 2010AAAA2013201320132013 Apabila dilihat data per kabupaten/kota, capaian rataArata lama sekolah tahun 2013 tertinggi adalah Kota Yogyakarta sebesar 11,56 tahun sedangkan capaian terendah adalah Kabupaten Gunungkidul sebesar 7,70 tahun. Adanya disparitas yang cukup tinggi antar kabupaten/kota di DIY merupakan tantangan bagi Pemda DIY dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan akses pendidikan di DIY. Capaian rataArata lama sekolahDIY tahun 2010A2013 menurut kabupaten/kota di DIY dilihat dalam tabel berikut :
~ 62 ~ Tabel
Tabel Tabel
Tabel 222....252252525 Perkembangan RataPerkembangan RataAAAArata Lama Sekolah DIY Menurut Perkembangan RataPerkembangan Rata rata Lama Sekolah DIY Menurut rata Lama Sekolah DIY Menurut rata Lama Sekolah DIY Menurut Kabupaten/Kota, Tahun
Kabupaten/Kota, Tahun Kabupaten/Kota, Tahun
Kabupaten/Kota, Tahun 2010201020102010AAAA2013201320132013
Kabupaten/Kota 2010 2011 2012 2013
Kota Yogyakarta 11,48 11,52 11,56 11,56
Kabupaten Bantul 8,82 8,92 8,95 9,02
Kabupaten Kulon Progo 8,2 8,37 8,37 8,37
Kabupaten Gunungkidul 7,65 7,7 7,7 7,79
Kabupaten Sleman 10,3 10,51 10,52 10,55
DIY 9,07 9,2 9,21 9,33
Sumber : BPS Provinsi DIY, 2013
c. c. c.
c. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK)
APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA sederajat dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun (7A12 untuk SD sederajat, 13A15 untuk SLTP sederajat dan 16A18 untuk SLTA sederajat), berapapun usianya yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masingAmasing jenjang pendidikan. Capaian APK DIY tahun 2009/2010 – 2012/2013 dapat dilihat dari tabel berikut :
~ 63 ~ Tabel
Tabel Tabel
Tabel 222....262262626 Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) DIY Menurut Kabupaten/Kota Periode Tahun Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) DIY Menurut Kabupaten/Kota Periode Tahun Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) DIY Menurut Kabupaten/Kota Periode Tahun Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) DIY Menurut Kabupaten/Kota Periode Tahun 2009/2010
2009/20102009/2010
2009/2010AAAA2012/20132012/20132012/2013 2012/2013
Kab/Kota
Angka Partisipasi Kasar
2009/2010 2010/2011 2011/2012 2012/2013 L P RataA rata L P RataA rata L P RataA rata L p RataA rata APK Tingkat SD APK Tingkat SD APK Tingkat SD APK Tingkat SD Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta 150,12 131,06 140,25 149,32 129,88 139,29 148,87 129,09 138,63 141,59 138,60 140,13 Kabupaten Bantul Kabupaten Bantul Kabupaten Bantul Kabupaten Bantul 112,74 96,62 104,39 113,61 96,52 104,76 114,05 97,14 105,29 108,46 103,21 105,90 Kabupaten Kulon Kabupaten Kulon Kabupaten Kulon Kabupaten Kulon Progo Progo Progo Progo 109,52 103,67 106,64 109,55 104,20 106,92 109,22 103,87 106,58 108,01 103,62 105,87 Kabupaten Kabupaten Kabupaten Kabupaten Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul 106,38 95,23 100,75 106,10 94,68 100,33 105,77 94,36 100,01 105,67 94,04 99,80 Kabupaten Sleman Kabupaten Sleman Kabupaten Sleman Kabupaten Sleman 142,58 96,98 116,43 117,70 115,22 116,50 118,58 114,37 116,53 119,63 114,93 117,34 DIY DIY DIY DIY 122,74122,74 101,30122,74122,74 101,30101,30101,30 111,44111,44 116,78111,44111,44 116,78116,78116,78 106,19106,19106,19106,19 111,46111,46 116,97111,46111,46 116,97116,97116,97 105,95105,95105,95 111,43105,95 111,43 114,89111,43111,43 114,89114,89114,89 108,56108,56108,56108,56 111,78111,78111,78 111,78 APK Tingkat SMP APK Tingkat SMP APK Tingkat SMP APK Tingkat SMP Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta 142,45 131,65 136,93 136,90 125,35 131,00 147,01 135,77 141,25 148,73 148,82 148,78