PENYAJIAN MAENA DALAM KONTEKS PESTA ADAT PERKAWINAN MASYARKAT NIAS DI KOTA MEDAN
3.6 Jenjang Pelaksanaan Pesta Perkawinan
3.6.13 Folau Bawi (Upacara Membawa Babi Bawi Walöwa )
Upacara membawa babi adat (bawi walöwa) ini dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut yaitu (1) Fesu ( tali pengikat ) kaki dan alogo ditali dulu yang terdiri dari bahan ono gahalu ( kulit kayu), (2) seluruh warga desa sese berkumpul dirumah sese baik saawa , tokoh adapt dan ono matua dipilih untuk membawa babi adat tersebut, (3) sebelum berangkat maka oleh tokoh adat, salawa mendoakan pada arwah leluhur agar memberkati babi tersebut dan menjauhkan segal mara bahaya di jalan dan selamat sampai di desa barasi.
3.6.14 Falöwa (Pesta Perkawinan).
Setelah pada malamnya acara falau bawi böwö terselenggarakan maka besoknya adalah hari pesta kawin ( falöwa ). Oleh pihak sese ( laki-laki ) mempersiapkan segala keperluan untuk datang ke pesta kawin antara lain yang dipersiapkan ialah, (1) segala keperuan pakaian dan peralatan sese (laki-laki) atau mempelai, (2) uang emas untuk pelunasn utang pada jujuran, (3) alat musik yang dibunyikan disepanjang perjalan dari rumah sese kerumah barasi seperti fariti, cucu, (4) pakaian adat para ibu-ibu seperti ni’ohulaya, ni’otalakhoi baju dan sarung serta perhiasan emas umpamanya balahögö, saerudalinga,nifato-fato. Baju adat yang dipersiapkan itu adalah berwarna dasar merah hati, kuning dan hitam yang telah di motif dengan ni’ohulaya dan ni’otalakhoi. Sesudah segala persiapan langkah dan keperluan lain maka rombongan sese berangkat dengan terdiri dari : ( 1 ) seluruh warga desa sese, wanita, orangtua dan anak-anak, (2 ) seluruh tokoh-tokoh adapt dan salawa,(3) Seluruh besan jiran ipar dan menantu di pihak sese, (4) semua keluarga paman sese, (5) semua kenalan dari desa sekitar desa sese. Setelah diperkirakan lengkap seluruh para rombongan zangowalu baru berangkat dengan mengatur letak seperti, (1) dimuka ibu-ibu istri tokoh-tokoh adat dan salawa, (2) sesudah itu böli gana’a (menantu-menantu yang baru) dan wanita,(3) setelah itu tokoh- tokoh adat laki-laki dan salawa, (4) sesudah itu regu marafule (mempelai) dengan didampingin oleh beberapa orang pemuda sebagai pendampingnya dan menjaganya, (5) sesudah itu regu pemuda-pemudi, (6) sesudah itu regu yang membawa alat musik seperti faritia dan tambur yang terdiri dari anak-anak setengah baya. Sepanjang jalan alat musik ini tetap dimainkan atau di bunyikan. Sebelum berangkat rombongan menyerahkan diri dahulu kepada Tuhan,setelah itu baru höli-höli dan menyusul böli hae yang dilaksanakan sepanjang perjalanan sampai tiba di halaman tujuan atau di halaman rumah tempat pesta kawin di selenggarakan.
(a) Fanema’ö uwu (pihak paman), pihak uwu/ sibaya datang lebih awal dan tiba dipintu gerbang halaman di jemput oleh pihak perempuan serta salawa hada dan kemudian uwu dipersilahkan mengambil tempat di sinata (tempat yang paling terhormat).
(b) Tome tiba di lokasi pesta juga disambut oleh keluarga pihak pengantin perempuan. Pada saat kedatang tome ini, mereka melakukan bolihae (syair hoho yang isinya menyanjung atau mengagungkan pihak perempuan dan juga menyanyikan lagu- lagu dan doa yang terkandung dalam ajaran agama Kristen).
(c) Fangowai ba fame’e afo (penghormatan dan pemberian sirih), ini dilaksanakan oleh satua mbanua / salawa hada (laki-laki maupun perempuan) yang dimulai oleh pihak perempuan dengan syair yang merendah, dan kemudian dilanjutkan oleh pihak laki-laki / tamu dengan mengagunggungkan pihak perempuan.
(d) Famasao bola zangowalu, disini dengan sangat hati-hati serta hormat, memberikan seperengkat sirih yang di masukkan kedalam sebuah kantong (bola nafo) kepada pihak yang berhak yaitu, ina (ibu dari pengantin perempuan), iwa (istiri dari salah seorang saudara kandung ayah pengantin perempuan), uwu (istri dari pihak paman), huwa (istri dari kakek), banua (salah seorang istri dari tokoh masyarakat sekitar dan mempunyai hubungan keluarga dengan pengantin dan Si’o atau penghubung yang terdiri dari Si’o narö gosali dan Si’o sanöröra lala).
(e) Fanetu huhuo dan fanika gera-era mböwö, ini dilaksanakan oleh para raja adat / satua mbanua setelah membicarakan tentang hal böwö, maka diputuskan oleh fangetua huhuo dengan acara pengukuhan berupa höli-höli yang kemudian dilanjutkan dengan fanotoli mbosi dan berdasarkan ini dijelaskan jumlah jujuran (böwö) yang wajib dilunasi. Böwö yang sisa ini sesuai dengan falsafah suku Nias yaitu, hönö mböwö no awai, hönö mböwö so nasa, nila’a yawa bambuatö gosali (bila kelak orang tua dari
pihak pentin perempuan meninggal dunia (ahele nasi) atau mendirikan rumah, atau mengawinkan anak, atau mendirikan satu kampung maka disitulah pengantin laki-laki ini membayar sisa böwö yang dimaksud). Fanika gera-era mböwö sebagian materinya yakni nasehat bagi pengantin pria (famotu sangowalu). Juga dijelaskan bagi sanak keluarga dan para sitenga bö’ö memberitahukan kepadapengantin laki-laki agar menghormati dan menghargai mereka seumur hidup. Pada saat ini dipergunakan alat berupa daun kelapa muda (lehe nohi) dan satu tempat air (fanefe idanö) yang dilakukan oleh seorang satua mbanua (pengetua adat). Dewasa ini pembayaran böwö pada acara fanika gera-era mböwö sudah mulai langka ditemukan dan dilaksanakan hanya pada pesta besar yang melakukannya seperti ono duha / ono mbawali (orang yang berada).
(f) Femanga yaitu makan bersama dengan pemberian sumange kepada uwu, tome, iwa, huwa, banua, sitenga bö’ö undangan, ono alawe / fedono yang mendapatkan bagian berupa kaki depan babi lengkap sampai kuku (ta’io).
(g) Fametou bene’ö, pada acara ini uwu bertindak untuk menggendong pengantin perempuan (bene’ö) kemudian didudukkan pada tempat yang sudah disediakan. Dilanjut dengan penyerahan pengantin perempuan dari orang tua atau sanak keluarga kepada pihak tome yang diteirma oleh böli gana’a dan kemudian disambut oleh orang tua dari pengantin laki-laki (satua mbanua) sebagai perwakilandari seluruh tamu. Ada kalanya acara juga diselingi dengan upacara kebaktian pengukuhan perkawinan oleh pendeta setempat.
(h) Fame töi mbene’ö, merupakan acara pemberian gelar kepada pengantin perempuan oleh keluarga laki-laki dengan persetujuan dari pihak uwu. Setelah mendapat kata sepakat baru lahuhugö sebagai tanda pengesahan, mulai saat ini sebutan atau panggilan terhadap pengantin perempuan adalah gelar yang baru diberikan
kepadanya. Selesai acara ini maka pihak pengantin laki-laki bersama pengantin perempuan berangkat kerumah pihak laki-laki.
(i) Fame gö mbene’ö atau fame gö nono nihalö Kegiatan ini dilakukan setelah dua atau tiga hari pesta perkawinan. Pada acara ini pihak perempuan (ibu, saudara- saudara dan kerabat dekat) pergi kerumah laki-laki untuk melihat keadaan pengantin peremppuan dengan membawa makanan berupa seekor anak babi, dan makanan lainnya. Setelah tiba dirumah pihak laki-laki maka pihak perempuan dijamu makan dengan seekor babi, dan sewaktu berangkat pulang diberikan lagi seekor babi untuk ibu Orifitö nina biasanya babi tersebut seberat 60 – 70 kg (sazilo) dan kemudian diberikan uang dengan jumlah tidak ditentukan jumlahnya untuk dibagikan kepada orang yang ikut pada waktu itu (awö zamasao’ö).
(j) Femanga gahe (famuli nucha), pada kegiatan ini kedua pengantin bersama keluarga pihak laki-laki datang kerumah orang tua perempuan dengan membawa seekor babi seberat 25-40 kg, serta membawa sebagian pakaian wanita yang tadinya hanya dipakai pada pesta bukan menjadi milik sendiri. Setibanya di rumah pihak perempuan mereka disambut dengan diberi makan soko köli. Pada kesempatan ini kedau pengantin dan saudara-saudaranya mengunjungi rumah demi rumah dari setiap keluarganya untuk menerima anak babi maupun ayam untuk dipelihara sebagai bakal dihari yang akan datang nantinya.