BAB III PERUBAHAN MUSIK DALAM IBADAH
3.2 Perubahan Alat Musik dalam Ibadah
3.2.6 Format Ansambel
Format ansambel musik adalah gabungan dari berbagai instrumen musik seperti dua keyboard satu saxophone, dua keyboard satu gitar akustik dan satu saxophone, dan berbagai bentuk lainnya. Perkembangan musik yang demikian mulai dirasakan pada tahun 2004, dimana kemajuan teknologi yang semakin meningkat dan juga informasi tentang musik yang meningkat.
Format ansambel ini biasanya di lakukan pada saat kebaktian ibadah pagi.
Alat musik yang digunakan yaitu perpaduan antara: satu keyboard memainkan akor dan satu keyboard memainkan style perkusi, gitar akustik memainkan melodi suara satu dan saxophone memainkan suara tiga. Sehingga bunyi yang dimainkan terdengar lebih bervariasi.
Gambar 3.4 Format ansambel
3.3 Lagu-Lagu dalam Ibadah HKBP Tanjung Sari Medan Sebelum Terjadi Perubahan
Kebanyakan jemaat gereja HKBP menyadari bahwa lagu-lagu himne9 bersumber dari himne Lutheran Jerman, dimana syair nya yang diterjemahkan kedalam bahasa Batak Toba, kemudian dijadikan kedalam satu buku lagu nyanyian dan biasanya disebut dengan Buku Ende, dan ada juga yang menggunakan syair bahasa Indonesia dalam bentuk buku lagu Kidung Jemaat.
Setiap didalam peribadahan umat Kristen, nyanyian juga memiliki peranan yang sangat penting. Hal itu juga terlihat didalam peribadahan jemaat HKBP Tanjung Sari Medan. Pada awal terbentuknya Gereja HKBP Tanjung Sari Medan yaitu tahun 1984, dimana seorang pemusik memainkan lagu dengan apa yang tertera pada Kidung Jemaat tersebut seperti halnya nada-nada dalam kidung jemaat. Namun hal lain yang terlihat berbeda adalah bahwa keseringan pemusik mengikuti jemaat bernyanyi bahkan dalam tempo yang lambat atau tidak sesuai dengan partitur lagu yang sudah tertera pada buku lagu tersebut. Berikut ini salah satu contoh lagu yang biasa dinyanyikan dalam ibadah yang di ambil dari KJ No 407.
Tuhan Kau Gembala Kami
William Batchelder Bradbury 1859
Lagu ini berjudul Tuhan Kau Gembala Kami yang diciptakan oleh William Batchelder Bradbury 1859. Lagu ini menceritakan tentang rasa syukur dan sukacita akan penebusan dosa manusia yang telah meyakini Yesus Kristus sebagai penebus dosa manusia. Lagu ini juga menceritakan tentang manusia yang membutuhkan pertolongan melalui kuasa Tuhan.
Jika dilihat dari latar belakang lagu tersebut yang menunjukkan rasa sukacita manusia melalui nyanyian maka sesuai dengan tempo lagu yang cepat.
Menurut hasil wawancara dengan informan kunci yaitu St. P.M. Sipahutar, mengatakan bahwa biasanya pemusik gereja yang memainkan poti marende atau yang berubah menjadi organ elektrik, bahkan piano clavinova hanya membaca not dalam Kidung Jemaat saja dengan mengambil intro lagu dari bait pertama lagu.
Disamping itu jemaat terbiasa menyanyikan lagu yang lambat seperti yang pada awalnya dengan menggunakan alat musik poti marende (organ pompa) yang sulit dan lambat ketika dimainkan. Hal itu pun menjadi pengaruh bagi jemaat, sehingga jemaat bernyanyi dengan tempo yang lambat tidak lagi sesuai dengan tempo yang tertera pada partitur Kidung Jemaat.
3.4 Perubahan Musik dengan Penambahan Melodi Prelude dan Interlude Proses transkripsi dan analisis musik ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana lagu-lagu dalam ibadah dengan mengamati musik melalui perekaman video. Telah diketahui sebelumnya dimana pada awalnya pemusik masih terfokus terhadap partitur lagu dalam mengiringi jemaat bernyanyi. Namun, setelah terjadinya perubahan musik dalam ibadah maka dapat dilihat bahwasanya terdapat
tim musik dan tim song leader yang memimpin nyanyian dalam ibadah, sehingga jemaat dapat mengikuti song leader bernyanyi. Maka tempo lagu pun dapat disesuaikan melalui tim musik dan song leader tersebut.
Dalam transkripsi dan analisis ini juga telah terdapat berbagai variasi lagu (aransemen prelude dan interlude) sebelum jemaat bernyanyi pada melodi utama lagu. Disini penulis memilih dua lagu yang di transkripsi dan di analisis dengan alasan bahwasanya ke dua lagu tersebut merupakan lagu-lagu yang sering dibawakan dalam ibadah minggu pagi.
3.4.1.1 Tangga Nada (scale)
Tangga nada dalam musik barat dapat diartikan sebagai satu kumpulan not yang diatur sedemikian rupa dengan aturan yang telah ada (baku) sehingga memberikan karakter tertentu. (Nettl 1994: 99)
Selanjutnya, tangga nada tersebut digolongkan menurut beberapa klasifikasi, menurut jumlah nada yang dipakai. Tangga nada ditonic (dua nada), tritonic (tiga nada), tetratonic (empat), pentatonic (lima nada), hexatonic (enam nada), heptatonic (tujuh nada). Serta menurut interval antara nada-nada yang disusun dari nada terendah sampai nada tertinggi seperti mayor dan minor. Dua nada dengan jarak satu oktaf biasanya dianggap satu nada saja (Bruno Nettl terj.
Nathalian 2012: 142).
Berdasarkan pendapat tersebut, Tangga nada pada lagu S‟lamat di Tangan Yesus dapat disebut heptatonic (terdiri dari tujuh nada). Nada- nada di atas jka digambarkan dalam notasi balok, maka hasilnya akan seperti ini:
3.4.1.2 Nada Dasar (pitch center)
Bruno Nettl mengemukakan ada tujuh cara untuk menentukan nada dasar (pitch center/tonalitas) yaitu :
1. Patokan umum adalah melihat nada mana yang paling sering dipakai dan nada mana yang jarang dipakai dalam komposisi tersebut.
2. Kadang-kadang nada yang harga ritmisnya besar dapat dianggap sebagai nada dasar, walaupun nada tersebut jarang dipakai.
3. Nada yang dipakai pada akhir (awal) komposisi atau pada akhir (awal) bagian-bagian komposisi, dapat dianggap sebagai tonalitas dalam komposisi tersebut.
4. Nada yang menduduki posisi paling rendah dalam tangga nada atau posisi persis ditengah-tengah dapat juga dianggap penting.
5. Interval-interval yang terdapat diantara nada-nada kadang dipakai sebagai patokan.
6. Ada tekanan ritmis pada sebuah nada, juga dipakai sebagai tonalitas.
7. Harus diingat bahwa barang kali ada gaya-gaya musik yang mempunyai sistem tonalitas yang tidak bisa dideskripsikan dengan patokan-patokan diatas.
Mendeskripsikan sistem tonalitas seperti ini, cara terbaik tampaknya adalah berdasarkan pengalaman, pengenalan yang akrab dengan gaya musik tersebut akan dapat ditentukan tonalitas dari musik yang diteliti.
Tabel 3.1
Nada dasar lagu S’lamat di Tangan Yesus
Metode 1 2 3 4 5 6 7
Nada dasar G B G B D D G B G
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kecenderungan nada dasar ada pada nada G maka penulis menjadikannya sebagai nada dasar lagu ini, dan sudah sesuai dengan di buku Kidung Jemaat. Penulis mengikuti berdasarkan buku Kidung Jemaat.
3.4.1.3 Wilayah Nada (range)
Wilayah nada dalam sebuah komposisi musik adalah jarak antara nada terendah dengan nada tertinggi yang ada pada melodi tersebut. Dari hasil transkripsi nada terendah ialah D dan nada tertinggi ialah E. Maka melodi lagu S‟lamat di Tangan Yesus tersebut akan dimasukkan ke dalam garis paranada untuk dapat melihat dengan jelas susunan nada-nada yang ada pada lagu tersebut, dengan tujuan untuk mempermudah penulis dalam melihat nada terendah dan tertinggi dalam lagu tersebut. Wilayah nada lagu S‟lamat di Tangan Yesus dapat kita lihat pada gambar dibawah ini.
3.4.1.4 Jumlah Nada (frequency of notes)
Jumlah nada dapat dilihat dari banyaknya pemakaian nada dalam sebuah koposisi musik yang telah ditranskripsikan kedalam bentuk notasi. Jumlah nada yang dipakai dalam lagu S‟lamat di Tangan Yesus sesuai dengan tangga nada yang telah dibuat sebelumnya.
Berikut adalah jumlah nada yang digunakan dalam lagu S‟lamat di Tangan Yesus adalah nada.
Nama Nada Jumlah Nada
B 96
A 96
G 61
D 51
C 43
E 9
F
7
C# 5
Total 368
Tabel 3.2 Jumlah Nada
3.4.1.5 Jumlah Interval (prevalent intervals)
Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada yang lainnya (Manoff 1991: 50). Jarak antara nada satu dengan nada lainnya yang terdiri dari interval naik maupun interval turun menurut jumlah larasnya yang dapat mempengaruhi jumlah interval tersebut. Jumlah interval merupakan banyaknya interval yang dipakai dalam suatu komposisi musik atau nyanyian.
Nama dan Jenis Interval
Berdasarkan penjabaran diatas, lagu S‟lamat di Tangan Yesus memiliki interval prime, sekunda major, sekunda minor, terts major, terts minor, terts augmented, kwart perfect. Untuk lebih jelasnya dan masing masing jumlah intervalnya terdapat pada tabel di bawah ini.
Nama Interval Jumlah Interval
3.4.2 Melodi Lagu Tenanglah Kini Hatiku dan Strukturnya
TENANGLAH KINI HATIKU
William Batchelder Bradbury 1864
3.4.2.1 Tangga Nada (scale)
Tangga nada dalam musik Barat dapat diartikan sebagai satu kumpulan not yang diatur sedemikian rupa dengan aturan yang telah ada (baku) sehingga memberikan karakter tertentu. (Nettl 1994: 99)
Selanjutnya, tangga nada tersebut digolongkan menurut beberapa klasifikasi, menurut jumlah nada yang dipakai. Tangga nada ditonic (dua nada), tritonic (tiga nada), tetratonic (empat), pentatonic (lima nada), hexatonic (enam nada), heptatonic (tujuh nada). Serta menurut interval antara nada-nada yang disusun dari nada terendah sampai nada tertinggi seperti mayor dan minor. Dua nada dengan jarak satu oktaf biasanya dianggap satu nada saja (Bruno Nettl terj.
Nathalian 2012: 142).
Berdasarkan pendapat tersebut, Tangga nada pada lagu Tenanglah Kini Hatiku dapat disebut heptatonic (terdiri dari tujuh nada). Nada- nada di atas jka digambarkan dalam notasi balok, maka hasilnya akan seperti ini:
3.4.2.2 Nada Dasar (pitch center)
Bruno Nettl mengemukakan ada tujuh cara untuk menentukan nada dasar (pitch center/tonalitas) yaitu :
1. Patokan umum adalah melihat nada mana yang paling sering dipakai dan nada mana yang jarang dipakai dalam komposisi tersebut.
2. Kadang-kadang nada yang harga ritmisnya besar dapat dianggap sebagai nada dasar, walaupun nada tersebut jarang dipakai.
3. Nada yang dipakai pada akhir (awal) komposisi atau pada akhir (awal) bagian-bagian komposisi, dapat dianggap sebagai tonalitas dalam komposisi tersebut.
4. Nada yang menduduki posisi paling rendah dalam tangga nada atau posisi persis ditengah-tengah dapat juga dianggap penting.
5. Interval-interval yang terdapat diantara nada-nada kadang dipakai sebagai patokan.
6. Ada tekanan ritmis pada sebuah nada, juga dipakai sebagai tonalitas.
7. Harus diingat bahwa barang kali ada gaya-gaya musik yang mempunyai sistem tonalitas yang tidak bisa dideskripsikan dengan patokan-patokan diatas. Mendeskripsikan sistem tonalitas seperti ini, cara terbaik tampaknya adalah berdasarkan pengalaman, pengenalan yang akrab dengan gaya musik tersebut akan dapat ditentukan tonalitas dari musik yang diteliti.
Tabel 3.5
Nada dasar lagu Tenanglah Kini Hatiku
Metode 1 2 3 4 5 6 7
Nada dasar D F# D F# G D D E D
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat kecenderungan nada dasar ada pada nada D maka penulis menjadikannya sebagai nada dasar lagu ini, dan sudah sesuai dengan di buku Kidung Jemaat. Penulis mengikuti berdasarkan buku Kidung Jemaat.
3.4.2.3 Wilayah Nada (range)
Wilayah nada dalam sebuah komposisi musik adalah jarak antara nada terendah dengan nada tertinggi yang ada pada melodi tersebut. Dari hasil transkripsi nada terendah ialah D dan nada tertinggi ialah D. Maka melodi lagu Tenanglah Kini Hatiku tersebut akan dimasukkan ke dalam garis paranada untuk dapat melihat dengan jelas susunan nada-nada yang ada pada lagu tersebut, dengan tujuan untuk mempermudah penulis dalam melihat nada terendah dan tertinggi dalam lagu tersebut. Wilayah nada lagu Tenanglah Kini Hatiku dapat kita lihat pada gambar dibawah ini.
3.4.2.4 Jumlah Nada (frequency of notes)
Jumlah nada dapat dilihat dari banyaknya pemakaian nada dalam sebuah koposisi musik yang telah ditranskripsikan kedalam bentuk notasi. Jumlah nada yang dipakai dalam lagu Tenanglah Kini Hatiku sesuai dengan tangga nada yang telah dibuat sebelumnya.
Berikut adalah jumlah nada yang digunakan dalam lagu Tenanglah Kini Hatiku adalah nada.
Nama Nada Jumlah Nada
A 38
D 37
C# 14
E 43
B 22
F# 45
G 6
Total 205
Tabel 3.6 Jumlah Nada
3.4.2.5 Jumlah Interval (prevalent intervals)
Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada yang lainnya (Manoff 1991: 50). Jarak antara nada satu dengan nada lainnya yang terdiri dari interval
naik maupun interval turun menurut jumlah larasnya yang dapat mempengaruhi jumlah interval tersebut. Jumlah interval merupakan banyaknya interval yang dipakai dalam suatu komposisi musik atau nyanyian.
Nama dan Jenis Interval
Berdasarkan penjabaran diatas, lagu Tenanglah Kini Hatiku memiliki interval prime, sekunda major, sekunda minor, terts major, terts minor, terts augmented, kwart perfect. Untuk lebih jelasnya dan masing masing jumlah intervalnya terdapat pada tabel dibawah ini.
BAB IV
FUNGSI MUSIK DALAM IBADAH GEREJA HKBP TANJUNG SARI MEDAN
4.1 Pengertian Fungsi
Dalam bab ini, penulis akan membahas tentang fungsi musik dalam ibadah Gereja HKBP Tanjung Sari Medan. Kata fungsi dalam penelitian ini memiliki pengertian seperti yang telah dituliskan dalam bab I. Menurut Bronislaw Malinowski, yang dimaksud dengan fungsi itu intinya adalah bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah keinginan naluri mahluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Kesenian sebagai contoh dari salah satu unsur kebudayaan, terjadi karena pada dasarnya ingin memuaskan keinginan nalurinya terhadap keindahan.
Ilmu pengetahuan juga timbul karena keinginan naluri manusia untuk tahu.
Teknologi seperti halnya penemuan-penemuan alat musik elektronik adalah untuk memenuhi keindahan di bidang bunyi-bunyian. Internet pula diciptakan untuk berkomunikasi di dunia maya atau virtual. Namun banyak pula aktivitas kebudayaan yang terjadi karena kombinasi dari beberapa macam human need itu.
Dengan pemahaman ini seorang peneliti bisa menganalisis dan menerangkan banyak masalah dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia (Koentjaraningrat, 1987:171). Sesuai dengan pendapat Malinowski, musik dalam kehidupan jemaat HKBP Tanjung Sari Medan semakin berkembang karena diperlukan untuk memuaskan suatu rangkaian keinginan naluri masyarakat (jemaat). Musik menjadi unsur yang penting dalam ibadah yang dilaksanakan.
Dengan menggunakan iringan musik, para jemaat dapat lebih semangat untuk menyembah dan berdoa kepada Tuhan.
A.R.Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa fungsi sangat berkait erat dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus, sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian, Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian aktivitas kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakat. Tujuan fungsi adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal, seperti yang diuraikan berikut ini.
By the definition here offered „function‟ is the contribution which a partial activity makes of the total activity of which it is a part. The function of a perticular social usage is the contribution of it makes to the total social life as the functioning of the total social system. Such a view implies implies that a social system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it as a condition in which all parts of the social system work together with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i, e., without producing persistent conflicts can neither be resolved not regulated (1952:181).
Dalam terjemahan bebas dikatakan bahwa definisi „fungsi‟ adalah kontribusi aktivitas parsial menjadi bagian aktivitas keseluruhannya. Fungsi dari penggunaan sosial tertentu merupakan kontribusi itu membuat total kehidupan sosial sebagai fungsi sistem sosial keseluruhannya. Kita dapat mendefinisikan sebagai suatu kondisi dimana semua bagian dari sistem sosial bekerja sama dengan tingkat yang cukup harmoni atau konsistensi internal.
Sesuai dengan pandangan Radcliffe-Brown, musik dalam kehidupan jemaat HKBP Tanjung Sari Medan merupakan bagian dari struktur sosial mereka.
Fungsiya adalah untuk mencapai tingkat harmoni dan konsisten internal.
Pencapaian kondisi itu, di latar belakangi oleh berbagai kondisi sosial, budaya dan religi.
4.2 Fungsi Musik dalam Ibadah
Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bab I sebelumnya, Alan P Merriam mengatakan bahwa fungsi sangat berkaitan dengan alasan-alasan mengapa musik itu dipertunjukkan dan meliputi tujuan yang lebih jauh dibandingkan dengan hanya sekedar keterlibatannya. Dalam hal ini penulis hanya menuliskan fungsi musik menurut Merriam yang dapat diaplikasikan dalam ibadah dan pada jemaat HKBP Tanjung Sari Medan, diantaranya yaitu: (1) fungsi pengungkapan emosional, (2) penghayatan estetika, (3) hiburan, (4) komunikasi, (5) reaksi jasmani, (6) norma-norma sosial, (7) kesinambungan kebudayaan, (8) pengintegrasian masyarakat, (9) fungsi pendidikan, (10) fungsi sebagai media utama dalam memuji Tuhan, (11) fungsi sebagai sarana menarik perhatian jemaat untuk beribadah. Dalam penelitian ini, penulis juga melakukan wawancara terhadap jemaat dan pemusik untuk mengetahui pendapat tentang fungsi musik dalam ibadah. Dengan demikian fungsi musik dalam ibadah di HKBP Tanjung Sari Medan adalah sebagai berikut:
4.2.1 Fungsi Pengungkapan Emosional
Musik dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan emosi yang dapat di lakukan dengan berbagai cara melalui pemain musik. Menurut Merriam (1964:217) sudah menjadi kenyataan bahwa musik merupakan suatu isyarat yang berkaitan dengan pengungkapan emosional manusia. Musik juga dapat menjadi suatu isyarat yang berkaitan dengan pengungkapan emosional juga dapat menimbulkan rasa emosi bagi para pendengarnya.
Reaksi yang pertama timbul disaat seseorang menyanyi atau memainkan musik adalah pendengarannya. Reaksi yang diungkapkan tergantung kepada konteks apa dan bagaimana musik dimainkan. Emosi si pendengar akan spontan terungkap apabila musik yang dimainkan atau lagu yang dinyanyikan menyentuh hati pendengarnya. Secara langsung atau tidak ungkapan itu dapat diwujudkan.
Reaksi secara langsung apabila mendengar musik yang dimainkan sipendengar akan menangis atau menggerak-gerakkan badannya.
Musik di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan bukan diposisikan hanya sebagai pelengkap atau pengisi dalam ibadah, akan tetapi musik dalam ibadah harus mampu untuk bisa membantu penguatan akan konteks ibadah. Musik dalam ibadah harus mampu mempertajam pengungkapan makna iman dan perasaan yang tak dapat hanya di ungkapkan dengan kata-kata. Kegiatan dalam ibadah tidak jatuh hanya pada ruang akal perasaan semata, tetapi membantu mengekspresikan sedikit lebih jauh kedalam (depth) spritual. Melalui musik dalam ibadah, ruang spiritual penghayatan akan kesadaran tentang kuasa dan kasih Tuhan. Dengan pemilihan lagu-lagu yang tepat dengan tema ibadah ditambah dengan iringan
musik yang telah di aransemen oleh tim musik, sehingga jemaat lebih mudah menyanyikan lagu dengan tepat dan penuh dengan perasaan. Contoh KJ No 183
“Menjulang Nyata Atas Bukit Kala” (ayat 1. Menjulang nyata atas bukit kala, t‟rang benderang salib Mu, Tuhanku. Dari sinarnya yang menyala nyala memancar kasih agung dan restu. Seluruh umat insan menengadah, ke arah cahya kasih yang mesra. Bagai pelaut yang karam merindukan di ufuk timur pagi merekah.)
4.2.2 Fungsi Penghayatan Estetika
Berbicara tentang seni tidak terlepas dari keindahan dan keindahan itu sendiri identik dengan estetika. Perbincangan mengenai keindahan dan estetika selalu tetap menarik perhatian karena identik berhubungan dengan berbagai cabang kesenian. Keindahan dalam bidang seni ini ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum.
Kata estetika sendiri diturunkan dari kata Yunani aisthetiko yang artinya
“mengamati dengan indra”. Kata estetika juga terkait dengan kata aesthesis yang berarti “pengamatan”. Keindahan ditetapkan sebagai bagian dari teologi. Pada abat pertengahan di barat, tekanan diletakkan pada subjek, proses yang terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman keindahan. Pada zaman modern, tekanan justru diletakkan pada objek, sehingga tampak bahwa estetika dipertimbangkan sebagai cabang dari pada sains, khususnya falsafah dan psikologi. Maka pertimbangan estetika dalam pengolahan seni setidaknya dapat didekati melalui: (1) pemahaman karya sebagai objek estetika, dan (2)
pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya yang estetik.
Dalam musik ibadah tidak hanya sekedar diorganisasikan dalam hal penampilan agar musik ibadah yang di mainkan dapat dikatakan bagus, indah dan juga menarik. Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengekspresikannya dalam cerminan pada sikap iman kepada Tuhan. Hal itu akan memberi kesempurnaan penghayatan dalam ibadah melalui keutuhan dan kehikmatan ibadah sehingga musik pengiring dan juga lagu yang dinyanyikan jemaat bisa menyentuh batin tiap jemaat. Contoh KJ No 64 “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan” (ayat 1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh ku dengar, ya Tuhan ku, tak putus aku heran melihat ciptaan-Mu yang besar. Maka jiwa ku pun memuji-Mu: Sungguh besar Kau, Allah ku! Maka jiwa ku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau, Allah ku.)
4.2.3 Fungsi Hiburan
Musik berfungsi sebagai sarana untuk menghibur diri sendiri maupun orang lain, keadaan ini disadari ataupun tidak. Sehingga musik yang diciptakan dengan keindahan dan makna tertentu, disamping itu musik yang diciptakan harus dapat memberikan kepuasan estetis kepada pendengarnya. Hal ini menyebabkan musik akan dapat “menyentuh” perasaan pendengarannya. Disamping itu musik dapat juga merupakan pengekspresian jiwa manusia. Dengan demikian musik dapat membuat hati yang sedih menjadi gembira atau sebaliknya, hati yang
gembira dapat menjadi sedih. Hal ini tergantung bagaimana musik itu disajikan dan dalam konteks yang bagaimana musik itu dimainkan.
Musik Gereja dapat menjadi sebuah media didalam memberikan penghiburan pada jemaat HKBP Tanjung Sari secara khusus dapat dilihat jika ada jemaat yang sedang mengalami pergumulan, maka melalui musik dan nyanyian dalam ibadah ini mampu memberikan penghiburan bagi mereka yang sedang mengalami duka cita atau persoalan yang lain. Contoh KJ No 332 “Kekuatan Serta Penghiburan” (ayat 1. Kekuatan serta penghiburan di berikan Tuhan padaku. Tiap hari aku dibimbing-Nya; tiap jam dihibur hatiku. Dan sesuai dengan hikmat Tuhan ‟ku di b‟rikan apa yang perlu. Suka dan derita bergantian memperkuat iman ku.)
4.2.4 Fungsi Komunikasi
Salah satu fungsi komunikasi dalam kehidupan sosial dan budaya bagi jemaat HKBP Tanjung Sari ini adalah fungsi untuk memberitahu. Melalui media musik yang bertujuan untuk memberitahu dan menasehati agar memiliki pedoman dalam hidup dan mengetahui apa yang dimaksud , tujuan seseorang manusia kristiani di dunia ini. Hal ini juga dapat berupa aktivitas yang dilakukan dan apa
Salah satu fungsi komunikasi dalam kehidupan sosial dan budaya bagi jemaat HKBP Tanjung Sari ini adalah fungsi untuk memberitahu. Melalui media musik yang bertujuan untuk memberitahu dan menasehati agar memiliki pedoman dalam hidup dan mengetahui apa yang dimaksud , tujuan seseorang manusia kristiani di dunia ini. Hal ini juga dapat berupa aktivitas yang dilakukan dan apa