BAB II GAMBARAN UMUM GEREJA HKBP TANJUNG SARI
2.2 Sejarah HKBP Tanjung Sari Medan
2.2.1 Latar Belakang Berdirinya Gereja
Pada akhir tahun 1983 di kalangan warga jemaat bergema suatu gagasan untuk mendirikan sebuah gedung Gereja sebagai tempat peribadahan orang Kristen (HKBP) di Tanjung Sari Medan. Gagasan tersebut pertama kali muncul dalam percakapan informal sejumlah warga HKBP di rumah Drs. K. Silalahi, jalan Dahlia II no.236 perumahan Pemda Tkt. I Tanjung Sari dan yang hadir pada saat itu antara lain adalah Drs. M. Tambunan, Drs. N. Nadapdap, Drs. Viktor Pangaribuan, Ak. Kemudian kerap menjadi topik pembicaraan sesama warga HKBP yang di sekitaran Tanjung Sari.
Suatu motivasi bagi mereka adalah supaya dapat lebih aktif mengikuti kegiatan Gereja, seperti kebaktian Minggu dan kebaktian sekolah Minggu.
Mereka terdaftar sebagai warga jemaat di HKBP Sudirman, HKBP Medan Baru, HKBP Wahidin Baru, dan lain-lain. Tetapi karena faktor jarak yang relatif jauh sekitar 7-30 kilometer, mereka sering merasa kewalahan untuk mengikuti setiap kegiatan Gereja.
Tanggapan yang sama mengemukakan warga jemaat yang mengutarakan aspirasinya kepada Pdt. Alboin Simanungkalit, pendeta HKBP resort Medan, Pdt.
Wasinthon Simanjuntak, pendeta HKBP resort Medan Baru dan praeses HKBP distrik X Medan Aceh, Pdt. O.P.T. Simorangkir. Ketiga pendeta tersebut memotivasi warga HKBP Tanjung Sari agar melengkapi persyaratan administratif sesuai dengan ketentuan Peraturan HKBP1982-1992, bab I.A.2.a tentang Mamukka Huria atau membentuk jemaat (J.R.Hutauruk, 2012)
Bila terdapat sejumlah orang Kristen di suatu tempat yang berjarak jauh (terpencil) dari tempat kedudukan HKBP yang hendak membentuk jemaat, hendaklah menulis surat permintaan kepada Pendeta terdekat agar Pendeta itu dapat mengambil langkah seperlunya”
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, bab I.1-3).
Dalam hal itu, warga jemaat juga memperoleh penjelasan tentang syarat-ssyarat meresmikan berdirinya sebuah jemaat sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan HKBP 1982-1992, bab I.A.2.b tentang Pajaehon sada Huria atau meresmikan berdirinya suatu Jemaat:
Telah ada sedikitnya 25 (dua puluh lima) rumah tangga yang merupakan anggotanya; Telah ada orang yang mampu memimpin kebaktian Minggu serta pekerjaan Gerejawi dan mengetahui Tata Gereja; Ada tempat pertemuan yang dapat dipergunakan untuk kebaktian Minggu dan untuk pekerjaan lain yang bisa dimanfaatkan oleh jemaat itu; Ada pengakuan dari jemaat itu, bahwa mereka mampu membiayai para pelayan, membayar iuran umum HKBP dan segala suatu yang berkaitan dengan pekerjaan Gerejawi dan kesiapan jemaat itu untuk memahami memenuhi ketentuan Sinode Godang”
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, bab I.1-3).
Pertemuan pertama berlangsung ketika warga jemaat dalam suasana Tahun Baru berkumpul di rumah Drs. J. H. Simatupang, jalan teratai perumahan pemda Tkt I Medan. Dihadiri oleh 20 orang, terdiri atas 15 kaum bapak dan 5 kaum ibu yaitu: Pdt. Prof. Dr. F.H. Sianipar, Drs. J.H. Simatupang dan Ny. Br. Sinambela, St.O.M. Pardede dan Ny.br. Hutagalung, St. Mayor Pol. (Purn) B.G. Marpaung, Drs. M.Tambunan dan Ny.br. simorangkir, Drs.L.B.Manullang, Drs. C.Manalu dan Ny.br. Hutabarat, Drs. Viktor Pangaribuan,Ak., St.F.S. Silalahi, P.M.
Sipahutar, S.M. Manalu B.Sc., S. Sianturi dan Ny.br. Siburian, Serma Pol. M.
Simatupang, Serma Pol.M.Silitonga, Drs.A.P. Tambunan. Mereka adalah jemaat HKBP dan sepakat untuk mendata warga jemaat HKBP di kelurahan Tanjung Sari Medan sekitarnya.
Pada tanggal 21 Januari 1984 diadakan pertemuan lanjutan di rumah Drs.
M. Tambunan, jalan teratai no. 208 perumahan Pemda Tkt.I Medan yang dihadiri 21 orang jemaat. Pertemuan ini menyepakati panitia persiapan pembentukan jemaat HKBP Tanjung Sari antara lain:
1. St. O.M. Pardede (ketua) 2. Drs. M. Tambunan (sekretaris)
Untuk memudahkan koordinasi, warga jemaat sepakat menetapkan rumah Drs. M. Tambunan di komplek perumahan Pemda Tkt. I, sebagai kantor sekretariat sementara. Fungsi dari sekretariat ini adalah sebagai tempat pertemuan maupun rapat dalam rangka pembentukan jemaat HKBP Tanjung Sari. Pada tanggal 23 September 1984 kantor sekretariat di pindahkan ke Gereja HKBP Tanjung Sari Medan.
Pada Minggu, 12 Februari 1984 berlangsung kebaktian Minggu perdana di Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Tanjung Sari. Kebaktian Minggu ini kemudian di tetapkan sebagai tonggak sejarah hari jadi HKBP Tanjung Sari. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. A. Simanukalit, pendeta HKBP resort jalan Sudirman Medan. Acara dimulai jam 13.30 WIB. Dihadiri 200 orang warga jemaat yang terdaftar menjadi warga jemaat HKBP Tanjung Sari, terdiri atas kaum bapak, kaum ibu, pemuda-pemudi, remaja dan anak-anak sekolah Minggu.
Kebaktian selalu berlangsung setiap hari Minggu. Penggunaan gedung gereja POUK berdasarkan kesepakatan perjanjian antara panitia persiapan jemaat HKBP Tanjung sari dengan pengurus majelis jemaat POUK. Gereja POUK dapat di gunakan selama enam bulan (Februari-September 1984), tanpa disewa. Dalam kurun waktu 6 bulan tersebut berupaya agar dapat memiliki gedung gereja sendiri.
Pada hari Senin, 23 Juli 1984 jemaat HKBP Tanjung Sari Medan yang diantaranya: Drs. M. Tambunan, Drs. N.D. Malau, Drs. Viktor Pangaribuan, Ak, B.P. Sianturi dan P.M. Sipahutar menemui keluarga M.U. Bangun ke rumahnya di jalan Jamin Ginting No.979/889 Padang Bulan Medan. Tujuan nya untuk membeli tanah seluas 2.240 meter persegi (40 x 56 m), seharga Rp. 13.400.000.- atau sekitar Rp.6000,-/ meter persegi. Panitia menyerahkan panjar sebagai tanda jadi sebesar Rp.200.000,- .
Lokasi komplek gereja secara bertahap semakin luas. Pada tahun 1992, jemaat membeli tanah seluas 1.365 meter persegi (15 x 91 m). Kemudian pada 29 Mei 1993 bertambah lagi seluas 455 meter persegi (5 x 91 m) di beli seharga Rp.5.000.000.-. Dengan demikian, luas tanah HKBP Tanjung Sari sekarang
sekitar 4.060 meter persegi. Semua tanah dibeli dari keluarga M.U. Bangun, warga jemaat GBKP.
Pada bulan Juli 1984, proses pembangunan gedung gereja di mulai.
Bangunan di rancang semi permanen dengan ukuran 9 x 20 meter, di lengkapi dengan teras, rumah penjaga dan kamar mandi. Proses pembangunan di awali dengan mengadakan ibadah bersama. Teknis pembangunan di kelola 3 orang tukang, yaitu: St. F. Purba, B. Tarihoran, S. Manalu. Ketiganya adalah warga jemaat HKBP Tanjung Sari. Mereka di bantu jemaat yang secara sukarela hadir bergotong royong setiap hari. Pembangunan selesai pada 20 September 1984.
Sehubungan dengan penetapan sebagai huria na gok (jemaat penuh), persiapan berlangsung selama bulan November 1986. Permohonan agar ephorus HKBP memimpin ibadah peresmian. Pesta peresmian berlangsung pada Minggu, 7 Desember 1986. Dengan status huria na gok, jemaat HKBP Tanjung Sari secara resmi menjadi jemaat yang berdiri sendiri. Jumlah warga jemaat saat itu adalah 160 rumah tangga.
Pada tanggal 19 November 1997, kerinduan jemaat akan kehadiran Pendeta terkabulkan. Pdt. Gerhard Sihombing, STh ditempatkan melayani HKBP Tanjung sari dan mengemban tugas sebagai guru jemaat. `
Pada bulan Oktober 1997, direncanakan untuk membangun gedung gereja permanen. Pada saat itu warga jemaat telah mencapai 450 rumah tangga. Luas bangunan direncanakan berukuran 24 m x 36 m.
Berikut adalah denah Gereja HKBP Tanjung Sari Medan
Gambar 2.1 Denah Gereja HKBP Tanjung Sari Medan Sumber : Google Maps