BAB I PENDAHULUAN
1.6 Lokasi Penelitian
Yang menjadi tempat lokasi penelitian penulis adalah Jl.Setia Budi No.11, Tanjung Sari, Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara 20132, Indonesia.
Penulis memilih lokasi ini karena di Gereja tersebut ada perbedaan konsep musik untuk mengiringi ibadah. Selain itu, penulis juga pelayanan di gereja tersebut, sehingga mempermudah penulis untuk melakukan penelitian terhadap perubahan dan fungsi musik di gereja HKBP Tanjung Sari Medan.
BAB II
GAMBARAN UMUM GEREJA HKBP TANJUNG SARI MEDAN
DALAM KONTEKS HKBP
Dalam Bab II ini, penulis akan memaparkan sejarah singkat Gereja HKBP secara umum dan juga sejarah mengenai Gereja HKBP Tanjung Sari Medan.
Sejarah Gereja HKBP secara umum akan memberikan informasi tentang berdirinya HKBP pada awalnya. Pembahasan sejarah HKBP Tanjung Sari Medan yakni memberikan informasi tentang latar belakang berdirinya gereja serta perkembangannya sampai sekarang.
2.1 Sejarah Berdirinya HKBP
Penetapan hari jadi HKBP tanggal 7 Oktober 1861 memiliki makna sejarah dan teologis yang mendalam. Sejarah penginjilan dan sejarah gereja adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Gereja tanpa penginjilan bukanlah gereja. Itulah sebabnya peristiwa 7 Oktober 1861 diartikan dan dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja.
Hasil penginjilan di Tanah Batak adalah agama Kristen atau Kekristenan yang di dalamnya terdapat sejumlah jemaat atau “pargodungan” (setasi sending dan sekaligus huria/ jemaat). Jemaat-jemaat tersebut sejak awal sudah diarahkan akan membentuk sebuah gereja sending yang kelak menjadi sebuah gereja yang mandiri dari sending.
Pada awalnya tanggal 7 Oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari lembaga sending Rhein di dunia ini. Karena jauh sebelum tahun 1861 sending
Rhein telah membuka daerah penginjilan di Namibia- Afrika Selatan, Cina, Kalimantan dan di Afrika Utara. Tetapi sejak 7 Oktober 1861 dibuka suatu daerah penginjilan baru di Sumatera, “Bataklanden” atau Tanah Batak. Daerah penginjilan baru ini di beri nama “Battamission” yang kemudian disebut “ Batak Mission” atau “Mission- Batak”. Tanggal lahir Batak Mission di tentukan pada 7 Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para penginjil utusan RMG (Rheinische Mission Gesselschaf) di Tanah Batak.
Badan Zending (penginjilan) RMG berdiri di Barmen, Jerman pada tahun 1828 sebagai gabungan badan-badan zending di Jerman yang dilatar belakangi kesalehan, kebangunan rohani dan kebangunan pekabaran Injil. Pada tanggal tersebut, dua missionaris RMG yang sebelumnya bekerja di Kalimantan yakni Klammer dan Betz bersama dua missionaris dari Ermelo, yakni Van Asselft dan Heine melakukan Rapat di Sipirok untuk memulai pekerjaan RMG di Tanah Batak. Di samping itu, pada tahun itu juga ditandai dengan masuknya orang Batak menjadi Kristen untuk pertama kalinya yaitu: Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar, memulai baptisan kudus yang dilakukan Pdt. Van Asselt di Sipirok (Nadeak et al., 1995).
Nama “Batak Mission” telah melekat dalam ingatan para penginjil RMG dan juga umat Kristen Batak yang terhimpun dalam berbagai huria/ jemaat.
Penginjil Dr. Johannes Warneck (Ephorus sejak 1920-1932) menulis sebuah buku dalam rangka menyambut jubileum Batak-Mission ke-50 dan 60 tahun dengan judul: “Sechzing Jahre Batak Mission in Sumatera” (60 tahun Mission-Batak di Sumatera) oleh Warneck (1925). Pemaknaan sedemikian juga telah dijemaatkan
oleh para pelaku sejarah “Batak Mission” sejak 1905: Tanggal 7 Oktober 1861 adalah hari jadi “Batak Mission” di Tanah Batak.
Pada tahun 1936 HKBP mengadakan pesta Jubileum ke 75 tahun HKBP yang dipusatkan di Sipirok: 1861-1936. Pada kesempatan tersebut, diterbitkanlah buku Jubileum sebagai hasil karya tulis majelis pusat HKBP (Hoofdbestuur ni HKBP, t.t.). Lembaga penginjilan RMG terpaksa mengakhiri pelayanannya di Tanah Batak 1940 akibat perang dunia ke II. Pada tahun 1949 lembaga penginjilan RMG menyerah secara resmi seluruh assetnya di Tanah Batak kepada HKBP sebagai lembaga kegerejaan hasil lembaga Pekabaran Injil RMG.
Pemahaman akan makna hari lahir HKBP sedemikian juga dikemukakan Ephorus J. Sihombing dalam majalah “Immanuel” terbitan 1951, untuk mengingat 90 tahun: “parmulaan ni ulaon ni Kongres mission Barmen (R.M.G) di tanonta on, manang ari htutubuni hurianta.... Pa 90-halion” (Sihombing, 1851). Artinya
“permulaan pelayanan RMG di tanah kita atau Hari kelahiran Gereja kita”. DR.
T.S Sihombing selaku sekjen HKBP dan redaktur Immanuel mengungkapkan apresiasi kepad lembaga RMG sebagai “ula-ula ni Debata” (alat di tangan Allah) untuk “pararathon barita nauli” (menyebarkan berita kesukaan) dan “paojakhon Huria ni Kristus i di tongatonga ni bangsonta” (mendirikan Gereja Kristus di tengah-tengah bangsa kita) (Sihombing, t.t:3). Beliau memandang bahwa lembaga RMG adalah “Ina ni Huria Kristen Batak Protestan (ibu dari HKBP) yang pada saat itu 1950 telah beranggotakan 600.000 orang.
Kata Huria bisa diartikan sebagai jemaat. Kata “Batak” menjadi salah satu identitas, sering dipahami khalayak ramai sebagai sisi pembatasan atau
ketertutupan bagi orang lain di luar suku Batak. Hal itu semakin diperkuat dengan asal muasal, tempat kelahiran dan kantor pusatnya di Tapanuli Utara, latar belakang dan sejarah pertumbuhan, perkembangan dan keanggotaannya yang mayoritas orang Batak. HKBP adalah suatu wadah persekutuan dari orang yang berasal dari segala kelompok, kalangan dan suku bangsa yang berada di seluruh Indonesia, serta di seluruh dunia ini, yang dibaptiskan ke dalam Nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Gereja merupakan suatu perwujudan nyata dari Tubuh Kristus, yang menyaksikan kesatuan orang percaya di seluruh dunia ini (Almanak HKBP 2018).
Pada tahun 1862 sebelum Ingwer Ludwig Nommensen datang ke Tanah Batak, beberapa penginjil dari berbagai negara telah datang ke tanah Batak.
Penginjil Pdt. Richard Burton dan Pdt. Nathaniel Ward adalah penginjil yang pertama datang ke Tanah Batak sebagai utusan dari Gereja Baptis Inggris pada tahun 1824. Mereka langsung pulang tanpa meninggalkan karyanya. Pada tahun 1834 kedatangan Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Henry Lyman yang di utus dari Sending Boston. Tetapi kedua pendeta tersebut mengalami nasib yang tragis, mereka terbunuh di Lobu Pining, Tapanuli Utara. Pada tahun 1849 Herman Neubronner Van der Tuuk dari Amsterdam yang menyalin sebagian injil ke bahasa Batak. Pada tahun 1857 kedatangan Pdt. Gerrit Van Asselt yang di tugaskan oleh Pdt. Witteven dari Ermelo, Belanda. Beliau berhasil membabtis orang Batak menjadi Kristen untuk yang pertama kali.
Ingwer Ludwig Nommensen adalah penginjil yang di utus RMG, suatu badan Zending di Jerman. Pada tanggal 20 Mei 1864 Nommensen berhasil
membangun jemaat di tanah Batak, yakni di Huta (desa) Dame di Saitnihuta Oppusumurung. Pada tahun 1881 Ingwer Ludwig Nommensen menjabat sebagai Ephorus HKBP sampai meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 1918 di Sigumpar.
Tahun pengangkatannya sebagai ephorus merupakan tahun terbitnya Tata Gereja (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) HKBP.4 Selain melaksanakan pemberitaan injil sebagai tugas utama, I.L. Nommensen membuat sejarah HKBP yang tidak dapat di lupakan, yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Pelayanan sosial komunikasi dan percetakan/ penerbitan. Sampai sekarang HKBP masih menjalankan yang di bangun I.L.Nommensen.
Dalam hal pendidikan, pada tahun 1868, HKBP telah membuka sekolah guru Parausorat, di Sipirok. Dalam bidang teologia, HKBP merupakan pelopor di Indonesia pada saat membuka sekolah Pendeta pada tahun 1883. Pada tanggal 2 juni 1900 berhasil di bangun rumah sakit di Pearaja yang kemudian dikembangkan menjadi Rumah Sakit Tarutung. Selain itu, dalam bidang komunikasi pada tanggal 1 Januari 1890, HKBP menerbitkan majalah Immanuel.
Berikut ini adalah bagan organisasi HKBP. Dari bagan ini terlihat secara jelas bagaimana sistem kerja masing-masing mulai dari jabatan yang tertinggi yaitu Ephorus sampai yang terendah yakni seksi-seksi dalam jemaat. Dalam bagan ini juga terlihat posisi Dewan Marturia sebagai dewan yang membawahi bagian musik dan nanyian di HKBP.
Bagan 2.1. Bagan Organisasi HKBP Sumber: http://www.google.co.id
2.2 Sejarah HKBP Tanjung Sari Medan
Pada tahun 1984 merupakan suatu momentum yang menentukan bagi kehadiran jemaat HKBP di daerah Tanjung Sari Medan. Karena harus mengubah realitas dari tidak ada menjadi ada. Proses perubahan berawal atas tindakan Tuhan yang menginspirasi warga jemaat, sehingga mereka sejak akhir tahun 1983 berkeinginan merintis pembentukan jemaat HKBP di Tanjung Sari Medan.
Pada tahun 1984, keadaan daerah Tanjung Sari Medan belum seperti saat ini. Jalan yang masih empat meter dan masih aspal biasa juga sepanjang jalan
berlubang-lubang. Jarak tempuh dari Tanjung Sari ke HKBP Sudirman bisa mencapai satu jam. Saat itu, kendaraan umum masih dapat dihitung dengan jari.
Pada tahun 1980-an, jumlah orang Kristen Batak Toba yang bermukim di kelurahan Tanjung Sari Medan diperkirakan sekitar 200 orang. Kebanyakan mereka bukan lagi perantau dari Tanah Batak, tetapi merupakan generasi yang lahir di Medan. Bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, polisi, militer, pengusaha, pedagang, pensiunan dan lain sebagainya.
2.2.1 Latar Belakang Berdirinya Gereja HKBP Tanjung Sari Medan
Pada akhir tahun 1983 di kalangan warga jemaat bergema suatu gagasan untuk mendirikan sebuah gedung Gereja sebagai tempat peribadahan orang Kristen (HKBP) di Tanjung Sari Medan. Gagasan tersebut pertama kali muncul dalam percakapan informal sejumlah warga HKBP di rumah Drs. K. Silalahi, jalan Dahlia II no.236 perumahan Pemda Tkt. I Tanjung Sari dan yang hadir pada saat itu antara lain adalah Drs. M. Tambunan, Drs. N. Nadapdap, Drs. Viktor Pangaribuan, Ak. Kemudian kerap menjadi topik pembicaraan sesama warga HKBP yang di sekitaran Tanjung Sari.
Suatu motivasi bagi mereka adalah supaya dapat lebih aktif mengikuti kegiatan Gereja, seperti kebaktian Minggu dan kebaktian sekolah Minggu.
Mereka terdaftar sebagai warga jemaat di HKBP Sudirman, HKBP Medan Baru, HKBP Wahidin Baru, dan lain-lain. Tetapi karena faktor jarak yang relatif jauh sekitar 7-30 kilometer, mereka sering merasa kewalahan untuk mengikuti setiap kegiatan Gereja.
Tanggapan yang sama mengemukakan warga jemaat yang mengutarakan aspirasinya kepada Pdt. Alboin Simanungkalit, pendeta HKBP resort Medan, Pdt.
Wasinthon Simanjuntak, pendeta HKBP resort Medan Baru dan praeses HKBP distrik X Medan Aceh, Pdt. O.P.T. Simorangkir. Ketiga pendeta tersebut memotivasi warga HKBP Tanjung Sari agar melengkapi persyaratan administratif sesuai dengan ketentuan Peraturan HKBP1982-1992, bab I.A.2.a tentang Mamukka Huria atau membentuk jemaat (J.R.Hutauruk, 2012)
Bila terdapat sejumlah orang Kristen di suatu tempat yang berjarak jauh (terpencil) dari tempat kedudukan HKBP yang hendak membentuk jemaat, hendaklah menulis surat permintaan kepada Pendeta terdekat agar Pendeta itu dapat mengambil langkah seperlunya”
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, bab I.1-3).
Dalam hal itu, warga jemaat juga memperoleh penjelasan tentang syarat-ssyarat meresmikan berdirinya sebuah jemaat sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan HKBP 1982-1992, bab I.A.2.b tentang Pajaehon sada Huria atau meresmikan berdirinya suatu Jemaat:
Telah ada sedikitnya 25 (dua puluh lima) rumah tangga yang merupakan anggotanya; Telah ada orang yang mampu memimpin kebaktian Minggu serta pekerjaan Gerejawi dan mengetahui Tata Gereja; Ada tempat pertemuan yang dapat dipergunakan untuk kebaktian Minggu dan untuk pekerjaan lain yang bisa dimanfaatkan oleh jemaat itu; Ada pengakuan dari jemaat itu, bahwa mereka mampu membiayai para pelayan, membayar iuran umum HKBP dan segala suatu yang berkaitan dengan pekerjaan Gerejawi dan kesiapan jemaat itu untuk memahami memenuhi ketentuan Sinode Godang”
(Rumusan senada termasuk dalam Aturan HKBP 2002, bab I.1-3).
Pertemuan pertama berlangsung ketika warga jemaat dalam suasana Tahun Baru berkumpul di rumah Drs. J. H. Simatupang, jalan teratai perumahan pemda Tkt I Medan. Dihadiri oleh 20 orang, terdiri atas 15 kaum bapak dan 5 kaum ibu yaitu: Pdt. Prof. Dr. F.H. Sianipar, Drs. J.H. Simatupang dan Ny. Br. Sinambela, St.O.M. Pardede dan Ny.br. Hutagalung, St. Mayor Pol. (Purn) B.G. Marpaung, Drs. M.Tambunan dan Ny.br. simorangkir, Drs.L.B.Manullang, Drs. C.Manalu dan Ny.br. Hutabarat, Drs. Viktor Pangaribuan,Ak., St.F.S. Silalahi, P.M.
Sipahutar, S.M. Manalu B.Sc., S. Sianturi dan Ny.br. Siburian, Serma Pol. M.
Simatupang, Serma Pol.M.Silitonga, Drs.A.P. Tambunan. Mereka adalah jemaat HKBP dan sepakat untuk mendata warga jemaat HKBP di kelurahan Tanjung Sari Medan sekitarnya.
Pada tanggal 21 Januari 1984 diadakan pertemuan lanjutan di rumah Drs.
M. Tambunan, jalan teratai no. 208 perumahan Pemda Tkt.I Medan yang dihadiri 21 orang jemaat. Pertemuan ini menyepakati panitia persiapan pembentukan jemaat HKBP Tanjung Sari antara lain:
1. St. O.M. Pardede (ketua) 2. Drs. M. Tambunan (sekretaris)
Untuk memudahkan koordinasi, warga jemaat sepakat menetapkan rumah Drs. M. Tambunan di komplek perumahan Pemda Tkt. I, sebagai kantor sekretariat sementara. Fungsi dari sekretariat ini adalah sebagai tempat pertemuan maupun rapat dalam rangka pembentukan jemaat HKBP Tanjung Sari. Pada tanggal 23 September 1984 kantor sekretariat di pindahkan ke Gereja HKBP Tanjung Sari Medan.
Pada Minggu, 12 Februari 1984 berlangsung kebaktian Minggu perdana di Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Tanjung Sari. Kebaktian Minggu ini kemudian di tetapkan sebagai tonggak sejarah hari jadi HKBP Tanjung Sari. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. A. Simanukalit, pendeta HKBP resort jalan Sudirman Medan. Acara dimulai jam 13.30 WIB. Dihadiri 200 orang warga jemaat yang terdaftar menjadi warga jemaat HKBP Tanjung Sari, terdiri atas kaum bapak, kaum ibu, pemuda-pemudi, remaja dan anak-anak sekolah Minggu.
Kebaktian selalu berlangsung setiap hari Minggu. Penggunaan gedung gereja POUK berdasarkan kesepakatan perjanjian antara panitia persiapan jemaat HKBP Tanjung sari dengan pengurus majelis jemaat POUK. Gereja POUK dapat di gunakan selama enam bulan (Februari-September 1984), tanpa disewa. Dalam kurun waktu 6 bulan tersebut berupaya agar dapat memiliki gedung gereja sendiri.
Pada hari Senin, 23 Juli 1984 jemaat HKBP Tanjung Sari Medan yang diantaranya: Drs. M. Tambunan, Drs. N.D. Malau, Drs. Viktor Pangaribuan, Ak, B.P. Sianturi dan P.M. Sipahutar menemui keluarga M.U. Bangun ke rumahnya di jalan Jamin Ginting No.979/889 Padang Bulan Medan. Tujuan nya untuk membeli tanah seluas 2.240 meter persegi (40 x 56 m), seharga Rp. 13.400.000.- atau sekitar Rp.6000,-/ meter persegi. Panitia menyerahkan panjar sebagai tanda jadi sebesar Rp.200.000,- .
Lokasi komplek gereja secara bertahap semakin luas. Pada tahun 1992, jemaat membeli tanah seluas 1.365 meter persegi (15 x 91 m). Kemudian pada 29 Mei 1993 bertambah lagi seluas 455 meter persegi (5 x 91 m) di beli seharga Rp.5.000.000.-. Dengan demikian, luas tanah HKBP Tanjung Sari sekarang
sekitar 4.060 meter persegi. Semua tanah dibeli dari keluarga M.U. Bangun, warga jemaat GBKP.
Pada bulan Juli 1984, proses pembangunan gedung gereja di mulai.
Bangunan di rancang semi permanen dengan ukuran 9 x 20 meter, di lengkapi dengan teras, rumah penjaga dan kamar mandi. Proses pembangunan di awali dengan mengadakan ibadah bersama. Teknis pembangunan di kelola 3 orang tukang, yaitu: St. F. Purba, B. Tarihoran, S. Manalu. Ketiganya adalah warga jemaat HKBP Tanjung Sari. Mereka di bantu jemaat yang secara sukarela hadir bergotong royong setiap hari. Pembangunan selesai pada 20 September 1984.
Sehubungan dengan penetapan sebagai huria na gok (jemaat penuh), persiapan berlangsung selama bulan November 1986. Permohonan agar ephorus HKBP memimpin ibadah peresmian. Pesta peresmian berlangsung pada Minggu, 7 Desember 1986. Dengan status huria na gok, jemaat HKBP Tanjung Sari secara resmi menjadi jemaat yang berdiri sendiri. Jumlah warga jemaat saat itu adalah 160 rumah tangga.
Pada tanggal 19 November 1997, kerinduan jemaat akan kehadiran Pendeta terkabulkan. Pdt. Gerhard Sihombing, STh ditempatkan melayani HKBP Tanjung sari dan mengemban tugas sebagai guru jemaat. `
Pada bulan Oktober 1997, direncanakan untuk membangun gedung gereja permanen. Pada saat itu warga jemaat telah mencapai 450 rumah tangga. Luas bangunan direncanakan berukuran 24 m x 36 m.
Berikut adalah denah Gereja HKBP Tanjung Sari Medan
Gambar 2.1 Denah Gereja HKBP Tanjung Sari Medan Sumber : Google Maps
2.2.2 Perkembangan Gereja HKBP Tanjung Sari
Tahun 1999 merupakan awal babak baru bagi warga jemaat HKBP Tanjung Sari. Pada tahun ini, Gereja mengalami peralihan status dari huria pagaran (jemaat cabang) HKBP resort Medan Baru menjadi huria sabungan (jemaat induk) HKBP resort Tanjung Sari. Peralihan ini mengindikasikan suatu perkembangan kualitatif, khususnya dalam tatanan struktur kelembagaan HKBP.
Pada bulan November 2003 secara resmi dimulai pembangunan gedung gereja tahap kedua, melanjutkan fondasi pada tahun 1997 dan tanpa membongkar bangunan gereja lama. Pada tanggal 26 April 2004 dimulai pemasangan tiang dan balok penyangga bangunan. Semua terlaksana dengan baik, tanpa hambatan yang
berarti. Namun empat hari kemudian, 30 April 2004 sekitar jam 14:30 WIB, saat hujan disertai tiupan angin yang kencang melanda kawasan Tanjung Sari, konstruksi kuda-kuda rangka baja rubuh dan menimpa bangunan gereja lama.
Pada Selasa, 17 Agustus 2004, pembangunan gedung gereja yang baru segera dimulai, berukuran 24 meter x 36 meter. Pembangunan gedung gereja berbiaya enam ratus juta rupiah, rampung pada Agustus 2005. Pada Sabtu, 13 Agustus 2005 diadakan pesta syukuran satu tahun pembangunan gereja sekaligus sebagai tanda memasuki gedung gereja yang baru dan bangunan gereja tersebut dipakai sampai saat ini.
2.3 Struktur Gereja HKBP Tanjung Sari Medan
Stuktur adalah suatu susunan atau kerangka dalam suatu organisai.
Susunan pengurus pada Gereja HKBP Tnajung Sari Medan adalah sebagai berikut:
1. Pendeta Resort : Pdt. Maulinus Ulises W. Siregar, STh 2. Pendeta Fungsional : Pdt. Udur E. Aritonang, STh
3. Pendeta Fungsional : Pdt. Marhehe Sahala M Pasaribu, STh 4. Pendeta NHKBP : Pdt. Reinhart I.M. Panjaitan, STh 5. Bibelvrouw : M. B. Bv. Silaban
6. Sekretaris Huria : St. Ampera Simbolon, SE.
7. Bendahara Huria : St. Ir. J. H. Rajagukguk 8. Parartaon : P.Marbun, SE., M.Si
9. Seksi Pembangunan : St. Drs. Gandi Tambunan, M.Si
10. Seksi Sekolah Minggu : Tiurma Br Manurung 11. Seksi Koinonia : St. H.I. Sianturi, SKM 12. Seksi Marturia : St. Dr. J.Simatupang 13. Seksi Diakonia : St. R. Hutauruk 14. Seksi NHKBP : David Sitinjak
15. Koor Parompuan : Ny. I. Siahaan Br Simanjuntak 16. Koor Ama : Ir. Juner Mantondang
Bagan Organisasi Gereja HKBP Tanjung Sari Medan 2018/2019:
Bagan 2.2. Gereja HKBP Tanjung Sari
2.4 Waktu dan Tempat Penyajian Musik yang dipakai dalam Ibadah Pada awal terbentuknya Gereja HKBP tanjung Sari Medan, mereka beribadah pertama kali di Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK).
Mereka menggunakan Gereja tersebut atas kesepakatan perjanjian antara panitia persiapan jemaat HKBP Tanjung Sari Medan dengan pengurus majelis jemaat POUK. Pada Minggu, 23 September 1984 mereka telah kebaktian perdana di gedung gereja milik jemaat HKBP Tanjung Sari Medan.
Pada tahun 2011 hingga saat ini, di Gereja HKBP Tanjung Sari Medan telah di adakan 5 kali ibadah, yaitu: Ibadah subuh (06:00), Sekolah Minggu (08:00), Ibadah Pagi (08:00), Ibadah Siang (10:30), Ibadah sore (17:00). Dalam ibadah setiap minggunya khusunya ibadah pagi, siang dan sore alat musik pengiring yang di pakai berbeda-beda. Pada ibadah pagi menggunakan alat musik keyboard, bas, drum, gitar akustik, saxophone, sulim, dan taganing. Di ibadah siang menggunakan alat musik keyboard, gitar akustik, saxophone. Di ibadah sore menggunakan keyboard, drum, gitar akustik, saxophone, bas, taganing. Ibadah pagi dan sore menggunakan bahasa indonesia dan ibadah siang menggunakan bahasa Batak Toba.
2.4.1 Analisis Ibadah
Bagi umat Kristen sudah menjadi kewajiban pada hari Minggu pergi beribadah ke Gereja, karena ada tertulis dalam Alkitab5 Keluaran 20: 8 mengatakan “ingat dan kuduskan lah hari sabat”.
Berdasarkan pengamatan saya di lapangan, pada saat ibadah akan segera di mulai, lonceng gereja akan dibunyikan dan saat itu jemaat berdoa (saat teduh) untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan menyiapkan hatinya mengikuti ibadah. Seluruh petugas pelayanan ibadah Gereja mengambil tempat masing-masing di antaranya: pengkhotbah, paragenda, kolekte, pemain musik dan juga songleader. Dalam ibadah setiap minggunya yang berkhotbah6 adalah pendeta atau bibelvro, paragenda atau liturgis yang sering di bawakan oleh sintua7, kolekte atau pengumpulan persembahan di tugaskan pada sintua, devisi musik dan songleader bertugas untuk memimpin lagu puji-pujian yang dinyanyikan dalam ibadah.
Tata ibadah pada Gereja HKBP dan artinya sebagai berikut:
1. Nyanyian Bersama. Nyanyian pembukaan ini adalah kesiapan hati kita untuk mengikuti panggilan ibadah tersebut.
2. Votum - Introitus – Doa Pembukaan. Votum adalah materai pertanda bahwa Allah hadir dalam ibadah tersebut dengan ucapan “Di dalam Nama Allah Bapa, dan Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Nama Roh Kudus.” Inilah yang membedakan ibadah dengan pertemuan biasa. Ibadah adalah persekutuan umat percaya yang menyambut kedatangan dan kehadiran Allah. Introitus adalah pernyataan atau ajakan yang dikutip dari nas Alkitab. Bacaan ini diambil berdasarkan Minggu Gerejawi tertentu.
Nas Alkitab ini juga menandakan bahwa jemaat sedang berada dalam suasana perayaan Minggu Gerejawi tertentu. Nas Alkitab ini di sambut
6Berkhotbah adalah menyampaikan firman Tuhan yang sering di lakukan oleh Pendeta dan juga Guru Huria.
jemaat dengan menyanyikan “Haleluya” yang artinya “Pujilah Tuhan!”
Sambutan Jemaat disusul dengan doa pembukaan yang menekankan unsur kebersamaan. Doa ini disampaikan bersama, memohon agar Tuhan Allah mengatur dan memimpin ibadah tersebut.
3. Nyanyian Bersama. Nyayian ini harus sesuai dengan Hari Raya Gerejawi dan merupakan respon Jemaat terhadap doa pembukaan.
4. Pembacaan Hukum Taurat. Bagian ini adalah lanjutan dari nyanyian pembukaan dalam ibadah. Maksudnya, dengan memperdengarkan serta memahami Hukum Taurat dari Allah, anggota Jemaat yang beribadah sadar akan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan (Roma 3:20b). Hukum Taurat yang dibacakan bisa juga berfungsi sebagai cermin diri dan peringatan akan dosa kita. Jemaat menyambut dengan memohon kekuatan untuk melakukan Taurat-Nya.
5. Nyanyian Bersama. Nyanyian ini berisi respon Jemaat atas harapan Allah untuk menjalankan hukum Tuhan. Isi nyanyian ini harus berkaitan dengan Hukum Taurat.
6. Pengakuan Dosa. Setelah jemaat sadar akan dosa-dosanya, maka tibalah
6. Pengakuan Dosa. Setelah jemaat sadar akan dosa-dosanya, maka tibalah