• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 20 Lanjutan

D. Pendekatan Sistem

1. Formulasi model konseptual a. Penentuan tujuan model

Model yang disusun bertujuan untuk menentukan besarnya etat volume dan etat luas di KPH Blora, KPH Cepu, dan KPH Randublatung berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi, diantaranya besarnya gangguan hutan oleh masyarakat berupa konsumsi kayu dan perubahan luas areal berhutan berdasarkan aktifitas masyarakat tersebut. Perubahan faktor-faktor ini menyebabkan besarnya etat volume dan etat luas melakukan penyesuaian dengan perubahan tersebut. Selain menentukan besarnya etat volume dan etat luas juga dilakukan simulasi untuk mengetahui pengaruh konsumsi kayu oleh masyarakat terhadap jumlah pohon yang di curi serta pengaruhnya terhadap pendapatan yang diperoleh KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) berdasarkan model pengaturan hasil yang digunakan.

b. Pembatasan model.

Batasan-batasan yang digunakan dalam penyusunan model ini adalah : 1. Jumlah pohon adalah banyaknya pohon Jati yang termasuk dalam kelas hutan

produktif yang berada di areal kerja KPH Blora, KPH Cepu, dan KPH Randublatung. Faktor yang mempengaruhi jumlah pohon adalah jumlah pohon yang di tanam, jumlah pohon mati (mortality), jumlah pohon penjarangan, jumlah pencurian pohon dan jumlah penebangan pohon.

2. Luas areal berhutan adalah areal yang dialokasikan untuk memproduksi kayu Jati di KPH Blora, KPH Cepu, dan KPH Randublatung. Faktor yang mempengaruhi luas areal berhutan adalah luas pencurian dan luas tebangan. 3. Gangguan hutan adalah luas gangguan yang terjadi di KPH Blora, KPH Cepu,

dan KPH Randublatung diakibatkan konsumsi kayu oleh masyarakat sekitar hutan.

4. Daur adalah umur tanaman pada saat ditebang.

5. Dinamika penduduk adalah perubahan jumlah penduduk yang berada di sekitar KPH Blora, KPH Cepu, dan KPH Randublatung. Faktor yang mempengaruhi diantaranya persen kelahiran, persen kematian, persen masuk dan persen keluar.

6. Pendapatan setiap KPH pada sub model keuangan perusahaan adalah besarnya peneriman KPH dari produksi kayu Jati dikurangi dengan biaya KPH yang terdiri dari biaya usaha dan iuran hasil hutan (IHH).

7. Pengangguran pada sub model pengangguran adalah selisih antara jumlah penduduk pencari kerja dengan total tenaga kerja di KPH Blora, KPH Cepu, dan KPH Randublatung.

8. Konsumsi kayu pada sub model konsumsi kayu adalah besarnya konsumsi kayu per kapita yang dipengaruhi laju pertambahan penduduk.

c. Kategorisasi komponen-komponen dalam sistem.

Setiap komponen yang masuk dalam ruang lingkup sistem dikategorisasikan sesuai dengan karakter dan fungsinya. Kategorisasi dilakukan pada setiap sub model sistem sebagai berikut :

1.Sub model jumlah pohon Jati

- State variable : jumlah pohon pada setiap kelas umur.

- Auxilary variable : jumlah pohon pencurian, jumlah pohon penjarangan, dan tebang tiap kelas umur.

- Material transfer : jumlah pohon tanam, jumlah pohon

upgrowth, out kelas umur, dan jumlah pohon tebang., jumlah pohon mati

- Driving variable : persen tanam pembangunan

2. Sub model pengaturan hasil

- State variable : luas KU pada setiap kelas umur. - Auxilary variable : etat volume dan etat luas

- Driving variable : daur

3. Sub model keuangan perusahaan

- Auxilary variable : penerimaan KPH, peneriman usaha pokok, penjualan kayu AI, penjualan kayu AII, penjualan kayu AIII, penjualan kayu bakar, biaya KPH, biaya usaha, biaya pembinaan,

biaya pemasaran, biaya ekploitasi, biaya pemeliharaan, biaya persemaian dan biaya tanaman.

- Driving variable : biaya perlindungan, biaya penyuluhan,

biaya tata hutan dan perencanaan, biaya penyusutan, biaya pendidikan dan pelatihan, biaya sarana dan prasarana, dan biaya umum.

4. Sub model dinamika penduduk

- State variable : jumlah penduduk.

- Auxilary variable : penduduk masuk, penduduk keluar,

natalitas dan mortalitas.

- Material transfer : In penduduk dan out penduduk.

- Driving variable : persentase lahir, persentase kematian, persentase masuk, dan persentase keluar. - Konstanta meliputi : anggota KK.

5. Sub model luas areal berhutan

a. State variable : luas setiap kelas umur dan tanah kosong - Auxilary variable : luas tanaman rutin, dan total luas pencurian - Driving variable : persentase penanaman

6. Sub model gangguan hutan

- Auxilary variable : permintaan kayu bakar, permintaan kayu pertukangan, pendapatan, tingkat

pengangguran, jumlah pohon yang dicuri, luas pencurian total.

- Driving variable : Skenario pendapatan, skenario konsumsi kayu bakar, skenario konsumsi kayu pertukangan, dan skenario pengangguran

7. Sub model pengangguran

- Auxilary variable : angkatan kerja, jumlah penduduk bekerja, pencari kerja, luas areal tumpang sari,

jumlah pesanggem tumpang sari, dan jumlah pengangguran.

- Driving variable : persen angkatan kerja, persen jumlah penduduk yang bekerja, persen tanaman sela, persen pensiunan, luas lahan pesanggem.

8. Sub model konsumsi kayu

- Auxilary variable : pendapatan masyarakat, pengeluaran masyarakat, pengeluaran kayu bakar, pengeluaran kayu pertukangan dan selisih pendapatan.

- Driving variable : pendapatan per kapita per tahun dan pengeluaran per kapita per tahun.

d. Pengidentifikasian hubungan antar komponen.

Identifikasi dilakukan untuk menjelaskan pengaruh berbagai komponen di dalam sistem. Sub model jumlah pohon dengan state variable jumlah pohon dipengaruhi oleh aliran materi yaitu jumlah penanaman, jumlah pohon upgrowth, jumlah pencurian pohon, jumlah pohon penjarangan, jumlah mortality dan jumlah pohon yang ditebang. Jumlah penanaman pohon akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pohon dalam tegakan. Penanaman akan menambah jumlah pohon pada kelas umur I. Jumlah pencurian pohon, jumlah mortality dan jumlah pohon penjarangan akan mengakibatkan pengurangan jumlah pohon dalam tegakan setiap kelas umur. Jumlah pohon upgrowth akan meningkatkan jumlah pohon pada kelas umur II sampai kelas umur IX. Jumlah penanaman dan jumlah pohon dalam tegakan memiliki hubungan yang positif, artinya semakin besar jumlah pohon yang ditanam maka jumlah pohon dalam tegakan akan semakin bertambah. Hubungan antara jumlah penanaman dan jumlah pohon dalam tegakan seperti pada Gambar 3.

Gambar 3 Diagram Causal Loop antara jumlah penanaman dengan jumlah pohon dalam tegakan.

Hubungan antara jumlah pohon dalam tegakan dengan jumlah pencurian pohon adalah hubungan yang negatif. Semakin tinggi jumlah pohon yang dicuri akan mengakibatkan penurunan jumlah pohon dalam tegakan yang cukup besar. Pencurian hampir terjadi di setiap kelas umur, sehingga pencurian ini akan mengakibatkan penurunan potensi di setiap kelas umurnya. Hubungan antara jumlah pohon pencurian dengan jumlah pohon dalam tegakan seperti pada Gambar 4.

Gambar 4 Diagram Causal Loop antara jumlah pencurian dengan jumlah pohon dalam tegakan.

Hubungan antara jumlah pohon penjarangan dengan jumlah pohon dalam tegakan seperti halnya dengan jumlah pohon pencurian merupakan hubungan yang negatif. Pada penjarangan pengelola dimungkinkan untuk memperoleh hasil dari kegiatan penjarangan sedangkan pencurian, pengelola mengalami penurunan hasil. Penjarangan dilakukan dalam rangka untuk mengurangi kerapatan tegakan, agar memperoleh pertumbuhan yang maksimal. Semakin tinggi intensitas penjarangan maka jumlah pohon dalam tegakan semakin berkurang. Hubungan jumlah pohon penjarangan dengan jumlah pohon dalam tegakan adalah hubungan yang negatif. Hubungan antara jumlah pohon penjarangan dengan jumlah pohon dalam tegakan seperti pada Gambar 5.

Gambar 5 Diagram Causal Loop antara jumlah pohon penjarangan dengan jumlah pohon dalan tegakan.

e. Mempresentasikan Model Konseptual e.1. Sub Model Jumlah Pohon

Jumlah pohon ialah banyaknya jumlah pohon yang terdapat dalam luasan lahan tertentu. Jumlah pohon diperoleh dari hasil perhitungan berdasarkan luas pohon per hektar pada tabel tegakan hasil risalah KPH yang dikonversikan dalam satuan jumlah pohon dengan bantuan tabel

tegakan sepuluh jenis kayu industri lembaga penelitian hutan (1975). Sub model jumlah pohon menjelaskan perubahan yang terjadi dalam suatu tegakan dengan melihat pertumbuhan tegakan dari jumlah pohon yang mengalami perubahan dalam tiap-tiap kelas umur. Jumlah pohon tiap kelas umur yang mengalami pertambahan karena adanya riap dan jumlah penanaman yang dilakukan pada KU awal.

Pada KU I aliran materi di mulai dari kegiatan penanaman, yang terdiri dari tanaman rutin pada areal bekas tebangan serta tanaman pembangunan pada areal tanah kosong. Aliran materi yang keluar berupa upgrowth, out KU serta mortality. Pada KU II dan KU III yang menjadi aliran masuk berupa upgrowth dari dari KU sebebelumnya, sedangkan yang menjadi aliran keluar berupa upgrowth, out KU serta mortality. Aliran masuk pada KU IV , KU V, KU VI, dan KU VII dipengaruhi oleh upgrowth dari KU sebelumnya. Aliran keluar terdir dari upgrowth, out KU, mortality, serta jumlah pohon tebang. Pada KU VIII, IX, dan KU MT (Masak Tebang) aliran masuk berupa upgrowth dari KU sebelumnya, sedangkan aliran keluar berupa jumlah pohon curi, mortality, dan jumlah pohon tebang. Untuk KU MR (Miskin Riap) aliran keluar berupa jumlah pohon curi, mortality, dan jumlah pohon tebang. Sub model jumlah pohon disajikan pada Lampiran 1.

e.2. Sub Model Luas Areal Berhutan.

Sub model luas areal berhutan memberikan gambaran besarnya perubahan luas dari masing-masing KU. Luas KU I diawali dengan aliran masuk berupa luas penanaman yang diperoleh dari jumlah luas tanaman pembangunan dan etat luas. Aliran keluar berupa persen pindah dan luas pencurian. Pada KU II dan KU III aliran masuk berupa persen pindah dari KU sebelumnya dan luas pencurian sebagai aliran keluar. Aliran masuk pada KU IV sampai KU MT dipengaruhi persen pindah dari KU sebelumnya. Sedangkan aliran keluar berupa luas pencurian dan luas tebangan. Pada KU MR aliran yang keluar berupa luas pencurian dan luas tebangan.

Pada sub model luas areal berhutan terdapat state variable tanah kosong. Aliran masuk berupa luas pencurian yang merupakan akumulasi dari luas pencurian di masing-masing KU. Sedangkan aliran keluar berupa luas tanaman pembangunan. Sub model luas areal berhutan disajikan pada lampiran 2.

e.3. Sub Model Pengaturan Hasil

Sub model pengaturan hasil bertujuan untuk menetapkan besarnya luas tebangan dan volume tebangan yang dapat dilakukan KPH sehingga kelestarian hasil terjamin. Etat volume ditentukan berdasarkan besarnya volume per hektar setiap kelas umur. Volume per hektar ditentukan berdasarkan umur tengah masing-masing KU yang akan ditebang yang diperoleh dari tabel tegakan sepuluh jenis kayu industri dengan asumsi bonita tetap sepanjang tahun. Untuk etat luas penentuannya berdasarkan total luas areal hutan dibagi daur. Luas areal hutan diperoleh dari penjumlahan penjumlahan luas setiap kelas umur. Jumlah pohon tebangan untuk setiap tahunnya diperoleh dari pembagian jumlah pohon tebangan aktual dengan daur. Jumlah pohon tebangan aktual diperoleh dari penjumlahan pohon pada KU yang masuk dalam tebangan aktual, yaitu KU IV, V, VI, VII, VIII, IX, MT, dan MR.

Jumlah pohon yang ditebang setiap tahunnya ditentukan oleh besarnya volume tebangan setiap kelas umur serta volume per pohon setiap kelas umur yang akan ditebang. Volume per pohon seperti halnya volume per hektar juga ditentukan berdasarkan umur tengah masing-masing KU yang akan ditebang yang diperoleh dari tabel tegakan sepuluh jenis kayu industri dengan asumsi bonita tetap sepanjang tahun. Etat luas ditentukan berdasarkan total luas tegakan nyata di lapngan dibagi dengan daur. Luas tegakan nyata di lapangan merupakan total penjumlahan dari luas setiap kelas umur (KU I –MR).

Daur yang digunakan merupakan daur teknis, yaitu daur yang ditetapkan berdasarkan penggunaan kayu yang dihasilkan oleh suatu tegakan. Daur ini merupakan umur pada waktu suatu jenis sudah dapat

menghasilkan kayu yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Sub model pengaturan hasil disajikan pada lampiran 3.

e.4. Sub Model Dinamika Penduduk

Laju perubahan jumlah penduduk merupakan salah satu peubah sosial masyarakat sekitar hutan. Peningkatan jumlah penduduk dipengaruhi oleh persen kelahiran dan persen masuk Sedangkan faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah penduduk ialah persen kematian dan persen penduduk keluar. Besarnya persen kelahiran dan kematian diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora. Untuk ketiga wilayah KPH yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Blora, besarnya faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk pada ketiga KPH didasarkan pada data BPS Kabupaten Blora.

Gambar 6 Sub model dinamika penduduk.

e.5. Sub Model Gangguan Hutan

Luas areal yang terganggu dan banyaknya jumlah pohon yang hilang dijelaskan dalam sub model gangguan hutan. Jumlah pohon yang mengalami gangguan dipengaruhi oleh faktor pengangguran, pendapatan, konsumsi kayu bakar dan konsumsi kayu pertukangan. Berdasarkan penelitian Budi Kuncahyo (2006), hasil analisis hubungan faktor-faktor

diatas terhadap besarnya gangguan hutan, diperoleh pesamaan regresi sebagai berikut

ƒ Gangguan = 6.217 – 0,00457 * Pendapatan + 496 * tingkat Pengangguran + 3.732 * Konsumsi Kayu Pertukangan + 61,8* konsumsi kayu bakar.

Gambar 7 Sub model gangguan hutan.

e.6. Sub Model Pengangguran

Besarnya tingkat pengangguran dijelaskan melalui sub model pengangguran. Jumlah pengangguran diperoleh dari jumlah pencari kerja dikurangi total tenaga kerja. Pencari kerja merupakan besarnya angkatan kerja dikurangi pekerja non kehutanan dan pensiunan. Total tenaga kerja merupakan akumulasi dari tenaga kerja penebangan, penanaman, penjarangan, serta pesanggem. Besarnya angkatan kerja di peroleh dari

perkalian persen angkatan kerja dengan jumlah penduduk di setiap KPH. Persentase angkatan kerja diperoleh dari buku Kabupaten Blora Dalam Angka, Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora 2002.

Gambar 8 Sub model pengangguran.

e.7. Sub Model Keuangan Perusahaan

Pendapatan KPH dijelaskan dengan menggunakan model keuangan perusahaan. Pendapatan KPH merupakan selisih antara penerimaan KPH dengan biaya KPH. Penerimaan KPH diperoleh dari penerimaan kayu pertukangan dan kayu bakar. Kayu pertukangan diperoleh dari penjualan kayu hasil tebangan habis A2. Kayu bakar diperoleh dari tebangan penjarangan (E). Tebangan A2 menghasilkan kayu dengan kualitas yang beragam, yaitu kualitas AI dengan diameter 4–19 cm, AII dengan diameter 20-29 cm, dan AIII dengan diameter > 30 cm. Pembagian kayu pada tebang habis A2 dilakukan berdasarkan pengalaman pihak Perhutani. Untuk kualitas kayu jenis A I dihasilkan sebanyak 2%, kayu A II 6% dan kayu A III 92% serta menghasilkan kayu bakar 6,60% dari

total volume tebang habis. Tebangan penjarangan menghasilkan kayu A I sebesar 66%, A II sebesar 16%, dan A III sebesar 18%, sedangkan untuk kayu bakar diperoleh 25% dari total penjarangan.

Pegeluaran KPH merupakan besarnya biaya usaha yang dikeluarkan di tambah dengan iuran hasil hutan (IHH) sebesar 3% dari total pendapat KPH. Biaya usaha ialah total biaya yang dikeluarkan KPH untuk semua kegiatan pengelolaan hutan. Besarnya biaya yang dikeluarkan perhutani untuk kegiatan pengelolaan untuk setiap tahunnya dipengaruhi kegiatan pengelolaan yang dilakukan KPH. Biaya usaha meliputi biaya pembinaan, biaya eksploitasi, biaya pemasaran biaya penyusutan, biaya tata hutan dan perencanaan, biaya sarana dan prasarana, biaya pendidikan dan latihan, dan biaya umum.

Gambar 9 Sub model keuangan perusahaan.

e.8. Sub Model Kayu Konsumsi

Sub model ini menjelaskan besarnya pengaruh konsumsi kayu oleh masyarakat sekitar hutan. Konsumsi kayu di bagi menjadi konsumsi kayu

pertukangan dan konsumsi kayu bakar. Besarnya konsumsi kayu dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk dan tingkat konsumsi kayu perkapita per tahun. Konsumsi kayu perkapita diperoleh dari hasil olah data terhadap 10 bagian hutan pada masing-masing KPH. Data 10 bagian hutan contoh disajikan pada Lampiran 4.

Besarnya pendapatan masyarakat dikurangi dengan besarnya pengeluaran menghasilkan pendapatan bersih masyarakat. Selisih pendapatan bersih masyarakat dengan total nilai kayu yang di konsumsi digunakan sebagai skenario terjadinya gangguan hutan.

Gambar 10 Sub model konsumsi kayu.

Dokumen terkait