5.3 Model Simulasi Berbasis-Agen
5.3.2 Formulasi Model Perhitungan Nilai Tambah RPMS berbasis-agen
Gambar 5.15 menggambarkan proses bisnis petani swadaya sebagai agen dalam rantai pasok minyak sawit. Proses bisnis petani menjadi faktor yang sangat penting, karena merupakan pangkal dari rantai pasok minyak sawit. Kegiatan ini diawali oleh petani dengan menseleksi bibit kelapa sawit yang akan di tanam. Variabel dan parameter yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kegiatan fungsional yakni kualitas bibit kelapa sawit, harga TBS lokal, dan biaya-biaya yang termasuk dalam budidaya kelapa sawit. Selain itu beberapa informasi yang dijadikan bahan untuk mengambil keputusan diantaranya, harga bibit, harga jual TBS, biaya pemeliharaan, dan biaya panen. Jumlah TBS yang dihasilkan, dan keuntungan yang diperoleh menjadi Key Performance Indicator dari keberhasilan menanam kelapa sawit bagi para petani.
Gambar 5.16 Diagram alir pengambilan keputusan oleh petani
Berdasarkan proses bisnis yang dilakukan petani dalam rantai pasok minyak sawit, telah dibuat rancangan proses bisnis dalam suatu diagram alir Gambar 5.16. Proses bisnis (fungsional) petani diawali dengan membeli bibit kelapa sawit dengan memperhitungkan luas lahan perkebunan yang akan ditanami kelapa sawit, kualitas, harga, dan sumber bibit kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit biasanya mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah
penyerbukan. Waktu panen buah kelapa sawit sangat mempengaruhi jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Waktu panen yang tepat akan diperoleh kandungan minyak maksimal, tetapi pemanenan buah yang kelewat matang akan meningkatkan asam lemak bebas (ALB), sehingga dapat merugikan karena sebagian kandungan minyaknya akan berubah menjadi ALB dan menurunkan kualitas minyak. Sebaliknya pemanenan buah yang masih mentah akan menurunkan kandungan minyak, walaupun ALB-nya rendah. Setelah panen, petani dapat menjual kepada pengepul yang memberikan penawaran harga lebih tinggi disbanding pengepul lainnya. Namun, apabila TBS sudah terlalu lama disimpan, petani tidak bisa melakukan negosisai harga, sehinggia terpaksa petani harus menjual TBS tersebut meskipun dengan penawaran harga yang rendah. Dari hasil penjualan ini dapat menghitung nilai tambah yang dihasilkan petani.
Formulasi keputusan :
1. Membeli dan menanam bibit kelapa sawit sebanyak n pohon kelapa sawit. 2. Merawat kebun kelapa sawit
3. Memanen/ transportasi TBS
4. Menjual TBS sebanyak V-TBS-p-jual dengan harga satuan H-TBS-p-jual 5. Menghitung nilai tambah
6. Vadd = (V-TBS-p-jual*H-TBS-p-jual) – TC
TC = FC + VC
VC (Variable Cost) = (Harga bibit x n) + (Biaya pemupukan (perawatan) x Jumlah Kelapa Sawit) + (Biaya panen x Jumlah kelapa sawit) + (Biaya angkut x Volume TBS) 7. Menghitung porsi nilai tambah terhadap Total Nilai Tambah RPMS.
Keterangan variabel:
V-TBS-p-jual = Volume penjualan TBS oleh petani H-TBS-p-jual = Harga jual TBS oleh petani
Vadd = Nilai tambah yang diperoleh
TC = Total costs petani FC = Total biaya tetap VC = Total biaya variabel
2) Agen Pengepul
Gambar 5.17 Proses bisnis pengepul dalam RPMS
Proses bisnis Pengepul ditunjukkan pada gambar 5.17. Informasi mengenai permintaan TBS dari pabrik minyak sawit, harga dan mutu TBS dari petani menjadi tolak ukur pengepul dalam mengambil keputusan baik dalam membeli TBS ataupun menjual TBS kepada pabrik minyak sawit, dengan variabel dan parameter yang ditinjau yaitu kualitas TBS dan harga TBS yang beredar di pasar lokal.
Kesuksesan kinerja pengepul dapat ditinjau berdasarkan laba atau keuntungan yang mereka peroleh dari penjualan TBS kepada pabrik minyak sawit. Oleh karena itu, dalam mencari petani kelapa sawit, pengepul harus pandai dan cermat dalam mencari TBS dan mengalokasikannya ke pabrik minyak sawit yang bisa memberikan keuntungan lebih dari beberapa pabrik minyak sawit yang membutuhkan.
Gambar 5.18 menggambarkan diagram alir rangkaian kerja pengepul. Kegiatan bisnis pengepul diawali dengan membeli TBS dari petani. Pengepul mencari informasi mengenai sumber TBS, permintaan pabrik minyak sawit, mutu, stok TBS dan harga TBS baik yang dijual oleh petani ataupun yang mampu dibeli oleh pabrik minyak sawit, sebagai dasar pemikiran untik membeli TBS. Kemudian, pengepul menjual TBS kepada pabrik minyak sawit yang membutuhkan dengan harga jual tertinggi. Dari hasil penjualan tersebut, dapat menghitung nilai tambah yang diperoleh pengepul.
Gambar 5.18 Diagram alir keputusan pengepul
Formulasi keputusan pengepul :
Membeli TBS sebanyak V-TBS-pu-beli dengan harga satuan H-TBS-p jika ada permintaan dari pabrik minyak sawit,
Menjual TBS sebanyak V-TBS-pu-jual dengan harga satuan H-TBS-pu-jual, Nilai tambah dihitung dengan formula: Penjualan – semua biaya,
Vadd = (Volume TBSpu* Psold) – TC
TC = FC + VC
VC (Variable Cost) = (Harga beli TBS * Volume) + (Biaya angkut * Volume TBS)
Keterangan singkatan sama dengan untuk petani, kecuali bahwa index p diganti dengan pu (pengepul).
3) Agen Pabrik Minyak Sawit (PKS)
Gambar 5.19 menggambarkan proses bisnis pabrik minyak sawit sebagai agen dalam rantai pasok minyak sawit. Proses bisnis pabrik minyak sawit menjadi faktor yang sangat
penting, karena merupakan inti dari rantai pasok minyak sawit. Kegiatan ini diawali oleh pabrik minyak sawit dengan pembelian TBS dari pengepul kemudian memproduksi minyak sawit, menyimpan hasil minyak sawit sebelum dilakukan penjualan kepada pabrik minyak goreng, melakukan lelang minyak sawit kepada konsumen yaitu pabrik minyak goreng dan yang terakhir adalah melakukan penjualan kepada pemenang lelang
Gambar 5.19 Proses bisnis pabrik minyak sawit
Variabel dan parameter yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kegiatan fungsional yakni jumlah stock minyak sawit yang dimiliki perusahaan, harga minyak sawit lokal atau dalam negeri, harga minyak sawit dunia, biaya-biaya rinci dan total biaya yang digunakan untuk memproduksi minyak sawit. Selain itu beberapa informasi yang dijadikan bahan untuk mengambil keputusan diantaranya adalah harga minyak sawit lokal, harga minyak sawit dunia, jumlah permintaan pabrik minyak goreng dan jumlah permintaan dari eksportir. Tingkat keberhasilan pabrik minyak sawit sebagai agen dalam rantai pasok minyak sawit dapat dilihat dari nilai Key Performance Indicator (KPI). Dimana KPI dinilai berdasarkan jumlah minyak sawit yang dihasilkan dan laba yang diperoleh pabrik minyak sawit.
Kegiatan yang dilakukan oleh pabrik minyak sawit, secara rinci dijelaskan pada Gambar 5.20. Pabrik minyak sawit memproduksi minyak sawit apabila terdapat permintaan minyak sawit dari minyak goreng. Jika, stok TBS tidak mencukupi maka Pabrik minyak sawit membeli TBS
dari Pengepul baik yang telah menjadi supplier tetap mereka ataupun supplier lain apabila TBS yang tersedia tetap belum mencukupi. Pabrik minyak sawit terlebih dahulu memilih TBS yang baik untuk diproduksi menjadi minyak sawit. Apabila produksi minyak sawit yang dihasilkan kurang baik maka dilakukan recycle atau pemrosesan ulang sehingga dihasilkan minyak sawit yang lebih baik.
Gambar 5.20 Diagram alir keputusan pabrik minyak sawit
Pabrik menjual minyak sawit yang telah diproduksi sesuai dengan permintaan pabrik minyak goreng, ataupun pabrik lainnya seperti margarin, kosmetik, dan lain-lain. Pabrik minyak sawit dapat memilih menjual ke pasar lokal ataupun ekspor dengan memperbandingkan harga minyak sawit lokal dan dunia. Apabila harga jual minyak sawit lokal lebih rendah dari harga jual minyak sawit ekspor, pabrik dapat memilih untuk mengekspor minyak sawit, dan sebaliknya. Setelah sepakat untuk melakukan transaksi penjualan kepada agen yang membutuhkan, pabrik melakukan pengiriman minyak sawit kepada pembeli tersebut. Kemudian, pabrik dapat menghitung nilai tambah yang dihasilkan dari penjualan minyak sawit, dan meng-update KPI.
Formula keputusan Pabrik minyak sawit:
1. Membeli TBS sebanyak V-TBS-pu dengan satuan Harga-TBS-pu 2. Memproduksi minyak sawit sebanyak V-TBS/ satuan waktu.
3. Menjual minyak sawit sebanyak V-minyak sawit dengan satuan Harga-minyak sawit kepada pabrik minyak goreng.
4. Vadd = (Volume TBSpu* Psold) – TC
TC = FC + VC
VC (Variable Cost) = (Harga beli TBS * Volume) + (Biaya produksi * Volume TBS)
4) Agen Refinery (Pabrik Minyak Goreng)
Gambar 5.21 Proses bisnis refinery
Gambar 5.21 menggambarkan proses bisnis pabrik minyak goreng (refinery) sebagai agen dalam rantai pasok minyak sawit. Gambar 5.22 menunjukkan proses pengambilan keputusannya. Proses bisnis refinery menjadi faktor yang sangat penting, karena merupakan inti dari rantai pasok minyak sawit. Kegiatan ini diawali oleh pabrik minyak goreng dengan pembelian minyak sawit dari pabrik minyak sawit kemudian memproduksi minyak goreng, melakukan penyimpanan hasil produksi minyak goreng dan yang terakhir adalah melakukan penjualan kepada distributor. Variabel dan parameter yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kegiatan fungsional yakni jumlah stock minyak goreng yang dimiliki
perusahaan, harga minyak goreng, biaya produksi minyak goreng dan biaya-biaya lainnya. Selain itu beberapa informasi yang dijadikan bahan untuk mengambil keputusan diantaranya adalah harga minyak sawit, harga minyak goreng pesaing, permintaan minyak goreng dan permintaan minyak goreng yang diekspor. Tingkat keberhasilan pabrik minyak goreng sebagai agen dalam rantai pasok minyak sawit dapat dilihat dari nilai Key Performance Indicator (KPI). KPI dinilai berdasarkan jumlah minyak goreng yang dihasilkan dan keuntungan yang diperoleh.
Gambar 5.22 Diagram alir keputusan refinery
Kegiatan fungsional pabrik minyak goreng diawali dengan membeli minyak sawit kepada pabrik minyak sawit dengan mempertimbangkan kualitas dan harga minyak sawit yang dijual pabrik minyak sawit. Kemudian pabrik mengolah minyak sawit menjadi minyak goreng, sesuai dengan permintaan pasar baik dari data historis penjualan sebelumnya ataupun data permintaan sekarang. Pabrik minyak goreng dapat menyimpan minyak goreng lebih lama daripada petani, pengepul, ataupun pabrik minyak sawit. Kegiatan selanjutnya, pabrik minyak goreng dapat menjual minyak goreng yang telah diproduksi kepada distributor yang meminta kepada mereka.
Berdasarkan hasil penjualan minyak goreng tersebut pabrik dapat menghitung nilai tambah yang mereka peroleh.
Formula keputusan Pabrik Minyak Goreng :
1. Membeli minyak sawit sebanyak V-Minyak Sawit dengan satuan Harga-Minyak Sawit 2. Memproduksi minyak goreng sebanyak V-Minyak Goreng/ satuan waktu.
3. Menjual minyak goreng dengan satuan Harga-Minyak Goreng kepada distributor 4. Vadd = (Volume Minyak Goreng x Psold) – TC
TC = FC + VC
VC (Variable Cost) = (Harga beli Minyak Sawit x Volume) + (Biaya produksi minyak goreng x Volume Minyak Sawit) + (Biaya inventory x Volume Minyak Goreng)
5. Agen Distributor
Proses bisnis distributor dan proses pengambilan keputusannya digambarkan pada pada Gambar 5.23 dan Gambar 5.24. Informasi harga minyak goreng dan permintaan minyak goreng menjadi dasar informasi dalam pengambilan keputusan untuk membeli dan menjual atau mendistribusikan minyak goreng. Hal ini dipengaruhi oleh harga minyak goreng yang beredar di pasaran, terutama dari pesaingnya sehingga dapat dijadikan perbandingan dalam menentukan harga jual minyak goreng. Biaya-biaya lain, sepeti biaya inventori juga perlu diperhitungkan, sehingga bisa menjadi parameter apakah distributor akan menjual atau menyimpan minyak goreng pada saat terjadi perubahan harga yang fluktuatif.
Kegiatan bisnis distributor lebih sederhana. Distributor membeli minyak goreng kepada pabrik minyak goreng untuk kemudian disalurkan kepada pembeli. Minyak goreng yang berada didistributor bisa memiliki masa simpan yang lebih lama. Keaktifan distributor dalam memesan minyak goreng bergantung pada keluar masuk arus minyak goreng. Semakin banyak penjualan, semakin banyak pemesanan yang dilakukan. Distributor dapat menghitung nilai tambah yang mereka peroleh berdasarkan penjualan yang mereka hasilkan.
Formula Keputusan Distributor
1. Membeli Minyak Goreng sebanyak Vmg dengan satuan Hargamg
2. Menjual minyak goreng dengan satuan Hargamg kepada konsumen
3. Vadd = (Volume Minyak Goreng * Psold) – TC
VC (Variable Cost) = (Harga beli Minyak Goreng * Volume) + (Biaya inventory * Volume Minyak Goreng).