• Tidak ada hasil yang ditemukan

suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa yang melanggar larangan tersebut. 49 Pengertian perbuatan pidana tersebut tidak termasuk pengertian pertanggungjawaban pidana.

Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan dengan suatu ancaman pidana. Apakah orang yang melakukan perbuatan kemudian dijatuhi pidana, tergantung kepada apakah dalam melakukan perbuatan itu orang tersebut memiliki kesalahan.50

Pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai diteruskannya celaan yang objektif yang ada pada perbuatan pidana dan secara subjektif yang ada memenuhi syarat untuk dapat dipidana karena perbuatannya itu. Dasar adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah asas kesalahan. Kapan seseorang dikatakan mempunyai kesalahan menyangkut masalah pertanggungjawaban pidana.51 Dengan kata lain, orang dapat melakukan tindak pidana tanpa mempunyai kesalahan, tetapi sebaliknya orang tidak mungkin mempunyai kesalahan jika tidak melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum.52

Jadi dapat disimpulkan bahwa kesalahan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk memidana seseorang. Tanpa itu, pertanggungjawaban pidana tidak

49 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hal. 59.

50 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hal. 155.

51 Ibid, hal. 156.

52 Suharto RM, Hukum Pidana Materil: Unsur-Unsur Obyektip Sebagai Dasar Dakwaan (Edisi Kedua), Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hal. 107.

akan pernah ada.53 Mengenai pentingnya unsur kesalahan dalam penjatuhan pidana juga terlihat jelas di dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 6 ayat (2)54 yang pada pokoknya menyatakan bahwa unsur kesalahan itu sangat menentukan terhadap akibat dari perbuatan seseorang, yaitu berupa penjatuhan pidana sebagai konsekuensi dari perbuatannya tersebut.

Kesalahan adalah dapat dicelanya pembuat tindak pidana karena dilihat dari segi masyarakat sebenarnya dia dapat berbuat lain jika tidak ingin melakukan perbuatan tersebut. Orang dapat dikatakan mempunyai kesalahan, jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi masyarakat dapat dicela karenanya, yaitu kenapa melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat padahal mampu untuk mengetahui makna perbuatan tersebut, dan karenanya dapat bahkan harus menghindari perbuatan demikian.55

Berdasarkan uraian mengenai pengertian kesalahan, dapat dikatakan bahwa pengertian kesalahan adalah dasar untuk pertanggungjawaban pidana. Kesalahan merupakan keadaan jiwa dari si pembuat dan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya. Adanya kesalahan pada seseorang, maka orang tersebut bisa dicela. Mengenai keadaan jiwa dari seseorang yang melakukan perbuatan merupakan apa yang lazim disebut sebagai kemampuan bertanggung jawab, sedangkan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya itu merupakan

53 Mahrus Ali, Op.cit., hal. 157.

54 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 6 ayat (2) : “Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-Undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.”

55 Mahrus Ali, Op.cit., hal. 157.

kesengajaan, kealpaan, serta alasan pemaaf. Dengan demikian, untuk menentukan adanya kesalahan seseorang harus memenuhi beberapa unsur, antara lain:

1. Adanya kemampuan bertanggungjawab si pembuat.

2. Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya yang berupa kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa).

3. Tidak adanya alasan penghapusan kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf.56

Mengenai keadaan batin orang yang melakukan perbuatan adalah apa yang dalam teori merupakan masalah kemampuan bertanggungjawab (toerekenings vatbaarheid). Ini adalah dasar yang penting untuk adanya kesalahan, sebab bagaimana pun juga, keadaan jiwa terdakwa harus demikian rupa hingga dapat dikatakan sehat/normal. Hanya terhadap orang-orang yang keadaan jiwanya normal sajalah, dapat kita harapkan akan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan pola yang telah dianggap baik dalam masyarakat.57

Berkaitan dengan kemampuan bertanggungjawab, KUHP tidak memberikan perumusan, dan hanya jika kita temui dalam Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) secara negatif menyebutkan mengenai pengertian kemampuan bertanggungjawab itu, ada tidak adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat yaitu:

56 Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korupsi, Prenada Media Group, Jakarta, 2010, hal. 61.

57 Moeljatno, Op.cit., hal. 179.

a. Dalam hal pembuat tidak diberi kemerdekaan memiliki antara berbuat atau tidak berbuat apa yang oleh Undang-Undang dilarang atau diperintahkan, dengan kata lain dalam hal perbuatan yang dipaksa.

b. Dalam hal pembuat ada dalam suatu keadaan tertentu sehingga ia tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum dan tidak mengerti akibat perbuatannya itu nafsu patologis (pathologische drift), gila, pikiran tersebut, dan sebagainya.58

Pasal 44 KUHP berbunyi:

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.

(2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.59

Mengenai ketentuan Pasal 44 KUHP di atas, M. Abdul Kholiq sebagaimana dalam buku Mahrus Ali berpendapat bahwa pelaku perbuatan pidana baru bisa dianggap tidak mampu bertanggungjawab atas perbuatannya, apabila dalam dirinya terjadi salah satu diantara dua hal, yaitu sebagai berikut :

1. Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya, hingga akalnya menjadi kurang sempurna untuk membedakan antara yang baik

58 Muladi dan Dwidja Priyatno, Op.cit, hal. 75.

59 Pasal 44 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

dan yang buruk. Contohnya adalah orang idiot yang melakukan perbuatan pidana.

2. Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh suatu penyakit, hingga akalnya menjadi kurang berfungsi secara sempurna atau kurang optimal untuk membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk. Contohnya adalah orang gila atau orang yang berpenyakit epilepsy yang melakukan perbuatan pidana.

Unsur kedua dari kesalahan atau pertanggungjawaban pidana adalah hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).60 Sehubungan dengan hubungan batin antara si pembuat dan perbuatannya yang berisi menghendaki dan mengetahui, maka dalam ilmu hukum pidana terdapat dua teori, yaitu teori kehendak yang dikemukakan oleh Von Hippel dalam “ Die Grenze von Vorsatz und Fahrlassigkeilm ” (1903) dan teori membayangkan yang dikemukakan oleh Frank dalam “ Festcshrift Gieszen ” (1907). Teori kehendak menyatakan bahwa kehendak membuat suatu tindakan dan kehendak menimbulkan suatu akibat karena tindakan itu. Dengan demikian, “sengaja” adalah apabila akibat suatu tindakan dikehendaki, apabila akibat itu menjadi maksud benar-benar dari tindakan yang dilakukan tersebut.

Sedangkan teori membayangkan adalah manusia hanya dapat menghendaki suatu tindakan, manusia tidak mungkin menghendaki suatu akibat, manusia hanya dapat

60 Muladi dan Dwidja Priyatno, Op.cit, hlm. 76.

menginginkan, mengharapkan atau membayangkan kemungkinan adanya suatu akibat.61

Kesengajaan yang merupakan corak sikap batin yang menunjukkan tingkatan atau bentuk kesengajaan dibagi menjadi tiga, yaitu kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk), kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheidswustzijn), dan kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij noodzakelijkheids).

Kesengajaan sebagai maksud mengandung unsur willes en wetens, yaitu bahwa pelaku mengetahui dan menghendaki akibat dan perbuatannya, arti maksud disini adalah maksud untuk menimbulkan akibat tertentu. Kesengajaan sebagai kepastian adalah dapat diukur dari perbuatan yang sudah mengerti dan menduga bagaimana akibat perbuatannya atau hal-hal mana nanti akan turut serta mempengaruhi akibat perbuatannya. Pembuat sudah mengetahui akibat yang akan terjadi jika ia melakukan suatu perbuatan pidana. Sedangkan kesengajaan sebagai kemungkinan terjadi apabila pelaku memandang akibat dari apa yang akan dilakukannya tidak sebagai hal yang niscaya terjadi, melainkan sekedar sebagai suatu kemungkinan yang pasti.62

Meskipun pada umumnya bagi kejahatan-kejahatan diperlukan adanya kesengajaan, tetapi terhadap sebagian dari padanya ditentukan bahwa di samping kesengajaan itu orang juga sudah dapat dipidana bila kesalahannya berbentuk kealpaan. KUHP tidak memberikan penjelasan tentang pengertian kealpaan (culpa), sehingga secara formal tidak ada penjelasan mengenai apa yang dimaksud

61 Mahrus Ali, Op.cit., hal. 173-174.

62 Ibid, hal. 175.

dengan kealpaan. Oleh karena itu, pengertian kealpaan harus dicari di dalam pendapat para ahli hukum pidana dan dijadikan sebagai dasar untuk membatasi apa itu kealpaan.63

Dikatakan culpa jika keadaan batin pelaku perbuatan pidana bersifat ceroboh, teledor, atau kurang hati-hati sehingga perbuatan dan akibat yang dilarang oleh hukum terjadi. Jadi dalam kealpaan ini, pada diri pelaku sama sekali memang tidak ada niat kesengajaan sedikit pun untuk melakukan suatu perbuatan pidana yang dilarang hukum. Meskipun demikian, ia tetap patut dipersalahkan atas terjadinya perbuatan dan akibat yang dilarang hukum itu karena sikapnya yang ceroboh tersebut. Hal ini dikarenakan nilai-nilai kepatutan yang ada dalam kehidupan masyarakat mengharuskan agar setiap orang memiliki sikap hati-hati dalam bertindak.64 Van Hammel sebagaimana dikutip dari buku Moeljatno mengatakan bahwa kealpaan itu mengandung dua syarat, yaitu:65

1) Tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum.

2) Tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum.

Selain syarat adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat dan hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa) sebagaimana yang sudah dibahas diatas, syarat lainnya untuk adanya kesalahan adalah tidak ada alasan pemaaf.

Pertanggungjawaban pidana dalam delik korupsi lebih luas dari hukum pidana umum. Hal ini nyata dalam hal:

63 Ibid, hal. 177.

64 Ibid, hal. 178.

65 Moeljatno, Op.cit., hal. 218.

1. Kemungkinan penjatuhan pidana secara in absentia ( Pasal 23 ayat (1) sampai ayat (4) UU PTPK 1971; Pasal 38 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU PTPK 1999.

2. Kemungkinan perampasan barang-barang yang telah disita bagi terdakwa yang telah meninggal dunia sebelum ada putusan tidak dapat diubah lagi ( Pasal 23 ayat (5) UU PTPK 1971, Pasal 38 ayat (5) UU PTPK 1999) bahkan kesempatan banding tidak ada.

3. Perumusan delik dalam UU PTPK 1971 yang sangat luas ruang lingkupnya, terutama unsur ketiga pada Pasal 1 ayat (1) sub a dan b UU PTPK 1971; Pasal 2 dan 3 UU PTPK 1999.

4. Penafsiran kata ”menggelapkan” pada delik penggelapan (Pasal 415 KUHP) oleh yurisprudensi baik di Belanda maupun di Indonesia sangat luas. Pasal ini diadopsi menjadi Pasal 8 UU PTPK 2001.

Sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) sampai (4) UU 31/1971 dan Pasal 38 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU 31/1999, pemeriksaan perkara korupsi dan penjatuhan pidana dapat dilakukan tanpa kehadiran terdakwa (in absentia).

Bagi orang yang meninggal sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi, yang diduga telah melakukan korupsi, hakim atas tuntutan penuntut umum dapat memutuskan perampasan barang-barang yang telah disita (Pasal 23 ayat (5)). Kesempatan banding dalam putusan ini tidak ada. Orang yang meninggal dunia tidak mungkin melakukan delik. Delik dilakukan sewaktu ia masih hidup dibatasi sampai pada perampasan barang-barang yang telah disita.

Dalam perumusan Pasal 1 ayat (1) sub a dan b UU 31/1971, terdapat unsur

”langsung atau tidak langsung merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara,” bahkan di sub b ada tambahan kata ”dapat” merugikan keuangan negara. Hal ini menunjukkan bahwa ”keuangan negara” yang timbul akibat perbuatan melawan hukum itu merupakan suatu hal yang dipertanggungjawabkan sama dengan strict liability karena ”langsung atau tidak langsung (dapat) merugikan keuangan negara” merupakan perumusan yang sangat luas artinya sehingga dengan mudah penuntut umum membuktikannya. Kata-kata

”langsung atau tidak langsung” telah dihapus dalam Pasal 2 dan 3 UU 31/1999.

Dalam hal delik korupsi yang berbentuk penggelapan oleh pegawai negeri atau pejabat (Pasal 415 KUHP), yang ditarik menjadi delik korupsi (Pasal 8 UU 20/2001), tercantum unsur sengaja. Dalam yurisprudensi ditentukan bahwa suatu kas bon (pinjaman seorang pegawai pada kas) atas izin bendaharawan, walaupun uang itu dibayar kembali, dirumuskan sebagai penggelapan (Putusan Mahkamah Agung tanggal 7 April 1956).

UU PTPK 1971 menggunakan istilah ”badan” atau ”badan hukum”, tetapi bukan sebagai penanggung jawab pidana, melainkan sebagai pihak yang diperkaya atau diuntungkan oleh delik korupsi (sesuai Pasal 1 ayat (1) sub a dan sub b UU PTPK 1971). Sementara itu, UU 31/1999 jo. UU 20/2001 menjadikan korporasi sebagai subjek delik.66 UU 31/1999 jo. UU 20/2001 memperluas pengertian orang (Pasal 1 sub 3 c menyebut dengan kata ”setiap orang”), termasuk

66 Andi Hamzah, Op.cit., hal. 84.

juga korporasi. Pasal 1 sub 1 UU 31/1999 jo. UU 20/2001 memberi arti korporasi adalah sebagai berikut.

”kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.”

Sementara itu, Pasal 1 sub 3 UU 31/1999 jo. UU 20/2001 menyatakan sebagai berikut.

”Setiap orang adalah orang atau perseorangan atau termasuk korporasi.” Di dalam setiap rumusan delik korupsi UU 31/1999 jo. UU 20/2001 (Pasal 2 sampai dengan Pasal 16, Pasal 21 dan 22) menyebut pelaku delik dengan kata”setiap orang”.

Ketentuan dalam Pasal 1 ayat (2) UU PTPK 1971 (sekarang Pasal 15 UU 31/1999 jo. UU 20/2001) yang mengatur tentang percobaan dan permufakatan melakukan korupsi. Karenanya, ketentuan ini memperluas pertanggungjawaban pidana. Artinya, jika sebelumnya perbuatan seperti itu bukan delik atau si pembuat tidak dipertanggungjawabkan atas perbuatan seperti itu, maka sekarang ini menjadi delik.67

Meskipun belum terjadi perbuatan korupsi secara materiil, permufakatan dalam delik korupsi mempunya pidanai yang sama dengan delik selesai, seperti pada Pasal 1 ayat (1) sub a, b, c, d, dan e UU PTPK 1971 (sekarang Pasal 2, 3, 5 sampai dengan 14 UU 31/1999 jo. UU 20/2001). Begitu pula tentang percobaan melakukan korupsi, pidananya sama dengan delik korupsi selesai.

Dalam percobaan melakukan delik korupsi syarat harus sama dengan ketentuan Pasal 53 KUHP, yaitu harus ada niat, ada permulaan pelaksanaan, dan

67 Ibid, hal. 92.

pelaksanaan tidak selesai bukan karena kehendak sendiri. Hal yang membedakannya dari Pasal 53 KUHP adalah pidananya tidak dikurangi dengan sepertiganya.

Pada dasarnya, korupsi hanya dipahami sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang berhubungan dengan pemerintahan. Esensinya terletak, di satu pihak pada penggunaan kekuasaan atau wewenang dalam suatu jabatan, dan di lain pihak terdapat unsur keuntungan, berupa uang ataupun bukan. Korupsi hanya digambarkan sebagai suatu gejala politik, yang menimbulkan implikasi hukum, khususnya terhadap cara orang memandang korupsi dalam perspektif hukum pidana. Akibatnya, tindak pidana korupsi akan dipersepsikan orang sebagai suatu kejahatan yang hanya mungkin dilakukan oleh pemegang kekuasaan (pejabat) dengan kualifikasi pegawai negeri.68

Dalam konteks cara berpikir yang demikian, mereka yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai pegawai negeri tidak dimungkinkan untuk dituntut dan dipidana sebagai pelaku tindak pidana korupsi.69 Pengertian pegawai negeri menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan sebagai berikut:70

“Pegawai negeri yang dimaksud oleh undang-undang ini meliputi juga orang-orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah atau menerima gaji atau upah dari suatu badan/badan hukum yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah, atau badan hukum lain yang mempergunakan modal dan kelonggaran-kelonggaran dari negara atau masyarakat.”

Sementara itu, menurut Pasal 1 sub 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, pegawai negeri adalah meliputi:71

1. Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Kepegawaian,

2. Pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam KUHP,

3. Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah, 4. Orang yang menerima gaji atau upaha dari suatu korporasi yang

menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah; atau

5. Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.

Dapat dilihat kata-kata “badan/badan hukum” dalam UU PTPK 1971, dalam UU 31/1999 jo. UU 20/2001 diganti dengan kata “korporasi”. Menurut Pasal 1 bagian 1 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian:

“Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Kemudian Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 membedakan Pegawai Negeri atas tiga kelompok, yaitu:

1. Pegawai Negeri Sipil.

71 Pasal 1 sub 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

2. Anggota Tentara Nasional Indonesia.

3. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sementara itu, Pasal 2 ayat (2) menyatakan bahwa Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, terdiri dari:

1. Pegawai Negeri Sipil Pusat.

2. Pegawai Negeri Sipil Daerah.

Dalam hubungan perluasan pengertian pegawai negeri yang ada menurut Undang-Undang Pokok Kepegawaian dan KUHP tersebut oleh UU PTPK, menimbulkan masalah, yaitu apakah ketentuan dalam UU PTPK tersebut berlaku juga bagi perumusan-perumusan delik yang berasal dari KUHP ataukah tidak.72 Korporasi juga dinyatakan mempunyai pertanggungjawaban pidana. Artinya korporasi dapat dijatuhi pidana melakukan delik korupsi. Jadi, yang dapat dijatuhi pidana adalah baik pimpinan yang memberi perintah maupun mereka yang memimpin sendiri perbuatan korupsi itu bersama-sama dengan korporasinya atau salah satunya.73

Kebijakan perundang-undangan mengadakan perluasan subjek tindak pidana korupsi bukan tanpa alasan. Latar belakang ditempuhnya kebijakan untuk mengadakan perluasan adalah, bahwa perilaku koruptif yang merugikan keuangan dan perekonomian negara, ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang yang memenuhi kualifikasi pegawai negeri saja, melainkan juga mereka yang bukan pegawai negeri yang menerima tugas tertentu dari suatu badan negara, atau badan, atau korporasi yang menerima bantuan dari negara, ternyata dapat pula melakukan

72 Andi Hamzah, Op.cit., hal. 74.

73 Ibid, hal. 94-95.

perbuatan tercela yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Demikian pula halnya dengan korporasi, yang diyakini dan diprediksi memiliki potensi melakukan tindak pidana korupsi.74

Peranan korporasi sangat strategis dalam melakukan kejahatan (corporate criminal), terutama korupsi dan memperoleh keuntungan dari hasil korupsi tersebut. Oleh sebab itu, konsepsi pemidanaan yang hanya dapat ditujukan terhadap para pengurus korporasi menjadi tidak adil. Jadi, di samping manusia, badan hukum atau korporasi patut dapat diterima sebagai subjek tindak pidana korupsi.75

Dalam kaitan pertanggungjawaban pidana korporasi sebagai subjek tindak pidana korupsi, permasalahan selanjutnya adalah bagaimana menentukan kesalahan korporasi itu sendiri. Penentuan kesalahan korporasi dilakukan dengan cara mengidentifikasikannya dengan ”sikap batin” pengurus korporasi. Untuk itu harus dibuktikan bahwa pelaksanaan tindak pidana tersebut merupakan ”business policy” yang diputuskan oleh mereka yang berwenang dalam korporasi tersebut, dan keputusan itu diteerima sebagai kebijakan korporasi.76

Dokumen terkait