• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di Indonesia, bentuk-bentuk tindak pidana korupsi pada masa awal kemerdekaan masih sangat sederhana. Hal tersebut dapat dilihat dari perumusan pasal-pasal di KUHP, misalnya suap atau pemaksaan terhadap seseorang untuk memberikan sesuatu oleh para pejabat atau pegawai negeri.39

Korupsi di Indonesia berkembang pesat. Korupsi meluas, ada dimana-mana dan terjadi secara sistematis. Artinya, seringkali tindak pidana korupsi dilakukan dengan rekayasa yang canggih dan memanfaatkan teknologi modern. Seseorang yang mengetahui adanya dugaan korupsi, biasanya jarang melapor ataupun bersaksi, dan ketika berani untuk melapor, terkadang ada oknum penegak hukum yang tidak melakukan tindakan hukum sebagaimana mestinya.40

Perkembangan pengaturan perundang-undangan pidana dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan dan proses pembaruan hukum pidana serta berkaitan erat dengan

39 Muzakkir Samidan Prang, Op.cit., hal. 31.

40 Jawade Hafidz Arsyad, Korupsi dalam Perspektif HAN (Hukum Administrasi Negara), Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 2.

sejarah perkembangan bangsa Indonesia.41 Keberadaan tindak pidana korupsi dalam hukum positif Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama, yaitu sejak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) 1 Januari 1918, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai suatu kodifikasi dan unifikasi berlaku bagi semua golongan di Indonesia sesuai dengan asas konkordansi dan diundangkan dalam Staatblad 1915 Nomor 752, tanggal 15 Oktober 1915.42

Di dalam KUHP, tidak ditemui adanya penggunaaan terminologi korupsi secara tegas dalam rumusan delik, namun terdapat beberapa ketentuan yang dapat dipahami esensinya sebagai rumusan tindak pidana korupsi. Artinya, di dalam KUHP terdapat pasal-pasal tertentu yang secara substansial di dalamnya terkandung pengertian korupsi. Ketentuan-ketentuan tentang tindak pidana korupsi dalam KUHP ditemui pengaturannya secara terpisah di beberapa pasal pada (tiga) bab, yaitu:43

1. Bab VIII menyangkut kejahatan terhadap penguasa umum, yakni pada Pasal 209, dan 210 KUHP.

2. Bab XXI menyangkut perbuatan curang, yakni pada Pasal 387, dan 388 KUHP.

3. Bab XXVIII menyangkut kejahatan jabatan, yakni pada Pasal 415, 416, 417, 418, 419, 420, 423, 425, dan 435 KUHP.

Rumusan tentang tindak pidana korupsi yang terdapat dalam KUHP dapat dikelompokkan atas 4 (empat) kelompok tindak pidana (delik) yaitu:

41 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 17.

42 Ermansjah Djaja, Tipologi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Mandar Maju, Balikpapan, 2010, hal. 32.

43 H. Elwi Danil, Op.cit., hal. 26.

1. Kelompok tindak pidana penyuapan; yang terdiri dari Pasal 209, 210, 418, 419, dan 420 KUHP.

2. Kelompok tindak pidana penggelapan; yang terdiri dari Pasal 415, 416, dan 417 KUHP.

3. Kelompok tindak pidana kerakusan; yang terdiri dari Pasal 423 dan 425 KUHP.

4. Kelompok tindak pidana yang berkaitan dengan pemborongan, leveransir, dan rekanan; yang terdiri dari dari Pasal 387, 388, dan 435 KUHP.

Dengan demikian, secara keseluruhan di dalam KUHP terdapat 13 buah pasal yang mengatur rumusan tindak pidana, yang kemudian dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi. Di Indonesia, langkah-langkah pembentukan hukum positif untuk menghadapi masalah korupsi telah dilakukan selama beberapa masa perjalanan sejarah dan melalui beberapa masa perubahan peraturan perundang-undangan. Istilah korupsi sebagai istilah yuridis, baru digunakan pada tahun 1957, yaitu dengan adanya Peraturan Penguasa Militer yang berlaku di daerah kekuasaan Angkatan Darat (Peraturan Militer Nomor PRT/PM/06/1957).

Masa pengaturan penguasa militer terdiri atas:44

1. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/06/1957 dikeluarkan oleh Penguasa Militer Angkatan Darat dan berlaku untuk daerah kekuasan Angkatan Darat. Rumusan korupsi menurut perundang- undangan ini

44 Evi Hartanti, Op.cit., hal. 22.

ada dua yaitu, tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun juga baik untuk kepentingan sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk kepentingan suatu badan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan kerugian keuangan atau perekonomian.45

2. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/08/1957 berisi tentang pembentukan badan yang berwenang mewakili negara untuk menggugat secara perdata orang-orang yang dituduh melakukan berbagai bentuk korupsi yang bersifat keperdataan melalui Pengadilan Tinggi. Badan yang dimaksud adalah Pemilik Harta Benda (PHB).

3. Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/011/1957 merupakan peraturan yang menjadi dasar hukum dari kewenangan yang dimiliki oleh Pemilik Harta Benda (PHB) untuk melakukan penyitaan harta benda yang dianggap hasil perbuatan korupsi lainnya, sambil menunggu putusan Pengadilan Tinggi.

4. Peraturan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat Nomor PRT/PEPERPU/031/1958 serta peraturan pelaksanaannya.

5. Peraturan Penguasaan Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Laut Nomor PRT/z.1/I/7/1958 tanggal 17 April 1958.

Paradigma pemberantasan tindak pidana korupsi dalam peraturan Penguasa Perang Pusat ini lebih mengutamakan pada pengembalian atau pengamanan harta atau kekayaan negara, hal ini terlihat dengan adanya ketemtuan yang mengatur

45 Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi (UU No.31 Tahun 1999), Mandar Maju, Bandung, 2001, hal. 13.

tentang Pemilik Harta Benda serta kewenangannya melakukan penyitaan terhadap harta benda yang dicurigai telah diperoleh secara melawan hukum. Selain itu, ada ketentuan yang mengatur bahwa tidak akan dilakukan penuntutan secara pidana jika secara sukarela melaporkan kepada instansi yang berwajib tentang perbuatan korupsi yang telah dilakukan dan harta benda yang diperoleh dengan atau karena perbuatan korupsi yang diserahkan kepada negara.46

Selanjutnya, pada tahun 1960 dibentuk Undang-Undang Nomor 24/Prp/Tahun 1960 tentang Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi, yang merupakan perubahan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961.

Sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 dibentuklah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kemajuan antara perumusan tindak pidana korupsi menurut Undang-Undang ini dengan peraturan perundang-undangan sebelumnya antara lain:47

1. Perumusan tindak pidana korupsi dengan unsur ”melawan hukum”, sedangkan peraturan terdahulu dirumuskan dengan unsur “dengan atau karena melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran”.

2. Bentuk delik korupsi merupakan ”delik formil”, berarti bahwa delik korupsi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 merumuskan dalam unsurnya serta bentuknya, akibat nyata dari perbuatan tidak disyaratkan

46 Rohim, Modus Operandi Tindak Pidana Korupsi, Pena Multi Media, Jakarta, 2008, hal.9.

47 Evi Hartanti, Op.cit., hal. 24.

untuk selesainya delik, sedangkan peraturan sebelumnya delik korupsi sebagai delik materiil.

3. Apabila dalam peraturan sebelumnya perumusan terbagi dalam tiga bagian, yaitu tindak pidana korupsi yang hanya bersifat luas dan umum, tindak pidana korupsi yang berupa penyalahgunaan kewenangan atau jabatan serta beberapa pasal delik jabatan dalam KUHP, maka dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 selain hal itu ada pula dirumuskan tindak pidana suap aktif dan suap pasif.

4. Perluasan bentuk tindak pidana korupsi berupa ”percobaan dan permufakatan” melakukan tindak pidana korupsi sudah dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi (delik selesai).

Namun demikian di dalam perkembangannya, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dianggap oleh penegak hukum memiliki beberapa kelemahan, sehingga perlu diganti. Beberapa kelemahan tersebut, antara lain: tidak adanya ketegasan mengenai sifat rumusan tindak pidana korupsi sebagai delik formal, tidak adanya ketentuan yang dapat diterapkan terhadap korporasi sebagai subjek tindak pidana korupsi, serta mengenai sanksi pidana yang hanya menetapkan batas maksimum umum (dua puluh tahun) dan minimum umum (satu hari).

Dengan demikian, dilihat dari segi kebutuhan praktis dalam proses penegakan hukum pidana, dikarenakan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dianggap sudah tidak lagi efektif, maka dibentuklah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang di dalamnya

terkandung aspek-aspek pembaruan hukum pidana.48 Kemudian Undang-Undang tersebut diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

B. Bentuk-Bentuk Perbuatan yang Terkategori Delik Dalam

Dokumen terkait