• Tidak ada hasil yang ditemukan

Formulasi Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Masa yang Akan Datang

KEBIJAKAN FORMULASI TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DI MASA YANG AKAN DATANG

B. Formulasi Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Masa yang Akan Datang

Mengacu pada uraian tentang perkembangan kejahatan kekerasan seksual terhadap anak dan melihat dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan kekerasan seksual tersebut yang dapat mengganngu atau merusak jiwa atau kondisi psikologis dari anak yang menjadi korban tersebut atau dapat dikatakan kondisi masa depan anak menjadi

terganggu dengan kondisi kekerasan seksual yang dialaminya. Demikian juga penegakan hukum terhadap kejahatan kekerasan seksual, tidak hanya diarahkan kepada penegakan keadilan hukum, tetapi juga harus diarahkan pada penegakan keadilan sosial secara simultan. Artinya, tidak hanya sebatas memberikan hukuman atau sanksi pidana kepada pelaku dengan sanksi atau hukuman pidana yang seberat-beratnya, melainkan juga agar dapat terjadi kondisi pemulihan pada diri anak sebagai korban tindak pidana dan masyarakat menyadari akan pentingnya dalam menjaga dan melindungi diri anak-anak disekitar sebagai generasi penerus bangsa.

Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan upaya kebijakan hukum pidana dengan melakukan pembaharuan hukum pidana yakni pembaharuan undang-undang perlindungan anak.Usaha pembaharuan hukum pidana di Indonesia tentunya tidak terlepas dari politik hukum yang bertugas untuk meneliti perubahan-perubahan yang perlu diadakan terhadap hukum yang ada agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru di dalam masyarakat. Politik hukum140

Hal tersebut di atas sejalan dengan yang dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief, yaitu

tersebut meneruskan arah perkembangan tertib hukum dari ‘ius constitutum’ yang bertumpu pada kerangka landasan hukum yang terdahulu menuju pada penyusunan ‘ius constituendum’ atau hukum pada masa yang akan datang.

141

Pembaharuan hukum pidana pada hakekatnya mengandung makna, suatu upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio politik, sosio filosofik, sosio cultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan criminal dan kebijakan penegakan hukum di Indonesia.

:

140 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung : Alumni, 1997), hal. 159

141 Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal. 30.

Ruang lingkup kebijakan hukum pidana terdiri dari tahap formulasi, tahap aplikasi dan tahap eksekusi. Secara garis besar kebijakan legislatif (formulatif) dalam penanggulangan kejahatan meliputi :

- Perencanaan atau kebijakan tentang perbuatan-perbuatan terlarang apa yang akan ditanggulangi karena dipandang membahayakan atau merugikan ;

- Perencanaan atau kebijakan tentang sanksi apa yang dapat dikenakan terhadap pelaku perbuatan terlarang (baik berupa pidana dan tindakan) dan sistem penerapannya ; - Perencanaan atau kebijakan tentang prosedur atau mekanisme sistem peradilan pidana

dalam rangka proses penegakan hukum pidana.142

Dalam rangka melindungi dan menciptakan kesejahteraan masyarakat, hukum pidana mempunyai sentral utuk menyelesaikan konflik (kejahatan) yang terjadi.Masyarakat Indonesia yang heterogen, baik horizontal (suku, agama, ras) maupun vertical (perbedaan kekayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi), pada hakikatnya dapat menjadi factor kriminogen, terutama jika terjadi ketidakadilan dan diskriminasi dalam menangani masyarakat.Dengan demikian, hukum pidana menjadi penting perannya, sekarang dan di masa mendatang bagi masyarakat sebagai control sosial untuk mencegah timbulnya disorder, khususnya sebagai pengendali kejahatan.

Menurut Muladi, pembaharuan hukum pidana bagi penegakan hukum masa mendatang harus mempunyai karakteristik operasional sebagai berikut :

- Hukum pidana tidak boleh mengabaikan aspek-aspek yang berkaitan dengan kondisi manusia, alam, dan tradisi Indonesia ;

142 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2008), hal. 23-24.

- Hukum pidana harus dapat menyesuaikan diri dengan kecenderungan-kecenderungan universal yang berkembang pada pergaulan masyarakat yang beradab ;

- Hukum pidana harus mempunyai aspek yang bersifat preventif. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya tindak pidana, karena secara tidak langsung sudah menumbuhkan perasaan takut untuk melanggar hukum pidana ;

- Hukum pidana harus selalu tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan efektifitas fungsinya dalam masyarakat.143

Berdasarkan karakteristik operasional tersebut di atas yang menyatakan bahwa hukum pidana tidak boleh mengabaikan aspek yang berkaitan dengan kondisi manusia, alam dan tradisi Indonesia. Maka, dalam proses pembentukan atau pembaharuan suatu peraturan seyogyanya juga memperhatikan aspek yang berkaitan dengan kondisi manusia, alam, dan tradisi Indonesia, yang semuanya ini dirangkum dalam sila-sila Pancasila yang menjadi pilar atau pandangan hidup Bangsa Indonesia.

Sejalan dengan karakteristik operasional sebagaimana yang tertera di atas, dapat diperhatikan juga mengenai rumusan pemberian sanksi pidana dalam UU No. 17 Tahun 2016 pada Pasal 81 Ayat (7) yang menyatakan bahwa “terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan cip”. Bunyi dari pasal 81 Ayat (7) tersebut tidak dapat dipahami secara terpisah-pisah, sebab rujukannya yang dapat dikenai pidana tindakan bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak harus dilihat kembali pada ayat sebelumnya, yaitu ayat (4) dan ayat (5).Ketentuan ini pada intinya mengatur jenis tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak berdasarkan siapa pelakunya (ayat 4) dan akibat dari perbuatan

143 Muhari Agus Santoso, Paradigma Baru Hukum Pidana, (Malang : Averroes Pres, 2002), hal. 12-14.

petindaknya (ayat 5).Jika pelaku kekerasan seksual terhadap anak ternyata seorang residivis, maka dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia. Hal demikian juga berlaku pada pelaku yang berdasarkan akibat dari perbuatan pelaku, yakni menimbulkan korban lebih dari satu orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, kepada pelaku ini dikenakan pidana tindakan kebiri kimia.

Beberapa jenis sanksi untuk subjek hukum yang melakukan tindak pidana yang dalam hal ini yakni manusia sebagai pelaku tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak antara lain : pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok terdiri dari pidana penjara dan pidana denda yang bersifat kumulatif.Pidana tambahan seperti pengumuman identitas pelaku sebagaimana yang dirumuskan dalam ketentuan Pasal 81 Ayat (6) dan Pasal 82 Ayat (5). Selain itu, juga dirumuskan ketentuan pidana tindakan yakni berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 81 Ayat (7) dengan ketentuan syarat-syarat seperti yang dirumuskan dalam Pasal 81 Ayat (4) dan Ayat (5) dari ketentuan perppu tersebut. Pidana tindakan ini diputuskan bersama-sama dengan pidana pokok dengan memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.

Memperhatikan rumusan Pasal 81 dan Pasal 82 pengenaan sanksi yang dikenakan kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak berupa : pidana penjara dan pidana denda, hal ini menunjukkan pengenaan pidana dijatuhkan secara kumulatif, mengingat dampak atau akibat dari tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak merugikan kepentingan dan masa depan dari anak tersebut, maka hendaknya pemberian hukuman atau penjatuhan hukuman tidak hanya sebuah hukuman atau sanksi pidana kepada pelaku

dengan sanksi yang seberat-beratnya, melainkan juga harus diperhatikan kepentingan anak yang menjadi korban dengan memberikan sanksi “tindakan tata tertib” yang berupa :

- Mendapatkan rehabilitasi kelainan seksual ;

- Pidana tambahan dalam Perppu No 17 Tahun 2016 yakni pengumuman identitas pelaku, seyogyanya diletakkan dalam ranah pidana tindakan.

Berdasarkan dampak dari perbuatan pelaku tersebut, maka seyogyanya kebijakan hukum pidana di masa mendatang dalam hal formulasi ketentuan peraturan perundang-undangannya ialah tidak dimuatnya ketentuan pidana yang bertentangan dengan hak asasi manusia, yang dalam hal ini ialah tidak dimuatnya sanksi kebiri kimia dalam ranah pidana tindakan.Apabila, sanksi kebiri kimia dilakukan, maka seyogyanya kebiri kimia dirumuskan dalam ranah pidana pokok.Dikarenakan pada hakikatnya antara pidana pokok, pidana tambahan, dan pidana tindakan berpijak pada filosofi pemidanaan yang berbeda-beda.Dalam artian bahwa, harus adanya keseimbangan antara hak asasi antara pelaku dan yang menjadi korban.Korban yang dalam hal ini anak telah terengguh haknya oleh si pelaku dengan melakukan kekerasan seksual, maka hal ini menjadi kewajiban si pelaku untuk menjalani masa sanksi atau hukumannya sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku.

Berdasarkan kondisi tersebut, kebijakan formulatif dalam perumusan ketentuan perundang-undangan tentang perlindungan anak, seyogyanya mengefektifkan sanksi atau hukuman yang telah ada, yakni pidana pokok yaitu pidana mati dan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara maksimal yang sesuai dengan kadar dari perbuatan si

pelaku tersebut. Selain itu, dibutuhkan juga ketegasan dalam hal aplikasinya yakni aparat penegak hukum yang menjalankan roda sistem peradilan pidana tegas dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman kepada pelaku sebagaimana sanksi pidana minimal dan maksimal yang telah termuat dalam ketentuan undang-undang tersebut yang sesuai dengan kondisi dari perbuatan pelaku. Dikarenakan semua aspek harus saling terjalin dengan baik atau dengan kata lain harus saling bekerja sama antara tahap fomulasi, tahap aplikasi dan tahap eksekusi dalam memproses suatu kejahatan atau tindak pidana yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil analisis yang telah dilakukan dan telah tertuang dalam pembahasan di atas, maka kajian-kajian diatas akan disimpulkan sebagai berikut :

1. Ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 yang menetapkan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak merupakan kebijakan hukum pidana yang dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi maraknya kasus kekerasan seksual yang dialami anak sebagai korban. Ketentuan dalam undang-undang tersebut mengatur mengenai sanksi atau hukuman kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak, yang terdiri dari pidana pokok, pidana tambahan dan pidana tindakan. Pidana pokok terdiri dari pidana penjara dan pidana denda. Sedangkan pidana tambahan yakni berupa pengumuman identitas pelaku, dan pidana tindakan yakni kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik sebagaimana yang dirumuskan dalam ketentuan Pasal 81 Ayat (7)

2. Formulasi sanksi kebiri kimia dalam Pasal 81 Ayat (7) bila dikaji dari perspektif Filosofi Bangsa Indonesia, yakni dapat disimpulkan bahwa sanksi tindakan kebiri kimia bertentangan dengan Pancasila, yang dalam hal ini terkhususnya Sila Pertama KeTuhanan yang Maha Esa dan Sila Kedua Kemanusiaan yang adil dan Beradab.

Dalam bidang hukum pidana, nilai Ketuhanan seyogyanya menimbulkan prinsip-prinsip yang memandang manusia sebagai makhluk ciptaanNya yang mempunyai kemuliaan dibandingkan dengan makhluk lain. Oleh karena itu, hukum pidana harus

mengandung isi yang tidak bertentangan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia. Dengan demikian, sanksi yang diancamkan terhadap perbuatan yang dilarang harus mencerminkan penghormatan atas nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan, Mengkaji Sila Kedua, yang dalam hal ini kemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan perspektif hak asasi manusia. Prinsip ini mengakui dan menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang memiliki kesetaraan, namun manusia yang satu akan dilebihkan dari manusia yang lain berkaitan dengan ketakwaannya masing-masing dan penghargaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya.

3. Kebijakan formulasi hukum pidana di masa mendatang, maka hendaknya pemberian hukuman atau penjatuhan hukuman tidak hanya sebuah hukuman atau sanksi pidana kepada pelaku dengan sanksi yang seberat-beratnya, melainkan juga harus diperhatikan kepentingan anak yang menjadi korban dengan memberikan sanksi

“tindakan tata tertib” yang berupa : mendapatkan rehabilitasi kelainan seksual dan pidana tambahan dalam perppu no 1 tahun 2016 yakni pengumuman identitas pelaku, seyogyanya diletakkan dalam ranah pidana tindakan.

Saran

1. Tindakan kebiri kimia yang dipandang dari perspektif politik atau kebijakan hukum pidana tidak tepat untuk diterapkan di Negara Indonesia yang merupakan Negara hukum, yang mana dalam membuat suatu kebijakan dalam bentuk suatu peraturan perundang-undangan harus sejalan dengan jiwa budaya bangsa Indonesia ;

2. Dipandang dari segi Filosofi Bangsa Indonesia yang dalam hal ini yakni Pancasila yang terdiri dari serangkaian sila-sila yang saling berhubungan dan tidak dapat

terpisahkan. Maka, dapat dikatakan tindakan kebiri kimia yang dirumuskan dalam ketentuan hukuman tambahan dalam UU No. 17 Tahun 2016 tersebut tidak sesuai dengan jiwa sila-sila pancasila tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka ketentuan peraturan tersebut dapat dilakukan uji materi atau judicial review kepada lembaga Mahkamah Konstitusi (MK).