1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat dan teori mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan pertimbangan dan pegangan teoritis.17 Teori menempati tempat yang terpenting dalam penelitian, sebab teori memberikan sarana untuk merangkum dan memahami masalah yang dikaji secara lebih baik, sehingga teori berfungsi memberikan penjelasan dengan cara mengorganisasikan dan mensistematisasikan masalah yang dikaji.18
Teori juga bermanfaat untuk memberi dukungan analisa atas topik yang sedang dikaji,19 serta bermanfaat sebagai pisau analisis dalam pembahasan terhadap masalah penelitian, berupa fakta dan peristiwa hukum yang terjadi.20Teori dapat digunakan untuk menjelaskan fakta dan peristiwa hukum yang terjadi sekaligus berfungsi sebagai wacana yang memperkaya dan mempertajam argumentasi dalam memahami masalah yang menjadi objek penelitian.Menurut Soerjono Soekanto kontinuitas perkembangan ilmu hukum selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori.21
a. Teori Pemidanaan
Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah Teori Pemidanaan dan Teori Kebijakan Hukum Pidana sebagai alat untuk melakukan analisis.
Teori-teori pemidanaan berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat sebagai reaksi dari timbul dan berkembangnya kejahatan itu sendiri yang senantiasa
17 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80.
18 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT Cipta Aditya Bakti, 2000), hal. 253.
19 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), hal. 44.
20Ibid, hal. 146
21 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI Press, 2005), hal. 6
mewarnai kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa.Dalam dunia ilmu hukum pidana itu sendiri, berkembang beberapa teori tentang tujuan pemidanaan, yaitu teori absolute, teori relatif, dan teori gabungan.22
1. Teori Retributif (absolut)
Dalam tujuan pemidanaan disandarkan pada alasan bahwa pemidanaan merupakan “morally justified” (pembenaran secara moral) karena pelaku kejahatan dapat dikatakan layak untuk menerimanya atas kejahatannya. Asumsi yang penting terhadap pembenaran untuk menghukum sebagai respon terhadap suatu kejahatan karena pelaku kejahatan telah melakukan pelanggaran terhadap norma moral tertentu yang mendasari aturan hukum yang dilakukannya secara sengaja dan sadar dan hal ini merupakan bentuk dari tanggung jawab moral dan kesalahan hukum si pelaku.
Kant melihat dalam pemidanaan terdapat suatu “imperatif kategoris”, yang merupakan tuntutan mutlak dipidananya seseorang karena telah melakukan kejahatan.Sedangkan Hegel memandang bahwa pemidanaan itu adalah hak dari pelaku kejahatan atas perbuatan yang dilakukannya berdasarkan kemauannya sendiri.23
Teori hukum retributif atau absolut dipandang tepat dipergunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa : teori retributif memandang pemidanaan merupakan pembenaran secara moral kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak, yang mana pelaku kejahatan telah menyadari
22 Dwidja Priyatno, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, (Bandung : PT Rafika Aditama, 2009), hal. 22.
23 Mahmud Mulyadi, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 68-70.
bahwa perbuatan atau tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak merupakan pelanggaran hukum yang telah diakomodir dalam ketentuan undang-undang perlindungan anak. Dengan melakukan kejahatan atau tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak pelaku membenarkan dirinya untuk menerima dan menjalani hukuman yang menjadi haknya.
2. Teori Relatif (Tujuan)
Teori ini disebut juga teori utilitarian. Secara garis besar, tujuan pidana menurut teori relatif bukanlah sekedar pembalasan, akan tetapi untuk mewujudkan ketertiban di dalam masyarakat. Tujuan pidana menurut teori relatif adalah untuk mencegah agar ketertiban di dalam masyarakat tidak terganggu.
Dengan kata lain, pidana yang dijatuhkan kepada si pelaku kejahatan bukanlah untuk membalas kejahatannya, melainkan untuk mempertahankan ketertiban umum. Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana, teori relatif ini dibagi dua yaitu : prevensi umum dan prevensi khusus. Prevensi umum menekankan bahwa tujuan pidana adalah untuk mempertahankan ketertiban masyarakat dari gangguan penjahat. Dengan memidana pelaku kejahatan, diharapkan anggota masyarakat lainnya tidak akan melakukan tindak pidana. Sedangkan teori prevensi khusus menekankan bahwa tujuan pidana itu dimaksudkan agar pelaku kejahatan tidak mengulangi perbuatannya lagi.Dalam hal ini pidana itu berfungsi untuk mendidik dan memperbaiki pelaku kejahatan agar menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna.24
Teori hukum relatif atau tujuan ini dipandang tepat dipergunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini dengan pertimbangan bahwa : dalam teori
24 Suwarto, Individualisasi Pemidanaan (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2013), hal. 25-26.
relatif yang membagi kepada prevensi umum dan prevensi khusus. Dipandang dalam kategori prevensi umum penjatuhan pidana kepada pelaku kekerasan seksual oleh aparat penegak hukum (dalam hal ini sistem peradilan pidana) sesuai dengan bentuk-bentuk hukuman yang telah diakomodir dalam undang-undang perlindungan anak yang terdiri dari hukuman mati, hukuman penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan paling singkat 5 (lima) tahun, yang mana hal ini dapat mencegah masyarakat atau pelaku potensial untuk tidak melakukan kejahatan atau tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak. Disini diperlukan sikap kebijaksanaan dan ketegasan aparat penegak hukum terkhusus Hakim dalam memvonis atau menjatuhkan hukuman yang berat kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak sesuai dengan motif atau cara melakukannya.
Teori relatif atau tujuan dipandang dalam prevensi khusus, bahwa dengan penjatuhan pidana kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak dapat membuat jera pelaku atau dengan kata lain pelaku yang telah menjalani pidana atas perbuatannya menyadari atau menginsyafi akibat dari perbuatan yang dilakukannya, sehingga hal ini menjadikan pelaku di kemudian hari untuk tidak melakukan atau mengulangi kejahatan atau tindak pidana yang serupa.
3. Teori Gabungan atau integratif.
Menurut Muladi dalam Lilik Mulyadi memunculkan konsep tujuan pemidanaan yang disebutnya sebagai tujuan pemidanaan yang integratif (kemanusiaan dalam sistem pancasila).Teori pemidanaan integratif berangkat dari asumsi dasar bahwa tindak pidana merupakan gangguan terhadap keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan masyarakat yang
menimbulkan kerusakan individual dan masyarakat, tujuan pemidanaan adalah untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tindak pidana.
Selanjutnya Lilik Mulyadi mengemukakan, bahwa dengan titik tolak pemidanaan tersebut yang mengacu kepada “filsafat pemidanaan yang bersifat integratif” maka dikaji dari perspektif teori pemidanaan maka penjatuhan pidana oleh hakim berorientasi kepada adanya sifat pembalasan (retributif), pencegahan terhadap pelaku lainnya (deterrence) dan adanya pendidikan bagi pelaku untuk menjadi masyarakat yang berguna nantinya.25
b. Teori Kebijakan Hukum Pidana
Pada dasarnya konteks kebijakan dalam hukum pidana berasal dari terminologi Policy (Inggris) dan Politiek (Belanda).Terminologi itu dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip umum yang berfungsi untuk mengarahkan pemerintah (dalam arti luas termasuk penegak hukum) dalam mengelola, mengatur atau menyelesaikan urusan publik, masalah masyarakat atau bidang penyusunan peraturan perundang-undangan dan mengalokasikan hukum atau peraturan dengan mewujudkan kesejahteraan atau kemakmuran masyarakat (warga Negara).26 Dalam kepustakaan asing istilah “Politik Hukum Pidana” ini sering dikenal dengan berbagai istilah antara lain“penal policy”,“criminal law policy” atau “strafrechts politiek”.27
Pengertian kebijakan atau Politik Hukum Pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. Menurut Sudarto, “Politik Hukum” adalah
25Abul Khair & Mohammad Eka Putra, Pemidanaan, (Medan : USU Press, 2011), hal. 49.
26 Lilik Mulyadi, Komplikasi Hukum Pidana dalam Perspektif Teoritis dan Praktik Peradilan, (Bandung : Bandar Maju, 2010), hal. 86.
27 Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal. 26.
usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat, dan kebijakan dari suatu Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dengan tujuan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.28
Bertolak dari pengertian demikian Sudarto selanjutnya menyatakan bahwa, melaksanakan “Politik Hukum Pidana” berarti mengadakan pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan pidana yang baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna.29Dengan demikian, dilihat sebagai bagian dari politik hukum, maka politik hukum pidana mengandung arti bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundang-undangan pidana yang baik.Pengertian demikian terlihat pula dalam defenisi “penal policy” dari Marc Ancel yang telah dikemukakan sebagai “suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik.”Dengan demikian, yang dimaksud dengan peraturan hukum positif (the positive rule) dalam defenisi Marc Ancel itu jelas adalah peraturan perundang-undangan hukum pidana. Dengan demikian, istilah “penal policy” menurut Marc Ancel adalah sama dengan istilah “kebijakan atau politik hukum pidana”30
Menurut A. Mulder, “Strafrechpolitiek” ialah garis kebijakan untuk menentukan : seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah atau diperbaharui, apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak
28 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung : Alumni, 1981), hal. 159.
29Ibid.
30 Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal. 26-27.
pidana, dan cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan, dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan.31
Defenisi Mulder diatas bertolak dari pengertian “sistem hukum pidana”
menurut Ancel yang menyatakan, bahwa tiap masyarakat yang terorganisir memiliki sistem hukum pidana yang terdiri : peraturan hukum pidana dan sanksinya, suatu prosedur hukum pidana dan suatu mekanisme pelaksanaan pidana.32
Sedangkan Andi Hamzah menyatakan politik hukum dalam artian yang luas yang diartikan bahwa : “Dalam pengertian formal, politik hukum hanya mencakup 1 (satu) tahap saja, yaitu menuangkan kebijakan pemerintah dalam bentuk produk hukum atau disebut “legislative drafting”, sedangkan dalam pengertian materil, politik hukum mencakup legislative drafting, legal executing dan legal review.33
Usaha dan kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan pidana kejahatan.Jadi, kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari politik kriminal. Dengan perkataan lain, dilihat dari sudut politik kriminal, maka politik hukum pidana identik dengan pengertian “kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana”34
Usaha penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana).Oleh karena itu, sering pula dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum
31Ibid,
32ibid.
33 Andi Hamzah, Korupsi di Indonesia, Masalah dan Pemecahannya, (Jakarta : PT Gramedia, 1994), hal.
24.
34 Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal. 28.
pidana merupakan bagian pula dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy).35
Disamping itu, usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-undang (hukum) pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social welfare).Oleh karena itu, wajar pulalah apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social policy).36
Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. Jadi, di dalam pengertian “social policy”, sekaligus tercakup di dalamnya “social welfare policy” dan “social defence policy”37
Dilihat dalam arti luas, kebijakan hukum pidana dapat mencakup ruang lingkup kebijakan di bidang hukum pidana materil, di bidang hukum pelaksanaan pidana.Tulisan ini lebih menitikberatkan pada kebijakan di bidang hukum pidana materil (substantif).38
2. Landasan Konsepsi
Penggunaan konsepsi dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan dalam merumuskan konsep dengan menggunakan model defenisi operasional.39
35Ibid.
36Ibid.
37Ibid.
38Ibid.
39 Universitas Sumatera Utara, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis, (Medan : Universitas Sumatera Utara, 2009), hal. 72
Adapun defenisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
a. Kebiri kimia merupakan memasukkan bahan kimia antiandrogen, baik melalui pil atau suntikan ke tubuh seseorang untuk memperlemah hormone testosteron.
Secara sederhana, zat kimia yang dimasukkan ke dalam tubuh itu akan mengurangi bahkan menghilangkan libido atau hasrat seksual.40
b. Kekerasan seksual pada anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing, saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku.41
c. Anak merupakan seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.42
d. Kebijakan hukum pidana merupakan usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik yang sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat, dan kebijakan dari suatu Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dengan tujuan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.43