• Tidak ada hasil yang ditemukan

KNOWLEDGE

Dalam upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional, SKK Migas bersama Kontraktor KKS mengadakan forum sharing knowledge yaitu forum berbagi pengalaman kesuksesan, sekaligus membangun semangat kemitraan untuk menjawab berbagai tantangan yang semakin beragam. Penyelenggaraan forum diharapkan dapat menemukan pemecahan terhadap tantangan dalam upaya peningkatan produksi, baik yang bersifat teknis maupun nonteknis.

Berikut adalah beberapa forum dan workshop yang dilaksanakan SKK Migas pada tahun 2015:

Industri hulu migas berkomitmen mengutamakan peran industri dalam negeri dalam kegiatan operasionalnya untuk meningkatkan multiplier effect bagi perekonomian nasional.

Salah satu bentuk komitmen itu dicontohkan dalam Pedoman Tata Kerja (PTK) yang dikeluarkan SKK Migas untuk mengatur pengelolaan rantai suplai Kontraktor KKS di industri hulu migas. Salah satu tujuan utama pedoman tersebut adalah peningkatan kapasitas nasional, seperti adanya kewajiban pelaksanaan pengadaan barang/jasa di daerah dan ketentuan mengenai konsorsium harus beranggotakan perusahaan dalam negeri.

Selain itu, perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pebisnis nasional dalam industri hulu migas adalah keterbukaan informasi baik dari sisi industri hulu migas (demand) maupun dari sisi industri pendukung (supply). SCM Summit yang digelar SKK Migas bersama dengan BP dan Petronas merupakan pertemuan tahunan yang menjadi ajang bagi seluruh profesional pengelolaah rantai suplai hulu migas untuk saling bertukar informasi, berbagi pengetahuan, dan merumuskan strategi dan terobosan dalam pengelolaan rantai suplai.

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT SUMMIT 2015 DI JAKARTA, 14-17 MARET 2015 50

Workshop diawali dengan pemberian penghargaan untuk kinerja Kontraktor KKS eksplorasi. Tahun ini, penilaian kinerja WK eksplorasi dilakukan pada 96 WK dengan masa kerja lebih dari 3 tahun. Kriteria penilaian meliputi kewajiban finansial, kewajiban lingkungan, kewajiban komitmen pasti, pemboran eksplorasi, dan penemuan hidrokarbon. Seluruh Kontraktor KKS lebih dulu dinilai berdasarkan pemenuhan kategori basic, yakni pemenuhan kewajiban komitmen pasti, finansial, serta environment and baseline assessment (EBA).

Hasil penilaian untuk kategori basic terbagi dalam empat zona, yakni Hitam, Merah, Merah Muda, dan Biru. Kontraktor KKS dinyatakan masuk zona Hitam apabila belum memenuhi seluruh atau sebagian komitmen pasti, finansial, dan atau hanya melakukan kegiatan eksplorasi berupa studi geologi dan geofisika, atau belum melakukan apa pun. Kontraktor KKS masuk zona Merah apabila baru melaksanakan sebagian kecil komitmen pasti. Zona Merah Muda diperuntukkan bagi Kontraktor KKS yang telah melaksanakan sebagian besar komitmen pasti. Kontraktor KKS dinyatakan masuk zona Biru apabila telah melaksanakan seluruh komitmen pasti, komitmen finansial, dan EBA.

Apabila Kontraktor KKS sudah memenuhi kategori basic dan masuk dalam zona Biru, SKK Migas selanjutnya melakukan penilaian berdasarkan pemenuhan kategori advance, yakni penemuan hidrokarbon. Penilaian untuk kategori advance terbagi dalam dua zona, yakni zona Hijau dan Emas.

Kontraktor KKS dinyatakan masuk zona Hijau apabila sudah masuk zona Biru dan memiliki technical discovery. Sedangkan zona Emas diperuntukkan bagi Kontraktor KKS dengan hasil penilaian basic berada pada zona Biru dan memiliki kemungkinan economic discovery. Dari hasil penilaian kinerja, 13 Kontraktor KKS masuk zona Hitam, 15 Kontraktor KKS masuk zona Merah, 21 Kontraktor KKS masuk zona Merah Muda, 33 Kontraktor KKS masuk zona Biru, 10 Kontraktor KKS masuk zona Hijau, dan 4 Kontraktor KKS masuk zona Emas.

Selain pemberian penghargaan sebagai bentuk reward, SKK Migas juga berupaya secara intensif dan

komprehensif untuk mendukung percepatan komersialisasi WK eksplorasi ke WK eksploitasi yang ditandai dengan rekomendasi dan persetujuan rencana pengembangan lapangan pertama (POD I). Permasalahan di internal Kontraktor KKS menjadi penyebab utama belum terpenuhinya komitmen pasti. Kendala lain yang membuat Kontraktor KKS belum bisa memenuhi komitmen pasti meliputi regulasi, ketersediaan alat dan operasional, subsurface, serta permasalahan fiskal.

WORKSHOP MONITORING KOMITMEN EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI DI JAKARTA, 27 MEI 2015 51

Acara tersebut dihadiri oleh ratusan investor dan pelaku usaha yang tertarik untuk melihat peluang bisnis dari pemanfaatan gas suar bakar atau flare gas.

Acara diskusi dilakukan dalam rangka mengoptimalkan hasil dari kegiatan hulu migas, termasuk flare gas. Flare gas masih mempunyai nilai ekonomis dan masih bermanfaat untuk digunakan oleh masyarakat dan industri, namum pemanfaatan flare gas masih menghadapi beberapa tantangan serius baik secara operasional maupun secara regulasi.

Saat ini terdapat sekitar 200 MMscfd gas suar bakar yang tersebar di berbagai lokasi dengan volumenya berada pada kisaran 0,1 sampai dengan 5 MMscfd di setiap lokasi. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan gas suar bakar yang ada di remote area.

Pemanfaatan gas suar bakar juga masih menghadapi tantangan dari sisi regulasi. Saat ini pemanfaatan gas suar bakar masih diperlakukan sama dengan gas konvensional, yaitu dengan memprioritaskan pasukan untuk sektor kelistrikan. Hal inilah yang masih menjadi kendala dalam monetisasi flare gas di Indonesia.

DISKUSI PANEL MONETISASI FLARE GAS INDONESIA DI JAKARTA, 16 JUNI 2015 52

SKK Migas memfasilitasi pemangku kepentingan untuk mendiskusikan peluang pembangunan kilang minyak mini dengan menitikberatkan kepada identifikasi peluang bisnis kilang mini di Indonesia.

Kehadiran kilang minyak mini di sekitar wilayah operasi bisa menjadi solusi atas kebutuhan bahan bakar minyak yang tinggi sekaligus kondisi lapangan minyak yang tersebar di wilayah Indonesia dengan lokasi terpencil, minim infrastruktur pengangkutan dan pemipaan, serta jauh dari lokasi pembeli. Transportasi minyak dari lapangan-lapangan tersebut selama ini dilakukan dengan menggunakan mobil truk atau angkutan sungai. Dua metode ini sangat sensitif terhadap ketersediaan armada angkut, kondisi cuaca, dan kondisi sosial keamanan. Sedangkan pengangkutan melalui pipa juga tidak selalu ekonomis mengingat jaraknya bisa mencapai 100 sampai dengan 400 kilometer.

Kondisi di atas sering kali menyebabkan produksi minyak pada lapangan-lapangan tersebut harus dihentikan sementara waktu sampai tersedianya armada angkut, yang tetap memakan biaya yang tinggi. Akibatnya, lifting minyak dari lapangan-lapangan tersebut tidak maksimal, yang pada akhirnya mengakibatkan berkurangnya nilai keekonomian lapangan. SKK Migas berharap diskusi panel ini dapat menghasilkan suatu rumusan rekomendasi kepada pemerintah sebagai masukan untuk penyusunan roadmap pembangunan kilang mini. DISKUSI PANEL PROSPEK DAN PENGALAMAN PEMANFAATAN MINYAK UNTUK KILANG MINI DI INDONESIA DI JAKARTA, 27 AGUSTUS 2015 53

Indonesia HR Summit merupakan acara tahunan yang mempertemukan praktisi SDM di seluruh Indonesia. Digelar SKK Migas bersama Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia, penyelenggaraan Indonesia HR Summit berlangsung pada 8-9 September 2015 dan mengangkat tema “Shaping Strong Organization Capability to Sustain Harmonious Industrial Relations in the World’s Business Turbulence”. Acara ini memberi kesempatan bagi kalangan profesional di bidang SDM untuk saling berbagi pengalaman serta membangun dan memperluas jaringan, baik dengan praktisi SDM dalam negeri maupun luar negeri. Selain Menteri ESDM, The 7th Indonesia HR Summit 2015 menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sebagai salah satu pembicara. Dalam kesempatan ini, Susi menekankan pentingnya kontribusi sumber daya manusia untuk membenahi efisiensi proses kerja.

Banyak hal menarik dan provokatif yang didiskusikan dari berbagai sudut pandang dalam The 7th Indonesia HR Summit 2015. Pentingnya membangun relasi industri, keanekaragaman usaha, serta karakter dan etika bisnis menjadi topik yang banyak dibicarakan selama konferensi. Benang merah yang bisa ditarik dari pertemuan tahunan ini adalah pentingnya untuk tetap bersikap positif dan terus berinisiatif dalam menghadapi situasi perekonomian yang sedang lambat.

THE 7TH INDONESIA HR SUMMIT 2015 DI YOGYAKARTA, 8 SEPTEMBER 2015

Pelaksanaan Forum Eksplorasi dan Produksi tahun ini mengangkat tema “Riset dan Eksplorasi: Masa Depan Cadangan dan Produksi Migas Nasional”. Forum ini diharapkan menjadi wadah sharing knowledge antara SKK Migas, Kontraktor KKS, dan para ahli kebumian dalam hal eksplorasi dan eksploitasi migas di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada penambahan cadangan yang signifikan. Di saat yang sama, cadangan yang telah ditemukan terus diangkat ke permukaan. Potensi penemuan cadangan baru di Indonesia sebenarnya masih sangat besar. Potensi sumber daya tersebut hingga saat ini masih menunggu untuk dieksplorasi.

Kondisi harga minyak mentah yang turun drastis sejak akhir tahun lalu menambah justifikasi para pelaku usaha di industri hulu migas untuk mengurangi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Padahal, kondisi tersebut seharusnya dijadikan kesempatan untuk meningkatkan kegiatan eksplorasi, baik survei geologi dan geofisika, pemboran eksplorasi, maupun studi.

Turunnya harga minyak mentah berimplikasi pada penurunan biaya barang dan jasa industri penunjang hulu migas sehingga terbuka peluang untuk memperbanyak kegiatan eksplorasi dengan harapan saat cadangan ditemukan, harga minyak sudah kembali naik.

Hasil diskusi dalam Forum Eksplorasi dan Produksi menjadi acuan dalam menyusun strategi eksplorasi dan eksploitasi yang tepat di masing-masing area sehingga Kontraktor KKS bisa melaksanakan kegiatan tersebut dengan optimal.

FORUM EP 2015 DI JAKARTA, 21-23 SEPTEMBER 2015

SKK Migas melakukan rangkaian kegiatan sosialisasi industri hulu migas di Provinsi Aceh, 12-15 Oktober 2015. Kegiatan bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Industri Hulu Minyak dan Gas Bumi” ini terdiri atas empat kegiatan diskusi di universitas dan satu sesi diskusi dengan media massa dan lembaga swadaya masyarakat. Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari dukungan SKK Migas atas dibentuknya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Sosialisasi tersebut turut menghadirkan nara sumber dari Direktoran Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Aceh. SKK Migas menyampaikan materi tentang bisnis hulu migas, mulai dari kegiatan eksplorasi dan produksi, sampai tata kelola sektor strategis ini. Sosialisasi ini dilakukan di Universitas Syiah Kuala, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Universitas Abulyatama, dan Universitas Malikussaleh. Selain itu, SKK Migas juga menggelar satu sesi diskusi dengan media massa, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi kepemudaan.

MENGENAL LEBIH DEKAT INDUSTRI HULU MINYAK DAN GAS BUMI DI ACEH, 12-15 OKTOBER 2015

Selama ini, sektor hulu migas dan perguruan tinggi sudah terhubung melalui kerja sama studi, kompetisi penulisan karya tulis ilmiah, maupun kerja sama lainnya. Untuk memperlebar hubungan tersebut, SKK Migas menyelenggarakan Forum Akademisi mengenai industri hulu migas bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia, dan Universitas Trisakti di Balairung Universitas Indonesia di Depok pada

25 November 2015.

Banyak tantangan yang dihadapi sektor hulu migas dalam upaya memaksimalkan produksi dan lifting migas untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kendala operasional yang tidak jarang menghambat upaya sektor hulu migas dalam mengoptimalkan produksi, meningkatkan penerimaan negara, serta menumbuhkan multiplier effect pada perekonomian lokal, regional maupun nasional. Permasalahan yang muncul seringkali disebabkan adanya kesalahpahaman maupun kurangnya pemahaman yang menyeluruh mengenai industri hulu migas.

Harapannya melalui acara tersebut dan kerja sama yang berkesinambungan, kalangan akademisi bisa menjadi agen pemberi informasi yang efektif. Obyektivitas yang dimiliki oleh kalangan akademisi bisa mendukung upaya SKK Migas dan seluruh pihak di sektor hulu migas dalam memberikan pemahaman yang benar kepada publik mengenai proses bisnis di hulu migas. Dalam skala yang lebih besar, akademisi mampu menjadi tumpuan bagi pembangunan Indonesia, tak terkecuali di sektor hulu migas.

FORUM AKADEMISI DI DEPOK, 25 NOVEMBER 2015

Sejak tahun 2013, Divisi Eksplorasi SKK Migas melakukan pemetaan terhadap prospek maupun suspended structure yang mungkin dikembangkan dalam jangka waktu dekat setiap tahunnya. Dalam workshop tersebut, Pertamina EP diberikan kesempatan untuk mengajukan PSE untuk struktur-struktur temuan yang dianggap sudah ekonomis dan kondusif untuk dikembangkan. Pada kesempatan tersebut, Pertamina EP mempresentasikan 12 struktur yang terdiri dari 32 closure dengan total potensi sumber daya cadangan (2C) terambil sebesar 351 MMboe dan 11 prospek dengan potensi sumber daya cadangan (2C) terambil sebesar 179 MMboe.

Berdasarkan evaluasi Divisi Eksplorasi SKK Migas, PSE yang dapat diterima dan ditindaklanjuti terdiri dari sembilan PSE yakni, Melandong, Northern PDM, Bambu Merah, Mangkang, North KTB, Karang Makmur, Gandaria, Tundan, dan Step Out Sangatta dengan potensi sumberdaya cadangan (2C) terambil sebesar 285 MMboe. Selain itu, SKK Migas menetapkan target PSE untuk PT. Pertamina EP di tahun 2016 dengan potensi sumber daya cadangan (2C) terambil sebesar 228 MMboe yang berasal dari 5 struktur, yakni Benggala, Bambu Besar, Akasia Bagus, Bunyu, dan Tapen.

Dalam workshop tersebut juga dibahas perihal eksplorasi Pertamina EP di kawasan timur Indonesia. Meski temuan cadangan migas di kawasan timur Indonesia beberapa tahun terakhir ini cukup signifikan, Pertamina EP terlihat kurang agresif dalam mengeksplorasi wilayah kerja yang dimilikinya.

WORKSHOP PENENTUAN STATUS EKSPLORASI (PSE) DI YOGYAKARTA, 22-23 DESEMBER 2015 58

KERJA SAMA DENGAN

Dokumen terkait