• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frans Surdiasis*

Dalam dokumen Karya Terbaik Pers Indonesia (Halaman 52-58)

Catatan Tim Juri Jurnalistik

Untuk Karya Jurnalistik Tajuk Nasional & Nusantara

Tajuk-tajuk media yang masuk sebagai nominator dalam Kompetisi Nasional Media 2019 ini memiliki ciri kualitas yang sama yakni mengangkat isu-isu besar bangsa ini untuk diberi perhatian oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam lima tahun mendatang. Isu-isu yang diangkat ini penting, relevan, dan sebagian lagi mendesak untuk dikerjakan. Melalui tajuk-tajuk ini, media tidak hanya mengidentifikasi persoalan, melainkan juga ikut menawarkan semacam jalan keluar yang bisa dipertimbangkan pemerintah. Tajuk-tajuk ini dapat dilihat sebagai representasi persoalan, semacam agenda media, yang perlu menjadi perhatian pemerintah.

Tajuk Kompas “Menjabarkan Visi Presiden” yang dimuat pada 16 Juli 2019 memberi semacam kerangka besar bagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam lima mendatang. Berangkat dari Pidato Kemenangan Presiden Jokowi, Kompas menaruh perhatian pada bagaimana visi Indonesia 2019-2024 yang mengandung harapan agar Indonesia lebih produktif dan berdaya saing, diterjemahkan secara koheren dalam kerangka kebijakan dan program kerja. Dua hal menjadi pandangan Kompas. Pertama, bagaimana visi diterjemahkan ke dalam kebijakan dan program, serta implementasinya yang mensyaratkan sinkronisasi dari pusat ke daerah. Kedua, Indonesia yang berdaya saing tinggi dengan sendirinya menempatkan SDM sebagai fokus penting. Untuk itu pemerintah perlu membangun infrastruktur SDM yang komprehensif, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga pangan yang kualitas.

Koran Tempo dalam tajuk berjudul “Kembalikan Pesisir kepada

Nelayan” yang dimuat pada edisi 25 Juni 2019 menaruh keprihatinan pada kenyataan bahwa kebijakan zonasi daerah pesisir sama sekali tidak berpihak pada nelayan, kalangan yang seharusnya justru diutamakan. Dalam penyusunan Perda Zonasi di banyak provinsi, aspirasi nelayan tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Peruntukan daerah pesisir justru lebih mengakomodasi kepentingan industri lain seperti pariwisata dan pertambangan. Keprihatinan seperti ini menarik di tengah

kenyataan di sejumlah kawasan pariwisata, nelayan, dan publik bahkan memiliki akses terbatas terhadap kawasan pantai. Tajuk ini membuka mata publik terhadap sebuah persoalan penting yang relatif jarang dibicarakan. Koran Tempo meminta pemerintah untuk mengevaluasi perda-perda zonasi yang telah diterbitkan guna memastikan kawasan pesisir itu dikembalikan kepada nelayan.

Opini Majalah Tempo berjudul “Memutus Siklus Intoleransi” yang dimuat dalam edisi 14 April 2014 mewakili secara baik satu persoalan yang telah menjadi tantangan serius kehidupan berbangsa kita: intoleransi yang terus tumbuh membesar. Bertolak dari sejumlah kasus intoleransi di Yogyakarta, Majalah Tempo menekankan perlunya perhatian dan upaya segera untuk memutus tali rantai intoleransi di Indonesia. Tajuk ini menyiratkan langkah penting dalam memutus siklus intoleransi tersebut adalah keberanian pemerintah untuk bertindak tegas melindungi hak-hak warga negara sekaligus prinsip konstitusi. Di Yogyakarta, langkah itu diambil oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Di tengah geliat perkembangan ekonomi digital, tajuk Investor Daily berjudul “Membangun Ekonomi Lewat Start Up” dalam edisi 30 Juli 2019 mengingatkan pemerintah bahwa pertumbuhan start up digital saat ini perlu diletakan dalam strategi besar pembangunan ekonomi nasional. Visi besarnya adalah bagaimana pertumbuhan start up berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional. Untuk itu pemerintah perlu mendorong agar start up digital ini tidak hanya terkonsentrasi di bidang fintech dan e-commerce sebagaimana yang terjadi saat ini. Dana-dana asing yang masuk ke sektor digital ini perlu juga menyentuh sektor manufaktur, yang akan bersentuhan dengan banyak usaha kecil menengah yang akan menjadi landasan kekuatan ekonomi nasional. Tajuk ini menjadi semacam pengingat soal pentingnya pemerintah merumuskan strategi pengembangan ekonomi digital yang berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang.

Bencana menjadi salah satu problem penting dalam pengembangan pariwisata di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan di dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, kita belum memiliki strategi menyeluruh dalam mengatasi dampak buruk bencana bagi dunia pariwisata. Persoalan inilah yang diangkat dalam tajuk Suara Pembaruan berjudul “Pariwisata dan Kepungan Bencana” edisi 5 Januari 2019. Satu isu penting yang diangkat dalam tajuk ini adalah manajemen bencana yang melibatkan kapasitas untuk melakukan deteksi dini terhadap potensi bencana maupun mitigasi bencana itu sendiri. Pemerintah dalam lima tahun

ke depan, perlu menaruh perhatian serius pada persoalan ini guna mengurangi kerentanan yang ditimbulkan bencana terhadap sektor pariwisata.

Banyak hal telah dilakukan untuk membangun Papua. Semua itu sepertinya masih jauh dari kesanggupan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan di bumi Cenderawasih itu. Media Indonesia dalam tajuk berjudul “Dialog Menuju Papua Damai” pada 11 September 2019 melihat apa yang dilakukan tersebut boleh jadi bukanlah aspirasi utama masyarakat Papua. Untuk itu pemerintah perlu memiliki kapasitas yang lebih baik dalam membangun dialog dengan masyarakat Papua, sebagai jalan terbaik dalam penyelesaian konflik. Tajuk ini mengingatkan kembali dialog sebagai pendekatan penting dalam penyelesaian persoalan Papua.

Tajuk-tajuk yang diangkat sejumlah media nusantara yang masuk dalam nominasi Kompetisi ini menyoroti sejumlah persoalan-persoalan di tingkat lokal. Meski isu yang diangkat bersifat lokal, namun persoalan yang diangkat sejumlah media dalam tajuk ini memiliki resonansi nasional yang perlu mendapatkan perhatian lebih luas. Problem kemiskinan, pariwisata, kawasan terluar Indonesia, pekerja migran, kerukunan maupun inovasi digital adalah serangkaian isu yang tetap relevan menjadi agenda pemerintah dalam lima tahun mendatang.

Tajuk Serambi Aceh berjudul “Seriuslah, agar Aceh Tak Lagi Termiskin” dalam edisi 24 Agustus 2019 menyoroti paradoks Aceh. Dengan statusnya sebagai daerah istimewa, dengan dana pusat yang besar dan kekayaan alam yang memadai, Aceh ternyata masih menyandang status sebagai salah satu provinsi miskin di Indonesia. Di mana letak soalnya? Salah satu problemnya adalah soal kesungguhan di dalam membangun Aceh. Kesungguhan inilah yang diminta Serambi Aceh dalam tajuk ini.

Keprihatinan juga disuarakan Bali Post dalam tajuk “Budaya Agraris sebagai Jiwa Pariwisata Bali” dalam edisi 9 April 2019. Tajuk ini mengangkat kembali persoalan prinsipiil: Pariwisata haruslah dibangun di atas kekuatan masyarakatnya, bukan malah sebaliknya, menghapus identitas masyarakatnya. Fenomena inilah yang mulai ditangkap dalam perkembangan pariwisata Bali. Di tengah besarnya tuntutan untuk mendorong peningkatan jumlah wisatawan, pemerintah melupakan bahwa sendi dasar pariwisata Bali adalah budaya agraris dalam tradisi Hindu. Inilah yang pelan-pelan tergerus. Jika dibiarkan, perkembangan saat ini justru akan melemahkan kekuatan pariwisata Bali dalam jangka panjang. Tajuk ini sesungguhnya bukan hanya lonceng peringatan bagi

Bali, namun juga bagi banyak daerah lain di Indonesia yang menjadikan pariwisata sebagai roda penggerak ekonominya. Bahwa roda penggerak itu harus digerakkan oleh identitas yang menjadi jiwa masyarakat setempat.

Banjarmasin Post dalam tajuk “Perhatian untuk Pulau Terluar”

pada 30 Maret 2019 mengangkat satu persoalan penting yang juga menjadi perhatian pemerintahan Joko Widodo di periode pertama pemerintahannya. Di tengah hiruk-pikuk pemilu, tajuk ini mengingatkan agar pulau-pulau terluar di Kalimantan Selatan sepatutnya menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pusat, tidak hanya di waktu pemilu. Tajuk ini penting karena perhatian terhadap kawasan terluar, meski sudah mulai didorong oleh presiden Jokowi, masih terbilang terbatas dan pemerintah ke depan perlu mengambil langkah kebijakan yang konkret untuk membangun kawasan terluar Indonesia.

Persoalan nasional yang juga penting adalah pekerja migran Indonesia. NTT selama ini terkenal sebagai salah satu daerah pemasok Pekerja Migran Indonesia. Banyak orang NTT mencoba mengadu nasib ke negeri orang. Ironisnya banyak yang pulang dalam peti mati. Inilah yang menjadi keprihatinan tajuk ekorantt.com berjudul “Jenazah, Tanah, dan Beasiswa di NTT” pada 21 Agustus 2019. Bagaimana mengatasi masalah ini? Tajuk ini menawarkan pendekatan yang lebih struktural sifatnya. Problem PMI berawal dari ekonomi lokal yang memiliki kapasitas terbatas, baik yang bersumber pada terbatasnya sumber daya ekonomi seperti tanah, maupun sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan yang baik. Penyelesaian struktural terhadap persoalan PMI di NTT perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas ekonomi lokal dan perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.

Harian Bangsa 12 September 2019 menulis tajuk berjudul “Antara Surabaya, Papua dan Sekolah Kebangsaan”. Tajuk ini mengangkat masalah kemarahan besar yang muncul di Papua menyusul peristiwa yang terjadi di Surabaya. Ini hanya satu kasus. Di negeri ini ada banyak kasus bernuansa rasis lainnya yang kemudian menyulut konflik sosial. Bagaimana mencegah kasus seperti ini? Salah satu akar persoalan adalah trust. Social trust inilah yang harus dibangun melalui interaksi dan dialog yang intens antara warga negara dari berbagai latar belakang. Dalam konteks ini Indonesia memerlukan semacam sekolah kebangsaan yang bisa menjadi wadah interaksi dan dialog tersebut.

Meski Indonesia telah memasuki era digital, namun peluang yang ditawarkan era ini untuk mempermudah penyediaan layanan publik belum sepenuhnya dilakukan pemerintah, termasuk pemerintah

daerah. Kenyataan itulah yang ditangkap Harian Sinar Indonesia Baru dalam tajuk berjudul “Digitalisasi Layanan Publik di Danau Toba” pada 3 Juni 2019. Menjelang lebaran Juni 2019, antrean panjang telah terlihat menuju danau Toba, yang membuat pengalaman berlibur menjadi berkurang kualitasnya. Pemerintah, termasuk pemerintah daerah, perlu melakukan inovasi dengan memanfaatkan peluang yang disediakan era digital untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Suara yang disampaikan tajuk ini relevan untuk peningkatan pelayanan publik di daerah dalam lima tahun ke depan.

*Fransiskus Surdiasis

Saat ini adalah Kepala Litbang di The Jakarta Post. Pernah mengikuti pendidikan jurnalisme investigatif ISAI, dan wartawan di Harian Duta Masyarakat Baru. Pria kelahiran Mejer, Flores 14 Oktober 1971 ini sejak mahasiswa sudah aktif di Penerbitan Pers dan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Balairung di kampusnya, UGM Yogyakarta. Saat ini menempuh S2 di UI.

Karya-karya Terbaik Tajuk Rencana Cetak/Siber Nasional

Berdasarkan penilaian Dewan Juri, berikut ini karya-karya terbaik tajuk rencana cetak/siber nasional pada Kompetisi Nasional Media, Piala Presiden 2019.

1. Kembalikan Pesisir Kepada Nelayan (Koran Tempo, 25 Juni 2019)

2. Membangun Ekonomi Lewat Start Up (Investor Daily, 30 Juli 2019)

3. Dialog Menuju Papua Damai

(Media Indonesia, 11 September 2019) 4. Menjabarkan Visi Presiden

(Kompas, 16 Juli 2019) 5. Memutus Siklus Intoleransi

(Majalah Tempo, 14 April 2019) 6. Pariwisata dan Kepungan Bencana

Sedangkan, karya-karya terbaik tajuk rencana cetak/siber nusantara pada Kompetisi Nasional Media, Piala Presiden 2019, adalah sebagai berikut.

1. Seriuslah, Agar Aceh Tak Lagi Termiskin (Serambi Aceh, 24 Agustus 2019)

2. Perhatian Untuk Pulau Terluar (Banjarmasin Post, 30 Maret 2019) 3. Jenazah, Tanah dan Beasiswa di NTT

(ekorantt.com, 21 Agustus 2019)

4. Budaya Agraris Sebagai Jiwa Pariwisata Bali (Bali Post, 9 April 2019)

5. Antara Surabaya, Papua dan Sekolah Kebangsaan (Harian Bangsa, 12 September 2019)

6. Digitalisasi Layanan Publik untuk Danau Toba (Sinar Indonesia Baru, 3 Juni 2019)

Dari sejumlah karya yang dinilai terbaik, hanya sebagian kecil karya saja yang bisa ditampilkan dalam buku ini.

Kembalikan Pesisir

Dalam dokumen Karya Terbaik Pers Indonesia (Halaman 52-58)

Dokumen terkait