Catatan Tim Juri Jurnalistik Untuk Karya Jurnalistik Televisi
Bagi saya, proses penjurian penghargaan ataupun kompetisi jurnalistik, selalu jadi semacam ritus penuangan minyak ke obor harapan yang meredup. Harapan akan terus eksisnya jurnalisme berkualitas, di tengah hempasan banjir informasi instan dari media sosial dan karya jurnalistik yang remeh temeh, namun memiliki kemampuan membelah diri dan menyebar dengan sangat cepat.
Proses penjurian Kompetisi Nasional Media pun begitu. Ketika menonton dan mencermati satu persatu dari 275 paket story televisi (rinciannya, 208 short story dan 67 long story) yang dikirimkan peserta kompetisi, harapan dan optimisme saya, bahwa jurnalisme berkualitas masih ada dan akan terus ada, bahkan semakin menyala-nyala.
Karya-karya yang kami nilai menunjukkan, semangat lembaga-lembaga pers arus utama, untuk mewartakan hal-hal penting dan ditujukan agar publik bisa menemukan kebenaran, bisa mengambil keputusan dengan benar, ternyata masih berkobar-kobar. Energi untuk menggarap isu-isu penting menjadi berita yang menarik dan komprehensif, juga masih membara dan banyak tersedia.
Dan, yang lebih membuat optimisme saya menggelora: semangat dan energi semacam itu bukan hanya terpusat di Jakarta, tetapi juga muncul dan lahir di daerah-daerah. Hampir 30% dari karya peserta Kompetisi Nasional Media 2019, merupakan produksi stasiun televisi lokal maupun jaringan di daerah.
Dalam kompetisi ini, karya televisi dibagi dalam dua kategori, paket long story panjang dan paket short story. Sebanyak 67 karya long
story, dengan total durasi kotor 30-60 menit, terbagi beberapa segmen.
Selebihnya, yaitu 208 karya short story, durasinya sekitar dua menit, dalam satu segmen.
Tema yang paling banyak adalah pariwisata (28%). Disusul tema Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Berkesejahteraan Sosial (20,4%), Persatuan dan Kerukunan Bangsa (18,2%), Pendidikan dan
Pengembangan SDM di Era 4.0 (17,8%) dan Pengembangan Industri Berbasis Pemanfaatan Teknologi Digital (15,6%).
Dari aspek teknis, sebagian dari karya daerah, kalah unggul dibandingkan karya-karya produksi lembaga pers di Jakarta. Namun, dari sisi ide, karya-karya jurnalistik televisi daerah, sangat kompetitif. Mereka berusaha teguh mempertahankan unsur proksimitas, sehingga liputannya memiliki nilai lokal yang kuat dan inspiratif, sehingga bisa ditarik ke dimensi nasional.
Story “Warisan Untuk Cucu” (Net TV Yogyakarta) misalnya,
mengupas kisah warga yang tinggal di bantaran kali Gajah Wong, Yogyakarta. Masyarakat di sana membuat dan mengeksekusi sendiri konsep perubahan agar lingkungan tinggalnya jadi lebih nyaman, aman, dan manusiawi. Kampung kumuh dengan gang-gang sempit yang sulit dilalui, apalagi jika membawa orang sakit atau mengusung jenazah, kini sudah berubah. Jadi jalan kampung yang lebar dan asri dengan rumah-rumah yang menghadap ke kali. Tidak lagi memunggungi kali.
Kisah tentang perjuangan warga yang menjadi pionir perubahan, serta pemerintah daerah yang memosisikan diri sebagai fasilitator ini, bisa jadi salah satu model penanganan daerah-daerah kumuh di perkotaan dengan mengutamakan inisiatif dan energi perubahan dari bawah (buttom up), bukan dipaksakan dari atas (top down). Paket story ini kuat dari sisi ide dan digarap dengan baik dan menarik.
Alternatif solusi merupakan aspek penting yang sejak awal disosialisasikan dan diharapkan muncul dari karya-karya peserta. Karena Kompetisi Nasional Media untuk merebut Piala Presiden diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kompetisi karya jurnalistik, tetapi juga ada fungsi proses dan upaya-upaya penyelesaian masalah kebangsaan. Harapan itu relatif terpenuhi. Alih-alih hanya memaparkan persoalan, sebagian besar karya peserta juga mengeksplorasi atau paling tidak menggambarkan realitas yang bisa dibaca sebagai kemungkinan solusi.
Story “Praktik Pancasila di Kampung Sawah” misalnya,
menggambarkan tentang kerukunan antara umat beragama, bisa terlembaga dan dilestarikan melalui pendekatan budaya. Contoh kongkret kesehariannya bisa dilihat di Kampung Sawah, Bekasi. Story ini merupakan produksi Narasi TV, perusahaan pers yang mendistribusikan konten audio visualnya melalui platform internet.
Keikutsertaan perusahaan pers seperti Narasi TV dalam kompetisi untuk kategori televisi, merupakan sebuah langkah progresif, mengingat
selama ini pemahaman tentang karya jurnalistik televisi lebih banyak yang berhenti pada karya jurnalistik produksi stasiun-stasiun televisi, sementara perkembangan teknologi memungkinkan munculnya televisi-televisi baru yang menggunakan platform baru di luar platform terastral, satelit, dan kabel.
Sekali lagi, kompetisi ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya Pers untuk turut serta memberikan input atas persoalan-persoalan bangsa kepada pemerintah dan publik. Karenanya, kompetisi ini tidak mendudukkan pers dan karya jurnalistik sekedar sebagai penonton (spectator). Karya jurnalistik bisa memberikan penonjolan dan mempromosikan konsep ataupun upaya tertentu.
Story “SMK PGRI Kudus Miliki Fasilitas Salon dan Spa Internasional”
(Kompas TV) misalnya, menonjolkan alternatif tentang bagaimana sekolah kejuruan mesti dikembangkan, agar kualifikasi lulusannya benar-benar siap pakai dan cocok dengan kebutuhan industri tak hanya di tingkat lokal atau nasional, tetapi juga dunia.
Indonesia dikenal sebagai surga kopi di dunia. Salah satu daerah yang sejak zaman Belanda sudah menjadi pemasok kopi berkualitas ke pasar dunia adalah dataran tinggi Gayo, Aceh. Kopi Gayo bahkan menjadi salah satu kontributor penting kesehatan keuangan pemerintah Belanda yang compang-camping pasca Perang Dunia. Kopi yang dipanen dan diolah di Tanah Gayo, menghasilkan banyak uang dan turut berjasa mengurai lilitan utang Belanda kepada pemerintah Inggris dan Belanda. Utang yang muncul akibat dera perang. Namun, pabrik dan perkebunan kopi terbesar Belanda di Gayo kini sudah nyaris roboh. Salah satu pabrik bahkan sudah runtuh total dan hanya tersisa tapak-tapak bangunannya. Story “Gayo, Serambi Penikmat Kopi” produksi TVRI menggambarkan runtuhnya kejayaan industri kopi di Gayo ini serta potensi-potensi untuk mengembangkannya kembali.
Dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia menikmati bonus demografis, seiring membesarnya kelompok warga usia produktif dalam piramida penduduk. Namun, dalam dua hingga tiga dekade kemudian, kita akan mendapatkan “bonus” manusia lanjut usia (lansia) yang akan menjadi beban negara dan masyarakat jika tidak diantisipasi melalui strategi penanganan yang solid dan berkelanjutan. Story “Jalan Sunyi Para Lansia” mengingatkan pemerintah dan masyarakat mengenai pentingnya perhatian dan perencanaan dini dalam menangani lansia di negeri ini. Masalah penting yang menantang kita untuk memikirkan dan segera menyusun konsep yang tepat dan komprehensif mengenai penanganan lansia ini, disajikan melalui bahasa audio visual yang tidak
hanya menarik, tetapi juga menyentuh.
Lalu, story “Air untuk Sumba” produksi Metro TV, menceritakan tentang kesulitan warga di Sumba mendapatkan akses air bersih.
Story dari kelompok tema Percepatan dan Pemerataan Pembangunan
Berkesejahteraan Sosial ini, tidak hanya berisi visual dramatik kesulitan warga di tengah lanskap pemandangan tanah Sumba yang indah. Juga menguliti perjuangan dan berbagai alternatif solusi yang dilakukan warga, LSM dan juga pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut.
Selain itu, masih banyak karya lain yang bagus dan menginspirasi. Seperti story tentang sekolah madrasah di Depok yang tak hanya mengajarkan muridnya untuk pandai mengaji, tetapi juga jago IT (information technology). Mereka berhasil menang dalam kompetisi robotik di Australia. Juga ada story tentang siswa SMA Taruna Nusantara yang menang lomba karya ilmiah melalui percobaan yang menunjukkan bahwa lendir bekicot bisa melubangi kantong plastik dalam waktu sekitar 20 hari.
Masih banyak karya-karya lain lagi. Disrupsi teknologi yang membuat banyak media arus utama mati atau setengah mati, belum sampai mematikan semangat dan energi untuk memberikan asupan karya-karya jurnalistik berkualitas kepada publik. Namun, tidak tertutup kemungkinan, keduanya bakal segera lenyap jika media tidak segera menemukan konsep dan model bisnis baru yang cocok, yang bisa menjaga lembaga pers bukan hanya eksis sebagai lembaga yang menjalankan fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan hiburan, tetapi juga sebagai lembaga ekonomi. Di sisi inilah kehadiran dan peran pemerintah sebagai fasilitator sangat dibutuhkan.
*Imam Wahyudi
Direktur Content Creative Indonesia (CCI), saat ini adalah Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Sering didaulat menjadi juri Anugerah Adinegoro, KPI dan sejumlah kompetisi jurnalistik nasional lainnya. Alumnus UGM ini pernah bekerja di Harian Sore Wawasan, RCTI dan Kanal Berita TV di Astro Indonesia, lalu terpilih menjadi anggota Dewan Pers periode 2013-2019.
Karya-karya Terbaik Jurnalistik Televisi
Berdasarkan penilaian Dewan Juri, berikut ini karya-karya terbaik jurnalistik televisi pada Kompetisi Nasional Media, Piala Presiden 2019.
Warisan Untuk Anak Cucu
Produksi: NET TV
Link: https://youtu.be/9eFa77B9tAY
Praktik Pancasila di Kampung Sawah
Produksi: Narasi TV
Link: https://www.narasi.tv/narasi-people/praktik-pancasila-di-kampung-sawah
Harmoni di Kampung Toleransi
Produksi: RTV
Link: https://youtu.be/dQ5vZ-669_U
Koanara, Wisata Penyangga Danau Kelimutu Bangun Pariwisata Wujudkan NTT Bangkit
Produksi: INews TV Kupang
Link: https://www.youtube.com/watch? v=NaEkHfQe8ac
SMK PGRI Kudus Miliki Fasilitas Salon dan SPA Standar Internasional
Produksi: Kompas TV
Link: https://youtu.be/lIYXyboc-vY
Gayo, Serambi Penikmat Kopi
Produksi: TVRI
Link: https://drive.google.com/file/d/10WghqUdqCLeGQ9mcYxV5_ SvF1Wp3o6 mW/view?usp=drivesdk
Jalan Sunyi Para Lansia
Produksi: Kompas TV
Segmen 1: https://www.youtube.com/watch?v=tauiMIrNa_A Segmen 2: https://www.youtube.com/
watch?v=QyKesQImZ8s&t=4s Segmen 3: https://youtu.be/_ sYhmVdc_vU
Air Untuk Sumba
Produksi: Metro TV
Segmen 1: https://www.youtube.com/watch?v=Aa2ztjy-I5Y Segmen 2: https://www.youtube.com/watch?v=Aal-OUh08i4 Segmen 3 : https://www.youtube.com/watch?v=ubjaUtqU-_M
Berkah Bambu untuk Desa Dongko
Produksi: CNN Indonesia
Link: https://youtu.be/WjZAa6DiVKw
Nyanyian Kampung Halaman
Produksi: Daai TV Medan
Link: https://youtu.be/CmlIGPMn-3U
Zamrud di Utara Indonesia
Produksi: Indosiar
Link: https://www.vidio.com/watch/1698136-kita-indonesia-natuna-zamrud-di- utara-indonesia