• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA

B. Fraud

1. Pengertian Fraud

Albrecht, dkk.(2009:7), mendefinisikan fraud sebagai berikut. Secara umum, fraud dapat didefinisikan sebagai satu istilah umum dan mencakup semua cara yang dapat dirancang oleh kecerdasan manusia, yang melalui satu individu, untuk memperoleh keuntungan dari orang lain dengan penyajian yang salah. Tidak ada aturan yang pasti dan seragam untuk dijadikan dasar dalam mendefinisikan fraud karena fraud mencakup kejutan, penipuan, kelicikan dan cara-cara lain dimana pihak lain dicurangi. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa fraud adalah tindakan yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri maupun pihak tertentu dengan berbagai cara yang tidak benar.

2. Fraud Triangle

Banyak hal yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan fraud. Mengacu pada Albrecht, dkk. (2009:33), ada tiga elemen kunci yang menyebabkan seseorang melakukan fraud yang biasa dikenal dengan fraud triangle. Ketiga komponen tersebut adalah:

a. Tekanan (pressure)

Tekanan atau tuntutan yang mendorong seseorang untuk melakukan fraud

dapat dibagi menjadi lebih spesifik: 1) Tekanan keuangan

Tekanan keuangan merupakan hal umum yang mendorong seseorang melakukan fraud, hal ini dapat berupa:

a) Keserakahan.

b) Hidup dibawah kehendak orang lain. c) Banyak hutang.

d) Kerugian ekonomi pribadi. e) Kebutuhan uang yang mendadak. 2) Kebiasaan buruk

Motivasi melakukan fraud dapat disebabkan karena kegemaran berjudi, obat-obatan terlarang, kecanduan alkohol, serta biaya hidup keluarga yang mahal.

3) Tekanan berkaitan dengan pekerjaan

Seseorang dapat melakukan fraud karena merasa hasil pekerjaannya kurang dihargai oleh perusahaan, takut kehilangan pekerjaan, tidak puas dengan pekerjaan, takut tidak mendapat promosi jabatan, dan merasa kurang dihargai secara ekonomi.

4) Tekanan lainnya

Tekanan lain bisa berupa keinginan pasangan yang ingin hidup mewah, ingin membahagiakan orang tua, serta tekanan lain yang tidak tercakup dalam tiga poin di atas.

b. Peluang (opportunity)

Fraud tidak hanya terjadi jika ada tekanan, tetapi juga ketika calon pelaku

fraud melihat adanya peluang untuk melakukan kecurangan.Ada beberapa faktor utama yang dapat meningkatkan peluang yang mendorong seseorang untuk melakukan fraud yaitu:

1) Kurangnya pengendalian untuk mencegah dan mendeteksi perilaku yang menyimpang.

2) Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja dengan tepat. 3) Kegagalan dalam mendisiplinkan pelaku fraud.

4) Kurangnya informasi.

5) Ketidakpedulian, apatis, dan ketidakmampuan. 6) Kurangnya jejak audit

c. Rasionalisasi (rationalization)

Kecenderungan pelaku fraud adalah membenarkan tindakan yang dilakukannya dengan pola pikir tertentu seperti “tidak akan ada yang dirugikan,” “perusahaan berhutang kepada saya,” “semua orang juga melakukan hal yang sama,” dan alasan-alasan lain.

3. Mendeteksi Fraud

Mendeteksi kecurangan adalah upaya untuk mendapatkan indikasi awal yang cukup mengenai tindak kecurangan, sekaligus mempersempit ruang gerak para pelaku kecurangan (Kumaat: 2011, 156). Menurut Kumaat (2011), cepat lambatnya pendeteksian fraud bergantung pada:

a. Faktor di pihak pelaku, yaitu kemampuannya menyiasati sistem atau menutup celah dari praktik kecurangannya, sehingga menentukan tingkat kerumitan suatu tindak kecurangan.

b. Faktor yang ditentukan oleh kapasitas auditor sendiri, yaitu kemampuannya mengembangkan audit berbasis risiko (risk based audit) dan membangun jaringan informan (audit intelligence) dengan tetap bersikap hati-hati.

Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya pendeteksian

fraud dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut ini.

Gambar 2.1. Faktor-Faktor Penyebab Cepat/Lambatnya Deteksi Kecurangan Kelihaian PELAKU Kapasitas AUDITOR Efektivitas Informan

Deteksi

Kecurangan

CEPAT

(Para) Pelaku tidak cermat menutupi fakta/bukti Praktek Kecurangan

(Tim) Auditor jeli dalam memfokuskan audit pada Critical Risk Pointtertentu (Jaringan) Informan berada dekat (di sekitar)

Pelaku dan percaya pada komitmen Auditor

Deteksi

Kecurangan

LAMBAT

(Para) Pelaku lihai menyiasati Data/Sistem, termasuk Sistem Pengawasan (Tim) Auditor kurang mampu mengembangkan Indikasi Awal untuk masuk ke praktek Pelaku (Jaringan) Informan relatif di luar area praktek Pelaku atau ragu dengan kapasitas Auditor

4. Kompetensi untuk Mengenali dan Memerangi Fraud

Untuk dapat mengenali dan memerangi terjadinya fraud, dibutuhkan kompetensi dan pengetahuan yang relevan. Mengacu pada Albrecht, dkk.(2009:16), sebagai seseorang dengan karir pemberantas fraud, kita harus memiliki kemampuan-kemampuan berikut:

a. Kemampuan analitis, hal ini diperlukan karena proses deteksi dan investigasi dari suatu fraud merupakan suatu proses analitis dimana pemeriksa mengidentifikasikan jenis fraud yang mungkin terjadi dan gejala yang mungkin timbul serta cara-cara untuk memeriksa dan menindaklanjuti gejala-gejala fraud yang ditemukan.

b. Kemampuan komunikasi, komunikasi merupakan hal yang penting dalam semua bidang, termasuk juga dalam pemeriksaan fraud. Pemeriksa fraud menghabiskan kebanyakan waktunya dengan melakukan komunikasi baik secara langsung seperti interview maupun secara tidak langsung melalui kuesioner. Informasi yang diperoleh melalui komunikasi tersebut kemudian disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

c. Pengetahuan tentang teknologi, seiring berkembangnya zaman, pemeriksaan

fraud tidak lagi hanya terfokus pada dokumen-dokumen fisik, tetapi

mencakup data-data dalam bentuk digital atau data elektronis. Dengan bantuan teknologi, pemeriksa dapat menganalisa data yang berjumlah sangat besar dalam waktu yang sangat singkat.

Selain hal-hal di atas, ada kemampuan tambahan lain yang dapat membantu para pemeriksa fraud dalam melaksanakan tugasnya:

a. Pemahaman akuntansi dan bisnis, kecenderungan para pelaku fraud adalah menyembunyikan tindakannya dan bukti-bukti yang terkait, salah satu caranya adalah dengan mengubah pencatatan akuntansi dan memodifikasi dokumen. Pemeriksa yang memahami akuntansi akan dapat menemukan kejanggalan dalam pencatatan akuntansi yang diubah.

b. Pengetahuan mengenai hukum perdata dan pidana, kriminologi, privasi karyawan, hak karyawan, undang-undang fraud, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fraud, seseorang yang melakukan fraud dapat dituntut secara perdata maupun pidana, pengetahuan ini akan membantu pemeriksa

fraud dalam menentukan tuntutan yang akan ditujukan ke pelaku, selain itu

pemeriksa fraud juga dapat melaksanakan pencarian bukti dengan cara yang dianggap tidak melanggar hukum, serta kapan penegakan hukum perlu dilibatkan.

c. Kemampuan berbicara dan menulis dalam bahasa asing, seiring mudahnya komunikasi dan transportasi, kecurangan terkadang tidak terjadi di satu negara saja melainkan di negara lain yang berhubungan dengan organisasi atau perusahaan. Hal ini mengakibatkan proses pemeriksaan fraud tidak hanya di satu negara tetapi antar negara. Kemampuan berbicara dan menulis dalam bahasa asing tentu akan sangat membantu dalam proses pemeriksaan.

Pengetahuan tentang perilaku manusia, termasuk mengapa seseorang dapat menganggap ketidakjujuran sebagai sesuatu yang benar, bagaimana reaksi

pelaku fraud ketika tertangkap, dan apa saja cara yang paling efektif untuk menghalangi seseorang berbuat curang. Pengetahuan seperti ini dapat dipelajari dalam bidang ilmu yang berkaitan dengan manusia seperti psikologi, psikologi sosial, atau sosiologi.

Dokumen terkait