BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2 Karakteristik Lansia
4.3.2 Jumlah Kalori ( Energi, Karbohidrat, Protein, dan Lemak)
4.3.3.1 Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Pokok…
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 95 orang responden, nasi merupakan jenis makanan yang selalu dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat (1-3 kali sehari) sebanyak 100%.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Pokok
Frekuensi Makan
4.3.3.2 Frekuensi makan responden berdasarkan lauk pauk
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa lauk yang selalu (>1x/sehari) dikonsumsi lansia adalah ikan gembung sebanyak 58,9%, ikan tongkol sebanyak 57,9%, Ikan yang sering (1x/hari) dikonsumsi adalah ikan teri sebanyak 37,9%, ikan lele sebanyak 35,8%, ikan asin dan tahu sebanyak 30,5%. Jenis ikan yang selalu dan sering dikonsumsi karena ketersedian banyak dan mudah diperoleh di pasar dan kedai. Untuk lauk pauk dari sumber nabati tempe merupakan jenis yang selalu dikonsumsi sebanyak 41,0%.
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Lauk Pauk
4.3.3.3 Frekuensi makan responden berdasarkan sayur-sayuran
Jenis sayuran yang selalu dikonsumsi (>1x/hari) dan sering (1x/hari) dikonsumsi adalah daun ubi, bayam, dan kangkung. Daun ubi sebanyak 44,2 % dan 34,7%, bayam sebanyak 36,8% dan 35,8%, dan kangkung sebanyak 21,0% dan 34,7%. Jenis sayuran yang selalu dan sering dikonsumsi karena mudah diperoleh dan banyak ditanam dipekarangan rumah. Daun ubi biasanya lebih sering digulai, untuk olahan bayam biasanya lebih sering di rebus dan di tumis dan kangkung lebih sering ditumis.
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Sayuran
4.3.3.4 Frekuensi makan responden berdasarkan buah-buahan
Untuk buah-buahan sebagian besar lansia pada kategori sering (1x/hari) dikonsumsi adalah jeruk sebanyak 55,8%, pisang sebanyak 45,3% dan salak sebanyak 34,7% karena mudah didapat dipasar setiap minggunya.
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Buah-
4.3.3.5 Frekuensi makan responden berdasarkan makanan selingan
Makanan selingan yang selalu (>1x/sehari) dikonsumsi adalah kolak pisang sebanyak 33,7% dan bubur kacang hijau 30,5%. Makanan selingan yang sering (1x/hari) dikonsumsi adalah gorengan sebanyak 40,0%, kue basah sebanyak 34,7% dan bubur kacang hijau 32,6%.
Gorengan yang sering dikonsumsi adalah bakwan, pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, dan tempe goreng. Sedangkan jenis kue yang sering dikonsumsi adalah kue dadar, lemper, kue lapis, bolu kukus, kacang hijau, getuk dan sebagainya.
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Selingan
4.3.3.6 Frekuensi makan responden berdasarkan minuman
Jenis minuman yang selalu (>1x/hari) dikonsumsi adalah teh manis sebanyak 56,8%
dan susu sebanyak 52,6 %.
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Minuman
Frekuensi Makan
4.3.4 Jadwal makan
Jadwal makan merupakan waktu pada saat lansia melakukan kegiatan makan. Jadwal makan terdiri dari jadwal makan pagi, makan siang dan makan malam. Distribusi lansia menurut pembagian jadwal makan dijelaskan sebagai berikut :
4.3.4.1. Makan pagi
Makan pagi merupakan sesuatu yang sangat penting dilakukan karena makan pagi dapat memberikan energi untuk melakukan aktifitas sepanjang hari. Jadwal makan pagi dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pada tabel 4.10 dapat dilihat bahwa 37,9% lansia memiliki jadwal makan pagi sebelum pukul 09.00 WIB. Distribusi lansia menurut jadwal makan paginya tersaji dalam tabel berikut :
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Pagi
No. Jadwal Makan Pagi n =(95) %
1. <09.00 WIB 36 37,9
2. >09.00 WIB 59 62,1
4.3.4.2. Makan siang
Mengonsumsi makanan pada tengah hari akan mengembalikan energi pada tubuh dan menaikkan kembali kadar gula darah ketika fokus dan konsentrasi mulai menurun. Waktu makan siang setiap orang pun berbeda-beda. Pada tabel 4.11. dapat dilihat bahwa sebagian besar lansia memiliki jadwal makan siang 12.00 - 13.00 WIB yakni sebanyak 56,8%. Adapun distribusi jadwal makan siang lansia disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Siang
No. Jadwal Makan Siang n =(95) %
1. 12.00 – 13.00 WIB 54 56,8
2. >13.00 WIB 41 43,2
4.3.4.3. Makan malam
Makan malam sering dikhawatirkan menjadi penyebab timbulnya kelebihan berat badan pada seseorang dan dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti diabetes melitus. Hal ini bukan menjadi kesimpulan bahwa makan malam tidak baik untuk dilakukan.
Pemilihan waktu makan yang tepat merupakan cara yang baik untuk mencegah masalah kenaikan berat badan tersebut. Tabel 4.12 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengonsumsi makan malam >19.00 WIB dengan total 62,1%. Distribusi jadwal makan malam lansia tersaji dalam tabel berikut :
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Malam
No. Jadwal Makan Malam n =(95) %
1. 18.00 – 19.00 WIB 30 31,6
2. >19.00 WIB 65 68,4
Berdasarkan jadwal makan pagi, makan siang, dan makan malam tersebut, selanjutnya dilakukan pengkategorian jadwal makan yaitu jadwal makan teratur dan tidak teratur. Jadwal makan dikategorikan teratur apabila sarapan sebelum jam 09.00, makan siang jam 12.00-13.00, dan makan malam 18.00-19.00. Jadwal makan dikategorikan tidak teratur apabila sarapan setelah jam 09.00, makan siang setelah jam 12.00-13.00, dan makan malam setelah 18.00-19.00.
Tabel 4.13 menunjukkan bahwa lansia memiliki jadwal makan yang tidak teratur
yakni sebanyak 57,9%. Distribusi lansia menurut kategori jadwal makan ditampilkan sebagai berikut :
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Kategori Jadwal Makan
No. Kategori Jadwal Makan n =(95) %
1. Teratur 40 42,1
2. Tidak teratur 55 57,9
4.4 Kejadian Diabetes Melitus
Berdasarkan hasil penelitian penilaian gejala diabetes melitus pada lansia didapatkan melalui kuesioner. Hasil dari kuesioner tersebut didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.14 Distribusi Lansia Berdasarkan Gejala Diabetes Melitus
No. Gejala diabetes n %
1. Polyuria 54 56,8
2. Polydipsia 63 66,3
3. Polyfhagia 70 73,7
4. Penurunan berat badan 26 27,4
5. Luka sulit sembuh 12 12,6
6. Kesemutan pada ujung syaraf 48 50,5
7. Cepat lelah 89 93,7
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kadar gula darah dari 95 responden berada pada kategori diabetes melitus dengan kadar gula darah sewaktu >200 mg/dL sebanyak 54 orang (56,8%), dan pada kategori tidak diabetes dengan kadar gula darah sewaktu <110 mg/dL sebanyak 41 orang (43,2%). Dimana terdapat kadar gula darah sewaktu tertinggi yaitu 480mg/dL sebanyak 1 orang dan terendah yaitu 98mg/dL sebanyak 1 orang.
Distribusi kejadian diabetes melitus pada lansia tersaji dalam tabel berikut : Tabel 4.15 Distribusi Kejadian Diabetes Melitus
No Klasifikasi n =(95) %
1. Diabetes melitus 54 56,8
2. Tidak Diabetes 41 43,2
4.4.1 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa berdasarkan jenis kelamin dari 95 responden sebagian besar yang mengalami kejadian diabetes adalah perempuan sebanyak 41 orang (43,1%), dan laki- laki sebanyak 13 orang (13,7%).
Tabel 4.16 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Kejadian diabetes melitus Diabetes Tidak
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jenis kelamin menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis kelamin dengan nilai p=0,760, dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.
4.4.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan pola makan
Pola makan lansia dilihat dari jenis makanan, frekuensi makan, jumlah makanan, dan jadwal makan yang dikonsumsi lansia setiap harinya. Gambaran kejadian diabetes melitus berdasarkan komponen-komponen pola makan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
4.4.2.1. Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis makanan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 95 responden dengan kategori jenis makanan tidak beragam sebanyak 26 orang (27,4%) yang mengalami kejadian diabetes dan 26 orang (27,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes. Sedangkan dari kategori jenis makanan yang beragam yang mengalami kejadian diabetes sebanyak 28 orang (29,5%), dan tidak mengalami kejadian diabetes ssebanyak 15 orang (15,8%).
Tabel 4.17 Tabulasi Silang Jenis Makanan Berdasarkan diabetes melitus
Jenis Makanan Kejadian diabetes melitus Diabetes Tidak
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jenis makanan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis makanan dengan nilai p=0,139, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.
4.4.2.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jumlah kalori (kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, dan kecukupan lemak)
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari 95 orang responden dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori lebih terdapat 18 orang yang mengalami kejadian diabetes melitus (62,1%) dan 11 orang (37,9%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan karbohidrat pada kategori baik sebanyak 33 orang (62,3%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 20 orang (37,7%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.
Penelitian yang telah dilakukan diketahui dari 95 orang responden dengan jumlah kecukupan protein pada kategori lebih terdapat 45 orang (61,6%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 28 orang (38,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan protein pada kategori baik sebanyak 9 orang (40,9%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 13 orang (59,1%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.
Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 95 orang responden dengan kecukupan lemak pada kategori lebih sebanyak 37 orang (66,1%) yang mengalami kejadian kejadian diabetes melitus dan 19 orang (33,9%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan lemak pada kategori baik sebanyak 17 orang (43,6%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 22 orang (56,4%) yang tidak mengalami kejadian kejadian diabetes melitus.
Tabel 4.18 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan karbohidrat menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 3x2. Tetapi setelah diuji tabel tersebut tidak layak uji karena adanya expected count kurang dari lima, sehingga peneliti melakukan penggabungan sel untuk menggabungkan kelompok kecukupan karbohidrat kategori lebih dan kategori baik. Kemudian setelah dilakukan penggabungan sel, peneliti menguji kembali data tersebut dengan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2, dari uji yang kedua tidak didapatkan sel dengan nilai expected count yang kurang dari lima sehingga tabel tersebut dinyatakan sudah layak uji. Maka dari hasil uji statistik didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan karbohidrat dengan nilai p=0,008, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.
Tabel 4.19 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Protein
Kecukupan
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan protein menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna
antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan protein dengan nilai p=0,085, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.
Tabel 4.20 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Lemak
Kecukupan Lemak
Kejadian Diabetes Melitus
Diabetes Tidak Diabetes
Total % p RP
n=95 % n=95 %
Lebih 37 66,1 19 33,9 56 58,9
0,030 1,53
Baik 17 43,6 22 56,4 39 41,1
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan lemak menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan lemak dengan nilai p=0,030 dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.
4.4.2.2.1 Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kategori Jumlah Kalori
Tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 95 orang responden dengan kecukupan energi pada kategori lebih sebanyak 37 orang (67,3%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 18 orang (32,7%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan energi pada kategori baik sebanyak 17 orang (42,5%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 23 orang (57,5%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.
Tabel 4.21 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Energi
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan energi menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan energi dengan nilai p=0,16, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.
4.4.2.3 Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Frekuensi Makan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 95 responden dengan kategori frekuensi makanan kurang sebanyak 32 orang (33,7%) yang mengalami kejadian diabetes dan 7 orang (7,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan pada frekuensi makan baik sebanyak 22 orang (23,1%) mengalami diabetes melitus dan 34 orang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Adapun distribusi lansia yang mengalami kejadian diabetes melitus berdasarkan frekuensi makan dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Tabel 4.22 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Frekuensi Makan Frekuensi
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan frekuensi makan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan frekuensi makan dengan nilai p=0,000 dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.
4.4.2.4 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jadwal makan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari 95 responden menunjukkan bahwa lansia yang memiliki jadwal makan tidak teratur mengalami kejadian diabetes melitus yaitu sebanyak 51,6% dan lansia yang memiliki jadwal makan tidak teratur tidak mengalami kejadian diabetes melitus sebanyak 6,3%. Distribusi lansia yang mengalami kejadian diabetes melitus berdasarkan jadwal makan dapat dilihat pada Tabel 4.23.
Tabel 4.23 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Jadwal Makan
Jadwal Makan Kejadian Diabetes Melitus Mengalami Tidak
Mengalami
Total
p RP
n % n % n =(95) %
Teratur 5 5,3 35 36,8 40 42,11
Tidak teratur 49 51,6 6 6,3 55 57,89 0,000 0,14
Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jadwal makan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jadwal makan dengan nilai p=0,000, dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kejadian Diabetes Melitus
Hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa lansia di desa Aek Raso yang mengalami diabetes melitus ada sebesar 56,8%. Berdasarkan hasil penelitian lansia mengalami diabetes melitus dikarnakan tingginya konsumsi makanan yang manis, makanan bersumber dari karbohidrat dan protein. Penelitian yang dilakukan oleh wicaksono dan witasari yang melaporkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan manis memiliki risiko terkena diabetes melitus dua kali lipat. Sedangkan karbohidrat merupakan sumber kalori tertinggi penyebab diabetes melitus yakni sebesar 62,2%.
Berdasarkan jenis kelamin diketahui perempuan lebih banyak mengalami kejadian diabetes melitus sebesar 43,1%, dan laki- laki yang mengalami kejadian diabetes melitus sebesar 13,7%. Hal ini sesuai dengan penelitian Indriyani (2007) menyatakan bahwa diabetes melitus pada usia 40-70 tahun lebih banyak terjadi pada perempuan.
5.2. Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Pola Makan
Pola makan dalam penelitian ini digambarkan melalui jenis makanan, frekuensi makan, jumlah kalori (berdasarkan kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, kecukupan lemak) dan jadwal makan.
5.2.1 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis makanan
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa lansia dengan jenis makanan tidak beragam sebesar 43,2% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 11,6% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan dengan jenis makanan yang beragam sebesar 30,5% mengalami kejadian diabetes dan 14,7% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Hal ini dikarenakan sebagian lansia hanya mengkonsumsi makanan pokok, lauk, dan sayur namun jarang mengkonsumsi buah setiap hari. Selain itu mereka
mengkonsumsi makanan sehari-hari berdasarkan kebiasaan dan kesukaan bukan karena makanan seimbang yang harus dikonsumsi hal ini yang menyebabkan mereka sering mengkonsumsi makanan yang tidak beranekaragam.
Konsumsi makanan dengan jenis makanan yang tidak beragam menyebabkan kecenderungan terjadinya kelebihan konsumsi pada salah satu sumber zat gizi terutama karbohidrat yang bersumber dari makanan pokok. Pola makan yang berlebihan dalam konsumsi karbohidrat, protein dan lemak dapat menyebabkan terjadinya obesitas memicu timbulnya kejadian diabetes melitus.
Uji Chi-Square yang dilakukan mendapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis makanan dengan nilai p=0,139. Beragam dan tidak beragamnya jenis makanan yang di konsumsi lansia tidak mempengaruhi terjadinya kejadian diabetes melitus.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardyana D(2014) yang juga menyatakan bahwa tidak adanya hubungan ketepatan jenis makanan dengan status glukosa darah puasa pasien DM tipe 2 rawat jalan.
5.2.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jumlah kalori (kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, kecukupan lemak dan kecukupan energi)
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa lansia dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori lebih sebesar 62,1% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 37,9%
yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori baik sebesar 62,3% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 37,7% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus serta jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori kurang sebesar 23,1% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 76,9%
yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.
Sumber karbohidrat utama yang sering dikonsumsi oleh lansia adalah nasi, dimana nasi merupakan salah satu sumber karbohidrat terbesar. Karbohidrat memiliki fungsi utama,
yaitu sebagai penyedia energi bagi tubuh. Jika mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang berlebih maka akan menyebabkan asupan energi meningkat dan mengakibatkan diabetes.
Selain itu mereka juga sering mengkonsumsi dari jenis makanan jajanan seperti kolak pisang, bubur kacang hijau, gorengan. Dimana kacang dan pisang merupakan salah satu sumber karbohidrat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Idris dkk pada pasien rawat jalan DM tipe II di wilayah kerja puskesmas kota Makasar yang juga menyatakan bahwa asupan karbohidrat memiliki hubungan yang bermakna dengan kontrol kadar gula pasien diabetes melitus.
Berdasarkan penelitian dari uji chi square yang dilakukan didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan karbohidrat dengan nilai p=0,008.
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa lansia dengan jumlah kecukupan protein pada kategori lebih sebesar (61,6%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 28 orang (38,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sumber protein yang selalu dikonsumsi oleh lansia adalah ikan kembung, ikan tongkol dan jenis ikan yang sering dikonsumsi oleh lansia pada penelitian ini adalah ikan teri, ikan lele, ikan asin sedangkan sumber protein nabati yang sering dikonsumsi lansia adalah tempe dan tahu. Hal ini sejalan dengan penelitian Wulansari yang juga menyatakan bahwa asupan protein berhubungan dengan kejadian diabetes melitus.
Berdasarkan penelitian dari uji chi square yang dilakukan hasil adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan protein dengan nilai p=0,085.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa jumlah kecukupan lemak pada kategori lebih sebesar 66,1% yang mengalami kejadian kejadian diabetes melitus dan 33,9%
yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan lemak pada kategori
baik sebanyak 43,6% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 56,4% yang tidak mengalami kejadian kejadian diabetes melitus.
Berdasarkan penelitian dari uji chi square yang dilakukan di dapat hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan lemak dengan nilai p=0,030.
Sumber lemak yang paling sering dikonsumsi oleh lansia berasal dari makanan yang digoreng, seperti bakwan, pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, dan tempe goreng. Oleh karena itu akumulasi lemak di dalam tubuh menjadi semakin bertambah sehingga dapat menyebabkan terjadinya obesitas dan memicu terjadinya diabetes melitus. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Idris dkk bahwa asupan lemak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kontrol kadar gula darah penderita diabetes melitus.
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa responden dengan jumlah kecukupan energi pada kategori lebih sebesar 67,3 % yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 32,7% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.
Energi merupakan hasil dari metabolosme karbohidrat, lemak, dan protein (Pujiati, 2010). Seseorang membutuhkan asupan energi dari makanan untuk menutupi pengeluaran energi yang dilakukannya dalam sehari- hari. Sumber makanan yang mengandung tinggi energi ialah makanan yang mengandung lemak, seperti minyak, kacang- kacangan, dan biji- bijian. Selain itu, bahan makanan sumber karbohidrat, seperti padi- padian, umbi- umbian dan gula murni juga merupakan bahan makanan sumber energi (Almatsier, 2010).
Berdasarkan penelitian sebesar 67,3 % yang mengalami kejadian diabetes melitus pada kategori kecukupan energi lebih. Pada penelitian ini, kecukupan energi diperoleh dari makanan yang mengandung sumber karbohidrat, protein, dan lemak. Rahmawati (2015) menyatakan dalam penelitiannya bahwa semakin tinggi asupan energi, maka semakin tinggi asupan karbohidrat, protein, dan lemak.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Idris dkk pada pasien rawat jalan yang mengalami diabetes melitus di wilayah kerja puskesmas kota Makasar menyatakan bahwa sebagian besar pasien berada pada asupan energi baik 76,1% yang tersebar pada kategori kadar gula darah tidak terkontrol sebesar 85,7%.
Berdasarkan penelitian dari uji chi square yang dilakukan didapat hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan energi dengan nilai p=0,16.
5.2.3 Frekuensi makan berdasarkan kejadian diabetes melitus
Frekuensi makan yang diteliti berdasarkan pengelompokan makanan untuk makanan pokok sumber karbohidrat, nasi merupakan jenis makanan yang selalu dikonsumsi 100%.
Jenis makanan lauk pauk yang selalu dikonsumsi oleh lansia adalah ikan gembung dan ikan tongkol sebesar 58,9% dan 57,9%. Jenis ikan yang sering dikonsumsi oleh lansia pada penelitian ini adalah ikan teri sebesar 37,9%, ikan lele 35,8%, ikan asin dan tahu 30,5%.
Adapun lauk pauk dari sumber nabati tempe merupakan jenis yang selalu dikonsumsi sebesar 41%, selanjutnya tahu sebanyak 40%. Pada kelompok makanan sayuran, daun ubi merupakan jenis makanan yang selalu dikonsumsi oleh lansia sebesar 44,2%, bayam 36,8% dan kangkung 21%. Hal ini dikarenakan jenis sayuran tersebut mudah didapat. Buah yang sering dikonsumsi adalah jeruk 55,8% dan pisang 45,3%. Untuk buah-buahan sering dikonsumsi karena mudah didapat dipasar setiap minggunya dan terjangkau. Untuk kelompok makanan selingan yang selalu dikonsumsi adalah kolak pisang 33,7%, sementara makanan selingan yang sering dikonsumsi adalah gorengan 40%, kue basah 34,7%, dan bubur kacang hijau 32,6%. Jenis kue yang sering dikonsumsi adalah kue dadar, lemper, kue lapis, bolu kukus, kacang hijau, getuk dan sebagainya. Selanjutnya untuk kelompok minuman yang selalu dikonsumsi adalah teh manis sebanyak 56,8% dan susu sebanyak 52,6 %.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliartha dan Sudhana
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muliartha dan Sudhana