• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP

2.1 Diabetes Melitus

2.1.2 Penyebab Diabetes Melitus

Faktor penyebab penyakit diabetes melitus antara lain: pola makan (terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat), banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, kurang tidur, merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan faktor keturunan. Pola makan terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat dapat menjadi penyebab timbulnya diabetes mellitus karena keterbatasan tubuh dalam mengolah makanan yang dikonsumsi, serta kurangnya aktivitas yang membutuhkan energi lebih maka tubuh akan menyimpannya dalam bentuk gula dalam darah (glikogen). Jika hal ini berlangsung setiap hari, maka dapat dibayangkan besarnya penumpukan glikogen yang disimpan dalam tubuh. Inilah pemicu awal terjadinya gejala diabetes melitus.

Pada kehidupan sehari-hari banyak sekali dijumpai makanan yang mengandung gula seperti es krim, sirup, minuman dalam kemasan, permen, aneka jajanan kue dan lain-lain.

Semua makanan dan minuman tersebut kadang tanpa disadari mengandung banyak gula.

Perlu diwaspadai berapa takaran gula yang terkandung dalam makanan dan minuman tersebut. Berbeda dengan minuman seperti teh dan kopi yang kita buat sendiri, yang sudah kita ketahui berapa takarannya. Minum teh dan kopi diperbolehkan apabila masih dalam batas yang wajar.

Kurang tidur dapat menyebabkan berkurangnya sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terserang penyakit. Selain itu kebiasaan begadang sambil minum kopi dan merokok mempunyai resiko terkena penyakit diabetes. Istirahat secukupnya, yaitu 8 jam dalam sehari agar tubuh tetap fit.

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang tidak baik selain minum-minuman beralkohol. Merokok dapat menjadi pemicu terjadinya diabetes. Selain merusak paru-paru, merokok juga dapat merusak hati dan pankreas dimana hormon insulin diproduksi sehingga dapat mengganggu produksi insulin di dalam kelenjar pankreas.

Kurangnya aktivitas fisik, gaya hidup naik mobil ketika berangkat kerja, naik lift ketika berada di kantor, duduk terlalu lama di depan komputer serta kurangnya aktivitas fisik lainnya membuat sistem sekresi tubuh berjalan lambat. Akibatnya terjadilah penumpukan lemak di dalam tubuh yang lambat laun berat badan menjadi berlebih. Sebagai pencegahan, dapat dengan memperbanyak aktivitas fisik selama bekerja. Perubahan pola hidup, pola konsumsi pangan serta kesibukan bekerja membuat masyarakat lebih memilih makanan siap saji yang tanpa di sadari mengandung tinggi karbohidrat, tinggi gula, tinggi lemak dan sedikit mengandung serat serta zat gizi, sementara aktifitas fisik yang tidak sesuai memicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus.

Diabetes melitus juga dapat disebabkan karena faktor keturunan atau genetika. Biasanya jika ada anggota keluarga yang menderita diabetes, maka kemungkinan besar anaknya juga menderita penyakit yang sama. Para ahli telah sepakat menetukan presentase kemungkinan terjadinya diabetes karena keturunan. Jika kedua orangtuanya (bapak dan ibu) menerita diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita penyakit diabetes yaitu 83%. Jika salah satu orangtuanya (bapak atau ibu) adalah penderita diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita penyakit diabetes yaitu 53%. Sedangkan jika kedua orangtuanya normal/tidak menderita diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita penyakit diabetes yaitu 15%.

Pola makan merupakan suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Apabila pola makan yang baik sesuai kebutuhan tubuh akan berdampak baik pula bagi tubuh dan tidak memicu terjadinya kejadian diabetes melitus, sebaliknya apabila pola makan tidak baik maka akan memicu timbulnya diabetes melitus.

Tabel 2.2 Contoh Menu Makanan Penderita Diabetes Melitus

Waktu makan Menu makanan

Sarapan pagi (06.30 wib) Nasi putih

Telur bebek rebus Tumis bayam Pepaya Snack (pukul 09.30 wib) Talas rebus Makan siang (pukul 12.30 wib) Nasi putih

Ayam semur Sumber : modifikasi diet penderita diabetes melitus 2.2 Pola Makan

Pola makan sering diartikan sebagai kebiasaan makan seseorang setiap harinya. Menurut Baliwati (2004), pola makan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Pembentukan pola makan seseorang didasari oleh faktor-faktor tertentu di lingkungan sekitarnya. Pendapat ahli menyatakan bahwa pola makan merupakan cara yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial (Harper, 1986). Pola makan juga merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan oleh setiap orang dan merupakan ciri khas suatu kelompok masyarakat tertentu (Ranti dan Soegeng, 2004). Pola makan atau pola konsumsi pangan merupakan kegiatan terencana dari seseorang atau merupakan sebuah acuan dalam pemilihan makanan dan penggunaan bahan

makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan, dan frekuensi makan. (Sediaoetama, 2009)

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola makan adalah cara atau kebiasaan yang dilakukan seseorang atau sekelompok dalam hal mengonsumsi makanan yang dilakukan secara berulang-ulang pada waktu tertentu dalam jangka waktu yang lama serta merupakan reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial di lingkungan sekitarnya.

Pola makan terdiri dari gambaran mengenai jumlah, frekuensi, jenis, dan asupan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih dan menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi frekuensi makan, asupan makanan, dan jenis makan yang berdasarkan faktor-faktor sosial budaya dimana mereka hidup.

Aktivitas dapat kita laksanakan dengan baik apabila kita menerapkan pola makan yang sehat. Pola makan sehat adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah, frekuensi dan jenis bahan makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Dengan demikian, pola makan yang sehat dapat diartikan sebagai suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan makan secara sehat.

Pola makan yang sehat selalu mengacu kepada gizi yang seimbang yaitu terpenuhinya semua zat gizi sesuai dengan kebutuhan. Terdapat enam unsur gizi yang harus dipenuhi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Karbohidrat, lemak dan protein merupakan zat gizi makro sebagai sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral merupakan zat gizi mikro sebagai pengatur kelancaran metabolisme tubuh. Kebutuhan zat gizi tubuh hanya dapat terpenuhi dengan pola makan yang bervariasi dan beragam, sebab tidak ada

satupun bahan makanan yang mengandung makronutrien dan mikronutrien yang lengkap, maka semakin bervariasi dan semakin lengkap jenis makanan yang kita peroleh maka semakin lengkaplah perolehan zat gizi untuk mewujudkan kesehatan yang optimal.

Proses makan pada manusia sering dikaitkan dengan aspek sosial budaya. Aspek sosial budaya makan adalah fungsi makanan dalam masyarakat yang berkembang sesuai keadaan lingkungan agama, adat, kebiasaan, dan pendidikan masyarakat. Perubahan gaya hidup suatu masyarakat terkait makanan berhubungan dengan perubahan budaya. Makanan alamiah yang berasal dari pertanian, seperti beras, gandum, jagung ubi dan singkong, menjadi lebih menarik lagi apabila diolah dengan modern sesuai dengan tuntunan zaman. Dahulu bahan makanan tersebut hanya diolah dengan cara direbus atau dikukus. Sekarang ini, bahan makanan tersebut juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan lezat seperti cake, berbagai macam kue, popcorn, keripik dan sebagainya. Dengan demikian perkembangan dan peningkatan perekonomian sebagian masyarakat juga membentuk kebiasaan makannya.

Makanan siap saji/fast food dan junk food yang tinggi gula, tinggi lemak, tinggi garam tetapi rendah serat dan vitamin dapat memicu timbulnya berbagai penyakit degeneratif, Misalnya makanan kalengan, olahan keju, mie instan, makanan manis dalam bentuk beku dan lain sebagainya. Kandungan gizi terutama vitamin dari makanan kaleng sudah banyak yang rusak. Buah kalengan biasanya ditambahkan dengan kadar gula yang tinggi. Jika buah kalengan dalam bentuk cair tersebut dikonsumsi, maka tubuh akan menyerapnya dengan sangat cepat. Hal ini dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dan membuat pankreas bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin, serta dapat memicu timbulnya penyakit diabetes mellitus. Makanan olahan keju seperti cake, kue keju telur, biasanya tinggi lemak dan gula. Sering mengonsumsi makanan olahan keju dapat menyebabkan penambahan berat badan dan peningakatan kadar gula darah. Makanan manis

dalam bentuk beku adalah es krim, cake beku,coklat manis dan lain sebagainya. Makanan ini mengandung tinggi kalori dan mempunyai kadar gula yang tinggi.

Pola makan terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat dapat menjadi penyebab timbulnya diabetes melitus karena keterbatasan tubuh dalam mengolah makanan yang dikonsumsi, serta kurangnya aktivitas yang membutuhkan energi lebih maka tubuh akan menyimpannya dalam bentuk gula dalam darah (glikogen). Jika hal ini berlangsung setiap hari, maka dapat dibayangkan besarnya penumpukan glikogen yang disimpan dalam tubuh.

Inilah pemicu awal terjadinya gejala diabetes melitus.

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai asupan makanan, jenis makanan, jadwal makan dan jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari (Persagi, 2006). Penjelasan komponen pola makan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

2.2.1 Jumlah Kalori

Jumlah makanan yang dikonsumsi individu dalam sehari. Penilaian jumlah kalori biasanya dilihat melalui jumlah zat-zat gizi yang dikonsumsi. Zat-zat gizi yang masuk terdiri dari makronutrien yakni karbohidrat, protein dan lemak serta mikronutrien yang terdiri dari vitamin dan mineral.

Kita harus menyeimbangkan jumlah kalori yang masuk dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Makanan yang dikosumsi harus seimbang dengan kebutuhan yang disesuaikan dengan umur dan piramida makanan yaitu karbohidrat 50-60%, lemak 25-30% dan protein 15-20%. Apabila jumlah kalori yang masuk lebih besar dari energi yang dikeluarkan maka akan mengalami kelebihan berat badan.

Tabel 2.3 Angka kecukupan zat gizi (Energi, Protein, Kalsium, Fe, Vit.A, Vit.C) untuk lansia per orang per hari

Angka kecukupan gizi

Zat gizi

Pria Wanita

50-64 tahun >65 tahun 50-64 tahun >65 tahun Energi (kal) Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (2004)

2.2.2 Jenis makanan

Jenis makanan adalah macam-macam makanan yang biasa di sajikan. Bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang. Menyediakan makanan yang bervariasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi rasa bosan yang mengurangi selera makan. Variasi menu yang tersusun oleh kombinasi bahan makanan yang diperhitungkan dengan tepat akan memberikan hidangan sehat baik secara kualitas dan kuantitas.

Di alam terdapat berbagai jenis bahan pangan baik pangan nabati maupun pangan hewani. Diantara beragam jenis bahan pangan tersebut, ada yang kaya akan satu jenis zat gizi dan ada yang kekurangan zat gizi tertentu. Oleh karena itu manusia memerlukan berbagai macam bahan pangan untuk menjamin agar semua zat gizi yang diperlukan tubuh dapat dipenuhi dalam jumlah yang cukup.

Jenis makanan yang kita konsumsi harus mengandung karbohidrat, protein, lemak dan nutrient spesifik. Karbohidrat kompleks bisa kita penuhi dari gandum, beras, terigu, buah dan sayuran. Jenis karbohidrat yang baik dikonsumsi adalah karbohidrat yang berserat tinggi.

Karbohidrat yang berasal dari gula, sirup dan makanan yang manis-manis sebaiknya dikurangi yakni 3-5 sendok makan perhari saja.

Konsumsi protein harus lengkap antara protein nabati dan protein hewani. Sumber protein nabati didapat dari kedelai, tempe dan tahu, sedangkan protein hewani berasal dari ikan, telur, dan daging (sapi, ayam, kambing, kerbau). Sumber vitamin dan mineral terdapat pada vitamin A (hati, susu, wortel dan sayuran), vitamin D (ikan, susu dan kuning telur), vitamin E (minyak, kacang-kacangan dan kedelai), vitamin K (brokoli, bayam dan wortel), vitamin B (gandum, ikan, susu dan telur), serta kalsium (susu, ikan dan kedelai).

Makanan terbagi atas dua jenis yaitu makanan utama dan makanan selingan. Makanan utama terdiri dari makanan pokok, lauk pauk hewani dan nabati, sayur, buah dan minuman.

Makanan selingan adalah makanan yang dikonsumsi disela-sela waktu makanan utama.

Penjelesan lebih lanjut mengenai dua jenis makanan tersebut dijelaskan dibawah ini : 1) Makanan Utama

Makanan utama adalah makanan yang dikonsumsi seseorang berupa makan pagi, makan siang, dan makan malam yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, dan minuman. Makanan pokok adalah makanan yang dianggap memegang peranan penting dalam susunan hidangan. Pada umumnya makanan berfungsi sebagai sumber energi (kalori) dalam tubuh dan memberi rasa kenyang. (Soediaoetama, 2004).

Lauk pauk berfungsi sebagai pelengkap makanan pokok pada menu makanan sehari-hari. Menurut jenisnya, lauk pauk terbagi atas lauk pauk hewani dan lauk pauk nabati. Kedua jenis lauk-pauk tersebut mempunyai kandungan protein hewani dan nabati serta berfungsi

untuk membangun sel-sel yang rusak dan membentuk zat pengatur seperti enzim dan hormon.

Sayur adalah salah satu komponen yang penting yang harus dikonsumsi setiap harinya. Sayuran dikonsumsi dengan cara yang bermacam-macam, baik sebagai bagian dari menu utama maupun sebagai makanan sampingan. Buah merupakan jenis hidangan yang dimakan sebagai pencuci mulut. Buah - buahan pada umumnya berfungsi sebagai sumber vitamin dan mineral. Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Sekitar 60 – 70 % dari tubuh manusia merupakan air. Syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna.

2) Makanan Selingan

Makanan selingan adalah makanan kecil yang dibuat sendiri maupun yang dijual di depan rumah atau di toko atau di supermarket. Makanan selingan menurut bentuknya terdiri dari : Makanan selingan bentuk kering seperti (kripik pisang, kripik singkong, kacang telur, pop corn dan sebagainya), Makanan selingan berbentuk basah seperti (lemper, dadar, bolu kukus, tahu isi, pastel, pisang goreng dan sebagainya). Makanan selingan berbentuk kuah seperti (bakso, mie ayam, empek-empek, mie ketupat dan sebagainya).

Salah satu syarat susunan menu adalah bervariasi, artinya jenis bahan makanan yang digunakan dalm hidangan harus berganti-ganti setiap harinya. Untuk itu perlu diketahui bahan makanan pengganti bagi setiap kelompok makanan (makanan pokok, lauk- pauk, sayur dan buah) (Sediaoetama, 2006).

2.2.3 Frekuensi Makan

Frekuensi adalah suatu kejadian yang berkelanjutan atau kejadian yang berulang.

frekuensi makan adalah sejumlah pengulangan yang dilakukan dalam hal mengonsumsi makanan baik kualitatif maupun kuantitatif yang terjadi secara berkelanjutan. Frekuensi

makan juga dapat diartikan sebagai seberapa seringnya seseorang melakukan kegiatan makan dalam sehari baik makan utama maupun makan selingan.

Frekuensi makan merupakan jumlah waktu makan dalam sehari meliputi makanan lengkap (full meat) dan makan selingan (snack). Makanan lengkap biasanya diberikan tiga kali sehari (makan pagi, makan siang dan makan malam), sedangkan makanan selingan biasa diberikan antara makan pagi dan makan siang dan antara makan siang dan makan malam.

Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Pada umumnya setiap orang melakukan kegiatan makan makanan utama 3 kali dalam sehari yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam atau sore.

Ketiga waktu makan tersebut yang paling penting adalah makan pagi sebab dapat membekali tubuh dengan berbagai zat makanan terutama kalori dan protein yang berguna sebagai cadangan energi untuk melakuakan aktivitas dalam sehari. Makan siang diperlukan setiap orang karena sejak pagi merasa lelah akibat melakukan aktivitas. Selain makan utama yang dilakukan tiga kali, makan selingan juga harus dilakukan yakni sekali atau dua kali diantara waktu makan guna menanggulangi rasa lapar, sebab jarak waktu makan yang lama.

2.2.4 Jadwal makan

Pola makan sehari-hari kebiasaan jadwal makan sering tidak teratur seperti yang seharusnya. Frekuensi makan dalam sehari terdiri dari tiga makan utama yaitu makan pagi, makan siang, dan makan malam. Jadwal makan sehari dibagi menjadi makan pagi (sebelum pukul 09.00), makan siang (jam 12.00-13.00), dan makan malam (jam 18.00-19.00).

sedangkan makanan selingan biasa diberikan antara makan pagi dan makan siang dan antara makan siang dan makan malam.

Secara alamiah, makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dicerna dalam lambung tergantung sifat dan jenis

makanannya. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Persagi, 2009).

Pola makan yang dianjurkan adalah pola makan 6 kali sehari dalam porsi kecil. Pola makan tersebut penting untuk mendapatkan simpanan energi yang dapat meningkatkan sistem metabolisme tubuh. Karena melewatkan waktu makan justru dapat menurunkan metabolisme tubuh dan membuat pembakaran kalori terhambat (Persagi, 2009). Apabila terlambat makan akan terjadi hipoglikemia dengan gejala seperti pusing, mual dan pingsan. Apabila hal ini terjadi segera minum air gula. Air gula merupakan karbohidrat sederhana yang akan langsung masuk ke dalam aliran darah sehingga kadar gula darah meningkat dengan cepat. Jika hal ini terus terjadi maka dapat berdampak terhadap timbulnya penyakit diabetes melitus.

2.3 Hubungan Pola Makan dengan Timbulnya Diabetes Melitus

Salah satu penyebab timbulnya penyakit diabetes mellitus yaitu pola makan yang tidak baik terdiri dari jadwal, frekuensi, jenis dan asupan makanan yang tidak tepat. Pola makan merupakan suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Perubahan gaya hidup dalam hal konsumsi makanan khususnya di kota besar dipicu oleh perbaikan/peningkatan di sektor pendapatan (ekonomi), kesibukkan kerja yang tinggi, dan promosi makanan ala barat fast food maupun health food yang populer di Amerika dan Afrika, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kesadaran gizi yang mengakibatkan budaya makan berubah menjadi tinggi lemak jenuh dan gula, rendah serat dan rendah zat gizi mikro serta jadwal makan yang tidak teratur (Suiraoka, 2012).

Mekanisme terkait pola makan dengan timbulnya diabetes melitus yakni pola makan terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat, serba instan dan banyak mengandung gula semakin sulit untuk dihindari seperti es krim, minuman kemasan, aneka jajanan kue dan lain-lain

tanpa disadari dapat menjadi penyebab timbulnya diabetes mellitus karena keterbatasan tubuh dalam mengolah makanan yang dikonsumsi, serta kurangnya aktivitas yang membutuhkan energi lebih maka tubuh akan menyimpannya dalam bentuk gula dalam darah (glikogen). Jika hal ini berlangsung setiap hari, maka dapat dibayangkan besarnya penumpukan glikogen yang disimpan dalam tubuh. Inilah pemicu awal terjadinya gejala diabetes melitus. Apabila dibiarkan lama kelamaan akan memicu berbagai komplikasi DM dapat berupa akut yaitu hipoglikemia dan kronis seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, gagal ginjal, gangguan penglihatan (mata), impotensi, ulkus kaki dan gangren (Ditjen PP dan PL, 2008).

Diabetes melitus secara umum terjadi karena adanya proses patogenesis. Ini bersamaan dengan rusaknya autoimun pada sel beta di pankreas yang menyebabkan berkurangnya produksi insulin hingga menjadi abnormal yang menghasilkan resistensi terhadap kerja insulin. Dasar dari ketidaknormalan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada penderita diabetes merupakan akibat dari berkurangnya kerja insulin pada jaringan. Berkurangnya hasil kerja insulin adalah dari tidak cukupnya sekresi insulin dan / atau kurangnya respon jaringan terhadap insulin dalam jalur kompleks kerja hormon.

Jumlah makanan, jenis makanan, frekuensi makan, jadwal makan sangat berperan dalam terjadinya diabetes melitus. Konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung glukosa serta makanan dan minuman yang manis tanpa di iringi dengan aktifitas fisik yang sesuai dapat memicu peningkatan kadar gula dalam darah. Sehingga pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Idris, dkk (2014), terhadap hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien rawat jalan diabetes mellitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Kota Makasar menunjukkan pola konsumsi buah dan sayur yang tidak baik memiliki hubungan terhadap tidak terkontrolnya kadar gula darah, asupan karbohidrat dan lemak yang kurang dari kebutuhan memiliki hubungan yang bermakna dengan kadar gula

darah, asupan protein yang kurang dari kebutuhan tidak berhubungan dengan kadar gula darah. Sampel pada penelitian ini mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan usia rata-rata 41-55 tahun (dewasa akhir dan lansia) bekerja sebagai ibu rumah tangga dan pendidikan terakhir SMA 50%. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien rawat jalan diabetes mellitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Kota Makasar.

Penelitian yang dilakukan oleh Fibriana dan Dian (2005) tentang hubungan pola makan dengan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus pada pasien yang berkunjung ke Laboratorium Klinik Pratama Analisa Pekalongan dimana sampel paling banyak pada kelompok umur 50-69 tahun. Pola makan sampel terbanyak terdapat pada pola makan yang tidak baik yaitu jika salah satu dari ketepatan jenis makan, jumlah kalori, atau ketepatan waktu makan yang tidak tepat, kadar gula darah buruk dengan persentase terbanyak terdapat pada sampel pola makan yang tidak baik. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Amtiria (2015) mengenai hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe II di Poli Penyakit Dalam RSUD Dr. H.

Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Rata-rata responden berjenis kelamin perempuan, bekerja sebagai ibu rumah tangga dan pendidikan terakhir SMA, sebagian besar responden memiliki kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih dari normal, beberapa responden memiliki pola makan dengan jumlah asupan makan, jenis makan, dan jadwal

Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Rata-rata responden berjenis kelamin perempuan, bekerja sebagai ibu rumah tangga dan pendidikan terakhir SMA, sebagian besar responden memiliki kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih dari normal, beberapa responden memiliki pola makan dengan jumlah asupan makan, jenis makan, dan jadwal