• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Metode Pengukuran

3.6.2 kejadian Diabetes Melitus

Gambaran diabetes melitus didapatkan melalui pengukuran pengecekkan kadar gula darah sewaktu dengan menggunakan alat glukometer lalu disesuaikan dengan data puskesmas penderita diabetes melitus dan dengan menggunakan kuesioner yang pertanyaan-pertanyaannya dapat mewakili keluhan gejala diabetes seperti Polyuria (Jumlah urine yang di keluarkan lebih banyak), Polydipsia (sering atau cepat merasa haus), Polyfhagia (lapar yang berlebihan atau makan banyak), Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya, Apabila luka / tergores (korengan) lambat penyembuhannya, Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan dan kaki. Pilihan jawaban terdiri atas dua pilihan yaitu jawaban Ya (jika mengalami gejala seperti disebutkan diatas) dan jawaban Tidak (jika tidak mengalami gejala tersebut diatas).

3.7 Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Pengolahan Data

Pengolahan data yang sudah terkumpul akan diolah melalui langkah-langkah berikut : a. Editing

Editing adalah upaya yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan dan dilakukan setelah data terkumpul. Pada tahap ini peneliti menghitung banyaknya kuesioner yang telah diisi, kemudian dijumlahkan semuanya. Pada proses pengecekkan ini diperiksa apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap (semua pertanyaan sudah terisi jawabannya), jelas (jawaban pertanyaan apakah relevan dengan pertanyaan), dan konsisten (apakah antara beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan isi jawabannya konsisten). Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data dilengkapi dengan mewawancarai ulang lansia.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numeric (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Coding juga merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan coding. Pemberian kode dilakukan setelah semua data telah dikumpulkan.

c. Tabulating

Tabulating merupakan kegiatan mengolah data kedalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk mempermudah analisis data, pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, data dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisis dengan menggunakan software statistik ( SPSS).

3.7.2 Analisis Data

Setelah data semua terkumpul maka dilakukan analisis data dengan mendeskripsikan besarnya persentase pada seluruh variabel penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi baik dari data karakteristik lansia, pola makan (jenis makanan, frekuensi makan, jadwal makan dan jumlah makanan), dan kejadian diabetes mellitus. Tahap selanjutnya melakukan tabulasi data dan analisis data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Analisis data yang digunakan adalah analisis secara deskriptif dengan komputerisasi.

3.8 Rumus Rasio Prevalensi RP a/(a+b)

c/(c+d)

a/(a+b) = proporsi subjek yang mempunyai faktor risiko yang mengalami efek.

c/(c+d) = proporsi subjek tanpa faktor risiko yang mengalami efek.

Jika rasio prevalensi :

RP <1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.

RP = 1 maka faktor risiko tidak ada pengaruhnya atau bersifat netral.

RP >1 maka faktor risiko benar merupakan faktor timbulnya penyakit.

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Desa Aek Raso merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Penduduk Desa Aek Raso memiliki penghidupan pada sektor pertanian yaitu kelapa sawit dan getah karet. Pekerjaan yang terdapat di desa tersebut antara lain buruh panen, buruh harian lepas, berdagang, bengkel dan lain sebagainya.

Penduduk Desa Aek Raso berjumlah ± 6.061 jiwa. Diantaranya terdapat 28.07% atau sekitar 2.097 jiwa lansia. Luas wilayah desa Aek Raso ± 126,3 km².

Jenis ikan yang banyak terdapat di desa tersebut ialah jenis ikan air tawar seperti ikan mas dan nila. Adapun jenis ikan laut yang terdapat di pasar setiap minggunya seperti ikan asin, ikan teri, ikan dencis, ikan tongkol, ikan kembung, udang, cumi-cumi dan sebagainya.

Jenis sayur-sayuran banyak terdapat disana yang dapat dibeli di pasar setiap minggunya dan juga kedai harian. Ada juga beberapa jenis sayur yang ditanam di dekat rumah seperti daun ubi, daun katu, pohon pepaya dan lain-lain.

4.2 Karakteristik Lansia

Pada penelitian ini karakteristik lansia yang diamati adalah umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir. Berdasarkan hasil penelitian dapat kita ketahui pada tabel 4.1 dilihat bahwa dari 95 orang responden ditemukan usia terbanyak berusia 60-69 tahun yaitu sebanyak 86 orang (90,53%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 71 orang (74,74%), pendidikan terakhir terbanyak SLTP dengan jumlah 39 orang (41,05%). Secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis

Pola makan lansia pada penelitian ini berdasarkan jenis makanan, frekuensi makan, jumlah kalori dan jadwal makan.

4.3.1. Jenis makanan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengkonsumsi jenis makanan yang tidak beragam yaitu sebanyak 52 orang (54,7%). Secara rinci dapat dilihat

4.3.2. Jumlah kalori (energi, karbohidrat, protein dan lemak)

Pada tabel 4.3 dapat dilihat hanya kecukupan karbohidrat yang mengalami kategori kurang yaitu sebanyak 13 orang (13,7%), dan pada kategori lebih terdapat kecukupan energi sebanyak 55 orang (57,9%), kecukupan karbohidrat sebanyak 29 orang (30,5%), kecukupan protein sebanyak 73 orang (76,8%) dan kecukupan lemak sebanyak 56 orang (58,9%).

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Kecukupan Energi, Karbohidrat, Protein, dan Lemak

No Klasifikasi n =(95) %

1. Kecukupan Energi

a. Lebih 55 57,9

b. Baik 40 42,1

c. Kurang 0 0

2. Kecukupan Karbohidrat

a. Lebih 29 30,5

b. Baik 53 55,8

c. Kurang 13 13,7

3. Kecukupan Protein

a. Lebih 73 76,8

b. Baik 22 23,2

c. Kurang 0 0

4. Kecukupan Lemak

a. Lebih 56 58,9

b. Baik 39 41,1

c. Kurang 0 0

4.3.3 Frekuensi makan

Frekuensi makan lansia dilihat berdasarkan makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, buah- buahan, makanan selingan dan minuman.

4.3.3.1 Frekuensi makan responden berdasarkan makanan pokok

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 95 orang responden, nasi merupakan jenis makanan yang selalu dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat (1-3 kali sehari) sebanyak 100%.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Pokok

Frekuensi Makan

4.3.3.2 Frekuensi makan responden berdasarkan lauk pauk

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa lauk yang selalu (>1x/sehari) dikonsumsi lansia adalah ikan gembung sebanyak 58,9%, ikan tongkol sebanyak 57,9%, Ikan yang sering (1x/hari) dikonsumsi adalah ikan teri sebanyak 37,9%, ikan lele sebanyak 35,8%, ikan asin dan tahu sebanyak 30,5%. Jenis ikan yang selalu dan sering dikonsumsi karena ketersedian banyak dan mudah diperoleh di pasar dan kedai. Untuk lauk pauk dari sumber nabati tempe merupakan jenis yang selalu dikonsumsi sebanyak 41,0%.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Lauk Pauk

4.3.3.3 Frekuensi makan responden berdasarkan sayur-sayuran

Jenis sayuran yang selalu dikonsumsi (>1x/hari) dan sering (1x/hari) dikonsumsi adalah daun ubi, bayam, dan kangkung. Daun ubi sebanyak 44,2 % dan 34,7%, bayam sebanyak 36,8% dan 35,8%, dan kangkung sebanyak 21,0% dan 34,7%. Jenis sayuran yang selalu dan sering dikonsumsi karena mudah diperoleh dan banyak ditanam dipekarangan rumah. Daun ubi biasanya lebih sering digulai, untuk olahan bayam biasanya lebih sering di rebus dan di tumis dan kangkung lebih sering ditumis.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Sayuran

4.3.3.4 Frekuensi makan responden berdasarkan buah-buahan

Untuk buah-buahan sebagian besar lansia pada kategori sering (1x/hari) dikonsumsi adalah jeruk sebanyak 55,8%, pisang sebanyak 45,3% dan salak sebanyak 34,7% karena mudah didapat dipasar setiap minggunya.

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Buah-

4.3.3.5 Frekuensi makan responden berdasarkan makanan selingan

Makanan selingan yang selalu (>1x/sehari) dikonsumsi adalah kolak pisang sebanyak 33,7% dan bubur kacang hijau 30,5%. Makanan selingan yang sering (1x/hari) dikonsumsi adalah gorengan sebanyak 40,0%, kue basah sebanyak 34,7% dan bubur kacang hijau 32,6%.

Gorengan yang sering dikonsumsi adalah bakwan, pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, dan tempe goreng. Sedangkan jenis kue yang sering dikonsumsi adalah kue dadar, lemper, kue lapis, bolu kukus, kacang hijau, getuk dan sebagainya.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Makanan Selingan

4.3.3.6 Frekuensi makan responden berdasarkan minuman

Jenis minuman yang selalu (>1x/hari) dikonsumsi adalah teh manis sebanyak 56,8%

dan susu sebanyak 52,6 %.

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Makan Responden Berdasarkan Minuman

Frekuensi Makan

4.3.4 Jadwal makan

Jadwal makan merupakan waktu pada saat lansia melakukan kegiatan makan. Jadwal makan terdiri dari jadwal makan pagi, makan siang dan makan malam. Distribusi lansia menurut pembagian jadwal makan dijelaskan sebagai berikut :

4.3.4.1. Makan pagi

Makan pagi merupakan sesuatu yang sangat penting dilakukan karena makan pagi dapat memberikan energi untuk melakukan aktifitas sepanjang hari. Jadwal makan pagi dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pada tabel 4.10 dapat dilihat bahwa 37,9% lansia memiliki jadwal makan pagi sebelum pukul 09.00 WIB. Distribusi lansia menurut jadwal makan paginya tersaji dalam tabel berikut :

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Pagi

No. Jadwal Makan Pagi n =(95) %

1. <09.00 WIB 36 37,9

2. >09.00 WIB 59 62,1

4.3.4.2. Makan siang

Mengonsumsi makanan pada tengah hari akan mengembalikan energi pada tubuh dan menaikkan kembali kadar gula darah ketika fokus dan konsentrasi mulai menurun. Waktu makan siang setiap orang pun berbeda-beda. Pada tabel 4.11. dapat dilihat bahwa sebagian besar lansia memiliki jadwal makan siang 12.00 - 13.00 WIB yakni sebanyak 56,8%. Adapun distribusi jadwal makan siang lansia disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Siang

No. Jadwal Makan Siang n =(95) %

1. 12.00 – 13.00 WIB 54 56,8

2. >13.00 WIB 41 43,2

4.3.4.3. Makan malam

Makan malam sering dikhawatirkan menjadi penyebab timbulnya kelebihan berat badan pada seseorang dan dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti diabetes melitus. Hal ini bukan menjadi kesimpulan bahwa makan malam tidak baik untuk dilakukan.

Pemilihan waktu makan yang tepat merupakan cara yang baik untuk mencegah masalah kenaikan berat badan tersebut. Tabel 4.12 menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengonsumsi makan malam >19.00 WIB dengan total 62,1%. Distribusi jadwal makan malam lansia tersaji dalam tabel berikut :

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Jadwal Makan Malam

No. Jadwal Makan Malam n =(95) %

1. 18.00 – 19.00 WIB 30 31,6

2. >19.00 WIB 65 68,4

Berdasarkan jadwal makan pagi, makan siang, dan makan malam tersebut, selanjutnya dilakukan pengkategorian jadwal makan yaitu jadwal makan teratur dan tidak teratur. Jadwal makan dikategorikan teratur apabila sarapan sebelum jam 09.00, makan siang jam 12.00-13.00, dan makan malam 18.00-19.00. Jadwal makan dikategorikan tidak teratur apabila sarapan setelah jam 09.00, makan siang setelah jam 12.00-13.00, dan makan malam setelah 18.00-19.00.

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa lansia memiliki jadwal makan yang tidak teratur

yakni sebanyak 57,9%. Distribusi lansia menurut kategori jadwal makan ditampilkan sebagai berikut :

Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Lansia Berdasarkan Kategori Jadwal Makan

No. Kategori Jadwal Makan n =(95) %

1. Teratur 40 42,1

2. Tidak teratur 55 57,9

4.4 Kejadian Diabetes Melitus

Berdasarkan hasil penelitian penilaian gejala diabetes melitus pada lansia didapatkan melalui kuesioner. Hasil dari kuesioner tersebut didapatkan data sebagai berikut :

Tabel 4.14 Distribusi Lansia Berdasarkan Gejala Diabetes Melitus

No. Gejala diabetes n %

1. Polyuria 54 56,8

2. Polydipsia 63 66,3

3. Polyfhagia 70 73,7

4. Penurunan berat badan 26 27,4

5. Luka sulit sembuh 12 12,6

6. Kesemutan pada ujung syaraf 48 50,5

7. Cepat lelah 89 93,7

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kadar gula darah dari 95 responden berada pada kategori diabetes melitus dengan kadar gula darah sewaktu >200 mg/dL sebanyak 54 orang (56,8%), dan pada kategori tidak diabetes dengan kadar gula darah sewaktu <110 mg/dL sebanyak 41 orang (43,2%). Dimana terdapat kadar gula darah sewaktu tertinggi yaitu 480mg/dL sebanyak 1 orang dan terendah yaitu 98mg/dL sebanyak 1 orang.

Distribusi kejadian diabetes melitus pada lansia tersaji dalam tabel berikut : Tabel 4.15 Distribusi Kejadian Diabetes Melitus

No Klasifikasi n =(95) %

1. Diabetes melitus 54 56,8

2. Tidak Diabetes 41 43,2

4.4.1 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa berdasarkan jenis kelamin dari 95 responden sebagian besar yang mengalami kejadian diabetes adalah perempuan sebanyak 41 orang (43,1%), dan laki- laki sebanyak 13 orang (13,7%).

Tabel 4.16 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Kejadian diabetes melitus Diabetes Tidak

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jenis kelamin menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis kelamin dengan nilai p=0,760, dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.

4.4.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan pola makan

Pola makan lansia dilihat dari jenis makanan, frekuensi makan, jumlah makanan, dan jadwal makan yang dikonsumsi lansia setiap harinya. Gambaran kejadian diabetes melitus berdasarkan komponen-komponen pola makan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

4.4.2.1. Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis makanan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 95 responden dengan kategori jenis makanan tidak beragam sebanyak 26 orang (27,4%) yang mengalami kejadian diabetes dan 26 orang (27,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes. Sedangkan dari kategori jenis makanan yang beragam yang mengalami kejadian diabetes sebanyak 28 orang (29,5%), dan tidak mengalami kejadian diabetes ssebanyak 15 orang (15,8%).

Tabel 4.17 Tabulasi Silang Jenis Makanan Berdasarkan diabetes melitus

Jenis Makanan Kejadian diabetes melitus Diabetes Tidak

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jenis makanan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis makanan dengan nilai p=0,139, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.

4.4.2.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jumlah kalori (kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, dan kecukupan lemak)

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari 95 orang responden dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori lebih terdapat 18 orang yang mengalami kejadian diabetes melitus (62,1%) dan 11 orang (37,9%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan karbohidrat pada kategori baik sebanyak 33 orang (62,3%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 20 orang (37,7%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.

Penelitian yang telah dilakukan diketahui dari 95 orang responden dengan jumlah kecukupan protein pada kategori lebih terdapat 45 orang (61,6%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 28 orang (38,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan protein pada kategori baik sebanyak 9 orang (40,9%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 13 orang (59,1%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 95 orang responden dengan kecukupan lemak pada kategori lebih sebanyak 37 orang (66,1%) yang mengalami kejadian kejadian diabetes melitus dan 19 orang (33,9%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan lemak pada kategori baik sebanyak 17 orang (43,6%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 22 orang (56,4%) yang tidak mengalami kejadian kejadian diabetes melitus.

Tabel 4.18 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan karbohidrat menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 3x2. Tetapi setelah diuji tabel tersebut tidak layak uji karena adanya expected count kurang dari lima, sehingga peneliti melakukan penggabungan sel untuk menggabungkan kelompok kecukupan karbohidrat kategori lebih dan kategori baik. Kemudian setelah dilakukan penggabungan sel, peneliti menguji kembali data tersebut dengan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2, dari uji yang kedua tidak didapatkan sel dengan nilai expected count yang kurang dari lima sehingga tabel tersebut dinyatakan sudah layak uji. Maka dari hasil uji statistik didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan karbohidrat dengan nilai p=0,008, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.

Tabel 4.19 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Protein

Kecukupan

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan protein menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna

antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan protein dengan nilai p=0,085, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.

Tabel 4.20 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Lemak

Kecukupan Lemak

Kejadian Diabetes Melitus

Diabetes Tidak Diabetes

Total % p RP

n=95 % n=95 %

Lebih 37 66,1 19 33,9 56 58,9

0,030 1,53

Baik 17 43,6 22 56,4 39 41,1

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan lemak menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan lemak dengan nilai p=0,030 dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.

4.4.2.2.1 Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kategori Jumlah Kalori

Tabel 4.21 menunjukkan bahwa dari 95 orang responden dengan kecukupan energi pada kategori lebih sebanyak 37 orang (67,3%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 18 orang (32,7%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus, sedangkan kecukupan energi pada kategori baik sebanyak 17 orang (42,5%) yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 23 orang (57,5%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.

Tabel 4.21 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Kecukupan Energi

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan kecukupan energi menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan kecukupan energi dengan nilai p=0,16, dan RP > 1 maka faktor risiko benar merupakan faktor risiko timbulnya penyakit.

4.4.2.3 Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Frekuensi Makan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 95 responden dengan kategori frekuensi makanan kurang sebanyak 32 orang (33,7%) yang mengalami kejadian diabetes dan 7 orang (7,4%) yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan pada frekuensi makan baik sebanyak 22 orang (23,1%) mengalami diabetes melitus dan 34 orang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Adapun distribusi lansia yang mengalami kejadian diabetes melitus berdasarkan frekuensi makan dapat dilihat pada Tabel 4.22.

Tabel 4.22 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Frekuensi Makan Frekuensi

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan frekuensi makan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan frekuensi makan dengan nilai p=0,000 dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.

4.4.2.4 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jadwal makan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari 95 responden menunjukkan bahwa lansia yang memiliki jadwal makan tidak teratur mengalami kejadian diabetes melitus yaitu sebanyak 51,6% dan lansia yang memiliki jadwal makan tidak teratur tidak mengalami kejadian diabetes melitus sebanyak 6,3%. Distribusi lansia yang mengalami kejadian diabetes melitus berdasarkan jadwal makan dapat dilihat pada Tabel 4.23.

Tabel 4.23 Tabulasi Silang Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Jadwal Makan

Jadwal Makan Kejadian Diabetes Melitus Mengalami Tidak

Mengalami

Total

p RP

n % n % n =(95) %

Teratur 5 5,3 35 36,8 40 42,11

Tidak teratur 49 51,6 6 6,3 55 57,89 0,000 0,14

Hubungan antara kejadian diabetes melitus dengan jadwal makan menggunakan uji chi-square dengan jenis tabel 2x2 didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jadwal makan dengan nilai p=0,000, dan RP < 1 maka faktor risiko merupakan faktor yang menguntungkan karena sifatnya menghambat penyakit atau bersifat protektif.

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kejadian Diabetes Melitus

Hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa lansia di desa Aek Raso yang mengalami diabetes melitus ada sebesar 56,8%. Berdasarkan hasil penelitian lansia mengalami diabetes melitus dikarnakan tingginya konsumsi makanan yang manis, makanan bersumber dari karbohidrat dan protein. Penelitian yang dilakukan oleh wicaksono dan witasari yang melaporkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan manis memiliki risiko terkena diabetes melitus dua kali lipat. Sedangkan karbohidrat merupakan sumber kalori tertinggi penyebab diabetes melitus yakni sebesar 62,2%.

Berdasarkan jenis kelamin diketahui perempuan lebih banyak mengalami kejadian diabetes melitus sebesar 43,1%, dan laki- laki yang mengalami kejadian diabetes melitus sebesar 13,7%. Hal ini sesuai dengan penelitian Indriyani (2007) menyatakan bahwa diabetes melitus pada usia 40-70 tahun lebih banyak terjadi pada perempuan.

5.2. Kejadian Diabetes Melitus Berdasarkan Pola Makan

Pola makan dalam penelitian ini digambarkan melalui jenis makanan, frekuensi makan, jumlah kalori (berdasarkan kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, kecukupan lemak) dan jadwal makan.

5.2.1 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jenis makanan

Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa lansia dengan jenis makanan tidak beragam sebesar 43,2% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 11,6% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan dengan jenis makanan yang beragam sebesar 30,5% mengalami kejadian diabetes dan 14,7% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Hal ini dikarenakan sebagian lansia hanya mengkonsumsi makanan pokok, lauk, dan sayur namun jarang mengkonsumsi buah setiap hari. Selain itu mereka

mengkonsumsi makanan sehari-hari berdasarkan kebiasaan dan kesukaan bukan karena makanan seimbang yang harus dikonsumsi hal ini yang menyebabkan mereka sering mengkonsumsi makanan yang tidak beranekaragam.

Konsumsi makanan dengan jenis makanan yang tidak beragam menyebabkan kecenderungan terjadinya kelebihan konsumsi pada salah satu sumber zat gizi terutama karbohidrat yang bersumber dari makanan pokok. Pola makan yang berlebihan dalam konsumsi karbohidrat, protein dan lemak dapat menyebabkan terjadinya obesitas memicu timbulnya kejadian diabetes melitus.

Uji Chi-Square yang dilakukan mendapatkan hasil tidak adanya hubungan yang bermakna antara kejadian diabetes melitus dan jenis makanan dengan nilai p=0,139. Beragam dan tidak beragamnya jenis makanan yang di konsumsi lansia tidak mempengaruhi terjadinya kejadian diabetes melitus.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardyana D(2014) yang juga menyatakan bahwa tidak adanya hubungan ketepatan jenis makanan dengan status glukosa darah puasa pasien DM tipe 2 rawat jalan.

5.2.2 Kejadian diabetes melitus berdasarkan jumlah kalori (kecukupan karbohidrat, kecukupan protein, kecukupan lemak dan kecukupan energi)

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa lansia dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori lebih sebesar 62,1% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 37,9%

yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus. Sedangkan dengan jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori baik sebesar 62,3% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 37,7% yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus serta jumlah kecukupan karbohidrat pada kategori kurang sebesar 23,1% yang mengalami kejadian diabetes melitus dan 76,9%

yang tidak mengalami kejadian diabetes melitus.

Sumber karbohidrat utama yang sering dikonsumsi oleh lansia adalah nasi, dimana nasi merupakan salah satu sumber karbohidrat terbesar. Karbohidrat memiliki fungsi utama,

yaitu sebagai penyedia energi bagi tubuh. Jika mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang berlebih maka akan menyebabkan asupan energi meningkat dan mengakibatkan diabetes.

yaitu sebagai penyedia energi bagi tubuh. Jika mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang berlebih maka akan menyebabkan asupan energi meningkat dan mengakibatkan diabetes.