KARAKTERISTIK MIGRAN, RUMAH TANGGA MIGRAN, DAN MIGRASI DI DESA GELOGOR
2. Frekuensi pengiriman remitan (setahun terakhir)
2 bulan sekali 12 60 7 35
3-4 bulan sekali 4 30 8 30
≥ 5 bulan sekali 2 10 7 35
Mayoritas buruh migran laki-laki (90 %) mengirimkan remitan dalam jumlah yang tergolong rendah, yakni kurang dari Rp15.890.516,-. Sebesar 10 persen lainnya mengirimkan antara Rp15.890.516,- hingga Rp24.399.484,-. Sebaliknya, buruh migran perempuan justru mengirimkan remitan dalam jumlah yang tergolong besar. Sebesar 85 persen buruh migran perempuan mengirimkan remitan dalam jumlah yang lebih dari Rp24.399.484,-.
Besarnya jumlah remitan yang dikirimkan oleh buruh migran perempuan dikarenakan buruh migran perempuan cenderung akan mengirim hampir seluruh total gaji bekerja yang diterimanya kepada keluarganya yang berada di daerah asal. Biaya hidup buruh migran perempuan yang cenderung rendah karena sebagian besar ditunjang dan dipenuhi oleh majikan tempat bekerja, membuat jumlah remitan yang dapat dikirimkan lebih banyak. Sementara itu, buruh migran laki-laki mengirimkan remitan dalam jumlah yang sedikit karena pada umumnya mengirimkan hanya sebagian dari gaji yang diterima. Gaji yang diterima oleh buruh migran laki-laki harus dibagi untuk kebutuhan keluarga yang berada di daerah asal dan kebutuhan hidup diri mereka sendiri di negara tempat bekerja. Umumnya, biaya hidup buruh migran laki-laki cukup besar karena semua keperluan dan kebutuhan sehari-hari sepenuhnya ditanggung oleh diri mereka sendiri. Tidak seperti buruh migran perempuan yang mendapatkan segala fasilitas dan kebutuhan sehari-hari dari majikannya, mayoritas buruh migran laki-laki yang bekerja sebagai buruh di negara Malaysia harus menyewa tempat tinggal secara pribadi dan mengeluarkan biaya untuk keperluan sehari-hari secara pribadi pula.
Remitan buruh migran laki-laki cenderung tidak dikirimkan dalam jumlah yang besar karena mereka menyimpan remitan secara pribadi untuk keperluan di masa mendatang. Remitan yang disimpan ini biasanya akan dibawa pada saat buruh migran kembali ke daerah asal ataupun akan dikirim pada waktu tertentu dalam jumlah yang besar. Oleh sebab itu, remitan yang dikirimkan oleh buruh migran laki-laki dalam setahun terakhir pada umumnya bernilai lebih kecil jika dibandingkan remitan buruh migran perempuan.
Berdasarkan frekuensi pengiriman remitan, buruh migran laki-laki mengirimkan remitan lebih sering dibandingkan buruh migran perempuan. Mayoritas buruh migran laki-laki (60 %) mengirimkan remitan setiap satu hingga dua bulan sekali, sebesar 30 persen lainnya mengirimkan setiap tiga hingga empat bulan sekali, dan 10 persen sisanya mengirimkan setiap lebih dari lima bulan sekali. Sementara itu, buruh migran perempuan yang mengirimkan remitan setiap satu hingga dua bulan sekali hanya memiliki persentase sebesar 35 persen. Sebesar 35 persen lainnya mengirimkan remitan setiap lebih dari lima bulan sekali, dan 30 persen sisanya mengirimkan setiap tiga hingga lima bulan.
Buruh migran laki-laki mengirimkan remitan lebih sering terkait perannya sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, sehingga harus mengirimkan uang kepada keluarganya secara rutin dengan intensitas yang sering. Selain itu, mayoritas rumah tangga buruh migran laki-laki memiliki tingkat pendapatan yang rendah sehingga remitan memiliki peran yang penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari keluarga dan harus dikirimkan lebih sering (dalam waktu satu hingga dua bulan sekali). Setiap periode waktu pengiriman, mayoritas buruh migran mengirimkan remitan dalam jumlah yang berbeda-beda (63 %). Sementara itu, hanya sebesar 37 persen buruh migran yang mengirimkan remitan dengan jumlah yang sama setiap waktu pengiriman.
Remitan dikirimkan melalui jalur pengiriman yang berbeda-beda. Sebesar 78 persen buruh migran mengirimkan remitan uang melalui bank/ATM, sedangkan 12 persen lainnya mengirimkan melalui wesel, dan 10 persen sisanya melalui kantor pos. Mayoritas rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya bekerja atau pernah bekerja di luar negeri pada umumnya memiliki akses terhadap bank ataupun memiliki ATM secara pribadi. Hal ini seperti yang diungkapkan salah satu responden.
“Biasanya dikirim pakai ATM sendiri, Dek. Biar gampang, lebih aman pula. Dari pada dikirim atau nitip orang, bahaya. Selama ini lewat ATM kalau kiriman ga pernah ada masalah, uangnya juga bisa diambil kapan saja”. (Z, 30 tahun)
Selain dalam bentuk uang, remitan juga dapat berbentuk barang yang memiliki nilai. Mayoritas buruh migran (70 %) tidak pernah mengirimkan barang- barang kepada keluarga. Sementara itu, sisanya sebesar 30 persen lainnya pernah mengirimkan. Semua buruh migran yang mengirimkan remitan dalam bentuk barang-barang merupakan buruh migran perempuan. Adapun jenis barang-barang yang dikirimkan yakni berupa pakaian, peralatan rumah tangga, handphone, perhiasan, makanan, dan juga sajadah. Selain dibeli sendiri oleh buruh migran barang-barang yang dikirimkan juga merupakan sumbangan atau pemberian dari majikan tempat mereka bekerja. Remitan dalam bentuk barang-barang dikirimkan oleh melalui jalur pengiriman yang berbeda-beda. Sebesar 50 persen dari buruh migran perempuan mengirimkan barang-barang melalui teman sesama buruh migran yang pulang ke daerah asal. Barang-barang tersebut sengaja dikirimkan melalui teman agar lebih aman dan lebih menghemat biaya pengiriman. Sementara itu, sebesar 42 persen lainnya mengirimkan melalui jasa pengiriman khusus barang dari luar negeri ke Indonesia, sedangkan 8 persen sisanya mengirimkan melalui kerabat yang pulang. Barang-barang yang dikirimkan melalui jasa pengiriman khusus pada umumnya merupakan barang-barang berharga atau barang-barang dalam jumlah yang cukup banyak.
Remitan yang dikirimkan oleh buruh migran berpengaruh terhadap peningkatan nilai pendapatan rumah tangga. Nilai rata-rata pendapatan rumah tangga yang semula hanya sebesar Rp11.377.500,- setelah ditambah sumbangan remitan meningkat menjadi sebesar Rp31.522.500,-.
Tabel 7 Perbandingan pendapatan tanpa remitan dan nilai remitan terhadap pendapatan dengan remitan rumah tangga Desa Gelogor tahun 2013
No Jenis Pekerjaan Tanpa remitan (ribuan Rupiah) % Remitan (ribuan Rupiah) % Dengan remitan (ribuan Rupiah) % 1. Usaha warung 11 000 41.4 15 580 58.6 26 580 100 2. Berdagang 12 000 37.5 20 000 62.5 32 000 100 3. Buruh 10 000 40.0 15 000 60.0 25 000 100 4. Guru honorer 12 510 29.4 30 000 70.6 42 510 100 Rata-rata 11 377 37.1 20 145 62.9 31 522 100
Tabel 6 menyajikan perbandingan nilai rata-rata pendapatan awal (tanpa remitan) rumah tangga dan nilai rata-rata remitan yang masuk terhadap nilai rata- rata pendapatan akhir (setelah ditambahkan remitan) rumah tangga di Desa Gelogor yang dirinci berdasarkan jenis pekerjaan. Setelah adanya kiriman dan sumbangan dari remitan, nilai rata-rata pendapatan rumah tangga pada masing- masing bidang pekerjaan mengalami perubahan. Tabel tersebut juga menunjukkan nilai proporsi sumbangan antara pendapatan rumah tangga dari dalam negeri (tanpa remitan) dengan pendapatan dari luar negeri (remitan).
Sumbangan pendapatan dari anggota rumah tangga yang bekerja mengelola usaha warung teridentifikasi hanya sebesar 41.4 persen, sedangkan remitan memberi sumbangan yang lebih besar yakni sebesar 58.6 persen dari nilai total pendapatan rumah tangga tersebut. Rumah tangga yang anggotanya berdagang/berjualan menyumbang pendapatan lebih kecil yakni hanya sebesar 37.5 persen dan 62.5 persen sisanya disumbang dari kiriman remitan. Sementara itu, anggota rumah tangga yang bekerja sebagai buruh menyumbang nilai pendapatan dalam rumah tangga tersebut sebesar 40.0 persen, sedangkan remitan yang dikirimkan memberi sumbangan sebesar 60.0 persen. Terakhir, rumah tangga yang anggotanya bekerja sebagai guru honorer menyumbang pendapatan sebesar 29.4 persen dan selebihnya dari remitan sebesar 70.6 persen.
Secara umum, nilai pendapatan rumah tangga yang didapat dari hasil pekerjaan anggota rumah tangga dalam negeri hanya menyumbang sebesar 37.1 persen, sedangkan remitan yang dikirimkan dari luar negeri menyumbang sebesar 62.9 persen dari nilai total pendapatan rumah tangga dalam setahun terakhir. Lebih dari setengah pendapatan rumah tangga di Desa Gelogor dalam setahun terakhir diperoleh dan ditunjang dari kiriman remitan. Hal ini menunjukkan besarnya peran remitan bagi pendapatan rumah tangga yang berada di daerah asal. Pengeluaran Rumah Tangga Migran
Pengeluaran rumah tangga dihitung dari tiga jenis pengeluaran yakni pengeluaran untuk konsumsi (primer, sekunder, tersier), investasi, dan produksi. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata pengeluaran rumah tangga buruh migran di Desa Gelogor dalam setahun terakhir sebesar Rp20.371.250,-. Nilai pengeluaran tersebut mengalami peningkatan dari Rp8.557.407,- saat sebelum adanya sumbangan dari remitan buruh migran.
Sebelum adanya sumbangan remitan, rata-rata pengeluaran rumah tangga lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumsi primer (64 %) berupa pembelian sembako dan lauk-pauk. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan paling utama yang harus selalu dipenuhi dalam setiap rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan konsumsi lainnya juga digunakan untuk keperluan biaya kesehatan dan pendidikan anak yang digolongkan dalam kebutuhan konsumsi sekunder (23 %). Biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh rumah tangga tersebut mencakup pembelian peralatan sekolah/kuliah dan juga uang jajan per harinya. Pengeluaran lainnya yang dilakukan oleh rumah tangga adalah modal pembelian barang-barang untuk usaha warung yang mereka kelola. Pengeluaran ini digolongkan sebagai kebutuhan investasi dengan persentase sebesar 11 persen dari nilai total pengeluaran rumah tangga. Selain itu, sebesar 2 persen pengeluaran lainnya digunakan untuk kebutuhan produksi yakni pembelian bibit dan pupuk
untuk tanaman sayur yang dikelola. Hasil penelitian mengidentifikasi tidak adanya biaya untuk kebutuhan tersier (barang-barang berharga/mewah) yang dikeluarkan oleh rumah tangga sebelum adanya remitan.
Tabel 8 Pengeluaran rumah tangga buruh migran (sebelum dan setelah adanya remitan) di Desa Gelogor tahun 2013
No Jenis pengeluaran Rata-rata pengeluaran (sebelum) % Rata-rata pengeluaran (setelah) % 1. Konsumsi Primer Rp5 500 000 64 Rp6 500 000 32 Sekunder Rp2 000 000 23 Rp2 287 125 11 Tersier - 0 Rp9 834 125 48 2. Investasi Rp957 407 11 Rp1 500 000 8 3. Produksi Rp100 000 2 Rp250 000 1 TOTAL Rp8 557 407 100 Rp20 371 250 100 Selisih (pendapatan- pengeluaran) Rp2 820 093 Rp11 151 250
Setelah adanya sumbangan remitan, nilai rata-rata pengeluaran rumah tangga mengalami perubahan. Nilai pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi primer, terutama pembelian sembako dan lauk-pauk meskipun mengalami peningkatan namun peningkatan yang terjadi tidak terlalu besar, karena baik sebelum maupun setelah adanya remitan mayoritas rumah tangga mengonsumsi jenis makanan dan lauk-pauk yang tidak terlalu berbeda. Peningkatan nilai pengeluaran untuk sembako dan lauk-pauk hanya terjadi karena adanya peningkatan harga barang di pasaran. Hal ini seperti yang diungkapkan salah satu responden.
“Kalau dulu makan masih murah, tapi semenjak harga-harga semakin naik ya untuk makan rata-rata di sini paling keluar biaya sekitar 30 sampai 50 ribu seharinya. Itu udah termasuk beli berasnya sama lauknya. ”. (F, 25 tahun)
Sama halnya dengan kebutuhan konsumsi primer, nilai pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi sekunder, investasi, dan produksi juga mengalami peningkatan yang tidak terlalu besar. Setelah adanya sumbangan remitan, beberapa rumah tangga tidak hanya mengalokasikan biaya untuk kebutuhan warung namun mengeluarkan biaya untuk kebutuhan investasi lainnya berupa pembelian ternak dan lahan di sekitar desa.
Perubahan yang sangat drastis terjadi pada pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan tersier. Setelah adanya sumbangan remitan, semua rumah tangga mengeluarkan biaya untuk membeli barang-barang berharga bahkan mewah, mulai dari alat transportasi berupa sepeda motor, alat elektronik, perhiasan emas, hingga perabot rumah. Mayoritas rumah tangga juga mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk melakukan renovasi rumah mereka. Konsumsi tersier menjadi
kebutuhan dengan alokasi biaya pengeluaran terbesar rumah tangga dengan persentase 48 persen dari nilai total pengeluaran.
Tabel 8 juga menunjukkan terjadinya perubahan persentase alokasi pengeluaran untuk masing-masing jenis pengeluaran. Setelah adanya sumbangan remitan, meskipun nilai pengeluaran untuk masing-masing jenis pengeluaran rumah tangga meningkat, namun persentase alokasi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan konsumsi primer dan sekunder, investasi, serta produksi menjadi lebih kecil (menurun) dibandingkan sebelumnya. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan nilai pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi tersier yang sangat besar, sehingga proporsi persentase untuk jenis pengeluaran ini meningkat sementara persentase pengeluaran kebutuhan lainnya menurun. Jika dilihat secara keseluruhan untuk masing-masing jenis pengeluaran, peningkatan nilai rata-rata dan persentase pengeluaran rumah tangga terjadi pada kebutuhan konsumsi. Biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga dialokasikan lebih besar untuk kebutuhan tersebut dibandingkan kebutuhan investasi dan produksi.
Nilai rata-rata pengeluaran rumah tangga baik sebelum maupun setelah adanya sumbangan remitan jauh lebih rendah dibandingkan nilai rata-rata pendapatan. Berdasarkan hasil perhitungan, selisih antara nilai pendapatan dengan nilai pengeluaran rumah tangga sebelum adanya remitan adalah sebesar Rp2.820.093,- sedangkan setelah adanya remitan sebesar Rp11.151.250,-. Selisih (sisa uang) pada umumnya harus sama dengan nol atau tidak ada sama sekali, karena seharusnya nilai pengeluaran rumah tangga tidak lebih rendah dari nilai pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketidakakuratan data mengenai nilai pendapatan dan pengeluaran rumah tangga dalam penelitian ini. Ketidakakuratan disebabkan oleh sulitnya mengidentifikasi dan mendata secara rinci mengenai nilai pengeluaran dalam rumah tangga. Mayoritas rumah tangga mengetahui secara persis nilai pendapatan mereka, namun tidak mengingat secara persis berapa biaya pengeluaran mereka dalam setahun terakhir. Akibatnya, rumah tangga dalam penelitian ini hanya menaksir perkiraan biaya pengeluaran yang telah mereka keluarkan, sehingga hasil identifikasi untuk nilai pengeluaran pun menjadi sedikit tidak akurat dan sesuai jika dibandingkan dengan nilai pendapatan rumah tangga mereka.
Kekayaan Rumah Tangga Migran
Kekayaan rumah tangga buruh migran dihitung berdasarkan nilai total dari kepemilikan aset dalam rumah tangga, yakni berupa kepemilikan peralatan elektronik, kepemilikan alat transportasi, serta kepemilikan perhiasan dan simpanan/tabungan. Rata-rata nilai kekayaan yang dimiliki oleh rumah tangga buruh migran di Desa Gelogor sebelum adanya migrasi adalah sebesar Rp2.096.750,-. Jenis aset yang dimiliki oleh rumah tangga buruh migran pada saat itu hanya sebatas peralatan elektronik berupa televisi dan peralatan rumah tangga. Setelah adanya kiriman remitan dari buruh migran, nilai kekayaan rumah tangga buruh migran mengalami peningkatan yang cukup besar. Nilai rata-rata kekayaan rumah tangga dalam setahun terakhir menjadi sebesar Rp14.439.250,-. Aset yang paling banyak dimiliki oleh mayoritas rumah tangga adalah alat transportasi berupa sepeda motor. Umumnya, setiap rumah tangga membeli satu buah sepeda motor yang mereka manfaatkan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Sepeda motor inilah yang menyumbang nilai kekayaan terbesar dalam rumah tangga
buruh migran. Selain itu, aset lainnya yang juga banyak dimiliki oleh rumah tangga setelah adanya kiriman remitan adalah berupa perhiasan emas (anting, cincin, kalung, gelang), serta kepemilikan alat elektronik yang paling banyak dimiliki adalah televisi, handphone, dan kipas angin.
Mayoritas rumah tangga buruh migran laki-laki memiliki tingkat kekayaan yang tergolong rendah, yakni memiliki aset yang bernilai kurang dari Rp7.241.403,-. Sementara itu, mayoritas rumah tangga buruh migran perempuan jauh lebih besar dengan nilai kekayaan di atas Rp7.241.403,-. Perbedaan tingkat kekayaan antara kedua rumah tangga ini disebabkan oleh rumah tangga buruh migran perempuan cenderung membeli banyak barang-barang dari hasil kiriman remitan tersebut. Mayoritas buruh migran perempuan juga mengirimkan remitan dalam bentuk barang dari negara tempat bekerja kepada keluarga yang berada di daerah asal, sehingga total nilai kekayaan yang dimiliki dalam setahun terakhir pun menjadi lebih besar dibandingkan buruh migran laki-laki.
Selain aset dalam bentuk alat transportasi, alat elektronik, dan perhiasan, penelitian ini juga mengidentifikasi kepemilikan aset lain dan kondisi perumahan pada rumah tangga di Desa Gelogor. Mayoritas rumah tangga buruh migran memiliki aset lain berupa rumah pribadi sebagai tempat tinggal keluarga mereka. Hanya beberapa rumah tangga yang ketika penelitian berlangsung masih menumpang tinggal dengan orang tua namun sedang membangun rumah pribadi. Sebelum migrasi, sebesar 95 persen rumah tangga memiliki aset hanya berupa rumah. Sementara itu, 5 persen atau dua rumah tangga lainnya memiliki aset lain berupa rumah dan juga lahan kebun yang ditanami berbagai jenis sayuran. Setelah adanya migrasi atau pada saat penelitian berlangsung, hanya dua rumah tangga yang mengalami perubahan dari segi kepemilikan aset, yang mana setelah adanya migrasi kedua rumah tangga tersebut mampu membeli lahan di sekitar desa.
Tabel 9 Tingkat pendapatan, pengeluaran, dan kekayaan rumah tangga berdasarkan jenis kelamin di Desa Gelogor tahun 2013
No Variabel
Laki-laki Perempuan
n % n %
1. Pendapatan (setahun terakhir)
< Rp25 991 973 16 80 1 5
Rp25 991 973-Rp37 053 027 2 10 4 20
> Rp37 053 027 2 10 15 75
TOTAL 20 100 20 100
2. Pengeluaran (setahun terakhir)
< Rp15 593 293 8 40 7 35
Rp15 593 293-Rp25 149 207 10 50 7 35
> Rp25 149 207 2 10 6 30
TOTAL 20 100 20 100
3. Kekayaan (setahun terakhir)
< Rp7 241 403 10 50 4 20
Rp7 241 403-Rp21 637 097 7 35 12 60
> Rp21 637 097 3 15 4 20
Berdasarkan kondisi perumahan yang dimiliki oleh rumah tangga buruh migran, perubahan fasilitas rumah yang paling banyak ditemui adalah perubahan fasilitas lantai, dinding, dan atap. Sebelum migrasi, mayoritas rumah tangga memiliki rumah dengan lantai yang terbuat dari semen, dinding yang terbuat dari tembok bata yang belum rapi, dan atap yang terbuat dari seng bahkan beberapa rumah terbuat dari alang-alang/rumbia. Setelah migrasi, fasilitas lantai rumah yang digunakan adalah keramik, dinding yang terbuat dari tembok beton, serta atap yang terbuat dari genteng. Fasilitas sumber penerangan, sumber air bersih, MCK, dan pagar rumah tidak terlalu mengalami banyak perubahan. Sumber penerangan yang digunakan oleh seluruh rumah tangga berupa listrik yang dipasang langsung dari PLN. Sumber air bersih yang digunakan untuk keperluan sehari-hari pada umumnya masih berasal dari air sumur yang dimiliki di setiap rumah dan beberapa lainnya menggunakan air ledeng meteran yang dipasang langsung dari PAM. MCK yang digunakan sehari-hari terbuat dari semen dan beberapa lainnya dari keramik. Sementara itu, mayoritas rumah tidak memiliki pagar karena letaknya yang berdekatan satu sama lain dan berada di dalam gang.
Karakteristik Migrasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua hal utama yang menjadi faktor penyebab migrasi yang dilakukan oleh buruh migran asal Desa Gelogor. Mayoritas responden (77 %) mengemukakan bahwa kondisi perekonomian keluarga menjadi alasan utama dibalik keputusan bermigrasinya salah satu anggota keluarga mereka. Keinginan untuk memperbaiki kehidupan dan merubah nasib mendorong mereka untuk melakukan keberangkatan ke luar negeri dan bekerja sebagai buruh migran. Sementara itu, sebesar 23 persen sisanya mengemukakan bahwa kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan di daerah asal menjadi penyebab migrasi internasional yang dilakukan oleh anggota keluarga mereka. Lapangan pekerjaan yang tersedia di Desa Gelogor seperti di bidang pertanian, bidang jasa (sopir ojek, sopir cidomo), buruh, dan lainnya kurang diminati dan kurang memadai dari segi penghasilan yang diterima.
Tabel 10 Karakteristik migrasi berdasarkan jenis kelamin di Desa Gelogor tahun 2013 No Variabel Laki-laki Perempuan n % n % 1. Negara tujuan Malaysia 19 95 0 0 Timur Tengah 1 5 20 100 TOTAL 20 100 20 100 2. Lama migrasi < 5 tahun 0 0 12 60 5-7 tahun 8 40 7 35 > 7 tahun 12 60 1 5 TOTAL 20 100 20 100
Negara Tujuan Migrasi
Umumnya, penduduk laki-laki di Desa Gelogor melakukan migrasi ke negara Malaysia, sedangkan penduduk perempuan ke negara-negara di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan hasil penelitian, diidentifikasi sebesar 95 persen buruh migran laki-laki bekerja di negara Malaysia dan 5 persen sisanya di Arab Saudi. Sementara itu, seluruh buruh migran perempuan bekerja di negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Dubai, dan Riyadh. Hasil ini menunjukkan adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang menyebutkan mengenai negara tujuan yang khas pada mayoritas penduduk laki-laki dan perempuan di Desa Gelogor. Akan tetapi, dari 40 responden terdapat satu orang responden yang anggota keluarganya adalah seorang laki-laki namun bekerja bukan di negara Malaysia, melainkan di negara Arab Saudi. Buruh migran tersebut merupakan migran yang awalnya memang bekerja di negara Malaysia, namun setelah kontrak kerja tahun pertama berakhir memutuskan untuk berpindah ke negara Arab Saudi. Perpindahan ke negara tersebut dilatarbelakangi oleh adanya kerabat dekat buruh migran yang menetap di sana dan bersedia membantu mencarikan pekerjaan untuk buruh migran tersebut.
Pemilihan negara tujuan migrasi yang dilakukan buruh migran di Desa Gelogor disebabkan oleh berbagai alasan. Hal utama yang menjadi alasan dari para buruh migran dalam memilih negara tujuan bekerja di luar negeri adalah kedekatan jarak antara daerah asal dengan negara tujuan. Sebesar 30 persen responden yang anggota keluarganya bekerja di negara Malaysia mengemukakan alasan bahwa selain karena mayoritas penduduk laki-laki di Desa Gelogor memang bekerja di Malaysia, negara tersebut dipilih karena secara geografis letaknya yang cukup dekat dengan Indonesia. Kedekatan jarak ini dapat mempermudah akses para buruh migran terutama dalam hal keberangkatan dan kepulangan ke tanah air. Selain itu, kedekatan jarak ini juga dapat lebih mempermudah para buruh migran beradaptasi dengan lingkungan yang tidak terlalu jauh berbeda dengan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan sehari- hari.
“Suami saya sudah tujuh tahun di Malaysia, Dek. Ya sengaja ke sana biar dekat kalau mau pulang ke rumah. Apalagi negara kita kan tidak jauh beda sama Malaysia, kayak bahasa, makanan, agama, semua hampir sama. Jadi biar gampang lah suami saya di sana”. (BH, 31 tahun)
Selain karena faktor kedekatan jarak, sebesar 15 persen responden mengemukakan alasan lain berupa murahnya biaya keberangkatan di negara tujuan yang dipilih. Sementara itu, 15 persen lainnya mengemukakan adanya keinginan untuk melaksanakan ibadah haji, sehingga memilih negara-negara di kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi sebagai tempat bekerja.
“Adik saya mau sekalian naik haji atau umroh, makanya waktu itu milih kerja di Arab Saudi. Sekarang sudah empat tahun di