• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGIRIMAN REMITAN

6. Posisi dalam keluarga

Suami 11 61 2 40 0 0 13 32

Istri 0 0 0 0 6 35 6 16

Anak 7 39 3 60 11 65 21 52

TOTAL 18 100 5 100 17 100 40 100

Hubungan Jenis Kelamin Migran dengan Tingkat Pengiriman Remitan Hasil analisis hubungan dengan menggunakan menggunakan metode tabulasi silang menunjukkan bahwa tingkat remitan yang tergolong rendah berada pada buruh migran laki-laki (100 %) dan tingkat remitan yang tergolong sedang dan tinggi berada pada buruh migran perempuan (60 % dan 100 %). Hubungan antara kedua variabel juga dianalisis dengan menggunakan dengan menggunakan uji Chi-Square pada program SPSS for Windows versi 20. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel jenis kelamin pelaku migrasi dengan tingkat remitan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa Pearson Chi-Square dari kedua variabel sama dengan 0.000 yang artinya lebih kecil dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.000 < 0.005),

sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel jenis kelamin pelaku migrasi dengan tingkat remitan diterima.

Buruh migran laki-laki pada umumnya mengirimkan remitan sesuai dengan jumlah kebutuhan yang dibutuhkan, sedangkan buruh migran perempuan biasanya selalu mengirim remitan secara lebih dari jumlah yang dibutuhkan oleh keluarga. Beberapa buruh migran perempuan juga mengirimkan remitan dalam bentuk barang, sehingga jumlah remitan total yang dikirimkan menjadi lebih besar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden.

“Ya namanya juga perempuan, biasanya suka beli ini beli itu terus dikirim ke rumah. Biasanya juga kalo ngirim suka lebih lah buat keperluan anak terutama”. (LS, 45 tahun)

Penjelasan lainnya mengenai hubungan antara jenis kelamin dengan jumlah remitan yang dikirimkan telah dijelaskan pada pemaparan pada bab sebelumnya, yang mana buruh migran laki-laki memiliki biaya hidup di negara tempat bekerja yang lebih besar dibandingkan perempuan, serta mayoritas buruh migran laki-laki menyimpan sebagian remitan untuk ditabung secara pribadi. Oleh sebab itu, jumlah remitan yang dikirimkan menjadi lebih kecil dibandingkan remitan dari buruh migran perempuan. Hasil penelitian ini berbeda dengan beberapa hasil penelitian lainnya yang justru menemukan hal sebaliknya, yang mana buruh migran laki-laki lah yang mengirimkan remitan lebih besar.

Hubungan Tingkat Pendidikan Migran dengan Tingkat Pengiriman Remitan Berdasarkan hasil analisis hubungan dengan menggunakan tabulasi silang didapatkan bahwa tingkat remitan yang tergolong rendah berada pada buruh migran dengan pendidikan rendah yakni sebesar 39 persen, tingkat remitan yang tergolong sedang berada pada buruh migran dengan tingkat pendidikan sedang dan tinggi yakni masing-masing sebesar 40 persen, dan tingkat remitan yang tergolong tinggi berada pada buruh migran dengan tingkat pendidikan yang sedang yakni sebesar 41 persen. Hasil analisis hubungan dengan menggunakan tabulasi silang diperkuat dengan hasil analisis hubungan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman pada program SPSS for Windows versi 20. Hasil analisis menunjukkan bahwa sig. (2-tailed) pada kedua variabel ini sama dengan 0.849 yang artinya lebih besar dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.849 > 0.05), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan tingkat remitan ditolak.

Jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh oleh buruh migran tidak terlalu berpengaruh terhadap jenis pekerjaan dan gaji yang mereka terima. Mayoritas buruh migran yang bekerja di sektor informal pada dasarnya tidak terlalu dibeda- bedakan dalam hal tingkat pendidikan terakhirnya, sehingga jumlah remitan yang mereka terima dan kirimkan juga tidak akan jauh berbeda. Riwayat pendidikan tidak menjadi pertimbangan utama bagi perekrut tenaga kerja seperti agen-agen PJTKI dalam menempatkan buruh migran di luar negeri. Begitu pun halnya dengan para majikan di luar negeri tidak akan terlalu memerhatikan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh para buruh migran, karena apapun tingkat pendidikannya akan ditempatkan pada pekerjaan yang kurang lebih sama dengan

gaji yang sama pula. Hal ini seperti yang dikutip dari penuturan salah satu responden.

“Mau tamat sekolah apa juga kalau di sana (luar negeri) ga terlalu dilihat. Kerjanya ya sama-sama aja. Ga ngaruh ke besar kecil gaji yang didapat, di sana yang paling penting kemampuan sama keahlian kerjanya, bukan sekolahnya. Makanya orang yang tamatan SMA sama yang tamatan SD atau ga sekolah sekalipun ya sama-sama aja gaji yang didapat”. (MI, 26 tahun).

Berbeda halnya dengan buruh migran yang bekerja di sektor-sektor formal di luar negeri, tingkat pendidikan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan jenis pekerjaan dan jumlah gaji yang akan diterima. Berhubung seluruh buruh migran yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah buruh migran yang bekerja di sektor informal, sehingga tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan jumlah remitan. Hubungan Status Pernikahan Migran dengan Tingkat Pengiriman Remitan

Hasil analisis hubungan dengan menggunakan tabulasi silang untuk variabel status pernikahan dengan tingkat pengiriman migran menunjukkan tingkat remitan yang tergolong rendah berada pada buruh migran yang telah menikah yakni sebesar 83 persen. Sementara itu, tingkat remitan yang tergolong sedang dan tinggi juga berada pada buruh migran yang berstatus menikah yakni masing-masing sebesar 60 persen dan 42 persen. Hasil analisis ini kurang menunjukkan adanya hubungan yang berarti antara status pernikahan buruh migran dengan jumlah remitan yang dikirimkan. Hubungan antara kedua variabel yang juga dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square juga menunjukkan hasil mengenai tidak terdapatnya hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pearson Chi-Square pada kedua variabel ini sama dengan 0.082 yang artinya lebih besar dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.082 > 0.05), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel status pernikahan dengan tingkat remitan ditolak.

Berbagai hasil penelitian lain menyebutkan bahwa antara status pernikahan dengan jumlah remitan terdapat hubungan. Buruh migran yang berstatus menikah akan mengirimkan remitan lebih besar dibandingkan buruh migran yang belum dan/atau pernah menikah. Hal tersebut tidak terlihat dalam penelitian ini karena mayoritas buruh migran yang menikah adalah laki-laki (suami), yang mana pada pemaparan sebelumnya telah disebutkan bahwa memang memiliki tingkat pengiriman remitan yang rendah. Sementara itu, untuk tingkat pengiriman remitan yang tinggi pada buruh migran dengan status menikah adalah buruh migran perempuan (istri).

Hubungan Tanggungan Migran dengan Tingkat Pengiriman Remitan

Hasil analisis hubungan dengan menggunakan tabulasi silang menunjukkan bahwa tingkat pengiriman remitan yang tergolong rendah berada pada buruh migran yang jumlah tanggungannya kurang dari dua orang yakni sebesar 83 persen. Sementara itu, tingkat pengiriman remitan yang tergolong sedang dan tinggi berada pada buruh migran dengan jumlah tanggungan dua

hingga tiga orang dengan yakni masing-masing sebesar 100 persen dan 65 persen. Hubungan antara jumlah tanggungan dengan tingkat pengiriman remitan semakin juga dianalisis dengan menggunakan korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa correlation coefficient antar dua variabel adalah sebesar 0.825, artinya terdapat hubungan yang positif dan tergolong sangat kuat antara jumlah tanggungan pelaku migrasi dengan tingkat remitan. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa sig. (2-tailed) pada kedua variabel ini sama dengan 0.000 yang artinya lebih kecil dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.000 > 0.05), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel jumlah tanggungan dengan tingkat remitan diterima.

Semua buruh migran yang jumlah tanggungannya sedikit (kurang dari dua orang) akan mengirimkan remitan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan buruh migran yang jumlah tanggungannya banyak. Hal ini didasarkan pada semakin kecilnya jumlah tanggungan dalam keluarga buruh migran, maka akan semakin kecil pula kebutuhan dan keperluan ekonomi dalam keluarga tersebut sehingga remitan yang dikirimkan oleh buruh migran pun tidak terlalu besar. Sementara itu, bagi rumah tangga buruh migran yang jumlah tanggungannya banyak maka secara otomatis memiliki kebutuhan yang banyak atau besar, sehingga remitan yang dikirimkan akan lebih besar pula. Menurut para responden, faktor jumlah tanggungan dalam keluarga merupakan salah satu faktor utama yang sangat menentukan tingkat pengiriman remitan di Desa Gelogor. Hubungan Posisi Migran dengan Tingkat Pengiriman Remitan

Hubungan antara posisi migran dalam keluarga dengan tingkat pengiriman remitan ditunjukkan melalui metode tabulasi silang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengiriman remitan yang tergolong tinggi berada pada buruh migran yang memiliki posisi sebagai suami dalam keluarga yakni sebesar 61 persen, tingkat pengiriman remitan yang tergolong sedang berada pada buruh migran yang memiliki posisinya sebagai anak yakni sebesar 60 persen, dan tingkat pengiriman remitan yang tergolong tinggi berada pada buruh migran yang posisinya sebagai anak dan istri yakni masing-masing sebesar 65 persen dan 35 persen. Hasil analisis hubungan dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara posisi buruh migran dalam keluarga dengan tingkat remitan yang dikirimkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pearson Chi-Square antara dua variabel yang diuji adalah sebesar 0.001 yang artinya lebih kecil dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.001 < 0.05), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel posisi migran dengan tingkat remitan diterima.

Penjelasan mengenai hubungan antara tingkat pengiriman remitan dengan posisi buruh migran sebagai suami ataupun istri telah dipaparkan pada penjelasan sebelumnya. Sementara itu, buruh migran yang posisinya sebagai anak dalam keluarga cenderung mengirimkan remitan dalam jumlah yang tinggi. Hal ini dikarenakan mayoritas buruh migran yang merupakan anak dalam penelitian ini berstatus belum menikah dan bertanggung jawab terhadap keluarganya di daerah asal dan menjadi pencari nafkah utama keluarga, karena keterbatasan orang tua mereka. Sebagai penanggung jawab utama dalam keluarga, mereka juga bertanggung jawab terhadap saudara-saudara yang bersekolah. Oleh sebab itu, remitan yang mereka kirimkan cenderung lebih besar jumlahnya.

Tabel 12 Nilai analisis uji korelasi Rank Spearman/uji Chi-Square antara karakteristik migran dengan tingkat pengiriman remitan di Desa Gelogor tahun 2013

No Variabel

Rank Spearman Chi-Square

Sig. (2-tailed) Correlation coefficient Asyimp. Sig. (2-sided) 1. Usia 0.830 -0.035 - 2. Jenis kelamin - - 0.000 3. Tingkat pendidikan 0.849 -0.031 - 4. Status pernikahan - - 0.082 5. Jumlah tanggungan 0.000 0.825** - 6. Posisi dalam keluarga - - 0.001

Hasil analisis hubungan antar masing-masing variabel dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 12 di atas. Tabel tersebut memuat nilai yang diperoleh dari uji korelasi dengan menggunakan Rank Spearman untuk variabel dengan data ordinal dan Chi-Square untuk variabel dengan data nominal.

Hubungan Karakteristik Migrasi dengan Tingkat Pengiriman Remitan Hubungan Negara Tujuan Migrasi dengan Tingkat Pengiriman Remitan

Berbagai hasil penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa karakteristik migrasi berupa negara tujuan migrasi memiliki hubungan dengan jumlah atau tingkat remitan yang dikirimkan oleh seorang buruh migran internasional. Hasil analisis dengan menggunakan metode tabulasi silang, terlihat dengan jelas bahwa tingkat pengiriman remitan dari negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki kecenderungan yang jauh lebih tinggi/besar dibandingkan negara Malaysia. Sebesar 100 persen tingkat pengiriman remitan yang tergolong rendah berada pada negara Malaysia, sedangkan 80 persen dan 100 persen tingkat pengiriman remitan yang tergolong sedang dan tinggi berada pada negara-negara di kawasan Timur Tengah. Hubungan antara negara tujuan migrasi dengan tingkat pengiriman remitan juga diuji dengan menggunakan uji Chi-Square pada program SPSS for Windows versi 20. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel negara tujuan migrasi dengan tingkat remitan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa Pearson Chi-Square dari kedua variabel sama dengan 0.000 yang artinya lebih kecil dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.000 < 0.005), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel negara tujuan dengan tingkat remitan diterima.

Menurut para responden dan informan penelitian, gaji atau upah bekerja di negara-negara yang berada di kawasan Timur Tengah lebih tinggi dari pada di gaji

atau upah bekerja di negara Malaysia. Buruh migran yang bekerja di negara- negara Timur Tengah mendapatkan gaji berkisar antara tiga juta Rupiah hingga empat juta Rupiah per bulan, sedangkan di negara Malaysia gaji bekerja yang didapatkan adalah sekitar dua juta Rupiah hingga tiga juta Rupiah per bulan. Mengacu pada jumlah gaji atau upah bekerja pada masing-masing negara, para buruh migran yang bekerja di negara-negara kawasan Timur Tengah menerima gaji yang lebih tinggi dibandingkan para buruh migran yang bekerja di negara Malaysia, sehingga mereka dapat mengirimkan remitan kepada keluarganya yang berada di daerah asal dalam jumlah yang besar/tinggi pula. Oleh sebab itu, hasil analisis hubungan pada tabulasi silang menunjukkan bahwa jumlah dan persentase buruh migran yang bekerja di negara-negara kawasan Timur Tengah memiliki kecenderungan pada tingkat remitan yang tergolong tinggi, sedangkan sebaliknya jumlah dan persentase buruh migran yang bekerja di negara Malaysia memiliki kecenderungan pada tingkatan remitan yang tergolong rendah.

“Ya di sini rata-rata yang kerja di Arab gajinya lebih banyak. Biasanya ngirim ke keluarga juga lebih besar dari pada yang berangkat ke Malaysia. Di Arab, majikannya kadang suka ngasih uang tambahan, jadi lebih banyak lah”. (M, 43 tahun)

Akan tetapi, jumlah remitan yang dikirimkan oleh buruh migran kepada keluarganya yang berada di daerah asal tidak sepenuhnya ditentukan oleh negara tujuan migrasi. Meskipun dalam penelitian ini kecenderungan remitan dari buruh migran yang bekerja di negara-negara kawasan Timur Tengah jauh lebih besar dibandingkan buruh migran di negara Malaysia, terdapat faktor lain yang juga turut menentukan besar kecilnya remitan yang akan dikirimkan oleh buruh migran. Hubungan antara negara tujuan migrasi dengan jumlah kiriman remitan didasarkan hanya pada jumlah gaji atau upah bekerja buruh migran di negara tersebut.

Tabel 13 Hubungan karakteristik migrasi dengan tingkat pengiriman remitan di Desa Gelogor tahun 2013

No Variabel

Tingkat pengiriman remitan

Total

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n % n % 1. Negara Malaysia 18 100 1 20 0 0 19 48 TimTeng 0 0 4 80 17 100 21 52 TOTAL 18 100 5 100 17 100 40 100 2. Lama < 5 tahun 0 0 0 0 12 71 12 30 5-7 tahun 6 33 4 80 5 29 15 38 > 7 tahun 12 67 1 20 0 0 13 32 TOTAL 18 100 5 100 17 100 40 100

Hubungan Lama Migrasi dengan Tingkat Pengiriman Remitan

Hubungan antara variabel lama migrasi dengan tingkat pengiriman remitan dilihat dari pengujian hubungan dengan menggunakan metode tabulasi silang. Hasil analisis tabulasi silang menunjukkan bahwa tingkat pengiriman remitan yang tergolong rendah berada pada lama migrasi yang lebih dari tujuh tahun (67 %), tingkat pengiriman remitan yang tergolong sedang berada pada lama migrasi lima hingga tujuh tahun (80 %), dan tingkat pengiriman remitan yang tergolong tinggi berada pada lama migrasi yang kurang dari lima tahun (71 %). Hal ini bermakna bahwa semakin lama migrasi yang dilakukan oleh buruh migran, maka akan semakin kecil jumlah remitan yang dikirimkan ke daerah asal, sedangkan semakin sebentar atau pendek waktu migrasi maka jumlah remitan yang dikirimkan akan semakin besar. Adanya hubungan antara lama migrasi dengan tingkat remitan juga terbukti dari hasil analisis hubungan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman pada program SPSS for Windows versi 20. Hasil analisis menunjukkan bahwa correlation coefficient antar dua variabel yang diuji adalah sebesar -0.810**, artinya terdapat hubungan yang negatif antara lama migrasi dengan tingkat remitan, yang mana semakin tinggi/panjang rentang waktu migrasi buruh migran maka remitan yang dikirimkan akan semakin rendah, sedangkan semakin rendah/pendek rentang waktu migrasi buruh migran maka remitan yang dikirimkan akan semakin tinggi. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa sig. (2-tailed) pada kedua variabel ini sama dengan 0.000 yang artinya lebih kecil dari standar kesalahan yang ditetapkan oleh peneliti (0.000 < 0.05), sehingga hipotesis untuk hubungan antara variabel lama migrasi dengan tingkat remitan diterima.

Buruh migran yang baru melakukan migrasi internasional (kurang dari lima tahun) pada umumnya mengirimkan remitan kepada keluarganya dalam jumlah yang lebih besar dengan intensitas yang lebih sering. Hal ini disebabkan oleh adanya tanggungan untuk membayar pinjaman/hutang yang digunakan oleh keluarga sebagai biaya administrasi dan keberangkatan buruh migran ke luar negeri. Kewajiban untuk melunasi hutang inilah yang menyebabkan gaji yang diterima oleh buruh migran pada tahun-tahun awal bekerja di luar negeri dikirim secara rutin dalam jumlah yang cukup besar. Buruh migran yang telah bermigrasi lebih dari tujuh tahun mengirimkan remitan dengan jumlah atau tingkatan yang tergolong rendah disebabkan oleh tidak adanya lagi kewajiban untuk membayar hutang atau keperluan mendesak yang harus segera diselesaikan, sehingga remitan pun dapat dikirim dalam jumlah yang lebih rendah dari tahun-tahun awal. Selain itu, kecilnya jumlah remitan yang dikirimkan oleh buruh migran yang telah bermigrasi lama (lebih dari tujuh tahun) disebabkan oleh adanya uang remitan yang disimpan atau ditabung oleh buruh migran tersebut, sehingga remitan yang dikirimkan ke keluarganya yang berada di daerah asal tidak terlalu besar jumlahnya. Buruh migran yang telah lama migrasi sengaja menabung uangnya secara pribadi untuk keperluan setelah buruh migran tersebut berhenti bekerja dan kembali ke daerah asal.

Hasil analisis hubungan antar masing-masing variabel dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 14. Tabel tersebut memuat nilai yang diperoleh dari uji korelasi dengan menggunakan Rank Spearman untuk variabel dengan data ordinal dan Chi-Square untuk variabel dengan data nominal.

Tabel 14 Nilai analisis uji korelasi Rank Spearman/uji Chi-Square antara karakteristik migrasi dengan tingkat pengiriman remitan di Desa Gelogor tahun 2013

No Variabel

Rank Spearman Chi-Square

Sig. (2-tailed) Correlation coefficient Asyimp. Sig. (2-sided)

1. Negara - - 0.000

2. Lama 0.000 -0.810** -

Ikhtisar

Remitan yang dikirimkan oleh buruh migran kepada keluarga yang berada di daerah asal berhubungan dengan jenis kelamin, jumlah tanggungan keluarga, posisi dalam keluarga, negara tujuan migrasi, dan lama migrasi. Hubungan antara masing-masing variabel dengan tingkat remitan tergambar dari hasil analisis melalui metode tabulasi silang dan terbukti dari hasil analisis korelasi Rank Spearman atau Chi-Square yang menunjukkan bahwa hipotesis antar variabel tersebut diterima. Tingkat pengiriman remitan tidak berhubungan dengan variabel usia, tingkat pendidikan, dan status pernikahan dari buruh migran.

Perbedaan jenis kelamin buruh migran, posisi pelaku buruh migran, jumlah tanggungan dalam keluarga, negara tujuan migrasi, dan lama migrasi menyebabkan perbedaan jumlah remitan yang dikirimkan oleh buruh migran tersebut kepada keluarganya. Sementara itu, perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status pernikahan buruh migran tidak terlalu memengaruhi jumlah remitan yang dikirimkan oleh buruh migran.

Dokumen terkait