• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANISME HUKUM YANG DAPAT DIGUNAKAN OLEH KREDITOR DALAM MENYELESAIKAN PIUTANGNYA TERHADAP BANK

C. Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dalam Mengembalikan Dana

2. Fungsi dan Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Dalam hal bank gagal, Bank wajib membayar semua tagihan yang diajukan oleh nasabah terhadap Bank tersebut. Berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Bank merupakan badan hukum sehingga pengurus wajib menjalankan prinsip fiduciary duty dengan mengacu pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Namun, hal tersebut belum menjamin pertanggung jawaban Bank dalam mengembalikan simpanan nasabah dalam hal Bank Gagal, sehingga untuk mempermudah pelaksanaan tanggung jawab tersebut, maka Bank wajib menjadi anggota LPS yang diatur dalam Pasal 8 dan wajib melaksanakan segala ketentuan yang diatur dalam Pasal 9 Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang

membereskan aset dan kewajiban bank tersebut, sedangkan fungsi turut aktif

Lembaga Penjamin Simpanan. Dengan demikian tanggung jawab Bank terhadap nasabah bank akan beralih kepada LPS sesuai dengan ketentuan yang berlaku.247

Fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Fungsi penjaminan diejawantahkan dengan melakukan pembayaran klaim penjaminan atas simpanan nasabah bank yang dicabut izinnya dan menunjuk Tim Likuidasi untuk

246 Ibid.

wati, “Pertanggungjawaban Bank Terhadap Nasabah Dalam Hal Bank Gagal Dihubun

Sumatera Utara, 2009), hal. 125-126. 247

Mega

gkan Dengan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan”, (Medan : Tesis, Universitas

memelihara stabilitas sistem perbankan diwujudkan dalam bentuk upaya menyelamatkan atau penyehatan terhadap bank gagal yang tidak berdampak sistemik

aupun bank gagal yang terdampak sistemik (Bank Resolution).248

bank gagal tidak berdam

k melakukan Penyertaan Modal Sementara (PMS); serta mengalihkan manaje

m

Keputusan menyelamatkan atau tidak menyelamatkan

pak sistemik ditetapkan oleh LPS. Salah satu pertimbangannya didasarkan pada penghitungan biaya yang lebih rendah (lower cost test) antara menyelamatkan bank tersebut dengan membayar klaim penjaminan. Sedangkan, keputusan untuk menyelamatkan gagal yang berdampak sistemik ditetapkan dan diserahkan oleh Komite Koordinasi (KK) yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Ketua Dewan Komisioner. Setelah itu, LPS bertindak sebagai pelaksana dalam penyelamatan bank gagal yang telah diputuskan berdampak sistemik.249

Dalam upaya dalam menyelamatkan bank gagal, LPS mempunyai kewenangan, antara lain mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang Pemegang Saham, termasuk RUPS; menguasai, mengelola, dan menjual/mengalihkan aset ban ;

men pada pihak lain. LPS mempunyai jangka waktu penyelamatan paling lama 4 tahun untuk bank tidak berdampak sistemik dan 5 tahun untuk bank gagal yang berdampak sistemik. Selanjutnya, LPS harus menjual seluruh saham bank yang diperoleh dari Penyertaan Modal Sementara (PMS) secara terbuka dan transparan.250

ite Resmi Lembaga Penjamin Simpanan, “Peran LPS Dalam Mendukung Stabilitas Sistem P 248 Webs erbankan”, Op.cit. 249 Ibid. 250 Ibid.

Mengenai pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah bank yang dicabut izinnya, LPS memiliki hak untuk menggantikan posisi nasabah penyimpan tersebut (hak subrogasi) dalam pembagian hasil likuidasi bank. Pemberian kewena

D. P

diperhitungkan sekecil apapun peluangnya. Dengan demikian dapat dilakukan

ngan dan hak tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan tingkat pemulihan (recovery rate) bagi LPS, sehingga keberlangsungan program penjaminan simpanan dapat terus dijaga.251 Namun, LPS bukan entitas bisnis yang sengaja menanamkan modalnya, dengan ekspektasi menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. LPS bukanlah investor yang tengah berbisnis untuk mencari laba. Karena itu, ongkos yang dikeluarkan tidak bisa dimaknai sebagai investasi. Itu adalah ongkos untuk menyangga Stabilitas Sistem Keuangan. Hal yang wajib diupayakan adalah bagaimana agar ongkosnya murah (least cost).252

enanganan Dana Nasabah Bank yang Pailit

Krisis perbankan nasional telah memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa kegagalan suatu bank pada akhirnya menjadi beban Negara. Rekapitalisasi melalui penerbitan obligasi pada akhirnya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berkepanjangan. Oleh karena itu, wajar kalau dikatakan bahwa kegagalan sebuah bank pada akhirnya menjadi beban masyarakat. Kegagalan sebuah bank secara realistis harus dijadikan suatu risiko yang terukur dan rasional. Artinya sejak awal harus disadari bahwa peluang gagalnya suatu bank harus

us Soni BL de Rosari (editor), Op.cit., hal. 268-269. 251

Ibid. 252

pencad

ikuidasi bank.254

Bank gagal yang akan ditangani LPS adalah bank gagal yang berdampak

sistem apabila kegagalan bank akan

berdam

angan sumber dananya agar penanganan bank gagal menjadi lebih terorganisir dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan.253

Tentunya sulit diterima oleh semua pihak kalau dalam APBN akan dialokasikan sejumlah dana pencadangan untuk mengatasi bank gagal. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan dan penanganan khusus oleh suatu lembaga yang khusus juga. Bersyukurlah kalau pada akhirnya kita mempunyai Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) yang telah beroperasi sejak tanggal 22 September 2005. Keberadaan LPS terlanjur dipahami hanya sekedar menjalankan fungsi penjaminan simpanan masyarakat yang menabung di bank. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa salah satu tugas strategis LPS diluar penjaminan simpanan adalah penanganan bank gagal dan melaksanakan proses dan penyelesaian l

ik dan tidak sistemik. Pengertian sistemik adalah

pak luar biasa baik dalam penarikan dana (rush) maupun terhadap kelancaran dan kelangsungan roda perekonomian. Sementara yang tidak sistemik tentunya apabila tidak memenuhi kriteria tersebut di atas. Dalam menangani bank gagal yang sistemik maupun tidak, pihak LPS akan melakukan kajian dan memutuskan apakah akan diselamatkan atau tidak. Jika biaya penyelamatan jauh lebih mahal dari pada dengan menglikuidasi, maka penyelesaiannya singkat saja. Bank diusulkan dicabut

Wijaya, “Penanganan Bank Gagal”, Op.cit. 253

Krisna 254

ijin usahanya, kemudian dilikuidasi dan LPS membayar klaim atas simpanan masyarakat.255

Apabila LPS memutuskan untuk melakukan penyelamatan, maka ada perbedaan perlakuan antara penyelamatan bank gagal sistemik dan tidak sistemik. Untuk bank gagal tidak sistemik penyelamatan tidak mengikutsertakan pemegang saham lama. Artinya segala biaya yang timbul untuk penyelamatan akan menjadi disediakan oleh pihak LPS. Untuk bank gagal sistemik dapat dilakukan baik tanpa melibatkan pemegang saham lama maupun dengan cara melibatkan pemegang saham lama (open bank assistance). Dalam hal pemegang saham lama akan terlibat dalam penyelematan, maka diwajibkan menyetor minimal 20% dari total biaya penyelamatan. Sama seperti bank gagal sistemik, maka kekurangannya akan ditanga

“talangan” dari LPS akan hilang. Semua biaya yang timbul akibat melakukan penyelamatan suatu bank akan diperhitungkan sebagai penyertaan sementara. Jangka

ni LPS.256

Untuk penanganan bank gagal dengan skim apapun, pihak LPS berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, diberikan kewenangan yang sangat memadai. Kewenangan RUPS dan pengelolaan bank gagal sepenuhnya diserahkan kepada LPS sehingga program penyelamatan dapat dilakukan lebih efektif. Termasuk dalam kewenangan yang diberikan kepada LPS adalah untuk melakukan penyertaan sementara, melakukan merger dan konsolidasi dengan bank lain. Sekalipun diperbolehkan melakukan penyelamatan, bukan berarti dana

255 Ibid. 256

waktu penyertaan LPS dibatasi dan harus menjual kembali sahamnya maksimal 2-3 tahun sejak penyelamatan dilakukan.257 Agar dapat melaksanakan segala tugas dan fungsin

tur. Di samping itu ada sanksi yang jelas dan tegas kepada pemega

ya, LPS mempunyai kewenangan untuk menetapkan dan memungut premi serta kontribusi kepesertaan.258

Dalam hal suatu bank pada akhirnya harus dilikuidasi, maka hasil penjualan aset bank terlikuidasi akan didistribusikan secara prioritas untuk biaya gaji dan pesangon pegawai, biaya operasional dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh LPS. Apabila hasil penjualan aset masih belum mencukupi, maka sisanya akan tetap menjadi kewajiban pihak pemegang saham lama. Dari skim penanganan bank gagal oleh LPS sebagaimana telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila terjadi kegagalan bank secara sistem telah ada mekanisme penyelesaian yang lebih pasti dan terstruk

ng saham yang mengakibatkan banknya gagal. Hal tersebut tentunya akan memberikan suatu perlindungan yang lebih memadai baik bagi masyarakat maupun pemerintah.259

Sekalipun demikian harus tetap disadari bahwa keberadaan LPS belum bisa membebaskan beban pemerintah. Sebab apabila kemampuan LPS baik dari modal, akumulasi premi dan cadangan serta surplus usaha tidak mencukupi, maka kekurangannya akan tetap dimintakan kepada pemerintah. Kalau dilihat bahwa kemungkinan itu ada, maka LPS memang bukan dewa penyelamat yang handal. Pada

257 Ibid. 258

Krisna Wijaya, Analisis Kebijakan Perbankan Nasional, (Jakarta : Elex Media

Komput 0), hal. 39.

Wijaya, “Penanganan Bank Gagal”, Op.cit. indo, 201

259 Krisna

akhirnya harus diyakini bahwa penanganan bank gagal yang paling ampuh dan mujarab adalah apabila bank yang ada selalu sehat. Mungkin ada yang berpendapat gagal tidaknya suatu bank tergantung kepada unsur pengawasannya. Kesan itu tidak salah tetapi juga tidak selalu benar. Sebab dalam keseharian yang menentukan sehat tidakny

Terkait dengan Teori Hukum ”Law and Economic Development” (Leonard J. Theberge), yang mengatakan bahwa hukum berperan untuk pembangunan ekonomi harus memiliki keterprediksian, stabilitas, keadilan, pendidikan & sosialisasi hukum, dan pendidikan spesialis hukum bagi penegak hukum. Kaitannya adalah apabila pengaturan mengenai kepailitan Bank diatur baik maka perekonomian dapat membaik pula karena Bank menyimpan dana masyarakat. Jika seorang nasabah menyimpan uangnya di Bank maka nasabah tersebut pastilah membutuhkan kepastian hukum untuk menjamin dananya. Mengenai mekanisme hukum yang harus dilalui oleh

a bank kembali kepada pengelola dan pemiliknya.260

Sebagai langkah antisipasi kedepan, tentu ada baiknya dicarikan suatu pendekatan yang lebih komprehensif dalam rangka menumbuh-kembangkan perbankan yang kuat sekaligus sehat. Ada pendekatan yang ideal dan perlu dikaji lebih lanjut. Biarkan Bank Indonesia fokus pada pengelolaan moneter dan regulator, lalu OJK (Otoritas Jasa Keuangan) fokus kepada pengawasan dan LPS dalam penanganan bank gagal. Jadi akan ada segitiga pengaman untuk perbankan nasional yang lebih terstruktur sekaligus terukur.261

262

rge, “Law and Economic Development”, dalam “Peranan Hukum dalam

Pembang guk, Op.cit., hal. 352.

260 Ibid. 261 Ibid. 262 Leonard J. Thebe

Kreditor Bank (Nasabah) untuk pengajuan klaim dana simpanannya maka dapat dilakukan melalui263 :

1. Proses kepailitan itu sendiri pada saat Bank tersebut dicabut izin usahanya oleh Bank Indonesia dengan begitu status hukumnya adalah Perseroan Terbatas biasa, jadi dapat dimohonkan pailit agar dana Nasabah Bank dapat

Maksud keterprediksian disini adalah bahwa setiap Nasabah Bank tidak perlu takut k

kembali (dalam hal ini, dilakukan jika dana nasabah lebih dari Rp. 2 miliar);264

2. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjamin dana Rp. 2 miliar setiap rekening kepada Nasabah Bank, Kreditor (Nasabah) dapat mengajukan klaim pembayaran atas dana simpanannya pada lembaga tersebut jika Bank tempat nasabah menyimpan dananya dilikuidasi.

ehilangan dananya apabila Bank tempat Nasabah menyimpan uangnya dilikuidasi. Dalam hal stabilitas peraturan pelaksananya adalah terkait dengan perubahan ketentuan mengenai pengajuan klaim tersebut agar tidak berubah-ubah dengan begitu maka Nasabah akan terbiasa dan mengerti proses birokrasi. Keadilan menyangkut kepercayaan yang diberikan oleh Nasabah kepada Bank, dalam hal ini jika Nasabah sudah percaya kepada Bank sebaiknya pihak pengurus Bank

263

L. Budi Kagramanto, “Eksistensi Lembaga Penjamin Simpanan Dalam Sistem Perbankan Nasional”, Mimbar Hukum, Volume 19, Nomor 03, Oktober 2007, hal. 335-485. Lihat juga :

Zulkarna pul, “Penjaminan Dana Nasabah Bank : Dari Blanket Guarantee ke Limited

Guarant Hukum Bisnis, Volume 23, Nomor 03, 2004. in Sitom

ee”, Jurnal 264

Andi Pangeran Hamzah, “Proses Kepailitan Bank Dalam Likuidasi : Studi Mengenai Bank Global (Dalam Likuidasi)”, Op.cit.

mempergunakan dana tersebut untuk mengembangkan usaha Bank itu, bukan untuk kepentingan pengurus atau pribadi atau golongan tertentu.

hukum adalah pengetahuan terhadap Bank, Dalam hal pendidikan hukum mengenai proses kepailitan Bank, Nasabah harus melek terhadap sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Bank. Antara Nasabah dan Bank juga harus mengetahui perkembangan hukum yang terjadi di masyarakat, seperti kondisi dari Bank tersebut apakah sehat atau tidak dapat diketahui melalui Bank Indonesia. Pendidikan bagi penegak

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), maupun Bank Indonesia itu sendiri. LPS tersebut tidak lain adalah sebagai skim perlindungan terhadap Nasabah Bank.

BAB V