4.2 Fungsi Eufemisme dalam Upacara Tujuh Bulanan Adat Jawa
4.2.3 Fungsi Eufemisme Saat Makan Bubur dalam Upacara Tujuh Bulanan Adat Jawa
Ujaran yang digunakan oleh sesepuh desa saat makan bubur adalah sebagai berikut :
Glos cermat : Memenuhi keinginan calon bayi yang ada di kandungan.
Temekkanesangangwulansepolohdinten,
Glos cermat : Sesudahnya sembilan bulan sepuluh hari, nanti kalau nyakiti
mengkonek nyakiti
ojosuwi-suwi. Mergoidam-idamanepunwesdienengkeikidinten
Glos cermat : jangan lama-lama. Nanti keinginan sudah dipenuhi ini hari.
.
Mudah-mudahangangsar,
Glos cermat : Mudah-mudahan lancar, sehat selamat tidak ada gangguan
warasselametoraonogangguan
opo-opo
Glos cermat : apa-apa.
.
Glos lancar : Memenuhi keinginan calon bayi yang ada di dalam kandungan ibunya. Saat sudah sembilan bulan sepuluh hari, kalau nyakiti jangan lama-lama karena permintaannya sudah dituruti hari ini. Mudah-mudahan lancar, sehat selamat tidak ada halangan apapun. Fungsi eufemisme dari ujaran di atas adalah sebagai berikut :
1. Sebagai alat untuk menghaluskan ucapan yang terdapat pada kata idam- idamanepun, dan sangang wulan dan sepoloh dinten. Kata idam- idamanepun dalam bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk menggantikan kata idam-idamane dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘keinginan’. Kata sangang wulan bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk menggantikan kata sangang bulan
dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘sembilan bulan’. Kata sepoloh dinten dalam bahasa Jawa krama inggil
digunakan untuk menggantikan kata sepoloh dino dalam bahasa Jawa
ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘sepuluh hari’. 2. Sebagai alat penolak bahaya yaitu diharapkan agar bayi yang akan lahir
dalam keadaan sehat dan tidak ada halangan apapun karena apa yang diinginankan bayi yang ada dalam kandungan ibunya sudah dipenuhi. Diharapkan juga saat ibu yang mengandung memakan bubur procot agar nanti saat melahirkan mudah dan tidak akan merasakan sakit.
Ujaran yang digunakan dalam contoh fungsi eufemisme di atas adalah bahasa Jawa ngoko. Sementara, bahasa yang harusnya digunakan dalam upacara tujuh bulanan adalah bahasa Jawa krama inggil. Jika dilihat dari contoh ujaran di atas, maka terjadi pergeseran dan pemertahanan bahasa saat makan bubur dalam upacara tujuh bulanan.
Pergeseran bahasa ini terjadi pada semua ujaran saat upacara tujuh bulanan berlangsung, berikut penjelasan mengenai pergeseran bahasa yang terjadi Pergeseran bahasa yang terjadi saat memakan bubur dalam upacara tujuh bulanan adat jawa. Bahasa Jawa krama inggil yang digunakan saat siraman dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa adalah sebagai berikut :
Glos cermat : Memenuhi keinginan si calon bayi yang ada
Amiranteniidam-idamanesijabangbayiengkangwonten
Glos cermat : kandungan. Temukan sembilan bulan sepuluh hari nanti
Glos cermat : kalau nyakiti jangan lama-lama. Karena keinginan
menawibadesampundangu-dangu.Amargiidam-idamane
kawontenakenmenikodinten. Mugi-mugigangsar,
Glos cermat : diadakan ini hari. Mudah-mudahan lancar, sehat
waras
wilujengmbotenwontenrubido penopo
Glos cermat : selamat tidak ada halangan apa-apa.
.
Glos lancar : Memenuhi keinginan calon bayi yang ada di dalam kandungan ibunya. Saat sudah sembilan bulan sepuluh hari, kalau nyakiti jangan lama-lama karena permintaannya sudah dituruti hari ini. Mudah-mudahan lancar, sehat selamat tidak ada halangan apapun. Bahasa Jawa ngoko yang digunakan saat makan bubur dalam upacara tujuh bulanan oleh masyarakat Jawa di desa Galang adalah sebagai berikut :
Menuhiidam-idamane j
Glos cermat : Memenuhi keinginan calon bayi yang ada di kandungan.
abangbayisengenengnangkandungan.
Temekkanesangangwulansedosodinten,
Glos cermat : Temukan sembilan bulan sepuluh hari, nanti kalau nyakiti
mengkoneknyakiti
ojosuwi-suwi. Mergoidam-idamanepunwesdienengkeikidino
Glos cermat : jangan lama-lama. Karena keinginan sudah dipenuhi ini hari.
Mudah-mudahangangsar,
Glos cermat : Mudah-mudahan lancar, sehat selamat tidak ada halangan
warasselametoraonogangguan
opo-opo Glos cermat : apa-apa.
.
Glos lancar : Memenuhi keinginan calon bayi yang ada di dalam kandungan ibunya. Saat sudah sembilan bulan sepuluh hari, kalau nyakiti jangan lama-lama karena permintaannya sudah dituruti hari ini. Mudah-mudahan lancar, sehat selamat tidak ada halangan apapun. Pergeseran antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko saat makan bubur dalam upacara tujuh bulanan adat jawa pada masyarakat Jawa di desa Galang terdapat pada kata-kata berikut :
Pergeseran Bahasa Saat Makan Bubur dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Karama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko
(Desa Galang Kab. Deli Serdang)
Arti
amiranteni menuhi memenuhi
engkang seng yang
wonten eneng ada
kandutan kandungan kandungan
sakduginipun temekkane temukan
semangke mengko nanti
bade nyakiti yakiti
Pergeseran Bahasa Saat Makan Bubur dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Karama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko
(Desa Galang Kab. Deli Serdang)
Arti
dangu-dangu suwi-suwi lama-lama
amargi mergo karena
kawontenaken dienengke diadakan
meniko iki ini
dinten dino hari
mugi-mugi mudah-mudahan mudah-mudahan
wilujeng selamet selamat
mboten ora tidak
wonten ono ada
rubido gangguan halangan; gangguan
penopo opo-opo apa-apa
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa banyak kata yang bergeser dari bahasa Jawa
krama inggil ke bahas Jawa ngoko. Jika terdapat pergeseran bahasa dalam ujaran, maka terdapat pula pemertahanan bahasa yang masih digunakan.
Pemertahanan bahasa (language maintenance) berkaitan dengan masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya. Dalam pemertahanan bahasa, komunitas
secara kolektif memutuskan untuk terus digunakan secara tradisional. Ketika sebuah komunitas tutur mulai memilih bahasa baru dalam daerah sebelumnya dicadangkan untuk yang lama, inilah proses pemertahanan bahasa itu.
Pemertahanan bahasa Jawa krama inggil dalam upacara tujuh bulanan sangat sedikit. Pemertahanan bahasa Jawa pada upacara ini dapat dilihat dari jumlah eufemisme yang terdapat pada setiap prosesi upacara tujuh bulanan berlangsung.
Pemertahanan antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko saat memakan bubur dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa pada masyarakat Jawa di Desa Galang hanya terdapat pada kata-kata berikut :
Pemertahanan Bahasa Saat Makan Bubur Dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Krama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko (Desa Galang Kab.
Deli Serdang)
Arti
idam- idamane idam-idamane Keinginan
sangang wulan sangang wulan sembilan bulan
sedoso dinten sedoso dinten sepuluh hari
Pergeseran dan pemertahanan bahasa tidak hanya terjadi pada kata-kata dari ujaran di atas. Pelaksanaan makan bubur dalam upacara tujuh bulanan pada masyarakat Galang berbeda pada ujaran yang seharusnya seperti pada masyarakat yang tinggal di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Bubur procot yang dimakan oleh ayah dan ibu dari calon bayi dalam upacara tujuh bulanan pada masyarakat Jawa di Desa Galang tidak memiliki rasa yang hanya terbuat dari tepung terigu dan
pisang. Ritual ini dilakukan agar bayinya dapat lahir dengan selamat. Sedangkan pada masyarakat Jawa di Jawa Tengah setelah memakan bubur procot tersebut dilanjutkan dengan memutuskan lilitan janur yang dilingkarkan diperut ibu yang mengandung. Lilitan ini dilepaskan oleh calon ayah, diharapkan agar bayi dapat lahir dengan selamat. Proses yang masih bertahan pada masyarakat Jawa di desa Galang dengan masyarakat Jawa di Jawa Tengah adalah ibu yang mengandung masih memakan bubur procot.
4.2.4 Fungsi Eufemisme Saat Membelah Kelapa dalam Upacara Tujuh Bulanan Adat Jawa
Ujaran yang digunakan oleh sesepuh desa saat membelah kelapa adalah sebagai berikut :
Ikikeloposeng wesdigambariarekdibelah,
Glos cermat : Ini kelapa yang sudah digambar mau dibelah, laki-laki perempuan
lanangwedok
diparengi. Neklurusberartiwedok,
Glos cermat : diterima. Kalau lurus berarti perempuan, kalau miring berarti
nekmerengberarti
lanang
Glos cermat : laki-laki. .
Glos lancar : Kelapa yang sudah digambar ini akan dibelah, laki-laki atau perempuan harus diterima. Jika kelapa yang dibelah lurus berarti
anaknya perempuan, tapi jika kelapa yang dibelah miring berarti anaknya laki-laki.
Fungsi eufemisme dari ujaran di atas adalah sebagai berikut :
1. Sebagai alat untuk menghaluskan ucapan yang terdapat pada kata pada kata
digambari dan diparengi. Kata digambari dalam bahasa Jawa krama inggil
digunakan untuk menggantikan kata digambar dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘digambar’. Kata
diparengi bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk menggantikan kata
diterimo dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘diterima’.
2. Sebagai alat untuk merahasiakan sesuatu yaitu agar orang-orang yang mendengar tidak berpikiran yang tidak baik pada ujaran yang diucapkan oleh sesepuh desa pada saat membelah kelapa yang dipercaya dapat menggambarkan jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan ibunya berdasarkan arah kelapa yang dibelah oleh ayah dari bayi yang dikandung.
Ujaran yang digunakan dalam contoh fungsi eufemisme di atas adalah bahasa Jawa ngoko. Sementara, bahasa yang harusnya digunakan dalam upacara tujuh bulanan adalah bahasa Jawa krama inggil. Jika dilihat dari contoh ujaran di atas, maka terjadi pergeseran dan pemertahanan bahasa saat membelah kelapa dalam upacara tujuh bulanan.
Pergeseran bahasa ini terjadi pada semua ujaran saat upacara tujuh bulanan berlangsung, berikut penjelasan mengenai pergeseran bahasa yang terjadi.
Pergeseran bahasa yang terjadi saat memakan bubur dalam upacara tujuh bulanan adat jawa. Bahasa Jawa krama inggil yang digunakan saat siraman dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa adalah sebagai berikut
Menikokelopoengkangdigambaribadepunbelah,
Glos cermat : Ini kelapa yang digambar mau belah, laki-laki
jaler
estri ditampi. Menawilempengantosenepunestri
Glos cermat : perempuan diterima. Kalau lurus berarti perempuan,
,
menawimerengantosenepunjaler
Glos cermat : kalau miring berarti laki-laki.
.
Glos lancar : Kelapa yang sudah digambar ini akan dibelah, laki-laki atau perempuan harus diterima. Jika kelapa yang dibelah lurus berarti anaknya perempuan, tapi jika kelapa yang dibelah miring berarti anaknya laki-laki.
Bahasa Jawa ngoko yang digunakan saat membelah kelapa dalam upacara tujuh bulanan oleh masyarakat Jawa di Desa Galang adalah sebagai berikut :
Ikikeloposeng wesdigambariarekdibelah,
Glos cermat : Ini kelapa yang sudah digambar mau dibelah, laki-laki perempuan
lanangwedok
diparengi. Neklurusberartiwedok,
Glos cermat : diterima. Kalau lurus berarti perempuan, kalau miring berarti
lanang
Glos cermat : laki-laki. .
Glos lancar : Kelapa yang sudah digambar ini akan dibelah, laki-laki atau perempuan harus diterima. Jika kelapa yang dibelah lurus berarti anaknya perempuan, tapi jika kelapa yang dibelah miring berarti anaknya laki-laki.
Pergeseran antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko saat membelah kelapa dalam upacara tujuh bulanan adat jawa pada masyarakat Jawa di desa Galang terdapat pada kata-kata berikut :
Pergeseran Bahasa Saat Membelah Kelapa Dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Karama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko (Desa Galang Kab.Deli
Serdang)
Arti
meniko iki ini
engkang seng yang
badepun arek mau
jaler lanang laki-laki
Estri wedok perempuan
menawi nek kalau
lempeng lurus lurus
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa banyak kata yang bergeser dari bahasa Jawa
krama inggil ke bahas Jawa ngoko. Jika terdapat pergeseran bahasa dalam ujaran, maka terdapat pula pemertahanan bahasa yang masih digunakan.
Pemertahanan bahasa (language maintenance) berkaitan dengan masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut ditengah-tengah bahasa lainnya. Dalam pemertahanan bahasa, komunitas secara kolektif memutuskan untuk terus digunakan secara tradisional. Ketika sebuah komunitas tutur mulai memilih bahasa baru dalam daerah sebelumnya dicadangkan untuk yang lama, inilah proses pemertahanan bahasa itu.
Pemertahanan bahasa Jawa krama inggil dalam upacara tujuh bulanan sangat sedikit. Pemertahanan bahasa Jawa pada upacara ini dapat dilihat dari jumlah eufemisme yang terdapat pada setiap prosesi upacara tujuh bulanan berlangsung.
Pemertahanan antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko saat membelah kelapa dalam upacara tujuh bulanan adat jawa pada masyarakat Jawa di Desa Galang hanya terdapat pada kata-kata berikut :
Pemertahanan Bahasa Saat Membelah Kelapa dalam Upacara Tujuh Bulanan
Bahasa Jawa Krama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko (Desa Galang Kab.
Deli Serdang)
Arti
digambari digambari digambar
Pergeseran dan pemertahanan bahasa tidak hanya terjadi pada kata-kata dari ujaran di atas. Pelaksanaan makan bubur dalam upacara tujuh bulanan pada masyarakat Galang berbeda pada ujaran yang seharusnya seperti pada masyarakat yang tinggal di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Pelaksanaan membelah kelapa yang dilakukan pada masyarakat Desa Galang adalah membelah kelapa yang sudah digambar wayang Dewi Sinta dan Arjuna yang digambar dalam satu buah kelapa. Sedangkan pada masyarakat Jawa di Jawa Tengah kelapa yang akan dibelah dan sudah digambar wayang Dewi Sinta digambar pada kelapa yang berbeda.
Proses membelah kelapa ini dipercaya dapat memberi pertanda jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan ibunya. Jika kelapa yang dibelah oleh calon ayah tepat berada dtengah, maka anak yang dikandung adalah perempuan. Tapi jika kelapa yang dibelah tidak lurus atau miring, maka anak yang dikandung adalah laki-laki. Kepercayaan mengenai proses membelah kelapa dapat memberi pertanda jenis kelamin dari calon bayi masih dipercaya masyarakat Jawa di desa Galang maupun masyarakat Jawa di Jawa Tengah.
4.2.5 Fungsi Eufemisme Saat Ganti Kain Dalam Upacara Tujuh Bulanan