4.2 Fungsi Eufemisme dalam Upacara Tujuh Bulanan Adat Jawa
4.2.2 Fungsi Eufemisme Saat Siraman dalam Upacara Tujuh Bulanan Adat Jawa
Ujaran yang digunakan oleh sesepuh desa saat siraman adalah sebagai berikut :
Maturkeselametansengbawersodesokene d
Glos cermat : Meminta keselamatan yang menunggu desa sini disatukan
isatuken
Glos cemat : si nama ibu yang mengandung menyenangi air suko air
sipolan nyenengkebanyusukobanyu
suci.SucikersaneAllah.
Glos cermat : suci. Suci ridho Allah. Sesudahnya sembilan bulan sepuluh hari.
Temekkanesangangwulansedosodinten
mengkolaherdiparengigangsar,
Glos cermat : nanti lahir bersama mudah, sehat selamat tidak ada
warasselametoraono
Glos cermat : gangguan apa-apa.
gangguanopo-opo.
Glos lancar : Meminta keselamatan pada makhluk yang dipercaya sebagai penunggu desa ini diminta untuk tidak mengganggu ibu yang sedang mengandung yang menyukai air bersih atau suci, suci karena ridho Allah. Sesudahnya sembilan bulan sepuluh hari lahirnya mudah, sehat tidak ada halangan apapun.
Fungsi eufemisme dari ujaran di atas adalah sebagai berikut :
1. Sebagai alat untuk menghaluskan ucapan terdapat pada kata matur, dan
bawerso. Kata matur dalam bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk menggantikan kata nembung dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu ‘memohon, meminta’. Kata bawerso bahasa Jawa krama inggil digunakan untuk menggantikan kata deme dalam bahasa Jawa ngoko, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu’ jin, iblis, makhluk halus penunggu suatu daerah’.
2. Sebagai alat penolak bahaya yaitu membaca sholawat nabi meminta perlindungan Allah saat proses siraman yang bertujuan agar makhluk halus yang dipercaya masyarakat setempat tidak mengganggu ayah, ibu dan bayi yang akan dilahirkan.
Ujaran yang digunakan dalam contoh fungsi eufemisme di atas adalah bahasa Jawa ngoko. Sementara, bahasa yang seharusnya digunakan dalam upacara tujuh bulanan adalah bahasa Jawa krama inggil. Jika dilihat dari contoh ujaran di atas, maka terjadi pergeseran dan pemertahanan bahasa saat among-among dalam upacara tujuh bulanan.
Pergeseran bahasa ini terjadi pada semua ujaran saat upacara tujuh bulanan berlangsung, berikut penjelasan mengenai pergeseran bahasa yang terjadi Pergeseran bahasa yang terjadi saat siraman alam upacara tujuh bulanan adat Jawa. Bahasa Jawa krama inggil yang digunakan saat siraman dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa adalah sebagai berikut
Glos cermat : Meminta keselamatan yang menunggu desa sini
dadosakensipolanngawontennakentuyopetaktuyosuci
Glos cermat : disatukan si nama ibu menyukaiair suka air suci,
,
sucikersaneAllah.
Glos cermat : suci karena Allah. Temukan Sembilan bulan sepuluh hari
Sakduginipunsangangwulansedosodinten
sakmangkembabardiparengigangsar,
Glos cermat : nanti lahir bersama mudah, sehat selamat tidak
sehatwilujengmboten
wontenrubidopenopo
Glos cermat : ada halangan apa-apa.
.
Glos lancar : Meminta keselamatan pada makhluk yang dipercaya sebagai penunggu desa ini diminta untuk tidak mengganggu ibu yang sedang mengandung yang menyukai air bersih atau suci, suci karena ridho Allah. Saat sudah Sembilan bulan sepuluh hari lahirnya mudah, sehat tidak ada halangan apapun.
Bahasa Jawa ngoko yang digunakan saat siraman dalam upacara tujuh bulanan oleh masyarakat Jawa di Desa Galang adalah sebagai berikut
Glos cermat : Meminta keselamatan yang menunggu desa sini disatukan
Glos cemat : si nama ibu yang mengandung menyukai air suka air
sipolan nyenengkebanyusukobanyu
suci. SucikersaneAllah.
Glos cermat : suci. Suci ridho Allah. Temukan sembilan bulan sepuluh hari
Temekkanesangangwulansedosodinten
mengkolaherdiparengi gangsar,
Glos cermat : nanti lahir bersama mudah, sehat selamat tidak ada
warasselametoraono
gangguanopo-opo
Glos cermat : gangguan apa-apa.
.
Glos lancar : Meminta keselamatan pada makhluk yang dipercaya sebagai penunggu desa ini diminta untuk tidak mengganggu ibu yang sedang mengandung yang menyukai air bersih atau suci, suci karena ridho Allah. Saat sudah Sembilan bulan sepuluh hari lahirnya mudah, sehat tidak ada halangan apapun.
Pergeseran antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko saat siraman dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa pada masyarakat Jawa di Desa Galang terdapat pada kata-kata berikut :
Pergeseran Bahasa Saat Siraman Dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Karama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko
(Desa Galang Kab. Deli Serdang)
Arti
kawilujengan keselametan keselamatan
engkang seng yang
dusun deso desa
riki kene sini
dadosaken disatuken disatukan
ngawontennaken nyenengke menyukai
tuyo banyu air
petak suko suka
sakduginipun temekkane temukan
sakmangke mengko nanti
mbabar laher lahir
wilujeng selamet selamat
mboten ora tidak
wonten ono da
rubido gangguan halangan; gangguan
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa banyak kata yang bergeser dari bahasa Jawa
krama inggil ke bahas Jawa ngoko. Jika terdapat pergeseran bahasa dalam ujaran, maka terdapat pula pemertahanan bahasa yang masih digunakan.
Pemertahanan bahasa (language maintenance) berkaitan dengan masalah sikap atau penilaian terhadap suatu bahasa, untuk tetap menggunakan bahasa tersebut di tengah-tengah bahasa lainnya. Dalam pemertahanan bahasa, komunitas secara kolektif memutuskan untuk terus digunakan secara tradisional. Ketika sebuah komunitas tutur mulai memilih bahasa baru dalam daerah sebelumnya dicadangkan untuk yang lama, inilah proses pergerseran bahasa itu.
Pemertahanan bahasa Jawa krama inggil dalam upacara tujuh bulanan sangat sedikit. Pemertahanan bahasa Jawa pada upacara ini dapat dilihat dari jumlah eufemisme yang terdapat pada setiap prosesi upacara tujuh bulanan berlangsung.
Pemertahanan antara bahasa Jawa krama inggil dan bahasa Jawa ngoko
saat siraman dalam upacara tujuh bulanan adat Jawa pada masyarakat Jawa di Desa Galang hanya terdapat pada kata-kata berikut :
Pemertahanan Bahasa Saat Siraman Dalam Upacara Tujuh Bulanan Bahasa Jawa
Krama Inggil
Bahasa Jawa Ngoko (Desa Galang Kab.
Deli Serdang
Arti
matur matur memohon, meminta
bawerso bawerso jin, iblis, makhluk halus
penunggu suatu daerah
sanngang wulan sangang wulan sembilan bulan
Pergeseran dan pemertahanan bahasa tidak hanya terjadi pada kata-kata dari ujaran di atas. Pelaksanaan siraman dalam upacara tujuh bulanan pada masyarakat Galang berbeda pada ujaran yang seharusnya seperti pada masyarakat yang tinggal di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Siraman pada masyarakat Jawa yang ada di Jawa Tengah hanya pada ibu yang menggandung dengan menggunakan rangkaian bunga melati yang dikalungkan dari leher sampai dada ibu, siraman juga dilakukan dengan menggunakan batok kelapa. Sedikit berbeda pada masyarakat di Desa Galang yaitu, siraman juga berlaku bagi ayah dari calon bayi yang akan dilahirkan. Pada proses ini, ayah juga ikut dimandikan bersama dengan ibu. Masyarakat di Desa Galang juga tidak menggunakan gayung yang terbuat dari batok, melainkan dari gayung plastik. Ibu yang mengandung juga tidak lagi dikalungkan dengan rangkaian bunga melati dengan alasan sulitnya mencari bunga melati asli dan sulit mencari orang yang dapat merangkai bunga tersebut.
Walaupun pelaksanaan siraman pada upacara tujuh bulanan pada masyarakat di Desa Galang berbeda sedikit dengan masyarakat Jawa Tengah, tetapi sama-sama masih menggunakan bunga macan kera dan air dari tujuh sumur. Bunga macan kera terdiri dari bunga, jeruk purut, kunyit, kedaung, dan lain-lain.
4.2.3 Fungsi Eufemisme Saat Makan Bubur dalam Upacara Tujuh Bulanan