PEMAHAMAN GEJALA 4.1.Pemahaman gejala dari berbagai bidang
4.8. Fungsi hemisfere (belahan otak kanan dan kiri)
Otak manusia terdiri dari belahan kiri dan kanan (disebut hemisfere), yang masing-masing mempunyai fungsi khusus namun tetap bekerja sama antara kiri dan kanan. Antara otak kiri dan kanan dihubungkan dengan suatu penghubung yang disebut corpus collasum. Perkembangan otak sejak bayi
hingga dewasa akan berubah seiring dengan berkembangnya usia. Dan dominasi otak (kiri dan kanan) juga akan berubah. Pada dasarnya otak kiri dan kanan manusia tidak seimbang, tetapi ada dominasi dari salah satu belahan otak. Hal ini sangat normal dan sangat dipengaruhi oleh faktor genetik yang bekerja sebagai cetak biru perkembangan manusia. Jadi tidak benar jika dalam sebuah program pendidikan kita bertujuan akan menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Beberapa penelitian menunjukkan justru perkembangan otak yang simestris dimiliki oleh kelompok penyandang disleksia. Perkembangan otak anak saat bayi dilahirkan akan didominasi oleh perkembangan otak sebelah kanan hingga minggu ke 29. Lambat laun perkembangan itu akan diikuti dengan perkembangan otak sebelah kiri. Dominasi kanan akan terus berlangsung hingga anak usia sekitar 5-6 tahun. Selanjutnya dikemudian hari dominasi itu akan diganti oleh dominasi sebelah kiri. Perpindahan dominasi otak dari kanan ke kiri ini disebut lateralisasi. Pada usia tujuh tahun aktivitas ini selesai dan masa krisis juga berakhir. Selanjutnya manusia diatur oleh kerja otak secara kontralateral. Artinya otak sebelah kiri akan mengatur kerja motorik dan sensor sebelah kanan, demikian sebaliknya. Jadi bila sebagian besar anak belajar menulis dengan tangan kanan artinya si anak berada dalam dominasi otak sebelah kiri. Hanya sedikit anak yang mempunyai kekuatan tangan di sebelah kiri. Atau kedua tangan kiri dan kanan mempunyai kekuatan yang sama.
Pada saat masa krisis dimana seorang anak tengah mengalami lateralisasi, sering terjadi anak menulis seperti bila dibaca melalui cermin, terbalik. Atau ia menulis dari kanan ke kiri, padahal seharusnya dari kiri ke kanan. Kondisi ini adalah kondisi yang normal dan kelak akan kembali sebagaimana seharusnya, saat mana masa krisis itu selesai. Namun jika kondisi tersebut tidak dapat kembali sebagaimana seharusnya maka guru dan orang tua harus waspada, dan perlu ditanyakan kepada dokter neurologi.
Fungsi otak sebelah kanan lebih kepada mengatur faktor emosi, motorik kasar, dan penglihatan (visual).
Sedang otak sebelah kiri akan lebih mengatur faktor bahasa dan bicara, motorik halus, dan pendengaran (auditif).
Dengan demikian setiap belahan otak atau hemisfere mempunyai spesialisasi sendiri-sendiri. Otak sebelah kanan yang lebih mengatur fungsi emosi, motorik, dan visual akan mempunyai pengaruh pada kapasitas pengorganisasian pandang ruang, kedalaman, aktivasi (dan penghambatan) pada beberapa bentuk emosi, pengenalan ritme dan dasar-dasar ketrampilan musik (termasuk melodi dan intonasi bicara), skema tubuh dan pengenalan anggota badan. Saat bayi baru lahir, saat mana bayi masih didominasi oleh belahan otak kanan, komunikasi antara ibu-anak dilakukan melalui hubungan emosi dan pengenalan mimik ibu. Pada bayi yang mengalami gangguan perkembangan otak sebelah kanan ini akan mengalami gangguan pengenalan mimik ibu dan gangguan perkembangan emosi dimana perkembangan emosi merupakan dasar hubungan sosial. Kelak anak-anak yang mengalami gangguan ini akan mengalami gangguan belajar nonverbal (Non-verbal Learding Disorder atau NLD). Begitu juga ia akan mengalami gangguan perkembangan kemampuan pandang ruang, yang akan berlanjut pada gangguan belajar berhitung. Atau dapat juga, karena ia mengalami gangguan emosi, maka ia akan juga mengalami gangguan sosial, gangguan bahasa mimik/nonverbal, yang pada akhirnya ia menjadi penyandang gangguan autisme.
Sedang otak sebelah kiri mempunyai fungsi pengaturan masuknya dan pemrosesan informasi auditif yang sifatnya runtut (sekuensial). Otak sebelah kiri ini juga mempunyai fungsi kerja untuk memilah-milah dan memecah informasi menjadi bagian kecil-kecil (analisa).
Bila kedua belahan otak itu dipisahkan, dan salah satunya mengalami gangguan maka dapat diperkirakan bahwa seorang anak yang mengalami gangguan otak di sebelah kiri akan mengalami gangguan pada perkembangan bahasa, dan bicara, mengenal nama-nama benda, dan mengingat hari dan tanggal. Pada anak-anak ini juga akan mengalami gangguan mengkira-kira waktu.
Sedangkan gangguan otak di sebelah kanan akan menyebabkan seorang anak mengalami gangguan perkembangan kemampuan pandang ruang yang berakibat pada gangguan berhitung, gangguan emosi, ritme musik, dan gangguan motorik.
Ketrampilan tangan kiri dan kanan juga dipengaruhi oleh fungsi belahan otak kanan dan kiri. Sebanyak 90 persen anak akan menulis dengan tangan kanan, hal ini karena diatur oleh dominasi otak sebelah kiri. Jika seorang anak lebih trampil menggunakan tangan kiri bukan berarti ia mengalami gangguan di otak yang patologis (bukan merupakan cacat di otak). Sebaliknya, gangguan perkembangan lateralisasi bisa juga terjadi karena adanya gangguan di otak. Namun hal ini perlu dilakukan pemeriksaan sebaik-baiknya. Seringkali anak-anak yang mengalami gangguan belajar juga diikuti oleh gangguan di otak yang mengatur ketrampilan motorik kasar maupun motorik halus, serta gangguan perkembangan lateralisasi. Gangguan motorik ini akan lebih memperparah masalah gangguan belajarnya (Learning Disablilitis-nya). Gangguan motorik itu sendiri bukan merupakan gangguan belajar (Learning Disabilities).
Jika seorang dokter neurologi menemukan adanya tanda-tanda ketidak beresan perkembangan yang diatur oleh sususan syaraf pusat (otak), maka dokter neurologi akan memberi “bendera merah” pada orang tua untuk selanjutnya “bendera merah” ini juga perlu disampaikan kepada psikolog pendidikan dan ahli kependidikan anak berkekhususan (orthopedagog). Agar pemeriksaan segera dilanjutkan dalam bidang masing-masing, serta penegakan diagnosa di bidangnya masing-masing, demi persiapan anak menempuh pendidikan yang sesuai dengan kondisinya.
BAB 5