• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEJALA GANGGUAN BELAJAR

11.3. Remedial teaching

Remedial teaching diberikan kepada siswa yang secara spesifik mempunyai gangguan belajar disleksia, dilakukan oleh seorang ahli kependidikan kekhususan atau psikolog pendidikan, dengan metoda pendidikan kekhususan (orthopedagogi). Atau dapat juga dilakukan oleh konselor yang ahli dalam pendidikan kekhususan.

Dilakukan perindividu secara berkala, misalnya satu jam perminggu.

Berbeda dengan clinical teaching, remedial teaching dalam hal ini mempunyai bentuk yang jelas, tujuan yang jelas, terstuktur, dan menggunakan metoda yang spesifik dengan tahapan-tahapan dan tujuan masing-masing yang jelas.

Karena bentuk anak gangguan belajar disleksia mempunyai keragaman yang cukup besar, maka sangat sulit membuatkan sebuah model yang cocok untuk semua anak. Karena itu bentuk metoda belajar, maupun metoda pelatihan orthodidaktik ini tidak bisa dibuatkan secara umum. Tujuan, kecepatan/tempo, metoda, dan bentuknya tergantung dari berbagai kemungkinan yang dapat diberikan

kepada siswa secara individual. Sekalipun demikian dalam hal ini masih dapat diberikan berbagai patokan yang dapat kita pegang dalam membuatkan Individual Education Program bagi siswa tersebut.

Karaketeristik Individual Educational Program (IEP) adalah sebagai berikut.

Membangun tugas yang teranalisa. Dengan prinsip struktur yang mini-max, artinya diberikan tugas yang banyak (maximal), bermacam-macam namun dengan tahapan-tahapan kecil (minimum). Setiap tahap dilakukan penilaian (analisa). Setiap tujuan akhir dari pemberian sebuah tugas, perlu dibuat tujuan-tujuan antaranya. Setiap tujuan antara perlu dilakukan analisa hasil kerja tugas. Apabila masih perlu ada koreksi dalam intervensi ini, maka tugas tersebut perlu diulang dan diperbaiki. Demikian secara bertahap terus menerus hingga siswa dapat mencapai tujuan akhir tugas tersebut.

Bekerja secara terencana. Dengan adanya tujuan akhir, maka program akan menjadi suatu program yang sistematis yang terdiri dari tujuan akhir yang harus dikerjakan melalui tahapan-tahapan. Setiap tahapan mempunyai juga tujuan yang disebut sebagai tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir. Dengan adanya program yang terencana ini setiap siswa yang mengikuti kegiatan remedial teaching dapat bekerja secara terarah karena memahami tujuan apa yang harus dicapainya. Agar tujuan dapat tercapai, baik tujuan antara maupun tujuan akhir program, maka terlebih dahulu hal ini semua perlu disampaikan kepada siswa. Pada akhir kegiatan dapat dilihat bagaimana pencapaian tujuan itu secara global. Untuk melihat keberhasilan program perlu dilakukan tes awal dan juga tes akhir setelah tugas dilaksanakan.

Program yang mempunyai aturan main. Untuk memecahkan masalah yang dihadapi anak, anak pun harus mengenal sendiri masalahnya. Ia perlu dibimbing untuk melihat masalah dan membuat pertanyaan bagaimana cara memecahkan masalah tersebut. Cara-cara ini harus diformulasikan secara jelas, mempunyai struktur yang juga jelas, dan kemudian dibuat dalam bentuk tulisan yang jelas dan besar-besar menjadi sebuah tatalaksana yang akan dijalaninya. Tatalaksana ini dapat digantung di dinding di tempat yang mudah terlihat. Penggunaan cara-cara seperti ini maksudnya agar anak selalu tahu tujuan kegiatan. Lagipula tidak semua anak bisa melihat apakah ia telah maju atau belum dengan cara membandingkan sebelum kegiatan dan hasil kegiatan. Hal itu juga tergantung dari tingkatan inteligensi anak.

Penggunaan bahasa yang sesuai dengan level anak. Perlu dihindari bahasa yang panjang, rumit dan sulit dipahami. Selalu gunakan bahasa sederhana, dengan cerita-cerita kanak-kanak,

disamping bukan hanya agar anak menguasai gramatika, tetapi juga mudah mengingat berbagai kata-kata dan masuk ke dalam memorinya.

Dukungan perangkat tehnik. Bila kesulitan dalam pembentukan kata-kata, maka dalam hal ini diperlukan dukungan perangkat tehnik untuk mencetak kata-kata yang harus diingatnya misalnya diketik dengan computer dan dicetak, atau menggunakan stempel huruf dan angka. Hal ini dimaksudkan agar kata-kata yang digabung bersama-sama menjadi sebuah kalimat, dan kalimat-kalimat yang akan membentuk cerita, akan lebih mudah dipahami dan diingatnya, untuk kemudian kembali direproduksinya. Dukungan tehnik visual antara lain dengan menggunakan berbagai gambar, skema, diagram, grafik, dan sebagainya. Dukungan auditif-verbal antara lain dengan cara misalnya pantun-pantun, puisi, teks lagu, yang dimasukkan ke dalam pita rekaman. Kita juga dapat menggunakan CD-rom interaktif yang menarik unuk anak-anak.

Stempel yang dapat digunakan untuk latihan menulis

Sumber: https://www.etsy.com/nl

Instruksi yang pasti. Instruksi yang diberikan dalam setiap tahap pembelajaran haruslah jelas, pasti, dan tegas. Dalam hal ini hindari siswa mencari-cari sendiri cara-cara mengatasi kesalahannya. Untuk menghindari kebosanan sebaiknya instruksi juga perlu berganti-ganti, sesuaikan dengan latihan-latihan yang diberikan padanya, sesuaikan pula dengan berbagai mata ajaran yang diberikan padanya. Dengan demikian ia juga akan sekaligus mempelajari latihan-latihan ini di berbagai mata ajaran itu.

Gunakan cara-cara self-instructionyaitu dimana anak perlu melakukan verbalisasi instruksi yang diberikan padanya, yaitu ia harus mengulang dengan ucapan berbagai instruksi yang diberikan padanya. Hal ini dimaksudkan agar instruksi itu akan mudah tercetak dalam

meningkatkan daya ingat, mempertajam refleksi, serta meningkatkan motivasi agar tetap menjalankan latihan-latihan dan seterusnya menyiasati kekurangannya.

Pendekatan pada orientasi pemahaman dan pengetahuan dasar anak. Pendekatan orientasi seperti ini sangat diperlukan dalam upaya mencari cara-cara yang pas untuk mengatasi masalah kesulitan pengejaan. Ia juga harus memahami bagaimana gramatika yang baik, menguasi berbagai istilah, serta belajar bagaimana memanfaatkan berbagai instruksi untuk memecahkan permasalahan yang disandangnya. Bagi seorang anak penyandang gangguan belajar disleksia, berbagai istilah tersebut sangat penting artinya, upayakan agar ia mampu menguasainya, mampu memahaminya, dan dapat digunakannya, dengan begitu akan selalu sangat kuat tercetak dalam ingatannya. Dengan dasar yang kuat seperti ini, kelak berbagai masalah tersebut diharapkan akan dapat diatasinya dengan baik.

Frekuensi latihan. Latihan-latihan, pengulangan-pengulangan adalah suatu cara agar ia mampu memahami – bukan hanya untuk menjawab berbagai pertanyaan, tetapi juga memahami bagaimana membangun kalimat dengan gramatika yang baik. Karena umumnya kesulitan seorang anak penyandang disleksia adalah dalam hal mengingat dan memproduksinya kembali, karena itu baginya perlu diberi latihan-latihan atau pengulangan setiap hari beberapa materi.

Materi pelatihan yang bervariasi. Untuk mencegah kebosanan, diperlukan adanya variasi materi pelatihan, tanpa harus menghilangkan tujuan rencana pelatihan. Variasi-variasi materi dapat juga dilengkapi dengan berbagai ilustrasi, gambar-gambar, skema, diagram, dan sebagainya.

Pendekatan pada meningkatkan motivasi. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang harus diutamakan – dan sudah dipikirkan metodanya saat membangun perencanaan pelatihan.

Kerjasama. Dengan kerjasama antara guru, tenaga remedial siswa dan orang tua haruslah selalu terus menerus dikembangkan, saling membantu bukan hanya dalam memecahkan masalah, namun juga saat melakukan evaluasi hasil kerja pelatihan.

Pelatihan dan tes evaluasi. Semua pengajaran dan pelatihan selalu memerlukan evaluasi untuk melihat seberapa jauh keberhasilan program yang diberikan padanya. Evaluasi bukan hanya diberikan di akhir program, namun evaluasi juga dilakukan secara berkala, diulang-ulang, dan program juga perlu disesuaikan dengan pencapaian hasil. Jika belum berhasil, program perlu diulang, disesuaikan, untuk kemudian dievaluasi ulang.

1. Pelatihan berbahasa

2. Pelatihan membaca dan menulis 3. Pelatihan membaca dan menulis lanjut