• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Tazkiyatun Nafs

3. Fungsi Nafs

Setelah dijelaskan pengertian dan klasifikasi Nafs selanjutnya dijelaskan beberapa fungsi nafs. Nafs dalam diri manusia ibarat listrik.

Jasad ibarat sebuah rumah yang belum memiliki listrik, maka ia akan gelap gulita mati dan tidak ada kehidupan yang dapat dilihat. Ketika Nafs mengalir kedalam jasad, maka hidup dan bergeraklah jasad dengan segala aktivitas kehidupannya. Begitulah dengan dengan sebuah Nafs yang telah dialiri tenaga listrik, maka ia akan terang benderang dan di dalamnya pun akan tampak tanda-tanda kehidupan. Begitu pula dengan jasad manusia, apabila Nafs yang ada dalam jasad itu hanya sedikit menampung daya ketuhanan, maka jasad itupun tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan benar. Ia tidak dapat lagi membedakan mana yang halal dan mana yang haram dan seterusnya.

Pada hakikatnya, Nafs memiliki fungsi menggerakkan dan mendorong diri manusia untuk melahirkan beberapa hal, yakni :

a. Mendorong dan menggerakkan otak manusia agar berpikir dan merenungkan apa-apa yang telah Allah ilhamkan berupa kebaikan dan keburukan. Sehingga dapat menemukan hikmah-hikmah dari keduanya.

b. Mendorong dan menggerakkan, qalbu (hati yang lembut) yang ada dalam dada agar merasakan dua perasaan, yaitu perasaan ketuhanan dan perasaan kemakhlukan, agar menerima ilham dan penampakan isyarat-isyarat ketuhanan yang abstrak dan tersembunyi.

c. Mendorong dan menggerakkan panca indera kepada obyek-obyek ayat-ayat Allah yang membumi dan kongkrit, rasa halal dan haram, hak dan bathil. Agar kedua mata dapat malihat pemandangan yang indah dan jelek, agar kedua telinga dapat mendengar suara yang merdu dan tidak merdu (sumbang), suara yang halal dan haram, suara haq dan bathil, agar kulit meraba benda yang halus dan kasar, benda yang halal dan haram, benda yang haq dan bathil.

d. Mendorong dan menggerakkan organ-organ tubuh dalam kerja sunnatullah, seperti : gerak jantung, kerja paru-paru, limpa, hati, ginjal, dan yang lain-lainnya.

e. Mendorong dan menggerakkan diri agar melahirkan perbuatan- perbuatan, sikap-sikap, tindakan-tindakan, gerak gerik dan penampilan yang fitrah.

4. Metode Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur‟an memiliki beberapa metode dalam penyucian jiwa antara lain :

a. Zikir Kepada Allah Swt.

Mengingat Allah (Dzikrullah) merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan dalam Islam dan merupakan bentuk nyata dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Dzikrullah (mengingat Allah) merupakan amalan yang sangat agung. Ia merupakan sebab diturunkannya berbagai nikmat, Penolak segala bala‟ dan musibah. Dzikir juga merupakan sebab kuatnya hati dan penyejuk hati manusia.

Aktifitas ini mempunyai manfaat yang sangat besar. Baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang lalai dalam mengingat Allah tentu akan meraih kerugian yang tak terhingga. Allah Swt menggolongkan orang-orang yang lalai dalam mengingatnya sebagai kelompok yang rugi.sebagaimana dijelaskan dalam QS.Al-munafiqun[63] : 9

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.

(Departemen Agama RI : 2007 : 937)

Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata dan lafadz yang keluar dari lisan, melainkan suatu hakikat yang mengakar dalam jiwa sehingga dapat menjadikan manusia terhubung dengan sang pencipta, yaitu Allah Swt.

Inti dari mengingat Allah adalah hati dan jiwa kita. Yaitu dengan mengingat Allah Swt, manusia merasakan kehadiran dan Kebesaran-Nya.

Ucapan zikir yang keluar dari lisan seseorang merupakan reaksi dari kontak yang terjadi antara jiwa manusia bersama Tuhan-Nya.

Mengingat Allah merupakan perantara penyucian jiwa. oleh karena itu, hati manusia yang selalu terkontaminasi oleh berbagai keburukan dapat dibersihkan melalui berdzikir. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib as dalam nasehatnya kepada putranya Imam Hasan Mujtaba berkata, “ putraku,aku menasehatimu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dan membersihkan jiwamu melalui Dzikrullah”.

b. Shalat

Sholat merupakan salah satu bentuk pengabdian manusia kepada Allah Swt yang wajib dilakukan, seperti dijelaskan dalam QS An- Nisa‟ [04]

: 103

Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang

ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(Departemen Agama RI : 2007 : 138)

Setiap perintah pasti memiliki sebuah tujuan dan manfaat, pun juga dengan perintah sholat. Allah menurunkan perintah sholat pasti memiliki suatu tujuan dan manfaat bagi manusia. Untuk dapat memahaminya, maka harus dipahami secara utuh perintah tersebut, mulai arti sholat, latar belakang, tujuan sholat, unsur – unsur dalam sholat. Ketika manusia memahami perintah sholat secara utuh, maka manusia akan memahami sebuah manfaat atau hikmah dari perintah sholat tersebut. Hal ini sangat penting, karena dengan memahami hikmah atau manfaat sholat akan meningkatkan motivasi untuk melaksanakan perintah sholat dan beribadah dengan sepenuh hati kepada Allah Swt. Karena itu, disini akan dibahas mengenai hikmah dari sholat itu sendiri.

Sholat diperintahkan dengan tujuan agar manusia selalu ingat kepada Allah, mengingat akan Dzat Nya, sifat – sifat Nya, kenikmatan dan kebesaran Nya, ancaman dan siksa Nya, serta ingat akan hokum – hokum dan aturan yang telah ditetapkan Allah melalui sunnatullah – sunnatullah Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaahaa [20] : 14

mengingat Aku.(Departemen Agama RI : 2007 : 477)

Dengan mengingat Allah, manusia akan selalu ingat akan kedudukannya sebagai hamba, budak Allah, yang harus selalu melaksanakan perintah dan hukum – hukum Nya, bagaimana kebesaran Allah dan pengasih dan pemurahnya Dia kepada manusia. Sehingga mereka akan selalu termotivasi untuk beribadah kepada Allah. Ketika menghadapi persoalan, manusia akan terbantu untuk menyelesikannya,

Sholat juga diperintahkan agar manusia dapat mencegah perbuatan keji dan munkar,seperti dijelaskan dalam QS. Al- „Ankabuut [29]

: 45 Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Departemen Agama RI : 2007 : 635)

Tujuan ini sangat berhubungan dengan tujuan mengingat tadi, karena ketika manusia selalu ingat kepada Allah, maka ia akan takut, malu untuk melakukan perbuatan keji dan munkar, suatu perbuatan yang tidak mencerminkan kehambaan diri kepada Allah.

5. Manfaat Nafs dalam Kehidupan Sehari-hari

Nafs adalah kecenderungan jiwa pada perkara-perkara yang selaras dengan kehendak manusia. Ia sejatinya diciptakan Allah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Bisa dibayangkan, jika tak ada

nafsu, tak mungkin manusia menginginkan kualitas hidup yang baik.

Karenanya, nafsu tidak untuk dihilangkan, tetapi untuk diatur dan dikendalikan sesuai dengan kehendak syariat. Meskipun pada prakteknya mengendalikan hawa nafsu bukanlah perkara yang mudah. Di setiap waktu, tempat, dan keadaan kita harus senantiasa sigap melawan bisikan nafsu negative. Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.

Kita telah banyak mendengar dampak negative dan kerugian dari hawa nafsu yang tidak terkendali dalam kehidupan sehari-hari. Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan terputusnya jalan nikmat dan mendapatkan aib yang sulit dihilangkan. Tidak ada jalan lain saat berhadapan dengan hawa nafsu kecuali melawannya. Karena kita tahu, hawa nafsu hanya akan membawa pada kesesatan. Semakin diikuti semakin jauh kita tersesat.

Banyak orang yang gagal dalam mengarungi hidupnya hanya karena tidak pandai mengendalikan hawa nafsunya. Mereka terkadang sadar bahwa perbuatan mereka adalah salah, , tetapi tetap dilakukan demi mengejar kenikmatan yang sesaat. Sebagai seorang beriman janganlah kita menuruti kemauan hawa nafsu, sebab nafsu senantiasa mencegah kita menikmati rasa ibadah, menjauhkan kita dari Tuhan, dan menghalangi kita melihat keagungan dan kebesaran-Nya.

Nafs tidak selalu bermakna negatif, asal kita tahu bagaimana menguasai dan mengelola hawa nafsu tersebut. Apabila kita mengelola nafsu yang ada menjadi kegiatan yang positif. Dalam kehidupan seseorang manusia nafsu memiliki peran yang sangat penting. Nafsu ibarat pedang bermata dua, di satu sisi apabila salah menggunakannya akan membawa kerugian, tetapi apabila dikelola dan digunakan sedemikian rupa akan berdampak baik. Hawa nafsu bila semakin kuat dan keras ditekan, hati kita akan semakin merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.

Sikap kontrol diri atau mujahadah an-Nafs adalah satu sikap yang diajarkan Islam agar manusia mampu menjadi pribadi yang tidak selalu mengedepankan hawa nafsu dan emosinya dalam menjalani kehidupan.

Akan tetapi, mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsunya dengan selalu mengedepankan kejernihan hati dan pikiran serta perilaku mulia yang dapat meninggikan derajatnya di hadapan Allah swt.

Maka dari penjelasan di atas terdapat beberapa manfaat nafs dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

a. Menambah ketentraman jiwa.

Seseorang yang memiliki sikap kontrol diri, hatinya akan merasa tenteram dan nyaman, tidak pernah berburuk sangka terhadap siapa pun yang ditemuinya, tidak mengucapkan sesuatu yang dapat merugikan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Rasulullah saw. Bersabda

Artinya :

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik.

Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak.

Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati". (HR Muslim, no. 1599.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama.

b. Berpikir positif.

Selalu berpikir positif dalam segala hal, tidak pernah mempunyai prasangka buruk terhadap apa pun dan siapa pun, tidak memiliki perasaan untuk merendahkan, atau bahkan menghina siapa pun yang ditemuinya. Ketika seseorang memiliki perilaku berpikir positif, dia akan selalu mempertimbangkan setiap ucapan dan perilakunya untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

c. Optimis dalam segala hal

Sikap optimis artinya keyakinan yang kuat bahwa kesungguhan dan kerja keras yang kita lakukan akan mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah swt. dengan berbagai macam kemu dahan. Seperti firman Allah dalam Q.S Al- ankabut [29] : 69



Terjemahannya :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. ( Departemen Agama RI 2007 :404 )

d. Bersabar ketika mendapat kegagalan

Seseorang yang memiliki sikap kontrol diri akan bersabar dan menganggap bahwa setiap kegagalan dalam usahanya adalah ujian baginya untuk meningkatkan usaha dan doanya lebih maksimal lagi di kemudian hari. Seperti firman Allah dalam Q.S Yusuf [12] : 87

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.

Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir. (Departemen Agama RI 2007 : 247)

6. Pengertian Tazkiyatun Nafs

kata tazkiyah berasal dari bahasa arab, yakni masdar dari zakka yang berarti pembersihan dan penyucian serta pembinaan dan peningkatan jiwa menuju kepada kehidupan spritual yang tinggi. Menurut Said Hawwa, secara etimologi mempunyai dua makna yakni penyucian dan pertumbuhan. Tazkiyah adalah menjadikan sesuatu menjadi bersih

dan suci, baik pada dzatnya, keyakinan, maupun pada apa yang di informasikan. Sebagaimana ungkapan, “addaltuhu” maksudnya, saya menjadikannya adil, baik dalam dirinya sendiri atau pada keyakinan manusia. Hati yang bersih dapat tumbuh dengan baik dan sempurna Sebagimana Allah berfirman dalam Q.S An- Nur [24] : 21



Kalau bukan kerena karunia Allah dan rahmat_Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki dan Allah maha mendengar, maha mengetahui.

(Departemen Agama RI : 2007 : 352)

Diayat yang lain Allah berfirman dalam Q.S An- Nisaa‟ [04] : 49



Tidaklah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang yahudi dan nasrani) sebenarnya Allah mensucikan siapa yang Dia kehendaki. (Departemen Agama RI : 2007 : 86)

Dengan demikian tazkiyatun nafs tidak saja terbatas pada pembersihan dan penyucian diri akan tetapi juga meliputi pembinaan dan pengembangan diri. Sedangkan menurut istilah membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya, merealiosasikan kesuciannya dengan tauhid dan cabang-cabangnya dan menjadikan nana-nama Allah

sebaik akhlaknya, disamping ubudiyah yang sempurna kepada Allah dengan membebaskan diri dari pengakuan rububiyah.

Padanan atau sinonim yang mirip dengan pengertian tazkiyah, adalah tathhir yang berasal dari kata thahara yang artinya membersihkan.

Kata tathhir atau thahara konotasinya adalah membersihkan sesuatu yang bersifat material atau jasmani yang bisa diketahui oleh idra-indra manusia.

Misalnya, membersihkan tangan dari kotoran, baik berupa najis maupun noda-noda yang menempel pada jasmani maniusia. Sedangkan kata tazkiyah konotasinya adalah membersihkan sesuatu yang bersifat immaterial. Misalnya. Membersihkan angan-angan kosong, nafsu jahat dan sebagainya.

Semua kamus menyatakan kata tazkiyah mempunyai dua arti, meski para ahli bahasa berbeda pendapat mana di antaranya yang lebih mendasar. Arti pertama adalah mensucikan dan membersihkan, sedangkan arti kedua adalah memperbesar jumlah atau menambah.

Dengan demikian, frase tazkiyatun nafs, seperti banyak di akui oleh para mufassir Al-Qur‟an dapat diartikan sebagai “penyucian” jiwa maupun “ penumbuihan” jiwa. Kebanyakan ahli ntafsir menekankan makna yang pertama, terutama karena alasan-alasan teologis. Singkatnya, kewajiban primer kaum muslim adal;ah tunduk kepada Alla, dan ini tidak akan tercapai kecuali ndengan cara membersihkan diri dari semua hal-hal yang dibenci Allah. Inilah yan g disebut “penyucian” Namun, jelas bahwa jiwa harus pula tumbuh atas bantuan Allah. Bertumbuh juga dapat disebut

tazkiyah. Dengan demikian, kedua arti itu, yakni penyucian dan pertumbuhan bisa saja berlaku bagi kata tazkiayah. Kita dapat pula menganggap penyucian sebagai usaha menumbuhkan jiwa sehingga kedua arti itu bisa diartikan saling berkait satu sama lain.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs tidak saja mengandung arti mensucikan jiwa. Tetapi juga mendorongnya untuk tumbuh subur dan terbuka terhadap karunia Allah. Terjemahan dalam hal ini adalah merawat jiwa. Muhammad abduh mengartikan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dengan tarbiyatun nafs ( pendidikan jiwa ) yang kesempurnaannya dapat dicapai dengan tazkiyatul aqli ( penyucian dan pengembangan akal ) dari akidah yang sesat dan akhlak yang jahat. Sedangkan tazkiyatul aqli kesempurnaanya dapat pula dicapai dengan tauhid murni.

Dalam kitab keajaiban jiwa Al-Ghazali mengartikan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dengan istilah thaharatun nafs dan imaratun nafs.

Thaharatun nafs berarti pembersihan diri dari sifat-sifat tercela dan imaratun nafs dalam arti memakmurkan jiwa ( pengembangan jiwa ) dengan sifat-sifat terpuji. Kalau orang sudah sampai melakukan proses tersebut, dapatlah ia sampai pada tingkatan jiwa muthmainnah dan bebaslah ia dari pengaruh hawa nafsu.

Para sufi mengartikan tazkiyatun nafs dengan takhalliyun nafs dan tahliyatun nafs dalam arti melalui pelatihan jiwa yang berat mengkosongkan diri dari akhlak tercela, dan mengisinya dengan akhlak terpuji serta sampai pada usaha kerelaan memutuskan segala hubungan

yang dapat merugikan kesucan jiwa dan mempersiapkan diri untuk menuerima pancaran nur ilahi (tajalli). Dengan bebasnya jiwa dari akhlak tercela dan penuh dengan akhlak nterpuji, maka orang mudah mendekatkan diri kepada Allah dalam arti kualitas, serta memperoleh Nur-Nya, kemuliaan dan kesehatan mental dalam hidup.

7. Tingkatan Tazkiyatun Nafs

Secara harfiyah Maqamat (tingkatan) adalah bentuk jama‟ dari maqam, maqam secara literal berarti tempat berdiri, stasiun, tempat, lokasi, posisi atau tingkatan. Maqamat merupakan sisi-sisi daripada iman dimana hati menduduki pada tiap-tiap sisi tersebut.

Menurut Abu Nashr al-sarraj maqam adalah :

Kedudukan atau tingkatan seorang hamba di hadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati ( mujahadah ), latihan-latihan spiritual ( riyadlah ), dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah serta memutuskan selain-Nya.

Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim [14] : 14















Terjemahannya :

Yang demikian itu (adalah untuk) yang takut maqam (menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut ancaman-Ku (Departemen Agama RI 2007 : 257)

Al-Qusyairi di dalam kitabnya berkata : maqamat adalah kondisi dicapai oleh seorang hamba, dimana hati seorang hamba itu berada didalamnya dan merasakan apa yang dialaminya dalam bentuk adab.

Untuk mencapai hal tersebut diperlukan sebuah usaha dan melalui permohonan disertai usaha yang sulit. Maka dari itu, maqam bagi tiap-tiap orang adalah tempat da mana hati seseorang berada dan itu dicapai dengan riyadlah.

Maqamat, Ialah tingkatan seorang hamba dihadapan Allah dalam hal ibadah, mujahadah, dan riyadlah serta pemusatan diri kepada Allah swt. Yang ia tempatkan kepada-Nya. Jadi dapat disimpulkan, maqam dikalangan kaum sufi merupakan jalan yang dapat mengantarkan untuk memperoleh ma‟rifat (mengenal) Allah. Namun demikian para sufi berbeda pendapat mengenai maqamat, baik mengenai pengertiannya maupun mengenai jumlahnya dan perinciannya.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah dipahami bahwa nafs muthmainnah merupakan tingkatan tertinggi dari rentetan strata jiwa.

Pada tingkatan terakhir ini ia sudah bebas dari sifat-sifat kebinatangan dan bebas dari sifat insaniyah plus hayawaniyah. Ia benar-benar memiliki kualitas insaniyah yang sempurna, sehingga berkembang ke arah sifat insaniyah plus ilahiyah.

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Sebelum membicarakan pengertian pendidikan islam maka perlu diketahui terlebih dahulu pengertian pendidikan secara umum, sebagai titik tolak memberikan pengertian pendidikan islam.

Pendidikan adalah usaha sadar dan teratur serta sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan.

Pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak, dalam petrttumbuhan jasmani maupun rohani untuk mencapai tingkat dewasa.

Ada banyak definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli.

Sebagai tolak ukur dari definisi-definisi itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan penjelasan yang cukup memadai tentang makna pendidikan yaitu :

Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi awalan men, menjadi mendidik yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalamusaha dalam mendewasakanmanusia melalui upaya pengajaran dan latihan.

Secara terminologis, para ahli pendidikan mendefinisikan kata pendidikan dari berbagai tinjauan. Ada yang melihat dari kepentingan atau fungsi yang diembannya, dari proses ataupun dilihat dari aspek yang terkandung didalam pendidikan.

Hasan langgulung melihat arti pendidikan dari sisi fungsi, yaitu :

Pertama, dari pandangan masyarakat, yang menjadi tempat berlangsungnya pendidikan sebagai satu upaya penting pewarisan kebudayaan yang dilakukanoleh generasi tua kepada generasi muda agar kehidupan masyarakat tetap berlanjut. Kedua, dari sisi kepentingan individu, pendidikan diartikan sebagai upaya pengembanganpotensi-potensi tersembunyi yang dimiliki manusia.

Adapun definisi pendidikan yang menitik beratkan pada aspek serta ruang lingkupnya dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba ia mengatakan bahwa :

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam sistem pendidikan nasional, istilah pendidikan diartikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang

Dari beberapa pengertian pendidikan di atas, kalau ditelaah lebih jauh, meskipun batasan yang dikemukakan para ahli pendidikan selintas berbeda, terlihat rentang garis merah bahwa pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala aspeknya. Jadi, pendidikan merupakan aktivitas yang disengaja untuk mencapai tujuan tertentu dan melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu dan yang lainnya, sehingga membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi.

Penenaan makna pendidikan islam ialah menuju terhadap pembentukan kepribadian, perbaikan sikap mental yang memadukan iman dan amal saleh yang bertujuan pada individu dan masyarakat, penekanan pendidikan yang mampu menanamkan ajaran islam dengan menjadikan

manusia yang sesuai dengan cita-cita islam yang berorientasi pada dunia akhirat. Dan dasar yang menjadikan acuan pendidikan islam merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang mengantarkan kepada kreativitasyang dicita-citakan. Nilai-nilai yang terkandung harus mencerminkan yang universal dan yang dapat mengevaluasi kegiatan yang sedang berjalan.

Maka dalam hal ini konsep pendidikan menurut islam, tidak hanya melihat bahwa pendidikan itu sebagai upaya mencerdaskan semata (pendidikan intelek, kecerdasan) melainkan sejalan tentang konsep tentang manusia dan hakikat eksistensinya. Secara definitif para pakar pendidikan islam berbeda pendapat dalam menginterpretasi pendidikan islam, dengan mempertentangkan peristilahan tarbiyah, ta‟lim dan ta‟dib.

Menurut Endang Syaifuddin MA, pendidikan islam dalam arti khas ialah:

Pendidikan yang materi didiknya terbatas pada agama islam ( aqidah,ibadah, muamalah dan akhlak islam) seperti pendidikan islam di perguruan tinggi. Sedangkan dalam arti luas ialah suatu sitem pendidikan umum yang berasaskan islam.

Menurut Prof. Dr. Omar Muhammad At-Toumy As-Syaebany, mendefinisikan pendidikan Islam dengan:

“Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi,

“Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi,

Dokumen terkait