BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Metode Tazkiyatun Nafs
3. Tujuan Hidup Manusia
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Departemen Agama RI : 2007 : 06)
3. Tujuan Hidup Manusia
Beribadah kepada Allah dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi,dilihat dari sisi manusia disebut tugas hidup, dan dilihat dari sisi Allah disebut tujuan Allah menciptakan manusia atau tujuan yang dikehendaki oleh Allah. Yang diciptakan adalah milik yang menciptakan. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Maka manusia adalah milik Allah. Sebagai yang dimiliki, manusia pada hakikatnya tidak mempunyai kehendak selain mengikuti kehendak yang memilikinya, yaitu kehendak Allah. Memeng Allah telah menciptakan pada diri manusia satu kebebasan dasar, yaitu kebebasan memilih; suatu kebebasan yang didasarkan atas sifat asasi manusia. Kebebasan inilah yang akan membuatnya memilih apakah akan mengikuti kehendak Allah ataukah akan mendurhakainya.
Jika manusia pada hakikatnya tidak mempunyai alternatif selain menuruti kehendak Allah, maka ia mesti melaksanakan segala aktivitas sesuai dangan kehendak Allah. Manusia yang melaksanakannya akan diridhai Allah, sementara yang mendurhakai-Nya akan dimurkai. Dengan demikian tujuan hidup mausia adalah mencapai keridlaan Allah.
Manusia yang diridhai Allah inilah yang di sebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenang), yaitu manusia yang telah mencapai kesempurnaannya dengan cahaya hati, manusia yang masuk dalam kelompok hamba-hamba Allah dan memperoleh kesenngan abadi berupa surga, manusia yang menghadap Allah dengan hati yang bersih; manusia yang digambarkan Allah dalam Q.S. Al-fajr [89] : 27-30
hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku. (Departemen Agama RI : 2007 :594)Dari ketiga hal pokok di atas menegaskan, bahwa manusia tidak mungkin dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya tanpa memiliki cukup pengetahuan yang berkaitan dengan tugas-tugas itu serta kemampuan dan kemauan untuk menjalankannya. Oleh sebab itu, manusia harus mengembangkan berbagai potensi yang ada di dalam dirinya, dan untuk itu ia perlu mengetahui asal kejadiannya serta unsur-unsur jasmani dan
rohani yang ada di dalamnya, Dengan diterapkannya tazkiyatun nafs Maka implikasinya adalah sebagai berikut :
a. Memperkuat Keimanan Manusia Sebagai Dasar Pijakan Dalam Beraktivitas Sehari-hari.
Salah satu modal awal pembentukan karakter kepribadian baik pada manusia adalah dengan tumbuhnya keimanan yang kokoh, yang menjadikan manusia dijauhkan dari sifat sombong dan tinggi hati, akan tetapi selalu rendah diri dan tawaduk dengan segala hal yang ada disekitarnya, yang semuanya itu didapat dari sehatnya jiwa seseorang.
Dengan kata lain, keberadaan keimanan akan membentuk kepribadian manusia membumi dengan lingkungan sekitarnya, dan bukannya melangit yang menyebabkan lingkungan sekitar merasa enggan berdampingan atau berdekatan dengannya. Hal tersebut karna potensi keimanan telah melekat, sehingga melahirkan perbuatan yang ihsan, karena segala perbuatannya didasari dengan niat ibadah.
Akan tetapi lain halnya bila kejiwaan (psikis) manusia, jauh dari keimanan. Hal tersebut, akan menyebabkan melemahnya keingian-keinginan positif, hilangnya loyalitas ketaatan, menghilangkan semangat (gairah), sulit mendapatkan ilmu, menimbulkan perasaan sedih, khawatir, gundah, gelisah, kecil hati, stres dan lain sebagainya.
Dengan hilangnya ketenangan, kebahagiaan, dan lain sebagainya itu telah menyebabkan kondisi psikis dan fisik manusia terganggu,
sehingga sejauh apapun pembelajaran yang disampaikan tidak akan terserap dengan baik.
Dalam konsep Islam pada kajian kesehatan jiwa, keimanan pada Allah merupakan modal penting untuk menyembuhkan kejiwaan seseorang dari berbagai penyakit psikis yang menjangkitinya, karena perasaan Iman dapat mewujudkan perasaan aman dan tentram, mencegah perasaan gelisah, serta dapat berfungsi sebagai motivator manusia disetiap aktivitasnya. Dengan kata lain bila keimanan kepada Allah telah tertanam dalam diri manusia akan membantu menghalangi dan mencegah manusia dari penyakit-penyakit kejiwaan. Dalam ilmu psikologi, kegelisahan merupakan penyebab utama timbulnya gejala-gejala penyakit kejiwaan. Maka tidak salah bila keamanan dan perasaan tentram jiwa orang mukmin karena ditimbulkan oleh keimanan.
Bagi seorang mukmin, ketenangan, keamanan, dan ketentraman jiwa dapat terwujud disebabkan keimanannya kepada Allah, yang memberinya cita-cita dan harapan akan pertolongan, perlindungan, dan penjagaan dari Allah SWT, dengan beribadah serta mengerjakan segala amal demi mengharap keridaan Allah. Oleh karena itulah, ia akan merasa bahwa Allah SWT, senantiasa bersamanya dan senantiasa akan menolongnya, hal ini menjadi jaminan bahwa dalam jiwanya tertanam perasaan aman dan tentram, karena dijauhkan dari sifat merasa takut terhadap apapun dalam kehidupan ini, yang telah
diatur oleh Allah dan manusia hanya menjalaninya dan memilihnya saja.
Keimanan akan memandu individu pada kaidah-kaidah dasar kesehatan dan perilaku preventif. Keimanan akan menuntunnya untuk dapat mewujudkan keseimbangan fisik dan psikis, yang membuat individu dalam menjalankan dan melakukan segala aktivitas dengan proporsional, baik itu dalam makan, minum, tidur, menikah, sosial kemasyarakatan, maupun dalam merespon semua stimulus dalam dirinya dengan jalan yang halal dan baik, serta dijauhkan dari perbuatan zdalim yang merugikan orang lain, dan menghindari jalan yang haram dan buruk. Buah dari hal itu, ia akan mempunyai keteguhan jiwa dan keluhuran budi.
Dengan begitu, pada taraf ini ia sudah mempunyai bekal yang cukup untuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam atas segala sikap, tindakan, dan keputusannya dalam menjalani kehidupan. Dengan kata lain, keberadaan iman akan membentuk Islamdan melahirkan perikalu ihsan yang merupakan buah daripada iman dan islam. Oleh karenanya, pendidikan Islam dimudahkan proses pembelajarannya, karena keimanan telah membentuk pondasi kebaikan bagi setiap peserta didik dalam belajar Islam.
b. Membentuk Akhlakul Karimah
Para ahli pendidikan muslim sejak awal menyadari sepenuhnya bahwa pemahaman tentang kepribadian manusia yang melahirkan
perilaku merupakan dasar pijakan bagi keberhasilan pendidikan.
Dalam hal tersebut, Ibnu Sina berkata :
Adalah sebuah keharusan, perhatian diarahkan pada pemeliharaan akhlak manusia, yakni dengan menjaganya agar tidak mengalami luapan amarah, takut dan sedih. Caranya melalui perhatian seksama yang dilakukan manusia atas perihal dirinya dan apa yang dibutuhkannya. Hal ini mempunyai dua kegunaan: kegunaan bagi jiwa manusia dan kegunaan bagi badannya. Sebab, ia sejak dini tumbuhkan dengan (kebiasaan) akhlak mulia sesuai bahan makanan yang dikonsumsinya dan akhlak ini dapat menjaga kesehatan jiwa dan badannya sekaligus”.
Dalam terminologi Islam klasik penyakit jiwa ini disebut sebagai akhlaq tercela (akhlaq mazmumah) kebalikan dari akhlaq yang terpuji (akhlaq mahmudah), atau bisa juga disebut dengan akhlaq yang buruk (akhlaq sayyi’ah) kebalikan dari akhlaq mulia atau baik.Imam Ghazali menyebutnya dengan akhlaq khabisah.Akhlaq yang tercela dan buruk itu, akan membentuk kepribadian buruk yang merupakan bagian dari kelainan psikis, dan kesemuanya ini akan menyebabkan jiwa manusia menjadi kotor dan jauh dari hidayah Allah.
Akhlaq menjadi barometer penilaian umum, baik dan buruknya kepribadian seseorang, karena akhlaq berkaitan dengan hati nurani, maka sifat tersebut hanya dapat terukur dari sikap, tindakan dan tingkah-lakunya (akhlaqnya). Maka, dalam akhlaqul-karimah moralitas yang digunakan, berpijak pada norma-norma agama Islam, disamping adat-istiadat dan norma sosial lainnya. Karena secara teoritik norma Islam tidak betentangan dengan norma sosial. Bahkan bersifat komplementer, mengarahkan dan mencerahkan pranata sosial. Maka
seseorang yang berkepribadian islami akan merasa nyaman dan tentram berada di tengah-tengah lingkungan keluarga dan masyarakat.
Hal ini tentu berdampak positif bagi perkembangan kejiwaan, kreatifitas, daya nalar bahkan terhadap prestasi akademik seseorang anak di sekolah. Dengan demikian, kepribadian islami berdampak positif terhadap kejiwaan manusia
Kesehatan jiwa memiliki peran dalam membentuk kepribadian manusia, dengan menjalani kehidupan manusia normal pada umumnya dengan menghiaskan diri dengan akhlaq yang terpuji, yang tidak terlepas dengan tiga esensi dasar yaitu; Islam, Iman dan Ihsan, sebab anak yang termasuk kepribadian Islami secara otomatis mempunyai ketaqwaan yang tinggi. Semuanya dapat dibentuk dan dikembangkan melalui usaha pendidikan, bimbingan dan latihan-latihan yang sejalan dengan agama dan norma-norma ajaran Islam.
Oleh karena itu, seorang anak harus mendapatkan pendidikan akhlak secara baik, karena pendidikan akhlaq adalah pendidikan yang berusaha mengenalkan, menanamkan serta menghayatkan manusia akan adanya sistem nilai yang mengatur pola, sikap dan tindakan manusia atas isi bumi, yang mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia (termasuk dengan dirinya sendiri) dan dengan alam sekitar.
c. Mengembangkan Potensi Manusia
Pada hakikatnya bila manusia ditilik menurut fitrah-nya, maka ia memiliki dua atribut, yaitu makhluk jasmani dan rohani. Dalam perkembangannya, setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi apakah ia tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bermatabat, atau sebaliknya menjadi pribadi yang kurang bermatabat. Dua faktor tersebut, adalah faktor warisan dan faktor lingkungan (bi„ah). Faktor warisan ialah keadaan yang dibawa manusia sejak lahir yang diperoleh dari orang tuanya. Seperti, warna kulit, bentuk kepala, dan tempramen.
Sedangkan faktor lingkungan ialah keadaan sekitar yang melingkupi manusia, baik benda-benda seperti air, udara, bumi, langit, dan matahari, termasuk individu dan kelompok manusia.Kedua faktor inilah yang nantinya akan mempengaruhi baik buruknya kondisi kejiwaan manusia dalam menjalani aktivitas kehidupannya. Maka, Peranan kesehatan jiwa akan terlihat sangat penting dalam rangka mengembangkan potensi manusia kearah yang lebih baik. Untuk mengantisipasi potensi manusia tersebut, ada beberapa hal yang perlu ditumbuh kembangkan:
a) Akal
Dalam dunia pendidikan, fungsi intelektual atau kemampuan akal manusia (peserta didik) dikenal istilah kognitif.40 Tujuannya mengarah kepada perkembangan intelegensi yang mengarahkan manusia sebagai individu untuk dapat menemukan kebenaran yang
sebenar-benarnya. Dengan usaha pemberian ilmu dan pemahaman dalam rangka memandaikan manusia dalam hal ini aspek akal meliputi: rasio, qalb atau hati yang berpotensi untuk merasa serta meyakini hati nurani, yang diidentikkan dengan mendidik kejujuran dalam diri sendiri untuk membedakan baik dan buruk.
b) Fisik
Kekuatan fisik merupakan bagian pokok dari tujuan pendidikan kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik. Seperti panca indera, anggota badan, system saraf dan unsur-unsur biologis lain lebih banyak menempuh cara penguatan dan pelatihan seperti mengkonsumsi gizi secara memadai dan berolah raga, melatih masing-masing aspek sesuai dengan kekhususannya. Dengan demikian sehatnya fisik, merupakan modal awal untuk mengembangkan potensi kebaikan yang ada pada diri manusia.
c) Ruhaniyah dan nafsiyah (ruh dan kejiwaan)
Ruh dan kejiwaan merupakan dimensi yang memiliki pengaruh dalam mengendalikan keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram dan bahagia. Bentuk pengembangannya, agar menjadikan manusia betul-betul menerima ajaran islam dengan menerima seluruh cita-cita ideal yang terdapat dalam al-Qur‟ an, peningkatan jiwa dan kesetiaannya yang hanya kepada Allah semata dan moralitas islami yang diteladani dari tingkah laku kehidupan Nabi
Muhammad SAW, yang merupakan bagian pokok dalam tujuan pendidikan islami. Biasanya dilakukan dengan amalan-amalan mendekatkan diri pada Allah seperti shalat malam, berpuasa sunnah, banyak berdzikir kepada-Nya, membangun sikap ridho terhadap takdir serta kehendak-Nya. Keduanya ini merupakan daya manusia untuk mengenal Tuhannya, dirinya sendiri, dan mencapai ilmu pengetahuan. Sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian baik.
d) Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang ber-Tuhan atau makhluk yang beragama. Berdasarkan hasil riset dan observasi, hampir seluruh ahli jiwa sependapat bahwa pada diri manusia terdapat keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan. Dalam pandangan Islam, sejak lahir seorang anak telah mempunyai jiwa agama, yaitu jiwa yang mengakui adanya zat yang maha pencipta dan Maha mutlak yaitu Allah Swt. Sehingga tinggal bagimana pendidikan, orang tua dan lingkungan-lah yang menentukan anak tersebut, yaitu beragama atau tidak beragamakah?.
e) Sosial
Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial, keserasian antara individu dan masyarakat tidak mempunyai
kontradiksi antara tujuan sosial dan tujuan individual. Maka, tanggung jawab sosial merupakan dasar pembentuk masyarakat.
Oleh karena itu Pendidikan sosial ini setidaknya bisa membimbing tingkah laku manusia dibidang sosial, ekonomi, dan politik menuju pribadi yang Islami.
d. Membentuk Kematangan Emosional Manusia Dengan Lebih Bijaksana Dalam Menyikapi Problematika Kehidupan
Manusia bijaksana, adalah manusia yang dapat mengedepankan akhlaqul karimah dalam menyikapi persoalan kehidupannya, tentunya dengan mengoptimalkan kinerja akal dan hati dalam memberikan keputusan dan menyikapi kehidupan, dengan tidak disertai sikap arogansi, egois, emosi, marah, takut, dan lain sebagainya dalam menjalankan aktivitas kehidupannya, inilah yang dimaksud dengan kematangan emosional.
Terdapat tiga ciri perilaku dan pemikiran pada seseorang yang emosinya dianggap matang, yaitu memiliki disiplin diri, determinasi diri, dan kemandirian. manusia yang memiliki disiplin diri dapat mengatur diri, hidup teratur, menaati hukum dan peraturan. Manusia yang memiliki determinasi diri akan dapat membuat keputusan sendiri dalam memecahkan suatu masalah dan melakukan apa yang telah diputuskan, tidak mudah menyerah dan menganggap masalah baru lebih sebagai tantangan daripada ancaman. Individu mandiri akan berdiri di atas kaki sendiri, Ia tidak banyak menggantungkan diri pada
bimbingan dan kendali orang lain, melainkan lebih mendasarkan pada diri pada kemampuan, kemauan dan kekuatannya sendiri.
Kematangan emosional menjadikan manusia lebih berfikir logis, kritis dan kreatif, serta dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Oleh karenanya, pendidikan Islam akan menghasilkan output yang kritis dan kreatif, yang didalalamnya memiliki tiga ciri utama yaitu;
1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality), 2) mempunyai keluwesan (flexibility), dan 3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Dari sinilah daya fikir seseorang ini akan lebih maju.
e. Menjauhkan pemahaman Manusia dari kehidupan materialisme-hedonisme
Dalam teori kesehatan jiwa barat, mengatakan bahwa tingkah laku manusia adalah suatu fungsi dari faktor-faktor ekonomi dan sosial.
Pandangan hidup yang materialistik, individualistik dan hedonistik ini, membawa implikasi menempatkan manusia pada derajat yang tinggi, causa-prima yang unik, pemilik akal budi yang hebat, serta memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa saja yang dianggap baik bagi dirinya. dengan kebebasan dan kedaulatan penuh akan menimbulkan konsep pribadi yang ekstrim, yang pada gilirannya akan mengembangkan sifat anarkhis, karena meniadakan hubungan trasendal dengan Tuhan.
Dalam al-Qur‟ an, kesehatan jiwa tidak hanya mengutamakan pengembangan pada potensi manusia saja, akan tetapi aspek
ketuhanan yang merupakan potensi dan kebutuhan dasar manusia merupakan prioritas utama yang sangat diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan, semua tingkah laku manusia yang dapat mengarahkan pada terwujudnya ketenangan dan kebahagiaan hidup bukanlah sesuatu yang hanya dapat diamati (observable) dan bersifat materialistik saja, tetapi juga sesuatu yang transenden yang tidak dalam jangkauan manusia, yaitu nilai-nilai keruhanian dan hal ini merupakan aspek-aspek pendidikan islam.
Dalam pendidikan Islam, dua unsur (jasmani dan rohani) yang membentuk manusia dengan segala potensinya sama-sama mendapat perhatian. Unsur rohani tidak lebih diutamakan atas unsur jasmani, demikian pula sebaliknya, karena unsur-unsur itu saling mempengaruhi.
Kalau unsur jasmani dan rohani mendapat perhatian yang sama, maka demikian pula aspek akal dan perasaan pada unsur rohani mendapat porsi perhatian yang seimbang dalam pendidikan Islam. Aspek akal dengan daya berpikirnya dilatih untuk mempertajam penalaran.
Sementara daya perasa dilatih dan diasuh dengan baik untuk mempertajam hati nurani dan kata hati. Cara yang digunakan untuk tujuan ini ialah ibadah-ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan bebagai bentuk penyucian (tazkiyah) ruh yang lain.
Tujuan tertinggi dalam pendidikan Islam adalah tercapainya kesempurnaan insani. Apabila tujuan itu diterjemahkan ke dalam kebiasaan tingkah laku dan sikap yang hakiki, maka tujuan yang
selanjutnya yang hendak dicapai adalah individu-individu yang baik, dalam arti selalu berorientasi terhadap terciptanya kebaikan bagi individu dan masyarakat, selain bertingkah laku sesuai dengan sifat-sifat yang digariskan Allah bagi para hamba-Nya yang saleh.
Tujuan terbentuknya individu yang muttaqin dan muthmain mustahil tercapai tanpa pendidikan yang integratif yang mencakup seluruh unsur-unsur yang ada pada diri manusia. Maka pendidikan seharusnya mengajarkan kemampuan berpikir, mengembangkan kecerdasan religius dan spritualnya, dan secara terus-menerus melakukan penyucian jiwanya (tazkiyatun nafs).
Proses pendidikan yang integratif dalam tataran praktis berorientasi pada tiga aspek, yakni iman, ilmu dan amal. Tegasnya pendidikan yang terintegrasi tidak pernah dan tidak akan mendikotomikan antara kehidupan dunia-akhirat, jasmani-rohani dan individu-masyarakat, akan tetapi mencakup segala aspek kehidupan manusia di dunia yang nantinya akan berimplikasi pada kehidupan akhirat.
Tentang perlunya pendidikan integratif bagi kehidupan manusia dapat merujuk pada salah satu misi agung Rasulullah Saw. yaitu misi
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Departemen Agama RI : 2007 : 553)
Hal itu jelas menuntut adanya sistem pendidikan yang mampu memadukan secara harmonis dan seimbang antara apa yang menjadi prinsip-prinsip dalam Al-Quran sebagai pedoman hidup (asas al-hayah) dengan seluruh ayat-ayat-Nya (qauliyah dan kauniyah) sebagai fasilitas hidup (wasailul hayah).
Implikasi tujuan di atas dalam praktek operasionalnya, maka harus pula ditekankan aktivitas mengasuh, melatih, mengarahkan, membina, dan mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya, termasuk potensi spritual. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhaimin dalam bukunya Pengembangan Kurikulum Agama Islam dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi menyatakan, bahwa fungsi pendidikan secara umum adalah sebagai proses mengaktualisasikan atau menumbuhkembangkan seluruh potensi dan kemampuan manusia dalam kehidupan nyata agar dapat berkembang secara maksimal.
Agar fungsi pendidikan tersebut dapat terlaksana dengan maksimal, maka pendidikan khususnya pendidikan Islam bukan hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan atau budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya tetapi lebih dari pada itu, pendidikan Islam harus dijadikan sebagai suatu bentuk proses pengaktualisasian yang integratif sejumlah potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi itu meliputi
jasmani, rohani, intelektual, emosional, dan spiritual, atau dalam istilah psikologi modern disebut IQ, EQ, dan SQ. potensi-potensi yang merupakan berbagai macam kecerdasan dalam istilah psikologi tersebut berfungsi menyiapkan individu muslim yang memiliki kepribadian paripurna bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.
Dengan proses pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh aspek kecerdasan tersebut, manusia mampu membentuk kepribadiannya, mentransfer kebudayaan dari satu komunitas kepada komunitas lain serta pendidikan Islam mampu mengembangkan di dalam jiwa individu kesiapan untuk menempuh jalan yang baik dan menjahui jalan yang buruk.
Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan Implikasi konsep tazkiyatun nafs, Dalam pengembangannya pendidikan Islam menyeimbangkan dua unsur (jasmani dan rohani) secara integratif.
dengan diterapkannya Tazkiyatun Nafs dalam kehidupan sehari-hari maka akan berimplikasi memperkuat keimanan manusia, membentuk akhlakul karimah, mengembangkan potensi manusia, membentuk kematangan emosional manusia dengan lebih bijaksana dalam menyikapi problematika kehidupan dan menjauhkan pemahaman manusia dari kehidupan materialism, hedonisme.
84 A. Kesimpulan
Setelah penulis menguraikan tentang Konsep tazkiyatun nafs dalam Al-Qur’an dan implikasinya dalam pengembangan pendidikan islam maka penulis menutup pembahasan skripsi ini dengan mengemukakan beberapa kesimpulan :
1. Secara umum nafs dalam Al-Quran menunjuk kepada sisi dalam diri manusia yang memiliki potensi baik dan buruk. Pada hakikatnya potensi positif lebih kuat dari pada potensi negatif. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari pada kebaikan kepada nafs. Untuk itulah manusia senantiasa dituntut memelihara kesucian nafs-nya dan jangan sekali-kali mengotorinya. Al-Quran dalam menggunakan kata nafs untuk menunjuk sisi dalam diri manusia itu, sedikitnya ada 4 pengertian yang dapat diperoleh. Pertama, bahwa nafs berhubungan dengan roh, kedua, bahwa nafs berhubungan dengan potensi pikiran kehidupan, ketiga bahwa nafs berhubungan dengan hati (al-qalb), dan keempat bahwa nafs berhubungan dengan potensi kebaikan dan keburukan..
2. Tazkiyatun nafs adalah proses penyucian jiwa dari perbuatan syirik dan dosa, pengembangan jiwa manusia mewujudkan potensi-potensi menjadi kualitas-kualitas moral yang luhur (akhlakul
hasanah), proses pertumbuhan, pembinaan akhlakul karimah (moralitas yang mulia) dalam diri dan kehidupan manusia. Dan dalam proses perkembangan jiwa itu terletak falah (kebahagiaan), yaitu keberhasilan manusia dalam memberi bentuk dan isi pada keluhuran martabatnya sebagai makhluk yang berakal budi.
3. Implikasi konsep tazkiyatun nafs, Dalam pengembangan pendidikan Islam menyeimbangkan dua unsur (jasmani dan rohani) secara integratif. Dengan diterapkannya Tazkiyatun Nafs dalam kehidupan sehari-hari maka akan berimplikasi memperkuat keimanan manusia, membentuk akhlakul karimah, mengembangkan potensi manusia, membentuk kematangan emosional manusia dengan lebih bijaksana dalam menyikapi problematika kehidupan dan menjauhkan pemahaman manusia dari kehidupan materialism, hedonisme.
B. Saran
1. Kepada para Ulama’ agar lebih memperhatikan kajian Tazkiyatun Nafs untuk memperbaiki kehidupan manusia menjadi lebih baik dan
1. Kepada para Ulama’ agar lebih memperhatikan kajian Tazkiyatun Nafs untuk memperbaiki kehidupan manusia menjadi lebih baik dan