• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUPLEMENTASI OMEGA-3

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Burung Puyuh

Burung puyuh adalah unggas darat berukuran kecil namun gemuk dengan ekor sangat pendek, bersarang di permukaan tanah, memiliki kemampuan untuk berlari dan terbang dengan kecepatan tinggi namun dengan jarak tempuh yang pendek. Butung puyuh memakan biji-bijian dan serangga serta mangsa berukuran kecil lainnya.

Beberapa jenis burung puyuh yang dipelihara di Indonesia diantaranya

Coturnix-coturnix japonica, Coturnix chinensis(Blue Breasted quail), Turnic susciator, Arborophila javanica,danRollus roulroulyang dipelihara sebagai burung hias karena memiliki jambul yang indah. Burung puyuh yang umum dipelihara di Indonesia adalah Coturnix-coturnix japonica yang pada awalnya diimpor dari Taiwan, Hongkong, dan Jepang. Coturnix-coturnix japonica mempunyai panjang badan sekitar 19 cm, berbadan bulat, berekor pendek, berparuh pendek dan kuat, serta berjari kaki empat dan berwarna kekuning-kuningan. Burung puyuh yang dipelihara di Amerika disebut dengan Bob White Quail (Colinus virgianus) sedangkan di China disebut dengan Blue Breasted Quail (Coturnix chinensis). Klasifikasi burung puyuh menurut Nugroho dan Mayun (1981) sebagai berikut :

Kingdom :Animalia

Filum :Chordata

Class :Aves(bangsa burung) Ordo :Galiformes

Sub Ordo :Phasianoidae

Famili :Phasianidae

Sub Famili :Phasianidae

Genus :Coturnix

Species :Coturnix-coturnix japonica

Penentuan jenis kelamin dapat dilakukan dengan memperhatikan warna bulu. Umumnya pertumbuhan bulu lengkap pada burung puyuh dicapai pada umur 2-3 minggu. Bulu puyuh umur 3 minggu sudah tumbuh sempurna terutama pada puyuh Jepang. Perbedaan karakteristik morfologi antara jantan dan betina disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 1.

Tabel 1. Perbedaan Burung Puyuh Jantan dan Betina Dewasa Kelamin

Morfologi Jantan Betina

Kepala (Muka) Berwarna coklat gelap dan rahang bawah gelap

Berwarna terang dan rahang bawah putih.

Bulu Dada Coklat kekuning-kuningan dan tanpa garis

Terdapat bercak hitam atau coklat

Dubur (Anus) Terdapat benjolan berwarna merah di atas dubur dan jika ditekan akan mengeluarkan busa berwarna putih

Tidak terdapat benjolan

Suara Cekeker Cekikik

Sumber : Nugroho dan Mayun (1981)

4 Performa Produksi Burung Puyuh

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan merupakan kegiatan masuknya sejumlah nutrisi yang ada di dalam ransum yang telah tersusun dari bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Pakan yang diberikan pada ternak harus disesuaikan dengan umur dan kebutuhan ternak. Pakan yang dapat diberikan untuk burung puyuh dapat berbentuk

pellet, crumble (remah), atau tepung. Pakan tepung merupakan bentuk pakan paling cocok bagi burung puyuh karena tingkah laku aktif burung puyuh yang sering mematuk. Protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Kekurangan salah satu nutrisi tersebut mengakibatkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas (Nugroho dan Mayun,1981).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan zat-zat makanan berhubungan dengan: (1) genetik; (2) makanan dan penyakit serta cekaman-cekaman lain, dan (3) fungsi-fungsi khusus, seperti mempertahankan kualitas telur (Wahju, 1982). Konsumsi pakan burung puyuh pada umur lebih dari enam minggu membutuhkan 14-18 gram/ekor dengan kandungan protein 20% dan energi 2600 Kkal/kg (Nugroho dan Mayun, 1981), sedangkan konsumsi burung puyuh yang memperoleh ransum rendah protein dengan suplementasi enzim komersial adalah sebesar 17,27-18,61 gram/ekor (Suprijatnaet al., 2008)

Konsumsi pakan dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan dan faktor lain seperti energi ransum, palatabilitas ransum, umur, kesehatan, jenis dan aktivitas ternak serta tingkat produksi. Puyuh membutuhkan unsur nutrisi protein, energi, vitamin, mineral, dan air. Anak burung puyuh (DOQ) yang baru berumur 0-3 minggu membutuhkan protein 25% dan energi metabolis 2900 kkal/kg. Kadar protein dikurangi menjadi 20% dan energi metabolis menjadi 2600 kkal/kg pada umur 3-5 minggu. Burung puyuh berumur lebih dari 6 minggu membutuhkan energi dan protein yang sama dengan kebutuhan pada umur 3-5 minggu (Listyowati dan Roospitasari, 2004). Burung puyuh yang mendapat ransum dengan kadar protein 24% mempunyai konversi makanan yang sama dengan ransum yang menandung protein 22% tetapi memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Kebutuhan zat makanan puyuh disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kebutuhan Zat Makanan Burung Puyuh Layer

Zat-zat makanan NRC SNI

Kadar Air (%) - Maks. 14

Energi Metabolis (Kkal/kg) 2600 Min. 2700

Protein (%) 20 Min. 17

Lemak (%) 3,96 Maks. 7

Serat Kasar (%) 4,40 Maks. 7

Kalsium (%) 3,75 2,50-3,50

Fosfor (%) 1,00 0,40

Sumber : NRC (1997); SNI (2006)

Produksi Telur

Telur puyuh Jepang (Coturnix-coturnix japonica) berwarna cokelat lurik dan sering tertutup zat berwarna biru seperti kapur dengan berat 7-8 % dari berat induk (Nugroho dan Mayun, 1981). Tingkat produksi telur dapat ditentukan melalui dua metode, hen day production (HD) dan hen housed production (HH). HD adalah jumlah telur yang dihasilkan kelompok unggas dalam periode tertentu berdasarkan jumlah unggas aktual yang hidup pada periode tersebut dan dihitung dalam persen. HH dihitung berdasarkan jumlah telur yang diproduksi oleh jumlah unggas pada saat awal pemeliharaan dan dihitung dalam persen. HD merupakan metode yang sering dipakai karena dapat menentukan tingkat produksi telur sesuai dengan jumlah unggas yang ada.

Produksi telur burung puyuh cukup baik dan bervariasi disebabkan oleh faktor pemeliharaan dan makanan. Burung puyuh akan mulai berproduksi pada saat bobot badan sekitar 90-100 gram di umur 6 minggu (35-42 hari) dan produktif sampai umur 16 bulan pada kondisi pemeliharaan yang baik. Masa produktif burung puyuh hanya berlangsung sampai enam atau delapan bulan saja jika kondisi kurang terpelihara. Telur yang dihasilkan pada permulaan fase bertelur berjumlah sedikit dan akan cepat meningkat seiring dengan pertambahan umur. Burung puyuh betina dapat menghasilkan telur sebanyak 200-300 butir per tahun. Produksi telur tertinggi dan

6 terbaik adalah 80,2%, hal ini dapat dicapai bila pada periode grower mendapat ransum dengan protein 24% dan selama periode bertelur mendapat ransum dengan kadar protein 20% (Nugroho dan Mayun, 1981). Kemampuan berproduksi meningkat dengan cepat hingga mencapai puncak produksi 98% pada umur 4-5 bulan dan secara perlahan-lahan akan menurun hingga 70% pada umur 9 bulan. Puncak produksi telur lebih dari 80% dapat dicapai pada minggu ke-13 tahun. Telur yang dihasilkan di masa awal produksi berukuran lebih kecil dibandingkan dengan telur yang dihasilkan pada akhir produksi. (Wahju, 1982). Produksi telur burung puyuh hampir mirip dengan produksi telur ayam. Perbedaannya pada burung puyuh puncak produksi lebih lama dari pada ayam (Nugroho dan Mayun, 1981).

Protein penting untuk pembentukan telur karena sebanyak 50% dari bahan kering yang terkandung dalam telur adalah protein. Pemberian asam amino menjamin kelangsungan sintesis protein yang sangat diperlukan untuk produksi telur (Wahju, 1982). Pada periode layer cahaya berperan dalam pematangan dan pelontaran ovum yang pada akhirnya mempengaruhi produksi telur. Cahaya yang diterima oleh mata unggas akan dilanjutkan ke bagian otak yang disebut

hypotalamus. Hypotalamus ini berperan sebagai pengatur fungsi organ-organ tubuh yang menggerakkan aktivitas-aktivitas hidup seperti makan, minum, tingkah laku seksual serta sekresi kelenjar anterior pituitary. Setelah cahaya diterima oleh hypothalamus maka akan merangsang anterior pituitary untuk mensekresikan hormon LH (Luteinizing Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone) serta gonadotropin. Setelah mencapai dewasa kelamin, LH (Luteinizing Hormone) merangsang pelontaran ovum. Hormon FSH merangsang folikel dalam ovarium sehingga tumbuh dan berkembang dengan cepat serta menghasilkan hormon estrogen, progesteron dan androgen. Hormon estrogen berfungsi untuk merangsang perkembangan oviduct, sedangkan progesteron dan androgen penting untuk merangsang oviduct dalam pembentukan albumen telur (North dan Bell, 1990).

Intensitas cahaya, panjang periode hari terang, dan pola pergantian hari menghasilkan respon biologi yang berhubungan dengan produksi telur. Intensitas cahaya minimal sekitar seperempat footcandle (2,69 lux) memberikan peluang bagi burung puyuh untuk menemukan tempat pakan dan melakukan aktivitas makan. North dan Bell (1990) mengemukakan bahwa pemberian cahaya 16 jam per hari

pada ayam selama periode pertumbuhan menghasilkan kinerja yang optimal selama periode pertumbuhan maupun periode bertelur. Peningkatan jumlah cahaya sampai 20 jam perhari dapat menigkatkan produksi telur dan konversi ransum pada ayam. Pada puyuh umur 6-12 minggu membutuhkan lama pencahayaan 22 jam/hari (Triyanto, 2007)

Pembentukan telur yang terjadi dan dimulai di dalam alat reproduksi unggas betina merupakan proses panjang dan kompleks serta melalui tenggang waktu yang relatif konstan. Menurut Yuwanta (2004), tahap-tahap pembentukan telur diawali dari pelepasan kuning telur (ovum) dari ovarium yang mengandung sekitar 1000-3000 folikel dengan ukuran sangat bervariasi (mikroskopis sampai sebesar satu kuning telur). Kuning telur mulai tumbuh dengan cepat sekitar 10 hari sebelum dilepaskan ke dalam infundibulum. Kuning telur tersebut diselimuti oleh suatu membran folikuler yang menempel pada ovarium. Membran folikuler ini memiliki bagian yang disebutstigmayang mengandung sedikit pembuluh darah. Stigma robek dan melepaskan ovum pada saat ovulasi. Kuning telur selanjutnya ditangkap oleh infundibulum dan langsung menuju ke magnum yang merupakan saluran terpanjang pada oviduk. Pada saat kuning telur berada di dalam infundibulum memungkinkan terjadinya proses pembuahan apabila terjadi perkawinan.

Albumen disekresikan dalam magnum untuk membalut kuning telur. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kuning telur melakukan penetrasi ke dalam magnum 15-20 menit setelah ovulasi. Putih telur terdiri atas 88% air, protein (90% bahan kering), mineral (6% bahan kering), glukosa bebas (3,5% bahan kering), dan sama sekali tidak terdapat lipida. Selain pembentukan putih telur juga terjadi mekanismeplumpingyaitu mekanisme penyerapan air bersama-sama dengan protein di dalam proses pembentukan telur. Kalasa terbentuk setelah terjadinya proses plumping. Setelah berada di dalam magnum maka telur akan memasuki isthmus untuk pembentukan selaput telur kemudian masuk ke dalam uterus. Uterus adalah tempat pembentukan kerabang telur, telur berada pada waktu yang cukup lama di dalam uterus yaitu 18-20 jam. Cangkang telur dibentuk selama 20 jam pada bagian uterus. Lapisan terakhir dari cangkang yang terbentuk adalah kutikula yang merupakan material organik pelindung telur.

8 Bagian terkahir dari oviduk adalah vagina yang merupakan tempat telur ditahan untuk sementara dan akan dikeluarkan melalui kloaka (bagian ujung luar dari oviduk). Organ reproduksi unggas betina disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Organ Reproduksi Unggas Betina (Romanoff dan Romanoff, 1963)

Bobot Telur

Faktor yang menyebabkan variasi bobot telur antara lain pola alami produksi telur, pakan, dan menajemen serta faktor lain yang berhubungan dengan genetik. Bobot telur diturunkan secara genetik. Pengaruh lingkungan seperti lingkungan kandang, besar tubuh induk, tahap kedewasaan, umur, obat-obatan, jenis pakan, jumlah pakan, dan zat makanan dalam pakan seperti kecukupan protein dan asam amino linoleat sangat mempengaruhi bobot telur yang dihasilkan (Wahju, 1982). Kekurangan protein ransum menyebabkan telur berukuran kecil.

Waktu produksi telur dapat mempengaruhi bobot telur. Produksi pertama dari siklus bertelur menghasilkan telur berbobot lebih rendah dibanding telur berikutnya pada siklus yang sama dan secara berangsur-angsur meningkat seiring pertambahan umur dan mencapai bobot maksimum ketika mendekati akhir masa bertelur merupakan pola alami produksi telur. Telur puyuh saat permulaan bertelur berukuran

kecil dan membesar sesuai pertambahan umur dan akan mencapai ukuran yang stabil (Wahju, 1982). North dan Bell (1990) menyatakan bahwa variasi bobot telur biasanya kecil, variasi besar terjadi pada telur double yolk dan telur abnormal lainnya.

Burung puyuh yang dipelihara pada suhu 22,5-32 oC dengan kandungan protein pakan sebesar 22% menghasilkan bobot telur sebesar 9,2 gram, 10,1 gram, dan 11,0 gram, berturut-turut pada umur 8-9 minggu, 20-21, dan 31-32 minggu (Eishu, 2005).

Konversi Pakan

Konversi adalah jumlah pakan yang dihabiskan untuk tiap satuan produksi (pertambahan bobot badan atau telur dan produksi lainnya). Perhitungan konversi pakan menurut Ensminger (1992) adalah jumlah pakan yang dihabiskan dibagi dengan jumlah bobot telur pada periode tersebut. Angka konversi pakan menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan pakan. Angka konversi kecil menunjukkan penggunaan pakan yang efisien dan sebaliknya angka konversi besar menandakan penggunaan pakan tidak efisien. Semakin banyak pakan yang dikonsumsi untuk menghasilkan satu satuan produksi, maka semakin buruk pakan tersebut. Tingkat konversi pakan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti mutu pakan, tata cara pemberian pakan, dan kesehatan ternak yang berkaitan dengan tingkat konsumsi (Ensminger,1992)

Rataan konversi pakan puyuh dengan penambahan Omega-3 dan Omega-6 adalah sebesar 3,68 (Suripta dan Astuti, 2006) dan sebesar 3,59 tanpa penambahan Omega-3 dengan sistem penjatahan pakan (Widjastuti dan Kartasudjana, 2006).

Mortalitas

Persentase kematian burung puyuh secara kumulatif meningkat terus secara linier sampai umur 100 minggu. Woodard et al. (1973) menyatakan bahwa burung puyuh betina lebih banyak mengalami kematian pada umur muda dibandingkan jantan khususnya pada peternakan pembibitan. Burung puyuh jantan hidup lebih lama daripada betina. Kematian burung puyuh dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan, pakan, pemberian pakan, sanitasi, temperatur, kelembaban, dan bibit. Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa mortalitas kelompok antar ayam petelur akan berhubungan dengan produksi telur. Mortalitas banyak terjadi setelah melewati

10 puncak produksi. Penurunan produksi telur terjadi akibat rendahnya vitalitas. Mortalitas burung puyuh dengan

Indeks Telur

Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa indeks telur merupakan perbandingan lebar dan panjang telur untuk mengetahui bentuk telur. Telur yang relatif panjang dan sempit (lonjong) pada berbagai ukuran memiliki indeks telur yang rendah sedangkan telur yang relatif pendek dan lebar (hampir bulat) memiliki indeks telur yang tinggi. Setiap burung puyuh menghasilkan bentuk telur yang khas karena bentuk telur merupakan sifat yang diwariskan.

Telur dianggap memiliki bentuk yang baik apabila indeks telur berukuran 70%-79%. Indeks telur yang ideal adalah 74%. Korelasi antara indeks telur dan daya tetas ditemukan pada telur ayam (Yuwanta, 2004). Indeks telur yang dihasilkan puyuh dari peternakan di daerah Ciampea adalah sebesar 79,2% (Elviraet.al.,1994).

Lingkungan Mikro

Suhu lingkungan pada 16-24 oC merupakan suhu ideal bagi burung puyuh untuk menjamin konsumsi pakan sehingga berproduksi maksimal dan kelembaban relatif sekitar 70% (Nugroho dan Mayun, 1981). Suhu lingkungan kandang terkait erat dengan stocking density. Burung Puyuh mempunyai sifat kanibalisme yang tinggi apabila kepadatan kandang cukup tinggi, sehingga akan mematuk puyuh yang lain. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Apabila luas kandang yang digunakan untuk puyuh kurang maka dapat menurunkan produktivitas puyuh. Hal ini dapat menyebabkan puyuh berdesak-desakan dan peluang untuk mendapatkan pakan tidak sama. Luas lantai bagi burung puyuh disarankan sebesar 100 cm2/ekor, 150 cm2/ekor, dan 250 cm2/ekor berturut-turut untuk burung puyuh umur 0-7 hari, 7-42 hari, dan umur 42 hari atau lebih. Tinggi kotak dalam kandang kira-kira 25 cm dan tidak lebih dari 30 cm. Kondisi atap lebih tinggi agar tidak mengakibakan luka benturan pada kepala burung puyuh saat terbang ke atas akibat stres (Siregar dan Samosir, 1981).

Ventilasi merupakan pergerakan udara melalui bangunan. Ventilasi merupakan faktor penting lainnya dalam struktur bangunan perkandangan. Faktor-faktor lingkungan seperti kecepatan angin, suhu luar dan dalam kandang, kelembaban, serta perubahan keseimbangan panas dapat menimbulkan naik turunnya

fluktuasi laju ventilasi udara. Udara segar yang dibutuhkan puyuh akan semakin meningkat apabila suhu meningkat dan bobot puyuh meningkat.

Omega-3

Asam lemak Omega-3 dan asam lemak linolenat adalah asam lemak rantai panjang karena memiliki rantai atom karbon panjang. Asam lemak Omega-3 memiliki 12-26 rantai karbon dengan posisi ikatan rangkap terletak pada karbon ke-tiga dari gugus metil (CH3). Asam lemak linolenat memiliki panjang atom karbon sebanyak 18 dengan tiga ikatan rangkap. Asam linolenat dan asam lemak Omega-3 merupakan asam lemak esensial tidak jenuh (polyunsaturated fatty acid) karena memiliki ikatan rangkap lebih dari dua pada rantai karbonnya (Montgomeryet al., 1993).

Asam lemak esensial yang terdapat pada Omega-3 adalah α-linolenic acid

(ALA), docosahexaenoic acid (DHA), dan eicosapentaenoic acid (EPA). ALA memiliki 3 ikatan rangkap, DHA 6 ikatan rangkap, dan EPA 5 ikatan rangkap dan masing-masing ikatan rangkap pertama terletak pada atom C ke-tiga.

Gambar 3. Perbedaan Struktur Molekul Omega-3 dan Omega-6 (Montgomeryet al., 1993).

Penambahan Omega-3 terhadap puyuh petelur dapat mempengaruhi performa produksi burung puyuh. Suplementasi Omega-3 dapat menurunkan produksi telur karena terkait penurunan konsumsi pakan, asupan protein dan asam lemak yang

12 terkandung di dalam pakan (Suripta dan Astuti, 2006). Menurut Stadellman dan Cotteriil (1995), penambahan Omega-3 dapat berpengaruh terhadap bobot telur karena Omega-3 merupakan asam lemak yang merupakan penyusun utama dari kuning telur. Stabilisasi ikatan rangkap Omega-3 dapat dipengaruhi oleh oksidasi, pemanasan, dan lama penyimpanan.

DHA dan EPA merupakan hasil metabolit dari asam lemak linolenat yang diperoleh melalui proses elongasi dan desaturasi dengan bantuan enzim elongase dan desaturase (Montgomery et al., 1993). Gambar 4 menunjukkan tahapan proses metabolisme asam linolenat yang menghasilkan metabolit berupa DHA dan EPA.

α-linolenat 6-desaturase Oktadeka tetraenoat elongase Eikosatetraenoat 5-desaturase Eikosapentaenoat elongase Dokosapentaenoat 4-desaturase Dokosaheksaenoat

Gambar 4. Skema Proses Metabolisme EPA dan DHA (Montgomeryet al., 1993).

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Blok B Unit Unggas dan Laboratorium Unggas Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan selama enam minggu yang dimulai dari pertengahan Desember 2010 sampai akhir Januari 2011.

Materi Bahan

Penelitian ini menggunakan 293 ekor burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) berumur 80 hari yang diperoleh dari peternakan burung puyuh Bapak Slamet di daerah Sukabumi, suplemen Omega-3 dengan Paten ID P0023652, dan pakan komersial SP-22 dengan komposisi seperti disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian

Zat Makanan Jumlah (%)

Kadar Air (maksimal) 12

Protein Kasar 20-22

Lemak Kasar 4-7

Serat Kasar (maksimal) 5,5

Abu (maksimal) 13,5

Kalsium 3,2-3,4

Fosfor 0,6-0,8

Sumber : PT. Sinta Prima Feedmill

Alat

Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 unit kandangbattery. Setiap kandang terdiri atas 5 tingkat dan masing-masing tingkat disekat dengan triplek sehingga terdapat 20 blok dengan ukuran 50 cm x 50 cm. Setiap blok kandang diisi oleh 13-15 ekor puyuh betina berumur 80 hari. Kandang diberi penerangan dengan dua lampu pijar kecil berdaya 40 watt. Kotoran burung puyuh ditampung di bagian bawah kandang dengan karung. Alat utama yang digunakan adalah jangka sorong dan timbangan digital

14 Rancangan Percobaan

Rancangan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian suplemen Omega-3 pada pakan yang terdiri dari lima taraf perlakuan, yaitu:

P1 : Pakan komersil tanpa penambahan suplemen Omega-3 P2 : Pakan komersil dengan penambahan 1,5% Omega-3 P3 : Pakan komersil dengan penambahan 3% Omega-3 P4 : Pakan komersil dengan penambahan 4,5% Omega-3 P5 : Pakan komersil dengan penambahan 6% Omega-3

Model matematika yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut : Yij=+i+ij

Keterangan:

Yij : Nilai pengamatan pada pemberian suplemen pakan Omega-3 perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

 : Nilai rataan umum hasil pengamatan

I : Pengaruh perlakuan ke-i (i = 0%; 1,5%; 3%; 4,5%; dan 6%)

ij : Pengaruh galat pemberian suplemen pakan Omega-3 ke-i dan ulangan ke-j

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah produksi telur (% HD), bobot telur (g/butir), konversi pakan dan indeks telur (%).

Prosedur Persiapan Kandang

Kandang postal dengan ukuran 3 m x 3 m dibersihkan terlebih dahulu dari sampah, kotoran, dan debu. Lantai dan dinding kandang dikapur hingga merata. Kandang disiram secara merata dengan wipol setelah kandang kering untuk membersihkan sisa-sisa bakteri di dalam kandang. Kandang puyuh (battery) diperbaiki dan dimodifikasi dengan penambahan pintu, tempat pakan, dan tempat

keluar telur. Kandang puyuh yang telah siap didesinfeksi terlebih dahulu dan dibiarkan selama beberapa hari.

Pemberian Pakan dan Air Minum

Pemberian jumlah pakan tetap didasarkan pada kebutuhan sesuai periode pemeliharaan untuk umur lebih dari enam minggu, yaitu sebanyak 20 g/ekor/hari. Pakan diberikan satu kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 07.00 WIB. Pemberian air minum dilakukan secara bebas ditambah dengan Vitastress yang dilarutkan dalam air minum hanya pada saat kedatangan puyuh.

Pengambilan Telur dan Penyimpanan

Pengambilan telur dilakukan setiap sore hari pukul 16.00-18.00 WIB. Telur hasil koleksi disimpan di tempat telur (tray).

Penimbangan dan Pengukuran

Bobot badan setiap burung puyuh ditimbang menggunakan timbangan O-Hause pada awal dan akhir penelitian. Telur yang sudah disimpan di tray

dikelompokkan berdasarkan perlakuan dan ulangan. Telur ditimbang menggunakan timbangan O-Hause untuk memperoleh bobot telur per butir. Panjang dan lebar telur diukur pada tahap selanjutnya untuk mengetahui indeks telur pada setiap akhir minggu selama enam minggu. Persentase telur kotor dan telur bersih dihitung pada akhir minggu. Telur dinyatakan bersih apabila kotoran yang menempel pada kerabang tidak lebih dari 1/32 bagian telur jika kotoran memusat pada satu daerah dan tidak boleh lebih dari 1/16 bagian telur apabila kotoran menyebar (USDA, 2000).

16 HASIL DAN PEMBAHASAN

Rataan performa produksi meliputi produksi telur, bobot telur, dan konversi pakan) Coturnix-coturnix japonica dengan penambahan Omega-3 dalam pakan ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Performa Produksi Puyuh yang Diberikan Pakan dengan Suplementasi Omega-3 Peubah P1 P2 P3 P4 P5 Henday (%) 63,28±6,36 66,29±8,51 70,57±6,54 71,6±9,08 64,49±12,43 Bobot Telur (g) 10,04±0,17 10,16±0,21 10,32±0,19 10,20±0,16 10,04±0,21 Konversi Pakan 3,35 3,29 3,10 3,02 3,56 Konsumsi Pakan

Pakan memiliki peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup puyuh dan produksi telur. Konsumsi pakan burung puyuh berhubungan dengan jumlah energi yang diperlukan untuk hidup pokok serta konversi pakan untuk produksi telur. Konsumsi pakan dipengaruhi oleh umur, palatabilitas ransum, kesehatan ternak, jenis ternak, dan aktivitas ternak. Pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan puyuh (keseimbangan energi dan protein).

Pakan yang digunakan dalam penelitian untuk seluruh perlakuan (Tabel 3) memiliki kandungan nutrien yang sama dan telah memenuhi rekomendasi SNI (2006) dan NRC (1997) serta sesuai dengan anjuran Listyowati dan Roospitasari (2004). Pakan yang diberikan dalam penelitian mengandung 20-22% protein dan telah sesuai dengan kebutuhan puyuh petelur berumur lebih dari enam minggu sebesar 18-20% seperti direkomendasikan oleh NRC (1997) atau minimal 17% sesuai rekomendasi SNI (2006).

Pakan diberikan melalui sistem pembatasan sebesar 20 g/ekor/hari. Penyedian jumlah pakan puyuh fase bertelur disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak kekurangan atau berlebihan. Pembatasan pakan 20 gram/ekor/hari bagi puyuh fase

Dokumen terkait