P: Adakah alasan lain? S: Tidak ada kak
P: Pernakah anda menyelesaikan masalah kesejajaran? S: sepertinya pernah kak, tetapi sudah lupa.
Skema yang dimiliki DV tentang bagaiman menentukan dua garis sejajar hanyalah berdasarkan tidak adanya titik potong pada dua garis tersebut. DV belum memiliki skema lain tentang bagaimana menentukan apakah dua garis tersebut sejajar atau tidak. DV hanya mengingat bahwa dua garis dikatakan sejajar karena tidak memiliki titik potong. Hal tersebut karena DV hanya berorientasi pada gambar tanpa melihat faktor lain. Seperti halnya MN, DV juga telah pernah menyelesaikan masalah berkaitan dengan kesejajaran, namun skema tentang kesejajaran tidak terbentuk.
Dalam merespon informasi pada masalah bagian b, DV memiliki skema tentang sudut berpelurus dimana besar dua sudut berpelurus jika dijumlah sama dengan 180° dan akan membentuk garis lurus. Selain itu DV memiliki skema tentang sudut berseberangan. Namun, skema yang dimiliki DV tentang sudut berseberangan tidak tepat. DV tidak memiliki skema lain selain skema tersebut dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Hal ini terungkap dalam kutipan wawancara berikut. P: Bagaimana anda menyelesaikan masalah bagian b?
S: Misalkan ini dan ini (seperti pada Gambar 2), karena diketahui sudut = 139° dan
ditanyakansudut . Sudut (menunjuk ) sama dengan sudut . Sudut dan itu berpelurus jadi180° − 139° = 41°
P: Mengapa sudut dan itu berpelurus?
S: Karena sudut ini (menunjuk ) ditambah sudut ini (menunjuk ) membentuk garis lurus sama dengan180°.
P: Mengapa sudut ini (menunjuk ) sama dengan sudut ini (menunjuk )? S: Sepertinya berseberangan dalam kak.
P: Terus
S: sudut = 41°
Pengalaman subjek dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan masalah sebelumnya membentuk skema tentang masalah serta solusi atau respon yang pernah diberikan terhadap masalah itu. Istilah skema pertama kali digunakan dalam bidang psikologi yang menunjukkan sekumpulan pengalaman masa lalu salah satunya reaksi yang pernah diberikan terhadap suatu situasi di masa lalu (An: 2013). Respon yang diberikan subjek terhadap informasi dalam masalah yang dihadapi berdasarkan skema yang dimilikinya. Subjek MN telah memiliki skema tentang kesejajaran yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya, sehingga dengan skema tersebut MN dapat merespon informasi yang diperoleh. Pembentukan skema tidak selamanya tepat, hal ini dialami oleh DV dimana DV pernah menghadapi masalah berkaitan dengan kesejajaran. Namun skema yang terbentuk dari pengalaman tersebut tidak tepat, sehingga respon yang diberikan DV terhadap informasi yang diperoleh juga tidak tepat.
Skema yang terbentuk menjadi alat dalam merespon informasi yang diperoleh. Hergenhahn & Olson (2012, p. 314-315) menjelaskan “skema (jamak: skemata) adalah potensi untuk bertindak dengan cara tertentu”. Selain itu, Ormrod (2008) menjelaskan skema adalah tindakan pikiran yang terorganisir yang digunakan secara berulang dalam rangka merespon lingkungan. Semakin sering suatu skema digunakan, maka ketika memperoleh informasi yang sesuai dengan skema tersebut maka skema yang sering digunakan akan muncullebih dahulu dalam pikiran.
Ketika memperoleh informasi maka informasi tersebut akan dimasukkan kedalam otak, selanjutnya otak akan mencari skema yang sesuai dengan informasi tersebut untuk kemudian memberikan respon berdasarkan skema yang sesuai. Informasi yang kita dapatkan dapat digolongkan dalam 3 jenis,1) informasi baru yang sesuai dengan skema yang ada, 2) informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang kita miliki, 3) informasi yang sama sekali belum pernah kita dapatkan sehingga kita sama sekali belum memiliki skema tentang informasi itu.
Ketika terdapat skema yang sesuai maka informasi yang diperoleh akan digabungkan ke dalam skema yang ada melalui proses asimilasi. Veg-Sala (2017:5) menegaskan “Assimilation is the mechanism by which the subject applies its existing schemas of reality in an effort to appropriate and incorporate new elements of its environment. Menurut Nathalie, asimilasi merupakan cara seseorang
untuk menerapkan skema yang ada dalam situasi atau terhadap informasi baru. Informasi yang diterima akan diinternalisasikan ke dalam skema yang ada, kemudian seseorang akan merespon informasi yang diterima dengan menggunakan skema yang ada. Slavin (2006: 32-33) “Assimilation is the process of understanding a new object or event in term of an existing scheme”. Asimilasi adalah proses memahami objek atau peristiwa baru dalam kerangka skema yang ada. Skema yang dimiliki dijadikan dasar dalam memahami informasi yang diterima. Informasi yang diterima akan dipahami berdasarkan skema yang sesuai dengan informasi tersebut.
Subjek MN dan DV telah memiliki skema tentang kesejajaran. Informasi yang diperoleh dari masalah yang dihadapi berkaitan dengan kesejajaran. Informasi tersebut dimasukkan kedalam otak kemudian karena terdapat skema yang sesuai maka informasi tersebut digabungkan ke dalam skema yang ada melalui proses asimilasi. Dengan skema yang ada pula subjek merespon informasi yang diperoleh tersebut.
Tidak semua informasi yang diperoleh subjek telah terdapat dalam skema. Hal ini karena jika semua informasi yang diperoleh telah terdapat dalam skema artinya tidak ada informasi baru yang diperoleh. Ketika hal tersebut terjadi maka pengetahan subjek tidak akan bertambah. Ketika memperoleh informasi yang tidaksesuai dengan skema yang ada atau belum terdapat skema tentang informasi tersebut maka seseorang harus mengubah skema yang dimilikinya atau membuat skema baru. Hal ini dilakukan agar dapat merespon informasi baru yang diterima. Dengan demikian pengetahuan seseorang akan bertambah.
Subjek MN merespon informasi pada masalah bagian b dimulai dengan menggunakan konsep segitiga. Hal ini menunjukan bahwa MN melakukan asimilasi. Asimilasi yang dilakukan adalah menggabungkan informasi yang diperoleh ke dalam skema tentang segitiga. Namun, MN menyadari bahwa skema segitiga yang digunakannya tidak sesuai dengan informasi yang diperolehnya. Sehingga MN menggubah skema yang dimilikinya, MN mengganti skema segitiga yang digunakanya menjadi skema tentang ruas garis dapat diperpenjang, selanjutnya MN membentuk segitiga lain dan menggunakan skema sudut berpelurus dan sudut berseberangan.Proses yang dilakukan MN
longer explain new experiences”. Menurut Paul &Kauchak, akomodasi adalah proses menciptakan skema baru atau memodifikasi skema lama karena skema lama tidak sesuai dengan pengalaman atau informasi baru.
Proses asimilasi tidak mengubah skema yang ada sedangkan proses akomodasi akan mengubah skema yang ada. Proses asimilasi sangat penting, karena dengan proses ini informasi yang diperoleh digabungkan ke dalam skema yang ada. Proses lain yang juga sangat penting dalam merespon informasi yang diperoleh adalah proses akomodasi. Dengan proses ini seseorang dapat mengubah atau mengganti skema yang digunakan dalam merespon informasi baru jika skema tersebut dirasa tidak tepat. Tidak semua orang dapat melakukan akomodasi. Walaupun skema yang digunakan oleh DV dalam merespon informasi yang diperoleh tidak tepat, namun DV tidak dapat melakukan akomodasi. Hal ini karena DV tidak menyadari ketidaktepatan skema yang digunakannya.
Proses asimilasi dan akomodasi dalam merespon informasi yang diperoleh sangat bergantung pada skema yang dimiliki seseorang. Semakin luas skema yang dimiliki seseorangakan memudahkan dalam melakukan asimilasi maupun akomodasi. Hal ini karena otak memiliki banyak pilihan skema untuk digunakan dalam memberikan respon. Ketika skema yang digunakan tidak tepat, otak dapat memilih skema yang lain. Namun, jika skema yang dimiliki kurang luas, maka pilihan otak untuk menggunakan skema terbatas. Subjek MN memiliki skema yang luas, sehingga ketika menyadari bahwa skema yang digunakan tidak tepat MN dapat mengganti dengan skema lain. Sedangkan skema yang dimiliki DV kurang luas, sehingga walaupun skema yang digunakan kurang tepat, DV tidak dapat mengganti skema tersebut.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang diperoleh bahwa skema memiliki peran yang sangat penting dalam merespon informasi yang diperoleh. Otak akan menggabungkan informasi yang diperoleh ke dalam skema yang ada melalui proses asimilasi. Jika belum terdapat skema berkaitan dengan informasi yang diperoleh maka otak akan mengubah skema yang ada atau membuat skema baru melalui proses akomodasi. Semakin luas skema yang dimiliki seseorang akan semakin mudah dalam merespon informasi yang diperoleh.