Anisaa’ul Masruroh1, Novi Prayekti2, Ratna Mustika Yasi3
1Universitas PGRI Banyuwangi email: [email protected]
2Universitas PGRI Banyuwangi email: [email protected]
3Universitas PGRI Banyuwangi [email protected]
Abstrak
This research was done to develop a teaching tools and to find out whether the teaching tools are valid, practical, and effective when used in class.The developed are expected to be able to attract students' interest and increase the activeness of students in mathematics learning. The test was done NU Rogojampi Vocational High School, and the respondents is selected in X TKJ students, amounting to 25 students.This research and development is limited without product revision and mass production.Data collection methods used are observation and test.The results showed that the validation results from the three validators was categorized as valid with an average score of 3.51.This "Permaks" teaching tools not only attract students but also increase the activity of students in learning, it is showing from the average score of 3.37.The students' understanding of matrix multiplication material also increased after using "Permaks" teaching tools, which showed from the test that 88% of students had achieved the completeness of learning outcomes.Based on the results of the analysis it can be concluded that the "Permaks" have been valid, practical, and effective.
Keywords: R & D, Teaching Tools, Multiplication of Matrices
1. PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu tentang bagaimana menentukan ukuran-ukuran, bentuk-bentuk, struktur, pola maupun hubungan objek-objek maupun fenomena di alam semesta, serta penalaran logis yang pengembangannya berdasarkan pola pikir deduktif (Arifin dalam Rahayu dkk, 2017: 118). Setiap orang harus mempelajari matematika, karena matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari. Pemecahan masalah tersebut meliputi penggunaan pengetahuan tentang pengukuran, bentuk benda, dan menganalisis permasalahan.
Matematika merupakan pelajaran yang sampai saat ini oleh para peserta didik masih dianggap sulit (Siregar, 2017: 224). Hal ini dikarenakan obyek matematika yang masih bersifat abstrak, sehingga sulit dipahami oleh peserta didik tetapi diupayakan oleh pendidik untuk dapat dipahami peserta didik. Dalam proses pembelajaran pendidik harus mampu menjadikan pembelajaran matematika menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan menjelaskan konsep yang abstrak kepada peserta didik. Salah satu bentuk yang dapat digunakan untuk mengkonkretkan konsep yang abstrak adalah alat peraga.
Alat peraga dapat dimanfaatkan untuk mempermudah proses pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. Penggunaan alat peraga yang tepat akan dapat lebih mudah dalam menjelaskan konsep dan memunculkan minat belajar peserta didik sehingga lebih aktif, efektif, dan menyenangkan (Dusalan, 2014: 55). Keberadaan alat peraga diharapkan dapat menjelaskan konsep yang abstrak menjadi lebih konkret. Dengan bantuan alat peraga yang sesuai, peserta didik dapat memahami ide-ide dasar yang melandasi sebuah konsep, mengetahui cara membuktikan suatu rumus atau teorema,
dalam kegiatan mendidik atau mengajar supaya yang diajarkan mudah dimengerti peserta didik (Kania, 2018: 2). Berdasarkan paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa alat peraga adalah suatu bentuk benda yang berguna unuk membantu peserta didik dalam memahami konsep materi pelajaran. Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari (Dusalan, 2014: 60).
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Kantohe (2013: 87) dalam penggunaan alat peraga papan geometri dengan metode penemuan terbimbing diaplikasikan pada materi luas belah ketupat dan layang-layang. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pembelajaran menggunakan alat peraga papan geometri dengan metode penemuan terbimbing membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran serta membuat peserta didik menemukan sendiri rumus luas belah ketupat dan layang-layang, sehingga peserta didik dapat mengingat dengan baik rumus tersebut.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Keraf (2017: 824) menggunakan papan berpaku untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media papan berpaku pada pembelajaran bangun datar persegi dan persegi panjang dapat meningkatkan nilai rata-rata kelas dari pra siklus ke siklus 1 (dari 62 menjadi 66), dan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 66 menjadi 80). Selain itu hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan media papan berpaku sangat membantu dalam pelaksanaan pembelajaran matematika. Hal ini diketahui dari kondisi peserta didik yang lebih mudah memahami materi dan pendidik lebih mudah dalam mengajar. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika memberikan efek positif dalam hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat diterapkan pada materi-materi lain, salah satunya matriks.
Materi matriks yang diajarkan di kelasX SMK memuat materi operasi matriks diantaranya penjumlahan dan pengurangan matriks, perkalian matriks dengan skalar, perkalian dua matriks, determinan matriks, dan invers matriks. Dalam materi perkalian matriks masih memuat beberapa bagian yang abstrak. Karena dalam proses pengerjaan perkalian matriks harus menyesuaikan antara baris pada matriks pertama dengan kolom pada matriks kedua. Elemen matriks yang ada pada matriks pertama dan matriks kedua harus dikalikan sesuaikan dengan aturan yang telah ditentukan. Selanjutnya dari hasil perkalian tersebut harus dijumlahkan untuk dapat menentukan hasil dari perkalian matriks. Oleh karena itu peserta didik harus mampu memahami alur dalam penyelesaian perkalian matriks agar mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perkalian matriks.
Matriks banyak dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula dalam pendidikan dan ilmu teknologi. Pendidik dituntut agar mampu menyampaikan konsep yang abstrak kepada peserta didik terkait materi perkalian matriks sehingga peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan matriks. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pendidik mata pelajaran matematika, peserta didik sering mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal yang berhubungan dengan matriks. Menurut pendidik 94% peserta didik tidak lancar dalam melakukan operasi perkalian dua matriks. Sehingga diperlukan suatu bentuk alat peraga untuk mengkonkritkan materi matriks yang dianggap abstrak oleh peserta didik. Dengan adanya alat peraga diharapkan akan menarik minat peserta didik untuk belajar dan lebih dapat memahami konsep materi perkalian matriks.
2. KAJIAN LITERATUR
Menurut Rusefendi, penelitian pengembangan (Development Research) adalah penelitian untuk mengembangkan dan menghasilkan produk-produk pendidikan berupa materi, media, alat dan atau strategi pembelajaran, evaluasi, dan sebagainya untuk mengatasi masalah pendidikan, dan bukan untuk menguji teori(Rafianti, 2017: 47). Setyosari berpendapat bahwa penelitian dan pengembangan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis industri, yang temuan-temuannya dipakai untuk mendesain produk dan prosedur, yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi, disempurnakan untuk memenuhi kriteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu(Firdaus & Asyhar, 2016: 37).Penelitian pengembangan tidak hanya menghasilkan suatu produk yang kemudian diuji cobakan ke lapangan. Namun penelitian dan pengembangan merupakan proses untuk mengembangkan produk atau menyempurnakan produk yang sebelumnya telah ada(Sugiyono, 2015).Produk yang dikembangkan tersebut salah satunya adalah alat peraga.
Alat peraga merupakan suatu bentuk yang dapat mendukung proses pembelajaran. Menurut Ali, alat peraga adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyatakan pesan, merangsang pikiran,
perasaan dan perhatian dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong proses belajar (Sundayana, 2015: 7).Sejalan dengan hal tersebut, Pramudjono mengemukakan bahwa pengertian alat peraga adalah benda konkret yang dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep matematika(Sundayana, 2015: 7). Menurut Hamalik, alat peraga dalam pembelajaran dapat bermanfaat untuk berfikir sehingga mengurangi verbalisme, dapat memperbesar perhatian peserta didik, meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar sehingga belajar akan lebih baik (Rusmawati, 2017: 310). Berdasarkan paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa alat peraga adalah suatu bentuk benda yang berguna unuk membantu peserta didik dalam memahami konsep materi pelajaran.
Fungsi utama alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar anak mampu menangkap arti sebenarnya dari konsep yang dipelajari (Dusalan, 2014: 60).Beberapa manfaat penggunaan alat peraga diantaranya adalah membantu guru dalam memberikan penjelasan konsep, merumuskan atau membentuk konsep, melatih peserta didik dalam keterampilan, memberi penguatan konsep pada peserta didik, melatih peserta didik dalam pemecahan masalah, mendorong peserta didik dalam berpikir kritis dan analitik, dan mendorong peserta didik untuk melakukan pengamatan terhadap suatu objek secara sendiri (Suwardi dkk, 2014: 300-301).Tujuan utama penggunaan alat peraga adalah agar konsep-konsep dalam matematika yang bersiat abstrak dapat dikaji, dipahami, dan dicapai oleh penalaran peserta didik. Misalnya untuk memperjelas proses pengerjaan pada materi matriks.
Matriks adalah susunan bilangan berbentuk persegi atau persegi panjang yang diatur dalam baris dan kolom yang diletakkan dalam tanda kurung atau kurung siku. Matriks dinotasikan dengan huruf kapital, misalnya A,B,C dan sebagainya. Bilangan-bilangan yang tersusun dalam baris dan kolom tersebut disebut elemen/unsur. Elemen dinyatakan dengan aijyaitu elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. Suatu matriks yang mempunyai i baris dan j kolom disebut matriks berordoi
jatau berukurani j(Zuliana, dkk. 2016:83). Dalam mengerjakan soal operasi perkalian matriks seringkali terjadi kesalahan pada saat mengalikan setiap elemen yang ada, karena proses operasi perkalian matriks perlu mengalikan setiap elemen baris matriks pertama dengan setiap elemen kolom matriks ke dua. Setiap anggota elemen matriks dikalikan dengan anggota matriks lain sesuai dengan urutan dan aturan yang telah ditentukan pada perkaian matriks. Begitu pula dalam menjumlahkan hasil perkalian elemen tersebut. Untuk mempermudah dalam proses pengerjaan operasi perkalian matriks. Untuk itudiperlukan adanya suatu alat peraga yang diharapkan dapat membantu mempermudah peserta didik dalam memahami konsep dan mengerjakan soal perkalian matriks. 3. METODE PENELITIAN
Penentuan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive samplingkarena pemahaman konsep pada materi perkalian matriks masih tergolong rendah sehingga diperoleh responden penelitian adalah peserta didik kelas X TKJ SMK NU ROGOJAMPI semester genap tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 25 orang.
Langkah-langkah penelitian mengikuti alur sebagai berikut:
Gambar 1. Alur Penelitian Penentuan Potensi
dan Masalah PengumpulanData ProdukDesain ValidasiDesain
Revisi Produk Uji Coba Pemakaian Observasi Tes Hasil Observasi Hasil Tes Uji Coba Produk
Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah lembar validasi, pedoman observasi, dan soal tes. Hasil validasi dianalisis dengan rumus berikut:
=∑
…(1)Keterangan:
Ai: rata-rata setiap aspek
Vji: nilai validator terhadap aspek
ke-n : bake-nyakke-nya validator (Hobri, 2010: 53)
Selanjutnya dari hasil tersebut dianalisis lagi untuk mendapatkan nilai rata-rata total dengan rumus:
= ∑
…(2)Keterangan:
: nilai rata-rata total untuk semua aspek : rata-rata nilai untuk aspek ke-i
: banyaknya aspek (Hobri, 2010: 53)
Kriteria kevalidan ditentukan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 1. Kriteria Kevalidan
Interval Kriteria
1≤Va<2 Tidak valid
2≤Va<3 Kurang valid
3≤Va<4 Valid
Va=4 Sangat valid
(diadaptasi dari Hobri pada interval kevalidan, 2010: 53) Adaptasi dilakukan dengan mengubah jumlah interval dari 5 menjadi 4 interval, yaitu menghilangkan kriteria cukup valid disebabkan oleh skor yang digunakan hanya sampai 4 poin.Pedoman observasi digunakan untuk mengetahui tigkat kepraktisan alat peraga melalui keaktifan pesera didik. Observasi dianalisis dengan rumus sebagai berikut:
IO =∑
…(3)Keterangan:
IO
: nilai rata-rata total semua aspek : rata-rata nilai setiap aspekke-: banyaknya aspek (Hobri, 2010: 55-56)
Kriteria kepraktisan alat peraga dapat ditentukan berdasarkan tabel berikut: Tabel 2. Kriteria Kepraktisan
Interval Kriteria
1≤IO<2 Sangat rendah
2≤IO<3 Rendah
3≤IO<4 Tinggi
IO=4 Sangat tinggi
(diadaptasi dari Hobri, 2010: 56) Adaptasi dilakukan dengan mengubah jumlah interval dari 5 menjadi 4 interval, yaitu menghilangkan kriteria sedang disebabkan oleh skor yang digunakan hanya sampai 4 poin. Soal tes digunakan untuk mengetahui tingkat keefektifan alat peraga. Tes dianalisis berdasarkan kriteria ketuntasan pembelajaran. Peserta didik dikatakan tuntas jika mampu mencapai nilai minimal 75 dengan skor maksimal 100 (diadaptasi dari Hobri, 2010: 58). Adaptasi dilakukan karena KKM di sekolah telah ditentukan sebesar 75 sedangkan ketentuan dalam buku sebesar 60.Kriteria efektivitas hasil belajar dapat ditentukan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3. Kriteria Efektivitas Hasil Belajar Peserta Didik Interval Kriteria 0≤TPPD<25 Sangat rendah 25≤TPPD<50 Rendah 50≤TPPD<75 Tinggi 75≤TPPD<100 Sangat Tinggi
(diadaptasi dari Hobri, 2010:58). Adaptasi dilakukan dengan mengubah jumlah interval dari 5 menjadi 4 interval, yaitu menghilangkan kriteria sedang disebabkan olehskor minimal ketuntasan belajar yang digunakan di sekolah adalah 75. Keterangan:
TPPD adalah tingkat penguasaan peserta didik.
Hasil pengembangan alat peraga ditentukan dalam bentuk kelayakan (kevalidan, kepraktisan, dan efektivitas) alat peraga.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan alat peraga pada materi perkalian matriks. Tahap-tahap pengembangan alat peraga pada penelitian ini menggunakan model pengembangan Sugiyono yang dimodifikasi tanpa tahap revisi produk, dan produksi massal karena keterbatasan waktu penelitian.Tahap pertama dalam prosedur penelitian dan pengembangan adalah menentukan potensi dan masalah. Hasil wawancara awal yang dilakukan dengan pendidik mata pelajaran matematika diperoleh informasi bahwa 94% peserta didik masih kurang bersemangat dan kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat belajar peserta didik dan pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan praktek daripada teori. Selain itu, peserta didik hanya mengikuti pembelajaran sesuai penjelasan pendidik, sehingga peserta didik kurang aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran.
Tahap kedua dalam prosedur penelitian pengembangan adalah pengumpulan data awal yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan produk untuk mengatasi kesulitan pemahaman konsep dan penyelesaian soal peserta didik pada materi perkalian matriks. Proses dalam penyelesaian soal perkalian matriks yang sesuai dengan konsep yaitu banyaknya baris pada matriks pertama dikalikan dengan banyaknya kolom pada matriks kedua dengan syarat banyak baris pada matriks pertama sama dengan banyaknya kolom pada matriks kedua. Hasil perkalian yang masih berada dalam satu posisi elemen kemudian dijumlahkan agar mendapatkan elemem matriks hasil.
Desain alat peraga dibuat pada aplikasi Microsoft Power Point agar mendapatkan ukuran yang presisi dan memudahkan dalam proses pembuatan desain. Alat peraga dibuat dengan ukuran 30 cm
×
30 cm agar memudahkan ketika digunakan peserta didik. Papan penggeser dibuat dengan ukuran 35 cm×
3 cm dan diberi warna yang berbeda, warna biru menunjukkan baris dan warna merah muda menunjukkan kolom. Kertas manila bagian dalam sengaja didesain berbentuk persegi dengan ukuran 3 cm×
3 cm sebanyak 10 baris dan 10 kolom sebagai penunjuk elemen matriks.Alat peraga “Permaks” adalah alat peraga matematika untuk membantu pemahaman konsep peserta didik pada materi perkalian matriks. Alat peraga ini berbentuk balok dengan sisi depan berbentuk persegi. Alat peraga ini terbuat dari tripleks berbentuk persegi sebagai papan belakang dan sisi depan terbuat dari bahan kaca sebagai papan penulisan elemen-elemen dalam matriks. Bagian dalam alat peraga tersebut terdapat kertas manila yang telah diberi pola berbentuk persegi dengan ukuran 3 cm
×
3 cm sebagai penunjuk elemen matriks. Dalam alat peraga tersebut terdapat dua papan kecil yang dapat digerakkan. Papan kecil berwarna biru dapat digerakkan ke atas dan ke bawah untuk menunjukkan baris, dan satu papan kecil berwarna merah muda dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri untuk menunjukkan kolom pada matriks. Berikut merupakan alat peraga “Permaks” yang telah dikembangkan.Gambar 2. Alat Peraga Permaks
Berikut merupakan tabel penyajian analisis data hasil dari ketiga validator.
Tabel 4. Hasil dan Analisis Validasi
No. Aspek V1 V2 V3Skor Ii
1 Warna menarik minat. 3 3 3 3,00
2 Bentuk menarik minat. 3 4 3 3,33
3 Warna tidak mengganggu konsentrasi belajar peserta didik. 3 4 3 3,33
4 Ukuran alat peraga sesuai untuk digunakan peserta didik. 4 4 3 3,67
5 Bahan yang digunakan mudah didapatkan. 4 4 3 3,67
6 Bahan yang digunakan tahan lama dan tidak mudah lapuk. 4 4 3 3,67
7 Alat peraga relevan dengan materi yang dipelajari peserta didik. 4 3 4 3,67 8 Alat peraga sesuai dengan indikator pembelajaran matematika pada materi
perkalian matriks. 4 3 4 3,67
9 Kebenaran konsep materi. 4 3 4 3,67
10 Alat peraga mampu membantu menjelaskan konsep materi. 4 3 3 3,33
11 Alat peraga mampu menjadi dasar bagi tumbuhhnya konsep berpikir
abstrak bagi peserta didik. 4 4 4 4,00
12 Alat peraga dapat digunakan dengan mudah. 4 3 3 3,33
13 Kejelasan petunjuk penggunaan. 4 3 3 3,33
Jumlah 49 45 43 45,67 Va 3,51 Keterangan: V1 : Validator 1 V2 : Validator 2 V3 : Validator 3
Ii : Rata-rata skor tiap aspek Va : Rata-rata total
Berdasarkan kriteria pada tabel 1, hasil analisis validasi menyatakan bahwa alat peraga valid untuk digunakan dengan perbaikan sesuai saran dan masukan dari validator. Adapun saran dan masukan dari validator yaitu alat peraga dapat dikonsepkan untuk operasi matriks selain perkalian, batas untuk setiap matriks pada papan kaca, dan adanya batas maksimal ordo yang dapat digunakan pada petunjuk penggunaan.
Uji coba pemakaian alat peraga dilaksanakan setelah produk diperbaiki sesuai dengan kritik dan saran validator. Uji coba pemakaian dilakukan pada responden dengan hasil sebagai berikut.
Tabel 5. Hasil Observasi dan Analisis Data
No. (Peserta didik … )Butir Instrumen 1 Skor Kelompok2 3 4 5
1 Mendengarkan penjelasan tentang penggunan alat peraga. 16 20 15 15 17 3,32
2 Memperhatikan tentang penggunaan alat peraga. 20 20 15 15 18 3,52
3 Mendiskusikan permasalahan yang diberikan pendidik. 15 19 19 16 16 3,4
4 Mampu bekerjasama menyelesaiakan permasalahan yangdiberikan pendidik secara berkelompok. 20 19 19 18 17 3,72
5 Bertanya tentang materi yang belum dipahami. 10 15 14 19 15 2,92
6 Fokus pada alat peraga yang digunakan. 20 18 19 16 17 3,6
7 Mampu menjawab pertanyaan yang diberikan pendidik tentangperkalian dua matriks. 20 18 19 12 17 3,44
8 Terlibat secara langsung dalam pemecahan masalah. 14 18 20 13 18 2,32
9 Mampu menyelesaikan latihan soal tentang perkalian duamatriks mengunakan alat peraga. 20 18 19 17 19 3,72 10 K memahami langkah-langkah dalam mengoperasikan alatperaga. 15 18 18 13 16 3,2
11 Mampu mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. 15 20 16 15 15 3,24
12 Memperhatikan kelompok lain yang sedang presentasi. 20 20 15 14 19 3,52
13 Mampu mengoperasikan alat peraga sesuai petunjukpenggunaan. 20 20 19 15 20 3,76 14 Memiliki keterampilan dalam penulisan hasil perkalian matriksmenggunakan alat peraga. 15 18 15 12 18 3,12
15 Mampu membuat kesimpulan pembelajaran. 10 13 19 11 16 2,76
Jumlah 250 274 258 221 258 50,56 IO 3,37 Keterangan: 1 : Kelompok 1 2 : Kelompok 2 3 : Kelompok 3 4 : Kelompok 4 5 : Kelompok 5
: Rata-rata tiap aspek IO : Rata-rata total
Berdasarkan rata-rata skor pada tabel 5 dan kriteria kepraktisan pada tabel 2, makaalat peraga dikatakan praktis. Selain menggunakan observasi, peneliti melakukan wawancara sebagai penguat data. Hasilwawancara dengan beberapa peserta didik menunjukkan bahwa peserta didik lebih senang menggunakan alat peraga ketika pembelajaran, tidak bosan dengan materi yang diajarkan, lebih mudah memahami materi yang disampaikan, lebih mudah dalam penyelesaian soal perkalian matriks, dan dapat mengerjakan soal perkalian matriks secara mandiri.
Tes diberikan kepada peserta didik dalam bentuk pre test dan post test sebanyak 3 butir soal. Hasil pre test dan post test peserta didik digunakan untuk membandingkan kemampuan peserta didik sebelum dan setelah menggunakan alat peraga. Perbandingan hasil tersebut digunakan untuk mengukur keefektifan alat peraga yang dikembangkan. Berikut merupakan hasil tes peserta didik.
Tabel 6. Hasil Tes dan Analisis Data
No. Responden Pre test NilaiPost test
1 PD1 46 100 2 PD2 68 100 3 PD3 51 85 4 PD4 46 100 5 PD5 63 98 6 PD6 62 85 7 PD7 42 100
No. Responden Pre test NilaiPost test 11 PD11 0 100 12 PD12 48 100 13 PD13 48 85 14 PD14 42 74 15 PD15 0 74 16 PD16 43 100 17 PD17 60 90 18 PD18 49 92 19 PD19 64 85 20 PD20 62 90 21 PD21 62 86 22 PD22 78 100 23 PD23 54 86 24 PD24 62 93 25 PD 25 0 74
Hasil dan analisis data tes menunjukkan bahwa 22peserta didik dari 25 peserta didik memperoleh nilai ≥75.Artinya 88% peserta didik yang menggunakan alat peraga telah memenuhi kriteria ketuntasan pembelajaran menggunakan alat peraga dengan kriteria sangat tinggi berdasarkan kriteria pada tabel 3.
5. KESIMPULAN
Pengembangan alat peraga “Permaks” pada materi perkalian matriks di kelas X menunjukkan hasil bahwa alat peraga hasil pengembangan termasuk kriteria valid, praktis, dan efektif. Kevalidan ditunjukkan dari analisis data pada tabel 4 dengan rata-rata skor Va sebesar 3,48. Kepraktisan ditunjukkan dari analisis data pada tabel 5 dengan rata-rata skor IOsebesar 3,37. Efektif ditunjukkan dari analisis data pada tabel 6 dengan presentase 88% peserta didik telah mencapai nilai ketuntasan hasil belajar.
6. REFERENSI
Dusalan. (2014). Pembelajaran Matematika Model PAKEM dengan Menggunakan Alat Peraga. Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, No. 2, ISSN: 2086 - 4254, 55-67.
Firdaus, A. Q., & Asyhar, B. (2016). Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Berbasis Teknologi Informasi Menggunakan Borland C++ Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Materi Matriks Di Smk Sore Tulungagung Kelas XII. Seminar Nasional Pendidikan Matematika (SEMNASDIKTA II), ISBN: 978-602-61302-0-4 (pp. 35-50). Tulungagung: Institut Agama Islam Negeri Tulungagung.
Hobri. (2010). Metodologi Penelitian Pengembangan (Aplikasi Pada Penelitian Pendidikan Matematika). Jember: Pena Salsabila.
Kania, N. (2018). Alat Peraga untuk Memahami Konsep Pecahan. Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematics), Vol. 2, No. 2, p-ISSN: 2528-102X, e-ISSN: 2541-4321, 1-12. Kantohe, E. (2013). Penggunaan Alat Peraga Papan Geometri Dengan Metode Penemuan Terbimbing
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Luas Belah Ketupat dan Layang-Layang. Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako, Vol. 01, No. 01, 2013, 87-100. Keraf, Y. L. (2017). Penggunaan Media Papan Berpaku Untuk Meningkatkan Hasil Berlajar
Matematika. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 8 Tahun ke-6, 824-830.
Rafianti, I. (2017). Penembanan Modul Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Saintifik Pada Materi Matriks Kelas XI SMA. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, ISBN 978-602-19411-2-6 (pp. 45-52). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP UNTIRTA 2017.
Rahayu, T., Purwoko, & Zulkardi. (2008). Pengembangan Instrumen Penilaian Dalam Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) di SMPN 17 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 2. No 2, 19-20.
Rusmawati. (2017). Penggunaan Alat Peraga Langsung Pada Pembelajaran Matematika dengan Materi Pecahan Sederhana untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, sains, dan Humaniora, Vol. 3, No. 2, 307-314.
Siregar, N. R. (2017). Persepsi Siswa pada Pelajaran Matematika: Studi Pendahuluan pada Siswa yang Menyenangi Game. ISBN: 978-602-1145-49-4 (pp. 224-232). Semarang: Prosiding Temu Ilmiah X Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.