GUIDED-DISCOVERY LEARNING Tri Nopriana1) , Mohammad Dadan Sundawan 2)
2. KAJIAN LITERATUR DAN PEGEMBANGAN HIPOTESIS 1 Guided-Discovery Learning
2.3 Konsep Diri
Fitts (Agustiani, 2009: 139) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Perbedaan dari kedua dimensi ini yaitu dimensi internal menilai diri sendiri terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalamnya sedangkan dimensi eksternal menilai diri sendiri terhadap dirinya melalui aktivitas sosialnya. Calhoun dan Acocella (Rola, 2006), dalam perkembangannya konsep diri (self-concept) terbagi dua, yaitu self-concept positif dan self-concept negatif.
2.3.1 Self-concept positif
Self-concept positif lebih kepada penerimaan diri bukan sebagai suatu kebanggan yang besar tentang diri. Self-concept yang positif bersifat stabil dan bervariasi. Individu yang memiliki self-concept positif adalah individu yang tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri, evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. Individu yang memiliki self-concept positif akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki
kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu menghadapi kehidupan di depannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan.
Singkatnya, individu yang memiliki self-concept positif adalah individu yang tahu betul siapa dirinya sehingga dirinya menerima segala kelebihan dan kekurangan, evaluasi terhadap dirinya menjadi lebih positif serta mampu merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas.
2.3.2 Self-concept negatif
Calhoun dan Acocella (Rola, 2006) membagi self-concept negatif menjadi dua tipe, yaitu:
a. Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.
b. Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Hal ini bisa terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Singkatnya, individu yang memiliki self-concept yang negatif terdiri dari dua tipe, tipe pertama yaitu individu yang tidak tahu siapa dirinya dan tidak mengetahui kekurangan dan kelebihannya, sedangkan tipe kedua adalah individu yang memandang dirinya dengan sangat teratur dan stabil.
Indikator konsep diri menurut Sumarmo (2015) meliputi perilaku:
a. kesungguhan, ketertarikan/berminat: menunjukkan kemauan, keberanian, kegigihan, kesungguhan, keseriusan, ketertarikan dalam belajar/kegiatan matematika, serta mampu mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam matematika;
b. percaya diri akan kemampuan diri dan berhasil dalam melaksanakan tugas matematika; c. bekerjasama/kooperatif: menunjukkan kerjasama dan toleran kepada orang lain;
d. menghargai orang lain dan diri sendiri; menghargai pendapat orang lain dan sendiri, dapat memaafkan kesalahan orang lain dan sendiri;
e. berperilaku sosial: menunjukkan kemampuan berkomunikasi dan tahu menempatkan diri; f. manfaat belajar dan bidang studi: pandangan/kesukaan terhadap bidang studi dan belajar
matematika. 2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis-hipotesis penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut.
a. Pembelajaran Guided-Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis mahasiswa.
b. Konsep diri mahasiswa setelah implementasi Guided-Discovery Learning masuk dalam kategori konsep diri positif.
3. METODE PENELITIAN
Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode eksperimen berbentuk Pre-experimental Design dengan one group pretest-posttest design, seperti tampak pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Desain Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa tingkat II Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati). Sampel yang terpilih adalah satu kelas sebagai kelas eksperimen. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, karena diasumsikan populasi bersifat homogen. Instrumen penelitian ini berupa tes kemampuan representasi
O
1X O
2Keterangan
O1= nilai pretes (sebelum diberi perlakuan) O2= nilai posttest (setelah diberi perlakuan)
representasi sebelum dan sesudah pembelajaran. Sedangkan konsep diri mahasiswa terlihat dari skala konsep diri yang diberikan setelah pembelajaran.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut ini akan disampaikan hasil penelitian mengenai kemampuan representasi matematis dan konsep diri. Deskripsi kemampuan representasi matematis mahasiswa pada mata kuliah geometri dapat dilihat pada table 1.
Tabel 1. Deskripsi Data Kemampuan Representasi Matematis Mahasiswa
Tahap Jumlah
Mahasiswa x min x max Rata-RataNilai Rata-Rata N-Gain Kategori N-Gain
Pre-Tes 18 0 52 20 0.70 Tinggi
Pos-Tes 18 33 93 74
Keterangan: Skor Ideal Kemampuan Representasi Matematis adalah 100
Berdasarkan informasi di atas, diperoleh bahwa pembelajaran Guided-Lerning memberikan peningkatan yang tinggi pada kemampuan representasi mahasiswa. Artinya, pembelajaran ini memberikan pengaruh yang cukup tinggi terhadap kemampuan representasi matematis. Selanjutnya, akan dideskripsikan konsep diri mahasiswa.
Tabel 2. Deskripsi Data Konsep Diri
Tahap Jumlah
Mahasiswa x min x max Rata-RataNilai Pencapaian KategoriKonsep Diri Setelah
Pembelajaran 18 89 167 130 76.6 Positif
Berdasarkan table di atas, konsep diri mahasiswa mencapai rata-rata sebesar 76.7%. Namun, setelah membuat kategori skala konsep diri mahasiswa, maka diperoleh rata-rata mahasiswa yang mengikuti pembelajaran guided learning pada mata kuliah geometri memiliki konsep diri yang positif.
Model pembelajaran Guided-dicovery learining dinilai cukup berhasil dalam mengembangkan kemampuan representasi matematis mahasiswa pada mata kuliaha geometri. Hal ini terlihat pada kategori peningkatan kemampuan representasi yang tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Annajmi (2016) yang menyatakan bahwa peningkatan kemampuan representasi matematis siswa pada materi geomtri lebih baik dengan pembelajaran Guided-Discovery Learning.
Pembelajaran dengan Guided-Discovery Learning memungkin mahasiswa untuk menemukan konsep dan prinsip geometri sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Bruner (Tran, 2014) dalam proses penemuan, mengharuskan mahasiswa untuk mengevaluasi, mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis dan mengembangkan pikirannya. Aktivitas tersebut, memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan beberapa indikator kemampuan representasi matematis, salah satunya adalah mengkoneksikan prosedur dan proses pada berbagai reprentasi konsep yang relevan. Mahasiswa dituntut untuk dapat mengevaluasi, mempertimbangkan, menganalisis dan mengembangkan ide pemikirannya, dalam mengkoneksikan prosedur atau proses dalam merepresentasikan konsep yang relevan. Penelitian Tran, Nguyen, Bui dan Phan (2014) menunjukan bahwa setelah siswa belajar dengan Guided-Discovery Learning, siswa mampu menulis dengan baik, mampu mengungkapkan bahasa matematika runtut dan lancar. Kegiatan ini terlihat pada aktivitas mahasiswa selama pembelajaran dengan Guided-Discovery Learning, aktivitas yang terekam dalam lembar pengamatan aktivitas mahasiswa selama pembelajaran menunjukan bahwa mahasiswa aktiv dalam bekerja sama dengan teman sekelompok dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Mahasiswa juga terlihat aktiv dalam menyimpulkan dan merangkum pengetahuan yang mereka peroleh melalui pembelajaran Guided-Discovery Learning. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Yang, dkk (2010) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan Guided-Discovery Learning efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa melalui proses mengamat, mencari dan menguji pola, sampai generalisasi dari penemuan siswa. Selain itu, Akanmu, Fajemidagma (2013) menunjukan bahwa Guided-Discovery Learning dapat merangsang siswa untuk meningkatkan kinerja mereka.
Presentase konsep diri mahasiswa pada pembelajaran geometri menggunakan model Guided-Discovery Learning memiliki interpretasi cukup dengan kategori konsep diri positif. Hasil penelitian ini, sejalan dengan hasil penelitian Subhan (2016) didapat bahwa rata-rata self concept matematis
mahasiswa masih tergolong cukup, artinya mahasiswa pada masa awal kuliah belum menunjukkan rasa percaya diri dan keyakinan yang penuh atas kemampuannya dirinya. Mahasiswa yang memiliki self-concept yang positif, belajar dengan pembelajaran partisipasif seperti pembelajaran Guided-Discovery Learning. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasan, menunjukan kemampuan berpikir, serta menunjukan motivasi dan percaya diri dalam blajar secara mandiri maupun bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan tersebut memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan indikator konsep diri Sumarmo (2015) diantaranya ketika siswa belajar dengan Guided-Discovery Learning, akan memiliki kesungguhan dan ketertatirikan dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Selain itu, dalam menemukan pengetahuan, mahasiswa dilatih untuk memiliki rasa percaya diri akan kemampuan diri dalam melaksanakan tugas khususnya pada mata kuliah geometri. Selain itu, pembelajaran Guided-Discovery Learning yang diterapkan secara berkelompok memungkin mahasiswa untuk dapat bekerjasama dan kooperatif dengan teman serta dapat menghargai pendapat orang lain dan diri sendiri.
5. KESIMPULAN
Pembelajaran dengan Guided-Discovery Learning memungkin mahasiswa untuk menemukan konsep dan prinsip geometri sendiri. Aktivitas tersebut, memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan beberapa indikator kemampuan representasi matematis, salah satunya adalah mengkoneksikan prosedur dan proses pada berbagai reprentasi konsep yang relevan. Sehingga Guided-Discovery Learning dinilai mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan representasi mahasiswa pada mata kuliah geometri. Mahasiswa memiliki peningkatan pada kategori tinggi, pada kemampuan representasi. Selain itu, setelah melalui pembelajaran dengan guided-discovery learning, mahasiswa memiliki konsep diri yang positif.
6. REFERENSI
Agustiani, H. 2009. Psikologi Perkembangan (Pendekataan Ekologi Kaitannya dengan
Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja). Bandung: Refika Aditama.
Akanmu, M. A dan Fajemidagba, M. O. 2013. Guded-discovery Learning Strategy and
Senior School Students Performance in Mathematics in Ejigbo, Nigeria. Journal of
Education and Practice Vol. 4, No. 1, pp. 44-5.
Annajmi. 2016. Peningkatan Kemampuan Representasi Matematik Siswa Smp Melalui
Metode Penemuan Terbimbing Berbantuan Software Geogebra Di Smp N 25
Pekanbaru. Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 5 No. 2, 67-74
Castronova, J. 2005. Discovery Learning for the 21
stCentury: What is it and how does it
compare to traditional learning in effectiveness in the 21
stCentury.
Cottrell, S. (2005). Critical Thinking Skills: Developing Effective Analysis and Argument.
USA : Palgrave Macmillan.
Hwang,W. Y., Chen, N. S., Dung, J. J., & Yang, Y. L. (2007). Multiple Representation Skill
and Creativity Effects on Mathematical Problem Solving using a Multimedia
Whiteboard System. Educational Technology and Society. Vol 10 No. 2: 191-212.
Jones, A.D. (2000). The Fifth Process Standard: An Argument To Include Representation In Standar2000. [Online]. Available:http://www.math.umd.edu/~dac/650/jonespaper.html.
Möller, J., Retelsdorf, J., and Köller, O. 2011. The Reciprocal Internal/External Frame of
Reference ModelAn Integration of Models of Relations Between Academic
Achievement and Self-Concept. American Educational Research Journal Vol. 48, No.
6, December, page 1315-1346.
NCTM (2000). Principles and Standards for School Mathematics. Reston: Virginia.