• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 3.14. Sampel dengan menggunakan daun sirih (kiri) dan buah piang (kanan)

sampel adalah menggunakan estraks tumbuhan, dalam uji ini menggunakan daun sirih (sampel no 5) dan buah pinang (sampel no. 6). Namun jika larutan daun sirih digabung dengan buah pinang untuk campuran hematite, hasilnya tidak tahan lama beradaptasi dengan batuan kars (sampel no. 7).

Penggunaan ekstrak tumbuhan dalam hal ini daun sirih dan buah pinang sebagai bahan campuran lukisan dinding gua pada masa lalu masih dimungkinkan. Hal ini didasarkan pada penggunaan daun sirih dan buah pinang sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia dan masyarakat melayu telah lama dilakukan dan tidak terpisah dari adat istiadat masyarakat.

Sirih adalah nama sejenis tumbuhan merambat, daun dan buahnya dimakan orang dikunyah bersama gambir, pinang

dan kapur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih Dalam ilmu biologi, sirih dikenal dengan nama Piper Betle Linn dalam keluarga Piperaceae. Nama betel adalah dari bahasa Portugis - betle, berasal dari kata vettila dalam bahasa Malayalam di negeri Malabar. Dalam bahasa Hindi, sirih lebih dikenal dengan nama pan atau paan dan dalam bahasa Sunskrit disebut tambula. Bahasa Sri Lanka menyebut sirih dengan bulat, sedangkan dalam bahasa Thai disebut plu (www. melayuonline.com). Sirih digunakan sebagai tanaman obat

(fitofarmaka); sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu. Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan.

Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan (http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih

Pinang adalah tumbuhan tropis yang ditanam karena keindahannya, serta untuk mendapatkan buahnya. Tingginya bisa mencapai 10 meter, bentuknya runcing pada bagian pucuk. Garis tengah batangnya antara 15 cm hingga 20 cm. Buah pinang berwarna hijau pada waktu masih muda, dan apabila sudah masak akan berubah menjadi kuning serta merah.

Nama ilmiah pinang adalah Areca catechu. Dalam bahasa Hindi buah ini disebut supari, dan pan-supari untuk

menyebut sirih-pinang. Bahasa Malayalam menamakannya adakka atau adekka, sedang dalam bahasa Sri Lanka dikenal sebagai puvak. Masyarakat Thai menamakannya mak, dan orang Cina menyebutnya pin-lang.. Pohon pinang dibiakkan dengan cara menanam bijinya yang sudah cukup masak. Biasanya biji yang akan ditanam disemai dulu, baru

kemudian ditanam dalam pot atau tas plastik. Jika masih kecil, pohon pinang cocok ditanam di dalam pot, tetapi jika sudah besar sebaiknya ditanam di tanah bebas.. Alkaloid dalam pinang termasuk arekolin, arekaidin, arekain, guvacin, arekolidin, guvakolin, isoguvakolin, dan kolin. Arekolin yang toksid bersifat sebagai obat bius nikotin bagi sistem saraf. Arekolin adalah pembasmi parasit dan cacing, serta bersifat seperti asetil kolin. Pinang mengandung lebih kurang 15% tanin merah dan 14% lemak (www. melayuonline.com)

Tradisi makan sirih dan buah pinang merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari berbagai golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan istana. Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India. Tetapi jika ditelusur berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam

tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih (Mudra dalam www. melayuonline.com).

Berdasarkan keterangan di atas dan hasil uji laboratorium yang menunjukkan ekstrak tumbuhan sebagai campuran hematite yang memiliki daya tahan yang tinggi beradaptasi dengan batuan kars, ada kemungkinan ekstrak tumbuhan digunakan sebagai campuran heatite oleh manusia prasejarah pada masa lalu dalam membuat lukisan di dinding gua. Namun dugaan ini masih harus diteliti lebih lanjut secara ilimiah di laboratorium bagaimana bahan ekstrak tumbuhan tersebut mampu menjadi pengkiat bahan hematite sebagai bahan utama dalam pembuatan lukisan gua.

Namun demikian, penelitian yang telah dilakukan ini dapat memberikan alternatif metode konservasi secara tradisional tanpa menggunakan bahan kimia, untuk merekontruksi lukisan dinding yang telah mengalami kerusakan. Untuk menjaga kelestarian lukisan gua, sebaiknhya rekontruksi dilakukan di lapisan permukaan dinding buatan, namun penelitian yang dilakukan untuk membuat lapisan permukaan dinding gua buatan belum memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil uji dengan metode Ageing test, 2 buah sampel lapisan permukaan dinding buatan telah mengelupas ketika memasuki uji fase ke 2 (uji selama 24 jam). Untuk itu, masih diperlukan uji laboratorium lainnya yang dapat menghasilkan bahan pengganti permukaan dinding gua yang memiliki daya tahan merekat dan beradaptasi lebih lama pada batuan kars

Gambar. 3.15. Kondisi lapisan

per-mukaan dinding buatan

sebelum di uji dengan

Ageing test

Gambar 3.16. Kondisi lapisan

permukaan din-ding

buatan setelah di uji

Ageing test, tampak

lapisannya telah hilang.

BAB V

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari hasil anaslisis yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Lukisan dinding pada gua-gua prasejarah telah banyak mengalami kerusakan yang disebabkan oleh :

• Kerusakan lukisan tidak terjadi pada pudar/lunturnya bahan/cat yang digunakan untuk melukis tetapi terjadinya pelupasan lapisan pada permukaan batuan di mana lukisan itu dibuat

• Tumbuhnya ganggang di permukaan lukisan yang membuat tidak terlihat jelas

• Lukisan terhapus oleh aliran air hujan yang melewati lukisan

2. Berdasarkan hasil analisis, kerusakan lukisan dinding disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah pelapukan fisik (mekanik) dan pelapukan kimia. Pelapukan kimia terdiri dari dua jenis yaitu Pelarutan (Dissolution) dan biologi.

3. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap konservasi yang pernah dilakukan pada tahun 1985 dan 1986, memperlihatkan bahwa konservasi menggunakan bahan kimia menyebabkan kondisi lukisan yang di konservasi tidak sama seperti aslinya, sehingga dapat mengurangi nilai arkeologis dari lukisan tersebut. Untuk itu, konservasi menggunakan bahan kimia dapat dikurangi seminimal mungkin, yang bertujuan untuk menjaga kelestarian sumberdaya arkeologi. 4. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap bahan lukisan dinding gua

prasejarah, menunjukkan bahwa bahan lukisan dinding gua yang digunakan tidak murni dari satu unsur, tetapi dari beberapa unsur yang saling mempengaruhi. Dengan demikian tidak hanya menggunakan bahan mineral merah saja (hematite) tetapi juga menggunakan unsur lain sebagai campuranya. Dalam hal ini hematite yang didominasi oleh unsur oksida besi (Fe) berperan dalam pembentukan warna merah. Melihat hal tersebut,

membuat bahan lukisan menggunakan hamatite yang dicampur dengan media lainnya yaang kemungkinan berasal dari bahan organik.

5. Hasil uji laboratorium terhadap bahan pengganti lukisan gua dengan menggunakan batuan merah (hematite) yang berasal dari sekitar situs Sumpang Bita sebagai bahan dasar yang dicampurkan dengan 8 buah larutan yang sebagian besar berasal bahan organik. Hasil uji ini memperlihatkankan bahwa bahan campuran hematite yang berasal dari bahan organik yang efektif dan hasilnya relatif paling baik di antara 8 sampel adalah menggunakan estraks tumbuhan, dalam uji ini menggunakan daun sirih dan buah pinang.

4.2. Saran

1. Dalam melakukan tindakan konservasi lukisan dinding gua sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami dan sedikit mungkin menggunakan bahan kimia. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahan bahan asli pembuatan lukisan dinding gua prasejarah merupakan bahan-bahan alami sehingga pada rekonstruksinya juga diusahakan menggunakan bahan-bahan alami. Bahan alami juga diharapkan bersifat lebih ramah terhadap objek dan lingkungannya. 2. Dalam melakukan rekontruksi lukisan gua, diupayakan bersifat reversible,

artinya rekonstruksi yang dilakukan tidak bersifat tetap dan merusak. Sehingga pada saat ditemukan masalah atau kesalahan aplikasi masih dapat dikembalikan pada kondisi sebelum rekonstruksi.. Selain ini juga perlu memperhatikan teknik aplikasi yang sesuai dengan objek aslinya, sehingga hasilnya selaras dan bernilai estetika tinggi. Sebagai contoh pembuatan garis-garis lukisan pada gambar badan babi agar disesuaikan dengan pola garis-garis lukisan aslinya. Dalam hal ini perlu melibatkan ahli (kurator)

3. Penelitian yang dilakukan ini masih bersifat penelitian awal sehingga belum dapat memecahkan seluruh permasalahan yang terdapat pada lukisan gua. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lanjutan yang bersifat komprehensif dan menyeluruh, dalam upaya untuk menjaga kelestarian lukisan gua prasejarah sebagai sumberdaya arkeologi yang bernilai tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Eri. 1996. Gua Bulu Sumi dan Gua Sumpang Bita di Desa Balocci Baru Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan : Kajian Arkeologi Ruang Skala Meso. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Drajat, Hari Untoro 1995 “Manajemen Sumber Daya Budaya Mati” dalam Seminar

Nasional Metodologi Riset Arkeologi. Depok : Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kusumohartono, Bugie, 1993 “Penelitian Arkeologi dalam Konteks Pengembangan Sumberdaya Arkeologi”, Berkala Arkeologi, Nomor 2 Maret. Jogyakarta : Balai Arkeologi.

Hermawan, Wisnu 2005 Sistem Permukiman Kawasan Kars Gunung Sewu Studi Kasus Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Tesis Magister Perencanaan Kota dan daerah UGM.

Kosasih, S.A. 1983. “Lukisan Gua di Indonesia sebagai Data Sumber Penelitian arkeologi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Jakarta, hal 158-175

--- “Lukisan Gua Prasejarah : Bentang Tema dan Wilayahnya”, dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi II : Estetika dalam Arkeologi Indonesia. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal 16-37

Linda, 2005. Tata Letak Lukisan Dinding Gua di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Ilmu Budaya UGM

Mulyana, Deddy, 2006 Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial lainnya. Jakarta : Remaja Rosdakarya.

Pearson, Michael & Sharon Sullivan, 1995 Looking After Heritage Places. Melbourne : Melbourne Universty Press

Permana, R. Cecap Eka, 2008. Pola Gambar Tangan Pada Gua-gua Prasejarah Di Wilayah Pangep-Maros Sulawesi Selatan. Disertasi Depok : Universitas Indonesia

Samodra, Hanang, 2001. Nilai Strategis Kawasan Kars di Indoensia, Pengelolaan dan Perlindungannya. Balitbang ESDM Departemen ESDM, Bandung

Siagian, Linda, 2007. Model Pemanfaatan Gua-gua Prasejarah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Skripsi. Makasar : Fakultas Satra Universitas

Sumantri, Iwan. 2004. “Penerapan Kajian Pola Pemukiman Gua Prasejarah di Sulawesi Selatan : Studi Kasus di Biraeng” artikel dalam Sumantri (ed) Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan. Makasar : Bagian Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan. Samidi, 1985. Laporan Hasil Survey Konservasi Lukisan Gua Sumpang Bita dan

Pelaksanaan Konservasi Lukisan Gua Pettae Kerre, Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan Samidi, 1986, Laporan Konservasi Lukisan Perahu/ Sampan si Gua Sumpang Bita

(Tahap Awal) dan Konservasi Lukisan Babi Rusa di Gua Pettae Kerre (Penyelesaian), Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan

Restiyadi, Andri 2007. “Diskursus Cap Tangan Negatif Interpretasi Terhadap Makna dan Latar Belakang Penggambarannya di Kabupaten Maros dan Pangkep Sulawesi Selatan” dalam Artefak Edisi XXVIII. Yogyakarta : Hima UGM

http://en.wikipedia.org/wiki/Weathering

http://geohazard.blog.com

Dokumen terkait