dianalisis O1 O2 O3 O4 O5 O6
1 SiO
230,51 4,52 3,96 3,83 2,88 3,76
2 Ca 7,74 3,85 2,00 1,87 20,20 9,92
3 Mg 6,24 3,89 2,63 2,16 13,81 8,49
4 Al 14,38 10,93 6,71 5,27 1,94 4,52
5 Fe 5,79 6,61 2,81 3,13 1,34 2,03
6 SO
40,54 0,31 2,31 5,29 10,14 4,30
7 CO
312,52 43,67 41,36 42,73 15,95 47,79
Keterangan:O1 : Pasir sungai Taddeang O2 : Mineral merah gua Karassa O3 : Mineral merah gua kasssi O4 : Mineral merah gua Jari’E O5 : Lapisan terkelupas gua Sikapao
O6 : Mineral merah Gua Pettake dibawah lukisan
Hasil analisi unsur memperlihatkan bahwa usnsur yang saling mengikat adalah adalh CO3, Mg dan fe, untuk warna diduga dari unsur Fe
Dari data di atas juga menunjukan adanya campuran antara gibsum dan carbonat dilihat dai unsur SO4 dan Ca. Sedangkan Al unsur membuat keras dan tidak bertanggung jawab terhadap warna.
4.2. Pembahasan A. Bahan Lukisan
Untuk mengetahui tentang bahan lukisan dinding gua, ada beberapa dasar pemikiran yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bahan yang digunakan merupakan material anorganik. Bahan organik merupakan bahan yang relatif mudah terurai, sehingga bahan anorganik lebih mungkin untuk dapat bertahan hingga puluhan ribu tahun. Menurut informasi dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makasar, pada tahun 1998, Sadirin, mengadakan percobaan dengan menggunakan bahan organik. Hasil yang terperoleh bahwa bahan tersebut hanya mampu bertahan beberapa bulan.
2. Tingkat pengetahuan manusia prasejarah belumlah begitu tinggi, sehingga campuran yang digunakan bersifat relatif sederhana. Ramuan yang digunakan diduga tidak sangat kompleks dan rumit.
3. Sumber bahan yang digunakan berasal dari wilayah yang tidak terlalu jauh dari situs.
4. Kelekatan lukisan pada dinding gua yang kuat mengindikasikan adanya interaksi kimia yang efektif. Pengelupasan yang terjadi umumnya merupakan pengelupasan lapisan dinding, bukan lapisan lukisan yang terkelupas.
Selama ini beberapa ahli mengatakan bahwa warna merah yang digunakan dalam dinding gua prasejarah diduga berasal dari hematit. Dugaan ini didasarkan atas temuan hematit yang terdapat di Gua Burung 2 dan Pattae. Temuan hematit di Gua Burung 2 diperoleh pada penggalian yang dilakukan oleh I.C. Glover pada tahun 1973. Hematit ini ditemukan pada berbagai lapisan bersama-sama dengan temuan batu inti dan alat serut. Hematit yang ditemukan berupa pecahan seperti batu merah dan tampak adanya alur-alur yang diduga sebagai akibat dari usaha manusia untuk memanfaatkannya (Glover, 1981 dalam Restiyadi, 2007). Hematit di Gua PattaE ditemukan oleh Van Hekeren tahun 1950. Selain itu ditemukan pula alat-alat batu berupa mikrolit, serpih, mata panah dan kapak genggam Sumatera. Kapak genggam Sumatera ini diduga pernah digunakan sebagai bahan pukul atau batu giling karena pada beberapa bagiannya tempak bekas-bekas warna merah
yang siap dipakai, akan tetapi diperlukan sebuah proses pengolahan terlebih dahulu yaitu proses dari hematit padat ke pewarna cair. Melalui temuan hematit dan adanya tanda-tanda pengerjaan yang ditemukan oleh Glover dan Hekeren, dapat diduga adanya persiapan-persiapan (pra produksi) sebelum produksi lukisan gua (Restiyadi, 2007).
Oleh karena itu penulis berupaya membuat hipotesis mengenai bahan lukisan dan teknologi campurannya. Untuk mendukung hipotesis, penulis telah melakukan survei lapangan dan menemukan beberapa hal sebagai berikut : 1. Ditemukan mineral merah (hematit ?) disekitar situs. Berdasarkan
observasi juga ditemukan bahwa mineral merah tersebut merupakan mineral yang menyusun struktur karst. Namun mineral tersebut bersifat lunak sehingga mudah terlarut (tergerus) oleh air. Keberadaan mineral tersebut saat ini tidak lagi melimpah saat ini karena sifatnya yang rapuh. Namun jejaknya masih dapat dilihat dengan mudah, yaitu berupa pecahan-pecahan pada sampah dapur, dijumpai sebagai bongkahan di tanah, dan lapisan merah pada permukaan dinding karst yang dilewati air. Banyak dijumpai dinding karst yang berwarna merah secara alami, diduga ada mineral merah diatasnya yang tergerus oleh air kemudian mengendap pada permukaan. Penelusuran di sungai Taddeang juga menunjukkan bahwa sungai banyak mengandung endapan mineral merah, termasuk pasirnya yang berwarna kemerahan akibat bercampur dengan mineral merah yang halus. Survei di sekitar situs Sumpang Bita menemukan banyak bongkahan mineral merah di wilayah kaki pegunungan kars dari penggalian tanah oleh penduduk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mineral merah (hematit ?) merupakan mineral yang kelimpahannya tinggi di pegunungan karst Maros-Pangkep terutama pada masa lampau.
2. Observasi vegetasi di sekitar situs menemukan tumbuhan khas yang hampir selalu ada di sekitar situs adalah pohon asam dan pohon lontar (Talla; makassar, Siwalan; Jawa). Meskipun belum tentu berhubungan dengan lukisan, namun vegetasi ini juga perlu mendapat perhatian pada saat mempertimbangkan jenis campurannya.
3. Observasi terhadap hasil pengujian dari penelitian Samidi (1986) yang mengejutkan adalah dapat bertahannya campuran hematit dengan air tuak.
dan cukup kuat, meskipun pada awalnya diragukan oleh peneliti sendiri. Fakta ini perlu diungkap secara ilmiah sehingga dapat mendukung hipotesis-hipotesis selanjutnya.
Dasar teori yang digunakan untuk berpijak adalah teori mengenai pembentukan stalaktit pada gua. Reaksi kimia yang terjadi pada pembentukan stalaktit tersebut adalah sebagai berikut ;
- Reaksi air dengan CO2 diudara H2O + CO2 H2CO3
- Asam karbonat (H2CO3) bereaksi dengan kapur H2CO3 + CaCO3 Ca2+ + HCO3- (larut)
- Reaksi menghasilkan seyawa bikarbonat (HCO3-) yang larut
- Senyawa bikarbonat kembali menjadi karbonat yang keras, sehingga terbentuk stalaktit
Ca2+ + 2HCO3- CaCO3 (keras) + H2O + CO2 Secara ringkas dapat dituliskan :
Karbonat (keras) + asam Bikarbonat (larut) Terurai kembali menjadi Karbonat (keras
Berdasarkan kerangka berfikir dan hasil observasi di atas maka disusun kembali beberapa hipotesis sebagai berikut :
1. Bahan pewarna (pigmen) yang digunakan berasal dari mineral merah (hematit) yang banyak terdapat di sekitar situs.
2. Bahan pengikat yang digunakan agar dapat melekat dengan kuat pada dinding karst adalah bahan alami yang bersifat asam (sedikit asam). Bahan pengikat tersebut tidak bersifat seperti perekat tetapi menggunakan prinsip pembentukan stalaktit di atas. Yaitu bahan asam bereaksi dengan dinding karst menyebabkan permukaan karst yang berkontak dengan larutan pewarna menjadi larut sementara, kemudian mengeras kembali dan bahan warna terikat (berinteraksi secara kimia).
3. Bahan alami bersifat asam dapat berupa berbagai ekstrak tumbuhan, pada umumnya ekstrak tumbuhan bersifat asam. Tim penulis memilih jenis vegetasi endemik yang hampir selalu dijumpai di setiap situs yaitu buah asam, air buah lontar, daun sirih dan buah pinang.
dinding gua yang digunakan tidak murni dari satu unsur, tetapi dari beberapa unsur yang saling mempengaruhi. Dengan demikian tidak hanya menggunakan bahan mineral merah saja (hematite) tetapi juga menggunakan unsur lain sebagai campuranya. Dalam hal ini hematite yang didominasi oleh unsur oksida besi (Fe) berperan dalam pembentukan warna merah. Melihat hal tersebut, kemungkinan besar pada masa lalu, manusia yang tinggal di gua, dalam membuat bahan lukisan menggunakan hamatite yang dicampur dengan media lainnya yaang kemungkinan beraasal dari bahan organik
B. Bahan Pengganti Lukisan Gua
Bahan pengganti lukisan gua penting untuk segera dirumuskan mengingat selama ini restorasi lukisan gua jarang dilakukan karena belum ditemukannya bahan pengganti yang efektik untuk diterapkan dalam lukisan dinding gua. Pada tahun 1985 dan 1986 Samidi melakukan restorasi lukisan di gua Pettee Kere dan gua Sumpang Bita dengan menggunakan campuran dan bahan kimia. Hasilnya kurang memuaskan karena terlihat lukisan hasil restorasi lebih menkilat dan berbeda dengan lukisan aslinya.
Untuk mencari bahn pengganti lukisan, penulis telah melakukan uji laboratorium dengan menggunakan bahan dasar batuan merah (hematite) yang berasal dari sekitar situs Sumpang Bita. Bahan dasar ini dicairkan dengan 8 buah larutan yang sebagian besar berasal bahan organik (lihat uji bahan prngganti lukisan di sub bagian 4.1) . Hasil uji dengan metode Ageing test memperlihatkankan bahwa bahan campuran hematite yang berasal dari bahan organik yang efektif dan hasilnya relatif paling baik di antara 8