BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
GAMBARAN DATA PAJAK HOTEL
A. Ketentuan-ketentuan Umum dan Tinjauan Praktik Pajak Hotel 1. Ketentuan Umum
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, dijelaskan bahwa Pajak Daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Di Indonesia penagihan pajak dilakukan oleh Pemerintah Daerah bersumber dari hukum berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 yang membahas tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Demikian pula dengan sistem pemungutan pajak daerah yang diterapkan oleh pemerintah daerah belum juga mempertegas pajak-pajak daerah mana yang dipungut dengan cara self assessment system, official assessment system, atau with holding system.
2. Pengertian Pajak Hotel
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata,
pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).
Penggolongan Hotel ada beberapa macam yaitu : 1) Hotel Bintang 5 2) Hotel Bintang 4 3) Hotel Bintang 3 4) Hotel Bintang 2 5) Hotel Bintang 1 6) Hotel Melati 3 7) Hotel Melati 2 8) Hotel Melati 1
Ada beberapa penggolongan hotel tersebut berdasarkan pengaruh fasilitas yang terdapat pada suatu hotel, sehingga hotel diklasifikasikan berdasarkan pada beberapa golongan. Misalnya pada golongan yang tertinggi yaitu pada hotel berbintang 5. Maka hotel tersebut harus mempunyai jumlah kamar yang berkisar diatas 100 kamar dan fasilitas pendukung seperti : Meeting Room, Restoran, Kolam Renang, Spa, Sarana Olahraga, Lobby Lounge dan Internet. Apabila salah satu dari fasilitas dan jumlah kamar itu kurang dari yang tersebut diatas maka suatu hotel tidak dapat digolongkan kedalam hotel berbintang 5.
B. Objek dan Subjek Pajak Hotel 1. Objek Pajak Hotel
Menurut Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel dalam Pasal 2 ayat (2) disebutkan bahwa Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olah raga dan hiburan. Yang termasuk sebagai jasa penunjang yaitu fasilitas telepon, faksimilie, teleks, internet, fotocopi, pelayanan cuci, seterika, transportasi dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola hotel.
2. Yang Tidak Termasuk Objek Pajak Hotel
Menurut Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel dalam Pasal 2 ayat (4) disebutkan bahwa yang tidak termasuk Objek Pajak Hotel adalah :
a. Jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
b. Jasa sewa apartemen, kondominium dan sejenisnya;
c. Jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan;
d. Jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan dan panti sosial lainnya yang sejenis; dan
e. Jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh yang dapat dimanfaatkan oleh umum.
3. Subjek Pajak Hotel
Menurut Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Hotel dalam Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa Subjek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau Badan yang mengusahakan hotel. Sedangkan Wajib Pajak Hotel adalah orang pribadi atau Badan yang mengusahakan hotel.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Hotel
Beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak hotel adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Wajib Pajak Hotel
Jumlah wajib pajak hotel sangat berpengaruh dalam penerimaan pajak hotel, jika semakin banyak jumlah wajib pajak maka makin banyak pula yang menyetorkan pajak hotelnya. Begitu juga sebaliknya, apabila semakin sedikit hotel yang aktif di kota Medan, maka tidak optimal pula penerimaan pajak hotel tersebut.
2. Jumlah Pengunjung Hotel
Pengunjung adalah sasaran utama dari pajak hotel maka apabila pengunjung hotel sedikit, maka sangat berpengaruh besar terhadap penerimaan suatu hotel. Sehingga suatu hotel harus menunjukan kualitas dan juga fasilitas yang berstandar agar para pengunjung hotel tertarik untuk dating dan memakai jasa perhotelan tersebut.
Adapun hal-hal yang mungkin dapat mempengaruhi penerimaan pendapatan hotel khususnya di Kota Medan, yaitu :
2.1. Tingkat Keamanan
Medan merupakan salah satu kota besar yang paling aman di Indonesia dibanding kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan lain sebagainya yang rawan terorisme dan tingkat kriminal yang tinggi. Jadi tidak heran apabila Kota Medan menjadi salah satu tempat pariwisata yang paling dipilih oleh masyarakat Indonesia.
2.2. Tingkat Kenyamanan dan Kelengkapan Hotel
Kenyamanan dan kelengkapan hotel sangat berpengaruh dalam penerimaan pendapatan suatu hotel, dikarenakan hal tersebut merupakan penunjang dalam menarik minat pengunjung hotel. Kebersihan, keamanan dan kelengkapan fasilitas yang dimiliki suatu hotel membuat pengunjung merasa senang dan berkesan untuk berada di hotel tersebut. Jadi, tidak sedikit masyarakat dari golongan menengah keatas yang lebih memilih hotel berbintang dibanding hotel melati, demi sebuah kenyamanan dan segala fasilitas yang disediakan oleh hotel.
2.3. Tarif/Biaya Penginapan
Disamping kenyamanan dan kelengkapan fasilitas hotel, hal yang utama bagi pengunjung hotel adalah tarif. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya pengunjung
hotel yang memilih Hotel Melati untuk menginap, dikarenakan tarif penginapannya yang cukup terjangkau dan juga disenangi para pengunjung. Sehingga Hotel Melati juga mempunyai peran yang cukup besar dalam penerimaan pajak hotel.
D. Data Jumlah Wajib Pajak Hotel pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan Sampai dengan saat ini jumlah wajib pajak hotel yang terdata di Dispenda Kota Medan adalah sebanyak 255 hotel. Dalam klasifikasinya hotel-hotel ini terbagi atas :
Tabel 3.1
Klasifikasi Jenis Wajib Pajak Hotel
NO KLASIFIKASI JENIS WP JUMLAH
1 BINTANG 5 5 2 BINTANG 4 7 3 BINTANG 3 23 4 BINTANG 2 4 5 BINTANG 1 18 6 MELATI 3 65 7 MELATI 2 45 8 MELATI 1 88 TOTAL 255
BAB IV
ANALISIS DATA DAN EVALUASI