BAB III METODE PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.3 Gambaran Komunitas Punk di Kota Medan
Komunitas punk masuk ke Kota Medan sejak sekitar tahun 1995. Hal ini terjadi karena adanya dua orang anak muda Medan yang pindah ke Kota Jakarta untuk melanjutkan kuliah sehingga pada saat kembali ke Kota Medan, dua anak muda tersebut mengenalkan ideologi punk kepada anak muda Kota Medan. Dikutip dalam skripsi Sirait (2001: 62), menyebutkan bahwa Fahmi dan Hendra adalah orang yang berperan penting dalam perkembangan komunitas punk Kota Medan. Hal ini dijelaskan pada hasil wawancara penulis pada informan IC (lk,29tahun) sebagai berikut:
“Punk masuk tahun berapanya nggak ada yang pastinya, cuma kalau masuk ke Indonesia budaya punk itu, komunitas mulai ada 92-an lah, kalau untuk di Medan banyak juga yang ke luar-luar Jawa. Jadi, mereka sendiri dulu, waktu dia balik dia bawa kemari mulai cerita tentang punk, 95-an lah mungkin”
Komunitas punk di Kota Medan muncul diawali dengan adanya komunitas undergorund. Komunitas underground merupakan komunitas dari band-band yang memiliki aliran musik rock (Sirait, 2010:60). Di dalam hal ini musik punk merupakan bagian dari musik rock, oleh karena itu sekumpulan orang yang menyukai musik punk merupakan bagian dari komunitas underground. Pada komunitas underground, penyuka musik punk disebut dengan punker. Para Punker yang merupakan pendahulu di Kota Medan sering disebut pioneer. Pada awalnya pioneer memiliki satu sekretariat dan sejak tahun 2001 sekretariat sudah tidak digunakan. Hal ini disebabkan karena jumlah para punker yang meningkat, sehingga membuat
scene masing-masing. Scene merupakan tempat berkumpul para punker. Bagi para punker, scene merupakan kelompok-kelompok kecil dari keseluruhan komunitas punk di Kota Medan. Hal ini dijelaskan dari hasil wawancara dengan informan penulis, TL (lk, 28tahun) sebagai berikut:
“Dulu kita punya sekretariat juga tapi bukan yang struktural, beda lah kan. Mulai tahun 2001, kami sendiri pun generasi keduanya. Sekarang ya ada banyak scene”
Pioneer di dalam komunitas punk adalah komunitas inalum brother
hood. Komunitas inalum brotherhood berada di Jalan Abdullah Lubis Medan. Pada saat ini punker yang merupakan pioneer dalam komunitas inalum brotherhood telah memiliki keluarga dan kegiatan masing-masing sehingga membuat sekretariat tidak digunakan lagi. Hal ini dijelaskan dari hasil wawancara dengan informan penulis, IC (lk, 29tahun) sebagai berikut:
“Dulu pioneernya itu inalum brotherhood, itu yang pertama kali di Medan. Masih sikit anggotanya, orang-orangnya pun udah pada berkeluarga”
Komunitas inalum brotherhood merupakan komunitas punk yang hanya fokus pada musik, sehingga pada saat itu komunitas punk hanya merupakan komunitas yang di dalamnya terdapat orang-orang yang menyukai aliran musik yang sama, yaitu musik punk (Sirait, 2010:61). Di dalam hal ini kegiatan yang ada pada komunitas inalum brotherhood hanya pada bidang musik.
Pada saat ini komunitas punk memiliki jumlah anggota yang semakin meningkat. Jumlah punker yang bertambah tersebut menciptakan scene baru di berbagai bagian Kota Medan.
4.1.3.2 Perkembangan Punker di Kota Medan
Pada awalnya komunitas punk di Kota Medan memiliki satu scene yaitu, di Jalan Abdullah Lubis. Sejalan dengan semakin bertambah jumlah
punk di Kota Medan tempat berkumpulnya para anak punk tersebut pun
semakin menyebar, seperti di Pringgan, Dr.Mansyur dan lainnya. Dari hasil observasi, saat ini terdapat tujuh scene di Kota Medan, yaitu di Simpang Aksara, Titi Kuning, Juanda, Brayan, Setia budi, Simpang Pemda dan Cemara Asri. Hal yang sama diperoleh dari hasil wawancara dengan informan penulis KN (lk, 27tahun) sebagai berikut:
“scenenya ada di Titi Kuning, Simpang Pemda, di Juanda, di Brayan, Cemara Asri sama di dekat Setia Budi juga”
Scene dibentuk sebagai tempat berkumpul para punker pada masing-masing bagian di daerah Kota Medan. Scene juga dijadikan sebagai tempat bertemu dan berinteraksi antara punker di dalam scene maupun dengan punker yang berasal dari scene, maupun kota atau negeri lain. Dari hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan ada 3 orang punker pendatang yang berasal dari Kota Pematang Siantar dan 1 orang punker yang berasal dari Kota Pekanbaru di komunitas punk Simpang Aksara, Medan.
4.1.3.3 Interaksi Sosial Komunitas Punk pada Scene Simpang Aksara
Pada komunitas punk Simpang Aksara, Medan terdapat punker berusia dari 15 tahun sampai 30 tahun, dalam hal ini jumlah punker laki-laki
lebih banyak jumlahnya dari pada punker perempuan. Para punker memiliki kegiatan pribadi di luar kegiatan komunitas punk. Dari hasil data di lapangan sebagian besar punker telah memiliki pekerjaan atau telah mempunyai pendapatan. Di dalam komunitas punk terdapat punker yang merupakan seorang mahasiswa dan seorang yang memiliki pekerjaan. Hal ini dilakukan pada waktu pagi hari hingga sore hari. Oleh karena itu, pada saat sebelum berkumpul di scene setiap punker melakukan kegiatan sehari-hari seperti masyarakat pada umumnya.
Dari hasil observasi, penulis melihat bahwa para punker berkumpul pada masing-masing scene dari pukul empat sore hingga malam hari. Pada
scene masing-masing para punker berinteraksi dengan membuat
kegiatan-kegiatan, seperti menyablon, membuat tattoo, membuat piercing, dan membuat artikel. Beberapa kegiatan yang dilakukan di dalam scene yaitu seperti, membuat tattoo dan membuat piercing. Hal ini dapat dilakukan pada satu scene karena tidak membutuhkan ruang yang khusus atau peralatan yang banyak, sedangkan kegiatan mengadakan acara musik dibuat pada tempat-tempat umum, seperti di pendopo USU, di ITM dan di Pitu Cafe, di Karya Bakti, Medan Johor dan di Berastagi. Dalam hal ini, acara-acara yang diadakan ditempat umum merupakan acara musik punk.
Acara musik mendapatkan partisipasi yang lebih besar, artinya para punker dari berbagai scene di Kota Medan dan bahkan dari luar Kota Medan maupun luar negeri ikut berpartisipasi dalam kegiatan musik. Selain itu dalam komunitas punk terdapat kegiatan menyablon, yaitu memberi tulisan atau gambar pada kain. Hal ini dilakukan di salah satu rumah punker yang telah
menjadi tempat berkumpul komunitas punk tersebut, misalnya punker yang memiliki rumah telah membuka usaha jasa sablon.
Pada sore hari para punker berkumpul di scene Simpang Aksara Medan. Para punker pada komunitas Simpang Aksara mulai berkumpul pada pukul empat sore hingga malam hari. Kegiatan yang dilakukan pada scene ini adalah berkumpul dan menjual barang dari hasil karya sendiri, seperti stiker, gelang yang dibuat dengan tali dan dikaitkan dengan aksesori lain serta menerima jasa tattoo dan piercing.
Di dalam komunitas punk Simpang Aksara solidaritas yang ditunjukkan karena adanya rasa seperasaan, sepenanggungan dan kesamaan. Hal ini ditunjukkan dalam hal saling mengenal antara yang satu dengan lainnya. Para punker berupaya untuk tetap ikut berpartisipasi dalam kegiatan komunitas, hal ini ditunjukkan pada saat menjual hasil karya di tempat berjualan. Kegiatan yang diadakan oleh komunitas punk se-Kota Medan juga dapat menciptakan adanya rasa kesetiakawanan, di dalam hal ini ditunjukkan pada kebebasan punker menjadi bagian scene di mana saja. Hal ini dijelaskan dari hasil wawancara penulis dengan informan RD (lk, 22tahun) sebagai berikut:
“Sebenarnya komunitas punk ini nggak ada larangan untuk gabung di scene mana aja”
Interaksi yang terjadi dalam komunitas punk terjalin melalui adanya kegiatan yang diadakan. Hal ini menciptakan adanya solidaritas sosial pada setiap punker. Seorang Punker memiliki kebebasan dalam memasuki satu scene yang ada di Kota Medan maupun di luar Kota Medan.
4.1.3.4 Lokasi Komunitas Punk Simpang Aksara Medan
Komunitas punk Simpang Aksara, memiliki letak scene yang berada di dalam pasar tradisional aksara bagian sudut pasar tersebut. Scene tersebut juga terletak berdekatan dengan simpang lampu merah. Komunitas punk Simpang Aksara memiliki satu tempat berjualan, yang menjual setiap hasil karya para punker, seperti stiker, membuat tattoo dan membuat piercing. Para
punker merupakan warga setempat dan ada juga yang merupakan warga
pendatang dari berbagai kota.