• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Konsep Sejahtera Per-subyek Penelitian

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

1. Gambaran Konsep Sejahtera Per-subyek Penelitian

Subyek 1 adalah seorang laki-laki 61 tahun. Beliau adalah purnawirawan TNI angkatan laut. Subyek adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara. Saat ini subyek tinggal di rumah bersama istrinya. Subyek mempunyai 3 orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Keseharian subyek diisi dengan kegiatan di lingkungan masyarakat. Subyek memandang sejahtera sebagai keadaan dimana orang bisa menerima keadaan yang ada sehingga tidak ada ganjalan yang ada di hati. Penerimaan tersebut harus diikuti dengan kemampuan dan kemauan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Kunci dalam mewujudkan kesejahteraan tersebut adalah selalu merefleksikan setiap pengalaman dan selalu belajar dari pengalaman.

Protes yang saya maksud adalah bagaimana orang tidak hanya pasrah dengan keadaan apapun, namun keadaan yang kurang baik diusahakan menjadi lebih baik. Jadi dalam diri sendiri ada kemauan untuk mencapai yang lebih baik. Itu yang saya maksud dengan kata protes tadi Subyek 2

Subyek 2 adalah seorang wanita berumur 62 tahun. Beliau adalah pensiunan guru SMP. Pendidikan terakhirnya adalah S1. Kegiatan yang dilakukanya saat ini adalah tinggal di rumah dan menjaga cucunya yang masih kecil karena orang tua cucunya tersebut bekerja. Subyek 2 adalah anak ke 4 dari 4 bersaudara. Subyek 2 memandang sejahtera sebagai tercukupinya kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan itu adalah kebutuhan pokok (sandang, pangan dan papan). Ukuran sejahtera yang dikemukakan oleh subyek adalah minimal makan 2x sehari dan pendapatan minimal Rp. 700.000,- dalam satu keluarga. Dalam mencapai sejahtera diperlukan konsep hidup yang jelas. Konsep hidup ini berkaitan dengan tujuan utama dalam hidup berkeluarga.

Iya.. kebutuhan dasar; sandang, pangan papan. sandang minimal 6 stel, makan minimal seharga 2.500/orang per hari. Papan; MCK yg normal/sehat dan lantai rumah dah ber ubin; baik itu pakai semen atau bahkan keramik, yang penting layak huni makan minimal 2 kali dngan ukuran @2.500/ orang/jiwa, total penghasilan dalam 1 keluarga (yg bekerja bisa beberapa orang) diatas 700.000, mampu menyekolahkan anak, mampu berobat ke fasilitas kesehatan, ada aliran listrik dalam rumah dan ada air bersih buat masak, mandi dan MCK kira2 seperti itu...

Subyek 3

Subyek 3 adalah seorang laki-laki berumur 60 tahun. Beliau adalah pensiunan TNI angkatan darat. Pendidikan terakhir subyek 3 adalah SMA. Subyek adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara. Saat ini beliau menjadi tokoh masyarakat karena menjabat

sebagai ketua RW di dusunya. Selain menjabat ketua RW, kegiatan sehari-hari yang dilakukan subyek adalah memlihara ternak (sapi) dan menggarap sawah. Subyek 3 merasa sudah sejahtera jika semua anak-anaknya telah mampu berkeluarga dan menghidupi keluarga barunya tersebut. Keluarga menjadi hal penting bagi subyek. Dalam mencapai kesejahteraan tersebut, subyek mengutamakan kerukunan dalam keluarga. Hal ini bertujuan supaya keluarga menjadi kompak dan saling membantu antar anggota keluarga yang nantinya akan tumbuh menjadi keluarga-keluarga baru.

Ow...bagi saya tu mas...anak saya 3 itu semua sudah kerja semua, hasilnya sudah memuaskan, tidak minta sama orang tua, itu sudah sejahtera full, pokoknya nggak minta sama ora tua. Sejahtera keluarga itu yang terang itu termasuk dirumah nggak ada selisih

dengan keluarga, misalnya padu kalau bahasa jawa Subyek 4

Subyek 4 adalah seorang laki-laki berumur 61 tahun. Pekerjaan terakhirnya adalah sebagai guru bantu mata pelajaran agama di sebuah SD. Pendidikan terakhir subyek adalah SMP. Saat ini subyek tinggal di rumah dan memelihara sapi. Subyek adalah anak ke 2 dari 5 bersaudara. Menurut subyek 4, sejahtera terpenuhi ketika seseorang telah mampu mencukupi kebutuhan pokoknya dan hidup dengan aman. Keadaan aman ini lebih ke perasaan aman. Kunci dalam mewujudkan kesejahteraan ini adalah nrimo dengan keadaan yang ada. Nrimo dalam hal ini berarti mampu menerima keadaan dan mampu merubah keadaan itu menjadi lebih baik.

kalau menurut saya, orang yang sejahtera itu adalah orang yang tidak kekurangan. Dalam hal ini, orang bisa memenuhi semua kebutuhannya. yang jelas ya kebutuhan

pokok manusia dulu mas..sandang, pangan, papan seperti itulah kebutuhan pokok manusia memang saya rasa benar-benar pokok dan berkaitan dengan fisik. Sandang, pangan, papan itu semua berkaitan dengan fisik. Nah kebutuhan akan rasa aman, dilindungi, bahagia, tentram, itu berkaitan dengan

emosi (perasaan). Tentu saja, orang yang kebutuhan fisiknya terpenuhi namun perasaannya tidak tenang, hidupnya juga tidak tenang... bagi saya sebenarnya masih banyak, misalnya kemampuan memecahkan masalah,

berelasi dengan orang lain, kreatifitas, dll. Namun bagi saya akar dari semua itu adalah penerimaan diri/keadaan itu sendiri. Setelah orang bisa menerima keadaan, barulah orang itu akan bisa memecahkan masalah dengan baik, berelasi dengan orang lain secara baik, memutuskan dengan baik, dll. Jadi, penerimaan diri adalah akar/modal bagi semua orang untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih tentram dan lebih baik.

Subyek 5

Subyek 5 adalah seorang laki-laki berumur 60 tahun. Beliau adalah pensiunan PNS. Pendidikan terakhir subyek adalah S1 jurusan ekonomi. Kegiatan yang dilakukan subyek saat ini adalah tinggal di rumah dan momong cucunya. Subyek adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara. Subyek memandang sejahtera sebagai situasi dimana orang sudah mampu menilai suatu pengalaman dengan perasaan legowo dan penuh syukur atas pengalaman tersebut. Kunci sukses dalam mencapai kesejahteraan itu adalah selalu lapang dada dalam menghadapi semua masalah dan mampu memecahkan masalah itu. Dalam memecahkan masalah diperlukan pikiran yang jernih sehingga mampu menemukan solusi yang baik untuk semua pihak. Hal yang menghambat pencapaian sejahtera adalah banyak menuntut dan kurang menerima keadaan.

kalau menurut saya, apa ya...legowo...nah..itu mas... karena bisa bersyukur dengan keadaan apapun termasuk yang paling jelek, maka orang akan tentram hatinya sehingga bisa berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan itu,,..jadi, keadaan yang paling parah itu dianggap bukan sebagai sesuatu yang menghancurkan hidupnya...tetapi menerima dan berusaha memperbaikinya...

Subyek 6

Subyek 6 adalah seorang wanita yang berumur 60 tahun. Subyek adalah pensiunan PNS. Pendidikan terakhir subyek adalah S1 jurusan akuntansi. Saat ini subyek hanya tinggal di rumah saja. Semua anaknya tinggal di luar jogja. Subyek mempunyai 3 orang anak, 2 diantaranya sudah berkeluarga dan 1 masih kuliah di bandung. Subyek tinggal di rumah bersama dengan suaminya yang juga seorang pensiunan PNS. Subyek mengisi keseharianya dengan aktif dalam kegiatan gereja. Subyek memandang sejahtera sebagai keadaan dimana sebua kebutuhan yang ia butuhkan sudah tercukupi. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Meskipun demikian, subyek juga mementingkan pendidikan anaknya. Subyek mengungkapkan bahwa salah satu penghambat sejahtera adalah pendidikan anak terakhirnya yang belum selesai. Anak terakhirnya telah kuliah selama 8 tahun namun belum lulus juga. Dalam usaha mencapai kesejahteraan, subyek menekankan berusaha dan selalu berdoa.

Kesejahteraan itu semua kebutuhan tercukupi Kebutuhan primer, sekunder, tertier Anak-anak saya belum lulus semua. Itu masih menjadi tanggungan saya. Saya rasa, kelulusan anak adalah kebutuhan utama sebagai orang tua yang menyekolahkan anaknya.

Subyek 7

Subyek 7 adalah seorang pria yang berumur 62 tahun. Pekerjaan terakhirnya adalah sebagai tukang becak. Pendidikan terakhir subyek adalah setaraf dengan SD. Subyek adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Karena subyek adalah anak pertama,

subyek sudah terbiasa bekerja sejak kecil untuk membantu orang tuanya. Saat ini subyek sudah tidak menarik becak lagi. Kegiatan yang dilakukan subyek saat ini adalah memelihara sapi. Subyek 7 memandang sejahtera sebagai keadaan yang penuh dengan rasa syukur. Perasaan penuh syukur tersebut adalah dengan menerima apapun pengalaman dan bersyukur atas pengalaman tersebut. Menerima pengalaman tidak hanya sekedar menerima tetapi juga mampu untuk berusaha memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Selain itu sejahtera juga tercapai jika semua anaknya sudah lulus kuliah dan tercukupinya kebutuhan pokok dalam hidup.

Bersyukur atas kehidupan meskipun dalam situasi bagaimanapum karena tuhan selalu memberi yang lebih baik Bersyukur itu ya bisa mensyukuri apapun yang terjadi dan selalu berusaha

untuk menjadikan lebih baik apa yang bisa dijadikan lebih baik...

Subyek 8

Subyek 8 adalah seorang wanita yang berumur 61 tahun. Pekerjaan terakhir subyek adalah seorang penjahit. Subyek adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara. Saat ini subyek sudah tidak menjahit lagi. Subyek tinggal di rumah bersama dengan anak dan cucunya. Ketika anaknya bekerja, ia menjaga cucunya di rumah. Subyek 8 memandang sejahtera sebagai keadaan tentram. Tentram ini tercapai ketika subyek sudah bisa menerima apa yang terjadi padanya. Proses menerima keadaan ini tidak hanya berhenti pada menerima saja, namun juga mampu untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Selalu berusaha dan berdoa menjadi kunci pokok dalam mencapai kesejahteraan ini. Keadaan kurang sejahtera terjadi apabila masih ada ganjalan dalam hati.

Hidup tentram, kalau udah tenytram itu bisa sejahtera. Mbok ra due apap neng tentrem bisa sejahtera. Sukur due.... Ya tentram dalam hati....tentrem ngono lo, atine tentrem, tidak ada yang

mengganjal... Ya yang penting bisa menerima keadaan mas, dalam keadaan paling buruk

pun bisa menerima... Ya nggak cuma menerima, tapi bisa berusaha supaya lebih baik... Subyek 9

Subyek 9 adalah seorang wanita yang berumur 60 tahun. Pekerjaan terakhir yang dilakukanya adalah sebagai buruh gendong di pasar Beringharjo. Pendidikan terakhirnya adalah setara dengan SD. Subyek 1 adalah anak ke 2 dari 6 bersaudara. Saat ini, kegiatan yang dilakukan oleh subyek adalah tinggal di rumah dan momong cucunya. Subyek memandang sejahtera sebagai keadaan dimana orang bisa mensyukuri dan menerima apa yang ada. Penerimaan ini adalah bentuk dari pasrah, namun pasrah itu harus diikuti dengan kemauan untuk menjadikan keadaan menjadi lebih baik. Kunci penting dalam mencapai kesejahteraan adalah selalu ada solusi dalam setiap masalah yang ada. Kehidupan bersama dengan orang lain yang harmonis juga menjadi salah satu kunci untuk mencapai kesejahteraan itu sendiri.

Kesejahteraan itu keluarga ayem, tentram, gak pada crah sulaya,, Ya kecukupan dah tentrem, madang iso wareg, rukun dengan

saudara-saudara Tergantung sabar apa nggak, klo nggak ya dadi gak rukun. Kalau orang sabar itu akan tenang dalam berfikir, sehingga tidak menyebabkan konflik Sama tentangga saling sabar, misal kalau ada masalah ya sababar dulu baru kalau

waktu yg tepat baru ngomong, ora sak kal, tar jadinya padu. Subyek 10

Subyek 10 adalah seorang wanita berumur 61 tahun. Subyek adalah pensiunan guru. Pendidikan terakhir subyek adalah SMA. Subyek adalah anak ke 3 dari 3

bersaudara. Saat ini, subyek mengisi waktunya dengan mengikuti kegiatan gereja. Subyek mempunyai 3 orang anak, 2 diantaranya sudah berkeluarga. Subyek tinggal di rumah bersama dengan suaminya dan 1 anaknya. Subyek 9 memandang sejahtera sebagai keadaan dimana ada keharmonisan dan ketentraman dalam hidup berkeluarga. Kunci dalam mencapai kesejahteraan adalah sabar dalam menghadapi sesuatu. Dengan sabar, orang akan berfikir jernih dalam menghadapi masalah. Hidup bukan hanya berkaitan dengan keluarga saja, namun juga berkaitan dengan para tetangga. Kerukunan dengan para tetangga juga menjadi penting dalam mencapai kesejahteraan. Salah satu cara dalam mengupayakan kerukunan dengan tetangga adalah bisa mengerti orang lain.

Hmm..kangge kulo nggih sejahtera niku nggih atine tentrem, boten wonten ganjelan neng ati Yo gampange, yo iso nampa kahanan urip. ... Tapi juga bisa merubah keadaan menjadi lebih baik, bukan hanya pasrah thok.. Saya kalau mengalami suatu peristiwa dalam hidup, selalu saya refleksikan sehingga peristiwa itu bisa menjadi pelajaran bagi saya, bukan hanya berlalu saja

Dokumen terkait