METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian
5.2 Pembahasan Penelitian
5.2.1 Gambaran Kualitas Tidur Pasien Kanker Berdasarkan Umur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa pasien kanker paling banyak terjadi pada kelompok usia lansia awal yaitu pada 46-55 tahun dengan jumlah 26 orang (42%) diikuti oleh kelompok usia lansia akhir yaitu mereka yang berusia 56-65 tahun sebanyak 13 pasien (21%), dewasa akhir sebanyak 10 pasien (16.1), dewasa awal dan manula masing-masing sebanyak 5 orang (8%), dan remaja akhir sebanyak 3 orang (4.8%). Dari beberapa kelompok usia tersebut paling banyak pasien kanker mengalami kualitas tidur baik pada kelompok usia lansia awal yaitu berjumlah 6 orang (9.6%). Sementara kualitas tidur buruk paling banyak dialami pada kelompok umur lansia awal yaitu 20 orang (32.2%).
Pasien banyak mengalami kanker pada lansia awaldikarenakan, seiring meningkatnya usia terjadi juga peningkatan paparan terhadap bahan-bahan karsinogenik yang berpotensi untuk timbulnya kanker, diantaranya dari sisi
nutrisi, yaitu makanan yang berlemak, obesitas, aktivitas fisik yang menurun seiring usia, dan gaya hidup (merokok).28 Ditemukan juga banyak pasien yang datang pada usia tua dikarenakan onset kanker yang pada umumnya lama dan gejala yang ditimbulkan tidak spesifik misalnya pada kanker payudara gejala yang paling sering adalah benjolan, dan kanker paru hanya berupa batuk persisten. Hal-hal inilah yang menjadi alasan penyebab keterlambatan pasien mencari pengobatan ke medis.
Penelitian pasien kanker berdasarkan usia ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, yaitu penelitian oleh Hananta dkk. yang dilakukan di rumah sakit Dharmais, Jakarta. Dalam penelitiannya didapatkan hasil dari 72 pasien (45%) berusia 50-59 atau usia tua.21 Penelitian ini juga turut didukung oleh studi yang dilakukan Kemenkes, yaitu prevalensi kanker mulai meningkat signifikan pada usia >45 tahun (>3,5‰).1
Berdasarkan kualitas tidur, terjadinya penurunan tidur pada lansia adalah normal dikarenakan terjadinya perubahan pola tidur-bangun seiring bertambahnya umur.7 Selama tidur malam dewasa muda normal akan terbangun 2-4 kali, namun pada lansia akan lebih sering terbangun. Gangguan tidur juga sering terjadi pada lansia akibat penyakit lain misalnya penyakit kronik atau penyakit yang sedang diderita pasien diluar penyakit kanker.29Hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan peneliti dimana paling banyak kelompok umur lansia yang mengalami kualitas tidur buruk. Selain umur dan penyakit, depresi, kecemasan, dan nyeri yang dialami pasien kanker juga sangat mempengaruhi kualitas tidurnya.Oleh karena alasan ini tidaklah mengherankan apabila dari hasil penelitian didapatkan rata-rata dari seluruh kelompok umur yang mengalami kualitas tidur buruk lebih banyak dari pada kualitas tidur baik.
5.2.2 Gambaran Kualitas Tidur Pasien Kanker Berdasarkan Stadium Distribusi kanker berdasarkan stadium didapatkan paling banyak pasien mengalami kanker pada stadium III yaitu sebanyak 22 orang (35,5%), diikuti oleh stadium IV sebanyak 20 orang (32,3%), sementara stadium II sebanyak 18 orang (29%), dan stadium I dengan jumlah 2 orang (3,2%). Dari distribusi pasien pada
keempat stadium ini ditemukan paling banyak pasien mengalami kualitas tidur baik pada stadium II yaitu sebanyak 10 orang (16.1%). Sementara itu, stadium I merupakan stadium dimana pasien yang mengalami kualitas tidur baik paling sedikit yaitu sebanyak 2 orang (3.2%). Kualitas tidur buruk paling banyak dialami oleh pasien pada stadium III yaitu 18 orang (29%) dan paling sedikit pasien mengalami kualitas tidur buruk pada stadium I.
Ditemukannya pasien kanker pada stadium lanjut juga dipengaruhi oleh gejala kanker yang tidak khas, fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau, serta keengganan pasien untuk memeriksakan keluhannya. Sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya gejala kanker yang tidak khas sangat mempengaruhi pasien untuk datang dan memeriksakan keadaannya. Hingga pada akhirnya saat gejala yang dirasakan sudah berat misalnya sudah berupa nyeri dan ulkus, pasien baru menyadari keseriusan penyakitnya. Tidak khasnya gejala pada stadium awal ini juga mempengaruhi kualitas tidur pasien, sehingga didapati pada stadium I seluruh pasien mengalami kualitas tidur yang baik dan pada stadium II didapati lebih banyak pasien mengalami kualitas tidur yang baik. Sementara itu pada stadium III dan IV ditemukan lebih banyak pasien kanker yang mengalami kualitas tidur yang buruk.
Fasilitas kesehatan yang kurang terjangkau juga menjadi salah satu penyebab keterlambatan diagnosis. Ketersediaan fasilitas uji diagnostik seperti pemeriksaan histopatologi dan pengobatan untuk pasien kanker jarang mencapai rumah sakit daerah, sehingga tak jarang di RSUP H. Adam Malik ditemukan pasien yang mengaku berasal dari daerah yang jauh dan harus mencari tempat tinggal sementara selama melakukan pengobatan kanker dikarenakan alasan ini.
Keengganan pasien untuk memeriksakan keluhan juga berperan erat dengan tingkat pendidikan dan ekonomi pasien. Hal ini dibuktikan pada negara maju tindakan pencegahan sudah sangat memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit, misalnya dengan dilakukannya skrining papsmear menentukan kejadian kanker serviks pada kejadiannya dimasa akan datang. Sementara negara berkembang, seperti Indonesia peran kuratif atau pengobatan masih tinggi dibandingkan pencegahan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Imam Rasjidi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dimana didapatkan 37.3% atau lebih dari sepertiga kasus pasien berada pada stadium III dari 76.2% pasien yang datang pada stadium lanjut yaitu IIB-IVB. Hal ini dikarenakan keterlambatan pasien untuk menyadari gangguan pada tubuhnya, akibat keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.30,31
Ditemukannya pasien paling banyak pada stadium III yang mengalami kualitas tidur buruk sesuai dengan penelitian sebelumnya, yaitu penelitian oleh Hananta dkk. yang dilakukan di rumah sakit Dharmais, Jakarta. Pada penelitian tersebut ditemukan 28 dari 49 pasien yang mengalami kualitas tidur buruk pada stadium III, hal dikarenakan kecemasan, nyeri, efek samping obat-obatan yang diterima pasien.