HASIL PENELITIAN
5.5 Gambaran Observasi Penggunaan APD
Tingkat infeksi nosokomial di Asia dilaporkan lebih dari 40% (Alvarado,
2000). Sebagian besar infeksi nosokomial dapat dicegah dengan strategi-strategi
yang sudah ada:
a. Mentaati praktek-praktek pencegahan infeksi yang direkomendasikan,
khususnya cuci tangan dan pemakaian sarung tangan.
b. Memperhatikan proses dekontaminasi dan pembersihan alat-alat kotor yang
diikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi.
c. Meningkatkan keamanan pada area-area yang beresiko tinggi terjadi infeksi
nosokomial.
Hasil observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti terhadap
penggunaan APD di temukan 71,1% perawat menggunakan APD sewaktu
melakukan tindakan perawatan diantaranya penggunaan sarung tangan, masker
dan cleanser akan tetapi penggunaan APD topi dan gaun hanya digunakan perawat pada ruang tertentu seperti di ruang bedah.
Menurut Pereira, Lee dan Wade dalam Schaffer (1990) bahwa
perlindungan diri dengan menggunakan APD merupakan keharusan dan diawali
dengan cuci tangan dengan sabun biasa dan air sama efektifnya dengan cuci
tangan memakai sabun antimikrobial.
Perawat tidak mencuci tangan sebelum melakukan tindakan perawatan
sebanyak (50,52%) hal ini disebabkan karena sebahagian ruang perawatan tidak
mencuci tangan setelah melakukan tindakan (91,8%), hal ini dilakukan perawat
untuk menghindari terjadinya infeksi silang. Berdasarkan kegiatan mencuci
tangan pada air yang mengalir (68,%) perawat mencuci tangan pada air yang
mengalir, dan yang menggunakan sabun atau cleanser (87,6%) dan responden mencuci tangan dilakukan selama 10 sampai 15 detik sebesar (60,82%) sedangkan
(48,45%) mencuci tangan lebih 120 detik. Hal ini membuktikan bahwa masih
kurangnya kesadaran perawat dalam melakukan tindakan pencegahan infeksi
nosokomial melalui tindakan cuci tangan sebelum melakukan tindakan perawatan.
Hal yang sama dikemukakan oleh Pitt dan kawan-kawan pada tahun 2000,
melaporkan hasil penelitian tentang kepatuhan tenaga kesehatan dalam mencuci
tangan, bahwa ada 4 alasan mengapa kepatuhan mencuci tangan masih kurang,
yaitu:
1. Skin irritation
2. Inaccessible handwashing supplies 3. Being too bussy
4. No thinking about it
Kepatuhan mencuci tangan di ICU Spraot, (1994) kurang dari 50%,
sedangkan Galleger 1999 melaporkan bahwa kepatuhan mencuci tangan tersebut :
dokter sebanyak 67%, perawat 64%, tenaga kesehatan lainnya 57%, dan
mahasiswa perawat sebanyak 100% tidak patuh dalam melakukan cuci tangan
Kegagalan untuk melakukan kebersihan dan kesehatan tangan yang tepat
dianggap sebagai sebab utama infeksi nosokomial yang menular dan penyebaran
mikroorganisme multiresisten serta diakui sebagai kontributor yang penting
terhadap timbulnya wabah (Boyce dan Pitt, 2002) hal ini disebabkan karena pada
lapisan kulit terdapat flora tetap dan sementara yang jumlahnya sangat banyak.
Masker hanya dipakai sekali saja untuk jangka waktu tertentu (misal, tiap
menangani satu pasien). Masker sekali pakai jauh lebih efektif dibandingkan
masker dari kasa katun dalam mencegah transmisi mikroorganisme melalui udara
atau droplet (Tietjen , 2004).
Masker digunakan untuk melindungi perawat dari penyakit infeksi saluran
pernapasan seperti tuberkolosis. Perawat harus memakai masker dengan menutup
area sekitar wajah dan hidung, hal ini di lakukan dengan efektif kalau tidak maka
masker tidak dapat mengontrol penyebaran droplet di udara. Masker digunakan bila berada dalam jarak 1 meter dari pasien, sehingga petugas dapat melaksanakan
atau membantu melaksanakan tindakan beresiko tinggi terpajan lama oleh darah
dan cairan tubuh lainnya seperti tindakan membersihkan luka, membalut luka,
mengganti kateter serta dekomentasi alat bekas pakai (Depkes RI, 2003).
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan sebanyak 72,1% perawat
menggunakan masker pada saat melakukan perawatan pada pasien yang beresiko
tinggi, perawat tidak memakai masker satu kali pemakaian untuk satu pasien
(56,7%), hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya kesadaran perawat dalam
mengikuti prosedur dalam menggunakan APD.
Pemakaian celemek / gaun pelindung bertujuan untuk melindungi kulit
dan mencegah pakaian basah selama tindakan perawat terhadap pasien seperti :
perawat terkena semburan atau percikan darah, cairan tubuh, sekresi, atau ekskresi
yang menyebabkan pakaian menjadi basah. Secepat mungkin perawat dapat
melepaskan celemek dan cuci tangan sehingga dapat terhindar dari kontaminasi
mikroorganisme dari pasien atau lingkungan. Indikasi dari pemakaian celemek
yaitu saat membersihkan luka, melakukan iritasi, melakukan tindakan drainase,
menuangkan cairan terkontaminasi kedalam lubang pembuangan ataupun
menangani pasien dengan pendarahan (Schafer, 2000).
Hasil observasi yang dilakukan, ditemukan sebanyak 93,8% perawat tidak
menggunakan gaun saat melakukan tindakan perawatan karena sebahagian
ruangan tidak tersedia APD berupa gaun, hal ini memberikan potensi yang besar
untuk berpindahnya mikroorganisme dan terjadinya infeksi nosokomial.
Sesuai dengan tujuan penggunaan APD gaun / apron adalah melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain
yang dapat mencemari baju atau seragam, dengan memakai gaun selama
melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan
darah atau cairan tubuh pasien dan segera melepas gaun dan cuci tangan untuk
Hasil observasi langsung ditemukan 23,7% perawat tidak menggunakan
sarung tangan dan 24,7% perawat tidak mengganti sarung tangan saat melakukan
perawatan pada pasien yang berbeda karena perawat merasa direpotkan saat
mengganti sarung tangan dari pasien yang satu dengan pasien yang lainnya dan
perawat menganggap bahwa pasien yang dirawat tidak memberikan resiko yang
besar terhadap dirinya, hal ini dapat meningkatkan potensi untuk penyebaran virus
dan bakteri yang dapat mengakibatkan terjadinya infeksi nosokomial.
Mencuci tangan sesudah melakukan tindakan perawatan atau setelah
kontak dengan pasien merupakan prosedur untuk menghilangkan dan mengurangi
mikroba dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Schaffer, 2000).
Hindari mencuci tangan diwaskom / wastafel yang berisi air walaupun
telah ditambah bahan antiseptik, karena mikroorganisme dapat bertahan dan
berkembang pada larutan seperti ini sebaiknya mencuci tangan pada air mengalir /
menggunakan ember yang kirannya mengalir. Mencuci tangan dengan
menggunakan sabun / cleanser Membutuhkan penggosokan untuk membuang mikroorganisme secara mekani, sedangkan mencuci tangan menggunakan larutan
antiseptik juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan sebagian besar
mikroorganisme (Tietjen, 2004).
Cuci tangan dan penggunaan sarung tangan merupakan komponen kunci
penerapan standar precaution dan standar kewaspadaan dalam meminimalkan penularan penyakit serta mempertahankan lingkungan bebas infeksi (Garner dan
Ada tiga alasan petugas kesehatan menggunakan sarung tangan, yaitu :
1. Mengurangi resiko petugas terkena infeksi bakterial dari pasien.
2. Mencegah penularan flora kulit petugas kepada pasien.
3. Mengurangi kontaminasi tangan petugas kesehatan dengan mikroorganisme
yang dapat berpindah dari satu pasien ke pasien lainya (kontaminasi
langsung).
Dari pengamatan penulis selama melakukan observasi dirasakan bahwa
ada keterbatasan waktu dan biaya dan hal ini menjadi suatu kelemahan tersendiri
bagi penulis seperti waktu pengamatan pada semua perawat yang akan
menggunakan APD atau tidak artinya bahwa peneliti tidak dapat lebih fokus pada
tiap-tiap sampel perawat yang akan diamati pada saat kegiatan berlangsung secara
serentak.